RANCANGAN TEMPAT WUDHU DUDUK ERGONOMIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RANCANGAN TEMPAT WUDHU DUDUK ERGONOMIS"

Transkripsi

1 RANCANGAN TEMPAT WUDHU DUDUK ERGONOMIS Qurtubi dan Hari Purnomo Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Jalan Kaliurang KM.14,4 Sleman Yogyakarta Telpon (0274) ABSTRAK Rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk di Indonesia masih relatif sedikit yang merancangnya. Sebagian besar tempat wudhu dilakukan dengan berdiri. Meskipun sudah banyak yang mengetrapkan tempat wudhu dengan posisi duduk akan tetapi masih dirancang tidak berdasarkan pada dimensi tubuh pengguna. Wudhu dengan posisi duduk berdasarkan teori ergonomi lebih baik daripada wudhu dengan posisi berdiri. Di samping itu wudhu dengan posisi duduk dapat menghemat air karena penggunaan air mudah untuk dikontrol. Tujuan penelitian ini adalah merancang tempat wudhu posisi duduk yang ergonomis dan memberikan rekomendasi optimalisasi penggunaan hasil rancangan tempat wudhu duduk. Konsep pengukuran tempat wudhu disesuaikan dengan dimensi tubuh pengguna dengan menggunakan data antropometri orang Sleman dengan usia antara tahun. Hasil rancangan dengan data antropometri didapat tinggi tempat barang 149 cm, tinggi tempat sabun 98,4 cm, tinggi kran 88,4 cm, tinggi tempat duduk 36,4 cm, panjang tempat duduk 37,6 cm, lebar tempat duduk 43,9 cm, jarak antara tempat duduk ke kran 58,4 cm, jarak antar tempat duduk 51,7 cm dan jarak antar kran 95,6 cm untuk laki-laki. Sedangkan untuk perempuan tinggi tempat barang 138,2 cm, tinggi tempat sabun 90 cm, tinggi kran 80 cm, tinggi tempat duduk 29,5 cm, panjang tempat duduk 37,3 cm, lebar tempat duduk 40,2 cm, jarak antara tempat duduk ke kran 57,3 cm, jarak antar tempat duduk 46,1 cm dan jarak antar kran 86,3 cm. Untuk papan informasi, dengan jarak papan informasi dari mata 500 cm diperoleh tinggi huruf besar adalah 2,5 cm, tinggi huruf kecil 1,7 cm, lebar huruf 1,7 cm, tebal huruf 0,42 cm, jarak antara huruf 0,5 cm, jarak antara kata 1,7 cm. Kata kunci : tempat wudhu duduk, ergonomi, antropometri. Latar Belakang Wudhu merupakan salah satu amalan ibadah yang agung di dalam Islam. Secara bahasa, wudhu berasal dari kata Al-Wadha ah, yang mempunyai arti kebersihan dan kecerahan. Sedangkan menurut istilah, wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau ibadah lain (Albatawy, 2012). Kesempurnaan shalat sangat tergantung dengan kesempurnaan wudhu dan dilakukan sebelum melaksanakan ibadah shalat. Rasulullah SAW bersabda : Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima apabila ia berhadas sehingga ia berwudhu (H.R. Abu Hurairah R.A) (Almath dalam Suparwoko, 2010). Agar diperoleh kualitas wudhu yang baik diperlukan fasilitas wudhu yang bisa menjamin kesempurnaan dalam berwudhu. Pada umumnya masyarakat di Indonesia berwudhu dengan posisi berdiri. Rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk relatif sedikit di Indonesia dan tempat wudhu tersebut belum memperhatikan aspek ergonomi dalam perancangannya. Melakukan aktivitas dengan posisi duduk lebih baik daripada berdiri karena pada saat duduk kaki tidak menerima beban tubuh dimana tubuh dibebankan pada tempat duduk (Anies dalam Suparwoko, 2010). Bekerja dengan duduk pergerakaan tangan akan terkontrol dengan baik (Wickens, et al., 2004). Hal ini juga berlaku untuk berwudhu. Wudhu dengan posisi duduk memberikan kebersihan dan kenyamanan yang lebih dibandingkan wudhu dengan posisi berdiri. Wudhu dengan posisi duduk bisa terhindar dari kelelahan punggung akibat membungkuk khususnya bagi orang yang lanjut usia. Sedangkan wudhu dengan posisi berdiri bisa menyebabkan tubuh tidak seimbang ketika harus berdiri dengan satu kaki pada saat mencuci kaki. Hal lain yang menjadi perhatian bahwa wudhu dengan posisi duduk juga menjadikan suasana berwudhu lebih tenang dan santai sehingga kualitas wudhu bisa lebih terjaga. Hal ini selaras dengan pernyataan Pheasant dan Haslegrave (2006) yang menyatakan bahwa beraktivitas dengan posisi duduk otot terasa lebih rileks karena badan didukung oleh tempat duduk. Aktivitas dengan posisi duduk tubuh menjadi terjaga keseimbangannya dan lebih aman (Purnomo, 2012). Tempat wudhu dengan duduk telah banyak di gunakan di beberapa masjid di Indonesia, akan tetapi tempat wudhu tersebut menimbulkan masalah dan keluhan bagi para pengguna. Persoalan utama adalah tempat wudhu duduk tidak dirancang sesuai dengan dimensi tubuh pengguna. Rancangan fasilitas yang sering menjadi masalah pagi pengguna adalah posisi kran yang terlalu tinggi dan jarak antara tempat duduk dengan kran,

