ETIKA PROFETIK PADA NOVEL MANTRA PEJINAK ULAR KARYA KUNTOWIJOYO MELALUI PENDEKATAN EKSPRESIF DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ETIKA PROFETIK PADA NOVEL MANTRA PEJINAK ULAR KARYA KUNTOWIJOYO MELALUI PENDEKATAN EKSPRESIF DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA"

Transkripsi

1 ETIKA PROFETIK PADA NOVEL MANTRA PEJINAK ULAR KARYA KUNTOWIJOYO MELALUI PENDEKATAN EKSPRESIF DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Oleh Sigit Purnomo JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2015

2

3

4

5 ABSTRAK Sigit Purnomo, NIM: Etika Profetik Pada Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo Melalui Pendekatan Ekspresif dan Implikasi Terhadap Pembelajaran Sastra, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Pendidikan. Pembimbing: Novi Diah Haryanti, M. Hum Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo menceritakan tentang kehidupan seorang pegawai pemerintahan yang sekaligus berprofesi sebagai dalang, yang berusaha melawan kesewenang-wenangan Mesin Politik. Penelitian ini mencoba menjabarkan etika profetik yang berupa humanisasi, liberasi, dan transendensi yang terdapat pada novel tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan ekspresif, yakni hubungan karya sastra dengan pengarangnya(pemikiran pengarang). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Hasil dari penelitian yang dilakukan mendeskripsikan bahwa etika humanisasi yang muncul dalam novel ini, yakni perlawan terhadap dehumanisasi tradisional, yang berupa mantra, sesaji, serta ritual yang dilakukan sebelum mendalang, serta perlawanan terhadap objektivasi manusia yang dilakukan pemerintah. Etika liberasi yang muncul yakni pembebasan terhadap penindasan seni (politisasi seni), dan penindasan negara (terkait pemerintahan yang otoriter membungkam oposisi, monoloyalitas pegawai negeri, nepotisme, dan kronisme), dan terakhir etika transendensi muncul lewat kesenian wayang yang mencoba memberi tuntunan kepada masyarakat, serta kesadaran tentang menjaga alam dan mahluk hidupnya. Melalui novel ini siswa dapat mengetahui bagaimana unsur-unsur intrinsik dalam novel tersebut. Selain itu siswa dapat mengetahui pemikiran khas pengarang Kuntowijoyo yang dituangkan dalam novel tersebut, yakni etika profetik, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Mantra Pejinak Ular, Kuntowijoyo, Ekspresif, Etika Profetik, dan Pembelajaran Sastra. i

6 ABSTRACT Sigit Purnomo, NIM: The Profetic Ethic on Mantra Pejinak Ular Novel by Kuntowijoyo through Expressive Approach and The Implications on Literature Learning, Faculty of Tarbiyah and Teachers' Training. Adviser: Novi Diah Haryanti, M.Hum Mantra Pejinak Ular by Kuntowijoyo told about the life of a civil servant who was also a puppeteer, who tried to fight against arbitrated politic machine. This research tried to explain profetic ethic in forms of humanity, liberalization, and transcendence which are in the novel. This research used expressive approach that try to define correlation between the work and its author (author's idea). Method used in this research is analytic descriptive method. The result of this research described the humanity ethic appearing in this novel namely struggle against towards dehumanized tradition such as magic-spell, offerings, or ritual before puppetry. In addition, it also described the struggle against human objectivity did by government. The ethic of liberalization appearing was the exemption of arts (arts politicization), and state oppression (related to authorized government made oposition remain silent, civil servant loyalty, nepotism, cronysm), and lastly transcendence appearing through puppet which tried to give guidance to society, also awareness to preserve nature and its life creature. Through this novel, students could understand how the intrinsics in the novel. Besides, students were able to know charateristic idea of the author, Kuntowijoyo, which was written in this novel, namely profetic ethic, and its implication in real life. Key Words: Mantra Pejinak Ular, Kuntowijoyo, Expressive, Profetic ethic, and Literature instruction. ii

7 KATA PENGANTAR Alhamdulillahi robbil alamin, puji syukur ke hadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan nikmat-nya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan. Salawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan pengikutnya. Dalam penulisan skripsi yang berjudul Etika Profetik pada Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo Melalui Pendekatan Ekspresif dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra di SMA. Penulis banyak memerlukan bantuan, saran, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Berkat bantuan mereka skripsi yang disusun guna memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana pendidikan (S. Pd) ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karenanya, penulis menyampaikan terima kasih pada: 1. Bapak dan Ibu tercinta, Karnadi dan Sumiyati yang senantiasa memberikan doa setiap saat, memberikan dorongan moral dan moril. Adik yang disayang, dan semua keluarga yang selalu mendoakan keberhasilan penulis. 2. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M. A., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Makyun Subuki, M. Hum., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sekaligus dosen penasehat akademik. 4. Novi Diah Haryanti, M. Hum., dosen pembimbing skripsi, yang telah memberi bimbingan, semangat, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. 5. Dosen-dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, khususnya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberi ilmu pengetahuan kepada penulis selama perkuliahan 6. Teman-teman PBSI angkatan Mereka teman terbaik yang selalu membantu juga memberikan semangat kepada penulis. iii

8 7. Teman Majelis Kantiniyah yang memberikan saran dan masukan dalam mengerjakan skripsi ini. 8. Terakhir terima kasih atas semua pihak yang telah memberikan motivasi, doa, semangat yang tidak pernah putus diberikan kepada penulis. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dalam pembuatan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. Jakarta, 18 Oktober 2015 Penulis iv

9 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQOSAH ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii iii v BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Identifikasi Masalah... 5 C. Batasan Masalah... 5 D. Rumusan Masalah... 6 E. Tujuan Penelitian... 6 F. Manfaat Penelitian... 7 G. Metodelogi Penelitian Objek Penelitian Metode Penelitian Jenis Penelitian Prosedur Penelitian Teknik Penulisan Teknik Pengumpulan Data Sumber Data BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Novel B. Unsur Intrinsik Novel Tema dan Amanat Latar Alur Sudut Pandang Tokoh dan Penokohan Gaya Bahasa v

10 C. Etika Profetik Humanisasi Liberasi Transendensi D. Pendekatan Ekspresif E. Pembelajaran Sastra F. Hasil Penelitian yang Relevan BAB III BIOGRAFI PENGARANG, PEMIKIRAN PENGARANG, DAN SINOPSIS NOVEL A. Biografi Kuntowijoyo B. Pemikiran Kuntowijoyo C. Sinopsis Novel Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Unsur Intrinsik Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo Tema dan Amanat Tokoh dan Penokohan Sudut Pandang Plot Latar Gaya Bahasa B. Etika Profetik Pada Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo a. Humanisasi b. Liberasi c. Transendensi C. Implikasi Penelitian Terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah BAB V PENUTUP A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi

11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Karya sastra lahir dari tangan pengarang yang merupakan bagian dari masyarakat. Bisa dikatakan bahwa karya sastra merupakan cerminan, gambaran, atau refleksi kehidupan masyarakat. Namun tetap saja, meski dikatakan refleksi kehidupan masyarakat, sebuah karya sastra tidak dapat dikatakan kenyataan sebenarnya. Hal ini dikarenakan sebuah karya sastra dibuat oleh pengarang dan direka sedemikian rupa oleh pengarang untuk menyampaikan ide dan gagasannya. Setiap pengarang akan mengatur kesan dari kehidupan dan pengalamannya sendiri, mengubahnya dan memanfaatkannya untuk menyusun teks. 1 Karya sastra diibaratkan sebagai potret atau sketsa kehidupan. Tetapi, potret itu tentu berbeda dengan cermin, karena sebagai kreasi manusia, di dalam sastra terdapat banyak pendapat dan pandangan penulisnya, dari mana dan bagaimana ia melihat kehidupan tersebut. 2 Dapat dikatakan, pandangan yang berupa ide, gagasan, maupun pemikiran yang tertuang di dalam karya sastra berangkat dari kegelisahan pengarang akan keadaan di sekitar pengarang, baik itu keadaan lingkungan, masyarakat, dan lainnya. Pemikiran, gagasan, maupun ide yang ditawarkan pengarang dalam karya sastra dapat terlihat secara langsung, dan adapula yang tersirat secara halus. Profetik merupakan ide atau gagasan yang selalu disampaikan oleh Kuntowijoyo dalam setiap karya-karya sastranya. Profetik sendiri menurut pengertiannya berangkat dari kata prophet yang berarti Nabi. Profetik dapat juga dikatakan sifat yang ada dalam diri seorang Nabi. Sifat tersebut tidak hanya mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga 1 Jan Van Luxemburg, dkk., Tentang Sastra (Jakarta: Intermasa, 1989), h Melani Budianta, dkk., Membaca Sastra, (Magelang: Indonesiatera), cet. 2, h

12 2 menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Karya-karya yang lahir dari tangan Kuntowijoyo memilki muatan profetik, yang memberi warna baru dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Karyakaryanya banyak dikatakan oleh para penikmat sastra atau kritikus sastra sebagai sastra profetik. Kuntowijoyo sendiri merumuskan apa yang disebutnya sebagai etika profetik. Etika profetik tersebut yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Lebih jelasnya sebagai berikut: Tugas sastrawan pada dasarnya adalah tugas-tugas yang pernah dilakukan Nabi. Tugas itu adalah amar ma ruf (mengajak pada kebenaran), nahyi munkar (mencegah kemunkaran), dan tu minu billah (beriman kepada Tuhan). Dalam bahasa Kuntowijoyo dirumuskan sebagai humanisasi (amar ma ruf), liberasi (nahyi munkar), dan transendensi (tu minu billah). 3 Kuntowijoyo sendiri merupakan sastrawan yang menghasilkan banyak buku. Arief Budiman pernah mengatakan di sebuah artikelnya yang dimuat di Harian Kompas, Kunto adalah salah satu dari segelintir cendekiawan Indonesia yang produktif, gagasannya biasanya mendalam, tidak hanya berupa kesan selintas saja. 4 Kiranya Kuntowijoyo adalah sedikit dari sastrawan yang memilki kemampuan menulis fiksi dan nonfiksi sama kuatnya. Kuntowijoyo juga seorang yang komplet dengan menghasilkan karya yakni puisi, cerpen, novel, dan drama. Buku kumpulan puisi dari Kuntowijoyo yakni Suluk Awang-Uwung (1975), Isyarat (1976), Makrifat Daun Daun Makrifat (1995). Lalu novelnya Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Khotbah di Atas Bukit (1976), Pasar (1972), Mantra Penjinak Ular (2000), Waspirin dan Satinah (2003). Kemudian cerpencerpennya dimuat dalam buku kumpulan cerpen, yakni Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1992), Hampir Sebuah Subversi (1999). Terakhir naskah-naskah drama Kuntowijoyo yakni Rumput-Rumput Danau Bento (1968), Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cardas (1972), dan Topeng Kayu (1973). 3 Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), h Arief Budiman, Sistem Sosial dan Sistem Budaya (Tanggapan untuk Kuntowijoyo), Kompas 13 Februari 1991, h. 4.

13 3 Etika profetik yang menjadi pemikiran kuntowijoyo selalu hadir dalam setiap karyanya. Hal ini berangkat dari kegelisahan Kuntowijoyo terhadap dunia Sastra Indonesia yang minim sastra-sastra transenden. Melalui sastra profetiknya ini Kuntowijoyo mengisyarakatkan karya sastranya sebagai sastra ibadah dan sastra yang murni. 5 Hal inilah yang menjadi salah satu ketertarikan untuk melakukan penelitian terhadap salah satu karya Kuntowijoyo. Gaung novel-novel Kuntowijoyo di dalam kesusastraan Indonesia tidak sepopuler cerpen-cerpennya. Hanya novel Khotbah di atas Bukit (1976) mungkin yang ramai dibicarakan. Padahal masih ada empat novel Kuntowijoyo yang juga merupakan karyanya yakni Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Pasar (1972), Mantra Penjinak Ular (2000), dan Waspirin dan Satinah (2003). Meski demikian, novel-novelnya tetap mendapat apresiasi baik di dunia kesusastraan. Salah satunya novel Mantra Penjinak Ular. Novel tersebut merupakan salah satu novel Kuntowijoyo yang terbit sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada tahun Dicetak dalam bentuk novel pada tahun yang sama, dan kemudian dicetak ulang pada tahun Novel ini juga mendapat apresiasi yang baik dari dunia kesusastraan. Novel Mantra Penjinak Ular berhasil meraih penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA). Novel ini bercerita tentang seorang dalang yang berkerja menjadi pegawai negeri. Dalang tersebut bernama Abu Kasan Sapari. Dengan latar budaya Jawa dan segala macam mitos-mitosnya, dalam novel ini Abu Kasan Sapari tumbuh dalam suatu proses dialektik zaman yang terus bergerak, pada kurun waktu kirakira menjelang akhir abad ke-20. Novel ini menggambarkan bagaimana mesin politik Orde Baru Soeharto beroperasi sampai ke desa-desa. Kuntowijoyo dengan sifat dan cerita yang khas menampilkan perlawanan terhadap mesin politik atau kekuasaan politik kala itu yang menggenggam hingga ke desa-desa, sampai pada kekuasaan terhadap kesenian. Banyak yang mengatakan kalau novel Mantra Penjinak Ular merupakan riwayat perjalanan dari Kuntowijoyo sendiri. 5 Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra, (Yogyakarta: Mullti Presindo, 2013), h Cerber Baru: Mantra Penjinak Ular, Kompas, 1 Mei 2000, h. 1.

14 4 Pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo akan etika profetik (sastra profetik) juga tampil dalam novel Mantra Penjinak Ular. Pada novel ini tokoh Abu Kasan Sapari sendiri yang banyak mewakili pemikiran Kuntowijoyo akan etika profetik yang mencakup humanisasi, liberasi, dan transedensi. Kekhasan karya Kuntowijoyo inilah yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian terhadap karya Kuntowijoyo ini yakni Mantra Penjinak Ular. Ide, gagasan, atau pemikiran pengarang merupakan bagian dari unsur eksternal karya sastra. Unsur ekstrinsik karya sastra terdiri dari biografi, psikologi pengarang, pemikiran pengarang, dan keadaan zaman. Unsur ekstrinsik inilah yang sekiranya dalam pembelajaran sastra di sekolah kurang diperhatikan baik itu oleh peserta didik maupun pendidik. Kebanyakan peserta didik hanya mengetahui secara teoretis mengenai unsur-unsur karya sastra, dan masih belum memahami cara menganalisis sebuah karya sastra. Hal ini dikarenakan rendahnya minat baca peserta didik akan karya sastra, serta rendahnya apresiasi peserta didik akan karya sastra. Kegagapan peserta didik dalam menganalisis karya sastra, agaknya diakibatkan kurangnya fokus perhatian pendidik dalam mengajarkan pemahaman akan sebuah karya sastra. Pendidik kadang hanya terpaku pada unsur-unsur pembangun karya sastra saja, tidak mengajarkan bagaimana tujuan, proses penciptaan, serta faktor-faktor yang menyebabkan karya sastra itu muncul (unsur ekstrinsik sastra). Padahal unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah karya sastra merupakan sebuah kesatuan. Tidak dapat kita menganalisis karya sastra hanya intrinsik saja, tanpa kita kaji unsur ekstrinsiknya, begitupun sebaliknya. Penelitian ini diharapkan dapat berimplikasi terhadap peserta didik yang ada di sekolah. Peserta didik dalam pembelajaran sastra di sekolah perlu memahami karya sastra secara mendalam, dan menambah wawasan peserta didik akan tema-tema atau masalah yang diangkat dalam sebuah karya sastra juga semakin bertambah. Oleh karena itu penelitian ini akan memaparkan etika

15 5 profetik dalam hal ini humanisasi, liberasi, dan transendensi yang ada pada novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo dengan tinjauan ekspresif. B. Identifikasi Masalah Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka identifikasi masalah dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Kurangnya kesempatan dalam mempelajari novel sebagai pengalaman estetik, kalaupun ada terlalu menitikberatkan pada pembahasan novel sebagai ilmu sastra. 2. Kurangnya kesempatan peserta secara mendalam mempelajari sastra khususnya novel, peserta didik hanya sebatas mempelajari unsur-unsur intrinsik dari novel saja. 3. Kurangnya pemahaman peserta didik terhadap biografi pengarang (pemikiran, gagasan, dan proses kreatif) karya sastra. Mereka hanya sebatas mengetahui karya sastranya saja. 4. Kurangnya apresiasi pengajar terhadap novel sebagai bahan pertimbangan dalam memperkenalkan nilai edukasi kepada peserta didik. C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah bertujuan membatasi banyaknya masalah yang muncul dalam penelitian ini. Pembatasan masalah juga dapat mempermudah peneliti agar objek yang diteliti tidak melebar terlalu jauh, sehingga penelitian lebih spesifik dan mendalam. Dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo banyak ditemukan temuan masalah, maka dari itu, penulis membatasi dan memfokuskan penelitian pada:

16 6 1. Wujud etika profetik dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo serta hubungannya dengan proses kreatif dan dunia pengarang. 2. Implikasi dari novel Mantra Penjinak Ular terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA kelas X. D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan dan pembatasan masalah penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana wujud etika profetik dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo, serta hubunganya dengan dunia pengarang? 2. Bagaimana implikasi pembahasan novel Mantra Penjinak Ular dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA kelas XI? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi etika profetik yang ada dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo, serta mendeskripsikan hubungan etika profetik dengan dunia pengarang. 2. Mendeskripsikan implikasi novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA kelas XI.

17 7 F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang telah dilakukan ini diharapkan bermanfaat, baik itu secara teoretis maupun praktis. Penelitian yang telah dilakukan ini secara teoretis diharapkan dapat memperluas wawasan dan pengetahuan tentang khazanah sastra Indonesia, khususnya pada pembelajaran sastra di sekolah. Selain itu penelitian yang telah dilakukan ini diharapkan memberi sumbangan ke dalam dunia sastra Indonesia, dalam hal ini kajian ekspresif terhadap karya sastra. Manfaat praktis dari penelitian ini, diharapkan dapat membantu pembaca untuk lebih mengetahui dan memahami isi serta kandungan dari novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo, dan juga diharapkan pembaca dapat memanfaatkan berbagai pendekatan dalam mengkaji novel tersebut. G. Metodologi Penelitian a. Objek penelitian Objek dalam penelitian ini berupa karya sastra, dalam genre novel, yaitu novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo cetakan ke-2, tahun Tempat yang digunakan dalam penelitian tidak terikat pada satu tempat, karena objek yang dikaji dalam penelitian ini berupa teks karya sastra. b. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Fokus Penelitian Langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini yakni menentukan teks sastra yang akan dikaji atau diteliti, dan setelah itu menentukan persoalan apa yang muncul, untuk kemudian bisa dijelaskan dan dicarikan solusinya melalui penelitian. Langkah selanjutnya dalam penelitian ini setelah teks dan permasalahan ditentukan adalah menentukan fokus penelitian.

18 8 Secara umum penelitian sastra dapat dikategorikan ke dalam empat fokus yang merujuk pada empat pendekatan Abrams, yaitu: a) Penelitian dengan fokus teks dan hubungannya dengan penulis/penelitian genetik. b) Penelitian dengan fokus teks dan hubungannya dengan pembaca. c) Penelitian dengan fokus teks itu sendiri. d) Penelitian dengan fokus teks dan hubungannya dengan realitas. 7 Berdasarkan keempat jenis fokus penelitian di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan fokus yang keempat, yaitu penelitian dengan fokus teks dan hubungannya dengan penulis/ penelitian genetik. Fokus penelitian ini memfokuskan teks dalam hubungannya dengan penulis. Teks mencerminkan gagasan, pikiran dan perasaan penulis yang terlihat melalui bentu-bentuk di dalam karya sastra yang dihasilkan 2. Bentuk dan Strategi Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif analisis dan studi kepustakaan. Pendekatan yang dilakukan adalah ekspresif, pendekatan yang fokus pada karya dan hubungannya terhadap pengarangnya. Menurut Nyoman Kutha Ratna, metode desktiptif analitik dilakukan dengan cara mendeskripsikan faktafakta yang kemudian disusul dengan analisis. Lebih lanjut, ia pun menjelaskan pengertian metode deskriptif analitik sebagai berikut: Secara etimologis, deskripsi dan analisis berarti menguraikan. Meskipun demikian, analisis yang berasal dari bahasa Yunani, analyein ( ana = atas, lyein = lepas, urai), tidak diberikan arti tambahan, tidak semata-mata menguraikan, melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya. Metode gabungan yang lain, misalnya deskriptif komparatif, metode dengan cara menguraikan dan membandingkan, dan metode deskriptif induktif, metode 7 Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h.180

19 9 dengan cara menguraikan yang diikuti dengan pemahaman dari dalam ke luar. 8 Kemudian pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang tidak sematamata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya sastra itu diciptakan pengarang, tetapi juga bentuk-bentuk yang muncul sebagai hasil pemikiran pengarang. c. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan mengacu pada buku-buku, artikel, dan dokumendokumen lain yang berhubungan dengan objek penelitian. d. Prosedur Penelitian Adapun prosedur penelitian dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Membaca Novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo. 2. Menetapkan masalah yang akan diteliti dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo. 3. Membaca ulang dengan cermat karya Kuntowijoyo Mantra Penjinak Ular untuk menentukan etika profetik yang terdapat di dalam novel tersebut dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. 4. Menandai kata, kalimat, atau paragraf yang mengandung unsur etika profetik. 5. Mengklasifikasikan data dan menetapkan kriteria analisis. 6. Menganalisis data yang sudah diklasifikasikan dan melakukan pembahasan terhadap hasil analisis dengan interpretasi data. 7. Menyimpulkan hasil penelitian 8 Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007), h. 53.

20 10 e. Teknik Penulisan Teknik penulisan yang digunakan dalam skripsi ini merujuk pada buku Pedoman Penulisan Skripisi yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun f. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, yaitu suatu cara pencarian data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, buku, surat kabar, majalah dan berita online. g. Sumber Data 1. Data Primer Data primer merupakan literatur yang membahas secara langsung objek permasalahan pada penelitian ini, yaitu novel Mantra Penjinak Ular (2013) karya Kuntowijoyo. 2. Data Sekunder Data sekunder merupakan sumber penunjang yang dijadikan alat untuk membantu penelitian, yaitu berupa buku-buku atau sumber-sumber dari penulis lain yang berbicara terkait dengan objek penelitian.

21 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian novel Novel (Inggris: novel) merupakan bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Bahkan dalam perkembangannya kemudian hari, novel dianggap bersinonim dengan fiksi. Sebutan novel dalam bahasa Inggris dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari Bahasa Itali novella (yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. 1 Novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia yang diidealkan. Dunia tersebut merupakan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intirinsiknya seperti peristiwa, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang tentu saja ke semuanya bersifat imajinatif. 2 Novel cenderung berisfat expands meluas cenderung menitik beratkan munculnya complexity kompleksitas. Sebuah novel tidak akan dapat selesai dibaca dalam sekali duduk. Karena panjangnya, sebuah novel secara khusus memilki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu (kronologi). Efek dari perjalanan waktu tersebut yakni pengembangan karakter tokoh. Novel juga memungkinkan adanya penyajian lebar mengenai tempat (ruang) tertentu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok permasalahan yang selalu menarik perhatian para novelis. 3 Dapat diakatakan novel merupakan karya fiksi berupa prosa. Novel merupakan karya sastra yang menyajikan kompleksitas di dalamnya. Berbeda dengan cerpen, novel tidak dapat selesai dibaca dalam sekali 1 Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press), h Ibid, h Suminto A. Sayuti, Berkenalan dengan Prosa Fiksi, (Yogyakarta: Gama Media), h

22 12 duduk. Hal ini dikarenakan, novel menghadirkan pengungkapan cerita yang cenderung lebih mendalam. B. Unsur-unsur intrinsik novel Novel memilki unsur intrinsik atau yang biasa disebut unsur pembangun karya sastra. Pada umumnya para ahli membagi unsur instrinsik prosa atas tema dan amanat, sudut pandang/titik pandang pengarang, tokoh, watak, dan penokohan, alur/plot, latar/setting, gaya bahasa, dan gaya penceritaan. 4 Unsurunsur tersebut saling berkaitan, dan juga saling membangun struktural sebuah karya. a. Tema dan amanat Dalam pengertiannya yang paling sederhana, tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Tema merupakan gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam dan melalui karya fiksi. 5 Bisa dikatan yang dimaksud dengan tema bukanlah sebuah pokok cerita dalam sebuah karya fiksi melainkan gagasan sentral yang hendak diperjuangkan oleh pengarang itu sendiri lewat karyanya. Menentukan tema sebuah karya sastra haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita. Tema, walau sulit ditentukan secara pasti bukanlah makna yang disembunyikan, walau belum tentu juga dilukiskan secara eksplisit. Tema merupakan makna keseluruhan yang didukung cerita, dengan sendirinya ia akan tersembunyi di balik cerita yang mendukungnya. 6 Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan tema sendiri merupakan gagasan sentral/ utama yang dapat diketahui dari unsur-unsur pembangun karya sastra yang lain. Sebuah tema tidak dapat ditentukan berdasarkan bagian tertentu dari sebuah cerita saja, melainkan tema didapat atau diketahui berdasarkan 4 Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h Sayuti, Op. Cit., h Nurgiyantoro, Op. Cit., h. 68.

23 13 keseluruhan cerita. Bisa dipastikan unsur-unsur pembangun lainnya pastilah menyiratkan tema, dan saling berkaitan mendukung eksistensi tema. Sebuah karya sastra ada kalanya dapat diangkat suatu ajaran moral, atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang; itulah yang disebut amanat. 7 Amanat disini dapat diartikan, pesan berupa ide, gagasan, ajaran moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan/ dikemukakan pengarang lewat cerita. 8 Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara impilisit ataupun secara eksplisit. Implisit jika jalan keluar ataupun ajaran moral itu disiratkan dalamtingkah laku tokoh menjelang akhir. Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan, dan sebagainya yang berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu. 9 Dapat dikatakan, amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang lewat cerita, dalam hal ini karyanya. Pesan itu dismpaikan baik secara eksplisit maupun inplisit. Pesan yang disampaikan pada setiap cerita atau karya, diharapkan dapat diketahui oleh pembacanya, dan dapat memberi pengaruh kepada pembacanya. b. Latar Latar di dalam sebuah karya sastra merupakan tempat pristiwa sebuah cerita berlangsung. Latar dapat juga dpat diartikan sebagai waktu atau masa berlangsungnya suatu pristiwa karena latar itu sekaligus merupakan lingkungan yang dapat berfungsi sebaagai metonomia atau metafora untuk mengekspresikan para tokoh. 10 Latar/setting merupakan unsur yang berkaitan erat dengan tokoh. Setting diterjemahkan sebagai latar cerita. Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memilki fungsi fisikal dan fungsi psikologis. Latar/setting digunakan 7 Panuti Sudjiman, Memahami Cerita Rekaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1988), h Zulfahnur Z. F dkk., Teori Sastra, Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III Tahun 1996/1997, Kearsipan Dirjen Pendidikan dasar dan Menengah, Depdikbud, 1996, h Sudjiman, Op. Cit., h Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1989), h

24 14 sebagai penegas suasana, maupun kondisi sekeliling si tokoh. Latar cerita berguna bagi sastrawan dan pembaca. Bagi satrawan, latar cerita dapat digunakan untuk mengemban cerita. latar cerita dapat digunakan sebagai penjelas tentang tempat, waktu dan suasana yang dialami tokoh. 11 Dapat dikatakan setiap gerak-gerik tokoh dalam sebuah cerita pastilah menimbulkan peristiwa-peristiwa. Peristiwa tersebut tentunya berlangsung dalam suatu tempat, suatu waktu, dan suatu suasana. Tempat, waktu dan suasan itulah latar atau setting sebuah cerita. Pendapat Abrams yang dikutip dari buku Teori Pengkajian Fiksi, latar disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Stanton (1965) mengelompokan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta (cerita) sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi 12. Latar sendiri dikategorikan menjadi tiga bagian, yakni latar tempat, latar waktu, latar sosial. Latar tempat adalah hal yang berkaitan dengan masalah geografis menyangkut tempat suatu peristiwa terjadi. Latar waktu berkaitan dengan masalah historis, mengacu pada pada saat terjadinya sebuah peristiwa, dalam plot. Rangkaian peristiwa tidak mungkin terjadi jika dilepaskan dari perjalanan waktu, yang dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan zaman tertentu yang melatar belakanginya kemudian yang terakhir latar sosial berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan, latar sosial merupakan lukisan status yang menunjukkan hakikat seorang atau beberapa orang tokoh dalam masyarakat yang ada dalam sekelilingnya. 13 Dapat disimpulkan, latar/ setting memberikan kesan realistis terhadap pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh terjadi. Latar juga amat erat kaitannya dengan tokoh dan juga plot/alur. Peristiwa-peristiwa yang dialami para tokoh 11 Siswanto, Op. Cit., h Nurgiyantoro, Op. Cit, h Sayuti, Op. Cit., h. 127.

25 15 tidak dapat dilepaskan dari tempat, perjalanan waktu, dan keadaan sosial yang melatarbelakangi peristiwa-peristiwa tersebut. c. Alur Abrams berpendapat, alur adalah rangkaiaan cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam sebuah cerita. Dalam cerita modern, alur tidak selalu dimulai dengan pengenalan dan diakhiri tahap penyelesaiaan. Ada kemungkinan cerita dimulai dengan konflik. Ada kemungkinan cerita yang dimulai dari penyelesaiaan. 14 Sudjiman (1990) membagi atas alur utama dan alur bawahan. Alur utama merupakan rangkaian peristiwa utama yang menggerakkan jalan cerita. Alur bawahan adalah alur yang disusupkan di selasela bagian alur utama sebagai variasi. Alur bawahan adalah lakuan tersendiri yang masih ada hubungannya dengan alur utama. 15 Bagi pengarang yang lebih penting ialah menyusun peristiwa-peristiwa cerita yang tidak terbatas pada tuntutan-tuntuatan murni kewaktuan saja, tetapi juga dalam hubungan yang sudah diperhitungkan. Alur tidak hanya sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu, tetapi juga merupakan penyusunan yang dilakukan oleh penulisnya berdasarkan hubungan-hubungan kausalitasnya. 16 Dapat disimpulkan, seorang pengarang tidak menghadirkan alur untuk memenuhi tuntutan kewaktan saja. Akan tetapi, seorang pengarang menghadirkan peristiwa-peristwa yang dihadirkan oleh pelaku berdasarkan hubungan sebab akibat. Kausalitas peristiwa itulah yang membentuk alur, yang merupakan unsur penting dalam sebuah cerita. d. Sudut Pandang 14 Siswanto, Op. Cit., h Ibid, h Sayuti, Op. Cit., h. 30.

