8. Rangkaian Arus Searah, Pemroses Energi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "8. Rangkaian Arus Searah, Pemroses Energi"

Transkripsi

1 ntroduction to ircuit nalysis Time Domain 8. angkaian rus Searah, Pemroses Energi Kita mengetahui bahwa salah satu bentuk gelombang dasar adalah bentuk gelombang anak tangga. Di bagian ini kita akan melihat rangkaian emroses energi dengan tegangan dan arus berbentuk gelombang anak tangga dalam keadaan manta, yang meruakan sinyal searah dan kita sebut sebagai rangkaian arus searah. kan kita bahas ula diagram satu garis, yang meruakan enggambaran lebih sederhana dari rangkaian berbentuk tangga. angkaian bentuk tangga inilah yang ada umumnya digunakan dalam enyaluran energi listrik. 8.. Pengukur Tegangan dan rus Searah Salah satu jenis alat engukur tegangan dan arus searah adalah jenis kumaran berutar. agian utama alat ukur ini (yang disebut bagian engukur) terdiri dari sebuah magnet ermanen dan sebuah kumaran yang daat berutar ada suatu sumbu dan dilengkai dengan egas. Kumaran yang disangga oleh sumbu dan dilengkai dengan egas ini akan berutar aabila ia dialiri arus. Perutaran akan mencaai kududukan tertentu ada saat momen utar yang timbul akibat adanya interaksi medan magnet dan arus kumaran, sama dengan momen lawan yang diberikan oleh egas. Sudut ada kedudukan seimbang ini kita sebut sudut defleksi. Karena kumaran harus ringan, ia harus dibuat dari kawat yang halus sehingga arus yang mengalir adanya sangat terbatas. Kawat kumaran ini memunyai resistansi yang kita sebut resistansi internal alat ukur. Defleksi maksimum terjadi ada arus maksimum yang dierbolehkan mengalir ada kumaran. Karena medan magnetnya ermanen (teta) maka sudut defleksi ditentukan oleh besarnya arus yang mengalir dalam kumaran; dengan kata lain besar sudut defleksi meruakan ukuran dari besarnya arus. Walauun arus yang melalui kumaran sangat terbatas besarnya, namun kita daat membuat alat ukur ini mamu mengukur arus samai ratusan amer dengan cara menambahkan resistor aralel (shunt). Terbatasnya arus yang dierbolehkan melalui kumaran juga berarti bahwa tegangan ada terminal kumaran juga sangat terbatas; dengan menambahkan resistansi seri terhada kumaran, kita daat membuat alat ukur ini mamu mengukur tegangan samai beberaa ratus volt. Kita ambil contoh alat ukur kumaran berutar. Misalkan kumaran alat ukur ini memunyai resistansi (yang kita sebut resistansi internal alat ukur) Ω. lat ini berdefleksi maksimum jika arus yang mengalir ada kumaran adalah 5 m; hal ini berarti arus maksimum yang boleh mengalir ada kumaran adalah 5 m dan juga berarti bahwa tegangan maksimum yang bisa diukur dengan alat ini hanya 5 m. Kita menginginkan alat ini mamu mengukur tegangan samai 75. Untuk itu kita menambahkan resistansi seri, s, ada kumaran sehingga angkaian alat ukur akan menjadi sebagai di bawah ini. Ω 5 m v 75 Nilai s daat kita hitung sebagai berikut 75 5 s s 75 s 499Ω 5 Jika alat tersebut di atas dikehendaki untuk daat digunakan sebagai alat mengukur arus samai, kita harus menambahkan resistansi shunt, sh. angkaian akan menjadi Ω sh sh 8 - Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

2 dan nilai sh yang dierlukan daat kita hitung. sh 5 shsh 5 5 sh 5,5 Ω 8.. Pengukuran esistansi Salah satu metoda untuk mengukur resistansi adalah metoda voltmeter-ameremeter. Dalam metoda ini nilai resistansi daat dihitung dengan mengukur tegangan dan arus secara simultan. Dalam contoh berikut ini diberikan dua macam rangkaian yang biasa digunakan untuk mengukur resistansi dengan metoda voltmeter-ameremeter. da dua macam rangkaian engukuran yang bisa dibuat yaitu a). x b). x 8.. esistansi Kabel Penyalur Daya x adalah resistansi yang akan diukur dan kita sebut resistansi internal voltmeter dan ameremeter masingmasing adalah dan dan enunjukan voltmeter dan ameremeter adalah dan. Kita akan menghitung x ada kedua macam cara engukuran tersebut. Untuk rangkaian a), tegangan ada x adalah sedangkan arus yang melalui x adalah x sehingga x x ( / ) Jika engukuran dilakukan dengan menggunakan rangkaian b), arus yang melalui x adalah sedangkan tegangan ada x adalah sehingga x x x Nilai x daat dinyatakan dengan x / dengan kesalahan yang cuku kecil jika cuku besar ada rangkaian a) atau cuku kecil ada rangkaian b). Kabel digunakan sebagai enyalur daya dari sumber ke beban. Setia ukuran dan jenis kabel memunyai batas kemamuan mengalirkan arus yang tidak boleh dilamaui. Di saming itu, resistansi konduktor kabel akan menyebabkan terjadinya beda tegangan antara sumber dan beban. Oleh karena itu emilihan ukuran kabel harus disesuaikan dengan besarnya beban. Selain resistansi konduktor, resistansi isolasi kabel juga meruakan arameter yang harus dierhatikan; menurunnya resistansi isolasi akan menyebabkan kenaikan arus bocor. Kita akan coba menghitung resistansi konduktor dan isolasinya er kilometer dari suatu contoh kabel seanjang 5 m yang ada o memiliki resistansi konduktor.58 Ω dan resistansi isolasi 975 MΩ. esistansi konduktor sebanding dengan anjangnya sesuai dengan relasi ρl/, maka resistansi konduktor er kilometer adalah konduktor,58,6 Ω er km. esistansi isolasi adalah resistansi antara konduktor dan tanah (selubung kabel). Luas enamang isolasi, yaitu luas enamang yang dilihat oleh konduktor ke arah selubung, berbanding terbalik terhada anjang kabel; makin anjang kabel, makin kecil resistansi isolasinya. esistansi isolasi kabel er kilometer adalah isolasi ( / ) MΩ er km. 8 - Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

