FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI EFISIENSI TEKNIS BANK PERSERO TAHUN OLEH WILING ALIH MAHA RATRI H

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI EFISIENSI TEKNIS BANK PERSERO TAHUN OLEH WILING ALIH MAHA RATRI H"

Transkripsi

1 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI EFISIENSI TEKNIS BANK PERSERO TAHUN OLEH WILING ALIH MAHA RATRI H DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

2 RINGKASAN WILING ALIH MAHA RATRI. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Teknis Bank Persero Tahun (dibimbing oleh LUKYTAWATI ANGGRAENI) Industri perbankan saat ini sudah membaik tapi perbankan Indonesia belum efisien. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan-to-deposit ratio/ldr perbankan Indonesia masih rendah, hal itu menandakan bahwa penyaluran kredit belum optimal, karena dana yang disalurkan untuk kredit masih sekitar 70% dari total dana pihak ketiga (DPK). Menurut ketentuan BI, LDR yang netral berada di kisaran persen. Kredit Bermasalah juga menyebabkan tidak optimumnya fungsi intermediasi perbankan. Persoalan lain dalam perbankan yaitu terjadinya ekses likuiditas, hal ini terlihat dalam besarnya dana bank yang ditempatkan di BI dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank adalah pelaku fungsi intermediasi, yaitu menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya ke sektor-sektor produktif. Jika kinerja perbankan rendah maka sektor produksi akan kekurangan dana sehingga tidak dapat berproduksi dengan wajar. Tingkat efisiensi merupakan kinerja bank yang mengukur kemampuan bank dalam menjalankan fungsi intermediasi. Bank Persero yang merupakan bank milik pemerintah sampai saat ini belum dapat menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Penelitian ini fokus pada Bank Persero yang terdiri dari Bank Ekspor Indonesia (BEI), bank Mandiri, Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN). Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengukur efisiensi teknis Bank Persero. Dengan regresi akan diketahui faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi teknis Bank Persero. DEA adalah sebuah metode optimasi program matematika untuk mengukur efisiensi teknis suatu unit kegiatan ekonomi (UKE) relatif terhadap UKE lain, dengan input dan output yang lebih dari satu. Dalam penelitian ini UKE-nya adalah bank. Penelitian ini menggunakan data panel yang bersumber dari publikasi Bank Indonesia tahun 1999 sampai Hasil perhitungan dengan metode DEA menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis Bank Persero selama sepuluh tahun penelitian adalah 64,6%. Efisiensi tertinggi dicapai oleh Bank Mandiri, selama sepuluh tahun penelitian efisiensinya selalu 100%. Rata-rata efisiensi BNI adalah tertinggi kedua setelah Bank Mandiri, yaitu 92,31%, disusul BRI sebesar 82,18%, kemudian disusul BEI, sebesar 29,76, dan terakhir BTN, yaitu sebesar 18,77%. BTN memiliki efisiensi terendah diantara bankbank lain, dari tahun ke tahun efisiensinya selalu di bawah 50%. Hasil regresi

3 menunjukkan bahwa total aset berpengaruh nyata positif terhadap efisiensi teknis dan biaya bunga berpengaruh nyata negatif terhadap efisiensi teknis. Saran dari penelitian ini adalah penurunan suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) karena kenaikan biaya bunga akan menurunkan efisiensi teknis.

4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI EFISIENSI TEKNIS BANK PERSERO TAHUN OLEH WILING ALIH MAHA RATRI H Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

5 Judul Skripsi Nama NRP : Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Teknis Bank Persero Tahun : Wiling Alih Maha Ratri : H dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Menyetujui Dosen Pembimbing Lukytawati Anggraeni, Ph.D NIP Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Dedi Budiman Hakim, Ph.D NIP Tanggal lulus :

6 PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor, Oktober 2009 Wiling Alih Maha Ratri H

7 RIWAYAT HIDUP PENULIS Penulis bernama Wiling Alih Maha Ratri, dilahirkan di Karanganyar pada tanggal 19 Oktober 1981 dari pasangan Samueji (Alm.) dan Indriyati. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Penulis menikah dengan Latif Farid Muharrom, dan dikaruniai satu orang putri bernama Salsabila Hassanah. Penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Karanganyar IV pada tahun 1988 sampai dengan tahun 1994, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri I Karanganyar pada tahun 1994 sampai dengan tahun 1997, Sekolah Menengah Umum Negeri I Karanganyar pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2000, dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta pada tahun 2000 sampai dengan tahun Pada tahun 2009 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Program S2 Penyelenggaraan Khusus BPS-IPB di Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Sejak Desember 2004 sampai Desember 2006 penulis bekerja di BPS Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, kemudian dipindah ke BPS Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada bulan Januari Pada bulan Juni 2008 penulis dipindah ke BPS Provinsi Sulawesi Tenggara, dan pada bulan Desember 2008 dipindah lagi ke BPS RI, Jakarta.

8 KATA PENGANTAR Puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dalam pembuatan skripsi ini. Berkat pertolongan-nya akhirnya saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Teknis Bank Persero Tahun Skripsi ini diajukan untuk memenuhi tugas akhir dan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Institut Pertanian Bogor. Dalam proses penulisan skripsi ini, saya mendapat bantuan dari banyak pihak, untuk itu saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Lukytawati Anggraeni, selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga akhirnya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Ibu Tanti Novianti, selaku penguji yang telah bersedia memberikan komentar dan saran terhadap skripsi ini. 3. Bapak dan Ibu Dosen di IPB yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat membantu saya dalam penyusunan skripsi ini. 4. Suamiku dan anakku yang telah memberi dorongan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Mbak Wita, teman satu bimbingan yang membantu saya melalui diskusi-diskusi. 6. Teman-teman satu kelas dan semua pihak yang telah membantu hingga selesainya skripsi ini. Bogor, Oktober 2009 Penulis

9 DAFTAR ISI Hal DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Manfaat Penelitian... 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI Tinjauan Pustaka Pengertian Bank Penggolongan Bank Fungsi Bank Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Konsep Efisiensi Perbankan Metode Pengukuran Input-Output Perbankan Penelitian Terdahulu Kerangka Pemikiran Hipotesis BAB III METODOLOGI PENELITIAN Jenis dan Sumber Data Metode Analisis... 25