2 sehingga menyebabkan cipratan air mengenai tubuh. Persoalan tersebut menyebabkan pengguna tidak memanfaatkan tempat duduk dan melakukan wudhu dengan berdiri. Penelitian sebelumnya terkait dengan tempat wudhu dilakukan oleh Suparwoko (2010). Hasil penelitian tersebut lebih menekankan pada aspek tata ruang sedangkan ukuran yang digunakan dengan analogi berdasarkan rancangan yang telah ada. Penelitian lainnya dilakukan oleh Saktiwan (2010) yaitu perancangan ulang tempat wudhu lansia meliputi penambahan tempat duduk wudhu, penambahan pijakan kaki, merancang ketinggian kran sesuai posisi duduk, mengganti kran yang mudah dibuka dengan pegangan kran yang panjang dan penambahan hand rail, perancangan komponen ini berdasarkan pendekatan antropometri lansia pengguna tempat wudhu. Hardian (2011) melakukan penelitian terkait dengan kajian secara ergonomi tempat wudhu umum dalam lingkungan virtual. Sedangkan pada penelitian ini lebih ditekankan pada rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk yang ditinjau dari aspek ergonomi. Berdasarkan pada permasalahan yang terjadi pada tempat wudhu duduk dan beberapa penelitian terdahulu, maka pada penelitian ini akan dilakukan rancangan ulang tempat wudhu duduk dengan mengevaluasi tempat wudhu yang telah ada. Rancangan tempat wudhu duduk ini lebih ditekankan pada tinjauan ergonomi dengan menggunakan data antropometri. Sander & Mc.Cormick (1987) mendefinisikan antropometri sebagai pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai orang. Panero dan Zelnik (1979) menjelaskan bahwa perancangan tempat duduk harus memungkinkan untuk melakukan perubahan variasi, disesuaikan dengan antropometri pengguna dan fleksi lutut membentuk 90 o dengan telapak kaki. Antropometri juga dapat digunakan sebagai dasar perancangan stasiun kerja yang menjadi lebih aman dan nyaman (Prado-Lu, 2007). Penerapan data antropometri dewasa ini telah digunakan pada semua aspek kehidupan. Ketidaksesuaian hasil rancangan dengan dimensi tubuh manusia akan berdampak pada ketidaknyamanan dalam penggunaannya. Metode Penelitian Objek Penelitian Objek penelitian adalah rancangan tempat wudhu di Masjid dengan dimensi tubuh yang digunakan adalah dimensi tubuh penduduk Sleman yang berusia tahun. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara 1. Wawancara Wawancara dilakukan kepada jamaah masjid di Kabupaten Sleman, Klaten dan Temanggung terkait dengan kebutuhan wudhu seperti tempat wudhu, kran air, fasilitas tempat peralatan dan papan informasi. 2. Kuesioner Kuesioner disebarkan kepada responden yang memahami tentang tempat wudhu dan jamaah yang digunakan untuk menggali informasi tentang penggunaan tempat wudhu dengan duduk. 3. Pengamatan langsung dan studi pustaka Pengamatan langsung dilakukan dengan melihat dan mengukur tempat wudhu duduk yang sudah dirancang di Kabupaten Klaten dan Temanggung yang digunakan sebagai pembanding dengan rancangan baru. Sedangkan studi pustaka dilakukan dengan membaca literatur yang diperlukan dalam rancangan tempat wudhu dengan posisi duduk dan kebutuhan terhadap data antropometri yang diperlukan dalam rancangan tempat wudhu. Rancangan Tempat Wudhu Rancangan tempat wudhu dilakukan dengan konsep parsipatori dengan melibatkan pihak tekait seperti ahli ergonomi, arsitek maupun pengguna tempat wudhu. Langkah-langkah yang dilakukan adalah : 1. Penyamaan persepsi terhadap anggota tim tentang rancangan tempat wudhu dengan posisi berdiri untuk membahas konsep tempat wudhu yang ergonomis. 2. Pemilihan data antropometri yang digunakan untuk perancangan tempat wudhu. Data antropometri yang digunakan adalah Tinggi bahu berdiri (Tbb), Tinggi bahu duduk (Tbd), Tinggi popliteal (Tpo), Lebar pinggul (Lp), Panjang popliteal-pantat (Ppp), Jangkauan horisontal duduk (Jhd), dan lebar bahu (Lb) 3. Menentukan nilai persentil yang disesuaikan dengan kebutuhan rancangan. Aturan yang digunakan adalah : (a) Tempat barang menggunakan dimensi Tbb dengan persentil ke-95; (b) Tinggi kran menggunakan dimensi Tbd dan Tpo dengan persentil ke-5 (Tinggi kran = Tbd +Tpo); (c) Tinggi tempat duduk menggunakan dimensi Tpo dengan persentil ke-5; (d) Lebar tempat duduk menggunakan dimensi Lp dengan persentil ke-95; (e) Panjang tempat duduk menggunakan dimensi Ppp dengan persentil ke-5; (f) Jarak antara tempat duduk dengan kran menggunakan dimensi Ppp dengan persentil ke-5; (g) Jarak antar tempat duduk menggunakan dimensi Lb dengan persentil ke-95; dan (h) Tempat sabun menggunakan dimensi Tbd dengan persentil ke-5 ditambah dengan 10 cm diatas Tbd (10 cm diatas kran). Hasil dan Pembahasan

3 Rancangan tempat wudhu duduk dilakukan dengan menggunakan antropometri penduduk Sleman lakilaki dan perempuan berumur Perhitungan nilai persentil ke-5, ke-50 dan ke-95 seperti ditunjukkan pada Tabel 1 dan 2 berikut. Tabel 1. Dimensi Tubuh Laki-laki dan Nilai Persentil No. Dimensi tubuh Persentil ke-5 Persentil ke-50 Persentil ke-95 1 Tinggi bahu berdiri 127,0 cm 138,0 cm 149,0 cm 2 Tinggi bahu duduk 52,0 cm 57,9 cm 63,8 cm 3 Tinggi popliteal 36,4 cm 43,5 cm 50,6 cm 4 Panjang popliteal-pantat 37,6 cm 43,9 cm 50,2 cm 5 Lebar pinggul 27,7 cm 35,8 cm 43,9 cm 6 Jangkauan horisontal 58,4 cm 67,6 cm 76,8 cm 7 Lebar bahu 38,5 cm 45,1 cm 51,7 cm Sumber : Purnomo, 2012 diolah Tabel 2. Dimensi Tubuh Perempuan dan Nilai Persentil No. Dimensi tubuh Persentil ke-5 Persentil ke-50 Persentil ke-95 1 Tinggi bahu berdiri 124,0 cm 131,1 cm 138,2 cm 2 Tinggi bahu duduk 50,5 cm 54,4 cm 58,3 cm 3 Tinggi popliteal 29,5 cm 39,9 cm 50,3 cm 4 Panjang popliteal-pantat 37,3 cm 43,4 cm 49,3 cm 5 Lebar pinggul 30,6 cm 35,4 cm 40,2 cm 6 Jangkauan horisontal 57,3 cm 68,2 cm 79,1 cm 7 Lebar bahu 34,5 cm 40,3 cm 46,1 cm Sumber : Purnomo, 2012 diolah Implementasi data antropometri terhadap rancangan peralatan dapat dijelaskan sebagai berikut : (1)Tbb digunakan untuk merancang tempat barang dengan menggunakan persentil ke-95. Penggunaan persentil ini ditujukan agar tidak terlalu pendek namun masih dalam kenyamanan untuk menaruh dan mengambil barang. Tempat menaruh barang dianjurkan tidak terlalu lebar agar pengguna tidak terbentur pada saat berdiri setelah berwudhu; (2) Tbd digunakan untuk menentukan ketinggian kran tempat wudhu dengan menggunakan persentil ke-5 dengan tujuan agar jarak kran dengan kaki dekat untuk menghindari cipratan air ke tubuh (Tinggi kran = Tbd +Tpo); (3) Tpo digunakan untuk menetapkan ketinggian tempat duduk dengan menggunakan persentil ke-5 agar terjadi kemudahan penggunaan antara orang yang tungkainya pendek untuk duduk, (4) Lp digunakan untuk merancang lebar tempat duduk dengan menggunakan persentil ke-95. Pertimbangan mengambil persentil ini agar pengguna yang paling besar pinggulnya dapat menggunakan tempat duduk tersebut; (5) Ppp digunakan untuk menentukan panjang tempat duduk dengan menggunakan persentil ke-5 dengan pertimbangan panjang tempat duduk tidak boleh terlalu panjang agar nyaman digunakan; (6) Jhd digunakan untuk menentukan jarak antara tempat duduk ke kran, dengan menggunakan persentil ke-5, hal ini diharapkan pengguna mudah menjangkau kran tanpa harus membungkuk atau memiringkan badan; (7) Lb digunakan untuk menetapkan jarak antar tempat duduk, persentil yang digunakan adalah persentil ke-95 dengan pertimbangan orang yang bahunya paling besar dapat melewati ruang antar tempat duduk; (8) Tinggi pijakan kaki diasumsikan setengah dari tinggi popliteal, dengan tinggi ini diharapkan kaki tidak terangkat terlalu tinggi agar masih jadi keseimbangan tubuh dalam duduk. Tinggi pijakan kaki jangan terlalu rendah yang menyebabkan membungkuk terlalu dalam. Jarak antar kran dihitung dari jarak antar tempat duduk ditambah dengan Lp. Sedangkan tinggi tempat sabun diasumsikan 10 cm diatas tinggi kran. Dengan demikian ukuran tempat wudhu duduk adalah tinggi tempat barang 149 cm, tinggi tempat sabun 98,4 cm, tinggi kran 88,4 cm, tinggi tempat duduk 36,4 cm, panjang tempat duduk 37,6 cm, lebar tempat duduk 43,9 cm, jarak antara tempat duduk ke kran 58,4 cm, jarak antar tempat duduk 51,7 cm dan jarak antar kran 95,6 cm untuk laki-laki. Sedangkan untuk perempuan tinggi tempat barang 138,2 cm, tinggi tempat sabun 90 cm, tinggi kran 80 cm, tinggi tempat duduk 29,5 cm, panjang tempat duduk 37,3 cm, lebar tempat duduk 40,2 cm, jarak antara tempat duduk ke kran 57,3 cm, jarak antar tempat duduk 46,1 cm dan jarak antar kran 86,3 cm. Rancangan tempat wudhu duduk laki-laki dan perempuan ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2 berikut.

