PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND"

Transkripsi

1 PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MODEL PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS X.2 SMA NEGERI 2 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh: SUPARMI K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Januari 2013 i

2 ii

3 PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MODEL PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS X.2 SMA NEGERI 2 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh: SUPARMI K SKRIPSI Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DANILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit Januari to 2013 user iii

4 iv

5 v

6 ABSTRAK Suparmi. PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MODEL PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS X.2 SMA NEGERI 2 KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Januari Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012. Meliputi aspek: performance guru, kemanfaatan fasilitas pembelajaran, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, dan motivasi berprestasi menggunakan pendekatan CTL dipadukan dengan model problem posing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam tiga Siklus. Setiap Siklus terdiri atas 4 tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data penelitian menggunakan Teknik Tes dan Non Tes dengan instrumen soal tes, angket, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Validasi data menggunakan teknik triangulasi model dan triangulasi observer. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata persentase pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, Siklus III yang meliputi 1) Performance guru (60%, 86,67%, 96,67%, 100%); 2). Iklim kelas (54,16%, 68,05%, 76,38%, 86,80%); 3). Sikap ilmiah (50,92%, 65,27%, 74,07%, 83,79%); 4). Motivasi berprestasi (57,71%, 65,75%, 74,38%, 85,80%); 5). Kemanfaatan fasilitas pembelajaran semakin meningkat ditunjukkan dari penggunaan media LCD yang sebelumnya jarang digunakan. Secara menyeluruh rata-rata capaian persentase aspek kualitas pembelajaran biologi untuk Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, Siklus III (55,69%, 71,43%, 80,37%, 89,09%). Adapun peningkatan aspek kualitas pembelajaran biologi dari hasil Pra-Siklus sampai Siklus III sebesar 33,4%. Siklus dihentikan dalam Siklus III karena target penelitian telah tercapai. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing dapat meningkatkan kualitas pembelajaran biologi yang meliputi aspek performance guru, fasilitas pembelajaran, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, dan motivasi berprestasi pada siswa kelas X 2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 Kata kunci: pendekatan CTL, model problem posing, kualitas pembelajaran biologi. vi

7 ABSTRACT Suparmi. IMPLEMENTATION OF APPROACH CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) WITH PROBLEM POSING MODEL TO IMPROVE QUALITY OF BIOLOGY LEARNING STUDENTS IN CLASS X.2 AT SMA NEGERI 2 KARANGANYAR IN ACADEMIC YEAR 2011/2012. Thesis. Surakarta: Teacher Training and Education Faculty. Sebelas Maret University, January This research aims to improve quality of biology in class X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar in Academic Year 2011/2012. Learning considered by teacher s performance, utility of facilities in the classroom, classroom climate, student s scientific attitude, and student motivation of achievement applying for approach Contextual Teaching and Learning winch Problem Posing model. This research was a classroom action research which and performed in three cycles. Each cycle consisted of 4 phases, namely: planning, action, observation, and reflection. The data was collected Tes and Non Tes by question, questionnaire, observation, and manual interview. Data validation was used triangulation of methods and triangulation of observers. The obtained data were analyzed using descriptive. The results of this research showed upgrading the average percentage in pre cycle, cycle I, cycle II, and cycle III included : 1) Teacher s performance (60%, 86,67%, 96,67%, 100%); 2) Classroom climate (54,16%, 68,05%, 76,38%, 86,80%); 3) Student s scientific attitude (50,92%, 65,27%, 74,07%, 83,79%) ; 4). Student motivation of achievement (57,71%, 65,75%, 74,38%, 85,80); utility of learning facilities in the classroom have been optimally. The results showed that the average percentage quality of biology learning aspect such as pre cycle, cycle I, cycle II, and cycle III (55,69%, 71,43%, 80,37%, 89,09%). Increase 33,4% from pre cycle to cycle III. Cycles stopped in cycle III because the research target is achieved. The conclusion of this research describes that the implementation of approach contextual teaching and learning with problem posing model can improve quality of biology learning considered by teacher s performance, utility of facilities in the classroom, classroom climate, student s scientific attitude, and student motivation of achievement in class X.2 at SMA Negeri 2 Karanganyar in Academic Year 2011/2012. Keyword: Approach Contextual Teaching and Learning, problem posing model, quality of biology learning. vii

8 MOTTO Jangan pernah melewatkan kesempatan, karena kesempatan tidak datang dua kali (Suciati) Bukan seberapa lama kita merenungi kekalahan tapi seberapa cepat kita bangkit dari kekalahan (Suciati) CAPEK nya orang bekerja adalah anugrah, yang patut disyukuri dan lebih baik dari CAPEK nya orang tidur (Bapak) Nasib bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pilihan. Nasib juga bukan suatu yang kita tunggu kedatangannya, melainkan kita jemput pencapaiannya (William Jening Brian) Selalu tersenyumlah walau orang lain tidak tersenyum padamu (Penulis) viii

9 PERSEMBAHAN Tuhan yang maha ESA yang memberi kelancaran dan kemudahan selama ini Ibuk (Darmi) dan Bapak (Prapto rebo) tercita. Terimakasih atas segala kasih sayang yang selama ini aku dapatkan. Terimakasih atas perjuangan yang tidak kenal waktu, walau keringat bercucuran, letih di pundak tak sedikt pun kalian tunjukan kepada ku. Hanya senyum yang selama ini kalian berikan,... kakakku (Sridadi) terimakasih selalu memberikan semangat dan doanya... Ibu Dr. Suciati Sudarisman, M.Pd terima kasih atas bimbingan selama ini, Terima kasih selama ni menjadi ibu yang menegur ku apabila aku lalai, memberi semangat saat aku jatuh, dan menjadi pendengar dan penasehat saat aku bimbang. Ibu Harlita, S.Si, M. Si terimakasih atas segala waktu dan bimbingan yang selama ini ibu berikan. DYAH ERLINA, Ribuan kata pun tidak bisa menggabarkan persabatan kita. Terimakasih sudah menjadi sahabat terbaik ku. RIDA Bakti,RIA, TUTIK, Mbk DINA,UMI makasih atas banyak hal yang telah kita lewati bersama, spesial Rida Bakti Novi makasih selalu menemaniku, menjadi saudara ku selama ini, berkat mu aku merasa kos adalah rumah ku sendiri dan adik kos ku yang manja IRRA,,,,makasih,,,,ha..ha maaf selalu tak ussilin Annisa, Feriana, AFI, Yenni makasih atas semangat yang selama ini kalian berikan Dian Putri terimakasih selalu membatu dan memberikan semangat serta temen temen Sucilaves : Rahma, Gama, Feri, Hantian, Ifa, Ita, Ajik, Dani, Purwo, Dwi p, Devi, Valen temen temen satu perjuangan Sahabat-sahabatku pendidikan Biologi angkatan 2008 terimakasih Almamater ix

10 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-nya, sehingga skripsi yang berjudul Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Model Problem Posing untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 dapat diselesaikan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Biologi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Selama penelitian hingga terselesaikannya laporan ini, penulis menemui berbagai hambatan, tetapi berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya hambatan yang ada dapat teratasi. Oleh karena itu, atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. 4. Dr. Suciati Sudarisman, M.Pd selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan. 5. Harlita, S.Si, M.Si, selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan. x

11 6. Meti Indrowati, S.Si, M.Si, selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan dorongan. 7. L. Kuntadi, S.Pd selaku guru mata pelajaran Biologi SMA N 2 Karanganyar yang senantiasa membantu kelancaran penelitian dan kerja samanya. 8. Siswa kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/ Bapak dan Ibu yang tak henti-hentinya memberikan dukungan. 10. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Surakarta, Januari 2013 Penulis xi

12 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN HALAMAN PENGAJUAN HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN. HALAMAN ABSTRAK. HALAMAN MOTTO. HALAMAN PERSEMBAHAN.. KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN... I ii iii iv v Vi viii ix x xii xiv Xvii xix xii

13 BAB I. PENDAHULUAN... A. Latar Belakang Masalah... B. Perumusan Masalah... C. Tujuan Penelitian... D. Manfaat Penelitian BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... A. Tinjauan Pustaka.. 1. Belajar dan Pembelajaran Biologi 2. Teori-Teori Belajar Pendekatan CTL Model Problem Posing Kualitas Pembelajaran... B. Kerangka Berpikir BAB III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian 2. Waktu Penelitian.. B. Subjek Penelitian C. Data dan Sumber Data Data Penelitian.. 2. Sumber Data.. D. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi. 2. Angket atau Kuesioner 3. Wawancara Dokumentasi 5. Tes E. Validitas Data.. F. Analisis Data G. Prosedur Penelitian.. H. Target Penelitian xiii

14 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pra Tindakan/ Pra-Siklus B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus... C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar Siklus... D. Pembahasan. BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan. B. Implikasi... C. Saran.. DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN Tabel Halaman 2.1 Langkah Langkah Model Problem Posing Penilaian Angket Skala Likert Teknik Pengumpulan Data Kondisi Fasilitas Pembelajaran SMA N 2 Karanganyar Performance Guru dalam Kelas Pra-Siklus Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pra-Siklus Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pra-Siklus Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Pra-Siklus Persentase Capaian Indikator commit Motivasi to user Berprestasi Pra-Siklus... xiv 57

15 Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pra-Siklus... Perencanaan Tindakan Siklus I... Pelaksanaan Tindakan Siklus I... Pemanfaatan Fasilitas Pada Siklus I. Performance Guru dalam Kelas Siklus I... Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Siklus I... Persentase Capaian Iklim Kelas Siklus I... Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Siklus I... Persentase Capaian Indikator untuk Motivasi Berprestasi Siklus I... Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Siklus I... Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siklus I Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siklus I. Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siklus I. Temuan dan saran Siklus I dan Saran Siklus II... Perencanaan Tindakan Siklus II... Pelaksanaan Tindakan Siklus II... Pemanfaatan Fasilitas Siklus II Lembar Observasi Performance Guru dalam Kelas Siklus II... Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Siklus II... Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Siklus II... Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Siklus II... Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Siklus II... Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Siklus II... Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siklus II... Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siklus II. Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siklus II. Temuan Siklus II dan Saran Siklus III... Perencanaan Tindakan Siklus III... Pelaksanaan Tindakan Siklus III... Fasilitas Pembelajaran dalam Kelas. Lembar Observasi Performance commit Guru to user dalam Kelas Siklus III... xv

16 Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Siklus III... Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Siklus III... Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Siklus III... Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Siklus III... Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Siklus III... Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siklus I. Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siklus I... Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siklus I... Persentase Capaian Indikator Performance Guru dalam Kelas Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Siswa Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Persentase Capaian Aspek Kualitas Pembelajaran Biologi pada Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III xvi

17 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman Aspek Kualitas Pembelajaran... Skema Kerangka Berpikir... Jadwal Penelitian... Skema Triangulasi Model Penelitian... Skema Triangulasi Observer Penelitian... Skema Prosedur Penelitian Tindakan Kelas... Diagram Persentase Ketuntasan Kognitif Siswa Siklus I. Diagram Persentase Ketuntasan Psikomotor Siswa Siklus I. Diagram Persentase Ketuntasan Afektif Siswa Siklus I Diagram Persentase Ketuntasan commit Kognitif to user Siswa Siklus II. xvii

18 Diagram Persentase Ketuntasan Psikomotor Siswa Siklus II. Diagram Persentase Ketuntasan Afektif Siswa Siklus II Diagram Persentase Ketuntasan Kognitif Siswa Siklus II. Diagram Persentase Ketuntasan Psikomotor Siswa Siklus II. Diagram Persentase Ketuntasan Afektif Siswa Siklus II Grafik Perubahan Persentase Indikator Performance Guru Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Performance Guru Dalam Kelas pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III... Grafik Perubahan Persentase Indikator Iklim Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas pada Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III... Grafik Perubahan Persentase Indikator Sikap ilmiah dalam Pembelajaran Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Sikap ilmiah pada Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III... Grafik Perubahan Persentase Indikator Motivasi Berprestasi Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III... Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III... Diagram Perubahan Persentase Capaian Kualitas Pembelajaran Biologi pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III xviii

19 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I. Instumen Pembelajaran 1. Silabus Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan LKS Siklus I Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan LKS Siklus II Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan LKS Siklus III Lampiran II. Instrumen Penelitian 5. Kisi-Kisi Angket Kualitas pembelajaran Angket Kualitas Pembelajaran Lembar Observasi Performance commit Guru to user dalam Kelas xix

20 8. Kisi-Kisi Lembar Observasi Fasilitas Pembelajaran Lembar Observasi Fasilitas Pembelajaran Kisi-kisi Lembar Obsevasi Iklim Kelas Lembar Observasi Iklim Kelas Kisi-kisi Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa Lembar Observasi Sikap Ilmiah Siswa Kisi-kisi Lembar Observasi Motivasi Berprestasi Lembar Observasi Motivasi Berprestasi Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks Siklus I Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks Siklus II Lembar Observasi Keterlaksanaan Sintaks Siklus III Kisi-Kisi Pedoman Wawancara Pedoman Wawancara Lampiran III. Data Hasil Penelitian 21. Daftar Nama Siswa Kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar Daftar Hasil Belajar Siswa Kelas X Data Hasil dan Perhitungan Angket Data Hasil Lembar Observasi Fasilitas Pembelajara Data Hasil Lembar Observasi Performance Guru Data Hasil Lembar Observasi Iklim Kelas Data Hasil Lembar Observasi Sikap Ilmiah Data Hasil Lembar Observasi Motivasi Berprestasi Data Hasil Keterlaksanaan Sintaks Siklus I Data Hasil Keterlaksanaan Sintaks Siklus II Data Hasil Keterlaksanaan Sintaks Siklus III Data Hasil Wawancara Lampiran IV. Dokumentasi 32 Dokumentasi Observasi Awal Dokumentasi Pra Tindakan/Pra-Siklus Dokumentasi Siklus I Dokumentasi Siklus II xx

21 36 Dokumentasi Siklus III Lampiran V. Perijinan 37 Surat ijin Penelitian Surat Pengantar Ijin Menyusun Skripsi Surat Ijin Menyusun Skripsi Surat Keterangan Selesai Penelitian xxi

22 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi perkembangan dan perubahan secara terus menerus menuntut perlunya peningkatan mutu pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Pendidikan dituntut untuk mampu membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter sikap, oleh karenanya pendidikan saat ini harus menekankan pada kualitas pembelajaran. Pendidikan merupakan faktor yang paling esensial yang dapat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran di sekolah, oleh karena itu pengembangan pembelajaran terus dikembangkan yang salah satunya adalah melalui inovasi pembelajaran kontekstual yang ditujukan untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pendidikan disekolah. Pembelajaran di kelas dikatakan baik apabila pembelajaran itu berkualitas. Kualitas pembelajaran tidak hanya dapat dilihat dari segi hasil (produk), tetapi juga dari segi proses. Ditinjau segi proses meliputi 5 aspek yaitu: Performance guru di kelas, iklim kelas, sikap ilmiah, fasilitas pembelajaran, dan motivasi belajar ( Widoyoko, 2008). Pembelajaran biologi idealnya mengacu pada hakikat pembelajaran sains yang dipandang sebagai: produk, proses dan sikap ilmiah (Carin, 1990). Biologi merupakan suatu proses artinya untuk mendapatkan pengetahuan melalui kegiatan kemampuan mengamati, mengumpulkan data, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan data; (2) Biologi sebagai produk, berarti dalam biologi terdapat konsep, hukum, dan teori yang sudah diterima kebenarannya; (3) sikap ilmiah yang muncul setelah terlaksanannya proses ini seperti objektif, tanggung jawab, dan saling kerja sama (Siahaan dan Suyana, 2010: 3). Biologi bukan hanya sekedar kumpulan konsep, prinsip, fakta, hukum, atau teori, namun merupakan kegiatan atau proses aktif dalam menggunakan pikiran untuk memperoleh suatu informasi, mempelajari menyelesaikan fenomena yang ada. Hal ini relevan dengan tujuan pembelajaran IPA( biologi) di SMA adalah untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan commit dan to teknologi user serta membudayakan berfikir 1

23 2 ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri melalui proses inkuiri ilmiah dengan Permendiknas No. 22 Tahun Pembelajaran yang berlangsung di kelas hendaknya tidak bersifat tekstual hal tersebut relevan dengan paham konstruktivisme yaitu proses membangun atau menyusun pengetahuan baru, siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa menyelesaikan masalah sendiri (belajar secara mandiri). Hal ini relevan dengan konsep inkuiri artinya proses pembelajaran yang didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematik. Hasil belajar dapat di peroleh dari hasil interaksi dengan orang lain baik siswa ke guru, maupun siswa dengan siswa jadi harus ada intraksi di kelas. Penilaian tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar berupa tes tetapi menekankan pada proses dan hasil (Dharma, 2010). Unsur-unsur tersebut idealnya senantiasa tercermin dalam setiap aspek yang mendukung kualitas proses belajar dan hasil belajar siswa Namun demikian, dalam kenyataannya kualitas pembelajaran biologi cenderung rendah. Berdasarkan hasil observasi awal (Suparmi, 2011) terhadap proses pembelajaran biologi di kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran khususnya yang meliputi 5 aspek pendukung kualitas pembelajaran (performance guru, fasilitas pembelajaran dalam kelas, iklim kelas, sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran, dan motivasi belajar siswa yang difokuskan pada motivasi berprestasi) masih belum optimal. Secara rinci hasil observasi Pra-Siklus adalah sebagai berikut: Pertama, ditinjau dari aspek fasilitas pembelajaran. Kondisi fasilitas pendukung pembelajaran di kelas X.2 sudah cukup memadai. Lingkungan fisik kelas sudah cukup nyaman, pencahayaan juga sudah cukup, ukuran ruang kelas sudah nyaman dihuni oleh 36 siswa, jarak pandang siswa yang duduk di paling belakang terhadap papan tulis sekitar 6 meter, sehingga siswa tidak terlalu sulit untuk melihat tulisan di papan tulis. Media dan alat pembelajaran yang ada di kelas berupa papan tulis (white board) dan board marker. Fasilitas penunjang yang digunakan guru adalah laboratorium yang terdapat LCD. Di laboratorium terdapat alat-alat yang dapat digunakan untuk melaksanakan praktikum, namun dalam pemanfaatannya kurang optimal.

24 3 Kedua, ditinjau dari aspek performance guru. Pada saat pembelajaran, diketahui bahwa pembelajaran dikelas X.2 masih kurang variatif. Model yang sering digunakan adalah model ceramah, secara umum pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran di kelas tidak sesuai dengan RPP yang dibuat guru. Ketiga, ditinjau dari aspek iklim kelas. Interaksi antara guru dengan siswa masih kurang, terlihat guru mendominasi pembelajaran sehingga komunikasi cenderung satu arah, belum ada balikan dari siswa secara optimal, ketika guru mengajukan pertanyaan pada siswa terlihat hanya siswa tertentu saja yang memperhatikan dan berani menjawab pertanyaan. 36 orang siswa hanya 8,33% yang mau menjawab pertanyaan dengan sukarela, 22,22% menjawab pertanyaan dengan diperintah guru. Sebanyak 69,45% siswa lebih banyak diam atau melakukan aktivitas lain Ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, tidak satu pun siswa yang berani mengajukan pertanyaan sekalipun siswa masih belum memahami materi. Siswa lebih memilih diam dan menunggu guru memberi penjelasan berikutnya. Interaksi antar siswa juga belum optimal dalam pembelajaran, interaksi yang ada hanya antar siswa yang menjadi teman sebangku. Keempat ditinjau dari aspek sikap ilmiah siswa. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan sikap ilmiah siswa masih kurang optimal. Dibuktikan dengan banyak siswa yang kurang memperlihatkan rasa ingin tahu dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa hanya mencatat apa yang disampaikan guru dan hanya diarahkan untuk mampu menghafal informasi sehingga hasrat ingin Tahunya rendah. Sebanyak (83,33%) siswa tidak berani bertanya dan mengungkapkan pendapat. Siswa malu dan tidak berani mengungkapkan tentang materi yang belum dipahami saat proses pembelajaran. Kerja sama siswa rendah dan belum terlihat karena guru tidak pernah menggunakan model diskusi kelompok atau yang lainnya. Ketekunan siswa dalam pembelajaran ini juga terlihat masih sangat kurang terbukti dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru banyak siswa yang belum mengumpulkan. Hasil wawancara dengan siswa menyatakan bahwa siswa kurang commit tertarik to dengan user pembelajaran dan tidak berani

25 4 bertanya kepada guru karena takut salah, takut dimarahi dan ada yang sudah merasa cukup dengan yang dijelaskan guru. Kelima, ditinjau dari aspek motivasi belajar siswa. Motivasi belajar siswa dalam penelitian ini difokuskan pada motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi kelas rendah hal ini terlihat dari kurangnya semangat dalam belajar biologi, kurangnya ketekunan dan keuletan dalam mengerjakan tugas, serta kurangnya kemauan untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Siswa yang mengantuk saat pembelajaran berlangsung (16,66%), melamun dan tidak berkonsentrasi (27,7%). Minat yang rendah ditunjukkan dari (13,88%) siswa yang duduk dibagian belakang tidak memperhatikan penjelasan guru, berbicara dengan temannya diluar topik Pelajaran (11%), mengerjakan tugas Pelajaran lain (5,55%), dan melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan Pelajaran seperti menggambar. Hasil wawancara antara peneliti dengan siswa menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kurang antusias mengikuti Pelajaran biologi, saat pembelajaran biologi berlangsung sering tidak memperhatikan saat guru menyampaikan Pelajaran karena merasa bosan. Berdasarkan uraian di atas terlihat adanya kesenjangan antara pembelajaran biologi yang seharusnya dengan kondisi nyata di sekolah. Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan solusi penerapan pendekatan dengan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa lebih aktif dalam Pelajaran biologi, kreatif, menyenangkan, dapat mengembangkan kemampuan berpikir serta lebih mudah memahami materi yang pembelajaran. Guru diupayakan dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan, keadaan siswa sehingga siswa diberi kesempatan untuk berproses dalam pembelajaran. Pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan siswa (Sanjaya, 2008: 109). CTL memiliki 7 komponen meliputi konstruktivisme, menemukan (inquiry), bertanya

26 5 (questioning), masyarakat belajar (learning community), permodelan, refleksi, penilaian sebenarnya (authentic assessment). Keunggulan CTL mampu membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengkaitkan makna pada pembelajaranpembelajaran akademik. Ketika para siswa menemukan makna di dalam Pelajaran, siswa akan belajar dan ingat apa yang siswa pelajari. Siswa secara maksimal diberi kesempatan untuk aktif dalam proses pembelajaran (Johnson,2007). Pendekatan CTL akan efektif jika dipadukan dengan model yang tepat berbasis pemecahan masalah seperti model problem posing. Problem posing dari kata problem sebagai masalah dan pose sebagai mengajukan atau mengemukakan. Keunggulan model problem posing memungkinkan melatih siswa memperkuat dan memperkaya konsep konsep dasar biologi. Siswa melakukan proses pencarian pengetahuan buka sekedar transfer pengetahuan. Di sini siswa dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa menjadi lebih aktif sehingga pembelajaran dapat berpusat pada siswa, siswa tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan tetapi meningkatkan keterampilan berpikir. Pada model problem posing siswa diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi Pelajaran dengan memecahkan masalah. Selain keunggulan model problem posing juga memiliki kelemahan antara lain: 1). Siswa belum terbiasa memecahkan masalah sehingga perlu adanya pengarahan; 2). Memerlukan persiapan yang banyak Dengan demikian Pendekatan CTL dengan model problem posing jika dipadukan akan saling melengkapi sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran biologi yang meliputi 5 aspek (performance guru, sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran, iklim kelas, motivasi berprestasi dan fasilitas pembelajaran difokuskan pada kemanfaatannya), sekaligus dapat menjadi solusi terhadap permasalahan pembelajaran yang terjadi pada kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012.

27 6 Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu dilakukan penelitian dengan judul: Penerapan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) dengan Model Problem Posing untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X.2 SMA N 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang menjadi pokok penelitian dapat dirumuskan yaitu: apakah penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing dapat meningkatkan kualitas pembelajaran biologi, meliputi aspek performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, motivasi berprestasi dan kemanfaatan fasilitas pembelajaran di kelas X.2 SMA N 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran biologi yang ditinjau dari aspek performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, motivasi berprestasi dan kemanfaatan fasilitas pembelajaran di kelas X.2 SMA N 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 melalui penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing D. Manfaat Penelitian Penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa: a. Meningkatkan iklim kelas menjadi lebih kondusif melalui. b. Meningkatkan sikap ilmiah positif siswa terhadap pembelajaran biologi. c. Meningkatkan motivasi berprestasi dalam pembelajaran biologi. 2. Bagi guru: a. Memberikan masukan pada guru agar lebih memperhatikan masalahmasalah yang terjadi dalam pembelajaran sehingga dapat mengatasi

28 7 permasalahan pembelajaran dan meningkatkan kualitas pembelajaran biologi khususnya performance guru dalam kelas. b. Menambah wawasan pengetahuan dan kemampuan guru, khususnya yang berkaitan dengan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran biologi dan dapat menjadikannya sebagai alternatif model pembelajaran. c. Memberikan masukan pada guru untuk lebih memanfaatkan fasilitas pembelajaran yang ada di dalam kelas. 3. Bagi sekolah dan instansi pendidikan lainnya: a. Memberikan masukan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran biologi. b. Memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan.