10 Analisis Tingkat Efisiensi (Metode DEA) Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Metode Pooled OLS Metode Fixed Effect Metode Random Effect Uji Kesesuaian Model Chow Test Hausman Test Uji Validitas Model Uji F-statistic Uji t-statistic R-squared Pengujian Asumsi Pemeriksaan Multikolinearitas Pemeriksaan Autokorelasi Pemeriksaan Heteroskedastisitas Definisi Operasional Variabel Variabel Input Variabel Output Variabel Tak Bebas Variabel Bebas BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Bank Persero Efisiensi Bank Tahunan Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Teknis Bank Persero 49 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran... 53

11 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 57

12 DAFTAR TABEL No. Hal 1.1. Perkembangan LDR Bank Umum Konsep Dasar DEA Collinearity Statistics Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Elastisitas Variabel Bebas... 52

13 DAFTAR GAMBAR No. Hal 2.1. Kerangka Pemikiran Total Aset Bank Persero Tahun Deposito Bank Persero Tahun Kredit Bank Persero Tahun Rata-Rata Efisiensi Bank Persero Rata-Rata Efisiensi masing-masing Bank Persero... 47

14 DAFTAR LAMPIRAN No. Hal 1. Pertumbuhan Kredit, DPK, dan LDR Bank Umum Pertumbuhan Aset Bank Umum Total Aset Bank Persero Deposito Bank Persero Kredit Bank Persero LDR Bank Persero CAR Bank Persero NPL Bank Persero Pertumbuhan Total Aset Bank Persero Pertumbuhan Deposito Bank Persero Pertumbuhan Kredit Bank Persero Pertumbuhan LDR Bank Persero Pertumbuhan CAR Bank Persero Pertumbuhan NPL Bank Persero Rata-Rata Efisiensi Teknis Bank Persero... 65

15 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan bank secara umum adalah sebagai financial intermediaries atau lembaga perantara dalam pembayaran, salah satunya sebagai perantara pembayaran dalam investasi. Dalam hal ini, bank menjadi perantara antara kreditur dengan debitur. Debitur menggunakan uang yang dipinjamnya dari kreditur untuk kegiatan investasi. Jika investasi semakin bertambah maka kegiatan dalam perekonomian semakin berkembang. Perkembangan kegiatan dalam perekonomian akan menyebabkan jumlah barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah, sehingga kemakmuran masyarakat meningkat. Keberhasilan lembaga perantara yang mempunyai tugas pokok menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya ke sektor-sektor produktif ini ditentukan oleh efisiensinya, yang merupakan ukuran kinerja perbankan. Bank juga menjadi perantara lalu lintas pembayaran transaksi perdagangan dan modal antarnegara. Sebagai pelaku fungsi intermediasi, yaitu menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya ke sektor-sektor produktif, perbankan mempunyai tugas berat karena sektor produktif tergantung pada bank dalam hal penyediaan pinjaman dana untuk kegiatan produksi. Berhasil tidaknya sektor tersebut dipengaruhi oleh kinerja perbankan, karena perbankan yang berperan dalam penyediaan dana. Kinerja perbankan yang rendah akan menyebabkan sektor produktif kekurangan dana

16 sehingga tidak dapat berproduksi dengan wajar. Efisiensi dapat digunakan sebagai ukuran kinerja perbankan. Sejak krisis tahun , banyak masalah menimpa industri perbankan. Oleh karena itu BI mendirikan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk mencapai suatu sistem perbankan yang, sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. API merupakan program BI yang berupa suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk, dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Menurut Haddad 1 (2009), industri perbankan saat ini sudah membaik dibandingkan sebelum tahun 2004, hal ini bisa dilihat dari peningkatan jumlah aset, kredit, dan Dana Pihak Ketiga. Sudah banyak usaha yang dilakukan perbankan sejak API diluncurkan pada 2004 silam. Meskipun perbankan nasional sudah membaik, tapi perbankan Indonesia belum efisien yang ditandai dengan nilai Nett Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), dan dana Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini. Selisih bunga kredit dan deposito atau NIM saat ini masih belum normal seperti saat sebelum krisis, sehingga bank dinilai masih belum efisien. Sebelum krisis NIM 3,5 persen tetapi setelah krisis, NIM masih di atas 5 persen. Setelah krisis perbankan Indonesia berangsur-angsur membaik, salah satunya bisa 1 Kehadiran API disebabkan kondisi perbankan yang menyimpan sejumlah masalah. 27 Agustus 2009.

17 dilihat dari penghimpunan dana dan pemberian kredit. Pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan pemberian kredit dapat dilihat pada Lampiran 1. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan-to-deposit ratio/ldr) juga mengalami peningkatan, pada tahun tahun 2005 meningkat dengan pertumbuhan sebesar 19,44 persen, tahun 2006 sebesar 3,18 persen, tahun 2007 sebesar 7,73 persen, tahun 2008 sebesar 12,45 persen, tetapi pada awal tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 1,1 persen. LDR yang tidak mengalami perubahan yang signifikan selama tahun 2006 sampai awal tahun 2009 menandakan bahwa penyaluran kredit belum optimal, karena dana yang disalurkan untuk kredit masih sekitar 70 persen dari total dana pihak ketiga (DPK), salah satu sebabnya adalah fungsi intermediasi belum optimal. Padahal, menurut ketentuan BI, LDR yang netral berada di kisaran persen, di atas kisaran netral menunjukkan bahwa perbankan terlalu ekspansif dalam menyalurkan kreditnya, sedangkan di bawah kisaran netral menunjukkan bahwa perbankan terlalu kontraktif dalam menyalurkan kreditnya (BI, 2009) Kredit Bermasalah juga menyebabkan tidak optimumnya fungsi intermediasi perbankan. Rasio Kredit Bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) pada tahun 2004 sebesar 5,75 persen, dari tahun 2005 sampai 2008 menunjukkan kecenderungan yang menurun, masing-masing yaitu 8,3 persen, 7 persen, 4,6 persen, dan 3,8 persen, tetapi setelah itu kecenderungannya meningkat selama awal tahun 2009, dari Januari sampai Mei berturut-turut 4,2 persen, 4,3 persen, 4,5 persen, 4,6 persen, dan 4,7 persen. Meskipun terus menerus mengalami kenaikan selama tahun 2009, tapi NPL

