BAB II KAJIAN TEORI. keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN TEORI. keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah"

Transkripsi

1 1 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Peran Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap sesuai dengan kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosaial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21 dalam html.dtdleadership. powered by vbuletin. Copyright 2000, Jelsoft Enterprise Ltd.co.id) diakses 1 Juli 2013 Selanjutnya peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita dan kita siapa. Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, komunitas sosialo atau politik. Peran adalah kombinasi, yaitu posisi dan pengaruh. Anda diposisi mana dalam strata sosial dan sejauh mana pengaruh anda. Itulah peran. Peran adalah kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu bekerja, baik secara organisasi dan organis. Peran memang benar-benar kekuasaan yang bekerja secara sadar dan hegemonis, meresap masuk, dalam nilai yang diserap tanpa melihat dengan mata terbuka lagi. Dari beberapa pengertian peran di atas maka dapat disimpulkan bahwa peran merupakan simbiosis yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian, sebab dengan peran jelas ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Dan peran juga dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifatstabil.

2 2 2.2 Pengertian Kebudayaan Kata budaya berasal dari kata sanskerta buddhaya, yaitu bentuk jamak dai budhi yang berarti budi atau akal. Budaya adalah daya dari budi yang berupa, cipta, rasa dan karsa: sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal, budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hierarki, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Menurut Dedi Mulyana (dalam warsito 2012:49). Lebih lanjut Kluchkhohn (dalam Warsito 2012:51) mendefinisikan kebudayaan adalah pola-pola kehidupan yang diciptakan dalam perjalanan sejarah, eksplisit dan implisit, rasional dan irasional yang terwujud dalam tiap waktu sebagai pedoman yang berpotensi bagi perilaku perbuatan manusia.koentjaraningrat (dalam Rafael Raga Maran 2007:24) mendefenisikan bahwa kata budaya berasal dari kata majemuk budi daya yang berarti daya dari budi atau dayadari akal yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Sedangkan Gillin (dalam Rafael Raga Maran 2007:26) mendefenisikan kebudayaan terdiri dari kebiasaan-kebiasaan yang terpola dan secara fungsional saling bertautan dengan individu tertentu yang membentuk grup-grup atau kategori sosial tertentu. Sedangkan Bertand (dalam Abdul Syani 1995:57) memandang kebudayaan sebagai semua cara hidup (ways of life) yang dipelajari dan

3 3 diharapkan, yang sama-sama diikuti oleh para anggota dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Lebih lanjut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (dalamnabdul Syani 1995:57) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Menurut Roucek dan Warren (dalam Abdul Syani 1995:59 ) mendefenisikan kebudayaan sebagai satu cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah masyarakat guna memenuhi keperluan dasarnya untuk dapat bertahan hidup, meneruskan keturunan dan mengatur pengalaman sosialnya. Selanjutnya E.B Taylor (dalam Abdul Syani 1995:59) melihat kebudayaan sebagai kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai warga masyarakat. Dari beberapa teori yang di kemukakan oleh para ahli diatas, maka penulis berpandangan bahwa kebudayaan adalah suatu hal yang sanggat penting, karena menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Kebudayaan memberi nilai dan makna pada hidup manusia. 2.2 Pengertian Hibua Lamo Secara harafiyah, Hibua Lamo artinya Rumah Besar, Hibua berarti rumah dan Lamo berarti besar. Nama rumah adat yang diambil dari bahasa adat Tobelo