26 16 Unsur selanjutnya dari sebuah prosa, dalam hal ini novel adalah sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah tempat atau titik dari mana seorang melihat objek deskripsinya. Burhan Nurgiyantoro mengatakan dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Selanjutnya abrams berpendapat mengenai sudut pandang (point of view): ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca 17 Secara garis besar sudut pandang dibedakan menjadi dua kelompok yakni sudut pandang orang pertama: akuan dan sudut pandang orang ketiga: diaan, atau insider dan outsider. Pada karya fiksi modern sering juga dijumpai sudut pandang campuran, seperti pada novel Ronggeng Dukuh Paruk. Lazimnya, sudut pandang yang umum dipergunakan pengarang dibagi menjadi empat jenis, yakni: 1. Sudut pandang first person-central atau akuan sertaan, yaitu pengarang secar langsung terlibat di dalam cerita. 2. Sudut pandang first person peripheral atau akuan tak sertaan, yaitu tokoh aku hanya menjadi pembantu atau pengantar tokoh lain yang lebih penting. 3. Sudut pandang third-person-omniscient atau diaan maha tahu, yaitu pengarang berada di luar cerita, dan biasanya pengarang hanya menjadi seorang pengamat yang maha tahu, bahkan mampu berdialog langsung dengan pembaca. 4. Sudut pandang third-person-limited atau diaan terbatas, yaitu pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai pencerita yang 17 Nurgiyantoro, Op. Cit., h. 248.

27 17 terbatas hak berceritanya. Disini pengarang hanya menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan cerita. 18 Sudut pandang merupakan titik dimana seorang dalam hal ini pengarang melihat objek deskripsinya. Sudut pandang juga bagi pengarang dijadikan sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Melaui sudut pandang sendiri, pada hakikatnya pengarang menggunakannya untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. e. Tokoh dan penokohan Perwatakan atau penokohan adalah pelukisan tokoh/ pelaku cerita melalui sifat-sifat dan tingkah laku dalam cerita. Penokohan dalam sebuah karya sastra adalah cara pengarang untuk menampilkan para tokoh dengan wataknya, yakni sifat, sikap, dan tingkah lakunya. Boleh juga dikatakan bahwa penokohan itu merupakn cara penyerang untuk menampilkan watak para tokoh di dalam sebuah cerita karena tanpa adanya tokoh, sebuah cerita tidak terbentuk. Bentuk penokohan yang paling sederhana ialah pemberian nama kepada para tokoh di dalam sebuah cerita. 19 Adapun tokoh menurut Panuti Sudjiman, sebagai berikut: tokoh adalah ndividu rekaan berwujud atau binatang yang mengalami peristiwa atau lakuan dalam cerita. Manusia yang menjadi tokoh dalam cerita fiksi dapat berkembang perwatakannya baik dari segi fisik maupun mentalnya. 20 Sebuah karya sastra terdapat banyak ragam tokoh, seperti tokoh datar dan tokoh bulat. Tokoh datar ialah tokoh yang berperan di dalam sebuah cerita yang hanya mempunyai satu dimensi sifat. Tokoh bulat ialah tokoh yang juga berperan di dalam sebuah cerita yang yang memiliki sifat lebiha dari satu dimensi. 21 Sejalan dengan Wellek dan Waren, Foster juga membagi perwatakan tokoh atas watak bulat (round character) dan watak datar (flat 18 Sayuti, Op. Cit., h Wellek dan Warren, Op. Cit., h Zulfahnur Z. F dkk, Op. Cit., h Wellek dan Warren, Op. Cit., h. 288.

28 18 character). Tokoh datar diungkapkan atau disoroti dari satu segi wataknya saja (Forster, 1955: 67-68) sikap atau obsesi tertentu saja dari si tokoh (Kenney, 1966: 28). Tokoh datar bersifat statis; di dalam perkembangan lakuan, watak tokoh itu sedikit sekali berubah, bahkan ada kalanya tidak berubah sama sekali. Sedangkan tokoh bulat ditampilkan lebih dari satu segi wataknya dalam cerita. Berbagai segi wataknya itu ditampilkan tidak secara sekaligus melainkan berangsur-angsur atau berganti-ganti, pergantian watak yang dialami tokoh bulat juga haruslah dalam batas-batas kebolehjadian (probability) juga. 22 Dilihat dari watak yang di miliki tokoh, dapat dibedakan menjadi tokoh protagonis dan antagonis (Aminuddin, 1984: 85). Tokoh protagonis adalah tokoh yang wataknya disukai pembaca. Biasanya berwatak baik dan positif. Sedangkan, tokoh antagonis adalah tokoh yang wataknya dibenci pembaca. Biasanya memiliki watak buruk dan negatif. 23 Ditinjau dari segi keterlibatannya tokoh fiksi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tokoh utama/ tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh utama/ sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian besar dalam peristiwa atau tokoh yang paling sering diceritakan. Tokoh tersebut ditentukan dalam tiga cara, yaitu (1) tokoh itu paling teribat dengan makna atau tema, (2) tokoh itu paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, (3) tokoh itu paling memerlukan waktu penceritaan. sedangkan tokoh bawhan itu sendiri merupakan tokoh yang mengambil bagian kecil dalam peristiwa atau tokoh yang paling sedikit diceritakan. 24 Persoalan pengarang tidak hanya dalam hal memilih jenis tokoh yang akan disajikan dalam cerita, tetapi juga dengan cara apakah ia akan menyajikan tokoh ciptaanya. Ada yang membedakan cara-cara penggambaran tokoh menjadi cara analitik dan dramatik, ada yang membedakannya menjadi 22 Sudjiman, Op. Cit., h Siswanto, Op. Cit., h Sayuti, Op. Cit., h. 74.

29 19 metode telling uraian dan showing ragaan, dan pula yang membedakannya menjadi metode diskursif, kontekstual, dan campuran. Pembedaan penyajian watak tokoh tersebut memang memilki istilah yang berlainan, akan tetapi sesungguhnya esensi yang dimilki kurang lebih sama. f. Gaya Bahasa Unsur intrinsik selanjutnya adalah Gaya Bahasa. Atar Semi mengatakan bahwa tingkah laku berbahasa merupakan suatu sarana sastra yang amat penting. Tanpa bahasa, sastra tidak ada. Betapapun dua atau tiga orang pengarang mengungkapkan suatu tema, alur, karakter, atau latar yang sama, hasil karya mereka akan berbeda bila gaya bahasa mereka berbeda. 25 Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi menyebut gaya bahasa dengan istilah style/ gaya. Gaya yang dikenal dengan kata style diturunkan dari kata lain stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Burhan Nurgiyantoro berpendapat mengenai gaya (style) sebagai berikut: Stile pada hakikatnya merupakan teknik, teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan. Teknik itu sendiri merupakan suatu bentuk pilihan, dan pilihan itu dapat dilihat pada bentuk ungkapan bahasa seperti yang dipergunakan dalam karya. 26 Stile sendiri ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahsa figuratif, penggunaan kohesi dan lainlain. Dapat diartikan gaya bahasa bahasa adalah cara yang khas, yang dipakai pengarang untuk mengungkapkan sesuatu cerita dengan indah (dan sesuai khas seorang pengarang). Hal tersebut meliputi ciri formal kebahasaan seperti 25 M. Atar Semi, Anatomi Sastra, (Padang: Angkasa Raya, 1988), h Nurgiyantoro, op. Cit., h. 370.

30 20 pilihan kata, struktur kalimat, bahasa figuratif, dan penggunaan kohesi sehingga dapat menyentuh emosi dari pembaca cerita/ karya si pengarang. Tentunya setiap pengarang memiliki gaya bahasa tersendiri dalam bercerita. C. Etika Profetik Sastra profetik adalah sastra demokratis. Ia tidak otoriter dalam memilih satu premis, tema, dan gaya (style), baik yang bersifat pribadi maupun yang baku. Keinginan sastra profetik hanya sebatas bidang etika, itupun dengan sukarela tidak memaksa. 27 Dua prinsip pokok yang menopang konsep sastra profetik yakni kesadaran kemanusiaan dan kesadaran ketuhanan. 28 Sastra profetik digagas oleh Kuntowijoyo akhirnya merumuskan apa yang disebutnya sebagai etika profetik. Etika itu disebut profetik karena ingin meniru perbuatan Nabi, sang Prophet. Etika tersebut terdapat dalam Alqur an, 3: 110, kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma ruf, dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Setelah menyatakan keterlibatan manusia dalam sejarah (ukhrijat linnas) selanjutnya ayat itu berisi tiga hal, yaitu amar ma ruf (menyuruh kebaikan, humanisasi), nahi mungkar (mencegah kemungkaran, liberasi), dan tu minu billah (beriman pada Tuhan, transendensi). 29 Dari kutipan maklumat sastra proftik kunto tersebut dapat ditangkap bahwa etika profetik yang dimaksud oleh Kuntowijoyo diambil dari kitab suci sebuah agama, dalam hal ini Islam. Kuntowijoyo menggunakan istilah humanisasi, liberasi, dan transendensi yang merupakan isi dari etika profetik. Ketiga inilah yang diinginkan oleh etika profetik, etika yang meniru perbuatan nabi (sang prophet). a. Humanisasi Etika humanisasi yang dapat kita sederhana maknanya menjadi menjadi manusia yang utuh. Humanisasi dilakukan dalam rangka melenyapkan 27 Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika dan Struktur, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), h Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), h Kuntowijoyo, Op. Cit., h

31 21 keadaan dehumanisasi yang melanda masyarakat modern sebagai dampak negatif kemajuan teknologi dan industri. Dehumanisasi ialah objektivasi manusia (teologis, budaya, massa, negara), agresivitas (kolektif, perorangan, kriminalitas, loneliness (privatisasi, individualisasi), dan spritual alienation (keterasingan spiritual, artinya orang telah menjadi asing dengan dirinya sendiri) 30. Dalam dehumanisasi perilaku manusia lebih dikuasai alam bawah sadarnya daripada kesadaraannya. Tanpa disadari dehumanisasi sudah menggerogoti masyarakat Indonesia, yaitu terbentuknya manusia mesin, manusia dan masyarakat massa, dan budaya massa. 31 Humanisasi dalam etika profetik merupakan upaya perlawanan terhadap dehumanisasi. Upaya perlawanan terhadap apa yang dinamakan sebagai manusia mesin, manusia dan masyarakat massa, dan budaya massa. 1. Manusia mesin Jacques Ellul mengatakan manusia mesin (il home machine) terjadi karena penerapan teknik meluas dalam masyarakat modern kita. Definisi teknik menurut Jacques Ellul ialah totalitas dari metode yang secara rasional mencapai dan mempunyai efisiensi dalam setiap bidang aktivitas manusia. James R. Chaplin pun mengatakan dalam Dictionary of Psychology perilaku manusia mesin hanya berdasar pada stimulus and response, seperti yang digambarkan dalam psikologi behaviorisme. Perilaku manusia tidak lagi berdasar akal sehat, nilai, dan norma. Agresivitas, korupsi, selingkuh, tawur adalah hasil dari manusia mesin itu. Dapat dikatakan bahwa manusia mesin memberi dampak disorganisasi nilai-nilai sosial dan personal. Menyebabkan abnormalitas dalam masyarakat Manusia dan masyarakat massa Istilah manusia massa (il home mass) berasal dari Gabriel Marcel, seorag filsuf Eksistensialis-Katolik. Menurut Marcel dalam masyarakat 30 Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, (yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1987), h Ibid., h Ibid., h

32 22 teknologis manusia tidak lagi memahami dirinya berdasar gambaran tentang Tuhan (be image of God) tetapi gambaran tentang mesin (the image of machine). Manusia massa itu memandang realitas tidak secara utuh, lebih banyak menekankan aspek emosional daripada intelektual. Kekuatan yang membentuk masyarakat massa ialah teknologi (mekanisasi, industrialisasi), organisasi ekonomi (pabrik, pasar advertensi), diferensiasi sosial (kelas, suku, agama), mobilisasi politik (negara, partai), dan budaya (pop, musik pop, pendidikan, media massa) Budaya massa Manusia mesin serta manusia dan masyarakat massa itu juga menghasilkan budaya, yakni budaya massa. Ada degradasi budaya dalam budaya massa. Adorno mengatakan bahwa dalam budaya massa, budaya sudah jadi komoditas, suatu comoditity fetichism. Budaya bukan lagi sebuah promesse den bonheur (kebajikan) yang berupa realitas yang melampaui kekinian. Basis sosial budaya massa ialah generasi muda. Budaya massa itu terekspresikan dalam bentuk bermacam-macam, yaitu kesenian (rap, dangdut, rock)kebjiaksanaan populer (unhkapan plesetan, bahasa remaja), elektronika (CD, DVD, film, sinetron), dan masih banyak bentuk yang lainnya. 34 Di samping dehumanisasi modern yang dipaparkan di atas, ada juga dehumanisasi tradisional. Kuntowijoyo mengatakan dehumanisasi tradisional masih ada dalam masyarakat kita. Dehumanisasi itu ialah pemujaan wesi aji dan batu mulia, kekeramatan kuburan, sesaji, topa macam-macam, tuyul, jimat, mantra, santet, dan sebagainya. 35 b. Liberasi 33 Ibid., h Ibid., h Ibid., h. 21.

33 23 Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetiknya mengatakan liberasi terbagi menjadi dua. Ada liberasi dari kekuatan eksternal seperti kolonialisme, agresi oleh negara adikuasa, dan kapitalisme dunia. Kemudian ada juga liberasi dari kekuatan internal seperti penindasan politik (sistem politik), penindasan atas rakyat oleh negara (di masa orde baru), ketidakadilan ekonomi, dan ketidakadilan gender. Etika liberasi yang dituju Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetiknya yakni liberasi dari kekuatan internal tersebut, yang terjadi di Indonesia. 36 Sasaran liberasi sendiri ada empat, yaitu sistem pengetahuan, sistem soisal, sistem ekonomi, dan sistem politik. 37 Liberasi perlu dilakukan untuk mencegah dan melawan berbagai bentuk penindasan, penjajahan, penghisapan (sekelompok) manusia terhadap (kelompok) manusia lainnya. Dalam hal ini penindasan yang dilakukan pejabat negara, permainan politik yang kotor, penindasan para pemilik modal dalam kegiatan ekonomi, penindasan laki-laki atau masyarakat terhadap wanita, penindasan etnis atau agama tertentu kepada etnis dan agama lainnya. Tentu saja pencegahan itu dilakukan menurut hukum-hukum yang disepakati dan tidak menyimpang dari ajaran Tuhan. 38 Dapat disimpulkan, liberasi memiliki sasaran sistem pengetahuan, sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem sosial. Etika liberasi yang digagas Kuntowijoyo sejalan dengan sasaran dari liberasi itu sendiri yakni liberasi dari penindasan politik, penindasan rakyat oleh negara, ketidakadilan ekonomi, dan ketidakadilan gender. Liberasi sendiri dilakukan dalam upaya mencegah dan melawan berbagai bentuk penindasan, penjajahan, penghisapan (sekelompok) manusia terhadap (kelompok manusia lainnya). Liberasi inilah yang Kuntowijoyo rumuskan dalam etika profetiknya. c. Transendensi 36 Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur, Op. Cit., h Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, (Bandung: Mizan, 2001), h Wan Anwar, Op. Cit., h. 159.

34 24 Etika transendensi, yaitu mengingatkan kembali keberadaan dan perilaku manusia di bumi (antar manusia dan atntar mahluk) dengan keberadaan kemahakuasaan Tuhan. Bersatu padunya kesadaran kemanusiaan dengan kesadaran ketuhanan membuat keberadaan manusia menjadi lengkap, dan di sisni pulalah tercapai apa yang disebut kaffah (utuh dan lengkap), dimana ibadah ritual kepada Allah seimbang dengan ibadah sosial kepada sesama manusia (termasuk menjaga alam dan mahluk Tuhan lainnya). 39 Transendensi sebenarnya tidak harus berarti kesadaran ketuhanan secara agama saja, tapi bisa saja kesadaran apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Roger Garaudy mengatakan unsur dari transendensi ada tiga yaitu, pengakuan ketergantungan manusia terhadap Tuhan, adanya perbedaan yang mutlak antar Tuhan dan manusia, dan pengakuan akan adanya normanorma mutlak dari Tuhan yang tidak berasal dari akal manusia. 40 Dalam Islam transendensi itu akan berupa sufisme. Kandungan sufisme seperti khauf (penuh rasa takut), raja (sangat berharap), tawakkal (pasrah), qana ah (menerima pemberian Tuhan), syukur ikhlas dan sebagainya adalah tema-tema sastra transendental. 41 D. Pendekatan Ekspresif Abrams membuat diagram yang terdiri atas empat komponen utama. Dimana diagram itu membentuk sebuah segitiga yang berisi empat pendekatan. Pendekatan ekspresif dan pendekatan pragmatik yang berada dikanan dan kiri segitiga, lalu ada pendekatan mimetik yang berada di puncak segitiga, dan terakhir pendekatan objektif berada di dalam diagram segitiga tersebut. Dengan 39 Ibid., h Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur, op. Cit., h Ibid., h

35 25 diagram tersebut Abrams menjelaskan bahwa karya sastra selain berdiri sendiri juga terikat oleh kenyataan, pengarang, dan pembaca. Dalam model pendekatan Abrams ini terkandunglah pendekatan kritis yang utama terhadap karya sastra sebagai berikut: a. Pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri; pendekatan ini disebut obyektif; b. Pendekatan yang menitikberatkan penulis, yang disebut ekspresif; c. Pendekatan yang menitikberatkan semesta, yang disebut mimetik; d. Pendekatan yang menitikberatkan pembaca, disebut pragmatik. 42 M. H Abrams dalam bukunya yang berjudul The Mirror and The Lamp mengatakan secara umum, bahwa pendekatan ekspresif menitik beratkan kajiannya terhadap pencipta (yang dalam hal ini pengarang), hal ini berangkat dari fakta bahwa sebuah karya seni dihasilkan dari proses kreatif yang beroperasi di bawah dorongan perasaan, dan mewujudkan produk gabungan dari persepsi penyair, pikiran, dan perasaan. In general terms, the cultural tendency of the expresive theory may be summarized in this way: A work of art is essentially the internal made external, resulting form a creative process operating under the impluse of feeling, and embodying the combined product of the poet s perceptions, thougthts, and feelings. 43 Kemudian hal-hal yang berada di luar penyair/ pengarang akan dikonversi oleh perasaan dan operasi pikiran penyair sendiri. The primary source an subject matter of a poem, therefore, are the attributes and actions of the poet's mind; or if aspects of the external world, then these only as they are converted from fact to poetry by the feelings and operations of the poet's own mind A. Teuw, Sastra dan Ilmu Sastra, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), h M. H. Abrams, The Mirror and The Lamp, (New York: Oxford University Press, 1980), h Ibid, h. 22.

36 26 Pendekatan ekspresif memilki kesamaan dengan pendekatan biografis dalam hal fungsi. Fungsi tersebut menempatkan karya sastra sebagai manifestasi subjek kreator. Sebaliknya pendekatan ekspresif lebih banyak memanfaatkan data sekunder, data yang sudah diangkat melalui aktivitas pengarang sebagai subjek pencipta, jadi, sebagai data literer. 45 Nyoman Kutha Ratna mengatakan, pendekatan ekspresif tidak sematamata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya sastra itu diciptakan, seperti studi proses kreatif dalam studi biografis, tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Maka wilayah studi ekspresif adalah diri penyair, pikiran dan perasaan, dan hasil ciptaannya. Melalui indikator kondisi sosio kultural pengarang dan ciri-ciri kreativitas imajinatif karya sastra, maka pendekatan ekspresif dapat dimanfaatkan utnuk menggali ciri-ciri individualisme, nasionalisme, komunisme, dan feminisme dalam karya, baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam rangaka periodisasi. 46 Secara historik, sama dengan pendekatan biografis, pendekatan ekspresif dominan abad ke-19, pada zaman Romantik. di Belanda dikenal melalui Angkatan 1880 (80-an), di Indonesia melalui Angkatan 1930 (30-an), yaitu angkatan Pujangga Baru, yang dipelopori oleh Tatengkeng, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane, dengan dominasi puisi lirik. Menurut Teeuw (1988: ) tradisi ini masih berlanjut hingga Sutardji Calzoum Bachri, tidak terbatas pada cipta sastra tetapi juga pada kritik sastra. dalam tradisi sastra Barat pendekatan ini pernah kurang mendapat perhatian, yaitu selama abad Pertengahan, sebagai akibat dari dominasi agama Kristen. karya sastra semata-mata dianggap sebagai peniruan terhadap kebesaran Tuhan dengan konsekuensi manusia sebagai pencipta harus selalu di bawah Sang Pencipta. 47 Jadi dapat disimpulkan pendekatan ekspresif tidak hanya memberi perhatian kepada proses kreatif menciptakan sebuah karya, akan tetapi juga 45 Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007), h Ibid., h Ibid., h. 69.

37 27 melihat bentuk-bentuk yang dihasilkan dalam karyanya. Wilayah pendekatan ini meliputi penyair, pikiran dan perasaaan, dan hasil ciptaannya. Pendekatan ini menempatkan karyas sastra sebagai manifestasi subjek kreator. E. Implikasi Pembelajaran Sastra Sastra pada hakikatnya tidak hanya menghibur namun juga mendidik. Lewat karya sastra, pembacanya selain mendapatkan hiburan juga mendapatkan pembelajaran dari sebuah karya sastra. Oleh karena itu, sastra mempunyai impilikasi dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran di sekolah. Rahmanto berpendapat seseorang yang telah banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai sebab di banding pelajaranpelajaran lainnya ia mengatakan bahwa sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengenal seluruh rangkaian kemungkinan hidup manusia. 48 Rahmanto beranggapan bahwa pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan berbagai kualitas kepribadian anak didik sehingga ia akan mampu menghadapi masalah-masalah hidup dengan pemahaman, wawasan, toleransi dan rasa simpati yang lebih mendalam. Sastra berperan dalam mengembangkan proses keterampilan berbahasa. Pada umumnya ada empat unsur dalam keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih keterampilan membaca, dan mungkin ditambah keterampilan menyimak, bicara dan menulis. B. Rahmanto menjelaskan sebagai berikut Belajar sastra pada dasarnya adalah belajar bahasa dalam praktek. Belajar sastra harus selalu berpangkal pada realisasi bahwa setiap karya pada pokoknya merupakan kumpulan kata yang bagi siswa harus diteliti, ditelusuri, dianalisis dan diintegrasikan B. Rahmanto, Metode Pengajaran Sastra, (Yogyakarta: Penerbit Kanisisus, 1988), h Ibid.,h.38.

38 28 Sastra memberi wawasan kebudayaan. Sastra tidak seperti ilmu pengetahuan lain. Sastra tidak memberikan pengetahuan dalam bentuk jadi seperti ilmu pengetahuan pada umunya. Ilmu pengetahuan lainnya didasarkan atas perbedaan logika, perbedaan sudut pandang dalam memecahkan problematika atas hal keilmuan tersebut, maka dalam sastra karya lahir dalam perbedaan cara pandang sastrawan dalam memecahkan problematika kehidupan manusia, tetapi perbedaan tersebut didasarkan atas perbedaan aspek-aspek estetis. Dalam hal ini Nyoman Kutha Ratna memberikan contoh, ia menyatakan bahwa, dalam karya besar bentuk dan isi memperoleh maknanya secara proporsional sebab karya besar merupakan indikator perkembangan suatu kebudayaan tertentu. 50 Sastra adalah pantulan kembali keadaan masyarakat, secara tidak langsung sastra memuat ilmu pengetahuan, sejarah dan segala yang menyangkut dengan aspek manusia pada zamannya. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa secara historis karya sastra lahir bersama dengan lahirnya semangat kebangsaan. Greibstein, seorang sosio-kultural pernah membuat kesimpulan atas pendapatpendapat mengenai istilah sosio-kultural, salah satu kesimpulannya sebagai berikut: Karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkaplengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkan. Ia harus dipelajari dalam konteks seluas-luasnya, dan tidak hanya dirinya sendiri. Setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal-balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural, dan karya sastra itu sendiri merupakan objek kultural yang rumit. 51 Dari kesimpulan Greibstein, kita dapat bayangkan bahwa karya sastra memuat bagaimana semangat zaman yang menggambarkan perkembangan sosial masyarakat atau kebudayaan yang berlaku pada saat itu. Oleh karena itu dengan pembelajaran sastra, siswa akan mampu peka melihat kedaan zamannya, masalah- 50 Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h Sapardi Djoko Damono, Sosiologi Sastra, Sebuah Pengatar Ringkas, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978), h. 4.

39 29 masalah yang muncul dalam karya sastra sejalan dengan masalah yang ada dalam dunia nyata. dengan kata lain lewat pembelajaran sastra siswa dapat lebih peka akan keadaan sosial sekelilingnya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa karya sastra dapat memberi pembelajaran bagi siswa. Pembelajaran itu sendiri tidak hanya mengenai wawasan saja, akan tetapi, juga memberikan pembentukan karkter siswa, pendidikan moral serta etika. Pembelajaran dalam sastra sendiri tidaklah bersifat jadi. Pembelajaran yang didapat siswa didapat ketika mereka membaca dan juga memahami isi dari sebuah karya sastra. F. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan merupakan hasil analisis atau penelitian lain yang dijadikan acuan dalam melakukan penelitian. Penelitian yang relevan berguna bagi peneliti untuk menopang penelitian yang akan dilakukan. Sebuah karya ilmiah (hasil penelitian) mutlak membutuhkan refrensi atau sumber acuan guna menopang peelitian yang dikerjakannya. Tinjauan pustaka dapat bersumber dari makalah, skripsi, jurnal, internet atau yang lainnya. Sepengetahuan penulis belum ada penelitian yang meneliti terkait etika profetik dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo. Adapun penelitian yang masih ada hubungannya mengenai karya Kuntowijoyo ini yakni, penelitian yang dilakukan Andri Arilaksa dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul Aspek Budaya Jawa Novel Mantra Penjinak Ular Karya Kuntowijoyo: Tinjauan Semiotik. Penelitian yang dilakukan oleh Andri Arilaksa yakni mencoba mengungkapkan budaya-budaya Jawa yang ada di dalam novel Mantra Pejinak Ular. Penelitian yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah skripsi dari Mutmainah Hassan. Skripsi ini berjudul Kajian Strukturalisme Genetik Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo. Hasil analisis isi menunjukkan alur yang digunakan adalah alur progresif, teknik pelukisan tokoh secara analitik dan

40 30 dramatik. Sudut pandang menggunakan sudut pandang dia-an dengan teknik dia mahatahu dan dia pengamat. menggambarkan latar masa Orde baru dan temanya adalah perubahan sosial dan politisasi kesenian. Pandangan dunia novel Mantra Pejinak Ular menyangkut hal yang berhubungan dengan Tuhan, dunia dan manusia yang selalu menyadai keterbatasan pada nilai ketuhanan. serta subjek kolektif dan lingkungan sekitar Kuntowijoyo menggambarkan adanya campur tangan kekuasaan terhadap kesenian untuk kepentingan politik.

41 BAB III BIOGRAFI PENGARANG, PEMIKIRAN PENGARANG, DAN SINOPSIS NOVEL A. Biografi Pengarang Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 september Kehidupan masa kecil Kuntowijoyo semasa kecil hidup dalam budaya dan tradisi Islam dan Jawa. Ayahnya sebagai dalang dan pembaca macapat, sedangkan eyang buyutnya sebagai seorang khathath (penulis mushaf al-quran dengan tangan). Pendidikan formal Kuntowijoyo dimulai dari madrasah ibtidaiyah atau SRN di Ngawonggo, Klaten (1956). Lulus sekolah dasar Kuntowijoyo melanjutkan pendidikannya di SMP masih di daerah Klaten, yang kemudian lulus pada tahun Barulah menginjak SMA Kuntowijoyo meneruskan pendidikannya di daerah lain yakni di sebuah SMA di daerah Surakarta (1962). Setelah lulus SMA, Kuntowijoyo berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (1969). Jenjang pendidikan tingginya kemudian dilanjutkan dengan meraih gelar magister di Universisity of Connecticut, AS (1974). Puncaknya didapat dengan meraih gelar doktor dalam bidang ilmu sejarah dari Universitas Columbia, AS (1980). Dalam catatan Amien wangsitalaja, semasa kecil, di sebuah surau, di desa kecil yang sunyi, Ngawonggo (kecamatan Ceper, Klaten), Kuntowijoyo pernah belajar mendongeng dan berdeklamasi kepada M. Saribi Affin dan Yusmanan, dua sastrawan yang cukup penting dalam sastra Indonesia. Sejak masih di madrasah ibtidaiyah, selain rajin belajar deklamasi, mendongeng, dan mengaji, ia gemar membaca suntuk di sebuah perpustakaan kota kecamatan. Begitu pula ketika memasuki SMP, Kuntowijyo membaca karya Hamka, H.B Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Nugroho Notosusanto, hingga pada SMA berkenalan 31

42 32 dengan karya dunia, misalnya karya Charles Dickens dan Anton Chekov. 1 Semasa kuliah Kuntowijoyo mendirikan Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi) dan Studi Grup Mantika (bersama Dwam Rahardjo, Sju bah Asa, Chaerul Umam, Arifin C. Noer, Amri Yahya, Ikranagara, dan Abdul Hadi W.M). Terlihatlah bahwa kuntowijoyo sedari dini memang sudah gemar membaca dan sudah gemar terhadap karya-karya sastra. Bahkan ketika ia terbaring sakit kegemaran membacanya itu pun masih dilakukannya bahkan sampai delapan jam sehari. Perjalanan karir Kuntowijoyo semasa hidupnya yang pernah diembannya, yakni sebagai Asisten Dosen Fakultas Sastra UGM ( ), Dosen Fakultas Sastra UGM ( ), Sekretaris Lembaga Seni & Kebudayaan Islam ( ), Ketua Studi Grup Mantika ( ), Pendiri Pondok Pesantren Budi Mulia (1980), Pendiri Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta (1980). Kuntowijoyo juga dikenal sebagai seorang aktivis. Kuntowijoyo merupakan seorang aktivis Muhammadiyah dan pernah menjadi anggota PP Muhammadiyah. Bahkan ia pernah melahirkan sebuah karya Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru. Menurut ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Syafii Maarif, Kunto merupakan sosok pemikir Islam yang sangat berjasa bagi perkembangan Muhammadiyah karena kritiknya cukup pedas tetapi merupakan pemikiran yang sangat mendasar. 2 Kuntowijoyo selain sebagai sastrawan juga dikenal sebagai seorang intelektual dan akademisi. Banyak karya sastra lahir dari tangannya, juga banyak karya dan telaah ilmiah lahir dari tangannya. Kualitas karya pada dua bidang tersebut pun tidak perlu diragukan. Karya-karya sastra dan juga telaah-telaah ilmiahnya lahir dari endapan pengalaman hidup Kuntowijoyo dengan lingkungan sekitarnya (yang dalam hal ini budaya Jawa dan tradisi Islam banyak memberi pengaruh terhadap karya-karyanya). 1 Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), h Kuntowijoyo, diakses pada tanggal 28 Desember 2014 pukul 23: 00 WIB.