18 perbankan nasional masih berada di bawah batasan yang ditetapkan BI, yaitu dibawah 5 persen (BI, 2009) Persoalan lain dalam perbankan yaitu terjadinya ekses likuiditas, hal ini terlihat dalam besarnya dana bank yang ditempatkan di BI dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Untuk mengatasi ekses likuiditas ini, perbankan perlu mendorong penyaluran kredit yang lebih ekspansif. Bank-bank memilih menempatkan dananya pada SBI daripada menyalurkan kredit karena dengan tingkat bunga yang sama, bank tidak menanggung resiko jika menempatkan dananya pada SBI. Penyaluran dana bank pada SBI pada tahun 2004 sampai 2008 berturut-turut sebesar Rp 94,1 triliun, Rp 54,3 triliun, Rp 179 triliun, Rp 203,9 triliun, dan 166,5 triliun. Sedangkan dari Januari sampai Mei 2009, SBI sebesar Rp 208,5 triliun, Rp 216,5 triliun, Rp 208,1 triliun, Rp 211,2 triliun, dan Rp 195,4 triliun (BI, 2009) Perumusan Masalah Berdasarkan kepemilikan, aset terbesar bank umum dari tahun 2004 sampai pertengahan tahun 2009 didominasi oleh Bank Persero dan Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa. Jumlah Bank Persero dari tahun 2004 sampai sekarang ada 5, sedangkan BUSN Devisa jumlahnya berubah-ubah, tiap-tiap tahun berjumlah 32 sampai 35 bank, berarti kepemilikan aset masing-masing bank yang terbesar adalah Bank Persero. Perkembangan aset bank umum dari tahun 2004 sampai pertengahan tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.

19 Bank Persero terdiri dari Bank Ekspor Indonesia (BEI), bank Mandiri, Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN). Dari kelima bank tersebut dari tahun 2004 sampai pertengahan tahun 2009, tiga bank selalu menduduki peringkat lima besar bank dengan penghimpunan DPK terbesar, yaitu bank Mandiri, BNI, BRI. Selama kurun waktu tersebut Bank Mandiri selalu menduduki peringkat pertama berdasarkan penghimpunan DPK, pangsa DPK terhadap total DPK bank umum selalu di atas 15 persen. Pangsa DPK BNI terhadap total DPK bank umum dari tahun 2004 sampai 2008 di atas 10 persen, sedangkan BRI di atas 8 persen. Meskipun Bank Persero memiliki aset dan DPK yang besar tetapi LDRnya tidak sebesar jenis bank-bank yang lain, dari tahun 2004 sampai 2008 LDRnya selalu di bawah rata-rata LDR bank umum dan selalu di bawah 80 persen, sehingga penyaluran kredit belum optimal. Perkembangan LDR bank menurut kepemilikan bisa dilihat pada Tabel 1.1.

20 Tabel 1.1. Perkembangan LDR Bank Umum (persen) Kelompok Bank Des Des Des Des Des Bank Persero 49,90 51,04 59,93 62,37 70,27 BUSN Devisa 46,23 73,27 60,03 67,18 74,72 BUSN Non Devisa 68,74 82,48 78,26 78,26 81,66 BPD 53,39 46,96 43,33 53,53 67,28 Bank Campuran 75,56 76,82 113,66 106,53 98,63 Bank Asing 51,25 54,89 79,56 74,09 88,31 Sumber : BI, 2009 LDR merupakan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga, semakin rendah LDR berarti penyaluran kredit semakin kecil dibandingkan DPKnya, keberhasilan fungsi intermediasi dilihat dari kemampuan bank menghimpun dana dari masyarakat (funding) dan kemampuan bank menyalurkan kredit (lending), karena kedua hal tersebut merupakan kegiatan pokok intermediasi. Funding bisa dilihat dari besarnya deposito berjangka, giro, tabungan, sedangkan lending bisa dilihat dari kredit investasi, kredit modal kerja dan kredit konsumsi. Tingkat efisiensi merupakan kinerja bank yang mengukur kemampuan bank dalam menjalankan fungsi intermediasi. Bank Persero yang merupakan bank milik pemerintah sampai saat ini belum dapat menjalankan fungsi intermediasi secara

21 optimal. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian mengenai tingkat efisiensi dan faktor-faktor yang memengaruhinya perlu dilakukan Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengevaluasi tingkat efisiensi Bank Persero tahun (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi Bank Persero tahun Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dibatasi pada Bank Persero karena Bank Persero merupakan bank milik pemerintah dengan aset dan DPK terbesar tetapi LDRnya lebih kecil dibanding bank-bank lain. Kurun waktu penelitian ini adalah selama sepuluh tahun, dari tahun 1999 sampai dengan Penelitian dimulai tahun 1999 karena saat itu Bank Mandiri, yang merupakan salah satu Bank Persero, didirikan pada tanggal 28 Juli Bank Mandiri merupakan merger dari Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor (Eksim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Merger bank-bank tersebut dilakukan karena adanya peraturan BI yang menentukan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk seluruh bank di Indonesia minimal 8 persen pada akhir tahun Bank-bank tersebut diprediksi tidak bisa

22 mencapai CAR 8 persen pada akhir tahun 2001 karena kondisi keuangan bank-bank tersebut buruk akibat krisis ekonomi tahun 1997 (Samosir, 2003) Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah untuk membantu pemerintah menetapkan kebijakan-kebijakan tentang perbankan agar fungsi intermediasi Bank Persero berjalan optimal.

23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Pengertian Bank Bank berasal dari kata Italia banco yang artinya bangku. Bangku ini dipergunakan para bankir untuk melayani nasabah. Menurut Ajuha dalam Hasibuan (2004), bank menyalurkan modal dari mereka yang tidak dapat menggunakannya secara menguntungkan kepada mereka yang dapat membuatnya lebih produktif untuk kepentingan masyarakat. Bank juga berarti saluran untuk menginvestasikan tabungan secara aman dan dengan tingkat bunga yang menarik. Menurut Undang-Undang No. 7 tahun 1992, tanggal 25 Maret 1992 tentang perbankan yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka fungsi bank secara umum adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai financial intermediary.