4 4 ini, ternyata sudah ada sejak 600 tahun lalu. Tapi kemudian punah terkikis oleh perkembangan jaman, mulai dari pergolakan penjajahan hingga masuk pada masa orde baru yang segala sesuatu yang bersifat dengan pemerintahan harus diselesaikan di Balai Desa.Hibua lamo atau rumah besar merupakan perekat dari semua etnis dan agama yang ada dalam masyarakat Tobelo. Budaya ini juga merupakan simbol dari komintas yang ada di kecamatan Tobelo yaitu komunitas Islam dan Kristen. Hibua Lamo ini juga merupaknan sebuah bangunan untuk pertemuan khusus apabila membicarakan hal-hal yang sangat penting dan rahasia, ini juga sebuah bangunan untuk tempat makan bersama dan tempat untuk upacara perkawinan dan upacara-upacara lainnya yang kemuudian bangunan tersebut di beri nama Halu yang artinya Hibua Lamo (dalam Pemda Halut Dan Dinas Pariwisata Halmahera Utara). Masyarakat Halmahera utara umumnya dan komunitas Islam-Kristen di Kecamatan Tobelo Utara khususnya diikat oleh berlakunya kekerabatan Hibua Lamo yang artinya Rumah Besar. Bagaimana pentingnya tradisi budaya tersebut dalam mempersatukan semua elemen masyarakat yang yang ada, serta mampu berperan dalam mengikat kesatuan etnis masyarakat Halmahera Utara melintasi batas-batas agama mereka dalam kurun waktu yang panjang, sampai menjelang pecahnya konflik horisontal pada akir tahun 1999 dan awal tahun 2000 (dalam Djana dkk,2011:4 Hibua Lamo sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat, karena di dalam budaya ini menjunjung tinggi nilai nilai yaitu nilai kekeluargaan, nilai

5 5 kebersamaan, dan nilai gotong royong. Mengenai Hibua Lamo, kita mulai menutur kisahnya dari Danau/Talaga Lina. Pada awalnya sekelompok orang yang jumlahnya sangat banyak tiba di danau Lina kurang lebih dalam Abad VIII mereka mendiami danau tersebut Pada waktu tiba di danau tersebut mereka tidak mengurus diri masing-masing tetapi mereka mempunyai ketua sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah membangun beberapa bangunan diantaranya sebuah bangunan untuk pertemuan khusus apabila membicarakan hal-hal yang sangat penting dan rahasia dan juga sebagai bangunan untuk tempat makan bersama dan tempat upacara perkawinan, juga upacara-upaara lainnya yang kemudian bangunan tersebut di beri nama Halu yang artinya Hibua Lamo. Bangunan tersebut tidak memakai dinding hanya terbuka tetapi dengan memakai meja-meja panjang yang di buat dari bulu dan bangku-bangku panjang yang di buat dari batang woka, sampai hari ini pondasi tersebut masih ada yang berjumlah 12 (dua belas) buah pondasi yang merupakan bukti peninggalan sejarah. Setelah mereka menepati Danau Lina beberapa abad yang lalu lamanya mereka melihat kondisi danau dan sekitarnya, tidak akan mungkin menjamin kehidupan mereka bersama anak cucu kehari kedepan, mereka lantas mencari tempat yang lain lagi lalu mereka sepakat keluar kepantai kemudian kemudian menyusur ke Utara dan mendiami pesisir pantai mulai Katana sampa dengan Mede.

6 6 Pada waktu mereka menepati pesisir mulai dari Katana sampai dengan Mede, mereka menetap sebuah desa yang merupakan desa induk mereka yaitu Tabalingo dan Pale. Setelah desa itu di bakar oleh perompak Bangsa Portugis, mereka pindah ke Gamsungi dan disitulah mereka membangun kembali sebuah Halu di tempat pasar tua yang sekarang ini di depan Hotel Presiden. Kemudian pada tahun 1920, menara kota Tobelo di tempat Halu itu di bangun pasar oleh pemerintah Belanda, sementara Halu itu di pindahkan dan di bangun di tempat yang sekarang dari Tugu Nasional. Kemudian sejak perang dunia II tahun 1942 sampai selesai 1945 bangunan itu punah dan sementara waktu tidak ada lagi Hibua Lamo. Tahun 1980, baru ada seorang kepala kecamatan asal suku Ternate bernama Moh. Djen Arif membangun sebuah rumah pertemuan darurat di lapangan Ampera yang dulunya lapangan bola kaki Tobelo, yang kemudian bangunan itu dijadikan gedung Hibua Lamo yang sekarang ini tempat Hibua Lamo itu berdiri Pasca konflik, warga adat yang tergabung dalam 10 hoana pun bersepakat untuk mendeklarasikan perdamaian tepatnya pada 19 April Dimana, salah satu point dalam deklarasi itu, sebagai simbol perdamaian, mereka bersepakat untuk membangun kembali rumah adat Hibualamo di lokasi yang saat ini berdiri hibualamo. Masyarakat Halmahera utara umumnya dan kimunitas Islam-Kristen di Kecamatan Tobelo Utara khususnya diikat oleh berlakunya kekerabatan Hibua Lamo yang artinya Rumah Besar. Bagaimana pentingnya tradisi budaya tersebut