43 33 Karya-karya sastra yang dihasilkan Kuntowijoyo terbilang cukup lengkap. Hampir semua genre sastra pernah dihasilkan dari mulai puisi, prosa, sampai naskah drama. Puisi-puisinya terdapat dalam tiga buku kumpulan sajaknya, yakni kumpulan sajak Suluk Awang-Uwung (1975), kumpulan sajak Isyarat (1976), dan kumpulan sajak Makrifat Daun, Daun Makrifat (1995). Kemudian pada genre prosa, produksi karyanya terbilang cukup banyak dibanding genre karya sastra lain yang dihasilkannya. Adapun karya sastra bergenre prosa yang dihasilkannya, antara lain Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (kumpulan cerpen, 1992), Hampir Sebuah Subversi (kumpulan cerpen, 1999), Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (novel, 1966), Pasar (novel, 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), Mantra Penjinak Ular (novel, 2000), dan terakhir Waspirin dan Satinah (novel, 2003). Karya sastra lainnya yang dihasilkan kuntowijoyo berbentuk naskah drama, antara lain Rumput-Rumput Daun Bento (drama, 1968), Tidak Ada Lagi Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cardas (drama, 1972), dan Topeng Kayu (drama, 1973). Selain itu karya-karya Kutowijoyo tersebar juga dalam berbagai antologi. Selain menghasilkan karya sastra, Kuntowijoyo juga rajin menulis telaahtelaah kritis terhadap masalah sosial, budaya, dan sejarah. Telaah-telaah yang dihasilkannya antara lain Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam: Interprteasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), Identitas Politik Umat Islam (1997), Pengantar Ilmu Sejarah (2001), Muslim Tanpa Masjid (2001), Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas (2002), Radikalisasi Petani: Esai-esai Sejarah Kuntowijoyo (2002), dan Raja, Priyayi, dan Kawula: Surakarta (2004). Dua buku Kuntowijoyo yang berharga yang belum sempat dipublikasikan hingga Kuntowijoyo wafat pada 22 Februari 2005, yakni Historical Experience (bahan pengantar kuliah sejarah) dan Sejarah Eropa Barat (belakangan terbit dengan judul Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa). Penghargaan-pengharaan yang pernah diterima Kuntowijoyo antara lain Hadiah Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1986), Penghargaan Penulisan Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk buku

44 34 Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1994), Penghargaan Kebudayaan dari ICMI (1995), Cerpen Terbaik Kompas (1995, 1996, 1997, dan 2005), Asean Award on Culture (1997), Satyalencana Kbudayaan RI (1997), Mizan award (1998), Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dan Menristek (1999), dan SEA Write Award dari Pemerintah Thailand (1999). Naskah drama Rumput- Rumput Danau Bento (1968) dan Topeng Kayu (1973) mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, Novel Pasar meraih hadiah Panitia Hari Buku, 1972, dan Kuntowijoyo juga mendapatkan Hadiah Sastra dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001). Sartono Kartodirjo berpendapat, Kunto menulis dengan tidak partisan, tidak mencampuradukan perasaan serta pendapat pribadi. Kunto juga seorang inteektual yang tak memiliki ambisi untuk menjadi penguasa, apalagi menjadi kaya. 3 Selain Sartono, Binhad Nurohmat juga mengungkapkan pendapatnya mengenai Kuntowijoyo, dalam sebuah tulisannya yang berjudul Realisme Udik Kuntowijoyo. Binhad mengatakan, Bersastra bagi Kuntowijoyo adalah upaya mengintimi urusan-urusan atau persoalan-persoalan yang mungkin segera dilupakan banyak orang dengan cara membangun cara pandang baru, dan dia menuliskannya penuh daya sentuh sehingga mampu mengajak untuk semakin menukik ke kedalaman pengertian untuk menemukan inti kenyataan dari dalam batinnya. 4 Rizal Pangabean mengatakan Kuntowijoyo ialah orang berbakat yang mengagumkan. Ia mahir menggunakan puisi, cerpen, dan novel untuk mengungapkan dan menyampaikan pesannya. Selain itu ia juga dapat menggunakan medium esei dan karangan ilmiah lainnya di bidang sejarah, politik, dan pemikiran Islam. 5 Arief Fauzi Marzuki dalam artikelnya di harian Kompas mengatakan, 3 Syafii Maarif, Meruntuhkan Mitologi ala Kuntowijoyo, Suara Merdeka, 2 April 2006, h Binhad Nurohmat, Realisme Udik Kuntowijoyo ( ), Kompas, 20 Maret 2005, h Rizal Pangabean, Kritik Sosial Kuntowijoyo, Tempo, Februari 2005, h. 14.

45 35 Melihat produktivitas dan kedalaman karyanya, kita yakin Kuntowijoyo mempunyai obsesi yang besar akan masa depan agama dan bangsanya yang kini sedang tertatih keluar dari krisis. Tidak hanya krisis ekonomi, tetapi juga krisis pengetahuan yang rasional obyektif. 6 Paparan riwayat Kuntowijoyo memberi alasan yang sekiranya cukup, kenapa seorang Kuntowijoyo dikatakan bukan hanya sebagai seorang sastrawan saja, melainkan juga seorang akademisi. Karya-karya baik fiksi maupun ilmiah diciptakannya secara produktif, dan terbilang cukup berimbang produktivitasnya. Baik sebagai sastrawan maupun sebagai akademisi itu semua ditekuni oleh Kuntowijoyo secara berimbang, dan mempunyai porsi yang sama kuat bagi dirinya. Hingga menjelang akhir hayatnya pun Kuntowijoyo masih terus menulis dan menghasilkan karya. B. Pemikiran Pengarang Sebuah karya sastra tentunya mengandung buah pemikiran pengarangnya (sastrawan). Pemikiran-pemikiran tersebut dapat terlihat secara tersurat lewat pernyataan-pernyatan yang ada dalam karya tersebut, seperti contoh kalau dalam novel dari perkataan-perkataan para tokoh-tokohnya. Pemikiran seorang pengarang juga kadang tidak selalu tersurat, kadang tersirat seperti kalau dalam novel lewat peristiwa-peristiwa yang muncul di dalamnya, atau juga lewat perbuatan para tokoh-tokohnya. Seorang pengarang tentunya memilki pemikiranpemikiran yang diperolehnya dari suatu proses endapan pengalaman hidupnya. Pemikiran-pemikiran tersebut dapat kita ketahui lewat karya-karyanya, atau juga pengarang tersebut secara tegas menyatakan pemikiran-pemikirannya. Contoh pengarang yang secara tegas menyatakan pemikiran-pemikirannya seperti Sutardji Calzoum Bachri dengan Kredo Puisinya (membebaskan kata dari beban makna), atau juga Seno Gumira Adjidarma dengan sebuah esai Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Berbicara (jurnalisme sastrawi), dan masih banyak pengarang yang lainnya. 6 Arif Fauzi Marzuki, Membangun Semesta Budaya Profetik, Kompas, 21 September 2003, h. 18.

46 36 Tidak terkecuali bagi seorang Kuntowijoyo. Lewat sastra jua inilah, Kunto menyampaikan gagasan-gagasan atau pemikirannya. Kuntowijoyo yang dikenal juga sebagai akademisi dan intelektual banyak menyampaikan gagasangagasannya selain lewat bentuk karya sastra, juga lewat esai-esainya. Sebuah harian berita yang berasal dari Yogyakarta mengatakan, Karya sastra Kuntowijoyo selalu mengandung pemikiran yang mendasar tentang keberadaan manusia di tengah sejarah, di tengah nilainilai imanen transendental. Ini merupakan refleksinya atas pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan serta penghayatannya yang kuat terhadap agama islam. 7 Kuntowijoyo merumuskan apa yang dinamakannya sebagai sastra profetik. Gagasannya terhadap sastra profetik ditegaskannya lewat sebuah tulisan, atau yang biasa Kuntowijoyo sebut sebagai maklumat sastra profetik. Gagasan sastra profetik dari Kuntowijoyo sendiri telah menambah khazanah sastra Indonesia. Gagasan sastra profetik itu berangkat dari kegundahan Kuntowijoyo. Pada temu sastra 1982 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kuntowijoyo menandaskan bahwa sastra Indonesia memerlukan jenis sastra transendental, yakni sastra yang mempertanyakan manusia di tengah kehidupan modern yang serba birokratis, industrialis, pasar, dan instrumental. Sastra transendental menghasratkan agar manusia tidak menjadi mahluk satu dimensi, melainkan mahluk lengkap baik jasmani maupun rohani, berakar di bumi sekaligus menjangkau langit. Dengan kata lain, tugas manusia (sastrawan) adalah menyatukan/ mendialektiskan dikotomi: hubungan manusia dengan manusia (habluminaanaas) dan hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminaallah). 8 Sitor Situmorang juga berpendapat terkait makalah yang disajikan Kuntowijoyo pada acara Temu Sastra di TIM saat itu. Sitor mengatakan, Lewat makalahnya berjudul Saya kira kita memerlukan juga sebuah sastra transendental, dalam Temu Sastra 1982, di TIM Jakarta, tanpa 7 Anonim, Kunto, Resi Kontemporer, Berita Nasional, 25 Januari 1991, h Wan anwar, Op. Cit., h. 11

47 37 mengatasnamakan Tradisi, ingin mengingatkan kita bersama pada dimensi transendental dari budaya Indonesia. 9 Gagasan sastra transendental yang Kuntowijoyo kemukakan pada temu sastra tersebutlah yang di kemudian hari diesbut sebagai sastra profetik. Gagasan sastra profetik yang dikemukakan Kuntowijoyo memliki apa yang dinamakan sebagai kaidah, etika, dan struktur. Kuntowijoyo menyatakan bahwa sastra profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya, sebab tidak saja menyerap, mengekspresikan, tapi juga memberi arah realitas. Sastra profetik disebut Kuntowijoyo sebagai sastra dialektik, artinya sastra yang berhadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosial secara beradab. Oleh karena itu menurutnya sastra profetik adalah sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan. Kaidah dalam sastra profetik menurutnya pertama, yakni epistemologi struktualisme transendental yang artinya sastra profetik merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab-kitab Suci atas realitas, kaidah kedua dari sastra profetik yakni menyatakan sastra sebagai ibadah, dan kaidah ketiga ketiga sastra profetik, menghendaki sastra memilki keterkaitan antar kesadaran. Pada sastra profetik, menurut Kuntowijoyo juga dikehendaki apa yang dinamakan sebagai etika profetik. Etika itu disebut profetik karena ingin meniru perbuatan Nabi, Sang Phropet. Kuntowijoyo menyatakan etika tersebut ditemukannya dalam Alqur an, 3:110, Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma ruf, dan mencegah kepada kemunkaran, dan beriman kepada Allah. Dari ayat tersebut Kunto pun merumuskan apa yang dinamakannya sebagai etika profetik yakni berisi tiga hal, yaitu humanisasi (amar ma ruf: mengajak kepada kebaikan), liberasi (nahi munkar: mencegah kemunkaran), dan transendensi (tu minima billah: beriman kepada Tuhan). 10 Keinginan sastra profetik yang digagas Kuntowijoyo sebenarnya 9 Sitor Situmorang, Himbauan Seni Transendental Kuntowijoyo, Berita Buana, 21 Desember Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika dan Struktur, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), h

48 38 hanya sebatas etika, itu pun dengan sukarela, tidak memaksa. Kuntowijoyo melalui maklumatnya menginginkan supaya sastra Indonesia lebih cendekia dalam ekspresinya, sehingga sastra mendapat pengakuan sejajar dengan ilmu dan teknologi. Sekarang ini menurutnya, sastra seolah menjadi beban masyarakat tanpa sumbangan apa-apa. Sastra diakui adanya, diterbitkan buku-bukunya, dan disanjung dengan hadiah-hadiah, tapi tetap dianggap sebagai mahluk aneh. Sastra hanya dibaca sastrawan, krtikus sastra, dan mahasiswa sastra. Tidak menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah, dianggap tidak mendidik dan tidak mencerdaskan. 11 Kuntowijoyo menyatakan bahawa kandungan dalam sebuah karya sastra perlu ditingkatkan. Kuntowijoyo menyatakan sebuah karya sastra harus tetap deskriptif naratif, meskipun mengusung tema yang berdasarkan konsep analitis. Kuntowijoyo menyebut bahwa untuk menjaga agar karya sastra tetap deskriptif naratif ada dua cara, yakni menulis sastra dari dalam, dan menulis sastra dari bawah. Menulis sastra dari dalam berarti peristiwa dipahami sebagaimana tokohtokohnya memahami dunianya sendiri. Pengarang harus membiarkan tokoh-tokoh imajinernya mereaksi peristiwa-peristiwa itu sendiri. Pengarang harus menjauh dari tokoh-tokohnya, melakukan detachment. Kalau tokoh-tokoh imajiner itu orang sederhana, pikiran, perkataan, dan perbuatannya juga harus sederhana. Selanjutnya menulis sastra dari bawah, Kuntowijoyo maksudkan artinya pengarang tidak berangkat dari teori dan konsep yang merangkai karya sastra. Pengarang hanya dituntut untuk konsisten dalam pelukisannya dan koheren dengan tema dan plotnya (penuturan yang runtut, jalan cerita yang masuk akal). Dalam sebuah wawancara dengan Berita Buana (10 Februari 1987), Kuntowijoyo mengatakan Serat Kalatida Ronggowarsito dan karya Mohammad Iqbal adalah sastra profetik karena keduanya mengajak manusia untuk berakar di langit, selain berakar di bumi. Dia menandaskan baik sastra transendental maupun sastra profetik memilki dimensi dan aspek sosialnya. 12 Ini menandakan bahwa 11 Ibid, h Wan anwar, Op. Cit., h. 12.

49 39 gagasan sastra profetik yang digagas Kuntowijoyo memang sudah ada sebelum Kunto menamakan apa yang dinamakan sebagai sastra profetik. Kemudian juga, sastra profetik tetap memilki dimensi dan aspek-aspek sosial dalam karyakaryanya. Gagasan dan pemikiran Kuntowijoyo akan sastra profetik di kemudian hari juga diterapkannya dalam ilmu sosial, yang sekarang dikenal sebaga ilmu sosial profetik. Ilmu sosial tersebut bersandar pada konsep etika profetik. Masih banyak gagasan atau pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh Kuntowijoyo di bidang selain sastra. Gagasan-gagasannya yang lainnya tersebut tersebar di dalam buku-bukunya maupun tulisan-tulisan esainya. Bukan maksud penulis mengecilkan bidang lain yang ditekuni Kuntowijoyo sehingga tidak membahas pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo di bidang lain. Hal tersebut karena keterbatasan dalam penulisan karya ilmiah ini agar tidak melebar terlalu jauh. Pemikiran sastra profetik inilah gagasan atau pemikiran Kuntowijoyo yang mungkin punya pengaruh besar bagi dirinya di bidang sastra. Tak dapat dipungkiri pula konsep atau gagasan sastra profetik ini juga merupakan sumbangsih besar Kuntowijoyo bagi khasanah sastra di Indonesia. Lewat karya-karya sastranya yang mengusung konsep sastra profetik membuat dirinya menjadi sastrawan yang namanya dapat disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan hebat lainnya. Sastra profetik yang digagas Kuntowijoyo tidak dapat dipungkiri akan memberi pengaruh bagi sastrawan atau pengarang-pengarang muda untuk melahirkaan karya-karya yang berkonsepkan sastra profetik. C. Sinopsis Novel Mantra Penjinak Ular Novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo ini bercerita tentang kehidupan Abu Kasan Sapari yang menjadi saksi perubahan-perubahan pada masyarakat di sekelilingnya. Abu Kasan Sapari merupakan tokoh utama dalam novel ini. Novel ini berlatar belakang masyarakat Jawa, yang tentunya juga meampilkan bagaimana polosnya kehidupan masyarakat berikut dunia batin

50 40 masyarakat Jawa. Novel ini berlatar kehidupan masyarakat desa, di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Abu Kasan Sapari lahir dalam keluarga Jawa, kemudian tumbuh dalam suatu zaman yang terus bergerak, menjelang akhir abad ke-20. Abu Kasan Sapari sejak kecil sudah pandai mendalang, dia mewarisi segala olah batin dari para leluhurnya. Hal itu tidak aneh karena Abu Kasan Sapari tumbuh dalam budaya Jawa yang amat erat dengan banyak mitos-mitosnya. Abu Kasan Sapari remaja diasuh oleh kakek nenek dari ibunya. Selesai SMA abu kasan lepas dari pengasuhan kakek neneknya. Abu kasan dipungut anak oleh Ki Lebdocarito. Dalam asuhan Ki Lebdocarito, Abu Kasan Sapari memperdalam pengetahuan dan kemampuannya dalam mendalang. Hingga ketika dewasa dia menjadi pegawai negeri, di tempatkan di Kemuning, sebuah kecamatan di kaki gunung Lawu. Ketika menjadi pegawai negeri, Abu Kasan Sapari belajar banyak tentang birokrasi pemerintahan saat itu. Hingga ia pun sudah menjadi pegawai pemerintahan yang bisa dibilang mumpuni. Ketika menjadi pegawai negeri pun, Abu Kasan Sapari tidak meninggalkan kebiasaaanya mendalang. Abu Kasan Sapari tetap mendalang dan juga aktif dalam perkumpulan dalang. Pada suatu ketika entah dari mana asalanya Abu Kasan Sapari didatangi oleh seorang tua renta yang memberikannya mantra atau ilmu penjinak ular. Seusai mendapat mantra tersebut Abu Kasan Sapari dapat berinteraksi dengan ular, suatu kelebihan yang memebawanya makin mencitai alam. Kecintaannya terhadap alam dan penghuninya termasuk binatang, dan lebih khusus lagi ular membawanya aktif dalam organisasi-organisasi pecinta alam dan satwa. Kehidupan menjadi pegawai pemerintah dan juga sebagai dalang pada zaman orde baru kadang tak sesuai dengan apa yang semestinya. Sudah tidak dapat dipungkiri semua orang mengalami, bersentuhan, bertubrukan, atau sedikitnya menjadi saksi bagaimana mesin politik orde baru berkerja. Hal itu semua dirasakan oleh Abu Kasan Sapari. Perbenturan terhadap mesin politik, inilah, yang ditampilkan Kuntowijoyo dalam novel ini. Bagaimana permasalahan

51 41 Abu Kasan Sapari dan para tokoh lain yang khas atas dunia. Perbenturanperbenturan terhadap mesin politik yang ada dalam novel ini membawa Abu Kasan Sapari sampai dicap sebagai dalang politik, karena kegiatan dalangnya dianggap tidak sejalan dengan program atau cara kerja mesin politik, alhasil Abu Kasan Sapari dipindahtugaskan ke daerah lain, sampai pernah dipenjara. Kuntowijoyo ingin memperilihatkan bagaimana kekuasaan orde baru lewat mesin politiknya berkerja, bahkan sampai ke desa-desa. Menciptakan apa yang namanya melanggengkan kekuasaan. Terlihat jelas bagaiman sikapa kuntowijoyo terhadap mesin politik orba lewat Abu Kasan Sapari. Pertemuannya dengan Lastri, kemudian kecintaanya terhadap Lastri sedikit banyak mulai menjauhkan Abu Kasan Sapari dari ular. Hal tersebut diperparah dengan lingkungan sekitar Abu Kasan Sapari tinggal yang tahu abu memelihara ular di rumahnya, dan mereka merasa terganggu. Pada akhirnya abu memutuskan untuk meninggalkan mantra penjinak ular dan semua hal tentang ular. Hal tersebut juga atas kesadaran bahwa mitos memang harus diputus jangan diwariskan, karena dapat menyeret kepada yang namanya syirik. Ular peliharaan Abu Kasan Sapari diserahkan kepada kebun binatang. Abu Kasan Sapari pun akhirnya memutuskan untuk menjadi penerus eyang Ronggowarsito, menjadi dalang: menghibur dan mengajarkan kebijaksanaan hidup.

52 BAB IV PEMBAHASAN A. Unsur Intrinsik Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo Unsur intrinsik karya sastra atau yang biasa disebut sebagai unsur pembangun karya sastra merupakan bagian interen ketika mengkaji sebuah karya sastra. Baik itu karya sastra berupa puisi, prosa, maupun naskah drama. Untuk itulah penjelasan terhadap unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra, haruslah ada di setiap pengkajian sebuah karya sastra. Oleh karenanya, dalam karya ilmiah ini akan dijelaskan juga unsur intrinsik dari karya sastra yang dikaji dalam karya ilmiah ini, yakni novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo. Karya yang dikaji dalam makalah ini bergenre prosa, dalam hal ini novel. Oleh karena itu, unsur intrinsik yang akan dijelaskan yakni, tema dan amanat, sudut pandang, alur, tokoh dan penokohan, gaya bahasa, dan latar. a. Tema dan amanat Tema merupakan unsur pembangun yang tidak mungkin ditiadakan dalam sebuah karya sastra. Tema dapat dikatakan menjadi pangkal dari semua unsur pembangun sebuah karya sastra. Kadang seorang pembaca tertarik untuk membaca sebuah novel karena yang dilihat pertama, yakni tema yang dibawakan dalam novel tersebut. Meskipun tema menjadi pangkal dari semua unsur pembangun karya sastra, terkadang sebuah tema barulah dapat terlihat ketika karya sastra tersebut selesai dibaca. Novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo menceritakan tentang kehidupan seorang pegawai pemerintah yang juga seorang dalang bernama Abu Kasan Sapari. Novel ini menceritakan perjalanan kehidupan Abu Kasan Sapari ketika menjadi pegawai pemerintahan dan juga menjadi dalang. Secara garis besar novel ini menceritakan masalah tentang individu yang terbelenggu sistem politik 42

53 43 orde baru, lewat bentuk-bentuk objektivasi terhadap seseorang yang dilakukan oleh mesin politik. Melalui novel ini Kuntowijoyo hendak mengangkat tema pembebasan dan perlawanan. Kuntowijoyo mengangkat semangat pembebasan dan perlawanan dari segala hal, baik itu yang sifatnya penindasan terhadap seni, keterbelengguan manusia, serta pembatasan hak-hak sebagai manusia. Semangat perlawanan dan pembebasan dilakukan oleh Abu Kasan Sapari lewat seni, yakni dengan keahliannya menjadi dalang. Abu Kasan Sapari dengan keahliannya menjadi dalang mencoba melakukan perlawanan terhadap sistem politik kala itu yang licik berusaha mempertahankan kekuasaannya, meski ia pun harus susah karena perlawanan tersebut. Akhir-akhir ini sebuah kekuatan politik ingin merekrutnya untuk keperluan kampanye tapi ditolaknya. AKS (Abu Kasan Sapari) berpendapat bahwa seni itu seperti air.... Seni yang hanya menjadi antek politik akan mengingkari tugasnya sebagai seni 1 Kuntowijoyo juga melukiskan semangat pembebasan terhadap hal-hal yang berbau mitos, yang dalam sastra profetik dikatakan sebagai dehumanisasi tradisional. Ia mengerjakan rencananya. Sembahyang dan memasukkan ular ke dalam kotak kayu. Ternyata mantranya bikin susah orang lain dan dirinya sendiri! Ia bermaksud memutus mata rantai itu, tidak mengajarkan mantra pada siapapun. 2 Lewat perjalanan Abu Kasan Sapari dan mantranya itulah Kuntowijoyo hendak memperlihatkan bagaimana manusia harus bebas dari keterbelengguan yang berbau mitos, mantra, klenik, dan sebagainya. Manusia yang harus menjadi manusia yang menggunakan ilmunya dan kepercayaan kepada Tuhan bukan bersandar pada hal yang sifatnya mitos, mantra, klenik tersebut. Melalui tema tersebut Kuntowijoyo menghadirkan amanat hendak mengajak pembaca untuk menyadari kodrat sebagai manusia yang utuh. Manusia yang bebas dari keterbelengguan, yang membelenggu kodratnya sebagai manusia. 1 Kuntowijoyo, Mantra Penjinak Ular, (Jakarta: PT Kompas Gramedia, 2013), Cet. II, h Ibid, h. 270.

54 44 Manusia yang bersandar pada ilmu dan ketuhanannya. Kuntowijoyo menghadirkan tema perlawanan dan pembebasan dalam novel dapat dikatakan tidak penuh dengan kekerasan fisik, atau yang harus berdarah-darah. Akan tetapi, Kuntowijoyo menampilkan sisi lain pembebasan dan perlawanan yakni dengan menggunakan seni, dalam hal ini Abu Kasan Sapari dengan seni dalangnya. b. Tokoh dan Penokohan Peristiwa-peristiwa yang ada dalam sebuah cerita tentunya dimainkan atau dihasilkan dari perbuatan atau tindak tanduk tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Setiap tokoh dalam sebuah cerita membawa peran, watak dan karakternya masingmasing. Dalam karya sastra bergenre prosa, tokoh menjadi unsur yang amat sangat penting. Ketika penokohan dalam sebuah cerita digambarkan dengan jelas (tidak kabur), itu akan memudahkan pembaca untuk memahami isi cerita. Hal ini dikarenakan tokoh-tokoh itulah yang menciptakan peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Novel Mantra Pejinak Ular menghadirkan tokoh-tokoh dengan penokohan yang berbeda-beda. Novel Mantra Pejinak Ular ini banyak menghadirkan tokohtokoh di dalamnya. Akan tetapi, dari sekian banyak tokoh di dalam novel ini. Ada beberapa tokoh yang dianggap penting, dan merupakan tokoh yang menguasai keseluruhan cerita. Tokoh-tokoh tersebut bila kehadirannya dihilangkan akan berdampak pada rusaknya jalan cerita, dan rusaknya konflik utama yang dibangun sedari awal. Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai tokoh utama dalam novel, yakni Abu Kasan Sapari, Mesin Politik, dan Lastri. Tokoh-tokoh lain pun bukan serta merta tidak dianggap penting. Kehadiran tokoh lainnya juga menambah hidup cerita dalam novel ini. Ketiga tokoh di atas dibahas, dikarenakan memiliki porsi, dan intesitas cukup banyak dalam novel ini. Selain itu, tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh penggerak cerita dalam novel ini. 1. Abu Kasan Sapari Abu Kasan Sapari merupakan tokoh utama dalam novel Mantra Pejinak Ular. Abu Kasan Sapari diceritakan dalam novel ini menjabat sebagai

55 45 pegawai pemerintahan tingkat kecamatan. Selain sebagai pegawai pemerintahan, tokoh Abu Kasan Sapari juga merangkap sebagai dalang wayang kulit, sebagai dalang ia dikenal dengan sebutan Ki Abu Kasan Sapari. Kemampuan mendalang yang didapatkannya semasa ia tinggal di rumah Ki Lebdocarito, membuatnya mantap menjalani profesi sebagai dalang. Abu pun memilih dalang sebagai profesi bukan tanpa maksud, melainkan ingin menjadikan kesenian wayang sebagai tontonan sekaligus juga tuntunan bagi masyarakat. Hal tersebut tampak dalam dari kutipan di bawah ini. Ia bisa mengatakan pada satu orang, tapi orang lainnya akan tetap memanggilnya dengan Ki. Jadi dalang itu tidak mudah. Harus arif, banyak pengalaman, atau banyak membaca. Wayang itu sekaligus tuntunan dan tontonan. 3 Abu Kasan Sapari lahir dari keluarga yang memegang tradisi Jawa dan Islam yang cukup kental. Abu kecil diasuh oleh kakek dari pihak Ibu. Pengasuhan Abu oleh keluarga dari Ibu Abu dikarenakan, itu merupakan salah satu syarat ketika Ayah Abu hendak menikahi Ibu Abu. Mereka tidak bisa mencegah, sebab itu salah satu syarat perkawinan. Kakek-nenek dari Ibu sudah berkorban sekian lama dengan melepaskan anak perempuan satu-satunya. 4 Beranjak remaja Abu Kasan Sapari kemudian diasuh oleh Ki Lebdocarito. Ketika diasuh oleh Ki Lebdocarito inilah Abu Kasan Sapari belajar seni pedalangan hingga akhirnya mampu menguasainya. Lulus sekolah tingkat SMA, Abu Kasan Sapari memutuskan untuk bekerja sebagai pegawai pemerintahan di sebuah kecamatan bernama Kemuning. Sebagai seorang pegawai pemerintahan Abu Kasan Sapari banyak mendapatkan ilmu kepemimpinan dari Camat Kemuning. Di sana Abu belajar untuk melayani masyarakat. Abu juga paham tentang masyarakat di kecamatan tersebut. Program-program pemerintah yang diketuai oleh Abu 3 Ibid, h Ibid, h. 6.

56 46 berjalan dengan baik tidak aneh jika dia menjadi orang kepercayaan Camat Kemuning. Tokoh Abu Kasan Sapari di dalam cerita ini juga digambarkan memiliki mantra pejinak ular. Mantra itu didapatnya ketika Abu datang ke pasar malam. Di sana ia bertemu dengan Kakek Tua yang mengajarkan mantra tersebut. Abu yang merasa dirinya terpilih bersedia menerima mantra tersebut. Kau tidak boleh meninggal sebelum mengajarkan ilmu ini pada orang yang tepat. Apa itu? Mantra pejinak ular. Kemudian orang itu mencari telinga kanan Abu, dan membisikkan sebuah kalimat. Paham? Kemudian orang itu kembali berbisik di telinga kanan Abu. Sudah, ya? Abu mengangguk. Mantra tidak boleh salah ucap. Bacalah itu setiap kali kau menghadapi ular..... Jadi, orang terpilih itu memang sudah dalam jangkauan tangan, membuatnya gembira. Ketika ia meloncat turun dan mengucapkan terima kasih pada sopir kegembiraan yang tak ada taranya masih dibawanya. 5 Inilah salah satu peristiwa penting dalam novel ini. Abu menggunakan mantra ini dengan bijaksana. Mantra inilah yang menjadikan Abu Kasan Sapari dikenal sebagai dukun ular, karena sering membantu warga dalam mengusir ular. Mantra dan kecintaan abu kepada ular ini juga yang membuat Abu tergerak untuk melaksanakan program-program pelesetarian lingkungan, sebagai contoh hidup berdamai dengan ular. Mantra dan ular ini juga yang membawa Abu Kasan Sapari berkonflik dengan warga sekitar rumahnya saat tinggal di Tegalpandan. Warga tersebut tidak senang dengan keberadaan ular di dalam rumah Abu Kasan Sapari. Abu Kasan Sapari dalam novel ini juga diceritakan terlibat konflik dengan Mesin Politik. Mesin Politik merupakan orang-orang yang bekerja atau aktif di partai Randu. Konflik Abu Kasan Sapari dengan Mesin Politik 5 Ibid, h. 20.