24 Penggolongan Bank Jenis bank bank berdasarkan Undang-Undang No. 7 tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan adalah: 1. Bank Umum Bank Umum adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran, di mana dalam pelaksanaan kegiatan usahanya dapat secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah. Bank umum merupakan bank yang pengumpulan dananya, terutama menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, dan dalam usahanya memberikan kredit jangka pendek. 2. Bank Perkreditan Rakyat Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran, yang dalam pelaksanaan kegiatan usahanya dapat secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah. Bank Perkreditan Rakyat hanya menerima simpanan dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Sedangkan menurut kepemilikannya, bank terbagi menjadi 5, yaitu: 1. Bank milik Pemerintah/Bank Persero adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki pemerintah. 2. Bank milik Pemerintah Daerah adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki pemerintah daerah.

25 3. Bank milik Swasta Nasional adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki pahak swasta nasional. 4. Bank milik Koperasi adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki oleh koperasi. 5. Bank Asing/Campuran adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki pihak asing atau sebagian sahamnya dimiliki pihak asing dan sebagian dimiliki pihak swasta nasional (Kasmir, 2002) Fungsi Bank Menurut UU No.10 tahun 1998, fungsi bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito, atau giro dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama untuk usaha-usaha produktif. Menurut Dendawijaya (2001), peranan bank adalah sebagai: 1. Agent of Trust Dasar utama kegiatan bank adalah kepercayaan, dalam hal penghimpunan dana dan penyaluran dana. Masyarakat yang menyimpan uangnya di bank percaya bahwa uangnya tidak akan disalahgunakan oleh bank, uangnya akan dikelola dengan baik, bank tidak akan bangkrut, dan percaya pada saat yang dijanjikan masyarakat dapat menarik simpanannya. Pihak bank menyalurkan dananya pada debitur atas dasar kepercayaan bahwa debitur tidak akan menyalahgunakan pinjaman, akan mengelola dana dengan baik, debitur mempunyai kemampuan mengembalikan

26 pinjaman saat jatuh tempo, dan bank percaya bahwa debitur memunyai niat baik untuk mengembalikan pinjaman saat jatuh tempo. 2. Agent of Development Sektor riil dan moneter berinteraksi saling memengaruhi, sektor riil tidak dapat berkinerja dengan baik apabila sektor moneter tidak bekerja dengan baik. Bank sebagai penghimpun dan penyaluran dana sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan perekonomian di sektor riil, sehingga masyarakat dapat melakukan investasi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Kelancaran kegiatan investasi-distribusikonsumsi merupakan kegiatan pembangunan perekonomian masyarakat. 3. Agent of Services Bank menawarkan jasa-jasa yang lain selain penghimpunan dan penyaluran dana, misalnya jasa pengiriman uang, jasa penitipan barang berharga, jasa pemberian jaminan bank, dan jasa penyelesaian tagihan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) API didirikan pada tanggal 9 Januari 2004 oleh Bank Indonesia. API merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu lima samlai sepuluh tahun ke depan. Arah kebijakan pengembangan industri perbankan di masa datang yang dirumuskan dalam API dilandasi oleh visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan

27 kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yang didukung oleh enam pilar. Pilar pertama adalah struktur perbankan yang sehat, pilar kedua adalah sistem pengaturan yang efektif, pilar ketiga adalah sistem pengawasan yang independen dan efektif, pilar keempat adalah industri perbankan yang kuat, pilar kelima adalah infrastruktur pendukung yang mencukupi, dan pilar keenam adalah perlindungan konsumen. Guna mewujudkan visi API dan sasaran yang ditetapkan, serta mengacu kepada tantangan-tantangan yang dihadapi perbankan, maka keenam pilar API akan dilaksanakan melalui program kegiatan sebagai berikut : 1. Program penguatan struktur perbankan nasional Bertujuan untuk memperkuat permodalan bank umum, yang dilakukan melalui: penambahan modal baru, baik dari shareholder lama maupun investor baru; merger dengan bank (atau beberapa bank) lain untuk mencapai persyaratan modal minimum baru; penerbitan saham baru atau secondary offering di pasar modal; penerbitan subordinated loan. 2. Program peningkatan kualitas pengaturan perbankan Bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengaturan serta memenuhi standar pengaturan yang mengacu pada international best practice. Program tersebut dapat dicapai dengan penyempurnaan proses penyusunan kebijakan perbankan serta penerapan 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision secara bertahap dan menyeluruh.

28 3. Program peningkatan fungsi pengawasan Bertujuan untuk meningkatkan independensi dan efektivitas pengawasan perbankan yang dilakukan oleh BI. Hal ini dicapai dengan peningkatan kompetensi pemeriksa bank, peningkatan koordinasi antar lembaga pengawas, pengembangan pengawasan berbasis resiko, peningkatan pengawasan efektivitas enforcement, dan konsolidasi organisasi sektor perbankan di BI. 4. Program peningkatan kualitas manajemen dan operasional perbankan Bertujuan untuk meningkatkan good corporate governance (GCG), kualitas manajemen resiko dan kemampuan operasional manajemen. 5. Program pengembangan infrastruktur perbankan Bertujuan untuk mengembangkan sarana-sarana pendukung operasional perbankan yang efektif seperti credit bureau, lembaga pemeringkat kredit domestik, dan pengembangan skim penjaminan kredit. 6. Program peningkatan perlindungan nasabah Bertujuan untuk memberdayakan nasabah melalui penetapan standar penyusunan mekanisme pengaduan nasabah, pendirian lembaga mediasi independen, peningkatan transparansi informasi produk perbankan dan edukasi bagi nasabah Konsep Efisiensi Perbankan Bank dikatakan efisien bila dapat menjalankan fungsinya, khususnya fungsi intermediasi, dengan biaya serendah-rendahnya. Menurut Tobin (1984) dalam