4 Gambar 1. Rancangan Tempat Wudhu Duduk Laki-laki Gambar 2. Rancangan Tempat Wudhu Duduk Perempuan Pemilihan nilai persentil yang digunakan dalam rancangan tempat wudhu duduk tersebut didasarkan pada aturan-aturan yang umum digunakan. Dikarenakan rancangan tempat wudhu merupakan rancangan fasilitas umum, maka ukuran persentil diatas bukan sebuah nilai yang pasti atau keharusan. Hal ini dikarenakan rancangan yang bersifat fasilitas umum lebih sering menggunakan nilai rerata atau persentil ke-50. Oleh karena itu rancangan tempat wudhu dapat ditoleransi dengan menggunakan nilai persentil ke-5 (persentil kecil) sampai dengan persentil ke-95 (persentil besar). Berdasarkan pengamatan di lapangan menunjukkan ukuran rancangan tempat wudhu duduk yang ada cukup bervariasi. Perbandingan ukuran faslitas tempat wudhu duduk antara masjid Kabupaten Klaten dan masjid Kabupaten Temanggung serta rancangan berbasis ergonomi ditunjukkan seperti pada Tabel 3 berikut. Dimensi Tabel 3. Perbandingan Tempat Wudhu Duduk Masjid Kabupaten Klaten Masjid Kabupaten Temanggung Hasil Rancangan Laki-laki Hasil Rancangan Perempuan Tempat barang ,0 cm 138,2 cm Tinggi kran 100 cm 105 cm 88,4 cm 80 cm Tinggi tempat duduk 40 cm 40 cm 36,4 cm 29,5 cm

5 Panjang tempat duduk 34 cm 30 cm 37,6 cm 37,3 cm Lebar tempat duduk 34 cm 30 cm 43,9 cm 40,2 cm Jarak antara tempat duduk ke kran 40 cm 45 cm 58,4 cm 57,3 cm Jarak antar tempat duduk 67 cm 50 cm 51,7 cm 46,1 cm Jarak antar kran 84 cm 80 cm 95,6 cm 86,3 cm Berdasarkan pada Tabel 3, Perbandingan ukuran tempat wudhu antara masjid di Kabupaten Klaten dan masjid di kabupaten Temanggung nampak ada perbedaan dari fasilitas yang ada. Kedua ukuran tersebut juga berbeda dengan rancangan yang berbasis pada data antropometri. Disamping itu ukuran tempat wudhu duduk di kedua kabupaten tersebut sama antara laki-laki dan perempun. Perbedaan yang besar yaitu tinggi kran antara dua masjid dengan hasil rancangan, dengan selisih berkisar cm. Perbedaan yang besar lainnya adalah jarak antara tempat duduk ke kran dengan selisih berkisar 12,3 cm -17,3 cm. Kran yang terlalu tinggi dan jarak antara tempat duduk ke kran yang terlalu dekat mengakibatkan cipratan air menjadi lebih banyak ke tubuh. Berdasarkan wawancara dengan jamaah dan takmir masjid di Kabupaten Klaten dan Temanggung dinyatakan bahwa posisi kran yang ada di masjid tersebut mengakibatkan cipratan air mengenai pakaian pengguna. Hal ini disebabkan karena tinggi kran yang terlalu tinggi dan jarak kran dengan tubuh terlalu dekat. Faktor lain yang menyebabkan cipratan air yang besar disebabkan karena pancuran yang terlalu besar. Oleh karena itu dianjurkan untuk menggunakan kran yang pancuran air tidak terlalu keras. Sedangkan ukuran fasilitas lainnya tidak begitu berbeda sehingga masih dalam toleransi secara ergonomi. Hal lain yang berbeda adalah pijakan kaki, dimana Masjid di Kabupaten Klaten sebagian besar tidak dibuat pijakan kaki, sedangkan Masjid di Temanggung dirancang ada pijakan kaki dengan tinggi pijakan 10 cm di atas tinggi lutut dalam posisi duduk. Tinggi pijakan ini tidak ergonomis, dikarenakan jamaah akan mengangkat kaki teralu tinggi jika menggunakan pijakan tersebut yang menyebabkan pengguna kehilangan keseimbangan tubuh dan akan jatuh ke belakang. Gambar 4. Tata Letak Ruang dan Papan Informasi Tempat Wudhu Duduk Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan tempat wudhu duduk adalah aspek informasi seperti visual display berupa papan informasi. Papan informasi ini diperlukan bagi semua fasilitas tempat wudhu duduk apabila fasilitas ini ingin dimanfaatkan secara optimal. Visual display berupa papan informasi ini diletakkan pada tempat yang tepat agar pengguna dapat melihat dengan mudah tanpa harus mencari (Kroemer, et al., 1994). Terkait dengan papan informasi ini yang perlu dipertimbangkan adalah proporsi huruf yang dianjurkan untuk membuat tulisan atau papan informasi. Ukuran huruf dan angka harus disesuaikan dengan jarak antara mata dan peraga informasi. Tinggi huruf diformulasikan sebagai berikut (Grandjean, 1993) : Bagi kebanyakan huruf dan angka, perbandingan berikut ini baik dipakai adalah (Grandjean, 1993): (1) Lebar = 2/3 dari tinggi; (2) Tebal = 1/6 dari tinggi; (3) Jarak antara dua huruf = 1/4 dari tinggi; (4) Jarak antara huruf dan angka = 1/5 dari tinggi; (5) Jarak antara dua kata = 2/3 dari tinggi; (6) Tinggi huruf kecil = 2//3 dari tinggi Berdasarkan rumus di atas, maka dengan asumsi jarak papan informasi dari mata 500 cm diperoleh tinggi huruf besar adalah 2,5 cm, tinggi huruf kecil 1,7 cm, lebar huruf 1,7 cm, tebal huruf 0,42 cm, jarak antara huruf 0,5 cm, jarak antar kata 1,7 cm. Ukuran tersebut merupakan ukuran minimal yang direkomendasikan secara ergonomi, namun bisa diperbesar sesuai dengan kebutuhan.