57 47 merupakan konflik utama di dalam novel ini. Di mana Abu yang mencoba melawan Mesin Politik yang beritndak semena-mena dan semaunya memanfaatkan kekuasaan. Mulai dari pemilihan kepala desa hingga pemilu di tahun Abu Kasan Sapari mencoba melawan Mesin Politik lewat seni wayangnya. Akan tetapi, Abu Kasan tidak berdaya melawan Mesin Politik yang begitu kuat, karena orang-orang Mesin Politik berada di tingkat pemerintahan. Upaya Abu melawan akhirnya membawa Abu Kasan Sapari dimutasi, bahkan sempat ditahan di polsek Karangmojo. Abu Kasan Sapari dianggap sebagai batu sandungan bagi Mesin Politik. Hal ini dikarenakan Abu menolak ajakan Mesin Politik untuk bergabung bersama mereka. Selain itu, Abu Kasan Sapari juga menolak terlibatnya dalang dalam politik praktis. Pernyataan sikap penolakan tersebut dimuat oleh teman wartawan Abu. Kalau begitu pedalangan harus lepas dari politik? Dalang itu seperti halnya ulama, sastrawan, dan seniman, dan ilmuwan tidak boleh menggunakan profesinya untuk kepentingan suatu parpol. Dalang itu bagian dari masyarakatnya dalam arti terikat unggah-ungguh, hukum, dan perundang-undangan persisi seperti orang lain, tapi tidak boleh berpolitik melalui parpol. Politik dalam arti pencerahan politik, pendidikan politik, dan kesadaran sebagai warga negara itu sehat untuk kesenian, sebab itulah salah satu fungsi dari seorang dalang. Fungsi lain ialah pencerahan moral, etika, kesadaran hukum, kesadaran lingkungan, kesadaran bermasyrakat, dan sebagainya. 6 Hingga akhirnya, ketika pemilu perolehan suara partai Randu turun tajam, dikarenakan gagalnya Mesin Politik menggunakan kesenian tradisional seperti wayang, dan Mesin Politik menganggap Abu sebagai biang keladinya. Abu Kasan Sapari dalam novel ini diceritakan memilki ketertarikan dengan tokoh Lastri. Abu Kasan Sapari ketika dimutasi pindah ke kecamatan Tegalpandan. Di sana ia tinggal di sebuah kos-kosan milik H. Syamsudin. Lastri sendiri merupakan tetangga kos-kosannya Abu. Abu sering meminta bantuan kepada Lastri. Abu juga diceritakan sering menggoda Lastri ketika 6 Ibid, h

58 48 sedang bercengkrama. Bahkan Abu Kasan Sapari menyatakan ketertarikannya kepada Lastri lewat sajak-sajak romantis. Sajak-sajak tersebut ada dalam BAB 12 novel ini. Di BAB tersebut berisi sajak-sajak cinta Abu Kasan Sapari yang ditunjukan kepada Lastri. Salah satu contoh penggalan sajak Abu Kasan Sapari kepada Lastri, Wajah Dunia yang Pertama Dik Lastri sedang memanggil Aku termangu sendiri di kamar Wajah dunia yang pertama Putih-putih salju Mengalir dari ayat-ayat Damailah hingar bingar hari ini Lumat dalam alun bunyi Maka adam dan Hawa pun putih kembali Maka anak-anak Adam dan Hawa Dentang senapan terlindih sepi Pekik pertempuran terhenti Para serdadu bersama terbantai Terserat keramat ayat-ayat Tidak terdengar lagi hingar bingar Hari ini Ketertarikannya kepada Lastri ini juga yang membawanya bersedia melepas ular kesayangannya, begitu juga mantranya. Melepas ular kesayangannya merupakan bukti keseriusan Abu Kasan Sapari kepada Lastri. Abu Kasan Sapari dalam perjalan cerita novel ini, setidaknya mengalami beberapa perubahan sikap, di antaranya yakni perubahan sikap Abu Kasan Sapari dalam memandang seni dan politik. Serta sikap Abu Kasan Sapari terhadap mantra dan ular. Abu menjadikan seni sebagai media perlawan hegemoni Mesin Politik. Akan tetapi, lambat laun Abu Kasan Sapari menyadari bahwa seni haruslah bersih dari berbagai kepentingan, baik itu kepentingan politik, maupun pribadi. 7 Ibid, h

59 49 Perubahan selanjutnya sikap Abu Kasan Sapari terhadap mantra dan ular. Awalnya Abu sangat mengandalkan mantra tersebut dalam berinteraksi dengan ular, namun ketika Abu mengetahui bahwa ilmu, dan keahlian dapat membawanya mampu berinteraksi dengan ular, akhirnya Abu Kasan Sapari mulai berpikir untuk tidak menggunakannya. Hingga pada akhir cerita Abu melepas mantra tersebut. Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan penggambaran tokoh Abu Kasan Sapari memiliki watak suka menolong masyarakat yang ditindas semena-mena oleh penguasa, memegang tradisi jawa, bijak, dan profesional terhadap profesinya. Hal ini dapat terlihat ketika Abu mengatakan bahwa dalang harus lepas dari politik praktis. Abu Kasan Sapari dalam novel ini posisinya merupakan tokoh utama, yang menggerakan cerita. Dapat dikatakan juga novel ini berupa catatarn hidup dari si tokoh utama ini, yakni Abu Kasan Sapari. 2. Mesin Politik Mesin Politik merupakan isitilah yang digunakan pengarang dalam novel ini untuk orang-orang dari partai Randu. Mesin Politik di dalam novel ini merupakan cerminan kelompok penguasa di dalam novel ini. Kekuasaan Mesin Politik berada hampir di semua lini, termasuk di dalam pemerintahan. Mesin Politik bekerja secara teroganisir dalam mempertahankan kekuasaannya. Tokoh Mesin Politik inilah yang membawa konflik inti di dalam novel ini. Pada pemilihan kepala desa di kecamatan Kemuning, Mesin Politik mendukung beberapa calon yang maju di pemilihan tersebut. Tentu Mesin Politik tidak hanya sebatas mendukung, mereka juga melakukan intrik agar pengumuman bakal calon kepala desa dipercepat. Sehingga, bakal calon yang berasal dari luar Mesin Politik, akan gugur. Salah satu cerminan kekuasaan mutlak dari Mesin Politik, yakni ketika Abu Kasan Sapari dimutasikan dari Kemuning ke Tegapandan. Abu yang melawan hegemoni dengan mendukung

60 50 calon kepala desa dengan menyelanggarakan wayang, membuat calon-calon yang didukung Mesin Politik beberapa mengalami kekalahan. Mesin Politik yang ikut dalam rombongan Bupati berbisik pada Camat: Kami tahu, siapa aktor untelektual yang menyebabkan kami gagal. Pada waktu itu sedang terkenal istilah aktor intelektual, pemicu segala macam keonaran. Aktor intelektual yang dimaksud mungkin dirinya sendiri, mungkin orang lain. Camat mengatakan, Bukan gagal. Hanya tidak seratus persen. Ia sudah merasa ada sesuatu yang akan terjadi. 8 Hasilnya pun target yang dicapai Mesin Politik dalam pilkades di Kemuning tidak memenuhi target. Abu dianggap sebagai batu sandungan, hal ini membuat Mesin Politik akhirnya dengan kuasanya memberi teguran terhadap Abu Kasan Sapari dengan memutasikannya ke Tegalpandan. Surat itu berisi tentang pemindahan Abu dari kecamatan itu. Maafkan, semua kesalahan saya, Pak. Tidak ada kesalahan, tidak ada yang harus dimaafkan. Kita semua meghadapi soal yang sama. Jangan bilang-bilang, kita sama-sama menghadapi keangkuhan kekuasaan. 9 Tidak sampai di situ saja konflik Mesin Politik dengan Abu Kasan Sapari. Di Tegalpandan konflik Mesin Politik dan Abu mencapai puncak. Mesin Politik gagal membujuk Abu untuk bergabung, dan Mesin Politik gagal mengajak para dalang untuk terlibat dalam kampanye pemilu mereka. Abu dengan Paguyuban Dalang Independennya yang dianggap sebagai biang kerok, akhirnya di tahan, dengan tuduhan yang bukan-bukan. Mesin Politik juga yang merekayasa penahanan Abu Kasan Sapari dan memaksa Kepala Polisi Karangmojo untuk memproses Abu secepatnya. Kegagalan mencapai target itulah yang mendorong Bapilu Mesin Poltik mengadakan evaluasi. Mereka menyimpulkan bahwa kegagalan itu disebabkan karena mereka tidak bisa memakai sarana tradisional, tidak 8 Ibid, h Ibid, h. 112.

61 51 menyelenggarakan wayangan, wayang orang, dan ketoprak, krena para seniman tidak mau terlibat dalam politik praktis. Aku tahu biang keroknya, kata fungsionaris kesenian DPD Randu. Di kepalanya hanya ada satu orang, Abu Kasan Sapari. Oleh karena itu pengurus memutuskan untuk membuat memo supaya Abu diproses sesuai rencana. Untungnya Abu bisa dibebaskan dikarenakan pihak militer bersikap netral dalam pemilu tahun 1997, dan menganggap penahanan Abu Kasan Sapari mengada-ada, dan tidak layak untuk diproses. Secara keseluruhan penokohan Mesin Politik dalam novel ini digambarkan dengan manusia-manusia yang berwatak selalu ingin menang, dan licik. Hal ini dapat terlihat ketika Abu Kasan Sapari dibujuk untuk dijadikan caleg agar Abu mau menggunakan seni wayangnya untuk berkampanye, sekaligus membungkam Abu yang selalu mengatakan seni harus lepas dari politik. Terimalah ucapan selamat kami. Kami dari DPD telah memilih Pak Abu sebagai caleg jadi, kata Ketua Badan Seleksi. Pak Abu lolos ketimbang sembilan calon lain. Abu bingung. Ia tak pernah menghubingi atau dihubungi siapa-siapa. Kejadian itu sangat tiba-tiba..... Abu mengerti duduk soalnya. Ia menolak. tentu saja itu di luar harapan para tamunya. Sebab, orang lain berebut menjadi caleg jadi. Karenanya, penolakan itu aneh bagi mereka. 10 Selanjutnya sikap Mesin Politik dalam novel ini digambarkan memiliki sikap yang kasar, terhadap orang yang bersebrangan atau tidak menuruti keninginannya. Hal ini dapat terlihat ketika mereka mengancam Abu Kasan Sapari yang menolak dijadikan caleg oleh Masin Politik. Aneh! Lalu apa maumu? Kalau bukan pangkat, kalau bukan jabatan? Tidak semua garam sama kadar asinnya, Pak. Satu-satunya keinginan saya ialah kalian tidak mengganggu kesenian. Kalau itu maumu, kami tidak memaksa. Kami hanya ingin berbuat baik. Tapi, ya sudah. Kami beri waktu untuk berpikir satu kali dua puluh 10 Ibid, h. 162.

62 52 empat jam. Sesudahnya tanggung sendiri akibatnya. Ingat, kami juga bisa main kasar. 11 Pada novel ini, dapat disimpulkan tokoh bernama Mesin Politik merupakan representasi bagaimana seorang penguasa hendak mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara. Rezim kala itu berkuasa dengan partai Randu, secara terorganisasi mempertahankan kekuasaan dengan segala cara melalui orang-orang yang tergabung dalam Mesin Politik. Mesin Politik secara garis besar tidak mengalami perubahan sikap yang berarti dalam novel ini. Wataknya yang licik dalam novel ini, terlihat dari sangat bersahabat dan baiknya mereka terhadap orang yang sejalan dengannya, namun juga dapat melakukan hal sebaliknya bagi orang yang menghalanginya. Sikapnya dalam novel ini ditampilkan kasar terhadap orang-orang yang tidak sejalan atau bersebrangan dengannya. Sikapnya yang selalu ingin menang, watak, dan perilakunya tersebut mungkin dapat dicap oleh sebagian pembaca sebagai tokoh antagonis. 3. Lastri Lastri adalah tokoh perempuan teman dekat Abu Kasan Sapari. Tokoh Lastri ibarat penyegar suasana. Di tengah konflik Abu Kasan Sapari dengan Mesin Politik, Lastri hadir sebagai pembawa kesejukan yang kadang dapat menenangkan abu Kasan Sapari, dan juga memberi masukan kepada Abu Kasan Sapari dalam menghadapi masalah. Kisahnya dengan Abu Kasan Sapari membawa hiburan tersendiri untuk pembaca. Di mana keduanya saling memiliki ketertarikan satu sama lain. Lastri merupakan tetangga tempat di mana Abu Kasan Sapari tinggal ketika di Tegalpandan. Lastri seorang janda yang hidup mandiri seorang diri. Dia mempunyai usaha menjahit dengan beberapa karyawannya di pasar. Seorang Lastri sudah cukup terkenal di Tegalpandan. Selain kecantikannya 11 Ibid, h. 163.

63 53 yang membuat banyak pria tertarik, kepopuleran Lastri juga dikarenakan Lastri merupakan mantan penyanyi di sebuah klub keroncong. Seorang anak mengeluarkan sebuah tabloid dari tasnya. Mbak Lastri kan bintang. Masak Iya? Lihat ini! Dalam tabloid itu dimuat gambar Lastri sedang tersenyum. Cantik, manis, muda. 12 Yang membuat Lastri terkejut ialah ketika MC memintanya untuk menyanyi. MC itu tahu betul bahwa Lastri penyanyi waktu jadi MC pada cembengan Pabrik Gula Tasikmadu, di mana Lastri menyanyi untuk klub keroncongnya. Ayo maju, Yu. Jangan membuat malu bangsa, kata Abu. Lastri maju dan menyanyi. Lagi! Lagi! Lastri menyanyi sekali lagi. Dalam perjalanan pulang Abu bilang: Suaramu semakin koong lho Yu. Kok koong, apa saya perkutut? Ya, sudah. Kalau begitu kayak Anik Sunyahni? 13 Lastri dalam novel ini banyak membantu Abu Kasan Sapari, terlebih ketika Abu Kasan Sapari berurusan dengan Mesin Politik, dan juga warga yang hendak mengusir Abu dari rumahnya, dikarenakan memelihara ular. Lastri juga menjadi tempat Abu Kasan Sapari bercerita tentang masalahmasalah yang dihadapinya. Tak jarang, Lastri memberi saran dan solusi terhadap masalah Abu Kasan Sapari. Contohnya ketika Abu Kasan Sapari dihadapkan untuk melakukan upacara slametan untuk pohon Beringin yang tumbang. Abu yang merasa itu sebuah kemunduran, mau tidak mau harus melakukannya karena perintah dari para petinggi di kecamatan tersebut. akhirnya dengan sara Lastri acara tersebut agar diganti menjadi ruwat bumi, dan tidak ada sesaji atau laku-lakuan di dalamnya. Akan dicobanya minta pendapat Lastri. Mudah saja. Jangan sebut itu selametan, kata Lastri. Lalu? Ruwat bumi, atau apa begitu. 12 Ibid, Ibid, 232.

64 54 Wah kok cerdas, Yu. Itu pengalaman Kakek saya. Kakeknya juga suka mendalang, to? Iaya amatiran saja. Misalnya, tujuhbelasan. Tapi sudah almarhum. O, begitu. Lalu? Undang seorang ustadz untuk berceramah sebelum wayang dimulai. Lalu? Jangan pakai sesaji. Kata orang, itu malah mengundang setan. 14 Lastri dihadirkan oleh Kuntowijoyo dalam novel ini sebagai wanita yang mandiri. Sebagai janda, yang mantan suaminya telah wafat, Lastri tidaklah terburu-buru ketika hendak kembali memilih pasangan hidup. Dalam novel ini Lastri disukai oleh banyak pria, dan banyak yang meminangnya untuk dijadikan istri. Lastri yang merasa pria-pria tersebut tidak sesuai dengan keinginannya, menolak keinginan pria-pria tersebut dengan sopan. Akan tetapi, meski Lastri menolaknya dengan sopan, tidak jarang Lastri mendapatkan perkataan yang tidak mengenakkan dari para pria yang ditolaknya. Hal-hal tersebut membuatnya emosional Lastri kadang tidak stabil. Seperti contoh saat dia menangis ketika mendapat perkataan yang tidak mengenakkan dari Lurah Tegalpandan, hingga akhirnya jatuh sakit. Lastri tersinggung dikatakan janda, lalu menyela, Tapi, Pak. Maaf, saya masih ingin sendiri. Ya jangan begitu. Pikirlah yang panjang. Setelah Lurah pergi, dia membawa kaleng-kaleng biskuit ke tempat sebelah. Matanya berkaca-kaca. Abu Kasan Sapari terkejut melihat dia membik-membik mau menangis. Lastri melempar kaleng-kaleng ke dipan. 15 Kuntowijoyo tetap saja menghadirkan Lastri sebagaimana wanita pada umumnya. Meski mandiri sebagai seorang janda, Lastri tetap diceritakan memilki keinginan untuk mempunyai pendamping hidup. Emosional khas wanita yang berubah-ubah, tercermin dari perilaku Lastri ketika menghadapi persoalan memilih pasangan hidup. 14 Ibid, Ibid, 223.

65 55 Dapat disimpulkan kehadiran Lastri dalam novel ini menambah warna tersendiri bagi cerita dalam novel ini. Kisahnya dengan Abu Kasan Sapari layakanya hiburan di tengah tegangnya konflik Abu Kasan Sapari melawan Mesin Politik. Penokohan Lastri pada novel ini digambarkan berparas cantik dan muda, seorang janda yang mempunyai sikap mandiri. Wataknya juga digambarkan sebagai orang yang suka menolong dan peduli terhadap permasalahan seseorang. Selain itu dalam berbicara tutur dan katanya juga santun. Selain ketiga tokoh utama tadi terdapat pula tokoh-tokoh tambahan yang peranannya mendukung jalannya cerita dalam novel ini. Secara umum tokohtokoh tambahan tersebut tidak terlalu banyak terlibat terhadap konflik yang diceritakan. Tokoh-tokoh tembahan tersebut, yakni Ayah dan Ibu Abu Kasan Sapari. Kakek dan Nenek dari pihak Ibu Abu, Kakek dari pihak Ayah Abu. Ki Lebdocarito dan Istrinya, Camat Lama Kemuning, Camat Baru Kemuning, Wartawan, Haji Syamsudin, Kakek pemberi mantra, Eyang, Camat Lama Tegalpandan, Camat Baru Tegalpandan, Bupati Karangmojo, dan Kepala Polisi Karangmojo. Tokoh-tokoh tersebut mempunyai perannya masingmasing dalam mendukung tokoh-tokoh utama dalam novel ini, dan juga mendukung jalannya cerita. c. Sudut pandang Unsur intrisik selanjutnya yakni sudut pandang. Sudut pandang adalah tempat atau titik dari mana seorang melihat objek deskripsinya. Sudut pandang dalam narasi itu menyatakan bagaimana fungsi seorang pengisah (narator) dalam sebuah narasi, apakah ia mengambil bagian langsung dalam seluruh rangkaiaan kejadian atau sebagai pengamat terhadap objek dari seluruh aksi atau tindak tanduk dalam narasi. 16 Biasanya yang umum ditemukan oleh pembaca, sebuah karya sastra hanya memilki satu sudut pandang saja. Seiring perkembangan sastra itu sendiri sudut pandang dalam karya prosa khususnya, terkadang memiliki lebih 16 Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Umum, 2010), h. 114.

66 56 dari satu sudut pandang. Hal ini mungkin dikarenakan pengarang ingin menghadirkan rentetatan peristiwa senatural mungkin, sehingga cerita yang ditampilkan menjadi hidup. Untuk mengetahui sudut pandang pengarang dalam sebuah cerita, haruslah diketahui terlebih dahulu jenis-jenis sudut pandang yang ada, beserta ciri-cirinya. Hal tersebut tidak usah dijelaskan panjang lebar karena telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Sudut pandang novel Mantra Penjinak Ular terlihat cukup menarik karena Kuntowijoyo menampilkan dua teknik sudut pandang. Sudut pandang yang digunakan tersebut yakni, sudut pandang persona ketiga, dengan teknik dia mahatahu dan dia sebagai pengamat.. Teknik sudut pandang dia maha tahu ini digunakan oleh pengarang hampir di keseluruhan bab dalam novel ini. Dalam hal ini, pengarang mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Seperti contoh dalam kutipan berikut dari novel Mantra Penjinak Ular Tetapi, tidak seorang pun tahu bahwa Abu menyesalkan perbuatannya tidak ada yang tahu. Karena perbuatannya Camat Kemuning dipindahkan, dan itu memberinya rasa bersalah yang besar. Bukan hanya dia, tapi orang lain, ikut menanggung akibatnya. Namun, hobi lama Abu Kasan Sapari untuk menyalahi mesin politik kambuh lagi.... Ia tidak tega melihat seorang cakades diminta mundur oleh mesin politik. 17 Terlihat dari kutipan di atas, pengarang mengetahui betul bagaimana kemelut batin tokoh Abu Kasan sapari. Pengarang juga mengetahui motivasi tindakan Abu Kasan Sapari yang menyalahi mesin politik karena tidak tega melihat seorang cekades diminta mundur oleh mesin politik. Kadang-kadang terpikir pada abu untuk pergi pada pak Camat atau kepala pasar untuk menyatakan bahwa pemburuan dan jual beli ular dinyatakan terlarang Kuntowijoyo, op. Cit., h Ibid, h. 55.

67 57 Kutipan tersebut juga menggambarkan sudut pandang yang diambil pengarang, dia mengetahui sampai ke pikiran tokoh-tokohnya dan menceritakan apa yang diinginkan si tokohnya, dimana Abu Kasan Sapari menginginkan pemburuan dan jual beli ular dinyatakan terlarang. Terlihatlah jelas dengan ciri-ciri yang ada bahwa yang digunakan merupakan sudut pandang orang ketiga (dia) maha tahu. Pengarang seolah mengetahui hingga bagian terdalam para tokoh-tokohnya. Meskipun demikian, pengarang dalam sudut pandang ini bukan sebagai tokoh dalam cerita juga, melainkan hanya sebagai pencerita yang maha tahu, yang berada di luar cerita. Seperti dipaparkan sebelumnya dalam hal sudut pandang novel ini, pengarang selain menggunakan teknik dia mahatahu, juga menggunakan teknik dia terbatas, atau sebagai pengamat (observer). Teknik sudut pandang dia sebagai pengamat (observer) digunakan oleh pengarang pada bab ke-13 (subjudul novel Mencari Akar). Dalam bab ini pengarang menjadikan tokoh Kakek dari Abu Kasan Sapari sebagai pusat pencerita. Tokoh Kakek menceritakan tentang perjalanan tokoh Eyang (leluhur) dari Abu Kasan Sapari. (Abu Kasan Sapari pulang ke desa tempat dia dibesarkan. Kakek bercerita). Kami juga dengar kau disidangkan, tapi belum sempat menjenguk. Alhamdulillah, kau sudah pulang, tak kurang suatu apa, malah sepertinya tambah gemuk. Ditahan? Sudah betul, kau harus jadi berani. Kita ini jelek-jelek keturunan orang berani. Mula-mula desa kita adalah sebuah perdikan, artinya tidak perlu setor pada pajak raja. Eyang pendiri desa kita waktu masih muda menjadi prajurit keraton. Dia berhasil menyelamatkan raja Pakubuwana II dari Surakarta dari perampok waktu raja menyamar melihat-lihat kerajaannya. 19 Eyang jadi lurah pertama. Meski muda, ia dicintai rakyat, disegani kawan, ditakuti lawan. Desa kita menjadi tempat hunian yang makmur. 20 Dalam bab ke-13 ini kakek dari Abu Kasan Sapari menceritakan peristiwaperistiwa yang dialami oleh Eyang dari Abu Kasan Sapari beserta pikiran serta tindakannya. Ciri-ciri ini memperlihatkan bukti pengarang juga menggunakan 19 Ibid, h Ibid, h. 196.

68 58 teknik dia terbatas, pengamat (observer). Berbagai peristiwa dan tindakan yang diceritakan disajikan lewat pandangan dan atau kesadaran seorang tokoh. 21 Narator hanya dapat melaporkan segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, atau yang dapat dijangkau oleh indera. 22 Pada bab ini kita mengetahu peristiwaperistiwa, tindakan, serta pikiran Eyangnya Abu Kasan Sapari lewat pandangan atau kesadaran tokoh Kakek. Pengarang pada bab ini memposisikan dirinya tidak lagi sebagai orang yang berada di luar cerita, tetapi sebagai pencerita lewat tokoh dalam novel ini, yakni tokoh kakek. Novel Mantra Pejinak ular dapat dikatakan menggunakan sudut pandang persona ketiga. Sudut pandang persona ketiga dalam novel tersebut dihadirkan dengan dua teknik, yakni dengan teknik dia mahatahu dan dia terbatas, sebagai pengamat (observer). Penggunaan teknik dia mahatahu digunakan pengarang hampir di semua Bab dalam novel ini, sedangkan penggunaan teknik dia terbatas hanya digunakan pada Bab 13 novel ini. Adanya pergantian fokalisasi tersebut mungkin saja dimaksudkan memperlengkap wawasan pembaca, pembaca dapat memperoleh pandangan tentang masalah dari tokoh yang ada di dalam cerita. Bisa juga pergantian fokalisasi yang digunakan dilakukan untuk memperkuat unsur-unsur pembangun lain dalam novel ini, semisal plot, tema, atau penokohan. d. Plot Plot merupakan unsur yang amat penting dalam sebuah karya sastra khususnya prosa. Banyak pendapat umum karya prosa yang bagus baik itu cerpen maupun novel dapat dilihat dari penyajian plot. Semakin logis rangkaianrangkaian peristiwa yang terjadi disajikan, maka semakin baik plot yang ada dalam cerita tersebut. Kebanyakan plot yang dipilih yakni plot maju oleh para pengarang. Namun, pada karya sastra modern khususnya prosa dan cerpen modern, plot yang digunakan cenderung bervariasi tidak selalu plot maju, ada 21 Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit., h Ibid, h. 351.

69 59 yang menggunakan plot mundur (flashback) bahkan juga ada yang menggunakan plot campuran. Plot yang digunakan Kuntowijoyo dalam novel mantra penjinak ular dapat dikatakan merupakan plot campuran. Plot novel ini tidak selalu berjalan dari suatu peristiwa ke peristiwa selanjutnya (maju), namun terdapat flashback/ sorot balik. akan tetapi sorot balik/flashback yang ditampilkan masih dalam tataran yang bersifat kronologis, dan berfungsi menguatkan penceritaan baik itu tentang tokoh, tema, maupun hal lainnya. Burhan Nurgiyantoro, dalam Teori Pengkajian Fiksi menyebut penceritaan seperti ini bersifat progresif kronologis. Hal yang membuktikan bahwa plot dalam novel ini bersifat progresif yakni pada bab pertama novel ini. Bab tersebut bercerita tentang pertumbuhan Abu Kasan Sapari si tokoh utama dalam novel ini sedari kecil hingga dewasa. Penceritaan tersebut diselingi dengan sorot balik penceritaan tentang Ayah dan Ibu dari Abu Kasan Sapari, bagaimana mereka berdua bisa bertemu. Waktu itu ibu (calon Abu berdagang pakaian dari pasar ke pasar dengan sepeda merk Raleigh yang biasa bunyi ck-ck-ck dan ayah (calon) Abu menjualkan ternak apa saja milik para tetangga. Maka, bertemulah ayah-ibu Abu. Ayah Abu suka membeli soto dekat ibu Abu berjualan. 23 Sorot balik yang dimunculkan tersebut berfungsi untuk menguatkan penceritaan terhadap tokoh utama yakni Abu Kasan Sapari, tentang keluarganya dan lingkungan tempat Abu Kasan Sapari tumbuh. Adapula sorot balik yang menghabiskan satu bab dalam novel ini, yakni ketika tokoh kakek bercerita tentang riwayat atau kisah mengenai tokoh Eyangnya Abu Kasan Sapari. Pada BAB tersebut berisi peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Eyang dari Abu Kasan Sapari. Eyang pendiri desa kita waktu masih muda menjadi prajurit keratin. Dia berhasil menyelamatkan raja Pakubuwana II dari Surakarta dari perampok waktu raja menyamar untuk melihat-lihat kerajaannya. Maka ia mendapat hadiah sebuah hutan gung liwang-liwung, hutan lebat Kuntowijoyo, op. Cit., h Ibid, h. 195.

70 60 Penceritaan tentang peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Eyang. Penceritaan tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh Eyang beserta solusinya, dan penceritaan kebijaksanaan hidup yang diajarkan Eyang, hal tersebut dihadirkan pengarang dalam upaya untuk menguatkan unsur tema dan amanat yang ada dalam novel ini. Penceritaan tentang pertemuan Ayah dan Ibu Abu Kasan Sapari, dan penceritaan tentang kehidupan tokoh Eyang merupakan bagian dari sub-plot dalam novel ini. Plot kedua sub-plot tersebut menggunakan plot sorot balik (flashback) berbeda dengan plot utama yang bersifat progresif kronologis. Hadirnya sub-plot tersebut selain untuk mendukung alur utama, juga guna mempertegas unsur-unsur intrinsik lainnya dalam novel ini. Dapat dikatakan, peristiwa sorot balik (flashback) dihadirkan bukan semata-mata sebagai variasi semata dari plot yang disajikan, akan tetapi dihadirkan untuk mempertegas unsurunsur intrinsik yang ada dalam novel ini seperti tokoh, dan juga tema dalam novel ini. Selain itu peristiwa sorot balik (flashback) dalam novel ini masih bersifat kronologis. Sehingga plot dalam novel ini dapat dikatakan progresif kronologis. Plot dalam sebuah cerita pastilah memiliki tahapan-tahapan di dalamnya. Seperti yang sudah dijelaskan dalam landasan teori, bahwa alur memiliki lima tahapan. Tahapan-tahapan tersebut yakni, tahapan situation/ pengenalan, tahap generating circumstances/ pemunculan konflik, tahap rising action/ konflik meningkat, tahap climax/ puncak, dan tahap denouement/ penyelesaian. Tahap awal/ situation dalam novel ini menceritakan pengenalan tokoh utama Abu Kasan Sapari. Menceritakan kehidupan Abu Kasan Sapari sejak kecil hingga dewasa. Penceritaan tersebut juga mengenalkan lingkungan serta budaya tempat Abu Kasan Sapari tumbuh yang mempengaruhi kepribadian seorang Abu Kasan Sapari, hingga mempunyai kemampuan mendalang dan menekuninya. Di sana Abu kecil belajar apa saja (istilahnya nyantrik): membersihkan gamelan, menggotong gamelan, melihat orang belajar dalang, melihat

71 61 orang menata wayang, mendengarkan gamelan ditabuh. Di tempat itu sepertinya kekerasan hati kakeknya luluh-lantak oleh bunyi gamelan. 25 Pada tahap ini juga memperkenalkan bagaimana Abu Kasan Sapari dewasa dengan lingkungannya sebagai pegawai pemerintahan. Di Kemuning, Abu Kasan Sapari menyewa rumah. Kandang kuda dibuatnya di depan. Tapi saty hal yang menyulitkannya, betul sewa rumah di tempat itu murah, tapi untuk mandi orang harus ke sendang di atas yang jauhnya dua kilometer. 26 Tahap awal/ situation dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo dapat disimpulkan, berisi potret kehidupan tokoh utama novel ini yakni, Abu Kasan Sapari. Dalam tahap ini, dijelaskan silsilah keluarga Abu Kasan Sapari, lingkungan Abu Kasan Sapari tumbuh dewasa, sampai kepada penceritaan Abu Kasan Sapari dalam mendapatkan kemampuan mendalangnya. Pada tahap ini pula, diceritakan Abu Kasan Sapari yang beranjak dewasa, yang akhirnya menjadi pegawai pemerintahan di kecamatan Kemuning. Cerita berlanjut dengan munculnya berbagai konflik dalam cerita ini. Tahap ini dinamakan tahap generating circumstances. Konflik-konflik mulai muncul, di antaranya Abu Kasan Sapari yang mendapat mantra penjinak ular, mulai bisa berinteraksi dengan ular yang kemudian membuatnya merasa iba kepada ular-ular yang secara membabi buta dibunuh demi keuntungan pribadi. Pelan-pelan air matanya membasahi pipi. Bayangkan. Ular itu punya anak-anak. Ia sedang dalam perjalanan mengunjungi anak-anaknya sebab sudah janji. Tapi, tiba-tiba orang menangkapnya, mengurut badannya sampai remuk tulangnya. Lalu dipotong kepalanya. 27 Konflik lainnya juga mengenai warga desa di Kecamatan Kemuning yang takut dan benci dengan ular. Kemudian, konflik juga muncul ketika Abu Kasan Sapari mulai menggunakan kemampuan mendalangnya untuk kegiatan-kegiatan pemerintahan, seperti ketika Abu Kasan Sapari mendalang untuk mengajak warga menanam jati (jatinisasi). 25 Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 52.

