Lampiran 1. Peta lokasi penelitian (Google earth 2009) a. Pelabuhan Ratu. b. Blanakan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Lampiran 1. Peta lokasi penelitian (Google earth 2009) a. Pelabuhan Ratu. b. Blanakan"

Transkripsi

1 LAMPIRAN

2 Lampiran 1. Peta lokasi penelitian (Google earth 2009) a. Pelabuhan Ratu b. Blanakan

3 Lampiran 1. (lanjutan) c. Labuan

4 Lampiran 2. Alat tangkap ikan tembang (S. gibbosa) (a) Purse seinne (Sumber :

5 Lampiran 2. (lanjutan) (b) gilnet (Sumber :

6 Lampiran 3. Proses perhitungan analisis proksimat (Mellana 2005) Telur ikan tembang yang telah diawet segar selanjutnya dianalisis nilai nutrisinya dengan analisis proksimat. Adapun analisis proksimat yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi : kadar air, kadar protein, dan kadar lemak. Proses analisis dilakukan dengan metode sebagai berikut: a. Penentuan Kadar air Cawan porselen dipanaskan dalam oven selama ± 1 jam pada suhu C lalu didinginkan dalam eksikator. Cawan kemudian ditimbang dan ditambahkan contoh sebanyak 3 gram dalam bentuk serbuk. Cawan dan contoh kemudian dioven pada suhu C sampai mencapai berat kering tetap. b. Penentuan Kadar Lemak Sebelum contoh dimasukkan ke dalam soxlet, terlebih dahulu dibuat selongsong tabung dari kertas saring yang berukuran lebih kecil dari soxlet. Bagian bawah selongsong ditutup dengan kapas dan diikat bagian tengahnya dengan benang agar sampel tidak terlepas. Contoh dimasukkan dalam selongsong kertas saring tersebut. Setelah diisi contoh, selongsong dimasukkan ke dalam soxlet dan diberi pemberat. Bagian dasar soxlet sebelumnya sudah diberi kapas untuk menyaring agar sampel tidak bocor ke bagian bawah. Soxlet kemudian dihubungkan dengan labu lemak yang telah diisi batu didih. Dibagian dalam soxlet diberikan pelarut petroleum eter sampai dengan labu terisi setengah bagian pelarut. Rangkaian soxlet dihubungkan dengan pendingin dan penangas listrik. Ekstraksi dilakukan selama 8 jam. Setelah ekstraksi selesai, pelarut disulingkan kembali dan dikeringkan dalam lemari pengering C selama 1 jam agar dapat ditimbang bobot lemaknya.

7 Lampiran 3. (lanjutan) c. Penentuan Kadar Protein (Metode Kjeldhal) Sebanyak 2,5 gram contoh dimasukkan kedalam labu Kjeldhal dan ditambahkan dengan 5 gram campuran selen. Campuran tersebut kemudian ditambahkan dengan 25 ml H 2 SO 4 pekat lalu didekstruksi dalam ruang asam sampai warnanya jernih kehijauan. Setelah dingin, larutan dimasukkan dalam labu didih 500 ml yang telah diberi batu didih dan diencerkan sampai volum 300 ml dengan aquades. Larutan tersebut kemudian diitambahkan 100 ml NaOH 30% sampai berlebih dan disambungkan pada alat destilasi. Larutan didestilasi sampai dengan 2/3 dari cairan tersuling. Hasil destilasi ditampung dalam 25 ml H 3 BO 3 4% berlebih yang telah diberi beberapa tetes indikator merah metal. Hasil destilasi kemudian dititrasi dengan HCL 0,1 N.