29 Jasmina (1995), efisiensi perbankan dapat dilihat dari konsep functional efficiency dalam sistem keuangan. Dalam hal ini Tobin mengukur bagaimana sektor perbankan menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi, yang meliputi masalah pengambilan risiko, alokasi sumber daya, pemberian jaminan, administrasi mekanisme pembayaran, dan mobilisasi tabungan untuk investasi. Dalam kondisi pasar persaingan sempurna, kemampuan perbankan untuk memperoleh keuntungan menjadi ukuran kinerja (performance) bank. Tingkat efisiensi yang dicapai suatu bank merupakan cerminan dari kualitas kinerja yang baik. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004, tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui Penilaian Kuantitatif dan atau Penilaian Kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan (capital), kualitas aset (assets quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), likuiditas (liquidity) dan sensitivitas terhadap risiko pasar (sensitivity to market risk). Penilaian Kuantitatif adalah penilaian terhadap posisi, perkembangan, dan proyeksi rasio-rasio keuangan bank. Penilaian Kualitatif adalah penilaian terhadap faktor-faktor yang mendukung hasil Penilaian Kuantitatif, penerapan manajemen resiko dan kepatuhan Bank. Peringkat hasil akhir penilaian tingkat kesehatan bank disebut Peringkat Komposit. Kinerja bank selama ini diukur menggunakan standar akuntansi, misalnya return on equity (ROE), return on asset (ROA), asset turn over dan atau return on permanent capital. ROE dan ROA hanya menggambarkan tingkat pengembalian laba, tidak menggambarkan tingkat efisiensi output perbankan yang menghasilkan

30 laba tersebut. Penelitian ini tidak memakai ROA dan ROE karena kelemahan ROA dan ROE yang tidak bisa menggambarkan apakah sejumlah output yang dihasilkan melalui penggunaan sejumlah input sudah efisien. Juga tidak bisa mengetahui seberapa besar input harus dikurangi atau output harus ditambah agar suatu bank efisien. Penelitian ini tidak menggunakan standar akuntansi, tetapi dengan Data Envelopment Analysis (DEA) pada manajerial perbankan. DEA menggunakan multi input dan output untuk menjelaskan kinerja bank secara riil. DEA menghitung efisiensi teknis untuk seluruh unit, dalam hal ini unit adalah bank. Skor efisiensi untuk setiap unit adalah relatif, tergantung pada tingkat efisiensi dari unit-unit lainnya dalam sampel. Nilai efisiensi antara 0 dan 1, dimana satu menunjukkan efisiensi yang sempurna (Haddad et al., 2003) Metode Pengukuran Input-Output Perbankan Menurut Berger dan Humphrey (1990) dalam Jasmina (1995), ada tiga metode untuk mengukur input-output perbankan, yaitu: 1. Asset approach Fungsi utama bank adalah sebagai perantara bagi pemberi dana dan peminjam dana. Pinjaman dan aset dianggap sebagai output bank, karena mempunyai karakteristik output sebagai bentuk penggunaan terakhir dari penerimaan bank, sedangkan input-nya adalah deposito dan kewajiban, karena mempunyai karakteristik input, yaitu sebagai bahan baku (raw material) dari dana yang dapat dipinjamkan

31 oleh bank. Asset approach tidak memperhitungkan biaya pelayanan, antara lain deposito, menyediakan likuiditas, membantu pembayaran, memberi bunga, dan jasa penyimpanan barang (save deposit). 2. User cost approach Input dan output ditentukan berdasarkan kontribusinya terhadap pendapatan bank. Aset diklasifikasikan sebagai output jika return finansial dari aset melebihi opportunity cost dari investasi. Kewajiban diklasifikasikan sebagai output jika biaya finansial dari kewajiban tersebut lebih kecil dari opportunity cost-nya. Dalam user cost approach, output merupakan komponen yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan bersih. Sebagian besar studi user cost approach mengklasifikasikan demand deposit sebagai output, di mana demand deposit termasuk kewajiban, tetapi dimasukkan sebagai output karena mempunyai kontribusi terhadap pendapatan bersih. Masalah dalam user cost approach adalah opportunity cost sulit dihitung atau pengukuran pendapatan finansial dan opportunity cost akan mengakibatkan timbulnya kesalahan pengukuran dan sensitivitas hasil perhitungan terhadap perubahan data. Selain itu, user cost approach tidak dapat mencerminkan kegiatan umum perbankan, seperti penyesuaian antara jangka waktu aset dan kewajiban untuk menurunkan risiko tingkat bunga, keputusan untuk memiliki aset dan kewajiban dengan likuiditas yang beragam dan pinjaman dengan tingkat risiko yang berbeda-beda.

32 3. Value added approach Pada value added approach, bagian yang mempunyai nilai tambah yang cukup tinggi ditetapkan sebagai output yang penting. Besarnya nilai tambah ditentukan dengan menggunakan alokasi biaya operasional perbankan. Bagian lain yang mempunyai nilai tambah lebih kecil ditetapkan sebagai output tidak penting. Berger dan Humphrey (1990), mengklasifikasikan aktivitas di mana bank-bank menciptakan nilai tambah yang tinggi seperti deposito (giro, tabungan, deposito berjangka) dan pinjaman (real estate, komersial, installment) sebagai output utama, dengan tenaga kerja, modal, dan pembelian dana diklasifikasikan sebagai input. Ukuran output dapat digunakan dua cara, yaitu berdasarkan jumlah (counted) dan nilai (value). Dalam cara yang pertama bank dianggap sebagai perusahaan yang memproduksi giro, tabungan, deposito berjangka, pinjaman. Jumlah account untuk deposito dan pinjaman merupakan output dengan total biaya meliputi seluruh biaya operasional. Dalam cara yang kedua, bank sebagai pengumpul dana yang disalurkan menjadi pinjaman dan aset. Nilai dari account deposito dan pinjaman merupakan output dengan total biayanya adalah biaya operasional ditambah biaya bunga. Menurut Ferrier dan Lovell (1990) dalam Jasmina (1995) untuk mengukur efisiensi biaya perbankan, perhitungan dengan jumlah output lebih tepat karena cara ini langsung menghubungkan biaya operasional dengan produksi output perbankan, sedangkan perhitungan dengan nilai output lebih tepat untuk analisa tingkat competitiveness suatu bank karena cara ini lebih memperhatikan pengaruh dari nilai