72 62 Tapi jangan heran kalau ada oknum politik yang terlalu bersemangat dan menginginkan pohon randu, dan bukan pohon jati. Ini tidak menyenangkan, tapi itulah realitas, kalau saya ya dua-duanya Hal tersebutlah tanda-tanda awal pertentangan Abu Kasan Sapari dengan mesin politik, dimana program jatinisasi yang dilakukan di kecamatan Kemuning, meskipun berjalan sukses, tetapi tidak sejalan dengan program mesin politik yakni, randunisasi. Konflik-konflik itu mulai berkembang dan mengalami penegangan. Konflik Abu Kasan Sapari dengan mesin politik bertambah parah. Ketika musim pilkades Abu Kasan Sapari mendalang untuk cakades-cakades yang bukan dari partai politik, sehingga membuat mesin politik mengalami kegagalan target dalam pilkades tersebut. Pengumuman pemilihan itu menunjukkan bahwa calon Mesin Politik menang di lima kelurahan, kalah di empat desa. Dukungan Abu Kasan Sapari masuk tiga, satu gagal, yaitu guru SLTP itu. Politik tingkat desa itu oleh koran Suara Bengawan digambarkan setengah jujur setengah tidak. 29 Konflik makin berkembang dan menegang kala Abu Kasan Sapari dipindahtugaskan dari Kemuning ke Tegalpandan. Dimana Abu Kasan Sapari dihadapkan pada masalah yang sama. Dia dimintai tolong mendalang oleh salah satu Cakades dari non randu. Padahal ia berjanji tidak akan menggunakan seni untuk poliitik janji pada diri sendiri dan Camat Tegalpandan. Akan tetapi Abu Kasan Sapari tetap memenuhi permintaan tersebut, akan tetapi calon yang didukung Abu Kasan Sapari tersebut kalah. Namun, hobi lama Abu Kasan Sapari untuk menyalahi Mesin Politik kambuh lagi di kecamatan Tegalpandan. Pesan Camat untuk tidak mencampurkan politik dengan kesenian sudah dilupakannya. Ia tidak tega melihat seorang Cakades diminta mundur oleh mesin politik Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 150.

73 63 Abu jadi mendalang untuk Cakades. Cakades itu kalah dalam pilihan lurah. Mesin politik ternyata jauh lebih perkasa. Fungsionaris mesin politik datang lagi. 31 Cerita mulai mendekati klimaks, ketika Abu Kasan Sapari yang mulai gerah dengan mesin politik yang ingin mempolitisasi seni demi kepentingan politik akhirnya membentuk paguyuban dalang independen. Organisasi tersebut menyatakan bahwa para dalang tidak ingin seni dipolitisasi demi kepentingan politik, pendirian paguyuban tersebut sebagai respon dari para dalang terhadap hasil wawancara dengan Abu Kasan Sapari yang dimuat di sebuah surat kabar. Koran yang memuat interviu dengan Abu Kasan Sapari kebanjiran surat. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa interview itu menunjukkan visi dan misi pedalangan yang jelas sebagai sebuah profesi yang mandiri. Mereka juga menyatakan akan bergabung seandainya didirikan sebuah paguyuban. 32 Hal ini membuat gerah mesin politik, dan membuat mesin politik mendatangi Abu Kasan Sapari untuk memperingatkan agar abu diam selama pemilu berlangsung. Mesin politik bahkan mencalonkan Abu Kasan Sapari sebagai calon legislatif, akan tetapi Abu Kasan Sapari menolak permintaan mesin politik tersebut. Abu mengerti duduk soalnya. Ia menolak. tentu saja itu di luar harapan para tamunya. Sebab, orang lain berebut menjadi caleg jadi. Karenanya, penolakan itu aneh bagi mereka. 33 Penggunaan kesenian yang kembali dilakukan oleh Abu Kasan Sapari, lalu hasil wawancara yang diterbitkan oleh teman wartawan dan pendirian paguyuban dalang independen telah membuat konflik antara Abu Kasan Sapari dan Mesin Politik kian parah. Hal tersebut diperparah dengan penolakan Abu Kasan Sapari yang diminta menjadi caleg jadi oleh mesin politik. Akhirnya konflik pun mencapai puncaknya ketika mesin politik gagal mengajak Abu Kasan Sapari untuk bergabung. Mereka mulai berkesimpulan Abu 31 Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 162.

74 64 Kasan Sapari dengan organisasi Paguyuban Dalang Independen berpotensi menghalangi mesin politik dalam pemilu nanti. Dengan kuasa mesin politik kala itu, Abu Kasan Sapari ditahan dengan tuduhan anti-pancasila dan subversif. Tiga orang polisi berseragam turun, masuk kantor. Mereka menemui Camat, menuju ke kamar kerja abu Kasan Sapari, menunjukkan sebuah surat. Kami dari Polres, Anda kami tahan, kata seorang. Boleh-boleh, silakan, kata Abu seperti sudah mengharapkan. 34 Ia melihat dokumen. Lho, kok anti-pancasila, makar? Perintah penangkapan yang saya tandatangani hanya soal kriminal biasa, Katanya. 35 Penangkapan serta penahanan Abu Kasan Sapari merupakan puncak konflik antara Abu Kasan Sapari dengan mesin politik. Penahanan yang dibuat agar Abu Kasan Sapari diam saat pemilu. Penahanan tersebut bukan karena Abu Kasan Sapari berbuat melanggar hukum, penangkapan tersebut dilakukan untuk menyukseskan rencana mesin politik. Karena mereka menganggap Abu Kasan Sapari dengan kesenian wayangnya dapat menjadi batu sandungan mereka. Cerita mulai mengalami penurunan atau yang disebut tahap penyelesaian/ denoument. Tuduhan yang dituduhkan kepada Abu Kasan Sapari oleh mesin politik ternyata tidak terbukti. Akhirnya polisi memberhentikan penyelidikan dan membebaskan Abu Kasan Sapari. Abu Kasan Sapari pun disambut layaknya pahlawan/ pejuang demokrasi ketika pulang. Dua orang polisi mengiringi Abu Kasan Sapari menemui Camat. Puluhan sepeda motor juga berhenti, mereka menyerahkan surat-surat pada Camat. Permintaan maaf dari polisi kalau-kalau telah mengganggu pekerjaan kecamatan. Satu lagi jaminan dari Kepala Polisi bahwa Abu Kasan Sapati tidak bersalah apa pun. 36 Konflik Abu Kasan Sapari dengan warga sekitar juga selesai ketika abu berjanji akan menyerahkan ular tersebut ke kebun binatang. Kemudian Abu Kasan Sapari juga melepaskan mantra yang ada pada dirinya dan memutus rantai mantra tersebut dengan tidak mengajarkannya kepada siapapun. Abu Kasan Sapari juga 34 Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 177.

75 65 memilih untuk menjadi dalang menggantikan Ki Lebdocarito, dan berencana pindah ke Palur. e. Latar Latar merupakan unsur khas yang dimiliki oleh cerita rekaan. Baik itu prosa maupun naskah drama. Khususnya prosa latar memegang peran penting. Latar merupakan bagian yang mendukung peristiwa-peristiwa berlangsung atau dapat dikatakan latar sebagai media bergulirnya peristiwa-peristiwa dalam karya prosa. Latar sendiri dibagi menjadi tiga ada latar waktu, latar tempat, dan juga latar sosial. Setiap karya prosa khususnya novel pastilah memiliki ketiga latar tersebut. Latar-latar yang ada dalam novel ini akan dipaparkan pada bagian ini. Baik itu latar waktu, tempat, maupun latar sosialnya. 1. Latar waktu Latar waktu dalam novel Mantra Penjinak Ular secara keseluruhan berada dalam rentang tahun 90-an. Dimulai ketika penceritaan Abu Kasan Sapari kecil, hingga dewasa dan menghadapi berbagai macam masalah. Pada Bab ke-13 latar waktu mengalami flashback. Latar waktu tersebut terjadi saat penceritaan Eyang oleh kakek, latar waktu peristiwa-peristiwa yang dialami Eyang berada pada latar di masa kepemimpinan raja Pakubuwana 2. Eyang pendiri desa kita masih muda menjadi prajurit keraton. Dia berhasil menyelamtkan raja Pakubuwana II dari Suarakarta dari perampok, waktu raja menyamar untuk melihat-lihat kerajaannya. 37 Latar waktu yang mengalami flashback tersebut, merupakan latar waktu dari alur bawahan dalam novel ini. Alur bawahan dalam novel Mantra Pejinak Ular ini sendiri menceritakan perjalanan hidup tokoh Eyang. Novel ini memang secara keseluruhan berada dalam latar waktu rentang 90-an. Namun, peristiwa-peristiwa penting, ataupun konflik-konflik 37 Ibid, h. 195.

76 66 penting yang terjadi dalam novel ini memiliki latar pada tahun 1997, saat Pemilu nasional diselenggarakan. Pemilu Abu Kasan Sapari memilih di Rutan (Rumah Tahanan) Karangmojo. Mesin politik menang di Karangmojo, tetapi hanya dengan enam puluh persen suara 38 Pada novel ini dapat disimpulkan bahwa latar waktu peristiwaperistiwa berada pada rentang tahun 90-an. Peristiwa-peristiwa penting, dan juga konflik-konflik penting dalam novel ini berlatar pada tahun 1997, tahun di akhir-akhir masa kekuasan orde baru. Selain itu latar waktu dalam rentang 90-an, novel ini juga memiliki latar waktu pada masa kepemimpinan Raja Pakubuwana II. Dimana latar tersebut merupakan latar waktu dari alur bawahan dalam novel ini yang berisi peristiwaperistiwa yang dialami oleh Eyang. 2. Latar Tempat Latar tempat merupakan latar dimana peristiwa-peristiwa dalam cerita rekaan terjadi. Pada novel Mantra Penjinak Ular, latar tempat peristiwaperistiwa yang ada dalam novel ini cukup luas. Hal ini dikarenakan alur penceritaan novel ini yang cukup panjang, yakni bercerita tentang perjalanan hidup Abu Kasan Sapari dari kecil hingga dewasa. Oleh karena itu, latar tempat dalam novel ini dapat dibagi berdasarkan wilayah-wilayah tempat Abu Kasan Sapari pernah tumbuh dan menetap. Latar tempat pertama berada di desa Palar, Klaten. Abu Kasan Sapari dilahirkan di desa tersebut. Ayah dan ibu Abu Kasan Sapari serta kakek dari pihak ayah juga tinggal di desa tersebut. Abu Kasan Sapari Kecil dibesarkan di desa Palar sampai umur satu tahun. Pembacaan macapat itu ditutup dengan kenduri dan doa yang dipimpin oleh modin desa. Kakek itu adalah juru kunci makam Ronggowarsito di Desa Palar, Klaten Ibid, h. 174.

77 67 Semasa kanak-kanak Abu Kasan Sapari diasuh oleh kakek nenek dari pihak Abu Kasan Sapari. Abu dibesarkan dalam rumah kakek dan nenek dari pihak ibu. Kata pertama yang diucapkan Abu ialah mbah-mbah, kakek-nenek. Itu biasa karena memang ia tinggal di rumah kakeknya 40 Rumah Ki Notocarito juga menjadi latar tempat peristiwa. Abu Kasan Sapari pernah nyantri belajar mengaji, dan kesenian wayang di rumah Ki Notocarito. Pada hari minggu pagi, waktu anak-anak lain main bola, Abu diantar kakeknya ke dalang Notocarito (nama sebenarnya adalah Bakuh), kawannya di sekolah Jawa (Sekolah Angka Loro) dan mengaji di masjid dahulu yang mempunyai seperangkat gamelan dan satu set wayang. 41 Pada saat menjelang akhir SMA Abu Kasan Sapari diangkat anak oleh Ki Lebdocarito dan tinggal di desa Palur. Disini dia menekuni ilmu mendalang pada dalang senior tersebut. desa Palur yang berada di daerah Surakarta ini menjadi salah satu latar tempat dalam novel ini. Di rumah Ki Lebdo, Abu dapat mempergunakan sebuah sepeda motor bebek. Kata Ki Lebdo suatu kali, Tidak ada lagi yang dapat kau kerjakan di sini. Kalau kau mau belajar, pergilah pada Anom Suroto di Kertosuro atau Manut Sumarsono di Tegalpandan. 42 Barulah setelah lulus SMA, Abu Kasan Sapari memilih hidup mandiri dan berkerja sebagai pegawai pemerintahan/ negeri di Kecamatan Kemuning. Di Kemuning, Abu Kasan Sapari menyewa rumah. Kandang kuda dibuatnya di depan. 43 Di Kemuning inilah peristiwa-persitwa penting yang ada dalam novel Mantra Penjinak Ular mulai muncul. Seperti mantra yang digunakan 39 Ibid, h Ibid, h Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 17.

78 68 untuk menjinakkan ular didapat Abu Kasan Sapari di Kemuning, kemudian Abu Kasan Sapari dengan kesenian wayangnya terlibat dalam pilkades, yang menandai keterlibatannya dalam konflik dengan mesin politik pun terjadi di Kemuning. Kecamatan Tegalpandan merupakan latar tempat lainnya yang memunculkan peristiwa-peristiwa penting dalam novel ini. Abu Kasan Sapari dipindahkan ke kecamatan Tegalpandan, jauh lebih dekat dan mudah bila ingin ke ibu kota Kabupaten Karangmojo. 44 Kecamatan Tegalpandan lebih kota dibandingkan dengan kecamatan Kemuning. Kecamatan ini juga lebih dekat ke pusat pemerintahan kapubaten Karangmojo. Konflik-konflik yang mulai mencapai klimaks memiliki latar di kecamatan ini. Peristiwa Abu Kasan Sapari yang menolak bergabung dengan partai politik, pendirian Paguyuban Dalang Independen, berdirinya organisasi MPU Nogogini, pertemuannya dengan Lastri, sampai kepada penangkapan Abu Kasan Sapari terjadi di kecamatan ini. Dapat dikatakan kecamatan Tegalpandan merupakan latar tempat yang penting dalam novel ini. Hal ini dikarenakan, konflik mencapai klimaksnya terjadi di kecamatan Tegalpandan ini. Sampai pada akhir cerita novel ini pun masih berlatar di kecamatan Tegalpandan. Dapat disimpulkan pula, latar tempat kecamatan tegalpandan menjadi latar tempat peristiwa-peristiwa lebih banyak, ketimbang latar-latar tempat yang lain yang ada dalam novel ini. Latar tempat lain yang juga menjadi latar peristiwa dalam novel ini yakni Kebon Binatang Curug, di Solo. 44 Ibid, h. 115.

79 69 Sebagai realisasi kerjasama antara MPU dan bonbin ada pertunjukan wayang di bonbin. Pertunjukan itu diadakan dalam rangka Hari Lingkungan Sedunia. 45 Latar tersebut termasuk dalam latar yang cukup penting, karena menghadirkan peristiwa Abu Kasan Sapari yang mendalang untuk kegiatan pecinta lingkungan. Selain itu di kebon binatang ini, Abu Kasan Sapari mulai menyadari bahwa mantra dan laku-lakuan bukan satu-satunya cara berinteraksi dengan ular. Perekrutan Abu Kasan Sapari oleh dua orang anggota Partai Hijau untuk terlibat dalam Politik juga terjadi di Kebon Binatang ini. Latar tempat dalam novel Mantra Penjinak Ular dapat disimpulkan antara lain, Desa Palar, Desa Palur, Kecamatan Kemuning, Kecamatan Tegalpandan, dan Kebon Binatang Curug di Solo. Secara keseluruhan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam novel ini berada di wilayahwilayah tersebut. Latar tempat yang memegang peran penting yakni latar tempat di wilayah Kecamatan Tegalpandan. Hal ini dikarenakan konflikkonflik mencapai klimaks berlatar di wilayah tersebut. 3. Latar sosial Latar sosial tidak bisa terlepas dari latar tempat yang dihadirkan dalam novel ini. Latar tempat dalam novel pastilah memunculkan bentuk-bentuk interaksi sosial yang khas di dalamnya. Seperti yang diuraikan pada paparan sebelumnya bahwa latar tempat dalam novel ini dibagi berdasarkan wilayah-wilayah, yakni desa Palar, desa Palur, kecamatan Kemuning, kecamatan Tegalpandan, dan Kebon Binatang curug di solo. Latar sosial yang muncul di desa Palar yang khas yakni lurah haruslah bersih dan tidak boleh berkelakuan jelek. Di desa ini seorang lurah haruslah menjadi tuntunan. Jadi apabila seorang Lurah melakukan ma- 45 Ibid, h. 141.

80 70 lima, yakni madon, minum, madat, dan maling maka orang tersebut tidak pantas menjadi lurah. Masyarakat akan membiarkan kelakuan yang jelek pada orang biasa, tapi tidak pada lurah. Sejak saat itu jabatan lurah tidak pernah dipegang keluarga besar juru kunci. 46 Masyarakat desa tersebut tidak menolerir kelakuan yang jelek dari pemimpin mereka, yang dalam hal ini seorang lurah. Masyarakat desa beranggapan bahwa orang biasa boleh berkelakuakan jelek, tapi tidak untuk lurah. Interaksi sosial yang khas pada masyarakat di desa Palur, yakni kepedulian terhadap sesama, dan saling mengingatkan. Hal ini dapat terlihat pada saat kakek dan nenek Abu Kasan Sapari membunyikan lonceng untuk mengingatkan Abu Kasan Sapari yang sedang asik bermain Kakek atau nenek akan membunyikan lonceng itu. Tetangga yang tahu Abu masih keluyuran akan bilang padanya, Pulanglah, embahmu mencarimu. 47 Hal tersebut memperlihatkan bagaimana masih ada rasa kepedulian terhadap sesama. Padahal Abu Kasan Sapari bukan merupakan tanggung jawab mereka. Terkadang interaksi masyarakat seperti ini menjadi suatu yang jarang di tengah masyarakat modern. Kecamatan Kemuning juga memiliki suasana sosial yang khas dalam novel Mantra Penjinak Ular. Kita bisa melihat kebiasaan warga Kemuning yang mandi setiap hari sekali di sendang. Tapi untuk mandi orang harus ke Sendang di atas yang jauhnya dua kilometer. Jadi diputuskannya hanya mandi sekali sehari di sendang sepuas-puasnya seperti semua orang Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 17.

81 71 Mandi di sendang yang mengalir ini merupakan suasana sosial pedesaan yang khas, menandakan Kemuning merupakan sebuah kecamatan yang jauh dari suasana kota. Kemajuan peradaban sosial masyarakat pedesaan ditunjukkan dengan kemajuan pembangunan desa-desa di Kemuning, serta ditemukannya situs candi Tiban, sehingga menjadikan Kemuning sebagai obyek wisata, serta menjadi desa agrowisata. Kemuning dapat menjadi tempat agrowisata. Lebih indah dari Tawamangu, tempat peristirahatan itu. Dari kemuning orang dapat menikmati matahari tenggelam. Ditambah dengan adanya jalan-jalan yang mulus sampai puncak-puncak bukit. 49 Kecamatan Kemuning juga menampilkan pasar dengan interaksi sosial yang khas bagi pembaca. Suasana yang khas tersebut yakni ramainya pasar ditentukan oleh hari pasaran. Berbeda dengan pasar-pasar yang berada di kota yang ramai setiap hari, pasar di Kecamatan Kemuning ini menampilkan khas pasar masyarakat desa khususnya di daerah Jawa. Masyarakat Kemuning masih mempercayai hari baik ketika berdagang adalah hari pasaran/ pasar. Orang-orang dari desa membawa ternak serta barang dagangannya untuk dijual di pasar. Sehingga pasar saat hari pasar tiba akan begitu ramai dibanding hari biasa. Hari itu hari pasar. Orang membawa kambing, kerbau, dan sapi di pasar ternak sebelah selatan pasar, yang ada orang-orang menalikan ternaknya. Los-los pasar juga sudah penuh. Mulai terdengar orang tawar-menawar, kumandang pasar itu. 50. Kegiatan pasar yang berdasarkan hari pasar, serta tawar menawar antara penjual dan pembeli menjadi sesuatu yang khas. Ini merupakan potret pasaran pada masyarakat pedesaan. Kegiatan tawar-menawar ini mungkin sudah tidak ada pada kebudayaan kota, sebab toko-toko telah 49 Ibid, h Ibid, h. 49.

82 72 menempelkan harga-harga pada barang tersebut, hingga orang tidak perlu lagi menawar. Latar sosial lainnya yang ada di Kemuning yakni sebuah budaya masyarakatnya yang masih memegang budaya feodalisme. Hal ini diperlihatkan dengan kebiasaan berkata setuju tanpa memperimbangkan terlebih dahulu. seperti diketahui, para lurah biasa bersama-sama bilang setuju! pada pidato pimpinan. 51 Tegalpandan pun memiliki kultur sosial masyarakat yang juga khas. Keamanan menjadi prioritas di Kecamatan Tegalpandan. Diberlakukannya siskamling merupakan salah satu kultur sosial dalam wilayah ini. Obrolobrolan ringan di gardu merupakan cara mempererat hubungan antarwarga. Interaksi sosial semacam itu menjadi latar sosial di Tegalpandan. Sebagai penghuni laki-laki Abu Kasan Sapari mendapat giliran ronda untuk setiap kepala keluarga. Di gardu Abu terkenal sebagai tukang dongeng, ahli filsafat kecil-kecilan, dan cangak lek (membuat terbangun) hidup. 52 Dapat disimpulkan latar tempat yang berada di dalam novel ini dibagi berdasarkan wilayah dan hubungannya dalam cerita, yakni Desa Palur, Desa Palar, Kecamatan Kemuning, dan Kecamatan Tegalpandan. Latar waktu dalam novel ini berlatar sekitar tahun 90-an, namun diselingi juga oleh flashback yang berlatar jauh sebelumnya. Selanjutnya untuk latar sosial, masing-masing kedaerahan tadi memiliki latar sosialnya sendiri yang khas, seperti Kecamatan Kemuning dengan latar sosia masyarakat desanya yang masih guyup, dan adapula Kecamatan Tegalpandan dengan latar sosial masyarakatnya yang sudah mulai berbau kota, dan cenderung idividualistis. f. Gaya bahasa 51 Ibid, h Ibid, h. 127.

83 73 Novel Mantra Penjinak Ular menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Susunan kalimat serta kata-kata dan istilah yang digunakan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan oleh Kuntowijoyo dalam novel ini menampilkan ciri khasnya dalam menulis prosa, yakni bahasa yang sederhana. Seolah ia sedang bercerita kepada pembaca. Pada novel ini juga banyak terselip banyak bahasa-bahasa Jawa pada penceritaannya. Bahasa Jawa tersebut sering muncul dalam percakapan para tokoh-tokohnya. Selain Bahasa Jawa ada juga tembang-tembang macapatan yang ada dalam novel ini. Anakkidung rumeksa ing wengi Teguh ayu luputa ing lara Kalisa bilai kabeh Jim setan datam purun Paneluhan tan ana wani Miwah panggawe ala Gunaning wong luput Agni atemahan tirta Maling adoh tan ana ngarah Mring mami Tuju dudu pisan sirna 53 Tembang macapatan dilagukan ketika Abu Kasan Sapari lahir. Tembang tersebut merupakan peninggalan Sunan Kalijaga yang berisi doa keselamatan. Memasukan tembang macapat seperti ini sepertinya digunakan pengarang untuk menguatkan unsur latar dalam novel ini, yang berlatar Jawa. Hal tersebut juga untuk menguatkan penceritaan latar belakang tokoh Abu Kasan Sapari. Dalam novel ini banyak diselipkan peribahasa-peribahasa Jawa. Peribahasa-peribahasa tersebut seperti nggembol watu item (diam di luar tapi penuh isi di dalam), kowe kok tela, apa gaplekmu (kamu kok iri, apa punyamu). Peribahasa-peribahasa tersebut muncul dalam percakapan para tokoh-tokohnya. Peribahasa-peribahasa tersebut digunakan untuk menguatkan karakter masyarakat 53 Ibid, h. 3.

84 74 Jawa pada para tokohnya. Seperti sudah diketahui masyarakat Jawa ketika hendak mengatakan sesuatu tidaklah secara terang-terangan. Mereka lebih memilih untuk mengatakannya secara tersirat yang terkadang lewat peribahasa-peribahasa semacam itu. Layaknya sebuah karya sastra pada umumnya. Novel ini juga menggunakan majas-majas dalam penceritaannya. Majas-majas tersebut di antaranya harganya melangit, jalan-jalan yang mulus, duit terus mengalir, matanya berkaca-kaca. Selain majas-majas yang digunakan dalam novel ini juga terdapat istilah-istilah bahasa asing, di antranya to the point, leterlijk. Keunikan lain dalam novel ini yakni munculnya sajak-sajak dalam satu bab penuh. Sajak-sajak yang ada dalam novel ini dalam cerita dibuat oleh Abu Kasan Sapari yang diperuntukan untuk Lastri. Sajak-sajak yang menggambarkan suasana hati Abu Kasan Sapari terhadap Lastri. Sajak-sajak yang muncul secara tidak langsung menggambarkan gaya bersajak pengarang novel ini yakni Kuntowijoyo. Kehadiran sajak-sajak pada novel ini menambah keunikan gaya bahasa yang digunakan Kuntowijoyo. Di Rumpun Bambu Burung Kecil Pada suatu kali dalam perjalanan Di suatu rumpun bambu kutemukan Sebuah sarang dan didalamnya Seekor burung kecil yang manis Senyum di wajahnya Menyambut pengembara Lagu digendangkan Aku pun berhenti Banyaknya percakapan yang terselip kata-kata atau peribahasa Bahasa Jawa dalam novel ini dpengaruhi oleh latar cerita novel ini yang merupakan kehidup masyarakat Jawa. Selain itu penggunaan Bahasa Jawa, tembang macapatan, peribahasa-peribahasa Jawa, dan gaya penuturan yang sederhana 54 Ibid, h. 162.

85 75 selain karena novel ini berlatar kehidupan masyarakat Jawa, kontribusi pegalaman pengarang juga terlihat dari gaya bahasa yang digunakannya. Kuntowijoyo merupakan pengarang yang hidup dalam lingkungan dan budaya Jawa. Sedikit banyak interaksi pengarang dengan lingkungan dan budaya tempat dia berkembang, tentunya berpengaruh terhadap karya-karyanya, termasuk novel Mantra Penjinak Ular. B. Etika Profetik dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo Layaknya karya sastra pada umumnya, baik itu yang bergenre prosa, puisi, ataupun naskah drama pastilah terkandung pemikiran seorang pengarangnya dalam karya sastra tersebut. Sebut saja kredo puisinya Sutardji Calzoum Bachri tentang melepaskan kata dari beban makna, yang terlihat dalam puisi-puisinya contohnya Sihka-Winka, dan YB. Mangunwijaya dengan sufistiknya yang terasa kuat pada puisi-puisinya. Oleh karenanya mengetahui biografi seorang pengarang dengan mengetahui pemikiran-pemikiran pengarang menjadi cukup penting ketika hendak mengkaji karya sastra yang dibuat pengarang tersebut. Novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo yang dibahas dalam karya ilmiah ini juga banyak mengandung buah-buah pemikiran dari pengarangnya. Kuntowijoyo selain sebagai sastrawan, dia juga dikenal sebagai akademisi, dan sejarawan. Salah satu buah pemikiran Kuntowijoyo dalam bidang sastra yang khas yakni, konsep sastra profetik. Seperti telah dibahas pada sebelumnya salah satu aspek yang termasuk dalam konsep sastra profetik yang digagas Kuntowijoyo adalah etika profetik. Etika Profetik ini tersendiri terdiri dari humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga etika profetik tersebut hadir dalam novel ini dengan gaya yang khas Kuntowijoyo. Oleh karena itu pembahasan terhadap erika profetik yang terkandung dalam novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo menjadi bahasan utama dalam karya ilmiah ini. a. Humanisasi

86 76 Humanisai menjadi salah satu dari ketiga etika profetik yang disebutkan Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetiknya. Istilah humanisasi yang digunakan oleh Kuntowijoyo berangkat dari istlah nahi munkar, yang berarti menyuruh kepada kebaikan. Kuntowijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid, berpendapat mengenai humanisasi. Dalam bahasa latin humanitas berarti mahluk manusia, kondisi menjadi manusia, jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan kebendaan, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. 55 Kuntowijoyo berpendapat bahwa humanisasi amatlah diperlukan pada zaman era modern saat ini. Dimana era pembangunan, dan kemajuan teknologi sedang berkembang sangat pesat. Kuntowijoyo berpendapat mengenai hal tersebut dalam maklumat sastra profetiknya. humanisasi kita perlukan sebab ada tanda-tanda bahwa masyarakat kita sedang menuju ke arah dehumanisai. Dehumanisasi ialah objektivasi manusia (teologis, budaya, massa, negara), loneliness (privatisasi, individualisasi), dan spiritual alienation (keterasingan spritual). Dalam dehumanisai perilaku manusia dikuasai oleh alam bawah sadarnya daripada oleh kesadarannya. Tanpa kita sadari dehumanisasi sudah menggerogoti masyarakat indonesia, yaitu terbentuknya manusia mesin, manusia dan masyarakat massa, dan budaya massa 56 Berdasarkan kutipan uraian Kuntowijoyo, kita dapat menarik kesimpulan bahwa humanisasi diperlukan dalam upaya mencegah apa yang dinamakan sebagai bentuk-dehumanisai seperti objektivasi, loneliness, dan spiritual alineation. Selain daripada bentuk-bentuk dehumanisasi tersebut, kuntowijoyo juga menyinggung tentang istilah menghilangkan kebendaan. Kuntowijoyo menyebit arti lain dari kebendaan sebagai dehumanisasi tradisional. Bentukbentuk dehumanisasi tradisional yang masih melanda masyarakat diantaranya pemujaan wesi aji dan batu mulia, kekeramatan kuburan, sesaji, topa macammacam, tuyul, jimat, mantra, santet, dan sebagainya. 55 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, (Bandung: Mizan, 2001), h Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika dan Struktur, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), h. 17.