29 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Belajar Dan Pembelajaran Biologi A. Belajar Biologi Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pandangan Skinner (Sagala 2009:14), belajar ditemukan hal-hal berikut: (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan sikap ilmiahs belajar; (2) sikap ilmiah pelajar; (3) konsekuensi yang bersifat menggunakan sikap ilmiah tersebut, baik konsekuensi sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman. Setiap memiliki cara dalam belajar atau bentuk belajar antara lain: belajar sikap ilmiah, belajar kontiguitas, belajar operant, belajar observasional, dan belajar kognitif. Kelima bentuk belajar tersebut semua baik hanya saja kita perlu mengetahui bentuk belajar yang mana yang sesuai dengan kita yang mempermudah dalam belajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri seseorang (Sudjana, 2010: 5). Dengan demikian belajar merupakan suatu proses yang benarbenar bersifat internal. Sains adalah ilmu tentang alam dan sains merupakan kumpulan tentang fakta, pengetahuan, dan informasi. Menurut Carin dan Evan (1990) sesuai hakikatnya sains mengandung empat hal yaitu: produk, proses, sikap, dan teknologi. Sains sebagai produk berarti bahwa dalam sains terdapat fakta-fakta, prinsip- prinsip, dan teori teori yang sudah diterima kebenarannya. Sains sebagai proses berarti bahwa sains merupakan suatu proses untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Sains sebagai sikap berarti bahwa dalam sains terkandung sikap tekun, terbuka, jujur, dan objektif. Sains sebagai teknologi berarti bahwa sains mempunyai keterkaitan dan digunakan dalam kehidupan sehari hari (Rustaman, dkk.,2005: 90). Sofan Amri, (2010;116) menyatakan bahwa biologi sebagai bagian dari sains menyediakan berbagai pengalaman commit to belajar user untuk memahami konsep-konsep 8

30 9 dan proses sains, sehingga pembelajaran biologi harus mengutamakan keterlibatan pengalaman langsung dan siswa dapat mengembangkan sejumlah keterampilan proses, seperti: melakukan observasi, menyusun hipotesis, menggunakan peralatan dan bahan-bahan secara tepat dan benar, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan hasil temuan. Biologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah biologi di alam sekitar melalui proses dan sikap ilmiah. Hal tersebut relevan dengan tujuan pembelajaran IPA (biologi) di SMA adalah untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berfikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri melalui proses inkuiri ilmiah (Permendiknas No. 22 Tahun 2006). Berkaitan dengan hal tersebut, maka belajar biologi dilakukan bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta fakta, konsep-konsep atau prinsip prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemukan (Astuti, 2009: 122). B. Pembelajaran biologi Pembelajaran adalah kegiatan guru menyampaikan ilmu pengetahuan atau bahan pelajaran pada siswanya (Sudjana, 2010: 7). Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas atau di sekolah karena diwarnai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan untuk membelajarkan peserta didik (Hamalik. 2003: 57). Pembelajaraan biologi pada dasarnya memiliki karakteristik keilmuan yang spesifik yang berbeda dengan ilmu lainnya. Menurut Carin (dalam Suciati, 2010: 238), pembelajaran biologi mengacu pada tiga aspek yaitu proses (handon), produk (minds-on) dan sikap ilmiah (heart-on). Pembelajaran biologi erat hubungannya dengan hal yang ada commit di lingkungan to user sehingga melibatkan siswa aktif

31 10 mendapatkan pengalaman tentang fenomena alam sekitarnya. Pembelajaran biologi di SMA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar lebih lanjut dalam menerapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran biologi mengacu pada pembelajaran IPA seperti yang tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP (2006), yaitu pembelajaran yang berorientasi pada hakikat IPA. Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa pembelajaran biologi lebih menekankan pada pendekatan ketrampilan proses. Pembelajaran biologi selama ini lebih banyak menghafalkan fakta, prinsip, dan teori saja untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi pembelajaran biologi yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan dan menerapkan ide-ide siswa. Pembelajaran biologi pada dasarnya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung dengan mengembangkan keterampilan proses sains agar peserta didik dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar secara mendalam. Penggunaan dan pengembangan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah dalam pembelajaran biologi bertujuan agar peserta didik mampu memahami konsep konsep dan mampu memecahkan masalah. Hal tersebut sesuai dengan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. 2. Teori-Teori Belajar A. Teori Belajar Konstruktivisme Teori kontruktivisme ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menstransformasikan secara kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar benar commit memahami to user dan menerapkan pengetahuan,

32 11 siswa harus bekerja memecahkan masalah dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya. Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dari psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya Nur (dalam Trianto, 2010:28). Menurut Suparno (dalam Thobronin dan Mustofa, 2011: ) paham konstruktivistik pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skema). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain karena setiap orang mempunyai skema sendiri-sendiri tentang apa yang diketahuinya. Adapun menurut Tran Vui, konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas pengalaman-pengalaman sendiri. Teori konstruktivisme adalah suatu teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan tersebut dengan fasilitas orang lain. Berdasarkan teori tersebut keterangan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori konstruktivisme memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahusan, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya. Produk sains khususnya biologi, diperoleh melalui keterampilan proses yang dimiliki peserta didik dan selanjutnya dapat mengembangkan sikap ilmiah. Oleh karena itu dalam pembelajaran biologi haruslah melalui aktivitas yang aktif, membangun pengetahuan sendiri sebagaimana yang dianjurkan dalam teori konstruktivisme. Implikasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran biologi adalah guru wajib memusatkan perhatiannya kepada proses berpikir, sampai menemukan suatu kesimpulan dan pengalaman belajar biologi peserta didik. B. Teori Belajar Bermakna David Ausubel Menurut Ausubel (Dahar 2006: 94) belajar dapat di klasifikasikan ke dalam dua dimensi yaitu dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi yang disajikan pada commit siswa to melalui user penerimaan atau penemuan.

33 12 Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengkaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Implementasi pandangan Ausubel dalam pembelajaran sains adalah bahwa peserta didik menghubungkan atau mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik tersebut yang diperolehnya dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Penerapan teori Ausubel dalam mengajar, konsep-konsep perlu diperhatikan. Konsep atau prinsip-prinsip itu ialah pengaturan awal, diferensiasi progresif, penyesuain integratif, dan belajar superordinat. Semua konsep ini akan dibahas dengan sedapat mungkin memberikan contoh penerapan dalam mengajar. Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yaitu suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitf seseorang. Walaupun kita mengetahui mekanisme biologi tentang memori atau disimpanya pengetahuan. Kita mengetahui bahwa informasi disimpan di derah daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan. C. Teori Pembelajaran Vygotsky Vygotsky berpendapat seperti Piaget, bahwa siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri melalui bahasa. Menurut Vygotsky bahwa proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan siswa atau daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan seseorang saat ini. Ide penting dari Vygotsky adalah pemberian bantuan kepada anak selama tahap-tahap awal perkembangannya dan mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah anak dapat melakukannya atau scaffolding (Trianto, 2007: 26). Vygotsky menemukan hal penting berkaitan dengan pembelajaran pada anak diantaranya adalah mengkonstruksi pengetahuan dan commit perkembangan to user kognitif terkait erat dengan

34 13 interaksi sosial yang dapat dihadirkan dalam bentuk kerja sama antar peserta didik. Implikasi pandangan Vygotsky dalam pembelajaran sains adalah pembentukan kelompok yang memungkinkan peserta didik dapat berinteraksi dalam pemecahan masalah. Melalui interaksi yang terjadi selama proses belajar, akan berpengaruh kepada keberhasilan peserta didik. Interaksi dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah menjadi pengalaman belajar yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. D. Teori Perkembangan Kognitif Piaget Keaktifan siswa menjadi unsur yang amat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Aktivitas mandiri adalah jaminan untuk mencapai hasil belajar yang optimal (Budiningsih, 2005:97). Menurut Piaget (Asmi, 2010), perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis dalam bentuk perkembangan sistem syaraf. Makin bertambah umur seseorang, makin komplek susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Kegiatan belajar terjadi sejalan dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang. Tingkat-tingkat perkembangan intelektual yaitu: 1). Sensorik-motor; 2). Pra-operasional; 3). Operasional konkret; 4). Operasional formal. Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi siswa (Trianto,2007: 14). E. Teori Bruner Belajar menurut Bruner adalah belajar penemuan (inkuiri). Peserta didik belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep dan prinsip, sedangkan guru mendorong peserta didik untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukan beberapa keunggulan. Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan commit yang to user dipelajari dengan cara lain. Kedua,

35 14 hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dari hasil belajar lainnya, dengan kata lain konsep dan prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berfikir secara bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih kemampuan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain. Implikasi pandangan Bruner dalam pembelajaran sains adalah peserta didik di dorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif, untuk mendapatkan pengalaman yang memungkinkan peserta didik menemukan pengalaman sendiri. Guru bertugas memberikan masalah kepada peserta didik yang dapat mendorongnya melakukan penemuan. Sains khususnya biologi diperoleh melalui proses penemuan dengan menerapkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah peserta didik. 3. Konsep Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) a. Pendekatan Kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan mengajar kontekstual dan pengetahuan. CTL merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja (Trianto, 2010:104). Materi pelajaran akan tambah berarti jika siswa mempelajari materi pelajaran yang disajikan melalui konteks kehidupan siswa, dan menemukan arti di dalam proses pembelajarannya, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Siswa akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, siswa menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru. Selanjutnya siswa memanfaatkan kembali pemahaman, pengetahuan, dan kemampuannya itu dalam berbagai konteks di luar

36 15 sekolah untuk menyelesaikan masalah dunia nyata yang kompleks, baik secara mandiri maupun dengan berbagai kombinasi dan struktur kelompok. Secara garis besar, langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut:1). Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan bertanya; 2).Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik; 3). Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya; 4). Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompokkelompok); 5). Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; 6). Melakukan refleksi di akhir pembelajaran; 6). Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara Pembelajaran kontekstual merupakan strategi sangat relevan dengan KTSP (2006), karena konsep pembelajaran kontekstual bertujuan terutama untuk mengembangkan pemikiran peserta didik. Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa, memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya. Selain itu merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Proses pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan yang membantu semua guru mempraktikkan dan mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi yang ada di lingkungan siswa dan menuntut siswa membuat hubungan beberapa pengetahuan yang pernah dialami siswa dengan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Melalui konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung commit to alamiah user dalam bentuk kegiatan karena

37 16 siswa mengalami bagaimana bekerja dan mengalami secara langsung, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa (Amri dan Khoiru, 2010: 21-25). b. Asas-Asas Contextual Teaching And Learning Pada dasarnya pembelajaran CTL mempunyai beberapa asas-asas. Ada tujuh asas pembelajaran yang mendasari pembelajaran CTL di kelas. Ketujuh asas itu adalah konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang autentik (Authentic Assessment) (Kesuma, dkk., 2010:62-68). Ada tujuh asas yang mendasari kontekstual. Sebuah kelas dapat dikatakan melakukan pembelajaran kontekstual jika menerapkan tujuh asas yang meliputi: 1. Kontruktivisme (Constructivisme) Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivis. Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah, menemukan hal-hal yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan gagasangagasan (Kesuma, dkk., 2010:62-63). Pendekatan CTL pada dasarnya menekankan pada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran konstruktivis adalah sebagai berikut: a). Membangun pemahaman siswa sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal; b). Pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan (Amri dan Khoiru, 2010:28). Pembelajaran melalui pendekatan CTL mendorong siswa agar dapat mengonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Menurut Sanjaya (2005: 118) pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang diberikan tidak akan menjadi pengetahuan bermakna jika tanpa melibatkan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, maka penerapan asas konstruktivisme

38 17 dalam pembelajaran melalui pendekatan CTL, siswa dimungkinkan untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata. 2. Menemukan (Inquiry) Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri (Sanjaya, 2005: 119). Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara baik intelektual, mental emosional maupun kepribadiannya. Konsep pembelajaran melalui kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori inquiry dilakukan baik secara individu maupun secara bersama-sama (Ekowati, 2005:35). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri, guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan yang menemukan. Apapun materi pembelajaran, Siklus inquiry terdiri dari: a). Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman; b). Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis; c). Observasi; d). Mengajukan dugaan; e). Bertanya; f). Mengumpulkan data; g) Menyimpulkan (Amri dan Khoiru, 2010: 29) 3. Bertanya (Questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan sesorang dalam berpikir (Kesuma, dkk., 2010:65). Bertanya merupakan strategi utama yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa, bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry (Amri dan Khoiru, 2010: 29). Di dalam proses pembelajaran commit to melalui user CTL, guru tidak menyampaikan

39 18 informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Peran bertanya sangat penting sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi. Belajar yang baik adalah bersifat sosial. Menurut Kesuma, dkk (dalam Meieer, 2002: 62) bimbingan belajar dari kawan adalah empat kali lebih efektif untuk meningkatkan prestasi di bidang matematika dan membaca, dibandingkan jika jumlah murid dalam kelas dikurangi atau waktu pengajaran diperpanjang dan jauh lebih efektif dibandingkan dengan instruksi individual dengan komputer. 4.Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok yang sudah tahu memberitahu pada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi (Sanjaya, 2005: ). 5. Pemodelan (Modeling) Asas pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa (Kesuma, dkk., 2010:67). Tujuan yang akan dicapai dalam permodelan adalah siswa untuk berkompetensi, sehingga dalam pembelajaran sifatnya inovasi (Ekowati, 2005: 35). Proses pemodelan tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model (Kesuma, dkk., 2010:67-68). Pemodelan merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modeling siswa dapat

40 19 terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme. 6. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya (Sanjaya, 2005: 122). Menurut Kesuma, dkk (2010: 68) refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Refleksi merupakan sikap ilmiah terhadap kejadian, aktivitas atau pengalaman yang baru diterima. Refleksi adalah salah satu pembeda pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional yang berbentuk cara-cara berpikir tentang sesuatu yang telah dipelajari siswa (Ekowati, 2005: 35). Di dalam proses berpikir, siswa dapat merevisi dan merefleksi sikap ilmiah, aktivitas dan pengalaman siswa. Siswa mencatat butir-butir materi yang telah dipelajari, siswa dilatih untuk mengenali ide-ide baru yang muncul. 7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment) Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sanjaya (2005: 122) bahwa dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Keberhasilan pembelajaran pada CTL tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek (Kesuma, dkk., 2010:69). Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi juga proses belajar melalui dunia nyata. Melalui pendekatan CTL, proses pembelajaran akan lebih konkret, realistis, aktual, nyata, dan lebih menyenangkan, serta lebih bermakna. Proses pembelajaran pendekatan CTL diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar (kualitas, kreatifitas, produktivitas, efesiensi, dan efektifitas). Hasil belajar meningkat, karena dalam CTL commit semua to panca user indera siswa diaktifkan dan

41 20 dimanfaatkan secara serentak dalam proses belajar mengajar melalui kegiatan pembelajarannya (Nurhasanah, 2009: 19). Secara garis besar langkah-langkah dalam penerapan CTL adalah sebagai berikut: 1) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; 2) Melaksanakan kegiatan inquiry sejauh mungkin; 3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya; 4) Menciptakan masyarakat belajar atau belajar dalam kelompok; 5) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; 6) Melakukan refleksi diakhir pertemuan; 7) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Nurhadi, 2005). c. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan CTL Pendekatan CTL memiliki keunggulan antara lain: 1) Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa lebih bermakna, karena diperoleh melalui kontruktivisme dan penemuan sendiri (inquiry); 2) Siswa dapat menjadi lebih efektif dalam pembelajaran; 3) Siswa melakukan kerja bukan menghafal; 4) Menjadikan siswa lebih kritis atau berani mengungkapkan pendapat. Selain keunggulan, CTL juga memiliki kelemahan antara lain : 1) Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melaksanakan seluruh asas-asas; 2) Memerlukan persiapan yang cukup banyak; 3) Pembelajaran kontekstual berpusat pada siswa, sehingga memungkinkan suasana kelas yang cukup gaduh dan ramai 4. Model Problem Posing Model mengajar yang baik adalah sesuai dengan tujuan pengajaran dalam situasi dan waktu berlangsungnya pelajaran, serta dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. a. Pengertian Model Problem Posing Model adalah suatu cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Model mengajar adalah cara yang digunakan pengajar dalam mengadakan hubungan dengan commit siswa to user pada saat berlangsungnya pengajaran

42 21 (Sudjana,2010:76). Dengan demikian model mengajar dapat juga diartikan sebagai teknik penyajian yang dapat dikuasai oleh pengajar untuk menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik agar pelajaran tersebut diterima dengan baik. Problem posing dalam pembelajaran mempunyai banyak arti. Arti yang sepadan dalam bahasa Indonesia untuk menunjukkan pengertian problem posing adalah mengajukan pertanyaan, merumuskan masalah atau membuat masalah. Problem posing adalah suatu prosedur pembelajaran dalam membahas suatu bahan pelajaran yang menekankan pada membuat soal terhadap situasi yang telah diberikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Pengertian model problem posing menurut Suryanto bahwa kata problem sebagai masalah atau soal sehingga pengajuan masalah di pandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah dari situasi yang di berikan. Sementara Silver mencatat bahwa istilah menanyakan soal biasanya diaplikasikan pada tiga bentuk kognitif yang berbeda, yaitu 1). Menanyakan per solusi: seseorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan; 2). Menanyakan di dalam solusi: seorang siswa merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan; 3). Menanyakan setelah solusi: seseorang siswa memodifikasi tujuan dan kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal baru. (Thobrani dan Mustofa 2011:343) b. Problem Posing dan Relevansi dalam Pembelajaran Pengajuan masalah berkaitan dengan kemampuan guru memotivasi siswa melalui perumusan situasi yang menantang sehingga siswa dapat mengajukan pertanyaan yang dapat diselesaikan dan berakibat kepada peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Pengajuan masalah menurut Brown dan Walter terdiri dari dua aspek penting, yaitu accepting dan challenging. Accepting berkaitan dengan sejauh mana siswa merasa tertantang dari situasi yang diberikan oleh guru. Sementara, challenging berkaitan dengan sejauh mana siswa merasa tertantang dari situasi yang diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah. Hal ini berarti bahwa pengajuan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan proses nalar siswa.

43 22 Dapat dikatakan bahwa pengajuan masalah pada problem posing merupakan reaksi siswa terhadap situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa sikap ilmiah dalam bentuk pertanyaan. c. Langkah Langkah Pembelajaran Model Problem Posing 1. Menurut Auerbach (dalam Thobrani dan Mustofa 2011:345) langkah langkah pembelajaran dalam problem posing yaitu Tabel 2.1 Langkah Langkah Model Problem Posing No Tahap Kegiatan guru Kegiatan siswa 1 Mengidentifikasi masalah Membimbing siswa 2 Menampilkan permasalahan 3 Membahas alternatif pemecahan masalah mengidentifikasi masalah pada situasi yang telah di berikan. Guru memberikan garis besar tentang bahan pelajaran serta membimbing siswa mengajukan pertanyaan. Guru membimbing siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah di buat 4 Mendiskusikan masalah Guru membimbing siswa untuk mendiskusikan masalah yang ada dengan teman kelompok. Mengdentifikasi masalah yang diberikan Siswa memperhatikan masalah yang diberikan dan membuat pertanyaan Membuat jawaban sementara (hipotesis) Berdiskusi dengan teman kelompok 5 Penerapan konsep pada Guru membimbing Memecahkan masalah situasi baru siswa untuk situasi baru memecahkan masalah baru dari pengalaman yang di dapatkan. 6 Mempresentasikan hasil Guru membimbing Mempresentasikan hasil siswa untuk diskusi mengkomunikasikan hasil di depan kelas Pembelajaran dengan menggunakan model problem posing, pada prinsipnya siswalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan siswa, bukannya guru atau orang lain.

44 23 D. Keunggulan dan Kelemahan Model Problem posing Menurut (Thobrani dan Mustofa 2011:349) keunggulan dari belajar dengan model problem posing adalah 1) Mendidik murid berikir kritis; 2) Siswa aktif dalam pembelajaran; 3) Belajar menganaliasa suatu masalah; 4) Siswa tidak hanya menerima saja materi dari guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri. Selain keunggulan model problem posing juga memiliki kelemahan antara lain: 1) Siswa belum terbiasa memecahkan masalah sehingga perlu adanya pengarahan; 2) Membutuhkan persiapan yang matang. 5. Kualitas Pembelajaran Kualitas pembelajaran membahas tentang bagaimana agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan luaran yang baik pula (Uno, 2010: 153) bahwa pembelajaran berkualitas diartikan sebagai pembelajaran yang secara sinergis mampu menghasilkan proses, hasil, dan dampak belajar yang optimal, yang memungkinkan terwujudnya better student learning capacity (Ditjen Dikti 2007: 188). Menurut Widoyoko (2008: 7-12) kualitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar keefektifan interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan pendapat tersebut kualitas pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu kondisi atau keadaan yang baik, yang mampu mendukung terjadinya interaksi dalam pembelajaran sehingga menghasilkan out-put yang baik. Menurut Widoyoko (2008: 7-12) kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh lima aspek yang meliputi aspek performance guru dalam kelas, fasilitas pembelajaran, iklim kelas, sikap siswa, dan motivasi berprestasi seperti tersaji yang dapat dilihat pada Gambar 2.1.

45 24 Performance guru dalam kelas Motivasi berprestasi siswa Kualitas pembelajaran Iklim kelas Sikap ilmiah siswa Fasilitas pembelajaran dalam kelas Gambar 2.1 Modifikasi Aspek Kualitas Pembelajaran (Widyoko, 2008: 12). Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (>75%) sesuai target peneliti disemua aspek kualitas pembelajaran yang meliputi: fasilitas pembelajaran, performance guru dikelas, iklim kelas, sikap ilmiah, motivasi berprestasi. a. Performance Guru dalam Kelas Aspek performance guru berupa kemampuan guru dalam menunjukkan keterampilan atau kompetensi pada waktu mengajar di kelas. Guru merupakan salah satu aktor utama dalam pembelajaran, memiliki peran yang sangat penting menentukan keberhasilan proses pembelajaran dan pendidikan itu sendiri. Menurut Dedi Supriadi (dalam Widoyoko, 2008) bahwa mutu pendidikan yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa dan kinerja guru. Pernyataan ini didukung oleh Darling et al (2000: 23), menyatakan bahwa dari hasil analisis secara kuantitatif, kualitas guru mempunyai korelasi positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa guru dengan performance yang baik akan menumbuhkan semangat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Di dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidik ditegaskan bahwa kompetensi yang harus dikuasai oleh guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Salah satu kesimpulan kompetensi pedagogik adalah keterampilan dasar mengajar yang juga berkaitan dengan kompetensi profesional. Menurut Nalole (2010: 815)

46 25 keterampilan dasar mengajar merupakan salah satu keterampilan yang menuntut latihan terprogram untuk dapat menguasainya. Keterampilan dasar mengajar seorang guru antara lain: 1) keterampilan membuka dan menutup pelajaran; 2) keterampilan menjelaskan; 3) keterampilan bertanya; 4) keterampilan memberi penguatan 5) keterampilan memberi variasi; 6) keterampilan membimbing diskusi kelompok diskusi kecil; 7) keterampilan mengajar kelompok kecil atau perorangan 8) keterampilan mengelola kelas. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan seorang guru mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif dan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Performance guru meliputi tiga hal yaitu: 1) perencanaan pembelajaran; 2) pelaksanaan pembelajaran/kegiatan belajar mengajar; 3) melakukan penilaian hasil pembelajaran. Performance guru dalam penelitian ini difokuskan pada performance guru saat pelaksanaan pembelajaran dalam kelas. Rumuskan indikator penilaian performance guru dalam kelas (teacher performance) yaitu sebagai berikut: 1) Kemampuan membuka pelajaran, meliputi dapat menarik perhatian siswa, memberikan motivasi awal, memberikan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan, memberikan acuan bahan belajar yang akan diberikan. 2) Sikap guru dalam proses pembelajaran, meliputi kejelasan artikulasi suara, variasi gerakan badan tidak mengganggu perhatian siswa, antusisme dalam penampilan, mobilitas posisi mengajar. 3) Penguasaan bahan belajar (materi pelajaran), meliputi bahan belajar disajikan sesuai dengan langkah-langkah yang direncanakan dalam RPP, kejelasan dalam menjelaskan bahan belajar (materi), kejelasan dalam memberikan contoh, memiliki wawasan yang luas dalam menyampaikan bahan belajar. 4) Kegiatan belajar mengajar (proses pembelajaran), meliputi kesesuaian model dengan bahan belajar yang disampaikan, penyajian bahan belajaran sesuai dengan tujuan/indikator yang telah ditetapkan, memiliki keterampilan dalam menanggapi dan pertanyaan siswa, ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu yang disediakan.