8 Lampiran 4. Proses pembuatan preparat histologis gonad ikan tembang (Bank in Hermawati 2006) FIKSASI Gonad difiksasi dengan larutan bouin s (campuran dari 1500 ml asam pikrat jenuh, formalin 500 ml, asam asetat glacial 100 ml) selama 24 jam, kemudian dipindahkan ke alkohol 70% selama 24 jam DEHIDRASI Gonad direndam dalam alkohol 70% (24 jam), alkohol 80% (2 jam), alkohol 90% (2 jam), alkohol 95% (1 jam), alkohol 100% (12 jam), dan alkohol 100% (1 jam) PENJERNIHAN I Gonad direndam dalam alkohol 100% + xylol (1:1) selama 30 menit kemudian direndam dalam xylol I, xylol II, dan xylol III masing-masing selama 30 menit PENYUSUPAN Gonad direndam dalam xylol + paraffin (1:1) selama 45 menit pada oven bersuhu o C, selanjutnya direndam dalam paraffin I, paraffin II, dan paraffin III masing-masing selama 45 menit yang dipanaskan dalam oven yang bersuhu o C, kemudian jaringan dicetak dalam cetakan selama 12 jam (proses blocking) PEMOTONGAN DENGAN MICROTOM Spesimen dipotong tipis dengan ketebalan 4 sampai 6 mikron di atas gelas objek dengan bantuan diapungkan di atas air hangat (50 o C) DEPARAFFINASI Preparat direndam berturut-turut dalam xylol I, xylol II, xylol III masing-masing selama 5 menit

9 Lampiran 4. (lanjutan) REHIDRASI Preparat direndam berturut-turut dengan alkohol 100% I, alkohol 100% II, alkohol 95% I, alkohol 95% II, alkohol 85%, alkohol 80%, alkohol 70%, dan alkohol 50% masing-masing selama 2 menit kemudian preparat dicuci dengan aquades sampai warna putih PEWARNAAN Preparat direndam berturut-turut dengan larutan hematoksilin selama 5 7 menit, kemudian dicuci dengan air kran mengalir selama 5 7 menit setelah itu preparat direndam dalam larutan eosin selama 3 menit dan dicuci dengan air kran mengalir DEHIDRASI Preparat direndam berturut-turut dalam alkohol 50%, alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 85%, alkohol 90%, alkohol 100% I, dan alkohol 100% II, masing-masing selama 2 menit PENJERNIHAN II Preparat direndam dalam xylol I, xylol II, dan xylol III masing-masing selama 2 menit PENEMPELAN Preparat diberi zat perekat entelan atau canada balsam, kemudian ditutup dengan kaca penutup dan dibiarkan selama 12 jam

10 Lampiran 5. Kelas ukuran dan frekuensi jumlah ikan tembang (S. gibbosa) di setiap daerah pengambilan sampel Daerah selang panjang Frekuensi % Pelabuhan Ratu Total Blanakan Total Labuan Total

11 Lampiran 6. Analisis kovarian hubungan panjang-berat (Effendie 1979) Kuadrat tengah sumber keragaman db Σ x^2 Σ y^2 Σ xy JK db F hit Total Di dalam masing-masing populasi uji untuk nilai tengah yang disesuaikan Penyimpangan dari nilai tengah individu Perbedaan antara regresi F tabel F table = 3,88 Uji F untuk Perbedaan antara regresi adalah = 7,9674 Dari uji F diatas maka diperoleh hasil F hitung > F tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa antara panjang dengan berat ikan jantan dan betina berbeda nyata Uji F untuk nilai tengah yang disesuaikan = 6,0689 Dari uji F diatas maka diperoleh hasil F hitung > F tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa antara panjang dengan berat ikan jantan dan betina berbeda nyata