87 77 Bentuk-bentuk dehumanisasi yang Kuntowijoyo sebutkan dalam maklumat sastra profetiknya, juga muncul dalam karya-karya sastranya. Banyak karya-karya sastra yang dihasilkan Kuntowijoyo yang menampilkan masalah terkait bentuk-bentuk dehumanisasi, tidak terkecuali novel Mantra Penjinak Ular. Bentuk dehumanisasi yang pertama akan dipaparkan yakni objektivitasi manusia (manusia hanya jadi objek). Masalah objektivasi manusia ini dialami oleh tokoh utama dalam novel ini, yakni Abu Kasan Sapari. Objektivasi manusia tersebut dilakukan oleh negara (dalam hal ini pemerintah) dan juga oleh mesin politik partai yang berkuasa kala itu. Tokoh Abu Kasan Sapari merupakan pegawai negeri/ pemerintahan bekerja di bawah naungan pemerintah. Selain berkerja sebagai pegawai negeri Abu Kasan juga dikenal sebagai dalang. Sebagai pegawai negeri dia merupakan pegawai negeri yang berhasil di bidangnya, begitu pun juga sebagai dalang dia cukup terkenal. Bentuk-bentuk objektivasi oleh negara dan mesin politik ini berawal diakrenakan Abu Kasan Sapari yang terlibat dalam pilkades desa dengan kesenian wayang. Abu Kasan Sapari mendalang untuk beberapa permintaan calon lurahlurah di kecamatan kemuning. Tanpa disadari Abu Kasan Sapari, keterlibatannya dirinya dan kesenian wayang pada saat itu membuat beberapa calon lurah dari mesin politik kalah. Inilah yang membuat target kemenangan pilkades dari mesin politik tidak tercapai. Menyadari bahwa kegagalan pilkades tersebut disebabkan oleh Abu Kasan Sapari, mesin politik partai penguasa kala itu yang disebut dalam novel ini sebagai partai randu dengan kekuasaannya berhasil memutasikan Abu Kasan Sapari. Ketika dimutasikan ke kecamatan Tegalpandan, di sinilah bentuk-bentuk objektivasi oleh negara bermunculan. Abu Kasan Sapari sendiri makin dikenal di kecamatan tegalpandan karena menjadi ketua organisasi pecinta ular (MPU Nogogini) serta juga menndirikan paguyuban dalang independen bersama kawankawannya. Selain itu artikel seorang wartawan yang merupakan kawan Abu Kasan Sapari menuliskan tentang visi misi seorang dalang. Artikel tersebut bersumber dari wawncara Abu Kasan Sapari dengan wartawan tersebut. Artikel

88 78 tersebut berhasil menyedot perhatian banyak kalangan karena memperlihatkan bahwa kesenian wayang harus terbebas dari berbagai unsur kepentingn, termasuk politik. Potensi Abu Kasan Sapari yang dapat menjadi batu sandungan mesin politik, disadari oleh mereka. Hal ini dikarneakan Bapilu mesin poltik telah memutuskan untuk menggunakan media kesenian wayang sebagai kampanye pemilu. Akhirnya mesin politik dari partai Randu mengajak Abu Kasan Sapari untuk bergabung dengan partai mereka. Abu Kasan Sapari terpilih menjadi caleg dari partai Randu tersebut. padahal Abu Kasan Sapari tidak pernah mendaftarkan atau didaftarkan untuk menjadi caleg. Abu Kasan Sapari menyadari dirinya hanya dijadikan objek oleh mesin politik partai Randu. Hal ini dikarenakan posisi Abu Kasan Sapari sebagai dalang dan juga sebagai pendiri Paguyuban Dalang Indpenden dapat memuluskan langkah mereka dalam mencapai target di pemilu. Penggunaan media kesenian wayang dalam kampanye pun tidak terpengaruh dengan gerakan dalang independen tersebut apabila Abu Kasan Sapari menjadi caleg. Abu Kasan Sapari menolak tawaran menjadi caleg dan ikut dalam partai tersebut. Terimalah ucapan selamat kami. Kami DPD telah memilih Pak Abu sebagai caleg jadi, kata Ketua Badan Seleksi. Pak Abu lolos ketimbang sembilan calon lain..... Abu mengerti duduk soalnya. Ia menolak. tentu saja itu di luar harapan para tamunya. Sebab, orang lain berebut menjadi caleg jadi. Karenanya penolakan itu aneh bagi mereka. 57 Abu Kasan Sapari heran, besar benar harga dirinya? Mungkin karena Bapilu Mesin Politik sudah memutuskan menggunakan media pedalangan untuk kampanye? Kedudukannya sebagai Ketua Paguyuban Pdelangan jadi penting? Organisasi pedalangan tanpa anggota, eh tiga puluh orang itu? Jadi, ini semua pasti gara-gara angka yang ditulis wartawan itu. 58 Akhir-akhir ini ada sebuah kekuatan politik ingin merekrutnya untuk keperluan kampanye tapi ditolaknya. AKS berpendapat seni itu seperti air. Artinya, kalau ada yang benjol-benjol dalam masyarakat seni akan menutupinya Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h Ibid, h Ibid, h. 170.

89 79 Abu Kasan Sapari menyadari bahwa ada bentuk-bentuk objektivasi kepada dirinya sebagai dalang oleh mesin politik. Abu Kasan Sapari mengatakan bahwa dalang dengan kesenian wayang tidak memihak pada suatu kepentingan politik. Seni menurut Abu Kasan Sapari jangan hanya menjadi antek politik karena akan mengingkari tugasnya terhadap seni. Bentuk-bentuk objektivasi oleh mesin politik juga dialami oleh Abu Kasan Sapari dalam bentuk yang berbeda, namun tetap memiliki tujuan yang sama. Bentuk objektivasi kali ini berhubungan dengan organisasi MPU Nogogini yang diketuai oleh Abu Kasan Sapari. Abu Kasan Sapari yang pada saat itu telah menjadi ketua MPU Nogogini mengadakan pementasan di Bonbin Curug di Surabaya. Selesai pementasan Abu Kasan Sapari didatangi oleh dua orang dari partai Hijau Jawa Tengah, sebuah partai yang berusaha menyadarkan lingkungan. Abu Kasan Sapari diundang untuk datang ke sebuah rapat dan Abu Kasan Sapari diusulkan sebagai ketua departemen Propaganda. Rapat membahas kelengkapan susunan pengurus. Ini adalah embrio Partai Hijau di Jawa Tengah, kata Pimpinan sidang, Ketua Partai Hijau. Kita akan melakukan propaganda, kemudian organisasi, kemudian aksi. Abu Kasan Sapari diperkenalkan sebagai kandidat Ketua Departemen Propaganda. Semua setuju. 60 Pada rapat tersebut Abu Kasan Sapari menolak dengan nama partai, dikarenakan untuk urusan lingkungan politik lebih menyulitkan ketimbang memudahkan. Abu Kasan yang Sapari menyadari adanya bentuk objektivasi dirinya dengan organisasi MPU Nogogini yang diketuainya menolak usul pendirian partai dan mengusulkan dibentuknya LSM..... Dibentuk saja LSM, usul Abu. Politik itu soal kalah-menang. Padahal soal lingkungan bukan soal kalah-menang. Siapa pun yang berkuasa akan menghadapi masalah lingkungan Penolakan Abu Kasan Sapari terhadap bentuk-bentuk objektivasi tersebut, mencerminkan etika humanisasi yang dimaksud oleh Kuntowijoyo dalam 60 Ibid, h Ibid, h. 144.

90 80 maklumat sastra profetik. Penolakannya untuk bergabung dengan partai politik baik Randu maupun Partai Hiijau, diikuti oleh keinginannya sendiri sebagai manusia. Abu Kasan Sapari melihat politik yang dijalankan oleh mesin politik Randu banyak yang merugikan masyarakat, penuh dengan kecurangan. Selain itu mesin politik bergerak bagai mesin yang siap menerima perintah dari penguasanya. Secara tidak langsut lewat kata yang dipakai Kuntowijoyo dengan istilah mesin politik menandakan bahwa mereka yang tergabung ke dalam mesin poltik telah kehilangan derajata kemanusiaannya dan hanya bergerak seperti mesin tidak lagi bergerak berdasarkan rasa kemanusiaan mereka seperti akal sehat, nilai, dan norma. Perilaku manusia mesin hanya berdasar stimulus and response, seperti digambarkan dalam psikologi behaviorism. Perilaku manusia tidak lagi berdasar akal sehat, nilai, dan norma. Agresivitas, korupsi, selingkuh, tawur, dan semua kriminalitas adalah hasil dari manusia mesin itu. 62 Abu sebagai manusia dengan kesadaran dirinya menolak untuk ikut bergabung, meskipun diimingi oleh kenaikan pangkat dan berbagai keuntungan. Inilah yang dimaksud humanisasi menurut etika profetik Kuntowijoyo. Kesadaraan kemanusaiaan yang lahir dari dalam diri, dan menolak bentuk-bentuk dehumanisasi seperti objektivasi yang dialami Abu Kasan Sapari tersebut. Pada novel mantra penjinak ular, selain memunculkan bentuk-bentuk dehumanisasi modern dihadirkan pula bentuk bentuk dehumanisasi tradisonal. Dehumanisasi tradisional disebut Kuntowijoyo sebagai kebendaan. Pemujaan wesi aji dan batu mulia, kekramatan kuburan, sesaji, topa macam-macam, tuyul, jimat, mantra, santet, dan sebagainya. 63 Bentuk-bentuk dehumanisasi tradisional seperti ini menurut Kuntowijoyo masih terjadi di era masyarakat modern. Bentubentuk dehumanisasi tradisinoal tersebut dimunculkan oleh Kuntowijoyo dalam novelnya Mantra Penjinak Ular. Bentuk dehumanisasi tradisional yang pertama yakni tercermin dari perilaku kakek Abu Kasan Sapari dari pihak ayah. Ketika Abu Kasan Sapari 62 Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur, op. Cit., h Ibid, h. 21.

91 81 masih bayi, dia dibawa oleh kakeknya ke kuburan Ronggo Warsito untuk ngalap berkah. Kemudian, kakek meminta bayi itu. Dibawanya bayi merah yang terbungkus kain batik ke kuburan Ronggowarsito untuk ngalap berkah, meminta restu. 64 Ngalap berkah ke kuburan seperti itu dilakukan agar bayi tersebut mendapat berkah dan restu dari Ronggowarsito, selain itu juga mengharapkan si bayi nanti bisa seperti Ronggowarsito yang disegani dan dihormati. Selain ngalap berkah ke kuburan (mengkramatkan kuburan), terkadang setiap sore saat terang bulan kakek tersebut membawa Abu Kasan Sapari ke tepi saawah untuk digendongnya mengharap berkah dari bulan. Pada sore terang bulan kakek itu akan membawanya ke tepi swah, sebab di tempat itu bulan tidak terhalang pohon-pohon dan rumah-rumah. Sambil mengharap berkah bulan ia akan berkata, Run-turun. Bulan, minta kuningmu. Bulan, minta cahayamu. 65 Mengkramatkan suatu benda juga dilakukan oleh masyarakat Tegalpandan. Mereka mengkramatkan pohon beringin tua di depan terminal. Mereka menggermuni pohon yang tergeletak di tanah. Mereka tertegun. Ada ketakutan di wajah mereka. pohon yang entah kapan menanamnya. Pohon yang sudah menyatu dengan Tegalpandan. Waktu mereka kawin meskipun sedikit harus mengambil hiasan dari daun-daunan yang berasal dari pohon itu. Orang-orang tua masih harus membakar kemenyan di bawahnya. Pagi itu ada aturan baru untuk bis. Orang-orang pasar juga memerlukan menengok beringin itu sebelum memasang dagangan. 66 Terlihat bagaimana masyarakat masih terjebak dengan budaya-budaya yang merupakan bentuk dehumanisasi tradisional. Pada artikel yang dimuat di Harian Kompas edisi Senin, 30 Desember tahun Kuntowijoyo mengkategorikan fenomena dehumanisasi tersebut sebagai sakralisasi (mengkramatkan), dalam hal ini sakralisasi tempat. 64 Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h Ibid, h Ibid, h. 215.

92 82 Sakralisasi tempat kita temukan pada pemuliaan pada kepercayaan tentang manjurnya doa di makam-makam keramat, tentang gunung, tentang sendhang, tentang senthong (kamar dalam-tengah rumah Jawa). 67 Mengkramatkan sebuah pohon dan menganggap pohon tersebut dapat mendatangkan berkah atau kesialan bagi diri merka, secara tidak sadar telah menghilangkan derajat kemanusian yang ada dalam diri mereka. Sama halnya juga yang dilakukan oleh tokoh Kakek yang mengarap berkah terhadap makammakam leluhur di desa. Dimana bentuk-bentuk itu merupakan sakralisasi(mengkramatkan). Seperti yang dikatakan Kuntowijoyo bentuk-bentuk dehumanisai tradisional tersebut dikarenakan keadaan manusia yang lebih dikuasai bawah sadarnya, ketimbang kesadarannya. Dehumanisasi tradisional selanjutnya yakni mantra. Mantra ini menjadi bentuk dehumanisasi tradisional yang dominan dalam novel ini. Hal tersebut dikarenakan ini merupakan permasalahan yang dihadapi tokoh utma dalam novel ini Abu Kasan Sapari. Abu menggunakan mantra tersebut untuk menaklukan dan berinteraksi dengan ular. Awal mula Abu Kasan Sapari mendapat mantra tersebut ketika berada di acara cembeng sebuah perayaan yang diadakan di pabrik gula tasikmadu. Dia didatangi oleh seorang kakek yang memilihnya untuk menurunkan mntra penjinak ular miliknya. Mantra tersebut memiliki beberapa syarat dan ketentuan sebelum dikuasai penuh oleh pemiliknya. Bagus itu sudah betul. Ada laku yang harus dijalankan dan wewaler, pantangan yang tak boleh dilanggar. Laku-nya adalah kau harus ngebleng tidak makan minum selama tiga hari, kemudian mutih tidak makan garam selama tujuh hari. Wewaler-nya mudah, tapi sulit dijalankan. Kau tidak boleh melangkahi ular sekalipun ular itu boleh membiarkan ada ular mati tanpa dikuburkan Abu Kasan Sapari yang merasa dirinya terpilih senang, dan melakukakn semua syarat tersebut. Singkat kata Abu Kasan Sapari berhasil menguasai mantra tersebut, berhasil berinteraksi dengan ular. Abu Kasan Sapari juga mengerjakan 67 Kuntowijoyo, Mitologisasi dan Mistifikasi dalam Pemikiran Jawa, Kompas, Sabtu, 30 Desember 2000, h Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h. 21.

93 83 syarat-syarat yang dianjurkan oleh kakek tersebut, seperti selalu mengubur bangkai ular yang dilihatnya di manapun. Sebentar ular itu berhenti, Abu mengerti itu artinya ucapan terima kasih, kemudian menghilang di semak-semak. Ia berdiri, baru menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi dan ia tersenyum. Ia telah menguasai ilmu penjinak ular. 69 Dapat dikatakan mantra yang dimiliki Abu Kasan Sapari tidaklah terlalu buruk bagi dirinya. Lewat mantra tersebut dia bisa lebih denkat dengan ular dan alam, kemudian membuatnya sebagai aktivis pecinta lingkungan dan mengajak masyarakat tidak lagi memburu ular dan bersahabat dengan ular. Bisa dikatakan saat itu mantra tersebut tidak berdampak buruk kepada Abu Kasan Sapari. Akan tetapi lambat laun kecintaan Abu Kasan Sapari terhadap ular makin menggila dengan memelihara ular di dalam rumahnya. Tentunya itu membuat kepanikan tersendiri bagi warga di sekitar tempat Abu Kasan Sapari tinggal. Abu juga selalu memakai mantranya untuk berinteraksi dengan ular tersebut. Kecintaan Abu Kasan terhadap ular membuat dirinya kehilangan kesadaran diri tentang hidup bermasyarakat. Tentang warga sekitar rumahnya yang panik Abu Kasan Sapari memelihara ular di rumahnya. Dengan berbagai alasan Abu Kasan Sapari mencoba meyakinkan warga sekitar rumahnya bahwa ular itu tidak berbahaya. Dapat disimpulkan ketergantungan Abu Kasan Sapari terhadap mantra pejinak ular miliknya, kemudian melakukan pantangan-pantangan agar mantranya dapat dikuasai membuat Abu Kasan Sapari jatuh pada bentuk dehumanisasi tradisional. Kehilangan kesadaran diri bahwa setiap manusia harus dapat hidup bermasyarakat dengan baik juga dialami Abu Kasan Sapari akibat kecintaannya yang berlebihan terhadap ular, dengan memlihara ular di dalam rumahnya hal itulah yang membuat warga resah. Abu Kasan Sapari mulai menyadari bahwa dia amat ketergantungan dengan mantranya. Abu Kasan Sapari menyadari bahwa mantra bukan sastusatunya jalan untuk berinteraksi dengan ular. 69 Ibid, h. 28.

94 84 Abu pulang dengan kesimpulan bahwa mantra, laku, dan pantangan adalah salah satu cara, tapi bukan satu-satunya. 70 Abu juga mulai menyadari dirinya makin dijauhi oleh masyarakat karena ular peliharaannya tersebut. Abu Kasan Sapari mulai sadar bahwa dia harus melepas mantra yang dimilikinya dan juga melepas klanengannya (peliharaannya). Kesadaran Abu untuk melepas mantranya dimantapkan setelah dia bermimpi bertemu Eyangnya. Buang saja mantra itu, yang kau perlukan ialah ilmu, teknologi, dan doa, bukan mantra. Eyangnya turun dari dipan, dan melesat dengan kuda semberani. 71 Selain disarankan oleh Eyang dia juga disarankan oleh H. Syamsudin agar melepas mantra itu dan tidak meneruskannya ke orang lain. Jangan percaya! Itu gombal, itu sampah. Kau orang beriman. Karenanya malahan kau wajib memutuskan mata rantai sirik itu. Sekarang zaman modern, bukan zamannya mantra lagi. 72 Abu akhirnya memutuskan untuk memutus mata rantai mantra tersebut atas berbagai fakta yang dilihatnya dan pertimbangan dari orang-orang yang Abu Kasan Sapari percaya. Selain itu juga, dia akan menyerahkan ular peliharaannya kepada kebon binatang. Hal tersebut dikarenakan dirinya akan menikahi Lastri, dimana Lastri takut terhadap ular, dan kurang setuju Abu Kasan Sapari memelihara ular. Pelepasan mantra yang dan pemutusan mata rantai yang dilakukan Abu Kasan Sapari merupakan wujud etika humanisasi. Abu Kasan Sapari menemukan kesadaran diri bahwa yang dibutuhkan manusia bukanlah mantra tapi ilmu, teknologi, dan doa seperti yang dikatakan eyangnya. Mantra hanya akan membuatnya lambat laun kehilangan kesadaran diri sebagai manusia di dalam dirinya. dengan memutus mata rantai mantra penjinak ular yang ada pada dirinya, tokoh Abu Kasan Sapari telah berhasil melawan bentuk-bentuk dehumanisasi 70 Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 259.

95 85 tradisional pada dirinya. Dapat disimpulkan, pemutusan mata rantai mantra penjinak ular merupakan wujud etika humanisasi yang telah dilakukan Abu Kasan Sapari atas dehumanisasi tradisional (mantra) yang terjadi pada dirinya. Perlawanan Abu Kasan Saparai terhadap dehumanisasi tradisional tidak hanya terkait dengan mantra pejinak ular saja. Perlawanan Abu terhadap dehumanisasi tradisional lainnya yakni menolak segala macam sesaji dan pantangan yang berurusan dengan kesenian wayang. Seperti pada kasus pagelaran wayang yang diadakan untuk ruwat bumi, meskipun lurah setempat mengadakan itu dengan upaya untuk selamtan karena setelah pohon beringin di depan terminal tumbang para warga banyak mengalami gangguan-gangguan yang berbau mistis. Abu menerima permintan mendalang dengan berbagai syarat diantaranya tidak ada sesaji. Juga namanya diganti dari slametan menjadi ruwat bumi. Hal tersebut dilakukan oleh Abu Kasan Sapari setelah berunding dengan Lastri Mudah saja. Jangan sebut itu selamatan, kata Lastri. Lalu? Ruwat Bumi, atau apa begitu. Wah kok cerdas, Yu. Undang seorang ustadz untuk berceramah sebelum wayang dimulai. Lalu? Jangan pakai sesaji. Kata orang, itu malah mengundang setan. 73 Humanisasi terhadap bentuk-bentuk dehumanisasi tradisional juga hadir dalam penceritaan riwayat Eyang pada bab 13 dengan subjudul mencari akar. Eyang sewaktu muda menolak bentuk-bentuk dehumanisasi tradisional seperti memberi sesaji ketika ingin menebang pohon, sihir, takhayul, takut pada sebangsa jin. Seperti contoh ketika Eyang ingin menebang pohon dia tidak menggunakan sesaji apapun, dia juga tidak percaya pada kekramatan pohon-pohon yang ditumbangnya. Eyang hanya menggunakan orang-orang dan doa untuk menebang pohon-pohon tersebut, tanpa sesaji sedikitpun. 73 Ibid, h

96 86 Sebab, waktu itu sekarang saja juga demikian pohon-pohon tua dan besar itu dikira banyak penghuninya, dikeramatkan. Orang semula takut menebang. Hanya setelah dia mengucapkan doa-doa pengusir jin, orang berani menebang Tidak seorang pun berani menebang. Orang-oramg takut, kata mereka pohon itu banyak penunggunya. Jadi orang takut kualat. Tolong ditunggii, supaya orang berani. Sehari sebelum penebangan, eyang datang. Malam hari dia sengaja tidur dekat pohon untuk meminta para penghuni pergi Dulu itu ada yang disebut gendhel, bekas sayatan yang membengkak. Untuk menyembuhkannya orang biasa mencari batu-batu yang panas dan ditempelkan, dengan harapan bengkak itu segera mengering. Tetapi, mungkin batu itu justru yang menyebabkan bengkaknya tidak juga sembuh. Istilahnya sekarang mungkin batu itu tidak steril.... Eyang membuat ramuan yang istimewa, dan melarang pemuda itu menggunakan batu. Setengah bulan kemudian bengkaknya kempes-pes. 76 Dalam riwayat Eyang pada bab 13 dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia merupakan mahluk yang paling tinggi derajatnya. Seorang manusia jangan sampai jatuh pada bentuk-bentuk dehumanisasi tradisional yang malah justru membuat derajat manusia itu turun. Manusia tidaklah lagi membutuhkan hal-hal yang berbau mitos dan klenik seperti sesaji, pantangan, dan laku-lakuan. Manusia hanyalah butuh ilmu, teknologi, dan doa sebagai senjatan terakhirnya. Dapat dikatakan bentuk humanisasi terhadap dehumanisasi tradisional menurut Eyang bisa dapat dilakukan dengan ilmu, teknologi, dan doa. Peryataan Eyang yang mengatakan melawan bentuk-bentuk dehumanisasi tradisional dengan ilmu, teknologi, dan doa, sejalan dengan apa yang dikatakan Kuntowijoyo. Pada sebuah tulisan M. Mustthafa, di sana dikutip pendapat Kuntowijoyo mengenai perlawanan terhadap mitologisasi (dehumanisasi tradisional). 74 Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 207.

97 87 Menurut Kuntowijoyo, ada beberapa media yang dapat menjalankan fungsi demitologisasi, yaitu ilmu dan teknologi, gerakan puritanisme agama, serta sejarah dan seni. 77 Pada saat pilkades di desa kemuning, banyak calon lurah yang menggunakan dukun untuk memenangkan mereka dalam pemilihan kepala desa tersebut. Dukun tersebut memberi anjuran laku-lakuan yang harus dilakukan oleh calon lurah jika ingin memenangi pilkades di desanya. Laku-lakuan tersebut seperti mandi di sendan, lek-lekan selama tujuh malam, dan sebagainya. Semua laku-lakuan yang dianjurkan oleh dukun tersebut dilakukan oleh calon lurah tersebut. Dia sudah mengimbanginya dengan lek-lekan selama tujuh malam. Untuk mencegah kantuk, orang bermain kartu cina, dengan sedikit taruhan. Dukun telah memlihkan gambaran yang tepat, yaitu Obor. Dia juga telah memenuhi saran dukun untuk nyekar di makam cakal bakal desa. 78 Dapat dikatakan kepercayaan dan ketergantungan calon lurah tersebut kepada dukun, merupakan salah satu bentuk dari dehumanisasi tradisional. Calon lurah tersebut terjebak pada apa yang disebut dehumanisasi tradisional. Calon lurah tersebut kehilangan kesadaran dirinya sebagai manusia yang harusnya percaya pada hal-hal yang realistis bukan percaya pada mitos, laku-lakuan, dan pantangan-pantangan yang sifatnya abstrak. Pada akhirnya calon lurah yang didukung dukun tersebut kalah. Itu artinya segala bentuk mitos, laku-lakuan, dan pantangan yang sifatnya abstrak tidak bisa diandalkan untuk menarik simpati warga untuk memilihnya, karena perilaku seperti laku-lakuan itu manfaatnya tidak bisa dirasakan oleh masyarakat. Hal-hal yang bersifat realistis seperti wayangan semalam suntuk yang dilakukan, mungkin akan lebih bisa menarik simpati warga karena manfaatnya bisa dirasakan oleh warga. Kuntowijoyo menyinggung di dalam maklumat sastra profetiknya mengenai manusia mesin. Perilaku manusia mesin hanya berdasarkan stimulus and responce, seperti digambarkan dalam psikologi behaviorisme. Perilaku 77 M. Musthafa, Demitologisasi Melalui Seni, Kompas, 12 November 2001, h Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h. 109.

98 88 manusia tidak lagi berdasarkan akal sehat, nilai, dan norma. Kuntowijoyo menyebut fenomena tersebut sebagai otomatisme (manusia jadi otomaton, bergerak secara otomatis). Fenomena manusia mesin seperti itu dimunculkan oleh Kuntowijoyo dalam novelnya Mantra Penjinak Ular. Pada novel tersebut bisa dilihat perilaku manusia mesin dapat terlihat dalam perilaku mesin politik. Mesin politik dalam novel Mantra Penjinak Ular merupakan mesin yang berkerja untuk partai Randu. Mesin politik berisi orang-orang Randu/ loyalis Randu. Orang-orang tersebut tidak hanya orang yang berkecimpung di partai saja, melainkan juga para pegawai pemerintahan yang juga ikut menjadi bagian dari mesin politik. Mesin politik bertugas untuk menjaga hegemoni kekuasaan partai randu di masyarakat menjelang pemilu. Mesin politik berkerja hingga desa-desa (contohnya dalam pilkades) untuk menghegemoni masyarakat supaya randu bisa menang dalam pemilu. Target tersebut berusaha dicapai mesin politik lewat berbagai hal, dan menghalalkan segala cara. Seperti ketika mereka membuat konsopirasi penahanan Abu Kasan Sapari yang mencoba melawan mesin politik. Kemudian juga, mesinin politik lewat kekuasaannya sebagai mesin dari partai penguasa pemerintahan kala itu, melakukan pemutasian kepada pegawai pemerintahan yang tidak loyal terhadap randu, sebagai contoh peristiwa pemutasian Abu Kasan Sapari dan Camat Baru Kemuning. Hal-hal abnormal yang dilakukan oleh mesin politik tersebut telah mencirikan apa yang dinamakan sebagai manusia mesin. Orangorang yang ada dalam mesin politik bergerak atau berkerja berdasarkan perintah dari randu (penguasa). ingat, target pilkades dan pemilu kita ialah seratus persen. Itu kalau kau masih mau jadi sekda, bisik mesin politik lagi. 79 Melihat kutipan tersebut, bisa terlihat mesin politik menginginkan kemenangan randu seratus persen dalam pilkades dan pemilu. Mereka mencoba mencapai target tersebut dengan menekan camat untuk mengkondisikan warganya 79 Ibid, h. 111.

99 89 agar memilih Randu. Penekanan kepada camat tersebut berupa sebuah bentuk nepotisme, yakni tawaran jabatan sebagai Sekda. Mereka, orang-orang yang ada dalam mesin politik tidak lagi melihat apa yang mereka kerjakan berdasarkan nilai, norma, dan akal sehat. Akan tetapi, mereka berkerja atau bergerak hanya berdasarkan perintah. Dengan kata lain mereka seperti mesin yang bergerak atau berkeja sesuai apa yang diinginkan penggunanya. Secara tidak sadar mereka para mesin politik lewat perintah-perintah dan target-target yang diembankan kepada mereka, telah menghilangkan harkat kemanusiaan mereka. Mereka tidak lagi mempertimbangkan akal sehat mereka, norma, serta nilai yang ada dalam diri mereka. Para mesin politik hanya bergerak berdasarkan perintah yang diembankan kepada mereka. para mesin politik tidak lagi menjadi manusia yang utuh karena mereka tidak menggunakan kesadaran (akal sehat, norma, serta nilai) dalam melaksanakan perintah. Jadi dapat disimpulkan mesin politik yang muncul dalam novel mantra penjinak Ular mencerminkan apa yang dinamakan manusia mesin. Lewat perilakunya yang abnormal, melakukan sesuatu tidak berdasrakan kesadaran, karena hanya mementngkan perintah dan target yang ingin mereka capai. Menurut Kuntowijoyo terbentuknya manusia mesin sebagai akibat dari dehumanisasi, dimana perilaku manusia hanya dikuasai oleh bawah sadarnya ketimbang kesadarannya. Pada novel Mantra Pejinak Ular ada konflik antara Abu Kasan Sapari dengan para warga desa yang tidak setuju Abu Kasan Sapari memelihara ular. Konflik tersebut berujung pada peristiwa gropyokan. Peristiwa tersebut dilakukan oleh para warga untuk menusir Abu Kasan Sapari dan ularnya. Mereka melakukan gropyokan karena tidak puas dengan hasil pertemuan yang dilakukan di mana pertemuan tersebut menghasilkan keputusan Abu Kasan Sapari boleh memelihara ular di dalam rumahnya. Dalam melakukan gropyokan tersebut, para warga tidak berhasil menemui Abu Kasan Sapari. Kekecewaan mereka, dilampaiaskan dengan tindakan agresif dengan meenggedor-gedor pintu dengan linggis, kemudian mendobrak pintu kos Abu Kasan Sapari.

100 90 pada dini hari orang-orang mulai menggebrak-gebrak pintu dengan linggis. Mereka jadi lebih galak, lebih beringas. Makin lama makin banyak. 80 Peristiwa gropyokan dapat dikatakan sebagai sebuah agrseivitas kolektif. Hal ini dapat dibuktikan dengan tindakan para warga yang tidak bisa menerima keputusan pertemuan. Mereka mencoba mengusir Abu Kasan Sapari dan ularnya, yang jelasjelas belum pernah membuat masalah di sekitar lingkungannya. Mereka juga bertindak agresif dalam gropyokan dengan membawa senjata-senjata, menggebrak-gebrak pintu, sampai pada mendobrak pintu. Hal-hal tersebut sudah cukup menandakan peristiwa gropyokan tersebut sebagai sebuah agresivitas kolektif. Kuntowijoyo menyebut bahwa agresivitas kolektif ini merupakan bagian dari manusia massa. Manusia massa menurut Kuntowijoyo memandang realitas tidak secara utuh, lebih banyak menekankan aspek emosional daripada intelektual. 81 Memandang realitas tidak secara utuh dan lebih banyak menekankan aspek emosional sejalan dengan apa yang tercermin dari peristiwa gropyokan dalam novel mantra penjinak ular. Para warga merasa takut akan ular yang dipelihara Abu Kasan Sapari di dalam rumahnya, dan berpikir yang tidak-tidak mengenai ular tersebut. Ketakutan mereka membuat mereka tidak bisa melihat realita yang ada bahwa ular yang dipelihara Abu Kasan Sapari itu jinak, ular tersebut juga ada di dalam kandang yang kuat dan tidak mungkin bisa kabur dan memangsa hewan ternak seperti yang dituduhkan warga kepada ular tersebut. Ketakutan warga itulah yang menimbulkan gropyokan yang berisi tindakan-tindakan agresif. Dapat disimpulkan, ketakutan dalam diri orang-orang yang melakukan gropyokan tersebut menghasilkan suatu tindakan agresif yang dilakukan secara kolektif. Ketakutan mereka dalam hal ini aspek emosional dalam diri mereka membuat mereka tidak bisa memandang realitas keadaan sesungguhnya secara utuh. 80 Ibid, h Kuntowioyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur, op. Cit., h. 19.