47 26 5) Kemampuan menggunakan media pembelajaran, meliputi memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media, ketepatan penggunaan media dengan materi yang disampaikan, memiliki keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran, membantu meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran 6) Evaluasi pembelajaran, meliputi penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan, menggunakan bentuk dan jenis ragam penilaian, penilaian yang diberikan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 7) Kemampuan menutup kegiatan pembelajaran, meliputi meninjau kembali materi yang telah diberikan, memberi kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan,memberikan kesimpulan kegiatan pembelajaran 8) Tindak Lanjut/Follow up, meliputi memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok, menginformasikan materi/bahan belajar yang akan dipelajari berikunya, memberikan motivasi untuk selalu terus belajar. b. Fasilitas Pembelajaran Di dalam Undang-Undang RI, No. 20 Tahun 2003, Bab XII, Pasal 45, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosinal, dan kejiwaan peserta didik. Fasilitas pembelajaran dapat disebut juga dengan lingkungan fisik kelas (the physical environtment). Lingkungan fisik kelas atau fasilitas pembelajaran memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap belajar siswa dan performance guru. Fasilitas pembelajaran yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran adalah ukuran kelas, luas ruang kelas, suhu udara, cahaya, suara, dan media pembelajaran (Widoyoko, 2008: 9). Sementara dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah (SMA/MA) dinyatakan bahwa sebuah SMA sekurang-kurangnya memiliki prasarana commit to sebagai user berikut: ruang kelas, ruang

48 27 perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, ruang tata usaha, ruang ibadah, ruang konseling, ruang unit kesehatan sekolah (UKS), ruang organisasi kesiswaan, jamban, gudang, ruang sirkulasi, dan tempat bermain/ berolahraga. Fasilitas pembelajaran bisa dilihat dari segi ukuran ruang kelas, kebersihan, penerangan, suhu serta kerapian tata ruang, didukung dengan sumber dan media pembelajaran yang memadai akan mempunyai pengaruh terhadap: performance guru dalam kelas, sikap ilmiah dan motivasi berprestasi, untuk aspek fasilitas pembelajaran lebih difokuskan pada kemanfaatan. Ketersediaan fasilitas termasuk media pembelajaran tanpa adanya kemanfatan atau utilitas yang maksimal tidak banyak berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran. c. Sikap Ilmiah Siswa Sikap ilmiah merupakan sikap yang diharapkan muncul pada saat dan setelah melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran biologi. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa sikap adalah perilaku, gerak-gerik. Sementara dalam Djaali (2009: 115) sikap belajar adalah kecenderungan perilaku seseorang untuk mempelajari hal-hal yang bersifat akademik. Perilaku/ sikap siswa yang berkualitas dapat dilihat antara lain adanya persepsi dan sikap positif terhadap belajar, mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikapnya, mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan keterampilan serta memantapkan sikapnya, mau dan mampu menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya secara bermakna, mau dan mampu membangun kebiasaan berpikir, bersikap dan bekerja produktif (Dikti, 2007: 8). Menurut Widoyoko (2008: 209) pengertian sikap siswa merupakan derajat afeksi positif atau negatif siswa terhadap pembelajaran, khususnya materi yang dapat diukur melalui pengetahuan atau pemahaman, perasaan dan kecenderungan terhadap mata pelajaran, materi maupun guru yang diukur melalui skala sikap. Sikap ilmiah menurut Andari (2011:24) merupakan bentuk sikap positif yang biasa dikaitkan dengan keilmuan, sehingga sikap ilmiah dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku yang bersifat keilmuan commit terhadap to user stimulus tertentu. Sikap ilmiah

49 28 dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran sains pada saat siswa melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek lapangan. Sikap ilmiah diyakini dapat melatih atau menanamkan sikap dan nilai positif dalam diri siswa, jujur, dapat bekerja sama, teliti, tekun, dan toleran merupakan sikap dan nilai yang terbentuk melalui pembelajaran sain. Badan Penelitian dan Pengembangan Depdikas (2003: 17), menyatakan indikator sikap ilmiah yang terintegrasi dalam pembelajaran biologi meliputi: 1) membedakan fakta dan opini; 2) berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan berargumentasi; 3) rasa ingin tahu; 4) peduli terhadap lingkungan; 5) berpendapat secara ilmiah dan kritis; 6) berani mengusulkan perbaikan atas suatu kondisi dan bertanggung jawab terhadap usulannya; 7) bekerja sama; 8) jujur; 9) tekun dan tidak mudah menyerah. Pada suatu kegiatan pembelajaran tidak semua indikator tersebut harus dilakukan, guru dapat memilih sesuai dengan kebutuhan ketersediaan alat/bahan, kemampuan siswa, alokasi waktu serta kemampuan guru. d. Iklim Kelas Iklim pembelajaran menurut Dikti (2007: 8) meliputi suasana kelas yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan pembelajaran yang menarik, menantang, menyenangkan, dan bermakna, perwujudan nilai dan semangat ketauladanan, prakarsa, dan kreatifitas guru. Iklim kelas merupakan segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antarpeserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses pembelajaran (Tarmidi, 2006: 2). Menurut Freiberg dan Stein (dalam Daniel Muijs 2008: 165) iklim kelas adalah sebuah konsep yang luas yang mencakup suasana perasaan atau atmosfer yang diciptakan oleh guru kelas melalui aturanaturan yang ditetapkan, cara guru berinteraksi dengan murid, dan bagaimana lingkungan fisik dikelola. Sementara menurut Widoyoko (2009: 209) iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan siswa atau hubungan antar siswa dan mempengaruhi proses pembelajaran. Penilaian iklim kelas menggunakan empat indikator yaitu: 1) Kekompakan siswa (student cohensiveness) dalam kelas; 2) Keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran

50 29 (student involvement), 3) Kepuasan siswa (student satisfaction) selama mengikuti pembelajaran; 4) Dukungan guru (teacher support) dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi antara guru dan siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubungan timbal balik atau hubungan dua arah antara siswa dan guru maupun siswa dengan siswa dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar. Hal ini dapat dilihat dalam tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa, bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara individual maupun secara kelompok, senantiasa keberadaan guru dalam kegiatan belajar-mengajar sebagai fasilitator belajar, guru memberi jalan keluar ketika siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya, adanya umpan balik terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa (Nana Sudjana, 2010: 61) Berdasarkan uraian di atas, maka iklim kelas yang kondusif perlu diciptakan oleh guru maupun siswa dengan membangun suasana kelas yang menyenangkan untuk proses dan kegiatan pembelajaran, sehingga perhatian peserta didik dapat terpusat pada pelajaran. Kelas yang menyenangkan di sini dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang mampu membuat siswa merasa senang dan tidak bosan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian iklim di dalam kelas akan kondusif dan mendukung kegiatan pembelajaran. e. Motivasi berprestasi Mc. Donald (dalam Oemar Hamalik, 2003, 158) menyatakan : Motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurut Djaali (2009: 101) motivasi merupakan kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan). Martinis min (2006: 85) mengemukakan jenis motivasi belajar dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik yakni jenis motivasi yang timbul sebagai akibat dari dalam individu sendiri tanpa adanya paksaan atau dorongan orang lain tetapi atas kemauannya sendiri dan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari commit luar to individu, user karena ada ajakan, suruhan,

51 30 atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah adanya perubahan energi yang terjadi dalam diri seseorang sebagai penggerak dan pengarah yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku, sehingga motivasi merupakan sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas belajar. Motivasi belajar siswa yang berkaitan erat dengan kualitas pembelajaran dalam kelas difokuskan pada motivasi berprestasi yang diartikan sebagai dorongan dalam diri siswa untuk belajar, mengerjakan tugas-tugas, memecahkan masalah maupun mempelajari kompetensi tertentu dalam mata pelajaran biologi dengan sebaik-baiknya berdasarkan standar keunggulan. Hal ini sesuai dengan pendapat Djaali (2009: 109) yang menyatakan bahwa motivasi berprestasi dapat diartikan dorongan untuk mengerjakan tugas dengan sebaikbaiknya dengan mengacu kepada standar keunggulan. Widoyoko (2009: 211) merumuskan indikator motivasi berprestasi yang dibedakan berdasarkan aspek ciri-ciri motivasi berprestasi, yaitu: 1) berorientasi pada keberhasilan, dengan indikator: sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi, kegiatan-kegiatan untuk mencapai prestasi unggul; 2) antisipasi kegagalan, dengan indikator: cermat menentukan target prestasi, usaha menanggulangi berbagai penghambat pencapaian keberhasilan; 3) inovatif, dengan indikator: menemukan sesuatu cara yang lebih singkat dan lebih mudah, menyukai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar; 4) tanggung jawab, dengan indikator: kesempurnaan penyelesaian tugas; percaya diri dan tangguh dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran berdasarkan masalah juga meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan terbuka dengan banyak alternatif jawaban benar. Pendekatan CTL yang dipadukan dengan problem posing diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran biologi yang mana dengan pembelajaran kontektual dengan adanya pemecahan masalah yang akan mengasah kemampuan berpikir siswa. Siswa dituntut memecahkan masalah, menganalisis permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. commit Proses to user pembelajaran akan lebih bermakna

52 31 dengan siswa menemukan jawabannya sendiri. Perpaduan antara pendekatan CTL dengan model problem posing proses pembelajaran alamiah dengan menggali pengetahuan dan apa yang dipelajari dengan mengaitkan permasalahan dengan kehidupan sehari-hari dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran biologi. B. KERANGKA BERPIKIR Pembelajaran biologi yang baik adalah pembelajaran yang mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar yakni menggunakan kegiatan siswa secara efektif di dalam pembelajaran yang idealnya mengacu pada hakikat biologi sebagai sains (proses, produk dan sikap ilmiah). Siswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai dan memahami materi tetapi juga menyelesaikan masalah yang sesuai dengan konsep pembelajaran yang sedang dipelajari. Siswa di dalam proses pembelajaran berperan sebagai subjek dan objek sedangkan guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Salah satu permasalahan dalam pembelajaran biologi adalah proses pembelajaran yang menekankan pada faktor menghapal dan masih berpusat pada guru (teacher centered) dan siswa kurang dilibatkan dalam proses tersebut. Akibatnya siswa menjadi kurang aktif, kurang termotivasi mengikuti pelajaran dan pada akhirnya menyebabkan kualitas pembelajaran yang berlangsung menjadi kurang efektif. Kualitas pembelajaran yang dimaksud meliputi performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran dan motivasi berprestasi yang juga didukung oleh kemanfaatan fasilitas pembelajaran yang ada di dalam kelas. Permasalahan pembelajaran tersebut harus segera diperbaiki oleh guru dengan memilih model yang tepat yang dapat membuat siswa lebih aktif, kreatif dan mengembangkan kemampuan berpikir siswa untuk mengolah informasi, senang serta lebih mudah memahami materi yang disampaikan sehingga kualitas proses pembelajaran siswa pun meningkat. Guru diupayakan dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan dan keadaan Salah satu alternatif pendekatan commit yang to user sesuai untuk permasalahan tersebut

53 32 adalah Contextual Teaching And Learning (CTL) yang memiliki tujuh asas yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian nyata. Pendekatan tersebut akan lebih optimal apabila di padukan dengan model problem posing suatu penyajian materi pelajaran dengan menghadapkan siswa kepada persoalan yang harus dipecahkan atau diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pembelajaran ini, siswa diharuskan melakukan penyelidikan otentik untuk mencari penyelesaian terhadap masalah yang diberikan. Siswa menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis mengumpulkan dan menganalisis informasi, penerapan pada konsep baru membuat referensi dan merumuskan kesimpulan. Siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang siswa hadapi dalam situasi dan masalah yang memang ada dalam keseharian siswa. Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila target peneliti telah tercapai. Peneliti memiliki target pencapaian seluruh aspek setidak-tidaknya dari >75% meliputi performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah, motivasi prestasi, fasilitas pembelajaran. Perpaduan antara pendekatan CTL dengan model problem posing merupakan proses pembelajaran alamiah dengan menggali pengetahuan dan apa yang dipelajari dengan mengaitkan permasalahan dengan kehidupan sehari-hari dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran biologi. Adapun alur dari kerangka pemikiran disajikan dalam Gambar 2.2

54 33 Idealnya pembelajaran 1. Berpusat pada siswa Menggunakan metode yang membangun siswa aktif Penilaian kognitif, afektif, psikomotor. 2. Pemanfaatan fasilitas secara optimal dapat menunjang proses pembelajaran 3. Iklim kelas kondusif Adanya interaksi guru dan siswa Adanya interaksi siswa dengan siswa 4. Sikap ilmiah siswa : Siswa aktif dalam pembelajaran Berani mengemukakan pendapat Bekerja sama 5. Motivasi dapat mendorong siswa: Memiliki semangat dalam belajar Tekun dalam mengikuti pembelajaran (Sesuai Hakikat Sain) Pembelajaran di kelas 1 Berpusat pada guru Guru menggunakan metode ceramah Guru menilai siswa berdasarkan tes 2. Kurang mengoptimalkan fasilitas pembelajaran 3. Iklim kelas belum kondusif Belum terlihat adanya interaksi guru dengan siswa (siswa diam,tidak bertanya). Interaksi siswa dengan siswa belum optimal 4. Sikap siswa di kelas: Siswa sekedar mendengar dan mencatat Siswa tidak mau mengemukakan pendapat Belum terlihat adanya kerjasama 5. Motivasi rendah terlihat: Banyak siswa yang mengantuk Siswa berbicara dengan teman dengan pembahasan lain Melamun dan tidak memperhatikan guru Mengerjakan pekerjaan selain biologi Masalah dalam pembelajaran Performance guru kurang Iklim kelas kurang kondusif Sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran (terkait dengan sikap ilmiah) masih kurang Motivasi berprestasi Kemanfaatan fasilitas kurang dioptimalkan CTL 1) siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan, 2) Siswa dapat menjadi lebih efektif dalam pembelajaran, 3) Siswa melakukan kerja bukan menghafal, 4) Menjadikan siswa lebih kritis atau berani mengungkapkan pendapat. Problem posing 1) mendidik murit berikir kritis, 2) siswa aktif dalam pembelajaran, 3) belajar menganaliasa suatu masalah, 4) siswa tidak hanya menerima saja materi dari guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri. Solusi Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Dengan Model Problem Posing Performance guru dalam kelas : Memberikan variasi model pembelajaran, meningkatkan kemampuan guru dalam menunjukkan keterampilan dan kompetensinya dalam mengajar dikelas. Iklim kelas Interaksi guru dan siswa meningkat, interaksi antar siswa juga meningkat pembelajaran dalam kelas kondusif. Adanya interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Sikap ilmiah siswa mengatasi kebosanan, menarik perhatian, mengembangkan kemampuan berpikir dan sikap ilmiah siswa karena menekankan partisipasi aktif siswa. Motivasi berprestasi Minat dan perhatian siswa meningkat, menekankan adanya partisipasi siswa dalam melakukan observasi pengamatan, memecahkan permasalahan. Fasilitas pembelajaran dalam kelas Mengoptimalkan kemanfaatan fasilitas pembelajaran yang tersedia didalam kelas dan laboratorium biologi. TARGET Kualitas pembelajaran biologi meningkat >75% Gambar 2.2 Skema Kerangka Berpikir

55 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Karanganyar yang beralamat di Jalan Ronggowarsito, Bejen, Karanganyar. Lokasi sekolah cukup strategis namun letak ruang-ruang kelasnya cukup jauh dari jalan sehingga mendukung untuk kegiatan pembelajaran. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan bulan April-Mei pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012, Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirancang dalam tiga Siklus. Masing-masing Siklus meliputi tiga tahap sebagai berikut: a. Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan guru kelas, observasi, identifikasi masalah, penentuan tindakan, pengajuan judul skripsi, penyusunan proposal, penyusunan instrumen penelitian berupa Silabus, Rancangan Pelaksanaan pembelajaran (RPP), angket, lembar observasi, dan pedoman wawancara, seminar proposal, dan pengajuan perijinan penelitian. b. Tahap Penelitian Tahap penelitian meliputi kegiatan yang berlangsung di lapangan yaitu pengajuan izin penelitian, penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing, pengambilan data, dan analisa data. c. Tahap Penyelesaian Tahap penyelesaian meliputi kegiatan pembuatan laporan. Perincian tahap penyelesaian seperti yang tersaji pada Gambar

56 No Rencana Kegiatan Persiapan Penelitian a. Koordinasi peneliti dengan kepala sekolah dan guru biologi b. Observasi Kelas c. Diskusi identifikasi masalah pembelajaran dengan guru d. Penentuan Tindakan e. Pengajuan Judul f. Penyusunan Proposal penelitian g. Pembuatan perangakat pembelajaran dan instrumen penelitian h. Pengajuan Izin Penelitian i. Seminar Proposal 2 Pelaksanaan a. Siklus I - Perencanaan - Pelaksanaan tindakan - Observasi - refleksi b. Siklus II - perencanaan - pelaksanaan tindakan - observasi - refleksi c. Siklus III - perencanaan - pelaksanaan tindakan - observasi - refleksi 3 Analisis Data dan Pelaporan

57 36 a. Analisis data (hasil tindakan Siklus III) b. Menyusun laporan/skripsi c. Ujian dan revisi d. Penggandaan dan pengumpulan laporan Gambar 3.1 Jadwal Penelitian Tindakan Kelas meliputi Tahap Persiapan Penelitian, Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Tahap Analisis Data dan Pelaporan. B. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah kelas X.2 semester genap SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 36 siswa. C. Data dan Sumber Data 1. Data Penelitian Data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian adalah gambaran keadaan proses pembelajaran yang sebenarnya (deskripsi kualitatif). Aspek kualitatif penelitian adalah kualitas pembelajaran biologi siswa yang meliputi fasilitas pembelajaran,sikap ilmiah, iklim kelas, motivasi belajar dan performance guru. 2. Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi informasi tentang keadaan siswa dilihat dari aspek kualitatif. Aspek kualitatif yaitu berupa data yang diperoleh dari lapangan tentang pelaksanaan pembelajaran untuk melengkapi data pengamatan yang berupa silabus dan RPP. Data yang diperoleh dari lapangan tersebut merupakan hasil observasi baik berupa angket, lembar observasi, maupun wawancara dengan guru dan siswa. Ada tiga sumber data penting yang dijadikan sebagai sasaran penggalian dan pengumpulan data serta informasi dalam penelitian ini. Sumber data tersebut meliputi:

58 37 a. Tempat dan peristiwa, yang berupa catatan observasi dan lembar observasi peneliti mengenai berbagai kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar yang dialami oleh siswa selama penelitian. b. Informan, dalam penelitian ini adalah guru biologi kelas X.2 dan siswa kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar c. Dokumen, meliputi foto kegiatan pembelajaran yang terjadi, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru dan peneliti, buku teks pelajaran, laporan penilaian hasil belajar, hasil angket yang diisi oleh siswa, serta hasil wawancara yang dilakukan kepada siswa maupun guru biologi. D. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi teknik tes dengan soal dan teknik non tes dengan pengamatan/ observasi, wawancara, dan angket yang masing-masing secara singkat diuraikan sebagai berikut 1. Teknik Non Tes, meliputi: a. Metode Observasi Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi dilakukan menggunakan lembar observasi untuk menilai Iklim kelas, sikap ilmiah siswa, motivasi belajar, performance guru, fasilitas, serta keterlaksanaan sintak pendekatan CTL dengan model problem posing. Observasi dilakukan oleh dua observer dan guru karena untuk menghindari adanya subyektivitas b. Metode Angket Angket disusun dan diberikan kepada siswa untuk mengetahui berbagai aspek yang terkait dengan kualitas membelajaran. Sehingga dapat diketahui ada tidaknya peningkatan terhadap aspek-aspek iklim, sikap ilmiah siswa, motivasi dalam proses pembelajaran biologi pada pokok bahasan pencemaran lingkungan. Angket yang digunakan berupa angket langsung dan sekaligus memberikan alternatif jawaban. commit Angket to user yang digunakan dalam penelitian

59 38 mengacu pada Likert. Menurut Djemari Mardapi (2008: ) skala Likert memiliki 4 alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skor untuk pernyataan positif dan negatif adalah kebalikanya. Tabel 3.1 Teknik Penilaian Angket Skala Likert Skor Skor untuk aspek yang dinilai (+) ( - ) Sangat Setuju (SS) 4 1 Setuju (S) 3 2 Tidak Setuju (TS) 2 3 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4 c. Wawancara, Wawancara digunakan untuk mengetahui sikap ilmiah siswa dan guru terhadap pembelajaran biologi dengan pendekatan CTL dengan model problem posing pada materi pencemaran lingkungan. Wawancara dilakukan setelah akhir Siklus yang dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Di dalam kegiatan wawancara atau diskusi adalah, peneliti melakukan beberapa hal sebagai berikut: a) Meminta pendapat dari guru dan siswa mengenai pelaksanaan proses pembelajaran di kelas yang meliputi kelebihan, kekurangan, dan hambatan yang terjadi di kelas; b) Mengungkapkan hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di kelas; c) Mendiskusikan hal-hal yang ditemukan selama observasi dengan guru, kemudian secara bersama menyamakan persepsi, sehingga apabila ada kekurangan dapat diperbaiki pada Siklus berikutnya. d. Dokumentasi Dokumentasi ini meliputi kajian berbagai arsip dalam proses pembelajaran seperti silabus, commit presensi to siswa, user buku ajar yang digunakan, dan

60 39 foto dan rekaman saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Alat dokumentasi yang dapat digunakan antara lain alat tulis, kamera, handycam, tape recorder, dan sebagainya. 2. Teknik Tes Tes ini bertujuan untuk mengetahui implikasi dari tindakan yang telah dilakukan terhadap tingkat penguasaan konsep pada pencemaran lingkungan. Tes dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu : tes kemampuan awal untuk mengetahui penguasaan konsep awal materi Pencemaran lingkungan, tes akhir Siklus I untuk mengetahui capaian penguasaan konsep materi pencemaran udara, tes akhir Siklus II untuk mengetahui capaian penguasaan konsep materi pencemaran tanah, dan tes kemampuan akhir untuk mengetahui kemampuan penguasaan konsep keseluruaan materi pencemaran lingkungan. berikut. Teknik pengumpulan data, secara rinci disajikan pada tabel 3.2 sebagai Tabel 3.2 Teknik Pengumpulan Data Variabel Sub variable Jenis data Sumber data Pendekatan CTL dengan model problem posing Instruments - Kategorik Guru lembar observasi, wawancara - Kategorik Siswa lembar observasi, wawancara Kualitas pembelajaran biologi iklim kelas Kategorik Guru, siswa lembar observasi, angket, wawancara sikap siswa ilmiah kategorik Siswa lembar observasi, angket, wawancara motivasi belajar Kategorik Siswa lembar observasi, angket, wawancara performance commit Kategorik to user Siswa, guru lembar

61 40 guru observasi fasilitas pembelajaran Kategorik Sekolah (kelas, laboratorium biologi) lembar observasi E. Validitas Data Teknik yang digunakan untuk menjaga kevalidan data dalam penelitian digunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002: 178). Triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi model untuk sub variabel iklim kelas, sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran dan motivasi belajar siswa. Jenis triangulasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau model pengumpulan data yang berbeda, dan mengarah pada sumber data yang sama untuk menguji kebenaran informasinya. Di dalam penelitian ini, digunakan teknik atau motode pengumpulan data yang berupa wawancara, observasi selama proses pembelajaran berlangsung dan angket. Skema triangulasi motode disajikan pada Gambar 3.1 (H. B.Sutopo, 2002: 81). Angket Data Wawancara Siswa Observasi Gambar 3.1 Skema Triangulasi Metode Penelitian Sub variabel performance guru dalam kelas dan fasilitas pembelajaran dalam kelas menggunakan triangulasi observer, yaitu dilakukan dengan

62 41 mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan beberapa observer yang berbeda, dan mengarah pada sumber data yang sama untuk menguji kebenaran informasinya. Skema triangulasi observer disajikan pada Gambar 3.2 (H. B.Sutopo, 2002: 80). Observer 1 Data Observasi Observer 2 Observer 3 Gambar 3.2. Skema Triangulasi Observer Penelitian F. Analisis Data Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipakai di sini, yaitu Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), maka teknik analisis data yang relevan dan yang diterapkan adalah teknik analisis deskriptif, yang mana berupa kalimat yamg memberi gambaran tentang keadaan pembelajaran (Arikunto, Suhardjono & Supardi, 2011: 131). Analisis data dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan yaitu, meningkatkan kualitas pembelajaran biologi meliputi: aspek performance guru, sikap ilmiah siswa, iklim kelas, motivasi perprestasi dan kemanfaatan fasilitas pendukung pembelajaran. G. Prosedur Penelitian Prosedur atau langkah-langkah penelitian yang digunakan mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Robin MC Taggart dalam Basrowi (2008: 68) yang berupa model spiral. Langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting)

63 42 SIKLUS I Prosedur atau langkah-langkah penelitian pada Siklus I dapat diuraikan secara rinci sebagai berikut: a. Tahap perencanaan Berdasarkan hasil identifikasi masalah dari kegiatan observasi yang telah dilakukan sebelumnya, alternatif pemecahan masalah yang diajukan adalah dengan menerapkan pendekatan CTL dengan model problem posing untuk meningkatkan kualitas pembelajaran biologi pada pokok bahasan pencemaran lingkungan. Pada tahap ini dilakukan penyusunan skenario pembelajaran penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing, termasuk menyusun silabus pembelajaran, menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) Siklus I, menyiapkan lembar kerja siswa (LKS), membuat soal test hasil belajar Siklus I, menyiapkan alat/bahan/sumber belajar yang diperlukan pada Siklus I, menyiapkan media pembelajaran (gambar,serta alat alat percobaan). Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari angket, lembar observasi dan pedoman wawancara motivasi belajar siswa, sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran, dan iklim kelas; lembar observasi performance guru dalam kelas dan fasilitas pembelajaran dalam kelas; lembar observasi dan pedoman wawancara keterlaksanaan pembelajaran pendekatan CTL dengan model problem posing untuk siswa dan guru. b. Tahap pelaksanaan Penerapan pendekatan CTL dengan model problem posing, dimana siswa dibagi dalam kelompok-kelompok, siswa diberi permasalahan dalam bentuk wacana, gambar, slide tentang pencemaran lingkungan, menuliskan perumusan masalah berupa pertanyaan yang di dapat dari wacana serta gambar, menuliskan jawaban sementara sebagai hipotesis, pelakukan percobaan sebagai pembuktian hipotesis,melakukan presentasi, melakukan diskusi kelas saling tukar pendapat antar siswa, guru membimbing siswa, memberi tanggapan, komentar, melakukan pemecahan masalah baru, kemudian siswa menarik kesimpulan. Guru memberikan penguatan tentang materi yang telah disampaikan. Langkah-langkah pembelajaran tersebut disusun secara commit sistematis to user seperti yang tersaji dalam RPP.