33 output perbankan terhadap biaya operasional. Tetapi data jumlah produk perbankan sangat sulit diperoleh, sehingga untuk analisis efisiensi biaya perbankan biasa digunakan nilai riil dari deposito dan pinjaman. Dalam proses intermediasi, deposito dimasukkan sebagai output perbankan dengan biaya bunga dan biaya operasional merupakan total biaya yang harus dikeluarkan untuk proses tersebut, tingkat suku bunga deposito tidak perlu dimasukkan sebagai harga input, karena di samping sudah diperhitungkan dalam biaya bunga, deposito juga telah dikategorikan sebagai output perbankan Penelitian Terdahulu Model pengukuran efisiensi teknis bank dengan DEA dikembangkan oleh Miller dan Noulas yang melakukan pengukuran kinerja perbankan melalui efisiensi teknisnya di Amerika Serikat pada tahun Mereka mengukur efisiensi teknis dari 201 bank besar dari tahun 1984 sampai Mereka menggunakan empat input (total transaksi deposito, total non-transaksi deposito, total biaya bunga, dan total non-biaya bunga) dan enam output (pinjaman perdagangan dan industri, pinjaman konsumen, pinjaman real estate, investasi, total pendapatan bunga, total pendapatan non-bunga). Rata-rata inefisiensi teknis bank-bank tersebut adalah 5 persen, artinya rata-rata efisiensi suatu bank dibandingkan dengan bank yang menjadi benchmark adalah 95 persen. Dalam hal ini bank yang menjadi benchmark adalah bank yang efisiensi teknisnya 100 persen, sehingga untuk menjadi efisien seperti benchmark-nya

34 perlu kenaikan efisiensi sebesar 5 persen. Kesimpulannya, semakin besar bank dan keuntungan yang diperoleh semakin besar pula efisiensi teknisnya (Miller dan Noulas, 1996). Rangan et al. (1998) dalam Miller dan Noulas (1996) meneliti efisiensi teknis dari 215 bank yang depositonya kurang dari 400 juta USD dengan menggunakan metode DEA. Mereka menggunakan tiga input (tenaga kerja, modal, dan purchased funds) dan lima output (pinjaman perdagangan dan industri, pinjaman konsumen, pinjaman real estate, demand deposits, deposito berjangka, tabungan). Kesimpulannya adalah rata-rata efisiensi untuk 215 bank tersebut adalah 70 persen, mengimplikasikan bahwa bank-bank dapat memproduksi output yang sama dengan penggunaan input-nya 30 persen lebih sedikit. Efisiensi teknis tersebut terdiri dari pure technical (72 persen) dan scale efficiency (97 persen), berarti sebagian besar ketidakefisiensian bank disebabkan oleh teknis murni, bukan efisiensi skala. Overall technical efficiency dapat dibagi menjadi dua, yaitu pure technical dan scale efficiency. Overall technical efficiency menggunakan teknologi constan return-toscale(crs), pure technical menggunakan teknologi variable return-to-scale (VRS), dan scale efficiency merupakan pembagian antara overall technical efficiency dengan pure technical, jika overall technical efficiency sama dengan pure technical, maka tidak ada scale efficiency, jika beda bisa menghasilkan teknologi decreasing returnto-scale (DRS) atau increasing return to scale (IRS). Analisis regresi tahap kedua untuk perhitungan efisiensi menunjukkan bahwa ukuran bank memengaruhi efisiensi secara positif, tetapi pemisahan produk memengaruhi efisiensi secara negatif.

35 Cooper et al. (2000) menghitung efisiensi teknis dari 11 bank daerah dan 8 bank kota di Jepang dengan menggunakan metode DEA. Mereka menggunakan tiga input (jumlah cabang, tenaga kerja dan aset) dan satu output (keuntungan operasional bersih). Kesimpulannya, rata-rata efisiensi teknis bank-bank adalah 80,2 persen, ratarata pure technical adalah 88,4 persen, dan rata-rata efisiensi skala adalah 90,9 persen. Efisiensi skala semua bank kota berada di atas rata-rata efisiensi skala seluruh bank dalam sampel. Elyasiani dan Mehdian (1990) dalam Miller dan Noulas (1996) menghitung efisiensi dari 191 bank di Amerika Serikat dengan aset lebih dari 300 juta USD pada tahun 1980 dan Mereka menggunakan lima input (tenaga kerja, modal, demand deposits, tabungan, deposito berjangka) dan empat output (pinjaman perdagangan dan industri, pinjaman real estate, pinjaman lain, dan investasi) untuk menghitung efisiensi bank-bank tersebut dengan menggunakan metode DEA. Dalam studi mereka, deposito dimasukkan sebagai input karena mereka melihat fungsi utama bank sebagai pencipta kredit. Dalam hal ini tenaga kerja, modal, dan berbagai sumber pendanaan dimasukkan sebagai input. Salah satu sumber pendanaan adalah dana pihak ketiga, di mana deposito termasuk di dalamnya. Mereka tidak melihat bank sebagai sebuah unit produksi, yaitu produser dari deposito dan kredit pinjaman, di mana aktivitas bank merupakan produksi jasa bagi penabung dan peminjam kredit. Mereka menemukan bahwa antara tahun 1980 dan 1985 tingkat output yang sama dapat diproduksi dengan 10,45 sampai dengan 22,29 persen input lebih rendah.

36 Hadad et al. (2003) mengukur efisiensi teknis perbankan Indonesia tahun dengan menggunakan metode DEA untuk mengetahui apakah merger meningkatkan atau menurunkan performa dari sebuah bank. Mereka menggunakan tiga input (harga tenaga kerja, harga pembiayaan, harga modal) dan tiga output (kredit ke pihak perbankan, kredit ke pihak lain, surat berharga). Hasilnya, pada tahun 1996 kelompok bank yang paling efisien adalah n/a (tidak ada), tahun 1997 yaitu kelompok bank asing campuran, tahun 1998 dan 1999 yaitu kelompok bank swasta nasional devisa, tahun 2000 n/a (tidak ada) bank yang paling efisien, tahun 2001, 2002 dan 2003 adalah kelompok bank persero. Bank yang melakukan merger ternyata mengalami kenaikan efisiensi. Drake dan Hall (2001) menghitung efisiensi teknis dari 149 bank di Jepang pada tahun 1997 dengan menggunakan metode DEA. Bank-bank tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis umum bank yang beroperasi di Jepang. Mereka menggunakan tiga input (biaya administrasi, harta tetap, deposito pedagang besar dan eceran) dan tiga output (total pinjaman dan pembayaran, harta lancar dan investasi keamanan, dan pendapatan lain). Efisiensi teknis untuk seluruh bank dalam sampel adalah 73,36 persen, untuk City banks efisiensi teknisnya sebesar 87,09 persen, Long- Term Credits Banks dan Trust banks mempunyai efisiensi teknis maksimum yaitu 100 persen, dan Second association regional banks mempunyai efisiensi teknis sebesar 69,54 persen. Mereka juga menghitung efisiensi teknis 149 bank tersebut setelah dikelompokkan berdasarkan ukuran bank. Kesimpulannya, kelompok bank ukuran terkecil dan kelompok bank ukuran terbesar mempunyai inefisiensi skala