6 Gambar 3. Contoh Ukuran Huruf Konsekuensi tempat wudhu dengan posisi duduk diperlukan ruangan lebih besar jika dibandingkan dengan ruangan yang diperlukan untuk membuat tempat wudhu dengan posisi berdiri. Namun demikian, ruangan yang lebih besar memberikan keleluasaan bagi pengguna. Kendala yang dihadapi apabila tidak tersedia cukup ruangan yang diperlukan untuk keperluan itu, seperti di musholla-musholla sekolah/kampus/perkantoran yang memiliki ruangan relatif kecil. Ditinjau dari aspek sosial budaya diperlukan merubah kebiasaan orang Indonesia wudhu dengan posisi berdiri menjadi wudhu dengan posisi duduk. Perlu sosialisasi dan contoh dari yang sudah mengerti tentang hal ini. Melihat dari kebiasaan orang Arab berwudhu dengan posisi duduk, bahkan sebagian besar fasilitas wudhu adalah dengan posisi duduk. Sebenarnya timbul sebuah pertanyaan, bagaimanakah Rasulullah melakukan wudhu, berdiri atau duduk?. Budaya masyarakat di Mekah wudhu dengan posisi duduk mungkin saja memperlihatkan kenyataan sejarah bahwa Rasulullah dahulu wudhu dengan posisi duduk. Apabila demikian kenyataannya, maka wudhu dengan posisi duduk tidak hanya lebih ergonomis tetapi juga memberikan pahala sunnah bagi yang mengerjakannya. Namun tentu saja hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut bagi para ahli hadist untuk menelusurinya, karena memang sampai saat ini belum ada satu pun diketemukan hadits yang menjelaskan bagaimana posisi wudhu Rasulullah. Kesimpulan Berdasarkan hasil anilisis dapat disimpulkan bahwa rancangan tempat wudhu duduk dengan rancangan berdasarkan data antropometri terdapat perbedaan yang besar khususnya tinggi kran dan jarak antara tubuh dengan dengan kran. Selisih ukuran tersebut berkisar cm sedangkan selisih jarak antara tubuh dengan kran berkisar 12,3 cm -17,3 cm. Hasil rancangan dengan data antropometri didapat tinggi tempat barang 149 cm, tinggi tempat sabun 98,4 cm, tinggi kran 88,4 cm, tinggi tempat duduk 36,4 cm, panjang tempat duduk 37,6 cm, lebar tempat duduk 43,9 cm, jarak antara tempat duduk ke kran 58,4 cm, jarak antar tempat duduk 51,7 cm dan jarak antar kran 95,6 cm untuk laki-laki. Sedangkan untuk perempuan tinggi tempat barang 138,2 cm, tinggi tempat sabun 90 cm, tinggi kran 80 cm, tinggi tempat duduk 29,5 cm, panjang tempat duduk 37,3 cm, lebar tempat duduk 40,2 cm, jarak antara tempat duduk ke kran 57,3 cm, jarak antar tempat duduk 46,1 cm dan jarak antar kran 86,3 cm. Daftar Pustaka Albatawy, S.A Dahsyatnya Air Wudhu. Jakarta: Kunci Iman Grandjean., E Fitting the Task to The Man. 4 th edition. London: Taylor & Francis Hardian, R Perancangan Tempat Wudhu Umum Yang Ergonomis Dengan Metode Posture Evaluation Index (PEI) Dalam Virtual Environment. Skripsi. Program Teknik Industri.UI. Depok. Kroemer, K., Kroemer, H., and Kroemer-Elbert, K. Ergonomics How to Design for easy & effiseinsy. Englewood Cliffs, NJ. : Prentice- Hall. Panero, J.P. dan Zelnik, M Dimensi Manusia dan Ruang Interior. Jakarta: Erlangga. Pheasant, S. and Haslegrave, C. M Bodyspace, Anthropometry, Ergonomics and The Design of Work. London :Taylor & Francis. Prado-Lu, J.L.D Anthropometric measurement of Filipino manufacturing workers. International Journal of Industrial Ergonomics. Vol.37.pp Purnomo, H Antropometri dan Aplikasinya. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sanders, M.S. and McCormic, E.J Human Factors in Engineering and Design. USA: McGraw Hill-Book Company

7 Suparwoko, Analisis Tata Ruang dan Ergonomi Tempat Wudhu Masjid dan Mushola Di Lingkungan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Saktiwan, P Perancangan Ulang Tempat Wudhu Untuk Lanjut Usia (Lansia) (Studi Kasus Panti Wredha Dharma Bakti Surakarta). Diakses Tanggal 10 Maret Tersedia di Wickens, C. D., Lee, J.D., Liu, Y., And Becker, S.E.G An Introduction to Human Factors Engineering. New Jersey : Prentice Hall.

IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN

IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN (Studi Kasus Industri Tenun Pandai Sikek Sumatera Barat) Nilda Tri Putri, Ichwan

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERBAIKAN BENTUK FISIK KURSI KERJA OPERATOR MENJAHIT DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK ERGONOMI (STUDI KASUS PADA PD.

ANALISIS DAN PERBAIKAN BENTUK FISIK KURSI KERJA OPERATOR MENJAHIT DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK ERGONOMI (STUDI KASUS PADA PD. ANALISIS DAN PERBAIKAN BENTUK FISIK KURSI KERJA OPERATOR MENJAHIT DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK ERGONOMI (STUDI KASUS PADA PD. SONATA JAYA) PURWATI Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Industri, Universitas

Lebih terperinci

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri INSTRUKSI KERJA Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2014 DAFTAR REVISI Revisi ke 00 : Rumusan

Lebih terperinci

KAJIAN ERGONOMI PADA FASILITAS DUDUK UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA

KAJIAN ERGONOMI PADA FASILITAS DUDUK UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA KAJIAN ERGONOMI PADA FASILITAS DUDUK UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA Grace Mulyono Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra - Surabaya e-mail: gracem@petra.ac.id ABSTRAK

Lebih terperinci

Usulan Perancangan Fasilitas Kerja Yang Ergonomis Guna Meningkatkan Kinerja Pekerja Industri Kecil Mozaik

Usulan Perancangan Fasilitas Kerja Yang Ergonomis Guna Meningkatkan Kinerja Pekerja Industri Kecil Mozaik Usulan Perancangan Fasilitas Kerja Yang Ergonomis Guna Meningkatkan Kinerja Pekerja Industri Kecil Mozaik Endang Widuri Asih 1 dan Titin Isna Oesman 2 Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta endang.akprind@gmail.com,