7 7 dalam mempersatukan semua elemen masyarakat yang yang ada, serta mampu berperan dalam mengikat kesatuan etnis masyarakat Halmahera Utara melintasi batas-batas agama mereka dalam kurun waktu yang panjang, sampai menjelang pecahnya konflik horisontal pada akir tahun 1999 dan awal tahun 2000 (dalam Djana dkk,2011:4 )

ARTI PENTING KERJASAMA DALAM KEBERAGAMAAN MASYARAKAT

ARTI PENTING KERJASAMA DALAM KEBERAGAMAAN MASYARAKAT ARTI PENTING KERJASAMA DALAM KEBERAGAMAAN MASYARAKAT Modul (Kode E.2.04) Disusun oleh: Yadi Ruyadi DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua. terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua. terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di 13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua a. Pengertian Peranan Secara umum peranan adalah perilaku yang dilakukan oleh seseorang terkait oleh kedudukannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sebagai negara berkembang, indonesia sedang giat- giatnya melakukan pembangunan baik dikota maupun di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan merupakan rangkaian gerakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari beragam suku bangsa. Di antara suku bangsa tersebut masih ada yang hidup

BAB I PENDAHULUAN. dari beragam suku bangsa. Di antara suku bangsa tersebut masih ada yang hidup BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam suku bangsa. Di antara suku bangsa tersebut masih ada yang hidup terasing di pedalaman,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

PROGRAM BACA,TULIS DAN HITUNG (BTH) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK AKULTURASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ORANG RIMBA YANG BERUBAH

PROGRAM BACA,TULIS DAN HITUNG (BTH) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK AKULTURASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ORANG RIMBA YANG BERUBAH PROGRAM BACA,TULIS DAN HITUNG (BTH) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK AKULTURASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ORANG RIMBA YANG BERUBAH (Studi Kasus : Orang Rimba Kedundung Muda-TNBD, Jambi) SKRIPSI Oleh NORI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 28 BAB II KAJIAN PUSTAKA 3. Hasil Belajar Matematika 3. Hasil Belajar Kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan belajar semua diperoleh mengingat mula-mula kemampuan itu belum ada. Maka terjadilah proses

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a b c d e bahwa manusia, sebagai makhluk ciptaan

Lebih terperinci

MENELUSURI SEJARAH ASAL MULA BALIKPAPAN MELALUI PERAYAAN ERAU BALIK DELAPAN Sebuah Kajian Budaya dan Folklor

MENELUSURI SEJARAH ASAL MULA BALIKPAPAN MELALUI PERAYAAN ERAU BALIK DELAPAN Sebuah Kajian Budaya dan Folklor 77 MENELUSURI SEJARAH ASAL MULA BALIKPAPAN MELALUI PERAYAAN ERAU BALIK DELAPAN Sebuah Kajian Budaya dan Folklor Ulum Janah Dosen Fakultas Sastra Universitas Balikpapan Abstrak Kajian tentang sejarah asal

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua. terlebih dahulu akan dijelaskan tentang apa pengertian dari pendidikan.

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua. terlebih dahulu akan dijelaskan tentang apa pengertian dari pendidikan. BAB II KAJIAN TEORI A. TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA 1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua Sebelum menjelaskan tentang pengertian tingkat pendidikan orang tua, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Dalam bagian ini diuraikan profil Kota Denpasar, yaitu meliputi lokasi

BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Dalam bagian ini diuraikan profil Kota Denpasar, yaitu meliputi lokasi 103 BAB IV GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN Dalam bagian ini diuraikan profil Kota Denpasar, yaitu meliputi lokasi geografi, demografi, ekonomi dan pariwisata, politik dan pemerintahan, serta sosial dan

Lebih terperinci

Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak

Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Gasti Ratnawati PENDAHULUAN Dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas, anak sebagai generasi

Lebih terperinci

Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama

Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo) SKRIPSI D I S U S U N OLEH: MINARTI

Lebih terperinci

4. Sasaran. a. Mahasiswa

4. Sasaran. a. Mahasiswa BAB I KONSEPSI KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA (KKNM) 1.1. Latar Belakang, Falsafah, Arti dan Tujuan KKNM 1. Latar Belakang Pelaksanaan kegiatan kuliah kerja nyata mahasiswa Universitas Padjadjaran bertitik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keadaan alam, flora, dan fauna, sebagai