101 91 Pada novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo terdapat banyak bentuk-bentuk dehumanisasi. Baik itu berupa dehumanisasi modern maupun tradisional. Dehumanisasi moedern muncul dalam bentuk objektivasi manusia dan juga manusia mesin. Kemudian dalam dehumanisasi tradisional, Kuntowijoyo menghadirkan bentuk-bentuk dehumanisasi tradisional, seperti sakralisasi (mengkramatkan) tempat, keterikatan terhadap mantra, dan melakukan lakulakuan serta pantangan. Etika humanisasi, tercermin dari proses mencapai kesadaran sebagai manusia seutuhnya ditampilkan oleh Abu Kasan Sapari yang terbebas dari dehumanisasi. Baik itu dehumanisasi modern, seperti objektivasi dirinya oleh Mesin Politik, maupun dehumanisasi tradisional, yakni mantra penjinak ular yang dikuasai dirinya. b. Liberasi Liberasi dalam etika profetik yang dirumuskan Kuntowijoyo berakar dari makna nahi munkar. Nahi munkar sendiri memiliki makna mencegah kepada halhal yang munkar/ mencegah kepada kemunkaran. Istilah liberasi berasal dari kata latin liberare yang berarti memerdekakan/ pembebasan, semuanya dengan konotasi yang mempunyai signifikansi sosial. 82 Seperti yang diketahui sasaran liberasi ada empat, yaitu sistem pengetahuan, sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik. 83 Masalah-masalah belenggu terhadap suatu sistem yang menjadi sasaran liberasi tersebut, dimunculkan oleh Kuntowijoyo dalam karya-karya sastranya, tidak terkecuali novel yang menjadi objek penelitian ini yakni mantra penjinak ular. Masalah-masalah yang berkaitan dengan etika liberasi muncul dalam bentuk masalah-masalah yang dihadapi para tokohnya dalam novel mantra penjinak ular. Secara tidak sadar beberapa tokoh dalam novel ini telah melakukan apa yang dinamakan etika profetik, yakni etika liberasi. Etika yang dikonsepkan Kuntowijoyo dalam pemikirannya tentang sastra profetik. Perwujudan etika 82 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, op. Cit., h Ibid, h. 370.

102 92 liberasi beserta masalah-masalahnya akan dipaparkan jelas di paragraf selanjutnya. Pada novel Mantra Penjinak Ular muncul masalah terkait penindasan mesin politik terhadap kebebasan berkesenian. Penindasan tersebut yakni upaya mempolitisasi kesenian. Upaya tersebut berupa memanfaatkan kesenian wayang untuk kepentingan-kepentingan politik. Kesenian wayang digunakan untuk menghegemoni masyarakat. Hal tersebut digunakan Mesin Politik dalam upaya mempertahankan kekuasaan kaum penguasa kala itu, yakni randu. Memanfaatkan seni untuk melanggengkan kekuasaan atau kepentingan politik di negeri ini memang bukan hal yang baru. Memanfaatkan seni sebagai propaganda politik ini dilakukan pula pada saat era presiden Soekarno. Di bawah kepempinan presiden pertama Indonesia, Soekarno, semua partai politik tahu cara memanfaatkan pertunjukan wayang kulit Jawa untuk tujuan-tujuan propaganda. Setiap partai berusaha menggambarkan dirinya sebagai pihak yang benar dan unggul sehingga mengidentifikasikan dirinya sebagai Pandawa yang berada di pihak yang benar dalam kisah Mahabharata. 84 Nirwan Dewanto dalam tulisannya Politik (dan) Kesenian: Pelajaran dari Dua Zaman kekuasaan, pun berpendapat bagaimana pentingnya seni guna mempertahankan Dan agar publik terpesona kepadanya mengakui dan mendukungnya kekuasaan juga menyediakan panggung penampilan. Kekuasaan memerlukan keindahan yang, secara langsung atau tidak, bisa melegitimasikannya. Demikianlah kita memahami mengapa suatu politik kesenian diselenggarakan. 85 Memanfaatkan seni untuk menarik hati masyarakat dilakukan Mesin Politik. Sebagai contohnya dalam novel ini, Mesin Politik berusaha menggunakan media wayang sebagai media kampanye sebelum pemilu diselenggarakan, mereka 84 Marshall Alexander Clark, Wayang Mbeling: Sastra Indonesia Menjelang Akhir Orde Baru, (Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), 2008), h Nirwan Dewanto, Senjakala Kebudayaan, (Yogyakarta: Bentang, 1996), h. 91.

103 93 menggunakan hal tersebut agar masyarakat memilih Randu pada saat pemilu nanti. Ia mendapat keterangan bahwa untuk keperluan kampanye Mesin Politik berencana mengumpulkan para dalang. Di setiap desa akan diselenggarakan wayangan. Sebagai dedengkot para dalang, ia sudah disowani Mesin Politik untuk diminta restunya. 86 Mengumpulkan para dalang untuk mendukung sebuah partai politik (Randu) yang muncul dalam novel Mantra Penjinak Ular, mirip dengan apa yang dilakukan presiden Soeharto ketika masa kepemimpinannya. Kala itu presiden Soeharto memanfaatkan media wayang untuk menyampaikan propaganda pemerintah dan juga untuk mendukung partainya, yakni Golkar. Rezim Orde Baru Soeharto mengarahkan para dalang untuk secara terbuka mendukung partai politik pemerintah, Golkar, dan pertunjukan wayang sering digunakan untuk menyampaikan propaganda pemerintah. Dari waktu ke waktu Soeharto menyampaikan pidato yang menunjukkan bahwa wayang dpergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan seperti pentingnya pembangunan ekonomi dan keluarga berencana (Sears, 1996). 87 Selain Mesin Politik, kesenian juga digunakan tokoh utama Abu Kasan Sapari dalam upaya melawan kekuasaan kaum penguasa beserta mesin politiknya. Perwujudan politisasi kesenian yang dilakukan Abu Kasan Sapari dalam novel ini terlihat pada bab VII novel ini dengan sub judul Abu Versus Mesin Politik, Botoh, dan Dukun. Pada bab tersebut bercerita tentang peristiwa dilakukannya pilkades serentak di Kecamatan Kemuning. Pada pilkades di daerah tempat kerjanya tersebut, Abu kasan Sapari melihat banyak kecurangan dalam hajat demokrasi tersebut. Di sana ada campur tangan mesin politik, botoh, dan peran dukun. Abu Kasan Sapari yang saat itu sudah dikenal sebagai dalang diminta oleh beberapa lurah untuk mendalang dalam kampanye lurah-lurah tersebut. Pemanfaatan kesenian wayang tersebut tidak disadari oleh abu kasan sapari sebagai bentuk politisasi kesenian, dimana pertunjukan wayang tersebut digunakan untuk menarik simpati masyarakat untuk memilih lurah-lurah tersebut. Benar saja dari 86 Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h Alexander Clark, op. Cit., h. 23.

104 94 empat calon lurah yang menggunakan kesenian wayang dalam kampanye, tiga diantaranya terpilh sebagai lurah. Dukungan Abu Kasan Sapari masuk tiga, satu gagal, yaitu guru SLTP itu. Politik tingkat desa itu oleh koran Suara Bengawan digambarkan setengah jujur setengah tidak. Sebab, ada keterlibatan sihir. Sihir itu bernama mesin politik, botoh, dukun dan kesenian. 88 Politisasi kesenian yang sengaja dilakukan oleh mesin politik, maupun yang secara tidak sengaja dilakukan Abu Kasan Sapari tersebut dapat dikatakan telah membelenggu kesenian wayang (seni) itu sendiri. Wayang (seni) yang seyogyanya banyak memiliki nilai-nilai di dalamnya, dan berfungsi sebagai kesenian yang multifungsi sekaligus banyak menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat setelah dipolitisasi seolah membelenggu kesenian wayang itu sendiri. Wayang menjadi kesenian yang hanya bertujuan dan berfungsi sebagai alat politik, sebagai alat mempertahankan kekuasaan maupun melawan kekuasaan. Secara tidak sengaja dan tidak disadari Abu Kasan Sapari telah melakukan politisasi kesenian untuk memenangkan lurah-lurah yang meminta tolong padanya. Ia baru menyadari bahwa Ia melakukan politisasi kesenian ketika membaca surat kabar Bengawan yang menyebutkan bahwa politik tingkat desa itu digambarkan setengah jujur setengah tidak. Karena ada campur tangan mesin politik, botoh, dukun, dan kesenian. Sihir itu bernama Mesin Politik, botoh, dukun, dan kesenian. Sihir itu meskipun tidak melanggar peraturan, tetapi mempengaruhi kemurnian suara. orang terpengaruh oleh gaya, tidak oleh isi. Karena di sebut-sebut kesenian, Abu mengerti bahwa yang dimaksud adalah wayangan. 89 Sejak saat itulah Abu Kasan Sapari menyadari bahwa kesenian tidak boleh dipolitisasi, kesenian itu keindahan yang otonom. Kesadaran Abu Kasan Sapari akan kesenian yang harus bebas dari belenggu sistem politik. Upaya pembebasan terhadap sistem politik kepada kesenian tidak hanya dalam kesadaran semata, tapi juga dalam bentuk upaya yang 88 Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h Ibid, h. 110.

105 95 nyata, dengan mendirikan paguyuban dalang independen. Pendirian paguyuban tersebut berangkat dari pengalaman Abu Kasan Sapari yang pernah melakukan politisasi kesenian, dan membuatnya harus berurusan dengan mesin politik karena dianggap sebagai penghalang mesin politik dalam mempertahankan hegemoninya dalam masyarakat. Petikan yang menggambarkan pemikiran abu terhadap kesenian yang harus otonom dan independen terlihat pada petikan wawancaranya dengan teman wartawan. Nanti dulu. Kita mesti membedakan dua hal, yaitu dalang sebagai seni pedalangan dan dalang sebagai pribadi. Dalam hal pertama, para dalang jangan mempergunakan seni pedalangan untuk keperluan politik, artinya mendalang dalam rangka kampanye suatu parpol tidak boleh secara mutlak. Tetapi, dalam hal kedua, diam diam seorang dalang boleh menggunakannya sebagai warga negara untuk menjadi pendukung parpol. Hanya saja kalau sampai ketahuan orang lain itu berarti cacat budaya yang dapat mempunyai akibat-akibat buruk baginya, seperti tersingkir dari komunitas dalang. Karenanya saya sendiri tidak akan mengerjakan hal kedua itu. 90 pemikiran-pemikiran Abu Kasan Sapari terkait liberasi kesenian juga terlihat pada tulisan wartawan pada halaman 170 novel ini. Akhir-akhir ini ada sebuah kekuatan politik ingin merekrutnya untuk keperluan kampanye tapi ditolaknya. AKS berpendapat bahwa seni itu seperti air. Artinya kalau ada yang benjol-bejol dalam masyarakat seni akan menutupinya, menjadikannya datar. Kalau ada api seni menyiramnya. Mengutip ajaran Sunan Drajat bahwa seni memberi air mereka yang kehausan, memberi payung mereka yang kehujanan, memberi tongkat pejalan yang sempoyongan. Sebaliknya, seni yang hanya menjadi antek politik akan mengingkari tugasnya sebagai seni. 91 Bisa terlihat perwujudan liberasi kesenian yang dilakukan oleh Abu Kasan Sapari yakni dalam bentuk, tidak lagi melibatkan wayang dalam kegiatan politik, seperti contoh kampanye. Selain tidak lagi melibatkan wayang dalam kegiatan politik, Abu Kasan juga mendirikan Paguyuban Dalang Independen, paguyuban tersebut menginginkan kesenian wayang yang bebas dari penindasan politik berupa intervensi kepada para dalang, maupun politisasi kesenian wayang itu 90 Ibid, h Ibid, h

106 96 sendiri. Dapat disimpulkan, Abu Kasan Sapari yang sebelumnya pernah memanfaatkan kesenian untuk calon-calon lurah, akhirnya menyadari kesalahannya. Kesalahannya tersebut merupakan bentuk penindasan terhadap seni. Kesadaran Abu Kasan Sapari yang tidak lagi melibatkan wayang dalam kepentingan politik tersebut mencerminkan kesadaran liberasi/ etika liberasi. Etika liberasi tersebut berupa liberasi terhadap kesenian. Perwujudan masalah lain dalam novel ini terkait etika liberasi, yakni adanya masalah terkait pemerintahan yang otoriter membungkam oposisi, monoloyalitas pegawai negeri, nepotisme, dan kronisme. Pada masalah pemerintahan yang otoriter kita bisa melihat perwujudannya ketika abu kasan sapari sebagai ketua paguyuban dalang independen diminta untuk diam sejenak dan tidak bersuara (tidak berkata apa-apa yang bisa merugikan Mesin Politik) ketika musim pemilu oleh mesin politik yang saat itu berkuasa di pemerintahan. Abu yang menyadari hal tersebut sebagai bentuk pembelengguan terhadap dirinya tidak mengindahkan peringatan dari mesin politik tersebut. Hal tersebut menjadi salah satu faktor ditahannya Abu Kasan Sapari oleh polisi. Penahanan tersebut direkayasa sedemikian rupa dengan harapan Abu Kasan Sapari kapok, diam, dan tidak lagi melawan penguasa (dalam hal ini Mesin Politik). Dapat terlihat rekayasa penahanan abu yang mencerminkan otoriternya penguasa, dengan menyematkan tuduhan anti pancasila, subversi, dan makar. Ia melihat dokumen, Lho, kok anti-pancasila, subversi, makar? Perintah penangkapan yang saya tandatangani hanya soal kriminal biasa, katanya. kalau begitu ini tugas tentara, bukan polisi. 92 Seorang polisi menyerahkan secarik kertas kepada Kepala Polisi. Ada memo dari randu Isinya? Supaya menyukseskan pemeriksaan terhadap AKS. Sudah diperiksa, to? Sudah, tapi tidak ditemukan indikasi apa-apa. Kalau begitu memo ini mblegedhes! Mbleghedes! 92 Ibid, h. 166.

107 97 Kepala Polisi lalu membuat SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). 93 Masalah lain yang menyangkut liberasi, yakni monoloyalitas pegawai negeri. Terkait masalah monoloyalitas pegawai negeri, pada Bab VI novel ini dengan subjudul Wahyu Pohonan penggambaran seorang pegawai negeri harus loyal kepada pemerintahan. Ini semacam belenggu bagi para pegawai negeri. Monoloyalitas pegawai negeri inilah kadang yang mengenyampingkan kepentingan-kepentingan masyarakat di dalamnya. Monoloyalitas ini merupakan bentuk mempertahankan kekuasaan penguasa kala itu. Sudah bukan barang tabu ketika membahas monoloyalitas, bila seorang pegawai tidak loyal, tentunya mereka akan dipersulit karirnya. Kita bisa melihat perwujudan belenggu tersebut dalam diri camat baru kemuning. Diceritakan dalam novel ini bahwa camat baru kemuning tersebut karir puncaknya tidak lebih dari camat, hal itu dikarenakan dia tidak loyal kepada pemerintahan Setidaknya, ia bukan tipe camat santai. Kabarnya dia sudah dicap bahwa kariernya seumur hidup hanya akan setingkat camat. Karena dinilai tidak loyal istilahnya tidak monolyalitas dia tidak akan pernah menjadi Sekda Kabupaten, meskupun sebenarnya waktunya sudah sampai. 94 Ketidakloyalan camat Kemuning dapat kita katakan sebagai bentuk liberasi terhadap apa yang membelenggu pegawai negeri, belenggu tersebut berupa monoloyalitas. Bentuk-bentuk liberasi yang dilakukan camat baru Kemuning terlihat dalam program-program yang dilaksanakannya. Program camat baru Kemuning tersebut berlawanan dengan program dari penguasa/ Mesin Politik Randu terhadap desa. Seperti program jatinisasi yang dilaksanakan di kemuning berlawanan dengan program randunisasi oleh penguasa/ Mesin Poltik (Randu). Tapi jangan heran kalau ada oknum politik yang terlalu bersemangat dan menginginkan pohon randu, dan bukan pohon jati. Ini tidak menyenangkan, tapi itulah realitas kita. Kalau saya ya dua-duanya Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 93.

108 98 Mesin Politik bertindak semena-mena dengan melakukan berbagai macam upaya curang, dimulai dengan memajukan jarak pengumaman bakal calon lurah dengan hari pemilihan dipercepat, hal ini memungkinkan hanya calon-calon dari mesin politiklah yang lolos dikarenakan kesiapan mereka yang sudah disokong oleh mesin politik. Camat baru diminta oleh mesin politik untuk mempercepat pengumuman bakal calon lurah namun tidak dilaksanakan oleh camat baru kemuning tersebut.....ia memerintahkan Sekcam (Sekertaris Kecamatan) untuk membuat konsep SK Camat yang berisi bahwa Pilkades diadakan dua minggu setelah pengumuman. 96 Tokoh Abu Kasan Sapari juga dapat dikatakan menjadi pegawai negeri yang tidak monoloyalitas. Perlawanan abu terhadap mesin politik pada pilkades di kemuning saat itu membuatnya dicap sebagai pegawai negeri yang tidak loyal. Hal itu pun secara sadar dirasakan oleh Abu Kasan Sapari. Mesin politik menganggap Abu Kasan Sapari menjadi penyebab tidak terpenuhinya target dari mesin politik. Permasalahan tersebut yang akhirnya membuat Abu /kasan Sapari dimutasikan..... Camat tidak bisa berbuat apa-apa ketika Mesin Politik berusaha memindahkan sebelum waktunya, dan rasanan itu sudah beredar di Kemunging jauh sebelumnya. Pasalnya lurah-lurah yang dijagoi Randu banyak yang kalah di kecamatannya. Gara-gara itu ia dinilai tidak serius memperjuangkan Randu. Ada andi Abu dalam kegagalannya, dan itu membuat Abu tidak enak dengannya pada hari-hari berikutnya. 97 Surat itu berisi pemindahan Abu dari kecamatan itu. Maafkan, semua kesalahan saya, Pak. / tidak ada kesalahan, tidak ada yang harus dimaafkan. Kita semua menghadapi soal yang sama. Jangan bilangbilanng, kita sama-sama menghadapi keangkuhan kekuasaan. 98 Permasalahan terkait monoloyalitas pegawai negeri menjadi permasalahan yang cukup menarik. Meskipun dalam novel ini tidak mendapat porsi peristiwa yang lebih banyak. Dalam novel ini dapat terlihat perbedaan pegawai negri yang loyal kepada penguasa (randu) dan pegawai yang tidak loyal pada penguasa 96 Ibid, h Ibid, h Ibid, h. 112.

109 99 (randu). Camat lama Kemuning akibat monolyalitasnya kepada randu, serta prestasinya yang bisa menjaga kecamatan bebas dari hal-hal yang menggangu kekuasaan (randu) camat lama Kemuning dipromosikan sebagai pembantu bupati. Sedangkan camat baru yang tidak monolyalitas karirinya puncaknya tidak lebih dari camat. Bentuk-bentuk mutasi pegawai tanpa alasan yang jelas menjadi sebuah bentuk hukuman bagi pegawai negeri yang tidak monolyalitas. Bisa terlihat dari kasus Abu Kasan Sapari yang sebelumnya berkerja di bagian bangdes kecamatan kemuning dimutasi ke kecmatan tegalpandan dan mendapat bagian statistisk. Bupati karangmojo yang tidak bisa menyusekseskan pemilu dengan memenuhi target kemenangan mesin politik pun akhirnya dimutasi. Jadi dapat dilihat bagaimana permasalahan monolyalitas pegawai negeri ini cukup menarik karena berlangsung tidak hanya dalam lingkup kecamatan saja, tapi juga terus ke atas hingga tingkatan gubernur, dan bentuk-bentuk hukuman oleh penguasa terhadap pegawai-pegawai yang tidak monolyalitas hampir sama yakni pemindahan tugas kerja (mutasi). Pada catatan harian tokoh Abu Kasan Sapari ada sebuah paragraf yang juga menyinggung etika liberasi. Pada paragraf tersebut diceritakan masalah terkait belenggu-belenggu yang datangnya dari kekuatan luar/ eksternal yang berlangsung sampai pada era modern Kata penatar P-4, Indonesia dijajah 350 tahun. Kata dosen sejarah saya, itu hanya mitos, itu bohong. Mungkin kurang, mungkin lebih. Aceh, misalnya, baru awal abad-20 dijajah. Irian dijajah sampai Dan Timtim? Sekarang kita masih dijajah, tidak penjajahan politik, tapi ekonomi dan kebudayaan. Ya lumayan, daripada semua dijajah. Ya politiknya, ya ekonominya, ya kebudayaannya. 99 Inilah masalah yang dikategorikan oleh Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetik sebagai ketidakadilan/ liberasi yang berasal dari kekuatan eksternal. Dimana dia menyebutkan 99 Ibid, h. 45.

110 100 Ada liberasi dari kekuatan eksternal dan ada liberasi dari kekuatan internal, yang kedua-duanya dapat menjadi tema sastra. Maklumat tidak akan membicarakan liberasi dari kekuatan ekternal, yaitu (1) kolonialisme yang sekarang hanya ada di Palestina, (2) agresi oleh negara adikuasa kepada negala yang lemah, dan (3) kapitalisme yang menyerbu negaranegara ketiga lewat berbagai rekayasa eknomis. 100 Dari paragraf-paragraf yang ada pada catatan harian tokoh Abu Kasan Sapari tersebut, dapat terlihat masalah-masalah terkait kekuatan yang datang dari luar memang masih terjadi meskipun tidak lagi di zaman kolonial. Bentuk-bentuk ketidakadilan eksternal baik itu kapitalisme ataupun kolonialisme, terjadi secara tidak kentara atau dapat dikatakan halus, sehingga masyarakat tidak sadar bahwa mereka terbelenggu oleh kekuatan eksternal baik itu kapitalisme maupun kolonialisme. Jadi kolonialisme di era modern berupa penjajahan terhadap ekonomi, kebudayaan, bahkan sampai kepada penjajahan politik. Semangat pembangunan, dan revolusi industri di Indonesia yang ditandai dengan berdirinya pabrik-pabrik tanpa disadari telah membuat Indonesia terjerat dalam belenggu kapitalisme. Belenggu yang membuat Indonesia ikut merasakan malapateka ekonomi dunia pada tahun Etika liberasi dari sistem politik pada novel mantra penjinak ular ini bisa terlihat dari cerminan Kepala Polisi Tegalpandaan. Kepala polisi tersebut diminta proses penangkapan dan peminadaan Abu Kasan Sapari dilakukan lebih cepat sesuai rencana..... Aku tahu biang keroknya, kata fungsionaris kesenian DPD Randu. Di kepalanya hanya ada satu orang, Abu Kasan Sapari. Oleh karena itu pengurus memutuskan untuk membuat memo supaya Abu diproses sesuai rencana. 101 Tetapi perintah dari DPD Randu tersebut tidak serta merta dilakukan oleh kepala polisi, meskipun ia tahu bahwa partai randu merupakan partai yang menguasai pemerintahan. Setelah pemeriksaan dilakukan terhadap Abu Kasan Sapari. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda yang dituduhkan oleh oknum partai Randu 100 Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah,Etika, dan Struktur, op. Cit., h Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h. 174.

111 101 tersebut. Akhirnya kepala polisi yang menyadari bahwa institusinya hanya diperalat memutuskan menghentikan penyidikan terhadap Abu Kasan Sapari. Pemutusan penyidikan terhadap Abu Kasan Sapari dapat disimpulkan sebagai tindakan yang mencerminkan etika liberasi. Hal ini disebabkan kepala polisi tersebut menyadari dirinya dan rekan-rekannya diperalat hanya untuk mengghukum orang yang tidak bersalah, hanya untuk suatu kepentingan, melanggar hukum yang harusnya mereka tegakkan. Kepolisian mengatakan sebagai pegaman negara bahwa mereka bersikap netral, tidak berpihak kepada siapapun meskipun itu kepada partai politik, yakni partai Randu. Pernyataan sikap netral, serta penghentian penyidikan yang direkayasa terhadap Abu Kasan Sapari, telah menandakan terlepasnya belenggu kepolisian dari sistem politik. Etika liberasi dalam novel ini hadir dalam perlawanan terhadap belenggu sistem politik secara garis besar. Wujudnya berupa politisasi kesenian, monolyalitas pegawai negeri, dan belenggu terhadap penegak keadilan (dalam hal ini polisi). Belenggu-belenggu tersebut dijalankan oleh penguasa kala itu Randu dengan Mesin Politiknya. Perlawanan Abu Kasan Sapari, Camat Baru Kemuning, serta Kepala Polisi Karangmojo c. Transendensi Berbicara mengenai etika transendensi, tidak bisa dilepaskan dari etika profetik yang lainnya, yakni humanisasi dan liberasi. Kuntowijoyo mengkonsepkan etika transendensi sebagai unsur yang mengikat etika humanisasi dan juga etika liberasi. Dapat pula etika transendensi dikatakan sebagai penyempurna etika humanisasi dan liberasi. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Wan Anwar dalam bukunya Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya. Kedua sikap dan tindakan itu kemudian disempurnakan oleh etika transendensi, yaitu mengingatkan kembali keberadaan manusia di bumi (antar manusia dan antar mahluk) dengan keberadaan dan kemahakuasaan

112 102 Tuhan. Di sinilah bersatupadunya kesadaran kemanusiaan dengan kesadaran ketuhanan membuat keberadaan manusia menjadi lengkap. 102 Dapat dikatakan transendensi yang dimaksud oleh Kuntowijoyo dalam etika profetiknya bukanlah ibadah ketuhanan semata. Akan tetapi etika transendensi yang dimaksud selain ibadah ketuhanan, harus juga diimbangi dengan tindakantindakan sosial kepada sesama manusia, dan mahluk hidup lainnya. Dalam katakata Kuntowijoyo di maklumat sastra profetiknya, Bagi-Nya kesadaran ketuhanan belum berarti kaffah kalau tidak disertai kesadaran kemanusiaan. Sastra profetik menghendaki keduanya, kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan. 103 Selain itu transendensi yang dikonsepkan oleh Kuntowijoyo yang tidak menafikan urusan sosial, ternyata juga diamini oleh Hasta Indriyana penyair sekaligus pengamat sastra. Dalam artikelnya berjudul Transendentalitas Karyakarya Kuntowijoyo yang dimuat di harian Republika mengatakan, Kuntowijoyo menekankan spritual tanpa menafikkan urusan dunia. Urusan manusia dengan Tuhan adalah urusan pribadi atas ketentraman dunia akhirat, sedangkan urusan dunia adalah hubungan dengan manusia lain untuk membangun bumi manusia menjadi lebih baik. 104 Pada novel ini maslah-masalah terkait etika transendensi dimunculkan oleh Kuntowijoyo tidak terlalu intens layaknya karyanya yang lain, seperti Khotbah di Atas Bukit (novel), atau Sepotong Kayu untuk Tuhan (Cerpen). Etika transendensi yang dimunculkan Kuntowijoyo lahir lewat wajah lain yakni lewat seni (dalam hal ini wayang). Seperti diketahui tokoh utama novel ini yakni Abu Kasan Sapari merupakan seorang dalang. Bagaimana seorang Abu Kasan Sapari yang menjadi dalang merasa memiliki tugas untuk memperbaiki lingkungan sosial masyarakat sekelilingnya. Pada cerita ini etika transendensi kental terlihat pada Bab ke 3. Pada bab dengan subjudul Abu Kasan Sapari tentang Alam, menceritakan bagaimana 102 Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), h Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik, op. Cit., h Hasta Indriyana, Transendentalitas Karya-karya Kuntowijoyo, Republika, No. 66, 13 Maret 2005, h. 8.

113 103 Abu Kasan Sapari bercerita tentang alam. Abu Kasan Sapari menceritakan tentang apa yang ada di alam seperti angin, batu, bukit, bahkan manusia. Pada Bab ini diceritakan juga hubungan manusia dengan isi dari alam tersebut dan sangat bergantung pada isi alam tersebut. Tuhan memanjakan alam. Surat-surat dalam Alquran kebanyakan merujuk ke alam. Alam dan hasil karya-nya. Ia berkata kun fayakun, maka jadilah alam ini.... Kata dosen filsafat saya manusia mempunyai peradaban justru karena berjuang menundukan alam. Saya pikir menundukan itu langkah yang salah. Itu semacam kesombongan manusia. Yang benar ialah manusia harus berdamai dengan alam. Sebelum ada sekolahan manusia berguru dengan alam 105 Tuhan memuliakan bukit. Ketika Tuhan akan menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya didahuluinya ayat itu dengan sumpah kepada buah tin, pohin zaitun, bukit tursina, dan daerah yang penuh berkah. Nabi Musa ditunjukkan kekuasaan Tuhan dan menerima Ten Commandment di atas bukit. Khotbah di atas Bukit Nabi Isa juga dikenang umat manusia. 106 Dalam bab ini secara tidak langsung Kuntowijoyo menampilkan apa yang dinamakannya sebagai saksi eksistensi Tuhan, di mana manusia melihat serta menikmati alam beserta isinya yang merupakan tanda keberadaan Tuhan. Kesadaran ketuhanan melalui alam semesta yang ditampilkan oleh tokoh Abu Kasan Sapari, mirip dengan pendapat Abdul Majid yang dikutip dalam buku Pendidikan Profetik karya Khoiron Rosyadi. Abdul Majid menyatakan, Pengenalan terhadap Allah bukanlah berusaha mengenal eksistensinya dan substansinya dengan mengemukakan bukti-bukti teologis yang pelik dan panjang sebagaimana yang dilakukan oleh ahli kalam, melainkan dengan melihat faktor-faktor empiris sebagai cerminan dari sifat perbuatan allah yang mengingatkan manusia kepada eksistensi dan substansi Allah, mengenal Allah melalui ciptaannya. 107 Secara jelas Abdul Majad mengatakan bahwa eksistensi keberadan Tuhan (Allah), bisa dirasakan atau dikenali melalui ciptaan-ciptaannya, yang dalam hal ini berupa alam semesta beserta isinya. 105 Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h Ibid, h Khiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 48.