Lebih terperinci

PERANCANGAN MEJA DAN KURSI RESTORAN CEPAT SAJI DENGAN PENDEKATAN SECARA ERGONOMIS DI KAFE GAJAHMADA MOJOKERTO SKRIPSI

PERANCANGAN MEJA DAN KURSI RESTORAN CEPAT SAJI DENGAN PENDEKATAN SECARA ERGONOMIS DI KAFE GAJAHMADA MOJOKERTO SKRIPSI PERANCANGAN MEJA DAN KURSI RESTORAN CEPAT SAJI DENGAN PENDEKATAN SECARA ERGONOMIS DI KAFE GAJAHMADA MOJOKERTO SKRIPSI Oleh : ATIM PUJI LESMONO 0732015002 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Kondisi Subjek Kondisi subjek yang diukur dalam penelitian ini meliputi karakteristik subjek dan antropometri subjek. Analisis kemaknaan terhadap karakteristik subjek dilakukan

Lebih terperinci

Prinsip-Prinsip Perancangan Berbasiskan Dimensi Tubuh (Antropometri) Dan Perancangan Stasiun Kerja 1)

Prinsip-Prinsip Perancangan Berbasiskan Dimensi Tubuh (Antropometri) Dan Perancangan Stasiun Kerja 1) Prinsip-Prinsip Perancangan Berbasiskan Dimensi Tubuh (Antropometri) Dan Perancangan Stasiun Kerja 1) Oleh : Sritomo W.Soebroto 2) Laboratorium Ergonomi & Perancangan Sistem Kerja Jurusan Teknik Industri

Lebih terperinci

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK Abstrak ANAK Delta Pralian - NPM : 30402264 Program Studi Teknik Industri, Universitas Gunadarma E-mail : dpralian@yahoo.com

Lebih terperinci

Hubungan Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Kelelahan Kerja Melalui Subjective Self Rating Test

Hubungan Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Kelelahan Kerja Melalui Subjective Self Rating Test Hubungan Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Kelelahan Kerja Melalui Subjective Self Rating Test Titin Isna Oesman 1 dan Risma Adelina Simanjuntak 2 Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta ti_oesman@yahoo.com,risma_stak@yahoo.com

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT PENGEPRES SINGKONG YANG ERGONOMIS DI UKM PENYEDIA BAHAN BAKU PEMBUATAN MAKANAN RINGAN

PERANCANGAN ALAT PENGEPRES SINGKONG YANG ERGONOMIS DI UKM PENYEDIA BAHAN BAKU PEMBUATAN MAKANAN RINGAN 7 PERANCANGAN ALAT PENGEPRES SINGKONG YANG ERGONOMIS DI UKM PENYEDIA BAHAN BAKU PEMBUATAN MAKANAN RINGAN Rosleini Ria Putri Z, Bagus Ismail Adhi W. Program Studi Teknik industri Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI A. DESKRIPSI Menurut Tayyari dan Smith (1997) fisiologi kerja sebagai ilmu yang mempelajari tentang fungsi-fungsi organ tubuh manusia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut,

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah keselamatan dan kesehatan kerja adalah masalah dunia. Bekerja dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, udara, bekerja disektor

Lebih terperinci

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I

Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I Penempatan Posisi Ketinggian Monitor Diturunkan Dapat Mengurangi Keluhan Subjektif Para Pemakai Kaca Bifokal, Bagian I Oleh: I Dewa Ayu Sri Suasmini, S.Sn,. M. Erg. Dosen Desain Interior Fakultas Seni

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KAJIAN TEORI 1. Fasilitas Ruang Pembelajaran Teori Berdasarkan ketentuan dalam Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan Tinggi, Program Pasca Sarjana dan Pendidikan Profesi (2011)

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Kenyamanan Memandang Secara Umum. Dalam memandang, manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Kenyamanan Memandang Secara Umum. Dalam memandang, manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan yang BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kenyamanan Memandang Secara Umum Dalam memandang, manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan oleh adanya keterbatasan rentang gerakan kepala. Secara antropometrik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari keluhan LBP dapat menyerang semua orang, baik jenis

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT BANTU JALAN KRUK BAGI PENDERITA CEDERA DAN CACAT KAKI

PERANCANGAN ALAT BANTU JALAN KRUK BAGI PENDERITA CEDERA DAN CACAT KAKI PERANCANGAN ALAT BANTU JALAN KRUK BAGI PENDERITA CEDERA DAN CACAT KAKI Genta Emel P.Chandra 1, Desto Jumeno 2 1) Mahasiswa Program Sarjana, Program Studi Teknik Industri, Universitas Andalas Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

DI BULAN SUCI RAMADHAN

DI BULAN SUCI RAMADHAN AMALAN-AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN Disusun Oleh: Mohammad Iqbal Ghazali. MA Murajaah : Abu Ziyad ا عمال رمضانية Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah 1428 2007 AMALAN-AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN

Lebih terperinci

www.fiqhindonesia.com

www.fiqhindonesia.com 13 Shalat Bagi Mereka yang Udzur 128 Daftar Bahasan Pengertian Udzur Shalat Orang Sakit Beberapa Hukum Berkenaan dengan Shalat Orang Sakit Shalat Orang Musafir Makna Safar (Bepergian) Mengqashar Salat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi di dunia ini, banyak sekali perubahan dari

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi di dunia ini, banyak sekali perubahan dari 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki era globalisasi di dunia ini, banyak sekali perubahan dari lingkungan serta perilaku manusia yang ada di dunia ini, bisa dilihat semakin banyak sekali tuntutan

Lebih terperinci

EVALUASI ERGONOMIS DALAM PROSES PERANCANGAN PRODUK

EVALUASI ERGONOMIS DALAM PROSES PERANCANGAN PRODUK EVALUASI ERGONOMIS DALAM PROSES PERANCANGAN PRODUK Oleh : Sritomo Wignjosoebroto Laboratorium Ergonomi & Perancangan Sistem Kerja Jurusan Teknik Industri FTI-ITS Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp/Fax.

Lebih terperinci

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL Disusun oleh : HENDRO HARNOTO J110070059 Diajukan untuk memenuhi tugas dan syarat syarat guna memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

Rekomendasi Teknis Pengangkatan Material dan Waktu Istirahat pada Aktivitas Angkat-Angkut Tradisional Wanita Madura

Rekomendasi Teknis Pengangkatan Material dan Waktu Istirahat pada Aktivitas Angkat-Angkut Tradisional Wanita Madura Rekomendasi Teknis Pengangkatan Material dan Waktu Istirahat pada Aktivitas Angkat-Angkut Tradisional Wanita Madura Mahrus Khoirul Umami Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Trunojoyo

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT BANTU AKTIVITAS BONGKAR PUPUK BERDASARKAN KAJIAN ERGONOMI (Studi Kasus: UD. Karya Tani, Pedan, Klaten)

PERANCANGAN ALAT BANTU AKTIVITAS BONGKAR PUPUK BERDASARKAN KAJIAN ERGONOMI (Studi Kasus: UD. Karya Tani, Pedan, Klaten) PERANCANGAN ALAT BANTU AKTIVITAS BONGKAR PUPUK BERDASARKAN KAJIAN ERGONOMI (Studi Kasus: UD. Karya Tani, Pedan, Klaten) Skripsi FITRIA MAHMUDAH I 0307045 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT BANTU PENCEKAMAN PADA MESIN SERUT PLANNER JOINTER GEETECH

PERANCANGAN ALAT BANTU PENCEKAMAN PADA MESIN SERUT PLANNER JOINTER GEETECH PERANCANGAN ALAT BANTU PENCEKAMAN PADA MESIN SERUT PLANNER JOINTER GEETECH Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik Industri Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Memori atau daya ingat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia karena merupakan kekuatan jiwa manusia untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan-kesan,

Lebih terperinci

IKA WARDANINGSIH R0206072

IKA WARDANINGSIH R0206072 PENGARUH SIKAP KERJA DUDUK PADA KURSI KERJA YANG TIDAK ERGONOMIS TERHADAP KELUHAN OTOT-OTOT SKELETAL BAGI PEKERJA WANITA BAGIAN MESIN CUCUK DI PT ISKANDAR INDAH PRINTING TEXTILE SURAKARTA SKRIPSI Untuk

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF LATAR BELAKANG Penyebab gerakan adalah gaya. Gaya merupakan pembangkit gerakan. Objek bergerak karena adanya gaya yang bekerja padanya.