3 Dua enggalan kabel, masing masing memunyai resistansi konduktor,7 Ω dan,5 Ω dan resistansi isolasi MΩ dan 6 MΩ. Jika kedua enggalan kabel itu disambungkan untuk memeranjang saluran, beraakah resistansi konduktor dan isolasi saluran ini? 8.4. Penyaluran Daya Melalui Saluran Udara 8.5. Diagram Satu Garis Karena disambung seri, resistansi konduktor total adalah : konduktor,7,5, Ω Sementara itu sambungan seri kabel, menyebabkan resistansi isolasinya terhubung aralel. Jadi resistansi isolasi total adalah : isolasi 6 MΩ 6 Selain kabel, enyaluran daya daat ula dilakukan dengan menggunakan saluran di atas tanah yang kita sebut saluran udara. Saluran udara ini diasang dengan menggunakan tiang-tiang yang dilengkai dengan isolator enyangga atau isolator gantung yang biasanya terbuat dari keramik atau gelas. Konduktornya sendiri daat meruakan konduktor tana isolasi (telanjang) dan oleh karena itu ermasalahan arus bocor terletak ada emilihan isolator enyangga di tiang-tiang dan hamir tidak terkait ada anjang saluran; hal ini berbeda dengan aa yang kita jumai ada kabel. Kita ambil contoh ersoalan berikut. Dari suatu gardu distribusi dengan tegangan kerja 55 disalurkan daya ke dua rangkaian kereta listrik. Dua rangkaian kereta tersebut berada masing-masing ada jarak km dan km dari gardu distribusi. Kereta ertama mengambil arus 4 dan yang ke-dua. esistansi kawat saluran udara adalah,4 Ω er km, sedangkan resistansi rel sebagai saluran balik adalah, Ω er km. Tentukan (a) tegangan kerja di masing-masing kereta, (b) daya hilang ada saluran (daya hilang di saluran udara rel). angkaian sistem ini digambarkan sebagai berikut. Gardu Distribusi a). Tegangan kerja kereta ertama ( ) dan kereta kedua ( ) adalah: 55 6(,4,) 54, ; (,8,6) 57 b). Daya hilang ada saluran adalah saluran 46,4Ω,Ω km 55 6 (,4,) (,8,6) 89 W,89 kw Penggambaran saluran daya seerti ada contoh di atas daat dilakukan dengan lebih sederhana, yaitu menggunakan diagram satu garis. ara inilah yang sering dilakukan dalam raktek. Satu saluran digambarkan dengan hanya satu garis saja, beban dinyatakan dengan kebutuhan daya atau besar arusnya. Posisi gardu dan beban-beban dinyatakan dalam anjang saluran atauun resistansi saluran. esistansi saluran dinyatakan sebagai resistansi total yaitu jumlah resistansi kawat kirim dan resistansi kawat balik. Sebagai contoh, diagram satu garis dari sistem enyaluran daya ada contoh enyaluran daya melalui saluran udara di atas, daat kita gambarkan sebagai berikut. km km 55 4 (resistansi saluran.4ω/km) 4 km TU,8Ω,6Ω (,4Ω/km) (,Ω/km),4Ω,86Ω Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

4 Dengan menggunakan diagram satu garis, suatu ersoalan enyaluran daya daat dinyatakan seerti contoh berikut ini. Suatu saluran distribusi kawat dicatu dari kedua ujungnya ( dan D) dengan tegangan 55 dan 5. eban sebesar dan 8 berada di titik simul dan seerti terlihat ada diagram satu garis berikut. esistansi yang tertera ada gambar adalah resistansi satu kawat. Tentukanlah tegangan di tia titik beban ( dan ) serta arus di tia-tia bagian saluran.,ω,5ω,5ω 8 Dengan memerhitungkan saluran balik, resistansi saluran menjadi dua kali liat. Persamaan tegangan simul untuk simul dan adalah D,, D 8,5,5 5, 85,,,5,5, , 85, 5, 5, , 5, 47, 5, rus ada segmen, dan adalah : 55,,5 5,,5 55 5, 85 ; 85 ; D 8, 95 Penurunan Diagram Satu Garis agaimana mungkin metoda tegangan simul daat kita alikasikan ada rangkaian yang digambarkan dengan diagram satu garis? Untuk menjawab ertanyaan ini, kita lihat diagram rangkaian sebenarnya (dua kawat) sebagai berikut. D Jika simul dan serta dan kita andang sebagai dua simul suer, maka untuk keduanya berlaku Karena (hubungan seri), maka haruslah dan dan oleh karenanya Dengan kesamaan arus-arus ini maka alikasi HTK untuk setia mesh ada rangkaian di atas akan memberikan D yang daat ditulis sebagai DD 8-4 Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

5 ( ) ( ) ( ) Tiga ersamaan terakhir ini tidak lain adalah ersamaan rangkaian yang berbentuk : D D Dengan mengambil simul sebagai simul referensi kita daat memeroleh ersamaan tegangan untuk simul dan sebagai nilah ersamaan tegangan simul dan yang daat kita eroleh langsung dari diagram satu garis: DD D D 8.6. Jaringan Distribusi Daya Jadi, dengan menambahkan resistansi saluran balik ada saluran kirim, maka saluran balik tidak lagi mengandung resistansi. Dengan demikian saluran balik ini daat kita akai sebagai simul referensi yang bertegangan nol untuk seluruh anjang saluran balik tersebut. Dengan cara demikian ini, maka kita daat memeroleh ersamaan tegangan simul langsung dari diagram satu garis tana harus menggambarkan diagram rangkaian sebenarnya, dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan tegangan simul adalah tegangan antara saluran engirim dan saluran balik di lokasi yang sama. Penyaluran daya listrik daat bermula dari satu sumber ke beberaa titik beban atauun dari beberaa sumber ke beberaa titik beban. Jaringan enyaluran daya ini, disebut jaringan distribusi daya, daat berbentuk jaringan radial, mesh, atau ring. Ke-tiga bentuk jaringan tersebut akan kita lihat secara berturutturut dalam contoh berikut. Jaringan adial. Tiga beban di,, dan, masing-masing memerlukan arus 5,, dan 6 dicatu dengan jaringan radial dari sumber X yang tegangannya 5. Penyaluran daya dari sumber ke beban dilakukan melalui saluran yang resistansi totalnya (saluran engirim dan saluran balik) dierlihatkan ada gambar. arilah tegangan tia beban dan besarnya daya hilang ada tia cabang saluran.,5ω X,Ω 5,4Ω 5 6 X,5 5 47,5 ; 5, 48 ; 5,4 6 47,6 X X X (5),5 5 W; (), 4 W; (6),4 44 W 8-5 Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

6 Jaringan Mesh. Titik beban dan serta dan ada contoh di atas, dihubungkan dengan suatu interkonektor (interconnector) yang resistansi masing-masing terlihat ada gambar berikut ini. arilah tegangan masing-masing beban dan besarnya daya hilang ada tia cabang saluran dan interconnector, serta arus saluran. Persamaan tegangan simul untuk simul,, dan adalah X 5,5Ω,4Ω,Ω,Ω,5Ω 5 6 X 5,5,,,5 X,,,5,,5, X 6,4,5,5,4 atau Dari sini kita eroleh , ,75 47,6 ; 47,75 ; 47,58 7 Daya hilang ada saluran adalah X X ( X ) (5 47,58) X,5 (5 47,6) 46,4 W,4 (47,75 47,6),5, W 7 W ; ; ( X ), (5 47,75), (47,58 47,75), 5,6 W, W rus ada saluran X X X ( X X ) (5 47,58) 48,4,5 (5 47,75),5, (5 47,6) 59,,4 Jaringan incin. Gambar di bawah ini adalah diagram satu garis jaringan distribusi dengan sumbersumber yang dinyatakan sebagai arus masuk ke jaringan dan beban-beban dinyatakan dengan arus keluar dari jaringan. arilah besarnya arus-arus ada tia cabang saluran. 8-6 Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