12 Lampiran 7. Uji t hubungan panjang-berat ikan tembang (S. gibbosa) jantan dan betina a. Pelabuhan Ratu Jenis Kelamin b Sb Jantan Betina Hipotesis : Ho : β = 3 (Pola pertumbuhan isometrik) H1 : β 3 (Pola pertumbuhan allometrik) Taraf nyata 95% (α = 0.05) T hitung = (β 3) Sb T hitung untuk ikan jantan = (2,9380 3) = 0,1844 0,3362 T tabel untuk ikan jantan = 2,4321 T hitung untuk ikan betina = (2,8614 3) = 1,3368 0,1037 T tabel untuk ikan betina = 2,3363 Hasil : Untuk ikan jantan dan ikan betina F hitung < F tabel Gagal tolak Ho Kesimpulan : Pola pertumbuhan ikan tembang jantan dan ikan betina di daerah Pelabuhan Ratu adalah isometrik (β = 3)

13 Lampiran 7. (lanjutan) b. Blanakan Jenis Kelamin b Sb Jantan Betina Hipotesis : Ho : β = 3 (Pola pertumbuhan isometrik) H1 : β 3 (Pola pertumbuhan allometrik) Taraf nyata 95% (α = 0.05) T hitung = (β 3) Sb T hitung untuk ikan jantan = (2,6720 3) = 1,6973 0,1932 T tabel untuk ikan jantan = 2,3483 T hitung untuk ikan betina = (2,8044 3) = 1,4991 0,1305 T tabel untuk ikan betina = 2,3044 Hasil : Untuk ikan jantan dan ikan betina F hitung < F tabel Gagal tolak Ho Kesimpulan : Pola pertumbuhan ikan tembang jantan dan ikan betina di daerah Blanakan adalah isometrik (β = 3)

14 Lampiran 7. (lanjutan) c. Labuan Jenis Kelamin b Sb Jantan Betina Hipotesis : Ho : β = 3 (Pola pertumbuhan isometrik) H1 : β 3 (Pola pertumbuhan allometrik) Taraf nyata 95% (α = 0.05) T hitung = (β 3) Sb T hitung untuk ikan jantan = (2,7372 3) = 1,4803 0,1775 T tabel untuk ikan jantan = 2,3483 T hitung untuk ikan betina = (2,8725 3) = 1,4041 0,0908 T tabel untuk ikan betina = 2,3044 Hasil : Untuk ikan jantan dan ikan betina F hitung < F tabel Gagal tolak Ho Kesimpulan : Pola pertumbuhan ikan tembang jantan dan ikan betina di daerah Labuan adalah isometrik (β = 3)

15 Lampiran 8. Uji chi-square terhadap jenis kelamin ikan tembang (S. gibbosa) Rumus chi-square : Keterangan : Oi ei = frekuensi ikan jantan dan betina yang diamati ke-i = frekuensi harapan yaitu frekuensi ikan jantan + frekuensi ikan betina dibagi dua X 2 hitung = nilai peubah acak X 2 yang sebaran penarikan contohnya menghampiri sebaran Chi-square a. Pelabuhan Ratu Jenis kelamin Jumlah Jantan 22 Betina 39 Total 61 Frekuensi harapan 30.5 Hipotesis : Ho = Jantan : Betina = 1 : 1 (rasio kelamin seimbang) H1 = Jantan : Betina 1 : 1 (rasio kelamin tidak seimbang) X 2 hitung = (22 30,5) 2 + (39 30,5) 2 = 4, ,5 30,5 X 2 tabel = 3,841 Keputusan : X 2 hitung > X 2 tabel, maka tolak Ho (terima H1) Kesimpulan : Rasio kelamin secara keseluruhan di daerah Pelabuhan Ratu tidak seimbang (1 : 1,77)

16 Lampiran 8. (lanjutan) b. Blanakan dan Labuan Jenis kelamin Jumlah Jantan 35 Betina 57 Total 92 Frekuensi harapan 46 Hipotesis : Ho = Jantan : Betina = 1 : 1 (rasio kelamin seimbang) H1 = Jantan : Betina 1 : 1 (rasio kelamin tidak seimbang) X 2 hitung = (35 46) 2 + (57 46) 2 = 5, X 2 tabel = 3,841 Keputusan : X 2 hitung > X 2 tabel, maka tolak Ho (terima H1) Kesimpulan : Rasio kelamin secara keseluruhan di daerah Blanakan dan Labuan tidak seimbang (1 : 1,63)

