PWR SEBAGAI jenis PLTN PALING LAKU SAAT INI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PWR SEBAGAI jenis PLTN PALING LAKU SAAT INI"

Transkripsi

1 PWR SEBAGAI jenis PLTN PALING LAKU SAAT INI MURSID DJOKOLELONO *) ABSTRAK Gambaran ten tang PLTN jenis PWR dijelaskan secara singkat, yoitu mengenai: design dari sistim pembangkit uap nukl ir, daur bahanbakar dan pengurusan sampah radioaktif. Kenyataan bahwa PWR adalah jenis yang paling laku dijelaskan, disamping itu pula diterangkan tentang kegagalan_kegagalan yang pernah terjadi. ABSTRACT A view on PWR type nuclear power plants is concisely presented, i.e.: design of nuclear steam supply system, fuel cycle, waste management. The evidence of most sellable type as well as failure ore summeri zed. PENDAHULUAN Pembangki t Iistrik tenaga nukl ir dengan reaktor jenis air_tekan atau pressurized water reactor, PWR, menggunakan air yang bertekanan tinggi (sekitar 140 atmosfir) untuk mengambil panas dari reaktornya. Tekanan tinggi ini diperlukan agar pendingin secara keseluruhan tidak mendidih didalam mendinginkan teras reaktor. Panas yang diambil deri teras reaktor ini di dalam air pembangkit_uap (steam generator) digunakan untuk membuat uap jenuh bertekanan sekitar 40 atmosfir, yang akan di_ alirkan untuk memutar turbin. Puteran turbin ini sekaligus memutar generator listrik, sehingga diperol eh hasil akhir berupa tenaga Iistrik. GAMBARAN TENTANG PLTN JENIS PWR Secara sepintas suatu PLTN jenis PWR akan terlihat sebagai suatu kelompok bangunan seperti pada PLTU_minyak. Hanya saj a terdapat kubah tertutup (contai nment building) dimana di dalamnya berada reaktor don peralatan nuklir lainnya yang merupakan sisti m pembangki t_uap nuklir (nucl ear steam suppl y system). Jodi kubah *) Pusat Penelitian Gama, BATAN 34