7 8.7. Sumber Daya / atere 7 likasi HTK untuk loo dan HK untuk lima simul memberikan ersamaan dalam bentuk matriks sebagai berikut :,,,,,, Eliminasi Gauss memberikan Dari sini kita eroleh : 6 8 ; 5 9 ; 4 ; 9 ; 4 ; Tanda negatif arus menunjukkan bahwa arah arus berlawanan dengan arah referensi.,ω,ω F,Ω,Ω 5 atere meruakan sumber daya arus searah yang banyak digunakan, terutama untuk daya yang tidak terlalu besar serta keadaan darurat. Untuk daya besar, susunan batere dicatu oleh sumber arus searah yang dieroleh dari enyearahan arus bolak-balik. erikut ini kita akan melihat enyediaan batere, sedangkan enyearahan arus bolak-balik akan kita lihat ada bab berikutnya mengenai rangkaian dengan dioda. Suatu batere tersusun dari sel-sel yang meruakan sumber daya searah melalui konversi energi kimia. Setia sel memunyai tegangan yang tidak besar dan oleh karena itu untuk memeroleh tegangan sumber yang kita inginkan, kita harus menyususn sel-sel itu menjadi suatu susunan batere. Sebagai contoh, sumber daya untuk mobil meruakan sumber dengan tegangan yang tersusun dari 6 sel terhubung seri dan masing-masing sel bertegangan volt. Penyediaan batere haruslah diusahakan otimal baik dilihat dari ertimbangan ekonomis mauun teknis. erikut ini suatu contoh erhitungan enyediaan batere.,ω,ω E 8 D ontoh Perhitungan Suatu susunan batere dierlukan untuk memberikan arus sebesar 6 ada beban resistif sebesar,7 Ω. Jika sel-sel yang tersedia memunyai ggl (emf), dengan resistansi internal,5 Ω, tentukanlah jumlah sel dan susunannya. Jika kita angga susunan batere kita sebagai suatu sumber Thévenin, maka untuk mencaai transfer daya maksimum resistansi Thévenin harus sama dengan resistansi beban, yaitu Th,7Ω 8-7 Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8 Th beban Karena arus ditetakan sebesar 6, maka sumber tegangan Thévenin, Th, haruslah Th Th 6,7 Ω 6 (,7,7) 8,4

8 Sel yang tersedia memunyai ggl, sehingga dierlukan 4 buah sel dihubungkan seri untuk memeroleh tegangan 8,4. Susunan seri ini memunyai resistansi total sebesar 4,5 Ω. Untuk memeroleh Th sebesar,7 Ω (atau mendekati) dierlukan tiga susunan aralel, yang akan meberikan ekivalen,66 Ω. Jadi kita memerlukan 4 sel, yang tersusun menjadi 4 seri aralel seerti terlihat ada gambar berikut. 4,5 Ω 4, 6.7,7 Ω Jika susunan seri kita kurangi jumlah sel-nya, menjadi hanya, maka tegangan total menjadi,6,, dan resistansinya menjadi,5,5 Ω. Dengan memertahankan susunan teta aralel, resistansi ekivalen menjadi,5 Ω. rus beban akan menjadi 6,/(,5,7) 5,5, kurang dari yang diharakan (6 ). Jika kita coba menambah jumlah cabang aralelnya menjadi 4, resistansi ekivalen menjadi,5/4,75 Ω. rus beban menjadi 6,/(,75,7) 5,86 ; teta masih kurang dari 6. Jadi susunan sel menjadi 4 seri teraralel, adalah yang otimal dengan arus beban 8,4/(,66,7) 6,7. Sel-sel Ujung (Sel khir) Pada umumnya embebanan ada batere tidaklah selalu teta. Jika arus beban bertambah, maka tegangan batere akan menurun karena ada resistansi internal. Tegangan batere juga akan menurun ada beban konstan, seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu jika dierlukan suatu tegangan keluaran yang tertentu besarnya, maka dierlukan sel ujung yang akan dimasukkan atauun dikeluarkan dari susunan batere agar erubahan tegangan keluaran masih dalam batas-batas yang dierbolehkan. Kita ambil contoh berikut. Dari suatu susunan batere dierlukan tegangan keluaran sebesar. Jika tegangan maksimum tia sel adalah,5 sedangkan tegangan minimum yang masih dierkenankan adalah,85, beraakah jumlah sel (terhubung seri) yang dierlukan, dan beraakah jumlah sel ujung. Jumlah sel yang dierlukan harus dihitung dengan memerhatikan tegangan minimum sel agar ada tegangan minimum ini tegangan keluaran batere masih bernilai. Jadi jumlah sel yang dierlukan adalah 9 buah,85 Pada saat sel bertegangan maksimum, jumlah sel yang dierlukan hanyalah 88 buah,5 Jadi jumlah sel ujung adalah u 9 88 buah. Pengisian atere Dalam roses engisian batere, daya dari sumber ditransfer ke batere. Daya yang dikeluarkan oleh sumber, selain untuk mengisi batere sebagian akan hilang menjadi anas dalam batere (karena adanya resistansi internal batere), hilang ada saluran, dan juga hilang ada sumber itu sendiri karena adanya resistansi internal sumber. Kita lihat contoh berikut ini. ontoh: Sebuah sumber tegangan searah 5 dengan resistansi internal sebesar,5 Ω digunakan untuk mengisi batere yang terdiri dari sel, masing-masing dengan ggl, dan resistansi internal, Ω. Hitunglah a) arus engisian. b) daya e- ngisian batere, c) daya hilang sebagai anas dalam batere, d) daya hilang sebagai anas ada sumber. angkaian engisisan batere adalah seerti gambar di bawah ini. s b 5 (,) Ggl total batere adalah esistansi internal b GGL,, Ω 8-8 Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

9 a). rus engisisan adalah : sumber s GGL 5,5 b). Daya untuk engisisan batere: engisian GGL 44 W. c). Daya hilang sebagai anas dalam batere: b anas b 4 W d). Daya hilang ada sumber: anas sumber sumber,5 W 8-9 Sudaryatno Sudirham, angkaian rus Searah, ril 8

GELOMBANG BUNYI. Cepat rambat bunyi di udara yang dipengaruhi oleh tekanan dinyatakan dengan persamaan : pada gas ideal ; M

GELOMBANG BUNYI. Cepat rambat bunyi di udara yang dipengaruhi oleh tekanan dinyatakan dengan persamaan : pada gas ideal ; M SMK Negeri Rangkasbitung GELOMBANG BUNYI Bunyi meruakan salah satu bentuk gelombang mekanik, yaitu gelombang yang memerlukan medium sebagai erambatannya. Bunyi yang merambat ada medium udara bentuknya

Lebih terperinci

BAB I KOMPONEN-KOMPONEN UTAMA SISTEM TENAGA LISTRIK. Tujuan Umum: Mahasiswa dapat memahami komponenkomponen utama suatu sistem tenaga listrik