Lebih terperinci

I TIKAF. Pengertian I'tikaf. Hukum I tikaf. Keutamaan Dan Tujuan I tikaf. Macam macam I tikaf

I TIKAF. Pengertian I'tikaf. Hukum I tikaf. Keutamaan Dan Tujuan I tikaf. Macam macam I tikaf I TIKAF Pengertian I'tikaf Secara harfiyah, I tikaf adalah tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian, I tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah

Lebih terperinci

Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya

Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang memiliki kemampuan. Barangsiapa kafir atau mengingkari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON. A. Pengecekan Arah Kiblat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON. A. Pengecekan Arah Kiblat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON A. Pengecekan Arah Kiblat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Dalam menganalisa arah kiblat Masjid Agung Sang Cipta

Lebih terperinci

KAJIAN ERGONOMI TENTANG LINGKUNGAN FISIK PADA STASIUN KERJA

KAJIAN ERGONOMI TENTANG LINGKUNGAN FISIK PADA STASIUN KERJA KAJIAN ERGONOMI TENTANG LINGKUNGAN FISIK PADA STASIUN KERJA Veronica Tuka*; Suharyo Widagdo**, A. M. Wibowo* ABSTRAK : KAJIAN ERGONOMI TENTANG LINGKUNGAN FISIK PADA STASIUN KERJA. Manusia sebagai pemakai

Lebih terperinci

Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā

Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā Petunjuk Meditasi Jalan, Duduk, dan Kegiatan Sehari-hari dalam Meditasi Vipassanā Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Meditasi jalan Sebaiknya, latihan meditasi dimulai dengan meditasi jalan dahulu. Saat

Lebih terperinci

www.fiqhindonesia.com

www.fiqhindonesia.com 6 196 Daftar Bahasan Pengertian Anjuran Melakukan Hukum Syarat-Syarat Waktu di Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadhan Hikmah di Balik Anjuran Hal-Hal yang Dibolehkan Bagi Orang yang Hal-Hal yang Membatalkan

Lebih terperinci

[ ] E٣٢٧ J٣١٩ W F : : Al- HAYA' (Sifat PEMALU) "al Haya' ( Rasa malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan." Sesungguhnya di antara fenomena keseimbangan dan tanda-tanda kesempurnaan dalam tarbiyah bahwa

Lebih terperinci

KAPASITAS ANGKAT BEBAN UNTUK PEKERJA INDONESIA

KAPASITAS ANGKAT BEBAN UNTUK PEKERJA INDONESIA JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 8, NO. 2, DESEMBER 2006: 148-155 KAPASITAS ANGKAT BEBAN UNTUK PEKERJA INDONESIA Dedik Santoso Email: dedik_2000@yahoo.com ABSTRAK Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!

BAB 1 PENDAHULUAN. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia! BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia! Siapakah yang tidak mengenal kalimat

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang

Lebih terperinci

KONSEP INTERAKSI MANUSIA dan KOMPUTER

KONSEP INTERAKSI MANUSIA dan KOMPUTER PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO KONSEP INTERAKSI MANUSIA dan KOMPUTER Oky Dwi Nurhayati, ST, MT email: okydn@undip.ac.id Pengenalan IMK Pada tahun 1970 mulai dikenal istilah antarmuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di seluruh dunia pertumbuhan penduduk lansia umur 60 tahun ke atas sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Semakin meningkatnya usia

Lebih terperinci

Khutbah Jum'at. Keutamaan Bulan Sya'ban. Bersama Dakwah 1

Khutbah Jum'at. Keutamaan Bulan Sya'ban. Bersama Dakwah 1 Bersama Dakwah 1 KHUTBAH PERTAMA.. * Hari ini kita telah memasuki bulan Sya'ban. Tidak terasa telah enam hari kita bersamanya. Bulan Sya'ban, yang terletak diantara Rajab dan Ramadhan ini seringkali dilalaikan

Lebih terperinci

Bab 1. KONSEP DASAR SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

Bab 1. KONSEP DASAR SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI Bab 1. KONSEP DASAR SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI Tipe Sistem Informasi Sistem Temu Kembali Informasi (Information Retrieval System - IRS) merupakan salah satu tipe sistem informasi. Selain Sistem Temu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai produsen kerajinan tangan yang mampu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai produsen kerajinan tangan yang mampu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai produsen kerajinan tangan yang mampu bersaing di pasar dunia. Hasil produksinya merupakan barang ekspor Indonesia. Salah satu produksi barang

Lebih terperinci

!!" #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/" 4./" 56 * % &' &()*+&, " "# $ %! #78*5 9: ;<*% =7" >1?@*5 0 ;A " 4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. "/ 4!

!! #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/ 4./ 56 * % &' &()*+&,  # $ %! #78*5 9: ;<*% =7 >1?@*5 0 ;A  4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. / 4! [ ] E٤٩١ J٤٨٧ W F : : Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya agama mewajibkan kepada para pengikutnya (berbuat baik) dalam segala hal dan tidak ridha dari para pengikutnya

Lebih terperinci

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki disampaikan oleh: DR. Dadang Rukmana Direktur Perkotaan 26 Oktober 2013 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG Outline Pentingnya Jalur Pejalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup untuk bertahan dan hidup. Tanpa makanan, manusia tidak dapat bertahan karena manusia menempati urutan teratas dalam

Lebih terperinci

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007

Checklist Indikator. PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun. Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 -2 Checklist Indikator PERKEMBANGANANAK Usia 1-2 tahun Sumber: Konsep Pengembangan PAUD Non Formal, Pusat Kurikulum Diknas, 2007 Diolah oleh: http://www.rumahinspirasi.com MORAL & NILAI AGAMA a. Dapat

Lebih terperinci

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai Lampiran Petunjuk Pelaksanaan TKJI Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Petunjuk Pelaksanaan Tes 1. Lari 40 meter a. Tujuan Tes lari ini adalah untuk mengetahui atau mengukur kecepatan.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.(lasa,2009:207). Kata ilmiah dalam Kamus Besar

Lebih terperinci

SKRIPS. Oleh : AMIRUL HIKAM_ NIM : G 000 070 103 FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

SKRIPS. Oleh : AMIRUL HIKAM_ NIM : G 000 070 103 FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SISWA SDIT MUHAMMADIYAH SINAR FAJAR CAWAS KLATEN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPS Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. terwujudnya kondisi lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan efisien demi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. terwujudnya kondisi lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan efisien demi BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Ergonomi Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni yang berupaya menserasikan alat, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan dan batasan manusia untuk terwujudnya

Lebih terperinci

PROPOSAL TUGAS AKHIR IPTEK BAGI FISIOTERAPI

PROPOSAL TUGAS AKHIR IPTEK BAGI FISIOTERAPI PROPOSAL TUGAS AKHIR IPTEK BAGI FISIOTERAPI Posisi Tubuh yang Benar dan Program Latihan Di rumah bagi Penderita HNP (Pinggang Kecetit) Oleh : Jundiah PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI FAKULTAS FISIOTERAPI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Oleh Hj. Siti Robi ah, S.Pd.