17 Lampiran 9. Faktor kondisi ikan tembang (S. gibbosa) pada setiap bulan pengambilan sampel Daerah Bulan Faktor kondisi Jantan Betina Mei Pelabuhan Ratu Juni Juli Mei Blanakan Juni Juli Mei Labuan Juni Juli

18 Lampiran 10. Nisbah kelamin ikan tembang (S. gibbosa) setiap bulan pengambilan sampel Daerah Bulan Jenis kelamin Nisbah kelamin Jantan Betina Mei Pelabuhan Ratu Juni Juli Mei Blanakan Juni Juli Mei Labuan Juni Juli

19 Lampiran 11. Sebaran frekuensi tingkat kematangan gonad (TKG) ikan tembang (S. gibbosa) berdasarkan waktu pengambilan sampel a. Pelabuhan Ratu Jantan Bulan TKG I TKG II TKG III TKG IV Mei Juni Juli Total Betina Bulan TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V Mei Juni Juli Total b. Blanakan Jantan Bulan TKG I TKG II TKG III TKG IV Mei Juni Juli Total Betina Bulan TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V Mei Juni Juli Total c. Labuan Jantan Bulan TKG I TKG II TKG III TKG IV Mei Juni Juli Total Betina Bulan TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V Mei Juni Juli Total

20 Lampiran 12. Sebaran frekuensi tingkat kematangan gonad (TKG) ikan tembang (S. gibbosa) berdasarkan kelas ukuran panjang a. Pelabuhan Ratu Jantan Selang kelas TKG I TKG II TKG III TKG IV Total Betina Selang kelas TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V Total b. Blanakan Jantan Selang kelas TKG I TKG II TKG III TKG IV Total

21 Lampiran 12. (lanjutan) Betina Selang kelas TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V Total c. Labuan Jantan Selang kelas TKG I TKG II TKG III TKG IV Total Betina Selang kelas TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V Total

22 Lampiran 13. Indeks Kematangan Gonad (IKG) ikan tembang (S. gibbosa) jantan Daerah Panjang total (mm) Berat tubuh (g) Berat gonad (g) TKG IKG Labuan Rata-rata

23 Blanakan Rata-rata Pelabuhan Ratu Rata-rata

24 Lampiran 14. Indeks Kematangan Gonad (IKG) ikan tembang (S. gibbosa) betina Daerah Panjang total (mm) Berat tubuh (g) Berat gonad (g) TKG IKG Labuan

25 Rata-rata Blanakan

26 Rata-rata Pelabuhan Ratu

27 Rata-rata

28 Lampiran 15. Indeks Kematangan Gonad (IKG) ikan tembang (S. gibbosa) setiap bulan pengamatan Lokasi Bulan jantan betina Pelabuhan Ratu Mei Juni rata-rata Blanakan Mei Juni Juli rata-rata Labuan Mei Juni Juli rata-rata

29 Lampiran 16. Fekunditas ikan tembang (S. gibbosa) di setiap daerah pengambilan sampel Daerah Panjang total (mm) Berat tubuh (g) Berat gonad (g) TKG F Pelabuhan Ratu Rata-rata Blanakan

30 Rata-rata Labuan Rata-rata

31 Lampiran 17. Kandungan Protein telur ikan tembang (S. gibbosa) di setiap daerah pengambilan sampel panjang total berat tubuh berat gonad Protein Daerah (mm) (g) (g) TKG (%) Pelabuhan Ratu Rata-rata Blanakan Rata-rata Labuan Rata-rata