BAB I KOMPONEN-KOMPONEN UTAMA SISTEM TENAGA LISTRIK. Tujuan Umum: Mahasiswa dapat memahami komponenkomponen utama suatu sistem tenaga listrik BAB I KOMONEN-KOMONEN UTAMA SISTEM TENAGA LISTRIK Tujuan Umum: Mahasiswa daat memahami komonenkomonen utama suatu sistem tenaga listrik Tujuan Khusus: Mahasiswa daat memahami engertian dari sistem embangkit

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Kostruksi dasar meter listrik

Gambar 3.1 Kostruksi dasar meter listrik ALAT-ALAT 3 UKU LISTIK Telah dipahami bahwa elektron yang bergerak akan menghasilkan medan magnet yang tentu saja dapat ditarik atau ditolak oleh sumber magnetik lain. Keadaan inilah yang digunakan sebagai

Lebih terperinci

KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN. toto_sukisno@uny.ac.id

KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN. toto_sukisno@uny.ac.id KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN A. Sintesis Fasor Tak Simetris dari Komponen-Komponen Simetrisnya Menurut teorema Fortescue, tiga fasor tak seimbang dari sistem tiga-fasa dapat diuraikan menjadi

Lebih terperinci

LISTRIK DINAMIS. Merlina.pdf. Listrik Dinamis adalah listrik yang dapat bergerak. cara mengukur kuat arus pada

LISTRIK DINAMIS. Merlina.pdf. Listrik Dinamis adalah listrik yang dapat bergerak. cara mengukur kuat arus pada LISTRIK DINAMIS Merlina.pdf Coba kalian tekan saklar listrik di ruang kelas pada posisi ON kemudian kalian amati lampu listriknya. Apa yang terjadi? Tentunya lampu tersebut akan menyala bukan? Mengapa

Lebih terperinci

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA.1 Umum Motor induksi tiga fasa merupakan motor listrik arus bolak-balik yang paling banyak digunakan dalam dunia industri. Dinamakan motor induksi karena pada kenyataannya

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. 0 Modul Praktikum RL Tehnik Elektro UNISSULA

KATA PENGANTAR. 0 Modul Praktikum RL Tehnik Elektro UNISSULA KATA PENGANTA 0 Modul Praktikum Tehnik Elektro UNSSUA MODU TEGANGAN DAN DAYA STK, SUPE POSS, THEENN DAN NOTON 1.1 TUJUAN a. Mahasiswa mampu menganalisis rangkaian listrik arus sederhana dengan menggunakan

Lebih terperinci

Kelompok 7. Anggota : 1. Sajaroh Tuduhri 2. Tati Mayasari 3. Triana Rahayu 4. Windi Mei Santi SOAL

Kelompok 7. Anggota : 1. Sajaroh Tuduhri 2. Tati Mayasari 3. Triana Rahayu 4. Windi Mei Santi SOAL Kelompok 7 Anggota : 1. Sajaroh Tuduhri 2. Tati Mayasari 3. Triana Rahayu 4. Windi Mei Santi SOAL 1. Bagaimana teknik pengukuran multimeter? 2. Bagaimana prinsip kerjanya? Jawab : Teknik pengukuran multimeter

Lebih terperinci

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik V. Medan Magnet Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik Di tempat tersebut ada batu-batu yang saling tarik menarik. Magnet besar Bumi [sudah dari dahulu dimanfaatkan

Lebih terperinci

Mekanisme Gerak Translasi Bolak-Balik dengan Ulir Silang

Mekanisme Gerak Translasi Bolak-Balik dengan Ulir Silang JURNAL TEKNIK MESIN Vol., No., Aril 999 : 4-8 Mekanisme Gerak Translasi Bolak-Balik dengan Ulir Silang Joni ewanto osen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin Universitas Kristen Petra Ninuk Jonoadji osen

Lebih terperinci

MATERI SEMINAR TUGAS AKHIR Koordinasi Sistem Proteksi Trafo 30 MVA di Gardu Induk 150 kv Krapyak

MATERI SEMINAR TUGAS AKHIR Koordinasi Sistem Proteksi Trafo 30 MVA di Gardu Induk 150 kv Krapyak Koordinasi Sistem Proteksi Trafo MVA di Gardu Induk 5 kv Krayak KOORDINASI SISTEM PROTEKSI TRAFO MVA DI GARDU INDUK 5 KV KRAPYAK oleh Nama : Sugeng Priyono NIM : LF59 Abstrak - Tenaga listrik meruakan

Lebih terperinci

PENULIS Juhari, Dipl. Eng, S. Pd

PENULIS Juhari, Dipl. Eng, S. Pd 1 PENULIS Juhari, Dipl. Eng, S. Pd i KATA PENGANTAR Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Di dalamnya dirumuskan secara terpadu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus

Lebih terperinci

Bagian 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya

Bagian 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya SNI 0405000 Bagian 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya 6. Ruang lingkup 6.. Bab ini mengatur persyaratan PHB yang meliputi, pemasangan, sirkit, ruang pelayanan, penandaan untuk

Lebih terperinci

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI AKIBAT KETIDAKEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARU NETRAL DAN LOE PADA TRANFORMATOR DITRIBUI Moh. Dahlan 1 email : dahlan_kds@yahoo.com surat_dahlan@yahoo.com IN : 1979-6870 ABTRAK Ketidakseimbangan beban pada

Lebih terperinci

RANGKAIAN LISTRIK II (Untuk Diploma III)

RANGKAIAN LISTRIK II (Untuk Diploma III) UNERSTS RU i RNGKN LSTRK (Untuk Diploma ) Oleh swadi HR,ST.MT 8 KMPUS BNWDY PNM, PEKNBRU 89 Bahan jar-rangkaian Listrik PERSEMBHN swadi HR (NP 947) Jurusan Teknik Elektro FT UNR Pekanbaru ii Bahan jar-rangkaian

Lebih terperinci

BAB III LANGKAH PERCOBAAN

BAB III LANGKAH PERCOBAAN 28 BAB III LANGKAH PERCOBAAN 31 KARAKTERISTIK DIODA 311 Tujuan ahasiswa mengetahui dan memahami karakteristik dioda yang meliputi daerah kerja dioda, dioda dengan masukan gelombang kotak, dan waktu pemulihan

Lebih terperinci

LOMBA CERDAS CERMAT MATEMATIKA (LCCM) TINGKAT SMP DAN SMA SE-SUMATERA Memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Selatan 3 5 Mei 2011

LOMBA CERDAS CERMAT MATEMATIKA (LCCM) TINGKAT SMP DAN SMA SE-SUMATERA Memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Selatan 3 5 Mei 2011 LOMBA CERDAS CERMAT MATEMATIKA (LCCM) TINGKAT SMP DAN SMA SE-SUMATERA Memerebutkan Piala Gubernur Sumatera Selatan 3 5 Mei 0 PENYISIHAN II PERORANGAN LCCM TINGKAT SMP x. I. x x II. x x x 6 x III. x x 6

Lebih terperinci

PRINSIP KERJA GENERATOR SINKRON. Abstrak :

PRINSIP KERJA GENERATOR SINKRON. Abstrak : PRINSIP KERJA GENERATOR SINKRON * Wahyu Sunarlik Abstrak : Generator adalah suatu alat yang dapat mengubah tenaga mekanik menjadi energi listrik. Tenaga mekanik bisa berasal dari panas, air, uap, dll.