Oleh Hj. Siti Robi ah, S.Pd. Mencari Sekolah yang Baik Oleh Hj. Siti Robi ah, S.Pd. Dan hendaklah takut kepada Allah orang orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan

Lebih terperinci

[ ] : : : : : Ibnul Qayyim rahimahullah menguraikan wasiat Nabi Yahya bin Zakariya alaihimassalam yang berbunyi : Artinya: Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat, jika kamu shalat maka janganlah kamu

Lebih terperinci

أهلها هلندوس الشيخ مد صالح ملنجد

أهلها هلندوس الشيخ مد صالح ملنجد BARU MASUK ISLAM DAN TIDAK MAMPU MENAMPAKKAN KEISALAMANNYA, BAGAIMANA CARA SHALAT DIANTARA KELUARGANYA YANG HINDU? أسلمت حديثا ولا ستطيع إظهار إسلامها فكيف تص ب أهلها هلندوس ] إندوني - Indonesian [ Indonesia

Lebih terperinci

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 Variabel: suatu objek yang dapat memiliki lebih dari satu nilai. Contoh variabel: Jenis kelamin: ada dua

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG ALAT PENGUPAS KACANG TANAH UNTUK MEMINIMALKAN WAKTU PENGUPASAN

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG ALAT PENGUPAS KACANG TANAH UNTUK MEMINIMALKAN WAKTU PENGUPASAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG ALAT PENGUPAS KACANG TANAH UNTUK MEMINIMALKAN WAKTU PENGUPASAN Diajukan Guna memenuhi syarat Untuk Memmperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri fakultas Teknik

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP SOFTWARE CLIPPER PADA PT. PRIMAJASA

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP SOFTWARE CLIPPER PADA PT. PRIMAJASA ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP SOFTWARE CLIPPER PADA PT. PRIMAJASA Suryanto 1 e-mail : Suryanto1865@yahoo.com Diterima :20 Juli 2010 /Disetujui : 12 Agustus 2010 ABSTRACT Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

Gaya Hidup Islami dan Jahili

Gaya Hidup Islami dan Jahili Gaya Hidup Islami dan Jahili Dalam pandangan Islam gaya hidup dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahili. Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang

Lebih terperinci

POSISI-POSISI DALAM PERSALINAN. Hasnerita, S.Si.T. M.Kes

POSISI-POSISI DALAM PERSALINAN. Hasnerita, S.Si.T. M.Kes POSISI-POSISI DALAM PERSALINAN Hasnerita, S.Si.T. M.Kes Pendahuluan Tak ada posisi melahirkan yang paling baik. Posisi yang dirasakan paling nyaman oleh si ibu adalah hal yang terbaik. Namun umumnya, ketika

Lebih terperinci

BAHAN AJAR 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH

BAHAN AJAR 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH BAHAN AJAR 10 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH Slipped Disc Salah satu lokasi rasa sakit yang sering membuat para atlet, khususnya pemainpemain bulutangkis, tenis lapangan dan atlet selancar angin mengeluh

Lebih terperinci

[ ] E١٩٠ J١٨١ W F : : SIFAT TERUS TERANG Tidak ada kebaikan padamu apabila kamu tidak mengatakannya Apakah di antara konsekuensi berterus terang adalah adab yang buruk, membangkitkan fitnah, mengungkap

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG WAJIB BELAJAR DINIYAH TAKMILIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG WAJIB BELAJAR DINIYAH TAKMILIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG WAJIB BELAJAR DINIYAH TAKMILIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional disamping

Lebih terperinci

Sesungguhnya Agama Itu Mudah

Sesungguhnya Agama Itu Mudah Sesungguhnya Agama Itu Mudah ] õ µõý û Indonesian [ Indonesia û Ummu Malik Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2013-1435 ßÝõ ÐË Ãßß ÃßÃõ µõýëý ½ Ò ÒÃß ÒÐà : µ Êà ݵ ÕÃÐÃõ µ 2013-1435 Sesungguhnya Agama Itu

Lebih terperinci

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia BAB II KAMPANYE CUCI TANGAN DENGAN SABUN UNTUK ANAK ANAK DI BANDUNG 2. 1. Cuci Tangan Dengan Sabun Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari

Lebih terperinci

MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BENTUK SOAL : PILIHAN GANDA KELAS : VII JUMLAH SOAL : 50 SOAL SEMESTER : 2 WAKTU : 90 MENIT

MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BENTUK SOAL : PILIHAN GANDA KELAS : VII JUMLAH SOAL : 50 SOAL SEMESTER : 2 WAKTU : 90 MENIT PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DKI JAKARTA KISI-KISI ULANGAN KENAIKAN KELAS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TAHUN PELAJARAN 2012/2013 MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG 68 BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG A. Analisis terhadap pelaksanaan hibah seluruh harta kepada anak angkat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lapangan Asrama PPLP Sumatera Utara di Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 2.

Lebih terperinci

KELELAHAN OTOT TANGAN PADA TENAGA KERJA ANGKUT DI GUDANG LOGISTIK SUB DIVRE BULOG KOTA MAKASSAR

KELELAHAN OTOT TANGAN PADA TENAGA KERJA ANGKUT DI GUDANG LOGISTIK SUB DIVRE BULOG KOTA MAKASSAR KELELAHAN OTOT TANGAN PADA TENAGA KERJA ANGKUT DI GUDANG LOGISTIK SUB DIVRE BULOG KOTA MAKASSAR Muscle Fatigue Hands Transport Warehouse Labor on Logistics Sub-Division Bulog in Makassar Raden Mas Bayu,

Lebih terperinci

KEJADIAN NYERI BAHU PADA OLAHRAGAWAN BULUTANGKIS PUTRA DI PERSATUAN BULUTANGKIS TAMA TARAMAN YOGYAKARTA

KEJADIAN NYERI BAHU PADA OLAHRAGAWAN BULUTANGKIS PUTRA DI PERSATUAN BULUTANGKIS TAMA TARAMAN YOGYAKARTA SKRIPSI KEJADIAN NYERI BAHU PADA OLAHRAGAWAN BULUTANGKIS PUTRA DI PERSATUAN BULUTANGKIS TAMA TARAMAN YOGYAKARTA Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupannya manusia tak pernah lepas dari kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan yang berhubungan dengan fisik,

Lebih terperinci

BAB IV REVISI PRODUK DAN UJI COBA LAPANGAN DAN EVALUASI. diperoleh dari para ahli. Karena keterbatasan biaya dan waktu serta