2 tertutup pada PUN berfungsi boil er poda PLTU. Sebuah contoh dapat dil ihat pada gambar 1, rancangan PLTN Braidwood do Byron. Diagram aliran dari PWR dapat dilihat pada gambar 2, PUN Indian Point unit 2. Sistim primer yang bertekanan tinggi terpisah dengan sistim sekunder yang merupakan sistim primer adalah: bejana tekan (pressure vessel); pengatur tekanan (pressurizer); pembangki t _uap (steam generator); pompa sirkulasi. Gombar 3 menunjukkan bejana tekan, yang terbuat dari low_alloy carbon steel, beserta isinya yaitu: - perangkat_perangkat bahan bakar don kontrol; perisai termal, sebagai pel indung di ndi ng bejana terhadap radicsi dan tegang termal; keranjang teras (core barrel), pada mana perangkat bahan bakar don perisai termal bertumpu; pipa_pipa bimbing untuk instrumentasi, di bawah teras; pipa_pipa bimbing untuk perangkat kontrol, diatas teras. Perangkat kontrol ini digerakkan dari atas, dari Iuar bejana, dengan bantuan batang_gerak yang menembus Iewat tutup bejana. Dolam gambar 4 tertera perangkat bahanbakar (fuel assembl y) beserta perangkat kontrol (control cl uster assembl y ). Dolam teras reaktor j umlah perangkat kontrol kira_ki ra sepertiga jumlah perangkat bahanbakar. Dolam perangkatnya, batang_batang bahanbakar tersusun menurut kisi persegi, antara 14 x 14 deret. Tiap batang terdiri dari susunan pil_pil U02 dengan perkayaan 2,25 _ 3,3% U235 di dalam kelongsong zircaloy atau stainless steel. Sedang tiap batang kontrol tersusun dari pil_pil B4C atau Ag_ln_Cd di dalam kelongsong stainless steel. Batang_batang kontrol dengan susunan ini memberikan serapan Iebi h homogen dari pada batang berpenampang pal ang Kontrol reaktivitas jangka panjang dilakukan pula dengan "burnable poison", yaitu dengan mengganti batang bahanbakar dengan batang yang berisi borosilicate glass dol am kelongsong stainless steel. Disamping itu kontrol reaktivitas dilakukan pula dengan "chemical shim", yaitu adanya boron (asam borat) yang dapat diubah konsentrasinya di dalam pendingin. Hal ini sangat membantu mengurangi gerakan batang kontrol, yang mana perl u di cadangkan untuk mengatasi keracunan xenon. Gombar 5 menunjukkan contoh susunan perangkat di dalam teras menurut perkaya_ annya. Di sini teras terbagi dalam tiga daerah sebenarnya, tetapi duo daerah dicampur seperti papan catur. Perkayaannya adalah: 2,25%, 2,80% don 3,30%. Contoh pengaturan perangkat kontrol dapat di Iihat pada gambar 6 menurut fungsi nya perangkat ini dik~lompokkan menurut kelompok "shut_down" don kelompok kontrol. Sudah tentu dalam bekerjanya reaktor maka kelompok shutdown berada dalam posisi di atas teras. Sedang pada gambar 7 diberikan contoh pengaturan burnabl e poison dalam teras reaktor. Di sini terdapat perangkat bahanbakar yang disisipi / diganti dengan 8, 9, 12, 16 don 20 batang burnabl e poison. Gombar 8 menunjukkan sebuah pressurizer yang dalam bekerjanyc; separo terisi air. Unsur utamanya adalah pemanas Iistrik dan moncong_sembur air. Uap yang dihasilkan 01 eh pemanas pada suatu suhu tertentu mempertahankan tekanan pada ti ngkat tertentu pula. Perubahan dalam beban listrik hanya akan mengubah tinggi permukaan air untuk sementara soja. Pemanas akan bekerja untuk mengimbangi turunnya tekanan bila beban Iistrik naik. Sebal iknya pada turunnya beban, air akan disemburkan masuk dari atas untuk mengurangi tekanan. Bagian utama dari suatu steam generator pada gambar 9, ialah pipa_pipa pindah panas yang berbentuk U don di atasnya adalah alat_alat pemisah lengas (moisture separator) 35

3 GAMBAR PLTN Braidwood (atas) dan duplikatnya PLTN Byran (bawah). Keduanya jenis PWR dengan daya masing_masing 2 x 1120 MWe yang direncanakan untuk beroperasi mulai akhir tahun Design hanya berbeda dalam pendinginan kandensar dan perbedaan akibat keadaan tanah setempat. 36

4 ./ / I PRESSURIZER STEAM GENERATORS (4) COOLANT..=S:J 5'h HEATERS "'-. NUCLEAR STEAM \ SUPPL Y SYSTEM (3) \ I r-i ' I AI I + I I I I I! I i r---y-----, I r----- """T, - - r " MOISTURE SEPARATORS (6) , II GENERA TOR r, I HEATERS (each af 3 un;',) FLOW DIAGRAM INDIAN POINT_2 GAMBAR 2. DIAGRAM All RAN

5 I III CONTROL ROD t3;Ji1:;l1'4'~,.{/ '\ "'- / - INSTRUMENTATION DRIVE LEDGE MECHANISM PORTSPLATE / J ASSEMBL CLUSTER II1I1I I DRIVE SHAFT VCASTING (WITHDRAWN) CLOSURE HEAD OUTLETSUPPORT NOZZLE CONTROL COLUMN ROD CONTROL ROD / /,""MAC"" r- LIFTING LUG CONTROL HOLD,DOWN RODSPRING GUIDE INLET TUBE ACCESS NOZZLE PORT REACTOR LOWER CORE VESSEL PLATE GAMBAR 3 REACTOR VESSEL I NTERNALS 38