114 104 Manusia sudah sewajarnya memiliki kesadaran akan ketuhanan, dari hal yang paling dekat dengan kehidupannya, yakni alam beserta isinya. Secara nyata dapat terlihat kesadaran transendensi tokoh Abu Kasan Sapari tulisan-tulisan pendapatnya mengenai alam dalam catatan hariannya. Lewat catatan harian Abu Kasan Sapari Kuntowijoyo menampilkan kesadaran transendensi yang berupa kesadaran eksistensi Tuhan lewat ciptaannya yakni, alam beserta isinya. Pada Bab ke-4 novel ini dengan subjudul Cinta Ular Cinta Lingkungan, muatan transendensi muncul kuat dalam Bab ini. Etika transendensi yang muncul ditampilkan berbeda dengan Bab sebelumnya. Kalau sebelumnya Kuntowijoyo menampilkan kesadaran transendensi sebagai saksi dari eksistensi Tuhan, pada Bab ini Kuntowijoyo menampilkannya dengan tindakan langsung dari tokohnya. Pada Bab ke-4 ini ditampilkan masalah tentang ular dan warga. Warga desa di kecamatan kemuning banyak yang memburu ular untuk dijadikan keuntungan untuk diri sendiri. Pemburuan ular untuk dijadikan obat dan abon secara membabi buta tersebut terancam akan membunuh populasi ular di kecamatan tersebut. Abu Kasan Sapari yang menguasai mantra penjinak ular mengetahui hal ini merasa kasihan pada ular-ular tersebut. dia beranggapan bahwa ular tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Sesama mahluk yang hidup di bumi para warga seharusnya bisa hidup tanpa mengganggu ular-ular tersebut. Akhirnya, Abu Kasan Sapari yang menyadari bahwa pemburuan ular akan menyebabkan kerusakan ingkungan akhirnya mengajak warga untuk tidak lagi memburu ularular tersebut. Saat rapat di kecamatan dengan para kepala desa. Abu Kasan Sapari mengimbau para warga untuk berdamai dengan ular, jangan lagi memburu ular karena akan merusak lingkungan. Imbauan tersebut juga dibarengi dengan pertunjukan wayangan yang dilakukan oleh Abu Kasan Sapari dengan lakon penjamuan ular. Prinsipnya ialah membalas dendam itu bukan budaya Indonesia. Budaya kita menekankan harmoni, rukun, ada pepatah rukun agawe

115 105 santosa, sama dengan bersatu kita teguh. Lakonnya begini pak. Prabu janamejaya tidak mengadaka sesaji ular tapi penjamuan ular 108. Dapat disimpulkan dalam dalam BAB ini Kuntowijoyo menampilkan kesadaran transednesi dengan wajah yang lebih nyata. Tidak hanya sebagai saksi eksistensi Tuhan, akan tetapi juga menjaga apa yang diberikan Tuhan, yakni lingkungan. Di mana manusia harus hidup rukun dengan mahluk yang lainnya di alam ini. Apa yang dilakukan oleh Abu Kasan Sapari dengan menghormati mahluk lain yang berada di alam (ular), selaras dengan pendapat pengarang novel ini yakni Kuntowijoyo yang diungkapkannya lewat tulisan berjudul Mitologi dan Mistifikasi dalam Pemikiran Jawa. Dalam tulisan yang dimuat di Harian Kompas tersebut Kuntowijoyo mengatakan, Alam dihormati lagi. Ia sekaligus adalah subyek dan obyek. Orang Jawa sekarang dan masa depan mulai berpikir ulang tentang hubungannya dengan alam: alam adalah subyek-obyek. 109 Dengan kata lain Kuntowijoyo dalam pendapatnya di tulisan tersebut, menyatakan bahwa alam seharusnya di hormati oleh manusia. Ular yang merupakan bagian kecil dari alam semesta harusnya dapat dijaga oleh manusia, bukan malah membunuh secara sembarangan. Bila merujuk kepada pendapat Kuntowijoyo di atas, maka tindakan Abu Kasan Sapari yang menjaga ular dan melarang warga membunuhnya secara sembarangan merupakan bentuk dari menghormati alam. Abu Kasan Sapari yang mencoba mengarahkan warga dengan wayangnya agar bisa berdamai dengan ular, tidak lagi memburunya merupakan cerminan kesadaran transedensi kepada sesama mahluk yang memiliki muatan sosial di dalamnya. Kesadaran transendensi juga tercermin dari perilaku warga yang akhirnya bisa berdamai dengan ular yang merupakan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan yang merupakan ciptaan Tuhan atau dalam hal ini wujud eksistensi Tuhan. 108 Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h Kuntowijoyo, Mitologisasi dan Mistifikasi dalam Pemikiran Jawa, Kompas, 30 Desember 2000, h. 4.

116 106 Kesenian wayang dalam novel ini memiliki porsi yang cukup banyak untuk menampilkan kesadaran transedensi. Hampir sama seperti masalah sebelumnya terkait hubungan manusia dengan lingkungan. Pada BAB ke-6 dengan subjudul Wahyu Pohonan kembali Abu Kasan Sapari mengajak para warga menjaga alam lingkungan yang mereka tempati untuk masa yang akan datang. Diceritakan di kecamatan Kemuning sedang diadakan program jatinisasi. Program tersebut pada awalnya mengalami kendala, karena banyak warga yang tidak mau menanam benih Jati, dikarenakan pohon tersebut tidak produktif, hanya batangnya saja yang bisa digunakan. Padahal program tersebut merupakan program jangka panjang kecamatan Kemuning untuk menjaga lingkungan di masa yang akan datang. Alhasil setelah berdiskusi dengan camat baru Kemuning, pertunjukkan wayang berlangsung dengan lakon wahyu pohonan. Dalam pertujukan wayang tersebut terdapat muatan transendensi yang cukup kuat terlihat dalam kutipan ringkasan lakon, sebagai berikut: Abiyasa memberi nasihat tentang pageblug dan tentang musuh yang menyerang Astina. Mengenai yang pertama, ia menganjurkan agar setiap rumah dipagari dengan pohon jati dan agar setiap orang selalu eling (ingat) kepada Tuhan. Eling itu seperti pohon yang kokoh, yang akarnya jauh menghujam ke bumi dan cabangnya menembus ke langit. Eling adalah pemahaman yang benar tentang keesaan Tuhan, perkataan yang lurus, dan perbuatan yang baik. 110 Dari kutipan di atas terlihat jelas simbol simbol pohon yang digunakan Kuntowijoyo dalam diksinya menampilkan makna yang sejalan dengan etika transedensi. Disebutkan bahwa pohon yang menjulang ke langit dan akarnya menghujam ke bumi, memperlihatkan bagaimana manusia selain harus mengingat urusan ketuhanan (dalam hal ini manusia dengan Tuhan), manusia juga harus memberi perhatian terhadap urusan sosialnya (dalam hal ini dengan sesama manusia). Pagelaran wayang yang dilakukan Abu Kasan Sapari memliki pesan bagaimana urusan sosial harus sama porsinya dengan urusan ketuhanan. Karena dalam kehidupan manusia dituntut untuk menjaga sesamanya dan mahluk lain 110 Kuntowijoyo, Mantra Pejinak Ular, op. Cit., h. 91

117 107 yang ada di muka bumi, sebagai bentuk dari kesadaran ketuhanan dan kesadaran akan eksistensi dan apa yang diberikan Tuhan. Kuntowijoyo dalam novel ini menapilkan kesenian wayang dengan membawa wujud dari etika transedensi. Tokoh Abu Kasan Sapari yang di dalam novel ini dengan wayangnya berusaha mengubah perilaku masyarakat sekelilingnya menjadi lebih baik. Abu Kasan Sapari dengan kemampuannya mendalang menempatkan kesenian sebagai wahana untuk mengenali dan memahami kehidupan masyarakat di sekelilingnya, dan juga digunakan oleh Abu /kasan Sapari untuk mengenali sang Pencipta. Wahana Abu untuk mengenali Tuhan dilakukan melalui perenungan Abu Kasan Sapari terhadap alam. Alam yang merupakan bukti eksistensi Tuhan membawa Abu Kasan Sapari menyadari nilai-nilai keesaan sang Pencipta. Hasil perenungan tersebut, tidak hanya dinikmati seorang diri oleh Abu Kasan Sapari. Akan tetapi, Abu Kasan Sapari mengajak warga sekelilingnya untuk ikut juga merenung tentang alam dan menjaga alam sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, dan juga ibadah sosial kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan. Secara tidak langsung renungan dan semangat menjaga alam (lingkungan), hal tersebut telah menampilkan etika transedensi yang unik dan khas dalam novel ini. Wujud-wujud etika transedensi dalam novel ini terkadung dalam kesenian wayang yang dilakukan oleh Abu Kasan Sapari. Lewat kesenian wayang tersebut selain sebagai media mengenali sang Pencipta, Abu Kasan Sapari juga mencoba memperbaiki keadaan masyarakat di sekitarnya. Dari mulai politisasi kesenian (dalam hal ini wayang), melepaskan pertunjukan wayang dari berbaagai mitos, sampai mengajak warga untuk menjaga alam/lingkungan. Akhir cerita novel ini di mana Abu Kasan Sapari memilih untuk meneruskan menjadi dalang menggantikan Ki Lebdocarito seolah ingin menegaskan. Bahwa Abu Kasan Sapari telah melakukam etika transedensi dengan memilih menjadi dalang bukan menjadi PNS. Karena lewat dalang selain Abu Kasan Sapari dapat mempelajari nilai-nilai ketuhanan di dalamnya, Abu Kasan Sapari juga ingin terjun dalam

118 108 urusan sosial dengan sesama manusia (dalam hal ini masyarakat), yakni mengajak masyarakat lewat keseniannya ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, berbeda dengan kesenian yang bersifat memaksa, kesenian dalam keyakinan Kuntowijoyo atau Abu Kasan Sapari adalah wahana atau aktivitas simbolik untuk membujuk (bukan menggurui) masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam prinsip kesenian seperti itulah proyek humanisasi dan liberasi berbasis transendensi dilangsungkan. 111 YB. Mangunwijaya pernah menuliskan pada Sastra dan Religiositas terkait tentang transendensi dalam karya-karya Kuntowijoyo. YB. Mangunwijaya mengatakan, Maka kita sampai pada suatu pasal religiositas manusia yang utuh, yakni kesadaran untuk beramal, menolong orang lain. Teristimewa menolong mereka yang paling menderita atau tersungkur di lembah nista; yang dibuat sendiri oleh karena kesalahan sendiri, atau karena kesalahan pihak luar. Religiositas yang praktis. Yang tidak hanya abstrak-abstrakan belaka. 112 Hal ini sejalan dengan transendensi yang muncul dalam novel ini. Keseninan wayang yang dilakukan oleh Abu Kasan Sapari untuk seperti sebuah bentuk religios yang utuh, yakni kesadaran untuk membantu sesama untuk membujuk masyarakat ke arah yang lebih baik. Jadi dapat disimpulkan etika transendensi terkandung dalam seni wayang yang dilakukan oleh Abu Kasan Sapari. Di mana, kesenian tersebut selain sebagai media Abu Kasan Sapari memahami nilai-nilai ketuhanan, juga sebagai sarana ibadah sosial Abu Kasan Sapari terhadap sesama manusia. C. Implikasi Terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah Menanamkan pembelajaran sastra di sekolah secara serius mau tidak mau menjadi suatu keharusan bagi para pengajar. Mengingat tidak dapat dipungkiri 111 Wan Anwar, op. Cit., 2007, h YB. Mangunwijaya, Sastra dan Religiositas, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), h. 55.

119 109 bahwa keterampilan bersastra dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengajaran sastra di sekolah memiliki peluang besar untuk menigkatkan apresiasi dan keakraban siswa pada sastra. Peluang tersebut sejauh ini belum termanfaatkan di antaranya karena tidak terdapat hubungan antara teori yang diajarkan dengan kemampuan apresiasi siswa. 113 Jadi dapat dikatakan harusnya pembelajaran sastra tidak hanya menghafal tentang teori-teori sastra, namun dengan praktik seperti membaca dan menikmati karya sastra secara langsung, kemudian memberi apresiasi terhadap karya sastra yang dibaca. Dari aktivitas membaca, siswa mampu menafsirkan dan memperoleh pengetahuan baru (kognitif). Kemudian dalam segi apresiasi, respon dari siswa dapat diketahui adakah ketertarikan atau tidak setelah membaca karya sastra tersebut (afektif). Kemudian adanya penyerapan pesan setelah membaca karya sastra sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa (psikomotor). Melalui kajian ilmiah yang dilakukan terhadap novel Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo, implikasinya pada pembelajaran sastra di sekolah adalah agar para siswa dapat memahami serta menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel tersebut. Melalui unsur intrinsik, siswa dapat mengetahui unsur apa saja yang ada di dalam novel Mantra Penjinak Ular. Hal ini sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi, yakni siswa mampu menemukan unsur intrinsik novel berupa tema, latar, tokoh dan perwatakannya. Setelah siswa membaca novel Mantra Penjinak Ular dan menemukan unsur-unsur intrinsiknya, siswa dapat mengaitkannya dengan kejadian di luar karya sastra atau yang biasa disebut sebagai unsur ekstrinsik karya sastra. Disesuaikan dengan indikator maka siswa mampu menemukan dan memahami pemikiran pengarang dalam mebuat novel tersebut. Ide-ide apa saja yang disampaikan pengarang yang terlihat dalam novel tersebut. Dengan begitu siswa tidak hanya sekedar tahu hal-hal yang ada di dalam karya sastra. Tapi juga mengetahu bagaiman proses kreatif pengarang dengan ideide serta pemikirannya yang dituangkannya dalam karya sastra yang dibuatnya. 113 Agus R. Sardjono, Sastra dalam Empat Orba, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2001), h. 209.

120 110 Siswa mendapat pengetahuan lebih tentang biografi pengarang bagaimana kehidupannya, bagaimana aktivitasnya, juga bagaimana pemikiran-pemikirannya. Jadi dengan memahami unsur-unsur di luar karya sastra tersebut akan menambah kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Dapat dikatakan, jika pembelajaran sastra dikaitkan dengan kajian yang telah dilakukan terhadap novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo, maka siswa dapat mengetahui bagaimana unsur-unsur intrinsik dalam novel tersebut. Selain itu siswa dapat mengetahui pemikiran khas pengarang Kuntowijoyo yang dituangkan dalam novel tersebut, dalam hal ini etika profetik. Bagaimana pemikiran-pemikiran pengarang yang merupakan unsur di luar novel dapat muncul dengan sendirinya melalui unsur-unsur yang dalam novel tersebut. Pendidik dapat mengajarkan kepada siswa tentang etika profetik yang berisi humanisas, liberasi, dan transendensi. Etika tersebut merupakan etika yang berlandaskan pada kitab suci, dan juga merupakan buah dari pemikiran Kuntowijoyo sebagai pengarang novel Mantra Penjinak Ular. Tidak hanya pihak guru yang aktif mengajar tetapi siswa diharapkan setelah membaca dan memahami novel tersebut diharapkan dapat lebih mendalam lagi dalam memahami karya sastra tidak hanya terpaku pada unsur intrinsik saja, melainkan unsur di luar karya sastra seperti pemikiran pengarang juga berpengaruh penting terhadap lahirnya sebuah karya sastra. Pemikiran etika profetik yang terkandung dalam novel Mantra Penjinak Ular juga diharapkan dapat diimplikasikan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.

121 BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap Novel Mantra Penjinak Ular karya Kuntowijoyo dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini. 1. Novel Mantra Pejinak Ular merupakan novel yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang pegawai pemerintahan yang juga sebagai seorang dalang. Novel ini menceritakan perjalanan hidup tokoh utamanya yakni, Abu Kasan Sapari. Kuntowijoyo menghadirkan novel ini dengan mengambil latar kehidupan masyarakat jawa sekitar tahun 90-an, atau lebih tepatnya tahun Selain tokoh utama abu Kasan Sapari, Kuntowijoyo juga menghadirkan tokoh-tokoh utama lain, yakni Sulastri, dan Mesin Politik. Cerita dalam novel ini memilik alur progresif kronologis, dimana terkadang sesekali cerita mengalami sorot balik/flashback. Dalam penyajian konflik Kuntowijoyo menghadirkan konflik utama yakni Abu Kasan Sapari dengan Mesin Politik, dimana Abu Kasan Sapari dengan seni pedalangan wayangnya mencoba melawan hegemoni Mesin Politik. Pengarang dalam hal ini Kuntowijoyo mengambil sudut pandang dalam novel ini sebagai orang ketiga maha tahu, dan ada di satu BAB yakni BAB 13 sudut pandang pengarang berubah menjadi sudut pandang orang ketiga/ diaan sebagai pengamat, dengan kata lain pengarang menjadi salah satu tokoh dalam cerita. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini terbilang sederhana, dan banyak terdapat falsafah, serta peribahasa-peribahasa Jawa. Layaknya bahasa yang digunakan orang yang sedang bercerita atau mendongeng, hal ini sudah menjadi ciri khas dari Kuntowijoyo. 111

122 Seperti pada karya sastra Kuntowijoyo lainnya, muatan etika profetik juga muncul dalam novel ini. Etika profetik yakni, humanisasi, liberasi, dan transendensi ditampilkan dengan berbagai masalahnya dalam novel ini. Etika humanisasi dalam novel ini hadir lewat tokoh-tokohnya diantaranya Abu Kasan Sapari dan Camat Baru Kemuning, yang menghadapi dehumanisasi modern berupa objektivasi manusia oleh Mesin Politik. Selain dehumanisasi modern, dalam novel ini ditampilkan pula dehumanisasi tradisional berupa mitos, jimat, dukun, dan botoh. Hal-hal tersebut dihadapi oleh Abu Kasan Sapari dan Abu Kasan Sapari pun melepaskan dirinya dari jerat dehumanisasi tradisional tersebut, dengan meninggalkan mantra penjinak ular yang telah dikuasainya. Pada novel ini juga disajikan berbagai bentuk masalah terkait penindasan yang berhubungan dengan etika liberasi. Penindasan terhadap berkesenian merupakan masalah terkait liberasi yang dihadirkan. Mesin politik berusaha menggunakan kesenian untuk kepentingan politik, begitu pun dilakukan oleh Abu Kasan Sapari. Akan tetapi Abu Kasan Sapari akhirnya tidak lagi menggunakan kesenian untuk kepentingan kampanye, telah memperlihatkan etika liberasi yang dilakukan. Selanjutnya penindasan terhadap sistem birokrasi oleh penguasa, yakni monoloyalitas pegawai negeri. Dalam hal ini Kuntowijoyo menghadirkan etika liberasi akan masalah ini lewat tokoh Camat Batu Kemuning, dan Abu Kasan Sapari. Perlawanan mereka harus dibayar dengan pemutasian mereka. Masalah lain terkait liberasi, yakni pembebasan dari sistem politik yang mencoba memanfaatkan semua lini untuk menguasainya. Perlawanan atau pembebasan terhadap sistem politik dihadirkan Kuntowijoyo lewat tokoh Kepala Polisi Karangmojo, yang menghentikan rekayasa penyidikan Abu Kasan Sapari. Terakhir yang disajikan dalam novel ini yakni etika transednensi, yakni etika yang menyatukan etika liberasi dan etika humanisasi. Etika transendensi ditampilkan lewat seni dan juga alam/ lingkungan,. Abu dan seni pedalangan wayangnya telah mengajak atau membujuk masyarakat ke arah yang lebih baik. Lewat seni pedalangan ini

123 113 Abu Kasan Sapari selain membujuk masyrakat di sekelilingnya agar berbuat lebih baik, menjaga alam, dan hidup rukun terhadap sesama mahluk, lewat seni ini juga Abu Kasan Sapari dapat melihat keesaan Tuhan. 3. Implikasi kajian ini terhadap pembelajaran sastra di sekolah yakni siswa dapat memahami unsur ekstrinsik karya sastra berupa pemikiran pengarang, ide-ide pengarang, serta biografi pengarang yang merupakan unsur yang tidak kalah penting seperti unsur-unsur intrinsik karya sastra. Bagaimana etika profetik dapat dipahami siswa, dimana itu merupakan pemikiran atau gagasan pengarang yang di sampaikan dalam novel Mantra Penjinak Ular ini. Siswa dapat bertambah wawasannya tidak hanya sebatas karya sastra yang dibacanya saja, melainkan mengenai pengarang yang membuat karya sastra tersebut. Etika profetik juga menanamkan siswa untuk menyelaraskan antara urusan sosial dengan urusan ketuhanan. B. Saran Berdasarkan hasil dan implikasi penelitian, ada beberapa saran yang diajukan oleh penulis sebagai berikut. 1. Penulis mengharapkan pendidik dalam hal ini guru dapat memanfaatkan hasil penelitian ini. Bagaimana siswa diajarkan agar juga memahami gagasan pemikiran pengarang dalam tiap karyanya. Dalam hal ini pendidik dapat mengajarkan siswa bagaimana Etika Profetik merupakan pemikiran Kuntowijoyo yang khas, yang dapat terlihat di dalam karya-karyanya. Khususnya dalam hal ini Mantra Pejinak Ular 2. Penulis mengharapkan agar penelitian mengenai etika profetik ini dapat diambil pesannya oleh siswa. Melalui pembelajaran sastra diharapkan peserta didik lebih kritis dan dapat mengembangkan kreativitasnya dalam belajar sastra serta mengaplikasikan pesan etika profetik yang terkandung dalam karya sastra di kehidupan sehari-hari.

124 Bagi pembaca umum diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan pembaca, dan menambah khazanah penelitian terhadap karya sastra.

125 Daftar Pustaka. Cerber Baru: Mantra Penjinak Ular. Kompas, 1 Mei Abrams, H. M. The Mirror and The Lamp. New York: Oxford University Press Anonim. Kuntowijoyo. Artikel diakses tanggal 28 Desember Dari Anonim. Kunto, Resi Kontemporer. Harian Berita Nasional, 25 Januari Anwar, Wan. Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya. Jakarta: PT. Grasindo Arilaksa, Andri. Aspek Sosial Budaya Jawa Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo: Tinjauan Semiotik. Skripsi S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta Budianta, Melani. dkk. Membaca Sastra. Magelang: Indonesiatera. cet Budiman, Arief. Sistem Sosial dan Sistem Budaya (Tanggapan untuk Kuntowijoyo). Kompas, 13 Februari Clark, Marshall Alexander. Wayang Mbeling: Sastra Indonesia Menjelang Akhir Orde Baru. Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Damono, Sapardi Djoko. Sosiologi Sastra, Sebuah Pengatar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dewanto, Nirwan. Senjakala Kebudayaan. Yogyakarta: Bentang Indriyana, Hasta. Transendentalitas Karya-karya Kuntowijoyo. Republika, 13 Maret 2005.

126 Keraf, Goys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum. Cet Kuntowijoyo. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogyakarta Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika dan Struktur. Yogyakarta: Muti Presindo Mantra Penjinak Ular. Jakarta: PT Kompas Gramedia Mitologisasi dan Mistifikasi dalam Pemikiran Jawa. Kompas, Sabtu, 30 Desember Muslim Tanpa Masjid. Bandung: Mizan Selamat Tinggal Mitos. Kompas, 24 Agustus Kutha Ratna, Nyoman. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Luxemburg, Jan Van. dkk. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa Maarif, Syafii. Meruntuhkan Mitologi ala Kuntowijoyo. Suara Merdeka, 2 April Mangunwijaya, YB. Sastra dan Religiositas. Jakarta: Sinar Harapan Marzuki, Arif Fauzi. Membangun Semesta Budaya Profetik. Kompas. 21 September Mohamad, Goenawan. Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini. Horison, 1 Juli Muhammad, Damhuri. Darah-danging Sastra Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra

127 Musthafa, M. Demitologisasi Melalui Seni. Kompas, 12 November Mutmainah, Hassan. Kajian Strutualisme Genetik Novel Mantra Pejinak Ular Karya Kuntowijoyo. Skripsi S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya Indralaya Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Nurohmat, Binhad. Realisme Udik Kuntowijoyo ( ). Kompas, 20 Maret Pangabean, Rizal. Kritik Sosial Kuntowijoyo. Tempo, Februari Rahmanto, B. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisisus Rosyadi, Khoiron. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Sayuti, Suminto A. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media Sardjono, Agus R. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya Semi, M. Atar. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT. Grasindo Situmorang, Sitor. Himbauan Seni Transendental Kuntowijoyo. Berita Buana, 21 Desember Sudjiman, Panuti. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya Wellek Rene dan Austin Warren. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

128

129 LAMPIRAN 1 SILABUS Sekolah : SMA/MA... Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas : XI Semester : 2 Standar Kompetensi : Membaca Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca novel Kompetensi Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Sumber Dasar Pencapaian Waktu /Bahan/ Kompetensi Alat Menganalisis Novel Novel Menganalisis Jenis Tagihan: 4 Buku novel unsur-unsur unsur-unsur intrinsik Mengidentifikasi unsur unsur-unsur Tugas individu Internet intrinsik dan (tema, tokoh, perwatakan, intrinsik cerpen yang ekstrinsik dan Tugas kelompok ekstrinsik novel latar, sudut pandang, alur, telah dibaca intrinsik Ulangan amanat, dan gaya bahasa) Mengaitkan novel Bentuk Instrumen: unsur ekstrinsik (agama, dengan kejadian di luar Uraian bebas sejarah, sosial, budaya) karya (unsur ekstrinsik) Pilihan ganda Jawaban singkat

130 LAMPIRAN 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) SEKOLAH MATA PELAJARAN KELAS : SMA N 9 Bekasi : Bahasa Indonesia : XI SEMESTER : 2 Alokasi Waktu : 4 x 40 menit A. STANDAR KOMPETENSI Membaca: Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca novel B. KOMPETENSI DASAR Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel C. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI No Indikator Pencapaian Kompetensi 1 Mampu menemukan unsur intrinsik yang berupa tema dan amanat, latar, tokoh dan perwatakan, alur, gaya bahasa, dan sudut pandang. 2 Mampu mengaitkan novel dengan kejadian di luar karya (pemikiran pengarang, sejarah, sosial, dan budaya) Nilai Budaya dan Karakter Bangsa Bersahabat/ Komunikatif Kreatif D. TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa dapat: 1. Mampu menemukan unsur intrinsik yang berupa tema, latar, tokoh dan perwatakan. 2. Mampu mengaitkan novel dengan kejadian di luar karya ( pemikiran pengarang, sejarah, sosial, dan budaya) E. METODE PEMBELAJARAN

131 Pemodelan Inkuiri Tanya jawab Penugasan F. STRATEGI PEMBELAJARAN Tatap Muka Terstruktur Mandiri Menjelaskan pengertian unsur intrinsik dan ekstrinsik Membaca novel Menemukan unsur intrinsik yang berupa tema, latar, tokoh dan perwatakan Mengaitkan novel dengan kejadian di luar karya (pemikiran pengarang, sejarah, sosial, dan budaya) Siswa dapat mendeskripsikan dan menemukan unsur intrinsik (tema, latar, tokoh dan perwatakan) dan mengaitkannya dengan kejadian di luar novel G. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBALAJARAN Pertemuan Pertama No Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Awal: Guru memberi salam Guru menyapa dan menanyakan kabar siswa Guru mengabsen siswa Guru menjelaskan tujuan dan manfaat pembelajaran hari ini Guru memotivasi siswa sebelum memulai pembelajaran Guru membuka schemata siswa mengenai materi yang akan dipelajari 2 Kegiatan Inti: Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi: Guru bertanya jawab dengan siswa tentang unsur intrinsik Nilai Budaya dan Karakter Bangsa Religius, bersahabat/ komunikatif Mandiri, kreatif, gemar membaca, percaya diri

132 Siswa menyebutkan unsur intrinsik novel (tema, latar, tokoh dan perwatakan) Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi: Siswa mengamati kutipan novel yang disediakan oleh guru Siswa menemukan unsur intrinsik cerita berupa Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi, siswa: Menjelaskan tema dan amanat, latar, tokoh dan perwatakan, alur, gaya bahasa, dan sudut pandang Menyimpulkan tentang materi yang telah disampaikan 3 Kegiatan Akhir: Refleksi Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini Penugasan Bersahabat/ Komunikatif Pertemuan Kedua No Kegiatan Belajar 1 Kegiatan Awal: Guru memberi salam Guru menyapa dan menanyakan kabar siswa Guru mengabsen siswa Guru menjelaskan tujuan dan manfaat pembelajaran hari ini Guru memotivasi siswa sebelum memulai pembelajaran Guru membuka schemata siswa mengenai materi yang akan dipelajari 2 Kegiatan Inti: Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi: Guru bertanya jawab dengan siswa tentang materi unsur ekstrinsik novel Elaborasi Nilai Budaya dan Karakter Bangsa Religius, bersahabat/ komunikatif Mandiri, kreatif, gemar membaca, percaya diri

133 Dalam kegiatan elaborasi: Siswa mengamati kutipan novel yang disediakan oleh guru Siswa mendiskusikan dan menganalisis unsur ekstrinsik (pemikiran pengarang (biografi), sejarah, sosial, dan budaya) novel disertai bukti yang mendukung Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi, siswa: Menjelaskan unsur ekstrinsik Menyimpulkan tentang materi yang telah disampaikan 3 Kegiatan Akhir: Refleksi Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini Penugasan Bersahabat/ Komunikatif H. SUMBER BELAJAR/ ALAT/ BAHAN: Buku paket Bahasa Indonesia untuk kelas X semester 1 Novel Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo Biografi Kuntowijoyo Cara menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik novel I. PENILAIAN 1. Teknik Tes (PG, isian, dan uraian) Penugasan menjelaskan unsur intrinsik dan ekstrinsik 2. Bentuk Instrumen Soal a. Apa pengertian unsur intrinsik dan ekstrinsik? b. Sebut dan jelaskan unsur-unsur intrinsik dalam novel Mntra Pejinak Ular? c. Sebut dan jelaskan unsur ekstrinsik dalam novel Mantra Pejinak Ular?

134 J. FORMAT PENILAIAN No Unsur Intrinsik UNSUR PENILAIAN SKOR SKOR Unsur Ekstrinsik Menganalisis dengan cermat dan tepat 2 Menemukan unsurunsur dengan bukti yang tepat 3 Mendeskripsikan hasil analisis dengan tepat 4 Amanat yang bisa diambil dari unsur intrinsik Perolehan Nilai = Total skor x 5 Menganalisis dengan cermat dan tepat Menemukan unsurunsur dengan bukti yang tepat Mendeskripsikan hasil analisis dengan tepat Amanat yang bisa diambil dari unsur ekstrinsik Perolehan Nilai = Total skor x 5 Mengetahui : Jakarta,... Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia ( ) Sigit Purnomo NIM:

135

136

137

138

139

140 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Sigit Purnomo, biasa dipanggil Sigit yang lahir di Jakarta, 2 Juli Menuntaskan pendidikan dasar di SD Negeri Mekarsari 1, Tambun Selatan. Setelahnya melanjutkan jenjang ke SMP Negeri 2 Tambun Selatan, dan SMA Negeri 9 Bekasi. Pada tahun 2010, penulis meneruskan pendidikannya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis tinggal di daerah Bekasi bersama ayah, ibu, dan adiknya. Ayahnya bekerja sebagai pedagang dan membuka warung sembako dan sayur di rumah, sedangkan Ibunya tidak bekerja. Adik dari penulis sendiri kini melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan penulis. Sebagai mahasiswa, penulis banyak memperoleh pengalaman yang didapat selama masa kuliah. Penulis di kampus sendiri menjadi pegiat komunitas sastra Majelis Kantiniyah. Pernah mengajar di MTS Negeri 13 Jakarta. Kemudian, menjadi tenaga freelance di bagian Litbang Harian Kompas. Selain menjadi tenaga freelance, penulis yang mempunyai hobi membaca karya fiksi ini juga sedang menekuni hobi aquascape. Bagi penulis, dunia pendidikan amatlah sangat penting bagi sebuah bangsa. Tidak akan maju suatu bangsa jikalau sistem pendidikan di suatu bangsa belum berjalan dengan baik. Baik dari tenaga pendidik, sistem pendidikan, maupun sampai ke sarana dan prasaran pendidikan. Oleh karena itu penulis juga berkeinginan menjadi salah satu tenaga pendidik yang profesioanl dan inovatif dalam mengajar ataupun turun berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Bagi penulis mencerdaskan anak bangsa memang merupakan tugas dari seorang tenaga pendidik, akan tetapi tugas itu pun berlaku untuk semua orang yang peduli akan kemajuan bangsa ini. Bangsa yang maju ditentukan dari bagiamana genereasi penerusya dididik.