37 tertinggi. Terdapat korelasi yang kuat (0,7) antara ukuran bank dengan efisiensi skala, tetapi tidak ada korelasi antara pure technical dengan ukuran bank. Aly et al. (1990) menghitung efisiensi 322 bank di Amerika Serikat yang dipilih secara acak dari bank-bank umum pada tahun 1986 dengan menggunakan metode DEA. Variabel yang digunakan yaitu tiga input (tenaga kerja, modal, dan loanable funds) dan lima output (pinjaman perdagangan dan industri, pinjaman konsumen, pinjaman real estate, pinjaman lain, dan demand deposits). Efisiensi teknis, skala, dan teknis murni adalah 0,75; 0,97; dan 0,77. Analisis regresi tahap kedua menunjukkan bahwa ukuran bank dan efisiensi berhubungan positif, tetapi pemisahan produk dan efisiensi berhubungan negatif. Suseno (2008) mengukur efisiensi dan skala ekonomi pada industri perbankan syariah di Indonesia pada periode dengan pendekatan DEA. Sampel penelitian ada 10 bank, terdiri dari 2 bank umum syariah (BUS) dan 8 bank konvensional yang memiliki unit usaha syariah (UUS). Variabel output yang digunakan pada BUS adalah pendapatan bunga, pendapatan lainnya, dan volume kredit, sedangkan pada UUS variabel output-nya adalah pendapatan utama, pendapatan lainnya, dan volume pembiayaan. Variabel input yang digunakan dalam BUS adalah biaya bagi hasil, biaya lainnya, dan aset, sedangkan pada UUS variabel input-nya adalah, biaya bunga, biaya lainnya, dan aset. Hasilnya rata-rata tingkat efisiensi perbankan syariah tahun mencapai 93,19 persen. Terjadi peningkatan efisiensi dari tahun ke tahun, dari 88,06 persen pada tahun 1999, menjadi 98,85 persen pada tahun Tingkat efisiensi mengalami peningkatan rata-rata

38 2,35 persen per tahun. Jika kinerja efisiensi ini dibandingkan antara BUS dan UUS, BUS memiliki tingkat efisiensi yang sedikit lebih tinggi 1,6 persen daripada bank umum dengan UUS, dimana BUS memiliki tingkat efisiensi rata-rata 94,47 persen, dan bank umum dengan UUS memiliki tingkat efisiensi 92,87 persen Kerangka Pemikiran Pada penelitian ini akan konsentrasi pada pengukuran efisiensi teknis Bank Persero yang berjumlah 5 bank, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Mandiri, dan Bank Ekspor Indonesia (BEI), dari tahun 1999 sampai Variabel output yang digunakan dalam DEA adalah kredit, deposito dan giro, sedangkan variabel input-nya adalah harga pembiayaan, harga tenaga kerja dan harga modal. Regresi setelah DEA dilakukan dengan menggunakan variabel efisiensi teknis hasil perhitungan DEA sebagai variabel tak bebas, dan total aset, pangsa pasar deposito dan biaya bunga sebagai variabel bebas untuk mencari nilai koefisien variabel yang memengaruhi efisiensi.

39 Perbankan Indonesia Intermediasi perbankan belum optimal Bank Pemerintah Daerah Bank Umum Swasta Nasional Bank Persero Bank Asing Bank Campuran Efisiensi dan faktor yang memengaruhi efisiensi Rekomendasi kebijakan untuk peningkatan efisiensi bank Ket: : batasan penelitian Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran 2.3. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. Total aset berhubungan positif dengan efisiensi, semakin besar total aset, semakin besar tingkat efisiensi. Total aset mencerminkan ukuran bank, dalam penelitiannya, Miller dan Noulas (1996) menyimpulkan bahwa semakin besar bank, semakin besar pula efisiensinya.

40 2. Biaya bunga berhubungan negatif dengan efisiensi, semakin besar biaya bunga, semakin kecil efisiensi. Keuntungan bank diperoleh dari selisih bunga kredit dan bunga DPK (Kasmir, 2002). Miller dan Noulas (1996) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semakin besar keuntungan, semakin besar pula efisiensinya. Bunga DPK merupakan biaya bunga, jadi semakin besar biaya bunga, semakin kecil keuntungan bank, sehingga efisiensi makin kecil. 3. Pangsa pasar deposito berhubungan positif dengan efisiensi, semakin besar pangsa pasar, semakin besar efisiensi. Pangsa pasar deposito mencerminkan kekuatan pasar. Miller dan Noulas (1996) mengasumsikan bahwa kekuatan pasar berpengaruh pada tingkat efisiensi.

41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data panel, yaitu data gabungan antara data time series dan cross section. Data time series-nya dari tahun 1999 sampai 2008, dan data cross section-nya adalah 5 Bank Persero. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari publikasi BI, baik publikasi berupa buku maupun website. Publikasi berupa buku yang digunakan adalah Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) tahun 2005 dan Direktori Perbankan Indonesia (DPI) tahun 1999 sampai Data dalam DPI berupa laporan keuangan bank, untuk tahun 2008 DPI belum diterbitkan sehingga data laporan keuangan bank diperoleh dari website BI. Publikasi yang lain yang berasal dari website BI yaitu Data Perbankan Indonesia tahun 2004 dan Statistik Perbankan Indonesia edisi Juni Metode Analisis Analisis Tingkat Efisiensi (Metode DEA) Dalam studi ini, akan digunakan metode DEA untuk mengukur efisiensi teknis bank, yang dilanjutkan dengan regresi pasca DEA. DEA adalah sebuah metode optimasi program matematika untuk mengukur efisiensi teknis suatu unit kegiatan ekonomi (UKE) relatif terhadap UKE lain, dengan input dan output yang lebih dari