Lebih terperinci

ELEKTRONIKA DASAR. Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit. ALFITH, S.Pd,M.Pd

ELEKTRONIKA DASAR. Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit. ALFITH, S.Pd,M.Pd ELEKTRONIKA DASAR Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit 1 ALFITH, S.Pd,M.Pd RANGKAIAN DIODA Penyearah Tegangan Sebagai penyearah tegangan, dioda digunakan untuk mengubah tegangan bolak-balik (AC)

Lebih terperinci

Penggunaan Alat Bantu dan Alat Ukur Sederhana

Penggunaan Alat Bantu dan Alat Ukur Sederhana KODE MODUL EL.002 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK ELEKTRONIKA PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK AUDIO VIDEO Penggunaan Alat Bantu dan Alat Ukur Sederhana I. BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM

Lebih terperinci

PENGENALAN MOTOR INDUKSI 1-FASA

PENGENALAN MOTOR INDUKSI 1-FASA BAB IV PENGENALAN MOTOR INDUKSI 1-FASA Motor induksi 1-fasa biasanya tersedia dengan daya kurang dari 1 HP dan banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga dengan aplikasi yang sederhana, seperti kipas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur.

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur. BAB II LANDASAN TEORI II.I. Pengenalan Alat Ukur. Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap besaran lain yang

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL PADA KOMPRESOR TEKANAN UDARA SEBAGAI PENGISI UDARA UNTUK BAN KENDARAAN

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL PADA KOMPRESOR TEKANAN UDARA SEBAGAI PENGISI UDARA UNTUK BAN KENDARAAN RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL PADA KOMPRESOR TEKANAN UDARA SEBAGAI PENGISI UDARA UNTUK BAN KENDARAAN Kukuh Wahyu Budi Kusumawardana, Irianto, Mohammad Zaenal Efi Teknik Elektro Industri, Politeknik Elektronika

Lebih terperinci

LISTRIK DINAMIS. 7.1.1 Rangkaian Listrik. Gambar 1a. Rangkaian listrik terbuka. Gambar 1b. Rangkaian listrik tertutup

LISTRIK DINAMIS. 7.1.1 Rangkaian Listrik. Gambar 1a. Rangkaian listrik terbuka. Gambar 1b. Rangkaian listrik tertutup LSTRK DNMS Coba kalian tekan saklar listrik di ruang kelas pada posisi ON kemudian kalian amati lampu listriknya. pa yang terjadi? Tentunya lampu tersebut akan menyala bukan? Mengapa lampu tersebut menyala?

Lebih terperinci

PERCOBAAN 6 RESONANSI

PERCOBAAN 6 RESONANSI PERCOBAAN 6 RESONANSI TUJUAN Mempelajari sifat rangkaian RLC Mempelajari resonansi seri, resonansi paralel, resonansi seri paralel PERSIAPAN Pelajari keseluruhan petunjuk praktikum untuk modul rangkaian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI SUB BIDANG OPERASI

DAFTAR ISI STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI SUB BIDANG OPERASI DAFTAR ISI STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI SUB BIDANG OPERASI LEVEL 1 Kode Unit : DIS.OPS.005(1).B... 5 Judul Unit : Mengganti fuse pada peralatan hubung bagi (PHB-TR).

Lebih terperinci

PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK

PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK LAPORAN FIELD PROJECT PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK POTOT SUGIARTO NRP. 6308030007 DOSEN PEMBIMBING IR. EKO JULIANTO,

Lebih terperinci

[ 23-10 I1. Analisis rangkaian dengan metode MATA JALA. Gambar 1 Gambar 2

[ 23-10 I1. Analisis rangkaian dengan metode MATA JALA. Gambar 1 Gambar 2 Analisis rangkaian dengan metode MATA JALA Gambar 1 Gambar 2 Persamaan HKT yang dapat disusun berdasarkan Gambar 2 adalah 100 23 I1 10 I2-15 - 10 I1 + 35 I2 Persamaan diatas dapat ditulis dalam bentuk

Lebih terperinci

TEKNIK PENGUKURAN LISTRIK

TEKNIK PENGUKURAN LISTRIK TEKNIK PENGUKURAN LISTRIK ELK-DAS.16 20 JAM Penyusun : TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAHDEPARTEMEN

Lebih terperinci

BAB VIII KONSEP DASAR LISTRIK DINAMIS

BAB VIII KONSEP DASAR LISTRIK DINAMIS FISIKA KELAS X Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd. BAB VIII KONSEP DASA LISTIK DINAMIS Advance Organizer Apakah di sekitarmu masih ada rumah yang belum menggunakan penerangan listrik. Tentunya sudah sangat langka

Lebih terperinci

DESKRIPSI : KELISTRIKAN BODI

DESKRIPSI : KELISTRIKAN BODI DESKRIPSI : KELISTRIKAN BODI Mata Kuliah kelistrikan bodi merupakan ilmu dan ketrampilan yang sangat penting untuk masuk ke dunia kerja. Dengan memahami dasar-dasar kelistrikan Bodi, mahasiswa bias dengan

Lebih terperinci

PERCOBAAN I KARAKTERISTIK DIODA DAN PENYEARAH

PERCOBAAN I KARAKTERISTIK DIODA DAN PENYEARAH PERCOBAAN I KARAKTERISTIK DIODA DAN PENYEARAH 1. Tujuan 1. Memahami karakteristik dioda biasa dan dioda zener. 2. Memahami penggunaan dioda-dioda tersebut. 2. Pendahuluan 2.1 Karakteristik Dioda Dalam

Lebih terperinci

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80 1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). Apabila koefisien kondutivitas Q, logam P kali koefisien konduktivitas logam Q, serta AC = 2 CB, maka suhu di C

Lebih terperinci

UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI ROTOR LILIT SEBAGAI VARIABEL-TRANSFORMATOR (The Performance of a Wound Rotor Induction Motor used as a Variable Transformer)

UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI ROTOR LILIT SEBAGAI VARIABEL-TRANSFORMATOR (The Performance of a Wound Rotor Induction Motor used as a Variable Transformer) UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI ROTOR LILIT SEBAGAI VARIABEL-TRANSFORMATOR (The Performance of a Wound Rotor Induction Motor used as a Variable Transformer) Lukman Subekti ), Ma un Budiyanto ), ) Dosen Program

Lebih terperinci

BAB II PERHITUNGAN ARUS HUBUNGAN SINGKAT

BAB II PERHITUNGAN ARUS HUBUNGAN SINGKAT 13 BAB II PERHITUNGAN ARUS HUBUNGAN SINGKAT 2.1. Pendahuluan Sistem tenaga listrik pada umumnya terdiri dari pembangkit, gardu induk, jaringan transmisi dan distribusi. Berdasarkan konfigurasi jaringan,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Diklat Teknis. Ketenagalistrikan. Energi. Pemberlakuan Standar.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Diklat Teknis. Ketenagalistrikan. Energi. Pemberlakuan Standar. 332, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Diklat Teknis. Ketenagalistrikan. Energi. Pemberlakuan Standar. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK

Lebih terperinci

BBM 11 LISTRIK DINAMIS PENDAHULUAN

BBM 11 LISTRIK DINAMIS PENDAHULUAN BBM 11 LISTRIK DINAMIS PENDAHULUAN Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini merupakan BBM kesebelas dari mata kuliah Konsep Dasar Fisika untuk SD yang menjelaskan tentang konsep arus listrik dan rangkaian listrik.