64 43 c. Tahap pengamatan dan evaluasi Tahap pengamatan dan evaluasi dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan angket dan lembar observasi serta dokumentasi kegiatan pembelajaran di kelas. Pengamatan dilakukan oleh guru dan dibantu oleh 3 orang observer selama pelaksanaan tindakan. Hal yang menjadi fokus pengamatan adalah pelaksanaan pendekatan CTL dengan model problem posing serta sikap ilmiah. Kualitas pembelajaran di dalam kelas yang meliputi kelima aspek, yaitu performance guru dalam kelas, fasilitas pembelajaran dalam kelas, iklim pembelajaran, sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran dan motivasi belajar siswa. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan atau kelebihan-kelebihan dari pelaksanaan tindakan yang akan digunakan sebagai acuan dalam tindakan berikutnya. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi untuk perencanaan pada Siklus II. Semua data hasil observasi dimasukkan dalam lembar observasi yang telah disusun oleh peneliti. d. Tahap refleksi Refleksi dilakukan oleh guru dan peneliti pada akhir Siklus I. Hasil refleksi menjadi acuan dan penyempurnaan tindakan pada Siklus II. Tahap ini meliputi kegiatan menganalisis hasil observasi tentang kualitas pembelajaran pada Siklus satu. Apabila kualitas pembelajaran biologi meningkat, maka pembelajaran dikatakan meningkat. Namun, apabila kualitas pembelajaran biologi belum meningkat maka perlu dilakukan evaluasi untuk perbaikan pada tindakan kelas selanjutnya. Tahap refleksi dilakukan guru dan peneliti untuk menganalisis proses, hambatan, kelebihan dan kekurangan dari tindakan yang dilaksanakan pada Siklus I sehingga tidak terjadi kesalahan yang terulang pada Siklus II dan selanjutnya.

65 44 SIKLUS II dan SIKLUS III Pada dasarnya langkah-langkah penelitian pada Siklus II dan Siklus III tidak berbeda dengan Siklus I. Tetapi secara rinci, perencanaan pembelajaran pada Siklus II berdasarkan hasil refleksi Siklus I, dan perencanaan pembelajaran pada Siklus III berdasarkan hasil refleksi Siklus II. Kegiatan pembelajaran pada Siklus II dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan sebanyak 2 x 45 yaitu pada tanggal 10 Mei 2012 dan kegiatan pembelajaran pada Siklus III dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan sebanyak 2 x 45 yaitu pada tanggal 30 Mei Adapun skema prosedur penelitian tindakan kelas disajikan pada Gambar 3.3

66 45 1.b. Pelaksanaan & Observasi Penerapan kegiatan pembelajaran yang telah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pendekatan CTL dengan model problem posing Pengamatan terhadap kelima aspek kualitas pembelajaran Biologi dan keterlaksanaan pendekatan CTL dengan model problem posing menggunakan lembar observasi 1.c. Pengambilan data Pengambilan data yang diperoleh melalui observasi, angket, wawancara, hasil tes dan dokumentasi. 1.d. Refleksi Menganalisis kekurangan yang masih terdapat pada rancangan pendekatan CTL dengan model problem posing; Menganalisis peningkatan kualitas pembelajaran di kelas yang meliputi kelima aspek; Mendiskusikan perencanaan model selanjutnya. Reflect Act & Observe Plan 1.a. Perencanaan Penyusunan instrumen pembelajaran berupa: Silabus, RPP, LKS, soal tes, media pembelajaran (gambar, video, charta, daftar nama tumbuhan yang dibawa) untuk siklus 1 2.d. Refleksi Menganalisis kekurangan yang masih terdapat pada rancangan pendekatan CTL dengan model problem posing; Menganalisis peningkatan kualitas pembelajaran di kelas yang meliputi kelima aspek; Mendiskusikan perencanaan model selanjutnya. Reflect Revised Pla n 2.a. (Perbaikan) Perencanaan Memperbaiki perencanaan berdasarkan refleksi siklus I Penyusunan instrumen pembelajaran berupa: Silabus, RPP, LKS, soal tes, media pembelajaran (gambar, video, charta, daftar nama tumbuhan yang dibawa) untuk siklus II 2..b. Pelaksanaan & Observasi Penerapan kegiatan pembelajaran yang telah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan pendekatan CTL dengan model problem posing Pengamatan terhadap kelima aspek kualitas pembelajaran Biologi dan pendekatan CTL dengan model problem posing menggunakan lembar observasi 2.c. Pengambilan data Pengambilan data yang diperoleh melalui observasi, angket, wawancara, hasil tes dan dokumentasi. Act & Observe Reflect Act & Observe Revised Pla n 3.a. (Perbaikan) Perencanaan Memperbaiki perencanaan berdasarkan refleksi siklus I Penyusunan instrumen pembelajaran berupa: Silabus, RPP, LKS, soal tes, media pembelajaran (gambar, video, charta, daftar nama tumbuhan yang dibawa) untuk siklus II Target tercapai Peningkatan iklim kelas, sikap ilmiah, performance guru dalam kelas, motivasi berprestasi, kemanfaatan fasilitas sebagai aspek kualitas pembelajaran >75% Siklus pembelajaran dihentikan Gambar 3.6 Skema Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (Model Pengembangan Kemmis dan Mc. Taggrat dalam Basrowi, 2008: 68)

67 46 H. Indikator Capaian Penelitian Indikator keberhasilan penelitian adalah peningkatan kualitas pembelajaran biologi, siswa yang dinyatakan dalam bentuk persentase dimana pada setiap aspeknya mengalami peningkatan di setiap Siklus. Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidaktidaknya >75%. Indikator keberhasilan penelitian didapat dari penjabaran aspek-aspek kualitas pembelajaran biologi dengan menggunakan pendekatan CTL dipadu dengan model problem posing. Aspek kualitas, menurut Widoyoko (2008: 7-12) kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh lima aspek yang meliputi aspek performance guru, fasilitas pembelajaran, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, dan motivasi belajar siswa, jadi indikator ketercapaian penelitian apabila tiap aspek kualitas pembelajaran sesuai target peneliti meningkat 75% yaitu performance guru dalam kelas, fasilitas pendukung pembelajaran dalam kelas, Iklim kelas, sikap ilmiah siswa, dan motivasi belajar siswa. Keterlaksanaan sintak pendekatan CTL dengan model problem posing sesuai target peneliti >75%Aspek keterlaksanaan CTL meliputi, ketujuh asas yaitu konstruktivisme (Contruktivsm), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang autentik (Authentic Assessment) (Kesuma, dkk., 2010:62-68), keterlaksanaan langkah problem posing ada 6 yaitu: mengidentifikasi masalah, menampilkan masalah, membahas alternatif pemecahan masalah, mendiskusikan masalah, penerapan konsep baru, presentasi hasil.

68 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pra-Siklus Observasi Pra-Siklus terhadap proses pembelajaran di kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 dilakukan pada hari Kamis, 19 April 2012 dengan materi pencemaran lingkungan. Adapun hasil observasi menunjukkan kualitas pembelajaran biologi yang meliputi 5 aspek yaitu fasilitas pembelajaran, performance guru dalam kelas, iklim kelas, sikap ilmiah, dan motivasi berprestasi siswa masih belum optimal. Hasil pengamatan Pra-Siklus yang dilakukan sebanyak 2 kali terhadap aspek kualitas pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Fasilitas Pembelajaran Fasilitas pembelajaran disebut juga dengan lingkungan fisik kelas (the physical environtment). Lingkungan fisik kelas atau fasilitas pembelajaran memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah, dan motivasi berprestasi siswa. Adapun hasil observasi Pra-Siklus terhadap fasilitas pembelajaran yang dilakukan disajikan pada Tabel 4.1 sebagai berikut. Tabel 4.1 Kondisi Fasilitas Pembelajaran di SMA N 2 Karanganyar Aspek Indikator Kondisi Lingkungan fisik Pencahayaan Baik, memadai untuk membaca buku. Tapi siswa yang duduk di belakang sedikit kesulitan membaca whiteboard Suhu Baik, tidak panas berkisar antara 28 0 C C. Ruang kelas Ukuran ruang kelas Baik, berukuran 8 m x 9 m dengan rasio 2,117 m 2 / peserta didik. Perabot dalam kelas a) Meja b) commit Kursi to user 47 Tersedia a) Meja berjumlah 19 b) Kursi berjumlah 37

69 Tabel Lanjutan 48 Aspek Indikator Kondisi Media pembelajaran Ada berupa papan tulis dalam kelas (whiteboard). Ruang laboratorium Perabot dalam laboratorium a) Meja b) Kursi c) Lemari alat dan badan d) Bak cuci Peralatan pendukung pembelajaran dalam laboratorium a) Alat peraga b) Alat dan bahan percobaan Media pembelajaran dalam laboratorium a) white board b) Liquid Chrystal Display (LCD) c) layar LCD d) speaker Perabotan dalam keadaan baik a) Meja berjumlah 8 b) Kursi berjumlah 36 c) Lemari alat berjumlah 4 d) Bak cuci berjumlah 4, yang bisa digunakan 1 a) Alat peraga berupa torso yang berjumlah 4 b) Mikroskop berjumlah 25, 8 rusak, tabung,gelas ukur, dalam keadaan baik dan berjumlah masing masing 20, bahan bahan percobaan sudah banyak yang rusak a) white board berjumlah 1 b) (LCD) jumlah 1 c) layar LCD baik sehingga dapat di lihat dari belakang d) speaker,suara jerni Lingkungan non fisik Laboran Tidak terdapat laboran Hasil observasi fasilitas pembelajaran terlihat bahwa fasilitas pembelajaran di SMA Negeri 2 Karanganyar sudah cukup baik. Fasilitas ini meliputi lingkungan fisik kelas, ruang kelas, dan ruang laboratorium. Pencahayaan yang cukup dan suasana yang nyaman, lingkungan ini tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Pencahayaan di kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar berasal dari cahaya lampu. Cahaya lampu di kelas berasal dari dua buah lampu berdaya 20 watt. Menurut SNI daya pencahayaan maksimum ruang kelas adalah 15 watt/ m 2. Pencahayaan di kelas kurang maksimal masih ada siswa yang berada di bangku belakang susah melihat ke

70 49 papan tulis dikarenakan letak ruang kelas X.2 kurang strategis sehingga cahaya matahari yang masuk terbatas. Ruang kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar memiliki ukuran 8m x 9m dengan kapasitas 36 siswa. Berdasarkan Permendiknas No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, kapasitas maksimum siswa di kelas adalah 32 siswa dengan rasio minimum ruang gerak 2m 2 / peserta didik. Jika dibuat perhitungan maka dapat dikatakan ruang kelas X.2 cukup memenuhi kapasitas digunakan sebagai ruang kelas dengan rasio ruang kelas sebesar 2 m 2 /peserta didik. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dapat dibuat perhitungan daya lampu yang terpasang di ruang kelas X.2 adalah sebagai berikut. a. Luas ruang kelas : 9 m x 8 m = 72 m 2. b. Daya lampu: 2 buah (titik lampu) x 20 watt (lampu yang dipakai) = 40 watt. c. Daya ruang kelas = Daya : luas ruang = 40 watt/72 m 2 = 0.55 watt/ m 2 == >> (memenuhi syarat kurang dari 15 watt/ m 2 ). Cahaya yang berasal dari lampu, pencahayaan di ruang kelas juga didapatkan dari sinar matahari yang masuk ke kelas melalui jendela di samping kiri dan kanan kelas. Suhu udara di ruang kelas X.2 tidak terlalu panas, suhu berkisar antara 28 0 C C. Media pembelajaran di dalam kelas yang ada antara lain papan tulis (white board) 1 buah yang diletakkan di depan dengan jarak pandang dari siswa yang duduk paling belakang adalah 6 meter. Jarak pandang tersebut cukup memadai apabila didukung pencahayaan yang sesuai. Selain menggunakan ruang kelas, proses pembelajaran dapat dilaksanakan di laboratorium biologi yang berada diatas ruang perpustakaan dan sudah terpisah dari laboratorium IPA yang lain, letaknya juga tidak jauh dari ruang kelas X.2. Laboratorium biologi dilengkapi dengan perabot-perabot antara lain: meja dan kursi peserta didik dengan rasio 1 buah/ peserta didik, lemari alat 2 buah, lemari bahan 2 buah, bak cuci 4 buah akan tetapi yang dapat digunakan hanya 1 yang lainnya tidak ada airnya sehingga siswa jarang membersihkan alat alat laboratorium yang telah digunakan. commit to Selain user itu terdapat sebuah papan tulis

71 50 (white board), Liquid Chrystal Display (LCD), layar LCD. Peralatan pendidikan dalam laboratorium meliputi: gelas ukur, gelas kimia, pembakar, kaki tiga, pipet dalam kondisi baik, dan mikroskop 25 buah, 8 diantaranya rusak sehingga tidak dapat di gunakan. Berdasarkan uraian di atas terlihat fasilitas pembelajaran di SMA Negeri 2 Karanganyar sudah cukup baik dan memenuhi Standar Sarana dan Prasarana sekolah tingkat SMA atas berdasarkan permendiknas No 24 Tahun Namun, pada saat peneliti melakukan observasi Pra-Siklus guru masih belum mengoptimalkan kemanfaatan fasilitas pembelajaran yang ada, seperti kurang memanfaatkan laboratorium biologi yang telah tersedia, Selain itu fasilitas penunjang lain seperti LCD juga kurang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, padahal penggunaan media pembelajaran yang maksimal akan menarik minat siswa sehingga akan mendukung proses pembelajaran. Fasilitas yang sudah memenuhi standar tersebut akan kurang berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran biologi apabila kemanfaatannya masih belum dioptimalkan. 2. Performance Guru dalam kelas Aspek performance guru dapat dilihat dari cara guru dalam membuka dan menutup pelajaran, sikap guru dalam proses pembelajaran, penguasaan bahan ajar, skenario atau proses pembelajaran, menggunakan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan memberikan tindak lanjut. Adapun hasil observasi performance guru saat pelaksanaan Pra-Siklus terangkum pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Data Performance Guru dalam Kelas Pada Pra-Siklus No. Performance Guru Keterlaksanaan 1. Kemampuan Membuka Pelajaran a. Menarik perhatian siswa b. Memberikan motivasi awal c. Memberikan apersepsi (kaitan materi dengan materi yang akan disampaikan) d. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan e. Memberikan acuan bahan belajar yang akan diberikan 2. Sikap Guru dalam Proses Pembelajaran Tidak Tidak Tidak

72 Tabel Lanjutan 51 No. Performance Guru Keterlaksanaan a. Kejelasan artikulasi suara b. Variasi gerakan badan tidak mengganggu perhatian siswa c. Antusiasme dalam penampilan d. Mobilitas posisi mengajar Tidak Tidak 3. Penguasaan Bahan Belajar (Materi Pelajaran) a. Bahan belajar disajikan sesuai dengan langkah-langkah yang direncanakan dalam RPP b. Kejelasan dalam menjelaskan bahan belajar (materi) c. Kejelasan dalam memberikan contoh d. Memiliki wawasan yang luas dalam menyampaikan bahan belajar Tidak Tidak 4. Kegiatan Belajar Mengajar (Proses Pembelajaran) a. Kesesuaian model dengan bahan belajar yang disampaikan b. Penyajian bahan belajaran sesuai dengan tujuan/indikator yang telah ditetapkan c. Memiliki keterampilan dalam menanggapi dan mesikap pertanyaan siswa d. Ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu yang disediakan 5. Kemampuan Menggunakan Media Pembelajaran: a. Memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media b. Ketepatan/kesesuaian penggunaan media dengan materi yang disampaikan c. Memiliki keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran d. Membantu meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran 6. Evaluasi Pembelajaran a. Penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan b. Menggunakan bentuk dan jenis ragam penilaian c. Penilaian yang diberikan sesuai dengan RPP 7. Kemampuan Menutup Kegiatan Pembelajaran: a. Meninjau kembali materi yang telah diberikan b. Memberi kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan c. Memberikan kesimpulan kegiatan pembelajaran 8. Tindak Lanjut/Follow up a. Memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok b. Menginformasikan materi/bahan belajar yang akan dipelajari berikutnya. c. Memberikan motivasi untuk selalu terus belajar Jumlah Jawaban YA Skor maksimal Ketercapaian (%) Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak ,00 %

73 52 Tabel 4.2 menunjukkan performance guru dalam pembelajaran kurang optimal sebesar 60,00%. Guru masih mendominasi pembelajaran, model yang digunakan guru kurang variatif berupa ceramah dan tanya jawab singkat dengan siswa. Guru juga belum menggunakan media pembelajaran dan sumber ajar yang menarik minat siswa, sehingga pembelajaran masih terkesan monoton. Mobilitas guru dalam menyampaikan pelajaran juga masih minim, guru hanya berada di depan kelas dan tidak sekalipun berkeliling, hal ini mengakibatkan siswa di bagian belakang tidak memperhatikan pelajaran dan banyak yang tidak berkonsentrasi ataupun melakukan aktivitas di luar pembelajaran. Berdasarkan di atas dapat disimpulkan bahwa performance guru biologi kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar masih kurang optimal dan perlu memperhatikan pemilihan model pembelajaran, model pembelajaran dan penggunaan media pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi menarik, inovatif, menyenangkan dan meningkatkan kemampuan intelektual, manual maupun kemampuan sosial siswa. Performance guru memiliki pengaruh yang cukup dominan terhadap kualitas pembelajaran karena guru bertanggung jawab terhadap proses kegiatan yang berlangsung. Kinerja atau performance guru yang baik dan berkualitas akan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang ada di dalam kelas, sebaliknya kinerja atau performance guru yang kurang berkualitas akan membuat kualitas pembelajaran yang ada di dalam kelas menurun karena proses pembelajaran yang ada di dalam kelas pada hakekatnya merupakan serangkaian kegiatan yang merupakan hubungan timbal balik antara guru dengan siswa, guru memiliki multiperan yang tidak hanya sebagai pengajar saja. 3. Iklim Kelas Iklim kelas merupakan segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses pembelajaran. Hasil observasi terhadap iklim kelas saat pelaksanaan proses pembelajaran pada Pra-Siklus menunjukkan di kelas X.2 kurang kondusif. Kekompakan siswa dalam pembelajaran masih rendah, commit hal ini to terlihat user dari interaksi siswa yang masih

74 53 minim dengan teman yang lain dan hanya terjadi dengan teman sebangku. Keadaan ini mengakibatkan keterampilan sosial siswa menjadi kurang. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran juga masih rendah, hal ini ditunjukkan dari aktivitas dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran yang belum terlihat. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah juga belum terlihat karena siswa cenderung hanya mencatat dan menghafal materi. Keadaan ini mengakibatkan keterampilan proses sains dan keterampilan intelektual siswa kurang berkembang. Kepuasan siswa selama pembelajaran juga masih rendah, hal ini terlihat beberapa siswa yang duduk di bagian belakang banyak yang melakukan aktivitas lain seperti melamun dan mengobrol di luar topik pelajaran. Dukungan guru dalam pembelajaran juga kurang optimal. Interaksi antara guru dengan siswa masih kurang, terlihat guru mendominasi pembelajaran sehingga komunikasi cenderung satu arah, dan belum ada balikan (feedback) dari siswa. Hal ini diperkuat melalui hasil observasi terhadap iklim kelas yang tersaji pada Tabel 4.3. Tabel 4.3 Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pada Pra-Siklus No Indikator Persentase (Observasi) Persentase (Angket) 1 Kekompakan siswa 55,55% 62.67% 2 Keterlibatan siswa dalam 50 % % pembelajaran 3 Kepuasan siswa 52,77% 64.76% 4 Dukungan guru dalam kegiatan 58,33% 65.62% pembelajaran Jumlah 216,11% Rata-rata 54,16% 64.19% Berdasarkan Tabel 4.3 rata-rata capaian indikator iklim kelas pada Pra- Siklus menggunakan lembar observasi nilai indikator iklim kelas berkisar antara 50 % - 58,33% dengan rata rata adalah 54,16%. Berdasarkan angket rata-rata capaian indikator iklim kelas sebesar 64,19%. Adapun persentase capaian aspek iklim kelas disajikan pada Tabel 4.4.