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan Dr.Gatot Hari Priowirjanto

KATA PENGANTAR. Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan Dr.Gatot Hari Priowirjanto KATA PENGANTAR Modul ini merupakan salah satu modul yang membahas tentang ketenagakerjaan. Sub kompetensi yang harus dicapai siswa dengan mempelajari modul ini ialah Masyarakat dan Komunitas. Untuk menguasai

Lebih terperinci

NORMA SUBJEKTIF PERILAKU BUANG AIR BESAR DI PESISIR PANTAI TUBAN JAWA TIMUR

NORMA SUBJEKTIF PERILAKU BUANG AIR BESAR DI PESISIR PANTAI TUBAN JAWA TIMUR NORMA SUBJEKTIF PERILAKU BUANG AIR BESAR DI PESISIR PANTAI TUBAN JAWA TIMUR SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi Oleh Septiardi Erawan 1550408005 JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL SEBUAH KAJIAN HUKUM TENTANG PENERAPANNYA DI INDONESIA

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL SEBUAH KAJIAN HUKUM TENTANG PENERAPANNYA DI INDONESIA Seri Kursus HAM untuk Pengacara X Tahun 2005 KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL SEBUAH KAJIAN HUKUM TENTANG PENERAPANNYA DI INDONESIA Ester Indahyani Jusuf, S.H.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2005 TENT ANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON CIVIL AND POLITICAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK) DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa manusia, sebagai mahluk ciptaan Tuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara mengakui

Lebih terperinci

Materi Disampaikan Dalam Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Angkatan I, 5 Agustus 1998

Materi Disampaikan Dalam Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Angkatan I, 5 Agustus 1998 Materi Disampaikan Dalam Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Angkatan I, 5 Agustus 1998 !"#"$ Menulis pada hakekatnya adalah suatu kegiatan yang dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap orang (terutama

Lebih terperinci

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN MANUSIA SECARA BUDAYA DAN IMPIKASINYA DALAM KONSELING LINTAS BUDAYA. Oleh: Jerizal Petrus

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN MANUSIA SECARA BUDAYA DAN IMPIKASINYA DALAM KONSELING LINTAS BUDAYA. Oleh: Jerizal Petrus PERBEDAAN DAN PERSAMAAN MANUSIA SECARA BUDAYA DAN IMPIKASINYA DALAM KONSELING LINTAS BUDAYA Oleh: Jerizal Petrus Abstrak Pemahaman akan karakteristik manusia dan budayanya masig-masing merupakan bagian

Lebih terperinci

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA 2003-2006 ANGGARAN DASAR MASTEL MUKADIMAH Bahwa dengan berkembangnya teknologi, telah terjadi

Lebih terperinci

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Direktorat Jenderal Cipta Karya MODUL KHUSUS KOMUNITAS C09 BKM/LKM. Tugas dan Fungsi BKM/LKM. PNPM Mandiri Perkotaan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Direktorat Jenderal Cipta Karya MODUL KHUSUS KOMUNITAS C09 BKM/LKM. Tugas dan Fungsi BKM/LKM. PNPM Mandiri Perkotaan DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Direktorat Jenderal Cipta Karya MODUL KHUSUS KOMUNITAS BKM/LKM C09 Tugas dan Fungsi BKM/LKM PNPM Mandiri Perkotaan Modul 1 Konsep BKM/LKM dan Modal Sosial 1 Kegiatan 1: Memahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Trend dunia pariwisata selalu berubah ubah. Ini dikarenakan pariwisata itu memiliki sifat yang dinamis. Karena dinamis, maka para planer, konseptor, dan juga investor

Lebih terperinci

KEPEDULIAN NELAYAN DALAM IKUT SERTA MELESTARIKAN LINGKUNGAN PESISIR

KEPEDULIAN NELAYAN DALAM IKUT SERTA MELESTARIKAN LINGKUNGAN PESISIR KEPEDULIAN NELAYAN DALAM IKUT SERTA MELESTARIKAN LINGKUNGAN PESISIR (Studi Kasus: Di Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak) SKRIPSI Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Sosiologi dan Antropologi

Lebih terperinci