6 -.--- Cross Section of Typical Four-Loop Core (193 Fuel Assemblies) CONTROL ROD ASSEMBLY FUEL ROD GRID ASSEMBLY ABSORBER ROD GUIDE THIMBLE GRID ASSEMBLY DASH POT REGION is ;; '" o I: o '" GAMBAR 4 PERANGKAT BAHAN BAKAR DAN KONTROl 39

7 GAMBAR 5: PENGATURAN PERANGKAT BAHANBAKAR MENURUT PERKAYAAN SECARA 3 DAERAH DENGAN PAPAN CATUR DI TENGAH 2,25 2,8 3,3 perkayaan, % _ berat 40

8 x x GAMBAR 6: PENGATURAN PERANGKAT KONTROL shutdown group ~ IT!!ill ~ ~ control group Em ~ ~ rnrn fmjj X (sebagian) (tempat cadangan) jumloh

9 m~ GAMBAR 7: PENGATURAN PERANGKAT MENURUT BANYAKNYA "BURNABLE POISON" 8. berisi "burnable poison" 8 9 bt., jumlah iumlah bt., don jumlah bt source, jumlah 2. 42

10 RELIEF NOZZLE MANWAY UPPER HEAD HEATER SUPPORT PLATE LOWER HEAD INSTRUMENTATION NOZZLE ELECTRICAL HEATER SUPPORT SKIRT GAMBAR 8 PRESSURIZER Gf..MB":-.R 9 STEAM GENERA TOR 43

11 Seluruh alat_alat dari sistim primer, termasuk juga penyimpanan sementara spent fuel terkurung dalam gedung containment. Containment ini merjoga penyebaron zat_zot radjoaktif dalam hal terjadinya kecelakaon kebocoran sistim primer, disamping itu juga sebogoi perisai radiasi. Jenis containment yang digunakan untuk PWR adalah full pressure containment, baik tunggal atau dobel, sedang design yang baru adalah "ice condenser containment system". Gombar 10 menunjukkan bagan dari containment ini, yang terdiri dari tiga ruangan utama. Bilik bawah dimana terdapat alat_alat sisti m primer dol am keadaan darurat akan dihubungkan den9an bil ik atas Iewat bil ik refrigerator. Dengan cora ini uap air yang ado akan berkondensasi / subl imasi, sehingga tekanannya dapat ditindas. PENGURUSAN SAMPAH RADIOAKTIF Isotop-isotop radioaktif yang terdapat pada PLTN berasal dari bahanbakar, dari reaksi pembelahan dalam bahanbakar don dari hasil aktivasi netron dalam bahan struktur, bahan moderator / pendingin don dalam bahan Iainnya. Isotop_isotop atau zat_zat radioaktif hasil fisi yang terlepas dari kelongsongnya don zat_zat radioaktif hasil aktivasi i nil ah yang disebut "sampah", yang memerl ukan pengurusan tersendiri agar tidak membahayakan para pekerja don Iingkungan. Sampah ini dapat berupa zat padat, cairan ataupun gas, yang dalam pengurusannya diperlakukan sendiri-sendiri sesuai dengan pembagian itu. Pada PLTN jenis PWR, sampah terbanyak dalam hal volum don aktivitasnya adalah berupa cai ran, terutama cairan Iebihan dari pendi ngin primer. Seperti diketahui pada jenis PWR untuk kontrol reaktivitas ke dalam moderator/pendingin ditambahkan larutan asam borat, don untuk menekan Ioj u radial isa di tambahkan gas hi drogen, sedang untuk menekan Ioj u korosi diadakan pengontrol an ph dengan menambahkan hidroksi do Ii tium_7 Bila diperl ukan pengenceran kadar boron, maka akan di tambahkan air, sedang untuk memperpekat ditambahkan cairan pula tetapi lebih pekat. Ini berarti selalu ado tambahan vol um. Begi tu pula pada kenaikan suhu moderator terjadi expansi sehi ngga diperoleh lebihan lagi. Padahal di dalam sistim primer terlarut gas-gas hasil fisi, zat_zat hasil aktivasi termasuk hasil_hasil korosi, oleh karena itu lebihan cairan pendingin berarti tambahan sampah. Larutnya gas-gas hasil fisi ini adalah akibat difusi V lewat bahan kelongsong, apalagi kalau terdapat kebocoran kelongsong maka akan terikut pula isotop_isotop hasil fisi lainnya. Hasil korosi tentunya bergantung pada bahan apa yang digunakan, biasanya me_ ngandung isotop_isotop radioaktif seperti Co_60, Mn_56, Fe-59 don Cr_51. Tritium juga terjadi di dalam pendingin dari reaksi netron dengan boron don litium. Sampah cair yang lain aclalah dari kebocoran_kebocoran, bekas untuk analisa (sampling), bekasdekontami nasi don sebagai nya. Untuk jenis PWR pendi ngi n sekunder, yang merupakan zat_kerja pada bagian konvensionil dari PLTN, hanya akan terkontaminasi apabil a terjadi kebocoran dol am pembangkit_uap. Sampah padat terdiri dari filter_filter don penukar_ion, alat_alat serta pakaian yang terkontaminasi don sebagainya. Sampah gas pada jenis PWR jumlahnya sedikit, yang bagian utamanya adalah hidrogen, tercampur dengan gas_gas mulia xenon dan kripton. Polo pengurusan sampah pada umumnya adalah: - Sampah gas dikumpulkan, diberikan waktu "delay" sampai aktivitas menurun, dilewatkan fil ter, kemudian dibuang lewat cerobong menurut porsi_porsi tertentu yang dikontrol dengan monitor_monitor. - Sampah cair dikumpulkan, dibersihkan dari gas_gas yang terlarut, dilewatkan resi n_resi n penukar ion, di moni tor don dibuang dol am porsi _porsi tertentu (dengan 44