42 satu. Dalam penelitian ini UKE-nya adalah bank. Efisiensi relatif adalah rasio dari total output yang tertimbang dibagi total input tertimbang. Inti dari DEA adalah menentukan bobot untuk tiap output dan input. Asumsi dari DEA adalah tiap UKE akan memilih bobot yang memaksimumkan rasio efisiensinya. Tiap UKE menggunakan kombinasi input yang berbeda untuk menghasilkan kombinasi output yang berbeda pula, sehingga tiap UKE akan memilih seperangkat bobot yang mencerminkan keragaman tersebut. Secara umum UKE akan menetapkan bobot yang tinggi untuk input yang penggunaannya sedikit dan untuk output yang diproduksi banyak. Bobot-bobot tesebut bukan nilai ekonomis dari input maupun output, tetapi sebagai penentu untuk memaksimumkan efisiensi suatu UKE. Efisiensi bernilai 0 sampai 1. UKE yang mempunyai efisiensi 100 persen memiliki 2 kriteria: 1. Bila tidak ada unit lain/ kombinasi unit lain yang menggunakan jumlah input yang sama 2. Jumlah output yang dihasilkan sedikitnya sama dengan output yang dihasilkan UKE lain yang efisiensinya juga 100 persen Menurut Trick (1996), kelebihan DEA adalah: 1. DEA dapat membuat model untuk sejumlah input dan output 2. Tidak diperlukan asumsi dari hubungan fungsional input terhadap output 3. Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) dibandingkan langsung dengan UKE yang paling efisien atau gabungan UKE yang efisien 4. Input dan output dapat mempunyai satuan yang berbeda

43 Kekurangan DEA adalah: 1. Karena DEA adalah teknis titik ekstrim, maka gangguan semacam perhitungan error dapat menyebabkan masalah yang signifikan 2. DEA baik untuk mengestimasi efisiensi relatif dari UKE, tetapi tidak bisa mengestimasi efisiensi absolut, jadi suatu UKE dibandingkan dengan UKE yang paling efisien, bukan dengan suatu teori yang maksimum 3. Karena DEA adalah teknis nonparametrik, maka hipotesis statistiknya sulit 4. Karena standar perumusan DEA menghasilkan program linier yang terpisah untuk masing-masing UKE, maka masalah yang besar dapat terjadi secara intensif melalui perhitungan. Metode yang digunakan untuk mengukur output perbankan dalam penelitian ini adalah value added approach yang merupakan pendekatan terbaik di antara ketiga pendekatan, karena value added approach tidak memiliki kekurangan-kekurangan seperti yang dimiliki oleh kedua pendekatan lainnya. Penelitian ini menggunakan software DEAP versi 2.1 untuk mengukur efisiensi bank-bank. Hasilnya berupa angka efisiensi teknis yang bernilai 0 sampai 1, dengan memasukkan variabel input dan output terlebih dahulu. Konsep dasarnya adalah sebagai berikut.

44 Tabel 3.1. Konsep Dasar DEA output input UKE q1 q2 q3 p1 p2 p Sumber: Coelly, Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efisiensi Langkah selanjutnya setelah mendapatkan nilai efisiensi masing-masing bank adalah menghitung variabel apa saja yang memengaruhi efisiensi tersebut. Menurut Miller dan Nuolas (1996) yang memengaruhi efisiensi adalah ukuran bank, profitabilitas, kekuatan pasar, dan lokasi bank. Ukuran bank digambarkan oleh total aset, profitabilitas digambarkan dengan biaya bunga, dan kekuatan pasar digambarkan oleh pangsa pasar deposito. Model regresinya adalah sebagai berikut: TEit = α + β1 TAit + β 2TIEit + β3msdit + ε...(1) Dimana: TE it = efisiensi masing-masing bank TA it = total aset (Rupiah) TIE it = biaya bunga (Rupiah) MSD it = pangsa pasar deposito

45 ε = error term Setelah melakukan estimasi terhadap model di atas maka kita akan mengetahui variabel apa saja yang memengaruhi efisiensi teknis Bank Persero. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan software E-views 6. Penelitian ini menggunakan data panel, data panel (pooled data) atau yang disebut juga sebagai data longitudinal merupakan kombinasi antara data time-series dan cross-section. Data time-series merupakan data yang dikumpulkan berdasarkan urutan waktu, seperti setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap semester, setiap tahun, dan seterusnya. Sedangkan data cross-section merupakan data dari beberapa observasi yang dikumpulkan pada satu waktu yang sama. Metode data panel merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk melakukan analisis empirik yang tidak mungkin dilakukan jika menggunakan data time-series maupun data cross-section (Gujarati, 2003). Terdapat tiga metode pada teknis estimasi model menggunakan data panel, yaitu pooled Ordinary Least Square (OLS), fixed effect, dan random effect. Dari ketiga metode tersebut akan dipilih model yang terbaik menggunakan Chow test Metode Pooled OLS Metode pooled OLS merupakan suatu metode pengkombinasian sederhana antara data time-series dan cross-section, selanjutnya dilakukan estimasi model yang

46 mendasar menggunakan OLS. Metode pooled OLS dapat dispesifikasikan ke dalam model berikut: Y = α + β it X it...(2) dimana i menunjukkan urutan bank yang diobservasi pada data cross-section, sedangkan t menunjukkan periode pada data time-series. Namun, pada metode ini asumsi yang digunakan menjadi terbatas karena model tersebut mengasumsikan bahwa intersep dan koefisien dari setiap variabel sama untuk setiap bank yang diobservasi. Hal ini menyebabkan variabel-variabel yang diabaikan akan membawa perubahan pada intersep time-series dan cross-section Metode Fixed Effect Masalah yang timbul pada penggunaan metode pooled OLS yaitu adanya asumsi bahwa intersep dan koefisien dari setiap variabel sama pada setiap bank yang diobservasi. Untuk memperhitungkan individualitas dari setiap unit cross-section dapat dilakukan dengan cara menjadikan intersep berbeda pada tiap bank. Pada metode fixed-effect ditambahkan variabel dummy untuk mengubah intersep, tetapi koefisien-koefisien lainnya tetap sama bagi setiap bank yang diobservasi. Metode ini dapat dispesifikasikan ke dalam model berikut: Y it = α + β X + γ + i it 2 W2t + γ 3W3t γ NWNT + δ 2Z i2 + δ 3Z i δ T Z it ε it...(3)