Lebih terperinci

Teliti dalam menerap kan sistem satuan dalam mengukur suatu besaran fisis.

Teliti dalam menerap kan sistem satuan dalam mengukur suatu besaran fisis. DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : FISIKA : 1. Mengembangkan pengetahuan,pemahaman dan kemampuan analisis peserta didik terhadap lingkungan alam dan sekitarnya. 2. Memberikan pemahaman dan kemampuan

Lebih terperinci

PENGANTAR OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK. toto_sukisno@uny.ac.id

PENGANTAR OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK. toto_sukisno@uny.ac.id PENGANTAR OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK Operasi adalah pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan Tenaga Listrik adalah suatu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan dan didistribusikan

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul 1 Judul ANALISA PENGGUNAAN ECLOSE 3 PHASA 20 KV UNTUK PENGAMAN AUS LEBIH PADA SUTM 20 KV SISTEM 3 PHASA 4 KAWAT DI PT. PLN (PESEO) APJ SEMAANG Disusun oleh : Kunto Herwin Bono NIM : L2F 303513 Jurusan

Lebih terperinci

PENGENALAN DAN PENGUKURAN KOMPONEN ELEKTRONIKA DASAR PONSEL

PENGENALAN DAN PENGUKURAN KOMPONEN ELEKTRONIKA DASAR PONSEL PENGENALAN DAN PENGUKURAN KOMPONEN ELEKTRONIKA DASAR PONSEL Komponen elektronika adalah komponen yang tidak bisa dipisahkan pada setiap alat atau perangkat elektronik dalam kebutuhan kita sehari-hari,

Lebih terperinci

Kumpulan gambar pemeriksaan dan perbaikan dari hal yang mudah terlenakan Bab Perindustrian

Kumpulan gambar pemeriksaan dan perbaikan dari hal yang mudah terlenakan Bab Perindustrian Kumpulan gambar pemeriksaan dan perbaikan dari hal yang mudah terlenakan Bab Perindustrian Institut Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dewan Eksekutif Yuan Berdasarkan data 5 tahun terakhir dari pemeriksaan

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN INTERNAL

LAPORAN PENELITIAN INTERNAL LAPORAN PENELITIAN INTERNAL PENGARUH KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRAFO DISTRIBUSI PROYEK RUSUNAMI GADING ICON PENELITI : IR. BADARUDDIN, MT PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

Lebih terperinci

ANALISIS ALAT PENGHEMAT LISTRIK TERHADAP INSTALASI ALAT RUMAH TANGGA

ANALISIS ALAT PENGHEMAT LISTRIK TERHADAP INSTALASI ALAT RUMAH TANGGA ANALISIS ALAT PENGHEMAT LISTRIK TERHADAP INSTALASI ALAT RUMAH TANGGA Bidayatul Armynah*, Syahir Mahmud *, Nur Aina * Jurusan Fisika, Fakultas Mipa, Universitas Hasanuddin Makassar ABSTRAK Telah dilakukan

Lebih terperinci

* Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado * Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

* Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado * Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado FAKTOR-FAKTOR YAG BERHUBUGA DEGA KEPUTUSA PEMILIHA TEMPAT BERSALI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATA KECAMATA IBU KABUPATE HALMAHERA BARAT PROPISI MALUKU UTARA Siska ova Sibua*, D. V. Rombot* * Program

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN METODE THEVENIN

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN METODE THEVENIN AALISIS GAGGUA HUBUG SIGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TEAGA LISTRIK DEGA METODE THEVEI Jurusan Teknik Elektro T USU Abstrak: Analisis gangguan hubung singkat tiga phasa pada sistem tenaga listrik yang memnyai

Lebih terperinci

BAB 24 SISTEM EPS, WIPER, KURSI ELECTRIK

BAB 24 SISTEM EPS, WIPER, KURSI ELECTRIK BAB 24 SISTEM EPS, WIPER, KURSI ELECTRIK 24.1 Sistem EPS (ELEKTRONIK POWER STEERING) Elektronik Power Steering merupakan sistem yang membantu pengoperasian stering waktu dibelokkan dengan menggukan motor

Lebih terperinci

KOMPONEN ELEKTRONIKA. By YOICETA VANDA, ST., MT.

KOMPONEN ELEKTRONIKA. By YOICETA VANDA, ST., MT. KOMPONEN ELEKTRONIKA By YOICETA VANDA, ST., MT. 1.PENDAHULUAN Pengertian Elektronika Elektronika adalah ilmu pengetahuan dan teknologi(iptek) tentang pengendalian partikel bermuatan di dalam ruang hampa,

Lebih terperinci

Pertemuan III,IV,V II. Metode Persamaan Tiga Momen

Pertemuan III,IV,V II. Metode Persamaan Tiga Momen Pertemuan III,IV,V II. etode Persamaan Tiga omen II. Uraian Umum etode Persamaan Tiga omen Analisa balok menerus, pendekatan yang lebih mudah adalah dengan menggunakan momen-momen lentur statis yang tak

Lebih terperinci

GELOMBANG MEKANIK. (Rumus) www.aidianet.co.cc

GELOMBANG MEKANIK. (Rumus) www.aidianet.co.cc GELOMBANG MEKANIK (Rumus) Gelombang adalah gejala perambatan energi. Gelombang Mekanik adalah gelombang yang memerlukan medium untuk merambat. A = amplitudo gelombang (m) = = = panjang gelombang (m) v

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Adapun tampilan Program ETAP Power Station sebagaimana tampak ada gambar berikut:

PENDAHULUAN. Adapun tampilan Program ETAP Power Station sebagaimana tampak ada gambar berikut: PENDAHULUAN Dalam perancangan dan analisis sebuah sistem tenaga listrik, sebuah software aplikasi sangat dibutuhkan untuk merepresentasikan kondisi real.hal ini dikarenakan sulitnya meng-uji coba suatu

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS NASKAH PUBLIKASI ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.0 Diajukan oleh: FAJAR WIDIANTO D 400 100 060 JURUSAN

Lebih terperinci

BAB III METODE & DATA PENELITIAN

BAB III METODE & DATA PENELITIAN BAB III METODE & DATA PENELITIAN 3.1 Distribusi Jaringan Tegangan Rendah Pada dasarnya memilih kontruksi jaringan diharapkan memiliki harga yang efisien dan handal. Distribusi jaringan tegangan rendah

Lebih terperinci

SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK DAMAN SUSWANTO SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK UNTUK MAHASISWA TEKNIK ELEKTRO Edisi Pertama, 2009 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG i ii Kata Pengantar Puji syukur penulis

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI : ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK LANJUT

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI : ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK LANJUT DISUSUN OLEH : HALAMAN DARI Ir. Maula Sukmawidjaja, MS Koordinator Mata Kuliah FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI DIPERIKSA OLEH : UNIVERSITAS TRISAKTI NO. DOKUMEN : Management Representative DISETUJUI OLEH :

Lebih terperinci

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN..