32 Lampiran 18. Data hasil tangkapan dan upaya tangkap dari setiap lokasi penelitian a. Pelabuhan Ratu Tahun Produksi (Ton) Upaya (Unit) CPUE (Ton/Unit) , , , , , , , ,1897 Sumber : Ditjen Tangkap DKP in Syakila (2009) b. Blanakan Tahun Produksi (ton) Upaya (unit) CPUE (ton/unit) , , , , , ,2677 Sumber : KUD Inti Mina Fajar Sidik c. Labuan Tahun Produksi (ton) Upaya (unit) CPUE (ton/unit) , , , , , , , , , , , , , ,9958 Sumber : Buku Saku Perikanan Propinsi Banten, (2007)

33 CPUE (ton/unit) Ln CPUE (ton/unit) CPUE (ton/unit) Ln CPUE (ton/unit) C P UE (T on/unit) L n C P UE (T on/unit) Lampiran 19. Grafik hubungan upaya dan CPUE dengan pendekatan Schaefer dan Fox a. Pelabuhan Ratu S chaefer F ox 0,4000 0,0000 Effort (Unit) 0,3000 0,2000 0,1000 y = -0,0008x + 0,5344 R 2 = 0,6333-0,5000-1,0000-1,5000-2, y = -0,0038x - 0,2225 0,0000-2,5000 R 2 = 0, ,0000 Effort (Unit) b. Blanakan Schaefer Fox 6 5,8 5,6 5,4 y = -0,0038x + 9,2113 R 2 = 0,4971 5, Effort (unit) 1,8 1,78 1,76 1,74 1,72 1,7 1,68 1,66 1,64 y = -0,0007x + 2,3815 R 2 = 0, Effort (unit) c. Labuan Schaefer Fox y = -0,0171x + 30,645 R 2 = 0, ,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 y = -0,0013x + 3,6987 R 2 = 0, Effort (unit) Effort (unit)

34 Lampiran 20. Diagram alir hasil analisis aspek eksploitasi dan keragaan pertumbuhan dan reproduksi ikan petek di tiga lokasi Lokasi Penelitian Palabuhan Rattu Blanakan Labuan Aspek eksploitasi F = 4,119/tahun Z = 2,234/tahun E = 0,532 MSY = 89,24ton/year Aspek eksploitasi F = 4,986/tahun Z = 2,834/tahun E = 0,569 MSY = 5582ton/year Aspek eksploitasi F = 3,949/tahun Z = 2,514/tahun E = 0,637 MSY = 11431ton/year Aspek pertumbuhan Linf = 203,18 mm K = 0,97/tahun Isometrik FK jantan = 0,8515 FK betina = 0,8785 Aspek pertumbuhan Linf = 192,68mm K = 1,10/tahun Isometrik FK jantan = 0,9771 FK betina = 0,9804 Aspek pertumbuhan Linf = 203,18mm K = 0,60/tahun Isometrik FK jantan = 0,8813 FK betina = 0,9309 Aspek reproduksi SR = tidak seimbang (dominan betina) UPMG = mm IKG jantan = 1,80% IKG betina = 2,18% F = butir Ø = 0,35-0,40 mm KPT = 24,88% Aspek reproduksi SR = tidak seimbang (dominan betina) UPMG = mm IKG jantan = 2,86% IKG betina = 2,50% F = butir Ø = 0,29-0,37 mm KPT = 22,54% Aspek reproduksi SR = tidak seimbang (dominan betina) UPMG = mm IKG jantan = 1,79% IKG betina = 2,30% F = butir Ø = 0,29-0,35 mm KPT = 20,79% Keterangan : F = koefisien laju mortalitas penangkapan; Z = koefisien laju mortalitas total; E = laju eksploitasi; MSY = potensi lestari (Maximum SustainableYield) Linf = panjang asimtotik; K = koefisien pertumbuhan; FK = faktor kondisi; SR = nisbah kelamin; UPMG = ukuran ikan pertama kali matang gonad; IKG = indeks kematangan gonad; F = rata-rata fekunditas; Ø = diameter telur TKG IV; KPT = kadar protein telur