12 GAMBAR 10 Main steam Steam generator encl osure Pressuri zer Pressuri zer enclosure Ice hatch UPPER COMPARTMENT PLAN VIEW Ventilating unit (4) Reactor Pressurixer pump (4) Personnel lock pump LOWER COMPARTMENT PLAN VIEW ELEVATION OF AN ICE CONDENSER PWR CONTAINMENT

13 ,. I I I I - I_~_ ---.&._! I. r.l_~ &. =_= =,.."'1...,..... _.. diencerkan bila perlu) ke kanal pembuangan ke sungai atau ke laut. Dalam hal ini gas yang terbebaskan diperlakukan sebagai sampah gas, sedang resin penukar ion kemudian diperlakukan sebagai sampah padat. _ Sampah padat dikumpulkan, yang masih bisa diperkecil volumenya di press yang bisa terbakar dibakar untuk kemudian abunya direkat sedang gas diperlakukan sebagai sampah gas, yang mudah tersebar direkat, dimasukkan dalam wadah dan kemudian dikirim ketempat penyimpanan. Tempat penyimpanan ini mula_mula di daerah PLTN itu, kemudian dipindah ke tempat khusus untuk selamanya. Sebuah contoh pada gambar 11 adal ah pengurusan sampah pada PLTN San Onofre. Dalam contoh ini asam borat yang telah diperlakukan sebagai sampah tidak diperoleh kembali. Pada PWR yang lain asam borat diperoleh kembali dengan menggunakan penukar _kation dan evaporator. DAUR BAHAi"-JBAKAR(FUEL CYCLE) Dalam menilai beaya bahanbakar (fuel cost) pada PLTN diperlukan pengetahuan tentang tahap-tahap daur. Termasuk dalam satu daur adalah tahap-tahap berikut: - pembelian U30S - konversi U30S menjadi UF6 _ pengayaan (emi chment) - fabrikasi perangkat bahanbakar - operasi dalam reaktor _ penyimpanan sementara untuk menurunkan radioaktivitas _ proses ulang bahanbakar - penjualan U sisa,ian Pu sisa. Karena satu daur memerlukan waktu dapat sampai 6 tahun, maka faktor bunga modal yang dipakai untuk pembel ian bahanbakar akan ikut menentukan beaya bahan bakar, di samping ongkos-ongkos langsung yang dikel uarkan untuk tiap-tiap tahap serta transportasi dan administrasi. Suatu contoh jadwal waktu untuk tahap_tahap daur dapat dilihat pada gambar 12. Banyaknya bahan yang terlibat dalam setiap tahap untuk PLTN jenis PWR dapat dilihat dalam gambar 13. Di sini ditunjukkan berapa kg bahan yang diperlukan tiap kg uranium sebagai perangkat bahanbakar yang siap dipakai di dalan. teras reaktor. Misalnya untuk PLTN jenis PWR dengan daya sebesar 480 MWe memerlukan bahanbakar sekitar 47 ton untuk