75 Tabel 4.4 Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Berdasarkan Hasil Observasi Pada Pra-Siklus. No Aspek Persentase (Observasi) Persentase (Angket ) 1 Hubungan antar siswa 52,78% 63,19% 2 Hubungan antara siswa 55,55% 65,19% dengan guru Jumlah 108,33% 128,38% Rata-rata 54,16% 64,19% 54 Ditinjau dari aspek hubungan antar siswa dengan siswa dan hubungan antara siswa dengan guru dalam pelaksanaan pembelajaran biologi di kelas X.2 masih rendah. Hal ini terlihat dari partisipasi siswa yang masih rendah dan kurangnya keaktifan siswa dalam kegiantan pembelajaran. Kepuasan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran kurang. Hal ini yang ditunjukkan sebagian besar siswa merasa bosan dan dukungan guru dalam pembelajaran kurang optimal ditandai dari komunikasi yang cenderung masih satu arah. Guru selalu ceramah sehingga membuat siswa cenderung menghafal dan kurang melibatkan siswa aktif terlibat dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi kondisi iklim kelas dalam kualitas pembelajaran biologi dapat disimpulkan bahwa iklim kelas di kelas X.2 pada saat Pra-Siklus belum seperti yang diharapkan. Oleh karena iklim kelas merupakan salah satu aspek kualitas pembelajaran, maka kondisi iklim kelas yang rendah diprediksi dapat menyebabkan kualitas pembelajaran kurang optimal. 4. Sikap Ilmiah Sikap ilmiah merupakan sikap yang diharapkan pada saat dan setelah melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran sains biologi. Hasil observasi pra tindakan terhadap sikap ilmiah di kelas X.2 masih rendah. Hal ini ditunjukkan dari rasa ingin tahu siswa terhadap materi pembelajaran yang masih rendah. Ketika guru mengajukan pertanyaan hanya beberapa siswa yang memperhatikan dan berani menjawab pertanyaan tersebut (22.22%) siswa. Ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, hanya (8.33%) dari siswa yang mengajukan pertanyaan. commit to Sebagian user besar siswa (69.45%) lebih

76 55 memilih diam dan menunggu guru memberi penjelasan berikutnya. Hasil ini diperkuat dengan lembar observasi dan pemberian angket mengenai sikap ilmiah siswa. Persentase capaian indikator sikap ilmiah terhadap pembelajaran Pra-Siklus dapat disajikan pada Tabel 4.5. Tabel 4.5 Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Pada Pra-Siklus No Indikator Persentase (Observasi) Persentase (Angket ) 1. Rasa ingin tahu terhadap materi 58,33% 66.32% biologi 2 Berani dan santun dalam mengajukan 36,11% 63.89% pertanyaan dan berargumentasi 3 Mengomentari dan member saran 30,55% 65.62% terhadap jawaban yang tidak tepat 4 Bekerja sama 52,77% 63.19% 5 Jujur 69,44% 67.36% 6 Tekun dan tidak mudah menyerah 58,33% 66.32% Jumlah 305,56% % Rata-rata 50,93% 65.45% Berdasarkan Tabel 4.5 sikap ilmiah Pra-Siklus dengan nilai indikator antara 30,11% - 69,44% dengan rata-rata indikator sikap ilmiah siswa adalah 50,93%. Berdasarkan angket rata-rata capaian indikator sikap ilmiah sebesar 65,45%. Berdasarkan nilai tersebut, sikap ilmiah biologi masih rendah, dibuktikan dengan banyak siswa yang kurang memperlihatkan rasa ingin tahu dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, banyak siswa yang tidak berani bertanya dan memberikan saran serta masih banyak siswa yang kurang bekerja sama. Kejujuran siswa dalam mengerjakan soal singkat dari guru sudah cukup baik, meskipun masih belum terlalu nampak. Ketekunan siswa dalam pembelajaran ini juga terlihat masih sangat kurang terbukti dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru banyak siswa yang belum mengumpulkan. Hasil wawancara menunjukan bahwa siswa kurang tekun dan kurang memiliki hasrat ingin tahu terhadap pelajaran biologi sehingga ketika guru menyampaikan pertanyaan siswa tidak memiliki keberanian dalam menjawab pertanyaan maupun memberikan saran atau tanggapan atas suatu permasalahan. Selain itu kerja sama siswa rendah, commit karena to guru user klasikal dan jarang menggunakan

77 56 model diskusi kelompok. Dengan demikian dapat kesimpulan bahwa sikap ilmiah siswa kelas X.2 masih rendah. Sikap ilmiah siswa yang kurang positif diprediksi menyebabkan kualitas pembelajaran belum mampu tercapai dengan baik. 5. Motivasi Berprestasi Menurut Donald (dalam Hamalik, 2003) Motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction (Donald dalam Hamalik, 2003). Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran pada Pra-Siklus terhadap motivasi berprestasi siswa menunjukkan bahwa motivasi berprestasi siswa kelas X.2 masih kurang. Banyak siswa yang kurang tertarik mengikuti pelajaran biologi dan kurang memiliki dorongan untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Ketika diberikan suatu permasalahan oleh guru, banyak siswa yang kurang berminat menyelesaikan masalah tersebut dan kurang tekun dalam menghadapi kesulitan. Siswa tampak putus asa ketika mengerjakan tugas yang sulit dari guru dan akhirnya hanya sedikit siswa yang mau mengerjakan tugas tersebut. Hal ini diperkuat dengan lembar observasi dan hasil pemberian angket motivasi berprestasi siswa terhadap proses pembelajaran biologi. Adapun persentase capaian indikator motivasi berprestasi Pra-Siklus disajikan pada Tabel 4.6.

78 Tabel 4.6 Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Pada Pra- Siklus No Indikator Persentase (Observasi) Persentase (Angket ) 1 Sensitif terhadap hal-hal yang 66,67% 69.44% berkaitan dengan peningkatan prestasi 2 Kegiatan-kegiatan untuk 61,11% 69.44% mencapai prestasi 3 Cermat menentukan target 50% 65.63% prestasi 4 Usaha menanggulangi berbagai 61,11% 65.97% penghambat pencapaian keberhasilan 5 Menemukan suatu cara 58,33% 66.67% penyelesaian masalah yang lebih singkat dan mudah 6 Menyukai tantangan baik dari 50% 67.01% dalam maupun luar 7 Kesempurnaan penyelesaian 66,67% 61.46% tugas 8 Melakukan kegiatan diskusi 55,56% 66.32% dengan baik 9 Percaya diri dan tangguh dalam 50% 68.75% pembelajaran dan menyelesaikan tugas Jumlah 519,44% % Rata-rata 56,60% 66.74% 57 Berdasarkan Tabel 4.6 hasil motivasi berprestasi untuk hasil Pra-Siklus dengan nilai antara 50%-66,67% didapatkan rata-rata 56,60%. Berdasarkan angket rata-rata capaian indikator motivasi berprestasi sebesar 66,74%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata indikator motivasi berprestasi untuk Pra-Siklus masih rendah. Pada saat pelaksanaan pembelajaran banyak siswa yang tidak tertarik mengikuti proses pembelajaran. Pada awal pembelajaran siswa tampak antusias dengan proses pembelajaran yang berlangsung. Siswa memperhatikan penjelasan guru dengan seksama. Pada menit setelahnya siswa tampak bosan dengan kegiatan yang berlangsung, siswa mulai tidak berkonsentrasi seperti mengantuk, melamun dan bersikap kurang baik. Hal ini menunjukkan sensitivitas siswa terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi berkurang.

79 Adapun persentase capaian aspek motivasi berprestasi Pra-Siklus disajikan pada Tabel Tabel 4.7 Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pada Pra-Siklus No Aspek Persentase (Observasi) Persentase (Angket ) 1 Berorientasi pada keberhasilan 66,17% 69.44% 2 Antisipasi kegagalan 58,82% 65.80% 3 Inovatif 54,41% 66.84% 4 Tanggung jawab 56,86% 65.51% Jumlah 238,22% % Rata-rata 59,06% 66.90% Nilai tersebut menunjukkan bahwa siswa masih kurang berorientasi terhadap keberhasilan dan tanggung jawab yang kurang. Hal ini ditunjukkan dari sikap siswa yang enggan melaksanakan kegiatan diskusi ketika mendapatkan tugas untuk diselesaikan. Kreativitas siswa dalam menyelesaikan masalah juga masih kurang dan hal ini membuktikan bahwa aspek inovatif siswa masih rendah. Dalam hal antisipasi kegagalan, masih banyak siswa yang tidak menentukan target belajarnya sehingga hal ini membuktikan bahwa sikap siswa terhadap tugas kurang mengantisipasi kegagalan dan kemungkinan-kemungkinan mendapatkan nilai yang baik pun juga kurang diperhatikan siswa. Motivasi berprestasi ditinjau dari aspek-aspek orientasi terhadap keberhasilan, antisipasi kegagalan, inovatif, dan tanggung jawab. Aspek orientasi terhadap keberhasilan meliputi sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi dan kegiatan-kegiatan untuk mencapai prestasi, aspek antisipasi kegagalan meliputi cermat dalam menentukan target prestasi dan usaha untuk menanggulangi penghambat, aspek inovatif meliputi penemuan cara menyelesaikan masalah secara singkat dan menyukai tantangan baik dari dalam maupun luar, serta aspek tanggung jawab yang meliputi kesempurnaan menyelesaikan tugas, berdiskusi dengan baik, serta percaya diri dan tangguh dalam menyelesaikan tugas. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil bahwa motivasi berprestasi siswa masih rendah. Hal commit ini didapatkan to user dari siswa yang kurang tertarik

80 59 mengikuti kegiatan pelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, bahkan kadang tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru. Berdasarkan hasil observasi terhadap motivasi dapat disimpulkan bahwa motivasi siswa kelas X.2 terhadap pembelajaran biologi masih rendah. Hasil Pra-Siklus terhadap aspek kualitas pembelajaran di kelas X.2 SMA Negeri 2 Karanganyar meliputi fasilitas pembelajaran yang kurang di optimalkan, performance guru juga masih cenderung satu arah. Iklim kelas saat proses pembelajaran belum kondusif. Sikap ilmiah masih kurang. Motivasi berprestasi siswa juga masih rendah. B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus a. Siklus I Pelaksanaan tindakan Siklus I meliputi: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). 1. Perencanaan Tindakan Perencanaan dilaksanakan berkolaborasi dengan guru meliputi identifikasi masalah, perumusan masalah dan analisis penyebab masalah, menetapkan alternatif pemecahan masalah, menentukan pokok bahasan, menyusun perangkat pembelajaran. Perencanaan tindakan untuk Siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.8. Tabel 4.8 Perencanaan Tindakan Pada Siklus I No Kegiatan Keterangan 1. Identifikasi masalah Berkolaborasi bersama guru melakukan identifikasi masalah melalui observasi proses pembelajaran, dokumentasi, angket, lembar observasi 2. Perumusan masalah dan analisis penyebab masalah Berkolaborasi bersama guru menentukan masalah yang mendesak atau urgent untuk dipecahkan terkait dengan rendahnya kualitas pembelajaran 3. Menetapkan alternatif pemecahan masalah Berkolaborasi bersama guru mencari dan menentukan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan CTL dengan model problem posing

81 Tabel lanjutan 60 No Kegiatan Keterangan 4. Menentukan pokok bahasan Berkolaborasi bersama guru menentukan materi dalam penelitian. Menetapkan Kompetensi Dasar 4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem 5. Menyusun perangkat pembelajaran Siklus I (Lampiran 1 dan 2) Silabus dan RPP LKS Gambar (Lampiran 5) Alat alat bahan praktikum video Presentasi berupa slide powerpoint Mengembangkan perangkat pembelajaran berdasarkan pendekatan CTL dengan model problem posing Menyusun sesuai tahapan-tahapan pendekatan CTL dengan model problem posing Membuat sesuai dengan keterampilan proses sains yang akan dikembangkan dan relevan dengan materi pembelajaran. Menyediakan gambar sebagai sarana pendukung dalam melakukan apresepsi serta memberikan konfirmasi. Menyediakan alat alat praktikum bertujuan untuk siswa lebih aktif dalam menemukan sendiri pengetahuan. Menyediakan video tentang dampak dari adanya pencemaran Menyiapkan presentasi disiapkan untuk konfirmasi materi di akhir pembelajaran. 6. Menyusun perangkat penelitian. Berupa angket, pedoman wawancara lembar observasi aspek kualitas pembelajaran meliputi fasilitas pembelajaran, performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah dan motivasi berprestasi siswa, lembar, lembar observasi keterlaksanaan sintaks, dan soal evaluasi. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan pembelajaran pada Siklus I dilaksanakan pada hari Kamis,10 Mei 2012 terdiri dari satu kali pertemuan (2 x 45 menit) dengan materi pelajaran adalah Pencemaran Udara. Pelaksanaan tindakan untuk Siklus I disajikan pada dalam Tabel 4.9.

82 61 Tabel 4.9 Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus I Komponen CTL Tahapan Problem posing Guru 1. Guru memotivasi peserta didik dengan memberikan Apersepsi Mengulas materi sebelumnya yaitu rantai makanan,dengan mengajukan pertanyaan guru memperlihatkan rokok serta korek api kepada siswa. Guru mengajukan pertanyaan Apa yang akan terjadi pada kalian apabila di beri asap rokok terus menerus? 2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Siswa 1. Siswa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru 2. Memperhatikan apa yang di sampaikan guru Inquiry 1.Identifikasi masalah 1. Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen 2. Guru memberikan LKS Membimbing siswa untuk melakukan identifikasi masalah dari wacana yang terdapat di LKS 1.Siswa berkumpul sesuai kelompok 2.Siswa menerima LKS Mengidentifikasi masalah dari wacana yang terdapat di LKS Masyarakat belajar 2.Menampilka n masalah 3.Membahas alternatif pemecahan masalah 4.Mendiskusik an masalah 5.Penerapan konsep pada situasi baru Guru menampilkan gambar Membimbing siswa untuk merumuskan masalah Membimbing siswa menyusun hipotesis Membimbing siswa untuk berdiskusi sebagai pembuktian untuk mengerjakan lks Membimbing siswa dalam memecahkan masalah pada situasi yang baru Siswa mengamati gambar Menuliskan perumusan masalah di LKS Siswa menyusun hipotesis Siswa berdiskusi kelompok dengan melakukan percobaan sebagai pembuktian dari hipotesis Memecahkan masalah baru dari pengalaman yang di dapat

83 Tabel lanjutan 62 Permodelan 6.Presentasi hasil kerja kelompok Membimbing siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas Bertanya Membimbing diskusi kelas Melakukan diskusi kelas Kontruktivi sme Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan Siswa menyimpulkan hasil pembelajaran Refleksi Authentic assessment Guru memberikan konfirmasi materi pembelajaran hari ini Guru melakukan evaluasi hasil pembelajaran tes tertulis dan memintak siswa mengumpulkan LKS Guru memberikan tugas rumah untuk mempelajari bab selanjutnya Guru menutup dengan memberi salam Siswa memperhatikan konfirmasi guru Siswa mengerjakan soal evaluasi,serta mengumpulkan LKS Siswa mencatat tugas yang di berikan guru untuk materi selanjutnya Menjawab salam 3. Tahap Pengamatan dan Evaluasi Tahap pengamatan dan evaluasi dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi, angket, dan dokumentasi kegiatan pembelajaran di kelas. Lembar observasi yang digunakan mengacu pada kisi-kisi yang telah ditentukan sebelumnya. Observasi dilakukan oleh tiga orang observer sebagai pembanding data hasil pengamatan. Angket diberikan setelah proses pembelajaran Siklus 1 berakhir. Selain menggunakan angket dan lembar observasi juga diberikan tes evaluasi Siklus I sebagai data penyerta untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa setelah dilakukan tindakan Siklus I. Wawancara Siklus I dilakukan di luar jam pelajaran untuk mendapatkan masukan dalam setiap proses pembelajaran. Wawancara dilakukan pada guru dan siswa secara luas dan mendalam mengenai proses pembelajaran yang dilakukan di Siklus I. Hasil pengamatan Siklus I meliputi 5 aspek kualitas pembelajaran antara lain:

84 63 a. Fasilitas Pembelajaran dalam Kelas Pemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas pada Siklus I disajikan pada Tabel 4.10 Tabel 4.10 Pemanfaatan Fasilitas Pada Siklus I Fasilitas pembelajaran Pra-Siklus Siklus 1 Pemanfaatan LCD Tidak Speaker Tidak Penataan meja Tidak beraturan Beraturan Hasil pengamatan terhadap fasilitas pembelajaran dalam kelas pada pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa kemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas X.2 telah mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan guru, Pemanfaatan LCD dan juga speaker yang biasanya jarang sekali digunakan dalam proses pembelajaran, dalam pembelajaran ini kemanfaatan LCD dan juga speaker digunakan untuk pemutaran media video, gambar, slide powerpoint oleh guru. Kondisi dari LCD dan juga speaker juga cukup baik, sehingga mendukung proses pembelajaran. Meskipun demikian, dalam hal penataan kursi dan meja kelompok ternyata masih terlalu dekat dan terasa berdesak desakan, sehingga kegiatan pengamatan dan diskusi kurang maksimal. b. Performance Guru dalam kelas Aspek performance guru dapat dilihat dari cara guru dalam membuka dan menutup pelajaran, sikap guru dalam proses pembelajaran, penguasaan bahan ajar, skenario atau proses pembelajaran, menggunakan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan memberikan tindak lanjut. Adapun hasil observasi performance guru saat pelaksanaan Siklus I terangkum pada Tabel 4.11

85 Tabel 4.11 Data Performance Guru dalam Kelas Pada Siklus I No. Performance Guru Keterlaksanaan 1. Kemampuan Membuka Pelajaran a. Menarik perhatian siswa b. Memberikan motivasi awal c. Memberikan apersepsi (kaitan materi dengan materi yang akan disampaikan) d. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan e. Memberikan acuan bahan belajar yang akan diberikan 2. Sikap Guru dalam Proses Pembelajaran a. Kejelasan artikulasi suara b. Variasi gerakan badan tidak mengganggu perhatian siswa c. Antusiasme dalam penampilan d. Mobilitas posisi mengajar 3. Penguasaan Bahan Belajar (Materi Pelajaran) a. Bahan belajar disajikan sesuai dengan langkahlangkah yang direncanakan dalam RPP b. Kejelasan dalam menjelaskan bahan belajar (materi) c. Kejelasan dalam memberikan contoh d. Memiliki wawasan yang luas dalam menyampaikan bahan belajar Kegiatan Belajar Mengajar (Proses Pembelajaran) a. Kesesuaian model dengan bahan belajar yang disampaikan b. Penyajian bahan belajaran sesuai dengan tujuan/indikator yang telah ditetapkan c. Memiliki keterampilan dalam menanggapi dan mensikapi pertanyaan siswa d. Ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu yang disediakan 4. Kemampuan Menggunakan Media Pembelajaran: a. Memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media b. Ketepatan/kesesuaian penggunaan media dengan materi yang disampaikan c. Memiliki keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran d. Membantu meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran 5. Evaluasi Pembelajaran a. Penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan b. Menggunakan bentuk dan jenis ragam penilaian c. Penilaian yang diberikan sesuai dengan RPP 6. Kemampuan Menutup Kegiatan Pembelajaran: a. Meninjau kembali materi yang telah diberikan b. Memberi kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan c. Memberikan kesimpulan kegiatan pembelajaran 7. Tindak Lanjut/Follow up Tidak Tidak Tidak Tidak 64

86 Tabel Lanjutan 65 No. Performance Guru Keterlaksanaan a. Memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok b. Menginformasikan materi/bahan belajar yang akan dipelajari berikutnya. c. Memberikan motivasi untuk selalu terus belajar Jumlah Jawaban YA Jumlah Skor Maksimal Ketercapaian (%) 86,67 % Tabel 4.11 Pada pembelajaran Siklus I ini guru belum menarik perhatian siswa untuk menuju materi baru karena guru datang agak tergesa-gesa. Guru melakukan langkah langkah RPP tapi masih tidak berurutan. Namun, secara umum guru telah memiliki kemampuan yang baik dalam performance di kelas sebesar 86,66 %. Hasil ini meningkat dari hasil Pra-Siklus sebesar 60,00 %. c. Iklim Kelas Iklim kelas merupakan segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses pembelajaran. Tabel 4.12 Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pada Siklus I No Indikator Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1 Kekompakan siswa 66,67% 76.91% 2 Keterlibatan siswa dalam 75% 78.65% pembelajaran 3 Kepuasan siswa 63,89% 78.99% 4 Dukungan guru dalam kegiatan 66,67% 78.30% pembelajaran Jumlah 272,22% % Rata-rata 68,05% 78.21% Berdasarkan Tabel 4.12 rata-rata capaian indikator iklim kelas untuk lembar observasi Siklus I adalah 68,05%. Hasil ini meningkat dari nilai Pra-Siklus sebesar 13,89%. Berdasarkan angket nilai indikator iklim kelas sebersar 78,21%. Hasil ini meningkat dari nilai Pra-Siklus sebesar 14,02%. Hasil observasi saat pelaksanaan Siklus 1 menunjukkan bahwa iklim kelas di kelas X.2 sudah jauh

87 66 lebih kondusif dibandingkan saat pelaksanaan Pra-Siklus. Hal ini ditunjukkan dari keterlibatan siswa dalam pembelajaran, kekompakan siswa dalam kelompok dan didukung oleh guru dalam berdiskusi. Hal ini menunjang peningkatan kepuasan siswa terhadap proses pembelajaran. Adapun persentase capaian aspek iklim kelasnya berdasarkan hasil Siklus I disajikan pada Tabel 4.13 Tabel 4.13 Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pada Siklus I No Aspek Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1 Hubungan antar siswa 70,83% 77.77% 2 Hubungan antara siswa 65,28% 78.64% dengan guru Jumlah 136,11% % Rata-rata 68,05% 78.21% Berdasarkan Tabel 4.13 rata-rata capaian aspek iklim kelas untuk lembar observasi Siklus I adalah 68,05% dengan nilai indikator iklim kelas berkisar antara 65,28% - 70,85%. Rata-rata capaian aspek iklim kelas berdasarkan angket sebesar 78,21% Berdasarkan hasil Siklus I, diketahui aspek hubungan antar siswa sudah bagus ditandai dari siswa telah mampu bekerjasama dalam menyelesaikan tugas, terlihat kompak antar teman satu dengan teman yang lain, dan tidak saling mengganggu saat menyelesaikan tugas dari guru. Dukungan guru juga turut mendukung kekompakan siswa dalam kelas. Nilai tersebut didukung oleh hasil angket dan wawancara yang hasilnya sejalan dengan data pada Tabel 4.12 dan Tabel Berdasarkan Tabel 4.12 capaian indikator iklim kelas meningkat dari hasil Pra-Siklus, tetapi hasil tersebut masih belum mencapai target kualitas pembelajaran yaitu 75% yang berarti iklim kelas di kelas X.2 belum cukup kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa keterlibatan siswa meningkat setelah dilakukan tindakan. Hal ini dibuktikan dari pengakuan siswa yang menyatakan bahwa siswa dapat terlibat secara aktif ketika dilakukan pelaksanaan pendekatan CTL dengan model problem

88 67 posing. Selain itu siswa lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran karena proses pembelajaran yang dilakukan merupakan hal yang baru dan belum pernah dilakukan. Siswa mengatakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan lebih bisa bekerjasama dengan teman-temannya meskipun ada beberapa yang masih kurang peduli dengan kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Iklim kelas saat pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa telah ada peningkatan rata-rata capaian indikator iklim kelas dibandingkan dengan saat Pra- Siklus meskipun nilai iklim kelas ini belum mencapai target tuntas kualitas pembelajaran. Target tuntas kualitas pembelajaran ditentukan berdasarkan kondisi awal sebelum tindakan disertai dengan kesepakatan antara guru dan peneliti yaitu sebesar 75%. Iklim kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain hubungan antarsiswa dan hubungan antara siswa dengan guru. Berdasarkan lembar observasi hasil triangulasi observer, nilai indikator tertinggi adalah keterlibatan siswa, di mana dari indikator ini menunjukkan siswa memiliki tingkat keterlibatan yang besar dalam mengikuti pembelajaran biologi. Nilai indikator terendah adalah kepuasan siswa. Dasar ini diambil karena aspek iklim kelas akan lebih akurat melalui pengamatan. Angket hanya merupakan data yang mendukung saja. Proses pembelajaran Siklus I menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar, membuktikan pengetahuan yang diperoleh serta bekerja sama dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Proses kegiatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif dalam belajar menyebabkan iklim kelas yang berlangsung menjadi lebih kondusif dibandingkan dengan proses pembelajaran yang hanya sekedar menerima informasi yang diberikan guru. Peningkatan iklim kelas di Siklus I ditandai dengan peningkatan kualitas dan jumlah keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Secara kuantitatif berupa jumlah siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran, secara kualitatif berupa aktivitas siswa dalam observasi, diskusi kelompok, presentasi. Peningkatan iklim kelas ditandai dengan peningkatan hubungan siswa dengan guru dan antar peserta didik commit yang to lain. user Hubungan siswa ditandai dengan

89 68 kekompakan siswa. Pada proses pembelajaran yang berlangsung kekompakan siswa meningkat seiring dengan pelaksanaan kegiatan. Hubungan antara siswa dan guru ditunjukkan dengan meningkatnya dukungan guru dan kepuasan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. d. Sikap ilmiah Hasil pengamatan sikap ilmiah pada pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa sikap ilmiah siswa kelas X.2 pada pelaksanaan proses pembelajarannya telah mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dari siswa yang pada awalnya kurang tekun dalam mengikuti pelajaran menjadi lebih tekun dan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Rasa ingin tahunya meningkat dan lebih berani untuk bertanya dan mengajukan pendapatnya. Tetapi, masih ada siswa yang kurang jujur, terutama saat mengerjakan LKS dan soal evaluasi. Persentase capaian indikator sikap ilmiah berdasarkan hasil pada Siklus I disajikan pada Tabel 4.14 Tabel 4.14 Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Pada Siklus I No Indikator Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1. Rasa ingin tahu terhadap materi biologi 77,78% 79.16% 2 Berani dan santun dalam 55,56% 78.47% mengajukan pertanyaan dan berargumentasi 3 Mengngomentari dan member solusi 47,22% 77.08% terhadap jawaban yang tidak tepat. 4 Bekerja sama 66,67% 80.90% 5 Jujur 75,00% 77.08% 6 Tekun dan tidak mudah menyerah 69,44% % Jumlah 391,67% % Rata-rata 65,27% 78.53% Berdasarkan Tabel 4.14 rata-rata capaian indikator sikap ilmiah Siklus I adalah 65,27% dengan nilai indikator berkisar antara 47,22% - 77,78%. Hasil ini meningkat dibandingkan dengan nilai Pra-Siklus sebesar 14,35%. Berdasarkan angket rata-rata capaian inikator sebesar 78,53%. Hasil ini meningkat dibandingkan Pra-Siklus sebesar 13,08%. Berdasarkan Tabel 4.14 nilai rata-rata