BAB IV REVISI PRODUK DAN UJI COBA LAPANGAN DAN EVALUASI. diperoleh dari para ahli. Karena keterbatasan biaya dan waktu serta BAB IV REVISI PRODUK DAN UJI COBA LAPANGAN DAN EVALUASI 4.1. Revisi Produk Revisi produk kali ini mengacu kepada masukan-masukan yang diperoleh dari para ahli. Karena keterbatasan biaya dan waktu serta

Lebih terperinci

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT 2.1 Pengertian Cuci Tangan Menurut Dr. Handrawan Nadesul, (2006) tangan adalah media utama bagi penularan kuman-kuman penyebab penyakit. Akibat kurangnya

Lebih terperinci

TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH

TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH Oleh: رحمه اهلل Imam Ibnu Katsir Download > 300 ebook Islam, Gratis!!! kunjungi. سورة الشرح TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH (Bukankah Kami telah Melapangkan) 1 "Dengan menyebut Nama

Lebih terperinci

PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS PELAYANAN JASA FOTO COPY TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN FE UPI Y.A.I

PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS PELAYANAN JASA FOTO COPY TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN FE UPI Y.A.I PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN KUALITAS PELAYANAN JASA FOTO COPY TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN FE UPI Y.A.I Siti Aisyah Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Persada Indonesia Y.A.I, Jakarta email:

Lebih terperinci

EVALUASI USABILITY SITUS WEB PERPUSTAKAAN

EVALUASI USABILITY SITUS WEB PERPUSTAKAAN EVALUASI USABILITY SITUS WEB PERPUSTAKAAN Purwani Istiana* Intisari Evaluasi terhadap situs web yang telah dibangun perlu dilakukan salah satunya untuk mengetahui bagaimana kegunaan (usability) situs web

Lebih terperinci

PENGUKURAN TINGKAT MOTIVASI DAN DEMOTIVASI PEKERJA KONSTRUKSI PADA SUATU PROYEK DI SURABAYA

PENGUKURAN TINGKAT MOTIVASI DAN DEMOTIVASI PEKERJA KONSTRUKSI PADA SUATU PROYEK DI SURABAYA PENGUKURAN TINGKAT MOTIVASI DAN DEMOTIVASI PEKERJA KONSTRUKSI PADA SUATU PROYEK DI SURABAYA William Liedianto 1 dan Andi 2 ABSTRAK : Performa kerja seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu

Lebih terperinci

BAB III STRUKTUR JALAN REL

BAB III STRUKTUR JALAN REL BAB III STRUKTUR JALAN REL 1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Mengetahui definisi, fungsi, letak dan klasifikasi struktur jalan rel dan

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK)

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) MATA KULIAH DASAR-DASAR BK STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) Oleh : Sugiyatno, M.Pd sugiyatno@uny.ac.id PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Standar Kompetensi

Lebih terperinci

BAB III PARAMETER PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN

BAB III PARAMETER PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN BAB III PARAMETER PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN 3.1. KENDARAAN RENCANA Kendaraan rencana adalah kendaraan yang dimensi (termasuk radius putarnya) dipilih sebagai acuan dalam perencanaan geometrik jalan raya.

Lebih terperinci

MUQADDIMAH KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM

MUQADDIMAH KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM MUQADDIMAH ا ل ح م د ل ل ه ر ب ال ع ال م ي ن و الص لاة و الس لام ع ل ى س ي د ن ا م ح م د س ي د ال م ر س ل ي ن إم ام المتقين وقاي د المجاهدين و ع ل ى آل ه و ص ح ب ه و م ن ت ب ع ه ب ا ح س ان ا ل ى ي و م

Lebih terperinci

*** Syarat Amal Diterima

*** Syarat Amal Diterima Syarat Amal Diterima Kita telah mengetahui, bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-nya, setelah itu Allah Subhanahu wa Ta ala akan membalas pahala amal ibadah, sesuai dengan tingkatannya.

Lebih terperinci

KETERAMPILAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI TUNANETRA

KETERAMPILAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI TUNANETRA KETERAMPILAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI TUNANETRA ACTIVITY OF DAILY LIVING SKILLS (ADL) Oleh: Ahmad Nawawi JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : KEP/25/M.PAN/2/2004

KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : KEP/25/M.PAN/2/2004 KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : KEP/5/M.PAN//00 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA,

Lebih terperinci

ACTIVITY OF DAILY LIVING (ADL) Dra. Mimin Casmini, M.Pd.

ACTIVITY OF DAILY LIVING (ADL) Dra. Mimin Casmini, M.Pd. ACTIVITY OF DAILY LIVING (ADL) Dra. Mimin Casmini, M.Pd. A. PENGERTIAN ADL Istilah Activity of Daily Living (ADL) atau aktivitas kehidupan sehari-hari dalam dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus dikenal

Lebih terperinci

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar pada Ibu Bersalin 1. Dukungan fisik dan psikologis 2. Kebutuhan makanan dan cairan 3. Kebutuhan eliminasi 4. Posisioning dan aktifitas

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL PENGUKURAN KEPUASAN DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Periode 2013

LAPORAN HASIL PENGUKURAN KEPUASAN DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Periode 2013 Universitas Muhammadiyah Magelang LAPORAN HASIL PENGUKURAN KEPUASAN DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN BIRO UMUM DAN BADAN PENJAMIN MUTU UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG 2013 http://bpm.ummgl.ac.id KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 Survei ini merupakan survey mengenai kesehatan dan hal-hal yang yang mempengaruhi kesehatan. Informasi yang anda berikan akan digunakan

Lebih terperinci

ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER

ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER AMIK GI MDP Program Studi Teknik Komputer Skripsi Ahli Madya Komputer Semester Ganjil Tahun 2010/2011 ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK

Lebih terperinci

TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA

TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT Disampaikan Sebagai Materi Muatan Lokal Pencak Silat SMA NEGERI ARJASA Oleh: Muhammad Surur, S.Pd JEMBER 2012 TEKNIK DASAR DALAM GERAKAN PENCAK SILAT 1. KUDA-KUDA

Lebih terperinci

Manual Perakitan Wooden Robot Lamp. Rakit kepala robot dengan menggunakan komponen di bawah. Nama Gambar Jumlah Keterangan

Manual Perakitan Wooden Robot Lamp. Rakit kepala robot dengan menggunakan komponen di bawah. Nama Gambar Jumlah Keterangan Manual Perakitan Wooden Robot Lamp Rakit kepala robot dengan menggunakan komponen di bawah. Angry Face Salah satu wajah robot Smiley Face Salah satu wajah robot Bagian Samping Kepala Robot 2 Dipasang sebagai

Lebih terperinci

RinGkasan MaTeri. 1 balok ubin dinyatakan dalam persen (%) = 100% 1 1 balok ubin dibagi 4 menjadi 4 ubin kecil yang senilai dengan 4

RinGkasan MaTeri. 1 balok ubin dinyatakan dalam persen (%) = 100% 1 1 balok ubin dibagi 4 menjadi 4 ubin kecil yang senilai dengan 4 RinGkasan MaTeri Persen adalah perseratus atau sebuah pecahan yang penyebutnya 00, misal Menyatakan dalam persen (%) 7 % = 7 00 balok ubin dinyatakan dalam persen (%) = 00% balok ubin dibagi 4 menjadi

Lebih terperinci