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. Kriiiing..kriiiing bel berbunyi, tanda jam pelajaran ke Sembilan sudah berbunyi, tanda masuk di dua jam terakhir. Aku berfikir

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv

ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv JETri, Volume 8, Nomor, Februari 009, Halaman 1-0, ISSN 141-037 ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv Syamsir Abduh & Angga Septian* Dosen

Lebih terperinci

Oleh : Bambang Dwinanto, ST.,MT Debi Kurniawan ABSTRAKSI. Kata Kunci : Perangkat, Inverter, Frekuensi, Motor Induksi, Generator.

Oleh : Bambang Dwinanto, ST.,MT Debi Kurniawan ABSTRAKSI. Kata Kunci : Perangkat, Inverter, Frekuensi, Motor Induksi, Generator. ANALISA GENERATOR LISTRIK MENGGUNAKAN MESIN INDUKSI PADA BEBAN HUBUNG BINTANG (Y) DELTA ( ) PADA LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO DASAR UNIVERSITAS GUNADARMA Oleh : Bambang Dwinanto, ST.,MT Debi Kurniawan ABSTRAKSI

Lebih terperinci

MODUL PERCOBAAN PENGUKURAN O ALAT UKUR LlSTRlK

MODUL PERCOBAAN PENGUKURAN O ALAT UKUR LlSTRlK MODUL PERCOBAAN PENGUKURAN O ALAT UKUR LlSTRlK LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNISSULA SEMARANG --T I. MULTIMETER SEBAGAI VOLT METER DAN AMPERE METER 1.1. TUJUAN Setelah melakukan

Lebih terperinci

ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG)

ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) Agus Supardi 1, Tulus Wahyu Wibowo 2, Supriyadi 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro,

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010 UJIN NSIONL THUN 00 Pilihlah satu jawaban yang paling benar. Seorang anak berjalan lurus 0 meter ke barat, kemudian belok ke selatan sejauh meter, dan belok lagi ke timur sejauh meter. Perpindahan yang

Lebih terperinci

Gambar 11. susunan dan symbol dioda. Sebagai contoh pemassangan dioda pada suatu rangkaian sebagai berikut: Gambar 12. Cara Pemasangan Dioda

Gambar 11. susunan dan symbol dioda. Sebagai contoh pemassangan dioda pada suatu rangkaian sebagai berikut: Gambar 12. Cara Pemasangan Dioda 4.4. Dioda Dioda atau diode adalah sambungan bahan p-n yang berfungsi terutama sebagai penyearah. Bahan tipe-p akan menjadi sisi anode sedangkan bahan tipe-n akan menjadi katode. Bergantung pada polaritas

Lebih terperinci

Teknik Elektronika Komunikasi

Teknik Elektronika Komunikasi Teknik Elektronika Komunikasi i Teknik Elektronika Komunikasi Penulis : WIDIHARSO Editor Materi : Editor Bahasa : Ilustrasi Sampul : Desain & Ilustrasi Buku : Hak Cipta 2013, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7. ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.0 Fajar Widianto, Agus Supardi, Aris Budiman Jurusan TeknikElektro

Lebih terperinci

PRAKTIKUM II PENGKONDISI SINYAL 1

PRAKTIKUM II PENGKONDISI SINYAL 1 PRAKTIKUM II PENGKONDISI SINYAL 1 Tujuan: Mahasiswa mampu memahami cara kerja rangkaian-rangkaian sinyal pengkondisi berupa penguat (amplifier/attenuator) dan penjumlah (summing/adder). Alat dan Bahan

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASA SIMETRI PADA CIRCUIT BREAKER DENGAN TEGANGAN 4360 V

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASA SIMETRI PADA CIRCUIT BREAKER DENGAN TEGANGAN 4360 V NLISIS GNGGUN HUUNG SINGKT TIG FS SIMTRI PD CIRCUIT RKR DNGN TGNGN 4360 nggakara Syahbi S., Ir. Sulasno 2 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik lektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof.

Lebih terperinci

BAB V HUKUM NEWTON TENTANG GERAK

BAB V HUKUM NEWTON TENTANG GERAK BAB V HUKUM NEWTON TENTANG GERAK Ilmuwan yang sangat berjasa dalam mempelajari hubungan antara gaya dan gerak adalah Isaac Newton, seorang ilmuwan Inggris. Newton mengemukakan tiga buah hukumnya yang dikenal

Lebih terperinci

Model Matematika dari Sistem Dinamis

Model Matematika dari Sistem Dinamis Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 () Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 1 / 60 Pendahuluan Untuk analisis dan desain sistem kontrol, sistem sis harus dibuat model sisnya.

Lebih terperinci

REFUNGSIONALISASI PEMUTUS PADA PANEL DISTRIBUSI UTAMA BHB03/04 DAN BHC03/04

REFUNGSIONALISASI PEMUTUS PADA PANEL DISTRIBUSI UTAMA BHB03/04 DAN BHC03/04 REFUNGSIONALISASI PEMUTUS PADA PANEL DISTRIBUSI UTAMA BHB03/04 DAN BHC03/04 KOES INDRAKOESOEMA, KISWANTO, YAYAN ANDRIYANTO Pusat Reaktor Serba Guna-BATAN Kawasan Puspitek, Serpong, Tengerang 15310 Banten

Lebih terperinci

A. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN

A. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN ELEKTRONIKA DAYA A. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN Setelah mengikuti materi ini diharapkan peserta memiliki kompetensi antara lain sebagai berikut: 1. Menguasai karakteristik komponen elektronika daya sebagai

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. terus-menerus. Sistem tenaga listrik dikatakan memiliki keandalan yang baik jika

1 BAB I PENDAHULUAN. terus-menerus. Sistem tenaga listrik dikatakan memiliki keandalan yang baik jika 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem tenaga listrik pada suatu industri harus dapat menjamin terlaksananya proses produksi secara efisien. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu sistem tenaga

Lebih terperinci

BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA

BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA 10.1 Konversi Daya BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA Ada empat tipe konversi daya atau ada empat jenis pemanfatan energi yang berbedabeda Gambar 10.1. Pertama dari listrik PLN 220 V melalui penyearah yang mengubah

Lebih terperinci

EVALUASI PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP TEGANGAN GAGAL IMPULS PADA ISOLATOR GANTUNG 150 KV

EVALUASI PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP TEGANGAN GAGAL IMPULS PADA ISOLATOR GANTUNG 150 KV TUGAS AKHIR EVALUASI PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP TEGANGAN GAGAL IMPULS PADA ISOLATOR GANTUNG 150 KV Disusun guna memenuhi persyaratan akademis dan untuk mencapai gelar sarjana S-1 pada jurusan Teknik

Lebih terperinci

Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan

Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan 3.1 Pendahuluan 3.1.1 Proteksi untuk keselamatan menentukan persyaratan terpenting untuk melindungi manusia, ternak dan harta benda. Proteksi untuk keselamatan selengkapnya