90 69 untuk aspek sikap ilmiah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan nilai pra tindakan. Aspek sikap ilmiah ditandai dengan peningkatan rasa ingin tahu siswa, keberanian bertanya dan memberi saran, kerja sama, kejujuran, dan ketekunan dalam menyelesaikan tugas. Wawancara dilakukan untuk memperkuat data hasil sikap ilmiah. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa sikap ilmiah meningkat setelah dilakukan pembelajaran dengan pendekatan CTL dengan model problem posing. Siswa mengatakan menjadi lebih bersemangat mengikuti pelajaran dikarenakan kegiatan pelajaran yang dilakukan lebih menarik. Selain itu, lebih memiliki rasa ingin tahu terhadap kegiatan yang berlangsung. Meskipun demikian, ada beberapa siswa yang melakukan perbaikan tapi belum bertanggung jawab. Berdasarkan hasil triangulasi observer yang didukung dengan hasil wawancara, indikator terendah adalah mengomentari dan memberi solusi terhadap jawaban yang tidak tepat. Hal ini ditandai dengan banyak yang menjawab pertanyaan dengan sesukanya. Indikator tertinggi adalah rasa ingin tahu terhadap pelajaran biologi, yang ditandai dengan antusias siswa dalam memperhatikan pelajaran biologi. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di Siklus I menuntut siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, siswa diminta untuk mampu bekerja sama dengan siswa lain, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berani dalam bertanya dan memberi saran, jujur, dan tekun dalam menyelesaikan tugas. e. Motivasi Berprestasi Hasil pengamatan terhadap motivasi berprestasi pada pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa motivasi kelas X.2 pada pelaksanaan proses pembelajarannya telah mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dari siswa yang pada awalnya kurang berminat mengikuti pelajaran, kurang bersemangat mengikuti pelajaran, kurang tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru menjadi lebih bersemangat dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Meskipun masih ada beberapa siswa yang kurang berminat mengikuti proses pembelajaran, commit tidak to memperhatikan user penjelasan dari guru,

91 70 kurang tekun dalam menyelesaikan tugas/masalah dan kurang bertanggung jawab menyelesaikan tugas dari guru. Diperkuat dengan hasil observasi yang disajikan pada Tabel Tabel 4.15 Persentase Capaian Indikator Untuk Motivasi Berprestasi Pada Siklus I No Indikator Persentase (Observasi) Persentase (Angket) 1 Sensitif terhadap hal-hal yang 75% 78.12% berkaitan dengan peningkatan prestasi 2 Kegiatan-kegiatan untuk 75% 77.08% mencapai prestasi 3 Cermat menentukan target 66.67% 68.40% prestasi 4 Usaha menanggulangi berbagai 69.44% 72.22% penghambat pencapaian keberhasilan 5 Menemukan suatu cara 63,89% 71.18% penyelesaian masalah yang lebih singkat dan mudah 6 Menyukai tantangan baik dari 52,78% 76.04% dalam maupun luar 7 Kesempurnaan penyelesaian 66,67% 65.62% tugas 8 Melakukan kegiatan diskusi 63,89% 72.56% dengan baik 9 Percaya diri dan tangguh dalam 58,33% 76.73% pembelajaran dan menyelesaikan tugas Jumlah 591,67% % Rata-rata 65,74% 73.10% Berdasarkan Tabel 4.15 nilai indikator motivasi berprestasi berkisar antara 52,78% -75% rata-rata capaian indikator motivasi menggunakan lembar observasi Siklus I adalah 65,74% dengan. Hasil ini mengalami kenaikan dari nilai Pra- Siklus sebesar 9,15%. Rata-rata capaian indikator angket motivasi berprestasi sebesar 73,10%. Hasil ini mengalami peningkatan dari nilai Pra-Siklus sebesar 6,26%. Adapun capaian aspek motivasi berprestasi siswa Siklus I terdapat pada Tabel 4.16.

92 71 Tabel 4.16 Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pada Siklus I No Aspek Persentase (Observasi) Persentase (Angket) 1 Berorientasi pada keberhasilan 75% 77.60% 2 Antisipasi kegagalan 68,05% 70.31% 3 Inovatif 58,33% 73.61% 4 Tanggung jawab 62,96% 71.64% Jumlah 264,35% % Rata-rata 66,08% 73.29% Berdasarkan Tabel 4.16 menunjukkan bahwa rata-rata indikator motivasi berprestasi siswa meningkat dari nilai Pra-Siklus. Adapun yang masih belum mencapai tingkat ketuntasan adalah cermat menentukan target prestasi, kesempurnaan penyelesaian tugas, dan melakukan kegiatan diskusi dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa karena adanya kegiatan yang menarik maka siswa lebih berminat mengikuti pelajaran, lebih tekun dan ulet menghadapi kesulitan dan senang mencari dan menyelesaikan masalah yang ada dalam proses pembelajaran. Tugas di dalam LKS juga tidak dikerjakan dengan sempurna sebagai akibat dari terbatasnya waktu dan tugas yang diberikan kepada siswa terlalu banyak. Motivasi berprestasi memiliki empat aspek yaitu berorientasi keberhasilan, antisipasi kegagalan, inovatif, dan tanggung jawab. Berdasarkan Tabel 4.16, faktor orientasi keberhasilan membuat siswa melakukan inovasi-inovasi dalam belajarnya sehingga siswa dapat mencapai target prestasi yang ditentukan. Siswa dituntut untuk dapat bertanggung jawab terhadap hal-hal yang sudah menjadi tugasnya. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa sikap ilmiah dan termotivasi mengikuti pelajaran setelah dilakukan pembelajaran CTL dengan model problem posing. Siswa mengatakan cukup tertantang terhadap permasalahan yang diberikan oleh guru dan berusaha menyelesaikannya dengan baik dengan cara berdiskusi dengan siswa atau guru. Siswa juga cukup tertarik mengikuti kegiatan pelajaran. Berdasarkan ketiga data yang diambil untuk mengetahui motivasi berprestasi siswa saat pelaksanaan Siklus I menunjukkan bahwa terjadi banyak peningkatan motivasi berprestasi commit dibandingkan to user dengan saat Pra-Siklus, namun

93 peningkatan ini masih belum cukup tinggi karena ada beberapa indikator yang belum mencapai target ketuntasan 75%. 72 f. Data Pendukung Pada Siklus I ini, data pendukung yang digunakan adalah capaian hasil belajar kognitif, psikomotor dan afektif siswa pada materi pencemaran udara. Hasil belajar kognitif diperoleh dari tes evaluasi Siklus I dengan materi Pencemaran udara menunjukkan persentase siswa yang lulus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar sebesar 66,67% dengan KKM dari sekolah sebesar 75. Jumlah siswa yang lulus KKM sebanyak 24 siswa dan jumlah siswa yang tidak lulus KKM sebanyak 12 siswa dengan nilai rata-rata kelas sebesar 75,89. Adapun persentase ketuntasan belajar siswa untuk tes evaluasi Siklus I disajikan pada tabel 4.17 dan Gambar 4.1. Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siswa Pada Siklus I Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas 24 66,67% Belum tuntas 12 33,33% Jumlah % Siswa tuntas Siswa Belum Tuntas 33% 67% Gambar 4.1. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar kognitif Siswa Siklus I Hasil belajar psikomotor siswa diamati berdasarkan lembar observasi psikomotor yang didalamnya terdapat indikator keterampilan proses sains dan dari LKS. Adapun capaian rata-rata kelas 75,79, hasil ini sudah mencapai target sebesar 75 meskipun belum begitu optimal. Ketuntasan hasil belajar psikomotor disajikan pada Tabel 4.18

94 73 Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siswa Pada Siklus I Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas 22 61,11% Belum tuntas 14 38,89% Jumlah % Tuntas Tidak tuntas 39% 61% Gambar 4.2. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siswa Siklus I Hasil belajar afektif siswa diperoleh berdasarkan penilaian lembar observasi mengenai kerjasama dalam kelompok, rasa ingin tahu, berani mengajukan pertanyaan atau pendapat dimana indikator-indikator tersebut juga tercermin dalam sikap ilmiah siswa sebagai aspek kualitas pembelajaran biologi. Ketuntasan hasil belajar afektif disajikan pada Tabel 4.19 dan Gambar 4.3 Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siswa Pada Siklus I Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas % Belum tuntas 6 16,67% Jumlah % Tuntas Tidak tuntas 17% 83%

95 74 Gambar 4.3. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siswa Siklus I 4. Tahap Analisis dan Refleksi Tahap analisis dan refleksi meliputi kegiatan yang mengulas perubahan dan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran meliputi performance guru, iklim kelas, sikap siswa, dan motivasi berprestasi siswa saat pelaksanaan proses pembelajaran Siklus I sebagai bahan perencanaan pada Siklus II. Hasil yang dicapai pada pelaksanaan tindakan Siklus I secara umum belum mencapai hasil yang memuaskan. Secara rinci temuan Siklus I dan saran sebagai hasil refreksi disajikan pada Tabel 4.20 sebagai berikut. Tabel 4.20 Temuan Pada Siklus I Temuan 1. Kemanfaatan fasilitas pembelajaran sudah cukup baik, Guru juga menggunakan LCD dan menampilkan gambar-gambar, slide powerpoint dan video sebagai media pembelajaran. Namun, dalam hal penataan kursi kelompok ternyata masih terlalu dekat dan terasa berjubel, sehingga kegiatan pengamatan dan diskusi kurang maksimal. 2. Performance guru dalam pembelajaran menunjukkan peningkatan yang cukup baik tetapi guru masih belum menggunakan waktu yang tersedia secara optimal sehingga ada beberapa sintaks pembelajaran yang kurang sesuai. Selain itu, guru datang agak tergesagesa sehingga pada awal pembelajaran masih belum efektif yakni saat memberikan apersepsi dan motivasi. Saran untuk Siklus II Sebagai tindak lanjut, penataan kursi kelompok dibuat lebih renggang antara kelompok satu dengan yang lainnya sehingga lebih leluasa melakukan pengamatan dan diskusi. Sebagai tindak lanjut terhadap hal tersebut, guru disarankan untuk memahami RPP sehingga dapat melaksanakan sintaks pembelajaran yang sesuai dengan sintaks pokok dari pendekatan CTL dengan model problem posing. Selain itu, karena pembelajaran dimulai pukul WIB. 3. Iklim kelas sudah menunjukkan peningkatan, Sebagai tindak lanjut, guru menegur terutama keterlibatan siswa. Kekompakan siswa untuk duduk sesuai secara umum sudah baik, meskipun pada awal kelompoknya dan lebih pembelajaran masih ada 2 orang siswa yang memperhatikan siswa tersebut. tidak mau berkelompok. Dukungan guru kepada siswa juga meningkat tetapi belum terlalu nampak, sehingga beberapa siswa saja yang aktif dikelompoknya. 4. Sikap ilmiah sudah menunjukkan peningkatan Sebagai tindak lanjut, guru dapat walaupun peningkatannya masih belum menggunakan model demonstrasi di optimal. Saat pelaksanaan pembelajaran commit siswa to user depan kelas dan melakukan tanya masih ada siswa yang kurang berani dalam jawab dengan siswa sehingga siswa

96 Tabel Lanjutan Temuan bertanya dan memberi saran, dan kurang kerja sama. Meskipun demikian, siswa sudah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, siswa lebih tekun dalam mengikuti proses pembelajaran dan mengerjakan tugas dengan pelaksanaan tindakan Siklus I. 5. Motivasi berprestasi siswa sudah menunjukkan peningkatan setelah pelaksanaan Siklus I, tetapi masih ada beberapa siswa yang kurang bersemangat mengikuti proses pembelajaran, kurang bertanggung jawab melakukan kegiatan dalam pembelajaran. 6. Dalam hal pengisian LKS, hanya beberapa siswa dalam kelompok yang mengisi LKS dan siswa lain hanya mengikuti jawaban siswa lain. 75 Saran untuk Siklus II lebih berani dalam menjawab pertanyaan ataupun mengajukan pertanyaan. Guru lebih membimbing kegiatan diskusi siswa sehingga kerjasama semakin terlihat. Sebagai tindak lanjut, sebaiknya menggunakan media yang lebih menarik perhatian dan lebih memotivasi siswa yang terlihat kurang antusias. Sebagai tindak lanjut, guru lebih tegas terhadap siswa dalam kelompok untuk bekerjasama dalam diskusi maupun dalam pengisian LKS, sehingga semua siswa dalam kelompok terlibat aktif dalam diskusi.

97 76 b. Siklus II 1. Perencanaan Tindakan Berdasarkan hasil refleksi Siklus I menunjukkan adanya kelemahan sehingga perlu ada perbaikan di Siklus II. Dalam rangka mengatasi masalah yang ada di Siklus I, peneliti bersama guru melakukan langkah-langkah perbaikan melalui perencanaan tindakan untuk Siklus II disajikan pada Tabel Tabel 4.21 Perencanaan Tindakan Untuk Siklus II No Kegiatan Keterangan 1. Menyusun perangkat pembelajaran Siklus II (Lampiran 3) Mengembangkan perangkat pembelajaran secara kolaborasi bersama guru meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), LKS, media pembelajaran berupa gambar Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Membuat lembar kerja siswa (LKS) Disusun sesuai tahapan-tahapan pendekatan CTL dengan model problem posing Dibuat sesuai model problem posing dan relevan dengan materi pembelajaran. Menyediakan gambar Gambar disediakan sebagai data-data pendukung pada tahap pembentukan konsep dan interpretasi data. Menyediakan video Video pencemaran tanah digunakan sebagai sarana pembentukan konsep sehingga siswa dapat memvisualisasikan suatu konsep Menyiapkan bahan bahan sebagai bahan pembuktian Digunakan sebagai sarana pembuktian dari hipotesis yang siswa buat Menyiapkan presentasi berupa slide powerpoint Presentasi disiapkan untuk konfirmasi materi di akhir pembelajaran 2 Menyusun dan mengkomunikasikan Berupa angket, pedoman wawancara lembar perangkat penelitian berupa angket, observasi aspek kualitas pembelajaran pedoman wawancara lembar meliputi fasilitas pembelajaran, performance observasi aspek kualitas guru, iklim kelas, sikap ilmiah dan motivasi pembelajaran meliputi fasilitas berprestasi siswa, lembar, lembar observasi pembelajaran, performance guru, keterlaksanaan sintaks, dan soal evaluasi. iklim kelas, sikap ilmiah dan motivasi berprestasi siswa, lembar, lembar observasi keterlaksanaan sintaks, dan soal evaluasi.

98 77 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan pembelajaran Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis 24 Mei 2012 terdiri dari satu kali pertemuan (2x45 menit) pada jam pelajaran ke 3-4 (pukul WIB) dengan materi pelajaran Pencemaran Tanah mengenai ciri ciri, penyebab dan akibatnya. Pelaksanaan tindakan untuk Siklus II disajikan pada Tabel Tabel 4.22 Pelaksanaan Tindakan Untuk Siklus II Komponen CTL Tahapan Problem Posing Guru 1.Guru memotivasi peserta didik dengan memberikan Apersepsi Mengulas materi sebelumnya yaitu pencemaran udara: a. Guru mengajukan pertanyaan Kemarin apa penyebab pencemaran udara? Dan apa dampak pencemaran udara? b. Guru memperlihatkan pot bunga,serta air deterjen c. Guru mengajukan pertanyaan Apa yang akan terjadi pada pot bunga apabila air deterjen disiramkan? 2.Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Siswa 1.Siswa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru 2.Memperhatikan apa yang di sampaikan guru Inkuiri 1.Identifikasi masalah 1.Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen 2.Guru memberikan LKS Membimbing siswa untuk melakukan identifikasi masalah dari wacana yang terdapat di LKS 1.Siswa berkumpul sesuai kelompok 2.Siswa menerima LKS Mengidentifikasi masalah dari wacana yang terdapat di LKS

99 Tabel Lanjutan 2.Menampilk an masalah 1.Guru menampilkan gambar dan video 2.Membimbing siswa untuk merumuskan masalah 78 1.Siswa mengamati gambar dan video 2.Menuliskan perumusan masalah di LKS Masyarakat belajar 3.Membahas alternatif pemecahan masalah 4.Mendiskusi kan masalah Membimbing siswa menyusun hipotesis Membimbing siswa untuk berdiskusi sebagai pembuktian untuk mengerjakan LKS Siswa menyusun hipotesis Siswa berdiskusi kelompok dengan melakukan percobaan sebagai pembuktian dari hipotesis 5.Penerapan konsep pada situasi baru Membimbing siswa dalam memecahkan masalah pada situasi yang baru Memecahkan masalah baru dari pengalaman yang di dapat Permodelan 6.Presentasi hasil kerja kelompok Membimbing siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas Bertanya Membimbing diskusi kelas Melakukan diskusi kelas Kontruktivi sme Refleksi Authentic assessment Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan Guru memberikan konfirmasi materi pembelajaran hari ini Guru melakukan evaluasi hasil pembelajaran tes tertulis dan memintak `siswa mengumpulkan LKS Guru memberikan tugas rumah untuk mempelajari bab selanjutnya Guru menutup dengan memberi salam Siswa menyimpulkan hasil pembelajaran Siswa memperhatikan konfirmasi guru Siswa mengerjakan soal evaluasi,serta mengumpulkan LKS Siswa mencatat tugas yang di berikan guru untuk materi selanjutnya Menjawab salam

100 79 3. Tahap Pengamatan dan Evaluasi Observasi yang dilakukan pada Siklus II masih sama seperti halnya pada Siklus II yaitu untuk mendapatkan data tentang aspek kualitas pembelajaran seperti performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, dan motivasi berprestasi siswa dalam pembelajaran biologi. Hasil pelaksanaan tindakan pada Siklus II adalah sebagai berikut. a. Fasilitas Pembelajaran dalam Kelas Pemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas pada Siklus II disajikan pada Tabel 4.23 Tabel 4.23 Pemanfaatan Fasilitas Pada Siklus II Fasilitas pembelajaran Pra-Siklus Siklus 1I Pemanfaatan LCD Tidak (lebih optimal) Speaker Tidak Penataan meja Tidak beraturan Beraturan Hasil pengamatan terhadap fasilitas pembelajaran dalam kelas pada pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa pemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas X.2 telah mengalami peningkatan dari Siklus I. Hal ini ditunjukkan dari pemanfaatan LCD yang biasanya penggunaannya kurang optimal dalam proses pembelajaran, LCD dimanfaatkan untuk pemutaran media video, gambargambar dan slide powerpoint oleh guru. Kondisi dari LCD cukup baik, sehingga mendukung proses pembelajaran. Akan tetapi, penataan kursi dan meja kelompok masih rapat sehingga pada saat melakukan praktikum dan berdiskusi terlihat berdesak desaan, untuk mendukung kegiatan pembelajaran ini dilakukan suatu tindakan dengan menata kelas agar lebih renggang sehingga siswa merasa nyaman. b. Performance Guru dalam Kelas Aspek performance guru dapat dilihat dari cara guru dalam membuka dan menutup pelajaran, sikap guru dalam commit proses to user pembelajaran, penguasaan bahan ajar,

101 80 skenario atau proses pembelajaran, menggunakan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan memberikan tindak lanjut. Adapun hasil observasi performance guru saat pelaksanaan Siklus II disajikan pada Tabel Tabel 4.24 Data Observasi Performance Guru Dalam Kelas Pada Siklus II No. Performance Guru Keterlaksanaan 1. Kemampuan Membuka Pelajaran a. Menarik perhatian siswa b. Memberikan motivasi awal c. Memberikan apersepsi (kaitan materi dengan materi yang akan disampaikan) d. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan e. Memberikan acuan bahan belajar yang akan diberikan 2. Sikap Guru dalam Proses Pembelajaran a. Kejelasan artikulasi suara b. Variasi gerakan badan tidak mengganggu perhatian siswa c. Antusiasme dalam penampilan d. Mobilitas posisi mengajar 3. Penguasaan Bahan Belajar (Materi Pelajaran) a. Bahan belajar disajikan sesuai dengan langkah-langkah yang direncanakan dalam RPP b. Kejelasan dalam menjelaskan bahan belajar (materi) c. Kejelasan dalam memberikan contoh d. Memiliki wawasan yang luas dalam menyampaikan bahan belajar 4. Kegiatan Belajar Mengajar (Proses Pembelajaran) a. Kesesuaian model dengan bahan belajar yang disampaikan b. Penyajian bahan belajaran sesuai dengan tujuan/indikator yang telah ditetapkan c. Memiliki keterampilan dalam menanggapi dan mesikap pertanyaan siswa d. Ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu yang disediakan 5. Kemampuan Menggunakan Media Pembelajaran: a. Memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media b. Ketepatan/kesesuaian penggunaan media dengan materi yang disampaikan c. Memiliki keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran d. Membantu meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran 6. Evaluasi Pembelajaran a. Penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan b. Menggunakan bentuk dan jenis ragam penilaian

102 Tabel Lanjutan 81 No. Performance Guru Keterlaksanaan c. Penilaian yang diberikan sesuai dengan RPP 7. Kemampuan Menutup Kegiatan Pembelajaran: a. Meninjau kembali materi yang telah diberikan b. Memberi kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan c. Memberikan kesimpulan kegiatan pembelajaran 8. Tindak Lanjut/Follow up a. Memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok b. Menginformasikan materi/bahan belajar yang akan dipelajari berikutnya. c. Memberikan motivasi untuk selalu terus belajar Jumlah Jawaban YA Jumlah Skor Maksimal Ketercapaian (%) Tidak ,67% Tabel 4.24 menunjukkan bahwa guru telah memiliki kemampuan yang baik dalam performance di kelas mencapai 96,67%. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam tindakan ini sudah dapat terlaksana lebih baik yang dibuktikan dengan performance guru yang meningkat sebesar 10% dari hasil Siklus I karena pada Siklus kedua ini guru dan peneliti telah melakukan refleksi dari Siklus I sehingga memungkinkan untuk tidak melakukan kesalahan, selain itu guru sudah terbiasa dengan pendekatan dan model pada penelitian ini. c. Iklim Kelas Iklim kelas merupakan segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses pembelajaran. Persentase capaian indikator iklim kelas Siklus II terangkum pada Tabel Tabel 4.25 Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pada Siklus II No Indikator Persentase Persentase (Observasi ) (Angket) 1 Kekompakan siswa 72,22% 80.03% 2 Keterlibatan siswa dalam 77.77% 80.38% pembelajaran 3 Kepuasan siswa 80,55% 83.68% 4 Dukungan guru dalam kegiatan 75% 83.85% pembelajaran Jumlah 305,54% % Rata-rata 76,38% 81.98%

103 82 Berdasarkan Tabel 4.25 rata-rata capaian indikator iklim kelas untuk lembar observasi Siklus II adalah 76,38%. Hasil ini meningkat dari nilai Siklus I sebesar 8,33%. Rata-rata capaian indikator iklim kelas untuk angket adalah 81,98%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa iklim kelas di kelas X 2 sudah jauh lebih kondusif dibandingkan saat pelaksanaan Siklus I. Hal ini ditunjukkan dari siswa yang terlibat dan didukung oleh guru dalam berdiskusi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Capaian rata-rata indikator iklim kelas sudah memenuhi target 75%, meskipun indikator kekompakan siswa belum mencapai target. Persentase capaian aspek iklim kelasnya berdasarkan hasil Siklus II dapat dilihat pada Tabel Tabel 4.26 Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pada Siklus II No Aspek Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1 Hubungan antarsiswa 74,99% 80.20% 2 Hubungan antara siswa dengan 77,75% 83.76% guru Jumlah 152,76% % Rata-rata 76,38% 81.98% Berdasarkan Tabel 4.26 tersebut menunjukkan bahwa aspek hubungan antarsiswa sudah bagus ditandai dari siswa telah mampu bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, terlihat kompak antar teman satu dengan teman yang lain meskipun belum mencapai target, dan tidak saling mengganggu saat menyelesaikan tugas dari guru. Dukungan guru juga turut mendukung kekompakan siswa dalam kelas. Wawancara untuk memperkuat hasil iklim kelas. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa keterlibatan siswa meningkat setelah dilakukan tindakan. Hal ini dibuktikan dari seluruh siswa menjawab siswa dapat terlibat secara aktif ketika dilakukan pelaksanaan pendekatan CTL dengan model problem posing. Siswa lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran karena proses pembelajaran yang dilakukan merupakan hal yang baru dan belum pernah dilakukan. commit Siswa to user mengatakan kegiatan pembelajaran

104 83 yang dilakukan menjadikan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan lebih bisa bekerjasama dengan teman-temannya meskipun ada beberapa yang masih kurang peduli dengan kegiatan pembelajaran yang berlangsung sehingga indikator kekompakan siswa belum optimal. Ketiga data yang diambil untuk mengetahui iklim kelas saat pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa telah ada peningkatan rata-rata capaian indikator iklim kelas dibandingkan dengan saat pra tindakan meskipun nilai iklim kelas ini belum mencapai target tuntas kualitas pembelajaran. Iklim kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain hubungan antarsiswa dan hubungan antara siswa dengan guru. Berdasarkan lembar observasi hasil triangulasi observer, nilai indikator tertinggi adalah kepuasan siswa, di mana dari indikator ini menunjukkan siswa lebih berminat dalam mengikuti pembelajaran biologi. Nilai indikator terendah adalah kekompakan siswa. Proses pembelajaran Siklus II menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar, kerja sama yang baik dengan teman kelompoknya dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Proses kegiatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif dalam belajar menyebabkan iklim kelas yang berlangsung menjadi lebih kondusif dibandingkan dengan proses pembelajaran yang hanya sekedar menerima informasi yang diberikan guru. Peningkatan iklim kelas di Siklus II ditandai dengan peningkatan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Peningkatan hubungan antara siswa dengan guru dan antar peserta didik yang lain. Hubungan siswa ditandai dengan kekompakan siswa. Pada proses pembelajaran yang berlangsung kekompakan siswa meningkat jika dibandingkan dengan capaian Siklus I. Hubungan antara siswa dan guru ditunjukkan dengan meningkatnya dukungan guru dan kepuasan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

105 d. Sikap ilmiah Hasil pengamatan terhadap sikap ilmiah pada pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa kelas X.2 pada pelaksanaan proses pembelajarannya telah mengalami peningkatan sikap ilmiah. Adapun persentase capaian indikator sikap ilmiah pada pelaksanaan Siklus II disajikan pada Tabel Tabel 4.27 Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Pada Siklus II No Indikator Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1. Rasa ingin tahu terhadap materi biologi 83.33% 83.68% 2 Berani dan santun dalam 69,44% 81.25% mengajukan pertanyaan dan berargumentasi 3 Mengomentari dan member saran 55,56% 81.25% terhadap jawaban yang tidak tepat 4 Bekerja sama 77,78% 85.07% 5 Jujur 86,11% 79.51% 6 Tekun dan tidak mudah menyerah 72,22% 84.97% Jumlah 444,44% % Rata-rata 74,07% 82.46% 84 Berdasarkan Tabel 4.27 dengan nilai indikator berkisar antara 55,56% - 86,11% rata-rata capaian indikator sikap ilmiah Siklus II adalah 74.07%. Hasil ini meningkat dibandingkan dengan nilai Siklus I sebesar 8,8%. Rata-rata capaian indikator sikap ilmiah untuk angket adalah 82,46%. Nilai tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan nilai Siklus I. Peningkatan aspek sikap ilmiah ditandai dengan peningkatan rasa ingin tahu siswa, keberanian bertanya dan memberi saran, kerja sama, kejujuran, dan ketekunan dalam menyelesaikan tugas. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa sikap ilmiah meningkat setelah dilakukan pendekatan CTL dengan model problem posing. Siswa mengatakan menjadi lebih bersemangat mengikuti pelajaran dikarenakan kegiatan pelajaran yang dilakukan lebih menarik. Selain itu, siswa lebih memiliki rasa ingin tahu terhadap kegiatan yang berlangsung. Meskipun demikian, ada beberapa siswa yang menjawab kurang jujur dan kurang berani dalam bertanya ataupun memberikan saran terhadap kegiatan pembelajaran.

106 85 Berdasarkan hasil triangulasi observer yang didukung dengan hasil wawancara, indikator terendah adalah berani mengusulkan perbaikan atas suatu kondisi dan bertanggung jawab terhadap usulannya. Siswa lebih banyak bertanya daripada menanggapi pertanyaan atau pendapat teman lain. Indikator tertinggi adalah rasa ingin tahu terhadap materi biologi, siswa terlihat antusias dapat berinteraksi secara langsung dengan lingkungan belajarnya. Ketiga data yang diambil untuk mengetahui sikap siswa ilmiah saat pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa telah ada peningkatan sikap ilmiah siswa dibandingkan dengan saat Siklus I. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di Siklus II menuntut siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, siswa diminta untuk mampu bekerja sama dengan siswa lain, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berani dalam bertanya dan memberi saran, jujur, dan tekun dalam menyelesaikan tugas. Sikap ilmiah merupakan bentuk sikap positif yang biasa dikaitkan dengan keilmuan, sehingga sikap ilmiah dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku yang bersifat keilmuan terhadap stimulus tertentu. Sikap ilmiah dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran sains pada saat siswa melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek lapangan. Sikap ilmiah diyakini dapat melatih atau menanamkan sikap dan nilai positif dalam diri siswa, jujur, dapat bekerja sama, teliti, tekun, dan toleran merupakan sikap. e. Motivasi berprestasi Hasil pengamatan terhadap motivasi berprestasi pada pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa motivasi kelas X.2 pada pelaksanaan proses pembelajarannya telah mengalami peningkatan. Ditunjukkan dari siswa yang pada awalnya kurang berminat mengikuti pelajaran, kurang bersemangat mengikuti pelajaran, kurang tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru menjadi lebih bersemangat dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Diperkuat dengan data dari hasil observasi dan pemberian angket. Adapun persentase capaian indikator untuk motivasi berprestasi Siklus II disajikan pada Tabel 4.28 dan 4.29

107 Tabel 4.28 Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Pada Siklus II No Indikator Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1 Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi 80,55% 83.33% 2 Kegiatan-kegiatan untuk 80,55% 83.63% mencapai prestasi 3 Cermat menentukan target 75% 73.61% prestasi 4 Usaha menanggulangi berbagai 72,22% 79.16% penghambat pencapaian keberhasilan 5 Menemukan suatu cara 77,78% 77.08% penyelesaian masalah yang lebih singkat dan mudah 6 Menyukai tantangan baik dari dalam maupun luar 61.11% 81.25% 7 Kesempurnaan penyelesaian 77,78% 75.69% tugas 8 Melakukan kegiatan diskusi 77,78% 81.59% dengan baik 9 Percaya diri dan tangguh dalam 66,67% 80.20% pembelajaran dan menyelesaikan tugas Jumlah 669,42% % Rata-rata 74,38% 79.51% 86 Tabel 4.29 Persentase Capaian Aspek Motivasi Pada Siklus II No Aspek Persentase (Observasi ) Persentase (Angket) 1 Berorientasi pada keberhasilan 80,56% 83.50% 2 Antisipasi kegagalan 73,61% 76.38% 3 Inovatif 69,44% 79.16% 4 Tanggung jawab 74,07% 79.16% Jumlah 297,68% % Rata-rata 74,42% 79.55% Berdasarkan Tabel 4.28 dan Tabel 4.29 menunjukkan bahwa rata-rata indikator motivasi berprestasi untuk lembar observasi sebesar 74,42% Hasil ini mengalami kenaikan dari nilai Siklus I sebesar 8,64% dan angket sebesar 79,55%. Beberapa indikator yang telah mencapai target ketuntasan kualitas pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan siswa yang telah melakukan kerjasama dan diskusi yang baik dengan temannya untuk commit menyelesaikan to user tugas. Selain itu, siswa sudah

108 87 mulai terbiasa dengan pendekatan CTL dengan model problem posing dalam pembelajaran biologi. Adapun yang masih belum mencapai tingkat ketuntasan adalah cermat menentukan target prestasi, menyukai tantangan, menanggulangi hambatan mudah serta percaya diri dan tangguh dalam pembelajaran dan menyelesaikan tugas. Hal ini terjadi karena faktor tuntutan waktu dan kurangnya kepercayaan diri siswa dalam pembelajaran. Akibatnya kebanyakan siswa cenderung menunggu teman lain yang sudah mengerjakan tugas lalu menyalin tugas temannya. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa siswa termotivasi mengikuti pelajaran setelah dilakukan pembelajaran dengan penggunaan data berupa gambar, video dan objek asli pada pendekatan CTL dengan model problem posing. Siswa mengatakan cukup tertarik untuk belajar dan berusaha menyelesaikannya tugas guru dengan baik terutama dalam berdiskusi dengan siswa atau guru. Dari ketiga data yang diambil untuk mengetahui motivasi berprestasi siswa saat pelaksanaan Siklus II menunjukkan bahwa banyak peningkatan motivasi berprestasi dibandingkan dengan saat Pra-Siklus, namun peningkatan ini masih belum optimal karena ada beberapa indikator yang belum mencapai target ketuntasan. Penerapan proses pembelajaran seperti ini merupakan kegiatan yang belum pernah dilakukan oleh siswa sehingga kegiatan yang dilakukan cukup menarik minat siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. f. Data Pendukung Pada Siklus II ini, data pendukung yang digunakan adalah capaian hasil belajar kognitif, psikomotor dan afektif siswa pada materi pencemaran tanah. Hasil belajar kognitif diperoleh dari tes evaluasi Siklus II dengan materi pencemaran tanah menunjukkan Persentase siswa yang lulus KKM sebesar sebesar 86,11% dengan jumlah siswa yang lulus KKM sebanyak 31 siswa dan yang tidak lulus KKM sebanyak 5 siswa dengan nilai rata-rata kelas sebesar 79,7. Persentase ketuntasan belajar kognitif siswa pada Siklus II terangkum pada Tabel 4.30.

109 88 Tabel 4.30 Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siswa Pada Siklus II Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas 31 86,11 % Belum tuntas 5 13,89% Jumlah % Diagram persentase ketuntasan belajar kognitif Siklus II dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut. Siswa tuntas Siswa Belum Tuntas 14% 86% Gambar 4.4 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar kognitif Siklus II Hasil belajar psikomotor siswa diamati berdasarkan lembar observasi psikomotor yang didalamnya terdapat indikator keterampilan proses sains dan dari LKS. Adapun capaian rata-rata kelas 76.2, hasil ini sudah mencapai target sebesar 75 dan mengalami peningkatan dibandingkan hasil Siklus I. Ketuntasan hasil belajar psikomotor pada Siklus II disajikan pada Tabel 4.31 dan Gambar 4.5 Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siswa Pada Siklus II Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas 30 83,33% Belum tuntas 6 16,67% Jumlah %

110 89 Tuntas Tidak tuntas 17% 83% Gambar 4.5. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siswa Siklus II Hasil belajar afektif siswa diperoleh berdasarkan penilaian lembar observasi mengenai kerjasama dalam kelompok, rasa ingin tahu, berani mengajukan pertanyaan atau pendapat dimana indikator-indikator tersebut juga tercermin dalam sikap ilmiah siswa sebagai aspek kualitas pembelajaran biologi. Ketuntasan hasil belajar afektif disajikan pada Tabel 4.32 dan Gambar 4.6. Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siswa Pada Siklus II Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas % Belum tuntas 4 11,11% Jumlah % Tuntas Tidak tuntas 11% 89% Gambar 4.6. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siswa Siklus II 4. Tahap Analisis dan Refleksi Tahap analisis dan refleksi meliputi kegiatan yang mengulas perubahan dan permasalahan yang terjadi dalam commit proses to user pembelajaran meliputi kemanfaatan

111 90 fasilitas pembelajaran, performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah siswa, dan motivasi berprestasi siswa saat pelaksanaan proses pembelajaran Siklus II sebagai bahan perencanaan pada Siklus III. Hasil yang dicapai pada pelaksanaan tindakan Siklus II secara umum sudah mencapai hasil yang memuaskan tetapi masih ada beberapa indikator yang pencapaiannya masih belum optimal. Ada beberapa indikator yang masih belum mencapai target ketuntasan kualitas pembelajaran biologi yaitu 75%. Secara rinci temuan Siklus II dan saran sebagai hasil refleksi disajikan pada Tabel 4.33 sebagai berikut. Tabel 4.33 Temuan dan Saran Pada Siklus II Temuan 1. Kemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas X.2 telah mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan guru telah memanfaatkan LCD dan juga speaker Meskipun demikian, dalam hal penataan kursi dan meja kelompok masih kurang mendukung ketika diskusi kelas sehingga diperlukan suasana kelas yang baru. 2. Performance guru dalam pembelajaran menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa guru sudah menerapkan semua sintaks pendekatan CTL dengan model problem posing dengan baik. Manajemen waktu yang baik dari guru turut memberikan kontribusi yang nyata bagi meningkatnya aspek performance guru dalam pembelajaran. 3. Iklim kelas semakin mengalami peningkatan, tetapi dari sisi kepuasan siswa dalam mengikuti pembelajaran biologi, masih ada beberapa siswa yang kurang puas dalam mengikuti pelajaran. Selain itu, siswa masih kurang mandiri dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Akan tetapi kekompakan siswa dan dukungan guru dalam pembelajaran sudah mengalami peningkatan yang optimal. Hal ini dibuktikan dengan banyak siswa yang bertanya dan guru mesikap ilmiah dengan baik pertanyaan siswa. 4. Sikap ilmiah kurang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Saat pelaksanaan pembelajaran siswa masih ada yang kurang berani dalam bertanya dan Saran untuk Siklus III Sebagai tindak lanjut, penataan kursi dalam kelas di buat seefisien mungkin sehingga memudahkan interaksi antara siswa dan guru sehingga suasana terasa lebih nyaman. Manajemen waktu yang sudah baik ini hendaknya lebih ditingkatkan sehingga waktu pembelajaran semakin efektif dan optimal. Sebagai tindak lanjut, guru memberikan perhatian pada siswa yang terlihat kurang antusias dan meminta siswa untuk melakukan demonstrasi di depan kelas agar merasa terlibat aktif dalam pembelajaran. Sebagai tindak lanjut, guru memberikan kesempatan bagi siswa dalam melakukan

112 Tabel Lanjutan Temuan memberi saran, siswa juga masih belum memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kurang jujur. Kerja sama siswa dalam pembelajaran dan kegiatan diskusi sudah mengalami peningkatan yang baik. Selain itu, siswa lebih tekun dalam mengikuti proses pembelajaran dan mengerjakan tugas dengan pelaksanaan tindakan Siklus II. 5. Motivasi siswa sudah menunjukkan peningkatan yang baik, tetapi masih ada beberapa siswa yang kurang termotivasi dan tertantang dalam kegiatan pembelajaran. 91 Saran untuk Siklus III demonstrasi di depan kelas sehingga dalam berinteraksi siswa lebih berani dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sebagai tindak lanjut terhadap hasil refleksi Siklus II, guru memberikan kebebasan dan kesempatan yang lebih kepada siswa untuk bertanya dan berpendapat. Bagi siswa yang bertanya atau berpendapat diberikan tambahan nilai. c. Siklus III 1. Perencanaan Tindakan Berdasarkan hasil refleksi Siklus II menunjukkan adanya kelemahan sehingga perlu ada perbaikan di Siklus III. Dalam rangka mengatasi masalah yang ada di Siklus II, peneliti bersama guru melakukan langkah-langkah perbaikan melalui perencanaan tindakan untuk Siklus III yang disajikan pada Tabel Tabel 4.34 Perencanaan Untuk Siklus III No Kegiatan Keterangan 1. Menyusun perangkat pembelajaran Mengembangkan perangkat Siklus II pembelajaran secara kolaboratif bersama (Lampiran 4) guru meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), media pembelajaran berupa gambar, video/ film. RPP LKS Menyusun sesuai tahapan-tahapan dalam pendekatan CTL dengan model problem posing Membuat sesuai dengan pendekatan CTL dan model problem posing Bahan bahan sebagai apersepsi Menyediakan bahan yang dapat membuat siswa ingin tahu bertambah,disediakan sebagai sarana pendukung dalam melakukan apresepsi, pembentukan konsep serta memberikan

113 Tabel Lanjutan 92 No Kegiatan Keterangan konfirmasi. Menyediakan gambar gambar video pencemaran air bahan bahan praktikum praktikum Menyiapkan presentasi berupa slide powerpoint 2 Menyusun dan mengkomunikasikan perangkat penelitian. Gambar gambar di gunakan untuk pendalaman konsep Menyediakan video sebagai sarana pembentukan konsep sehingga siswa dapat memvisualisasikan proses metagenesis yang abstrak. Menyediakan alat alat praktikum di gunakan untuk penguatan konsep sekaligus pembuktian dari hipotesa yang telah di tulis siswa Presentasi disiapkan untuk konfirmasi materi di akhir pembelajaran. Berupa angket, pedoman wawancara lembar observasi aspek kualitas pembelajaran meliputi fasilitas pembelajaran, performance guru, iklim kelas, sikap ilmiah dan motivasi berprestasi siswa, lembar, lembar observasi keterlaksanaan sintaks, dan soal evaluasi. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan pembelajaran Siklus III dilaksanakan pada hari Kamis 30 mei 2012 terdiri dari satu kali pertemuan (2x45 menit) pada jam pelajaran ke 1-2 (pukul WIB) dengan materi Pencemaran Air mengenai ciriciri,penyebab serta dampek yang ditimbulkan. Pelaksanaan tindakan untuk Siklus III disajikan pada Tabel 4.35.

114 93 Tabel 4.35 Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus III Komponen Guru CTL Tahapan problem posing 1.Guru memotivasi peserta didik dengan memberikan Apersepsi Mengulas materi sebelumnya yaitu pencemaran tanah. Guru mengajukan pertanyaan Kemarin apa penyebab pencemaran tanah? Dan apa dampak pencemaran tanah? Guru memperlihatkan popolasi cacing dan air deterjen kepada siswa. Guru mengajukan pertanyaan Apa yang akan terjadi pada populasi cacing apabila air deterjen di tuangkan ke populasi cacing? 2.Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Siswa 1.Siswa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru 2.Memperhatikan apa yang di sampaikan guru Inquiry 1.Identifikasi masalah 1.Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok secara heterogen 1.Siswa berkumpul sesuai kelompok 2.Guru memberikan LKS Membimbing siswa untuk melakukan identifikasi masalah dari wacana yang terdapat di LKS 2.Siswa menerima LKS Mengidentifikasi masalah dari wacana yang terdapat di LKS 2.Menampilk an masalah 1.Guru menampilkan gambar dan video 1.Siswa mengamati gambar dan video Masyarakat belajar 3.Membahas alternatif pemecahan masalah 4.Mendiskusi kan masalah 2.Membimbing siswa untuk merumuskan masalah Membimbing siswa menyusun hipotesis Membimbing siswa untuk berdiskusi sebagai pembuktian untuk mengerjakan LKS 2.Menuliskan perumusan masalah di LKS Siswa menyusun hipotesis Siswa berdiskusi kelompok dengan melakukan percobaan sebagai pembuktian dari hipotesis

115 Tabel lanjutan 94 Permodelan 5.Penerapan konsep pada situasi baru 6.Presentasi hasil kerja kelompok Membimbing siswa dalam memecahkan masalah pada situasi yang baru Membimbing siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok Memecahkan masalah baru dari pengalaman yang di dapat Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas Bertanya Membimbing diskusi kelas Melakukan diskusi kelas Kontruktivis me Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan Siswa menyimpulkan hasil pembelajaran Refleksi Authentic assessment Guru memberikan konfirmasi materi pembelajaran hari ini Guru melakukan evaluasi hasil pembelajaran tes tertulis dan memintak Siswa mengumpulkan LKS Guru memberikan tugas rumah untuk mempelajari bab selanjutnya Guru menutup dengan memberi salam Siswa memperhatikan konfirmasi guru Siswa mengerjakan soal evaluasi,serta Mengumpulkan LKS Siswa mencatat tugas yang di berikan guru untuk materi selanjutnya Menjawab salam 3. Tahap Pengamatan dan Evaluasi Observasi yang dilakukan pada Siklus III masih sama seperti halnya pada Siklus I dan II yaitu untuk mendapatkan data tentang aspek kualitas pembelajaran seperti performance guru, iklim kelas, sikap siswa, dan motivasi berprestasi siswa dalam pembelajaran biologi. Hasil pengamatan Siklus III terhadap aspek kualitas pembelajaran sebagai berikut. a. Fasilitas Pembelajaran dalam Kelas Pemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas pada Siklus III disajikan pada Tabel 4.36 Tabel 4.36 Pemanfaatan Fasilitas Pada Siklus III Fasilitas pembelajaran Pra-Siklus Siklus III Pemanfaatan LCD Tidak (lebih optimal) Speaker Tidak Penataan meja Tidak beraturan Beraturan Pencahayan Kurang commit terang to user Lebih terang

116 95 Hasil pengamatan terhadap fasilitas pembelajaran dalam kelas pada pelaksanaan Siklus III menunjukkan bahwa pemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas X.2 telah mengalami peningkatan dari Siklus II dan telah mencapai target yang diinginkan. Hal ini ditunjukkan dari pemanfaatan LCD dan speaker yang biasanya jarang sekali digunakan dalam proses pembelajaran, LCD dan speaker dimanfaatkan untuk pemutaran media audio-visual/ video, gambargambar oleh guru, selain video dalam pembelajaran ini guru juga telah menggunakan media power point pada tahap konfirmasi. Kondisi dari LCD dan speaker cukup baik, sehingga mendukung proses pembelajaran. Pencahayaan saat itu terlihat terlalu terang karena pelajaran dimulai jam pertama sehingga cahaya matahari yang masuk ke dalam kelas melalui sela-sela jendela, untuk mendukung kegiatan pembelajaran ini dilakukan suatu tindakan menutup korden. b. Performance Guru Aspek performance guru dapat dilihat dari cara guru dalam membuka dan menutup pelajaran, sikap guru dalam proses pembelajaran, penguasaan bahan ajar, skenario atau proses pembelajaran, menggunakan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan memberikan tindak lanjut. Hasil observasi performance guru saat pelaksanaan Siklus III terangkum pada Tabel Tabel 4.37 Lembar Observasi Performance Guru Dalam Kelas Pada Siklus III No. Performance Guru Keterlaksanaan 1. Kemampuan Membuka Pelajaran a. Menarik perhatian siswa b. Memberikan motivasi awal c. Memberikan apersepsi (kaitan materi dengan materi yang akan disampaikan) d. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan e. Memberikan acuan bahan belajar yang akan diberikan 2. Sikap Guru dalam Proses Pembelajaran a. Kejelasan artikulasi suara b. Variasi gerakan badan tidak mengganggu perhatian siswa c. Antusiasme dalam penampilan

117 Tabel Lanjutan 96 No. Performance Guru Keterlaksanaan d. Mobilitas posisi mengajar 3. Penguasaan Bahan Belajar (Materi Pelajaran) a. Bahan belajar disajikan sesuai dengan langkah-langkah yang direncanakan dalam RPP b. Kejelasan dalam menjelaskan bahan belajar (materi) c. Kejelasan dalam memberikan contoh d. Memiliki wawasan yang luas dalam menyampaikan bahan belajar 4. Kegiatan Belajar Mengajar (Proses Pembelajaran) a. Kesesuaian model dengan bahan belajar yang disampaikan b. Penyajian bahan belajaran sesuai dengan tujuan/indikator yang telah ditetapkan c. Memiliki keterampilan dalam menanggapi dan mesikap pertanyaan siswa d. Ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu yang disediakan 5. Kemampuan Menggunakan Media Pembelajaran: a. Memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan media b. Ketepatan/kesesuaian penggunaan media dengan materi yang disampaikan c. Memiliki keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran d. Membantu meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran 6. Evaluasi Pembelajaran a. Penilaian relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan b. Menggunakan bentuk dan jenis ragam penilaian c. Penilaian yang diberikan sesuai dengan RPP 7. Kemampuan Menutup Kegiatan Pembelajaran: a. Meninjau kembali materi yang telah diberikan b. Memberi kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan c. Memberikan kesimpulan kegiatan pembelajaran 8. Tindak Lanjut/Follow up a. Memberikan tugas kepada siswa baik secara individu maupun kelompok b. Menginformasikan materi/bahan belajar yang akan dipelajari berikutnya. c. Memberikan motivasi untuk selalu terus belajar Jumlah Jawaban YA Jumlah Skor Maksimal Ketercapaian (%) % Tabel 4.37 menunjukkan bahwa guru telah memiliki kemampuan yang baik dalam performance di kelas. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan

118 dalam tindakan ini sudah dapat terlaksana dengan baik yang dibuktikan dengan performance guru yang meningkat secara optimal yang mencapai 100%. 97 c. Iklim Kelas Iklim kelas merupakan segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses pembelajaran. Dalam Siklus III ini iklim pembelajaran sudah cukup kondusif dan capaian indikator sudah sesuai dengan target yang telah ditentukan. Iklim pembelajaran yang kondusif ini mendukung tercapainya proses pembelajaran yang optimal. Adapun persentase capaian indikator iklim kelas Siklus III disajikan pada Tabel Tabel 4.38 Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pada Siklus III No Indikator Persentase (Observasi ) Persentase (Angket ) 1 Kekompakan siswa 86.11% 82.98% 2 Keterlibatan siswa dalam 86,11% 82.46% pembelajaran 3 Kepuasan siswa 91,66% 85.76% 4 Dukungan guru dalam kegiatan 83,33% 85.24% pembelajaran Jumlah 347,21% % Rata-rata 86,80% Berdasarkan Tabel 4.38 rata-rata capaian indikator iklim kelas untuk lembar observasi Siklus III adalah 86,80% dengan nilai indikator iklim kelas berkisar antara 83,33%- 91,66%. Hasil ini meningkat dari nilai Siklus II sebesar 10,42%. Rata-rata capaian indikator berdasar angket sebesar 84,11%, hasil ini meningkat dibandingkan Siklus II sebesar 2,13%. Hasil observasi saat pelaksanaan Siklus III menunjukkan bahwa iklim kelas di kelas X.2 sudah jauh lebih kondusif dibandingkan saat pelaksanaan Siklus I dan II. Hal ini ditunjukkan dari siswa yang terlibat dan didukung oleh guru dalam berdiskusi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Adapun persentase capaian aspek iklim kelasnya Siklus III disajikan pada Tabel 4.39.