Lebih terperinci

PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NASIONAL NOMOR : 1 TAHUN 2014 PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA

PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NASIONAL NOMOR : 1 TAHUN 2014 PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NASIONAL MOR : 1 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI MOR 04 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA REGISTRASI ULANG,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI JILID 2

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI JILID 2 Siswoyo TEKNIK LISTRIK INDUSTRI JILID 2 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta pada Departemen

Lebih terperinci

BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK

BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK 8.1 Alat Ukur Listrik Untuk mengetahui besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus, resistansi, daya, faktor kerja, dan frekuensi kita menggunakan alat ukur

Lebih terperinci

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG BAB I VEKTOR DALAM BIDANG I. KURVA BIDANG : Penyajian secara parameter Suatu kurva bidang ditentukan oleh sepasang persamaan parameter. ; dalam I dan kontinue pada selang I, yang pada umumnya sebuah selang

Lebih terperinci

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Selama mengamati beberapa reaksi dalam NOP, dapat diidentifikasi adanya beberapa kelemahan. Kelemahan ini terutama berpengaruh

Lebih terperinci

NO KODE A R S I T E K T U R 1 Arsitek 101 2 Ahli Desain Interior 102 3 Ahli Arsitekur Lansekap 103 4 Teknik Iluminasi 104

NO KODE A R S I T E K T U R 1 Arsitek 101 2 Ahli Desain Interior 102 3 Ahli Arsitekur Lansekap 103 4 Teknik Iluminasi 104 www.sertifikasi.biz DAFTAR KLASIFIKASI/SUB-KLASIFIKASI TENAGA KERJA AHLI KONSTRUKSI No. A R S I T E K T U R 1 Arsitek 101 2 Ahli Desain Interior 102 3 Ahli Arsitekur Lansekap 103 4 Teknik Iluminasi 104

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,

Lebih terperinci

BAB II KESETIMBANGAN BENDA TEGAR

BAB II KESETIMBANGAN BENDA TEGAR BAB II KESETIMBANGAN BENDA TEGAR Benda tegar adalah elemen kecil yang tidak mengalami perubahan bentuk apabila dikenai gaya. Struktur dua dimensi dapat diartikan sebuah struktur pipih yang mempunyai panjang

Lebih terperinci

Pneumatik Bab B4 1. Bab 4 Katup katup

Pneumatik Bab B4 1. Bab 4 Katup katup Pneumatik Bab B4 1 Bab 4 Katup katup 4.1 Katup Satu Arah Katup satu arah adalah bagian yang menutup aliran ke satu arah dan melewatkannya ke arah yang berlawanan. Tekanan pada sisi aliran membebani bagian

Lebih terperinci

Transistor Dwi Kutub. Laila Katriani. laila_katriani@uny.ac.id

Transistor Dwi Kutub. Laila Katriani. laila_katriani@uny.ac.id Transistor Dwi Kutub Laila Katriani laila_katriani@uny.ac.id Transistor adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki 3 kaki elektroda, yaitu Basis (Dasar), Kolektor (Pengumpul) dan Emitor (Pemancar).

Lebih terperinci

ALAT UKUR TINGGI DAN BERAT BADAN DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLLER

ALAT UKUR TINGGI DAN BERAT BADAN DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLLER ALAT UKUR TINGGI DAN BERAT BADAN DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLLER Rizki Mulia Utama (Rizkimuliautama@gmail.com), Rhenza Syasepta (Rhenza24.rir@gmail.com) Rachmansyah, S.Kom (Rachmansyah@stmik-mdp.net)

Lebih terperinci

Analisis Sistem Distribusi 20 kv Untuk Memperbaiki Kinerja Dan Keandalan Sistem Distribusi Menggunakan Electrical Transient Analisys Program

Analisis Sistem Distribusi 20 kv Untuk Memperbaiki Kinerja Dan Keandalan Sistem Distribusi Menggunakan Electrical Transient Analisys Program Seminar Nasional Teknologi Informasi Komunikasi dan Industri (SNTIKI) 4 ISSN : 085-990 Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 3 Oktober 01 Analisis Sistem Distribusi 0 kv

Lebih terperinci

BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia

BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL Luas Daerah di Bidang Volume Benda Pejal di Ruang: Metode Cincin Metode Cakram Metode Kulit Tabung

Lebih terperinci

TEKNIK DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK JILID 1

TEKNIK DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK JILID 1 Suhadi, dkk. TEKNIK DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK JILID 1 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta

Lebih terperinci

DINAMIKA GERAK. 2) Apakah yang menyebabkan benda yang sedang bergerak dapat menjadi diam?

DINAMIKA GERAK. 2) Apakah yang menyebabkan benda yang sedang bergerak dapat menjadi diam? DINAMIKA GERAK KEGIATAN TATAP MUKA A. Pendahuluan Mengapa buah nangka yang tergantung di pohon, bila sudah matang jatuh ke Bumi? Gerak apa yang dialami nangka yang jatuh itu? Ya benar, buah nangka yang

Lebih terperinci

BAB 3. Analisis Jaringan

BAB 3. Analisis Jaringan nalisis Jaringan Jaringan lahir karena berbagai keperluan seperti: transportasi, listrik, komunikasi, perencanaan proyek, aliran air, pembuatan jalan, dan lain-lain. Saat ini jaringan sangat penting, sebab

Lebih terperinci

PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990

PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990 PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990 DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTORAT PEMBINAAN JALAN KOTA PRAKATA Dalam rangka mewujudkan peranan penting jalan dalam mendorong perkembangan kehidupan

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

CONTOH SOAL DAN PEMBAHASANNYA

CONTOH SOAL DAN PEMBAHASANNYA CONTOH SOAL DAN PEMBAHASANNYA MATA PELAJARAN IPA - FISIKA SUMBER: Bp. Setiawan BESARAN DAN SATUAN Perhatikan tabel berikut! Besaran pokok menurut SI dengan alat ukurnya yang benar adalah... A. 1 dan 2

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR LEMBAR KERJA V KOMPARATOR 5.1. Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengoperasikan op amp sebagai rangkaian komparator inverting dan non inverting 2. Mahasiswa mampu membandingkan dan menganalisis keluaran dari rangkaian

Lebih terperinci

PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR

PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR 200 Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 hal. 200-209 PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR Mohtar

Lebih terperinci

BAB 5 PENGGUNAAN TURUNAN

BAB 5 PENGGUNAAN TURUNAN Diktat Kuliah TK Matematika BAB 5 PENGGUNAAN TURUNAN 5. Nilai Ekstrim Fungsi Nilai ekstrim fungsi adalah nilai yang berkaitan dengan maksimum atau minimum fungsi tersebut. Ada dua jenis nilai ekstrim,

Lebih terperinci

TEKNIK PEMANFAATAN TENAGA LISTIK JILID 1

TEKNIK PEMANFAATAN TENAGA LISTIK JILID 1 Prih Sumardjati, dkk. TEKNIK PEMANFAATAN TENAGA LISTIK JILID 1 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti

Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip), dimana sumbu kedua poros tersebut

Lebih terperinci