119 Tabel 4.39 Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pada Siklus III No Aspek Persentase (Observasi ) Persentase (Angket ) 1 Hubungan antarsiswa 86,11% 82.72% 2 Hubungan antara siswa dengan 87,49% 85.5% guru Jumlah 173,60% % Rata-rata 86,80% 84.11% Berdasarkan hasil observasi Siklus III, terjadi peningkatan capaian aspek iklim kelas yang signifikan. Hasil ini meningkat dari nilai Siklus II sebesar 10,42% diketahui aspek hubungan antarsiswa sudah bagus ditandai dari siswa telah mampu bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, terlihat kompak antar teman satu dengan teman yang lain, dan tidak saling menggangu saat menyelesaikan tugas dari guru. Dukungan guru juga turut mendukung kekompakan siswa dalam kelas. 98 d. Sikap ilmiah Hasil pengamatan terhadap sikap ilmiah pada pelaksanaan Siklus III menunjukkan bahwa kelas X.2 pada pelaksanaan proses pembelajarannya telah mengalami peningkatan sikap ilmiah yang optimal. Ditunjukkan dari siswa yang pada awalnya kurang tekun dalam mengikuti pelajaran menjadi lebih tekun dan bersemangat dan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Rasa ingin tahunya meningkat dan lebih berani untuk bertanya dan mengajukan pendapatnya. Adapun persentase capaian indikator sikap siswa Siklus III dapat dilihat pada Tabel Tabel 4.40 Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Siswa Pada Siklus III No Indikator Persentase Persentase (Observasi ) (Angket ) 1. Rasa ingin tahu terhadap materi 91,67% 89.23% biologi 2 Berani dan santun dalam 77,78% 83.33% mengajukan pertanyaan dan berargumentasi 3 Mengomentari dan memberi saran 75% 86.11% terhadap jawaban yang tidak tepat 4 Bekerja sama 83,33% 90.27% 5 Jujur 88,89% 84.37% 6 Tekun dan tidak mudah menyerah 86,11% 87.5% Jumlah 502,78% % Rata-rata 83,79% 86.80%

120 99 Berdasarkan Tabel 4.40 rata-rata capaian indikator sikap ilmiah Siklus III adalah 83,79% dengan nilai indikator berkisar antara 75%-91,67%. Hasil ini meningkat dibandingkan dengan nilai Siklus II sebesar 9,72%. Rata-rata capaian indikator sikap ilmiah untuk angket adalah 86,80%. e. Motivasi Berprestasi Hasil pengamatan terhadap motivasi berprestasi pada pelaksanaan Siklus III menunjukkan bahwa motivasi kelas X.2 pada pelaksanaan proses pembelajarannya telah mengalami peningkatan. Ditunjukkan dari siswa yang pada awalnya kurang berminat mengikuti pelajaran, kurang bersemangat mengikuti pelajaran, kurang tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru menjadi lebih bersemangat dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Diperkuat dengan hasil observasi dan angket. Persentase capaian indikator untuk observasi motivasi berprestasi Siklus III dapat dilihat pada Tabel Tabel 4.41 Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Pada Siklus III No Indikator Persentase Persentase (Observasi ) (Angket ) 1 Sensitif terhadap hal-hal yang 86,11% 87.5% berkaitan dengan peningkatan prestasi 2 Kegiatan-kegiatan untuk 91,67% 88.18% mencapai prestasi 3 Cermat menentukan target 86,11% 80.20% prestasi 4 Usaha menanggulangi berbagai 83,33% 85.76% penghambat pencapaian keberhasilan 5 Menemukan suatu cara 83,33% 84.72% penyelesaian masalah yang lebih singkat dan mudah 6 Menyukai tantangan baik dari 80,56% 88.19% dalam maupun luar 7 Kesempurnaan penyelesaian 86,11% 84.03% tugas 8 Melakukan kegiatan diskusi 86,11% 87.15% dengan baik 9 Percaya diri dan tangguh dalam 88,89% 86.80%

121 100 No Indikator Persentase (Observasi ) Persentase (Angket ) pembelajaran dan menyelesaikan tugas Jumlah 772,22% % Rata-rata 85,80% 85.84% Berdasarkan Tabel 4.41 rata-rata capaian indikator motivasi berprestasi untuk lembar observasi Siklus III adalah 85,80% dengan nilai indikator motivasi berprestasi berkisar antara 83,33% - 91,67%. Rata-rata capaian indikator motivasi berprestasi untuk angket Siklus III adalah 85,84%. Hasil ini mengalami kenaikan dari nilai Siklus II sebesar 6,33%. Adapun capaian aspek motivasi berprestasi siswa untuk lembar observasi Siklus III terdapat pada Tabel Tabel 4.42 Persentase Capaian Aspek Motivasi Pada Siklus III No Aspek Persentase (Observasi ) Persentase (Angket ) 1 Berorientasi pada keberhasilan 89,28% 87.84% 2 Antisipasi kegagalan 84,72% 82.98% 3 Inovatif 81,94% 86.45% 4 Tanggung jawab 87,03% 85.99% Jumlah 342,97% % Rata-rata 85,74% 85.15% Berdasarkan Tabel 4.42 rata-rata capaian aspek motivasi berprestasi siswa pada Siklus III adalah 85,74% dengan nilai aspek motivasi berprestasi berkisar antara 81,94%-89,28%. f. Data Pendukung Tes digunakan sebagai evaluasi dari tindakan yang telah dilakukan di Siklus II terhadap tingkat penguasaan konsep siswa materi pencemaran. Tes juga digunakan untuk mengetahui capaian hasil belajar kognitif siswa setelah pelaksanaan tindakan Siklus III. Hasil tes kognitif Siklus III menunjukkan Persentase siswa yang lulus KKM sebesar 94,44 % dengan jumlah siswa yang lulus KKM sebanyak 34 siswa dan yang tidak lulus KKM sebanyak 2 siswa pada Tabel 4.42,

122 101 Tabel 4.42 Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siswa Pada Siklus III Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas 34 94,44% Belum tuntas 2 5,56% Jumlah % Adapun diagram Persentase ketuntasan belajar kognitif siswa Siklus III disajikian pada Gambar 4.7 berikut. Siswa tuntas Siswa Belum Tuntas 6% 94% Gambar 4.7. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Kognitif Siswa Siklus III Hasil belajar psikomotor siswa diamati berdasarkan lembar observasi psikomotor yang didalamnya terdapat indikator keterampilan proses sains dan darip LKS. Adapun capaian rata-rata kelas sudah baik sebesar 81,97 telah dan telah mencapai target >75. Ketuntasan hasil belajar psikomotor disajikan pada Tabel 4.43 dan Gambar 4.8 Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siswa Pada Siklus III Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas 34 94,44% Belum tuntas 2 5,56% Jumlah %

123 102 Tuntas Tidak tuntas 6% 94% Gambar 4.8. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Psikomotor Siswa Siklus III Hasil belajar afektif siswa diperoleh berdasarkan penilaian lembar observasi mengenai kerjasama dalam kelompok, rasa ingin tahu, berani mengajukan pertanyaan atau pendapat dimana indikator-indikator tersebut juga tercermin dalam sikap ilmiah siswa sebagai aspek kualitas pembelajaran biologi. Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siswa Pada Siklus III Kriteria Frekuensi Persentase Tuntas % Belum tuntas 2 5,56% Jumlah % Tuntas Tidak tuntas 6% 94% Gambar 4.9. Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Afektif Siswa Siklus III

124 Tahap Analisis dan Refleksi Tahap analisis dan refleksi meliputi kegiatan yang mengulas perubahan dan permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran meliputi indikator performance guru, iklim kelas, sikap siswa, dan motivasi berprestasi siswa saat pelaksanaan proses pembelajaran Siklus III sebagai bahan pengambilan keputusan terhadap kesimpulan peningkatan kualitas pembelajaran. Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan tindakan Siklus III yaitu telah terjadi peningkatan secara optimal dalam kualitas pembelajaran. Target kualitas pembelajaran dalam Siklus III telah mencapai ketuntasan yaitu >75%. C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar Siklus Perbandingan hasil masing-masing aspek kualitas pembelajaran biologi dari Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, hingga Siklus III. 1. Fasilitas Pembelajaran dalam kelas Kemanfaatan fasilitas pembelajaran dalam kelas X.2 pada pelaksanaan Siklus I, II dan III telah mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan guru telah memanfaatan media pembelajaran yang berupa liquid chrystal display (LCD) dan juga speaker yang ada yang biasanya jarang sekali digunakan dalam proses pembelajaran, dalam pembelajaran ini kemanfaatannya digunakan untuk pemutaran media pembelajaran seperti video, gambar, slide powerpoint ataupun film oleh guru. Kondisi dari LCD dan juga speaker juga cukup baik, sehingga mendukung proses pembelajaran. 2. Performance Guru dalam Kelas Grafik Persentase capaian indikator performance guru dalam kelas pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III adalah disajikan pada gambar.

125 % 100% 80% 60% 40% 20% 0% Grafik Perubahan Prosentase Indikator Performance Guru Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III prasiklus siklus I siklus II siklus III Keterangan indikator: 1. Kemampuan membuka pelajaran 2. Sikap guru dalam proses pembelajaran 3. Penguasaan bahan belajar 4. Kegiatan belajar mengajar 5. Kemampuan menggunakan media pembelajaran 6. Evaluasi pembelajaran 7. Kemampuan menutup kegiatan pembelajaran 8. Tindak lanjut/follow up Gambar 4.10 Grafik Perubahan Persentase Indikator Performance Guru Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III Memperjelas grafik 4.10, secara rinci pada (Lampiran 24) dan terangkum pada Tabel 4.45 berikut. Tabel 4.45 Persentase Capaian Indikator Performance Guru Dalam Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, Dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra-Siklus Siklus I Siklus II Siklus III 1 Kemampuan Membuka 40% 60% 100% 100% Pelajaran 2 Sikap Guru dalam Proses 50% 100% 100% 100% Pembelajaran 3 Penguasaan Bahan Belajar 50% 75% 100% 100% (Materi Pelajaran) 4 Kegiatan Belajar Mengajar 100% 100% 100% 100% (Proses Pembelajaran) 5 Kemampuan 50% 100% 100% 100% Menggunakan Media Pembelajaran 6 Evaluasi Pembelajaran 100% 66,67% 100% 100% 7 Kemampuan Menutup 33,33% 100% 100% 100% Kegiatan Pembelajaran 8 Tindak Lanjut/Follow up 66,67% 100% 66,67% 100% Jumlah ,67 766, Rata-rata 60% 86,67% 96,67% 100%

126 105 Diagram perubahan persentase capaian aspek performance guru dalam kelas pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III adalah sebagai berikut. 100,00% 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% 60,00% 96,67% 100% 86,67% Prasiklus Siklus I Siklus II Siklus III Performance guru dalam kelas Gambar 4.11 Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Performance Guru Dalam Kelas Pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III Berdasarkan Tabel 4.45 menunjukkan persentase capaian indikator performance guru dalam pembelajaran yang selalu meningkat dalam tiap Siklusnya. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa performance guru dalam pembelajaran sudah meningkat secara optimal yang dibuktikan dengan pendekatan dan model pembelajaran yang diterapkan dalam tindakan ini sudah dapat terlaksana dengan baik.

127 Iklim Kelas Grafik Perubahan Persentase Indikator Iklim Kelas Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III prasiklu s siklus I Keterangan indikator: 1. Kekompakan siswa 2. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran 3. Kepuasan siswa 4. Dukungan guru dalam kegiatan pembelajaran Gambar 4.12 Grafik Perubahan Persentase Indikator Iklim Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III Berdasarkan Gambar 4.12 terlihat semua indikator iklim kelas meningkat dari hasil Pra-Siklus hingga pada saat pelaksanaan Siklus III. Adapun capaian indikator iklim kelas secara keseluruhan dari Pra-Siklus hingga Siklus III ditunjukkan secara rinci pada (Lampiran 25) disajikan pada Tabel Tabel 4.46 Persentase Capaian Indikator Iklim Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, Dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra- Siklus I Siklus II Siklus III Siklus 1 Kekompakan siswa 50% 66,67% 72,22% 86,11% 2 Keterlibatan siswa 58,33% 75% 77,77% 86,11% dalam pembelajaran 3 Kepuasan siswa 52,77% 63,88% 80,55% 91,66% 4 Dukungan guru dalam 55,56% 66,67% 75% 86,80% kegiatan pembelajaran Jumlah 216,11% 272,22% 305,54% 347,21% Rata-rata 54,16% 68,05% 76,38% 86,80% Berdasarkan Tabel 4.46 capaian indikator iklim kelas untuk setiap Siklus tindakan yang dilaksanakan dalam pembelajaran memberikan hasil yang meningkat yang dibuktikan dengan frekuensi keterlibatan dan kekompakan siswa menjadi lebih banyak serta dukungan guru dalam proses pembelajaran yang lebih

128 107 baik. Selain itu, siswa memiliki kepuasan dalam mengikuti proses pembelajaran yang ditunjukkan oleh ketertarikan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran terutama sangat terlihat pada saat pembelajaran Siklus III. Tabel 4.47 Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra- Siklus I Siklus II Siklus III Siklus 1 Hubungan antarsiswa 52,78% 70,83% 74,99% 86,11% 2 Hubungan antara siswa 55,55% 65,28% 77,75% 87,49% dengan guru Jumlah 108,33% 138,11% 152,76% 173,60% Rata-rata 54,16% 68,05% 76,38% 86,80% Diagram perubahan persentase capaian aspek iklim kelas pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III disajikan pada gambar. 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% 74,99% 70,83% 52,78% 1.Hubungan antarsiswa 86,11% 87,49% 55,55% 65,28% 77,38% 2.Hubungan antara siswa dengan guru Prasiklus Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 4.13 Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Iklim Kelas Pada Pra-Siklus, commit Siklus to I, user Siklus II Dan Siklus III

129 108 Berdasarkan Tabel 4.46 capaian aspek iklim kelas meningkat setiap Siklus Tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa iklim pembelajaran di dalam kelas semakin kondusif dan memberikan dampak yang nyata bagi proses pembelajaran di dalam kelas. Hubungan antarsiswa dan antara siswa dan guru yang baik dalam proses pembelajaran akan memberikan kontribusi yang baik pula dalam proses pembelajarannya. Sebaliknya, apabila hubungan antarsiswa dan antara siswa dengan guru kurang berjalan secara optimal maka proses pembelajaran yang berlangsung menjadi kurang bermakna bagi siswa sehingga menciptakan iklim pembelajaran yang kurang kondusif sehingga tidak mendukung tercapainya kualitas pembelajaran yang optimal. 4. Sikap ilmiah Grafik Perubahan Persentase Indikator Untuk Lembar Observasi Sikap ilmiah Siswa dalam Pembelajaran Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III prasiklus siklus I siklus II siklus III Keterangan indikator: 1. Rasa ingin tahu 2. Berani dalam bertanya dan berargumen 3. Mengomentari dan memberi saran terhadap jawaban yang kurang tepat 4. Kerja sama 5. Jujur 6. Tekun dan tidak mudah menyerah Gambar 4.14 Grafik Perubahan Persentase Indikator Sikap ilmiah dalam Pembelajaran Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III Berdasarkan Gambar 4.14 dapat diketahui semua indikator sikap ilmiah dalam pembelajaran yang meningkat dari hasil Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III. Hal ini didukung dengan data capaian indikator dari Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III seperti terdapat pada (lampiran 26) dan terangkum pada Tabel 4.48.

130 109 Tabel 4.48 Persentase Capaian Indikator Sikap Ilmiah Siswa Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, Dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra-Siklus Siklus I Siklus II Siklus III 1 Rasa ingin tahu terhadap 58,33% 77,78% 83.33% 91,67% materi biologi 2 Berani dan santun dalam 36,11% 55,56% 69,44% 77,78% mengajukan pertanyaan dan berargumentasi 3 Mengomentari dan memberi 30,55% 47,22% 55,56% 75% saran terhadap jawaban yang kurang tepat 4 Bekerja sama 52,77% 66,67% 77,78% 83,33% 5 Jujur 69,44% 75,00% 86,11% 88,89% 6 Tekun dan tidak mudah 58,33% 69,44% 72,22% 86,11% menyerah Jumlah 305,53% 391,67% 444,44% 502,78% Rata-rata 50,92% 65,27% 74,07% 83,79% Berdasarkan Tabel 4.48 capaian untuk setiap indikator sikap ilmiah siswa meningkat dalam setiap Siklusnya. Peningkatan nilai tiap-tiap indikator ditunjukkan oleh adanya sikap siswa yang menunjukkan sikap ilmiah yang berkembang dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini didukung dengan adanya data-data, gambar, slide, video, kemudian siswa melakukan pengamatan sambil melakukan interaksi dengan lingkungan belajarnya secara langsung, adanya pembuktian dengan praktikum, adanya diskusi kelas hal ini merupakan hal yang baru dan menarik rasa ingin tahu siswa ataupun indikator sikap ilmiah yang lain. Dengan cara tersebut sikap ilmiah dapat berkembang sehingga mendukung tercapainya kualitas pembelajaran yang optimal. Diagram perubahan persentase capaian aspek sikap ilmiah siswa pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III adalah disajikan pada Gambar 4.15.

131 110 Ketercapaian (%) 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 83,79% 74,07% 65,27% 50,92% Prasiklus Siklus I Siklus II Siklus III 10,00% 0,00% Aspek Sikap Ilmiah Siswa Gambar 4.15 Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Sikap ilmiah Pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III Berdasarkan Tabel 4.48 capaian aspek sikap ilmiah siswa dalam proses pembelajaran yang berupa sikap ilmiah dalam pembelajaran biologi meningkat dalam setiap Siklusnya Motivasi berprestasi 0 Grafik Perubahan Persentase Indikator Motivasi Belajar Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III 86,11 91,67 86,11 83,3383,3380,55 86,1186,11 88, prasiklus siklus I siklus II siklus III Keterangan indikator: 1. Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi 2. Kegiatan untuk mencapai prestasi 3. Cermat menentukan target prestasi 4. Usaha menanggulangi berbagai penghambat dalam pencapaian prestasi 5. Menemukan suatu cara penyelesaian masalah yang lebih singkat dan mudah 6. Menyukai tantangan baik dari dalam maupun luar 7. Kesempurnaan penyelesaian tugas 8. Melakukan kegiatan diskusi dengan baik 9. Percaya diri dan tangguh dalam pembelajaran dan menyelesaikan tugas Gambar 4.16 Grafik Perubahan commit Persentase to user Indikator Motivasi Berprestasi Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III

132 111 Berdasarkan Gambar 4.16 dapat diketahui semua indikator motivasi berprestasi siswa dalam pembelajaran yang meningkat dari hasil Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III. Hal ini didukung dengan data capaian indikator dari Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III seperti terdapat pada (lampiran 27) disajikan pada Tabel Tabel 4.49 Persentase Capaian Indikator Motivasi Berprestasi Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra- Siklus I Siklus II Siklus III 1 Sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi 2 Kegiatan-kegiatan untuk mencapai prestasi 3 Cermat menentukan target prestasi 4 Usaha menanggulangi berbagai penghambat pencapaian keberhasilan 5 Menemukan suatu cara penyelesaian masalah yang lebih singkat dan mudah 6 Menyukai tantangan baik dari dalam maupun luar 7 Kesempurnaan penyelesaian tugas 8 Melakukan kegiatan diskusi dengan baik 9 Percaya diri dan tangguh dalam pembelajaran dan menyelesaikan tugas Siklus 66,67% 75% 80,55% 86,11% 61,11% 75% 80,55% 91,67% 50% 66.67% 75% 86,11% 61,11% 69.44% 72,22% 83,33% 58,33% 63,89% 77,78% 83,33% 50% 52,78% 61.11% 80,56% 66,67% 66,67% 77,78% 86,11% 55,56% 63,89% 77,78% 86,11% 50% 58,33% 66,67% 88,89% Jumlah 519,44% 591,67% 669,42% 772,22% Rata-rata 56,60% 65,74% 74,38% 85,80% Berdasarkan Tabel 4.49 capaian indikator motivasi berprestasi siswa meningkat setiap Siklusnya, terutama pada Siklus III peningkatan capaian indikator motivasi berprestasi siswa commit cukup to user tinggi melebihi batas tuntas kualitas

133 112 pembelajaran. Mendukung tercapainya kualitas pembelajaran yang optimal karena faktor utama dalam belajar adalah motivasi dari dalam diri siswa itu sendiri. Apabila siswa sudah memiliki motivasi yang tinggi maka akan mendukung terlaksananya proses pembelajaran yang optimal sehingga memberikan hasil yang optimal pula. Capaian aspek motivasi berprestasi siswa untuk setiap Siklusnya tersaji pada Tabel Tabel 4.50 Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra- Siklus I Siklus II Siklus III Siklus 1 Berorientasi pada 66,17% 75% 80,56% 89,28% keberhasilan 2 Antisipasi kegagalan 58,82% 68,05% 73,61% 84,72% 3 Inovatif 54,41% 58,33% 69,44% 81,94% 4 Tanggung jawab 56,86% 62,96% 74,07% 87,03% Jumlah 238,22% 264,35% 297,68% 342,97% Rata-rata 59,06% 66,08% 74,42% 85,74% Diagram perubahan persentase capaian aspek motivasi berprestasi pada Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III adalah sebagai berikut. Ketercapaian (%) 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 85,74% 74,42% 66,08% 59,06% Prasiklus Siklus I Siklus II Siklus III 10,00% 0,00% Aspek Motivasi Berprestasi Gambar 4.17 Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Motivasi Berprestasi Pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus III

134 113 Berdasarkan Tabel 4.50 capaian aspek motivasi berprestasi menunjukkan peningkatan yang signifikan setiap Siklusnya. Meskipun pada Siklus I masih belum menunjukkan nilai ketuntasan kualitas pembelajaran yang baik, tetapi hasil tersebut meningkat dalam pelaksanaan di Siklus II dan Siklus III. Dapat disimpulkan bahwa hasil refleksi tiap-tiap Siklus sudah dilaksanakan dengan baik. Sebagai akibatnya nilai capaian aspek dapat meningkat secara optimal. Berdasarkan uraian data diatas dapat diketahui persentase capaian tiap aspek kualitas pembelajaran berdasarkan data hasil triangulasi. Untuk lebih jelasnya persentase capaian tiap aspek kualitas pembelajaran biologi pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III disajikan pada Tabel 4.51 dan Gambar 4.18 Tabel 4.51 Perbandingan Capaian Aspek Kualitas Pembelajaran Biologi Pra- Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III No Indikator Capaian Indikator (%) Pra-Siklus Siklus I Siklus II Siklus III 1 Performance guru 60% 86,67% 96,67% 100% 2 Iklim kelas 54,16% 68,05% 76,38% 86,80% 3 Sikap ilmiah 50,92% 65,27% 74,07% 83,79% 4 Motivasi berprestasi 57,71% 65,74% 74,38% 85,80% Jumlah 222,79% 285,73% 321,5% 356,39% Rata-rata 55,69% 71,43% 80,37% 89,09% Diagram Perbandingan Persentase Capaian Kualitas Pembelajaran Biologi Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III 89,09 80,37 71,43 55, kualitas pembelajaran biologi Prasiklus Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 4.18 Diagram Perubahan Persentase Capaian Aspek Kualitas Pembelajaran Biologi Pada Pra-Siklus, Siklus I, Siklus II Dan Siklus II