teras reaktornya, maka untuk ini diperlukan pembelian U30S sebanyak x 6,96 kg = 327 ton. Selanjutnya untuk tiap pengisian ulang (reload) akan diperlukan kira_kira sepertiga dari jumlah yang ada di dalam teras, yaitu sebanyak 16 ton U,. atau sebanyak 109 ton U30S' Dalam hal ini bila burn_up sebesar MWtD/ ton U tercapai dan efisiensi PLTN sebesar 0,30, maka bahanbakar sejumlah 16 ton itu akan dapat menyediakan listrik sejumlah x 0,30 x 16 x 1/480 = 315 hari, untuk daya penuh sebesar 480 MWe. Oleh karena itu bila waktu yang diperlukan untuk reload tidak lebih dad 45 hari, maka selang waktu di an tara reload dapat diambil satu tahun. Kemudian setelah kita tahu banyaknya bahan, kita akan dapat memperkirakan beaya yang terlibat dalam tahap_tahap itu. Sudah tentu bila harga bahan dan tarif ongkos_ongkos diketahui. Dengan mengambil tarif seperti dalam tabel I suatu skema arus beaya dari bahanbakar untuk setiap kg dapat dibuat. Skema tersebut tertera dalam gambar 14. Terlihat bahwa bagian terbesar ongkos adalah untuk perkayaan dan fabrikasi, jadi bukan harga bahan mentahnya. Biarpun pada akhirnya suatu juml ah kecil akan dapat diperol eh kembal i, tetapi Pu dan U kredi t ini baru diperol eh setel ah waktu yang lama. 46

14 GASEOUS WASTES Sampling stotions Coolant system Drain tonk venl Preuure relief tank, etc. GAS SURGE TANK I sgfm (125 r.3) COMPRESSOR DECA Y (3_125 DRUMS fr3et!) :... ROUGHING fll TER HEPA fll TER ,,, Ril VENT 100 psi 2_20,000 sfm BLOWERS flash TANK (770 gal) flash TANK BUILDING HOLDUP VENTS TANKS LIQUID WASTES Boron dil ution wastes I gal/yeor 200 IlGI ml HOLD_UP TANKS (3_7000 (,3) r- - --I, ' I 6Ril Contaminated drains, showers Sumps, Detergent wostes Decon. area DECON. DRAIN TANK (2600 gal) Filler Radiochemistry lab so~les CIRCULATING 350,000 gpm WATER SOLID WASTES Compressible wastes Non co~ressibl e wastes Spent resins STORAGE VAULT Below (2000 f,3) 650 ~o fr3." D<ums O '--, STORAGE TANK (700 f,3) SPENT RESIN GAMBAR 11. PENGURUSAN SAMPAH PLTN SAN ONOFRE

15 8Y rei aad N Sale IPurchase ~ uran. + enr. :j 3 ~!... 1stfabrication core 3 t I uran. 1st core + enr n o 3 a. ~. Q -. ~ 0 " :J uran. + enr. 1st rei oad (2nd cycle) fabrication 1st reload uran. + enr. 2nd reload (3rd rei oad ),N fabrication 2nd reload reprocessing, 1/3 1st core n o ;0 1/3 1st core 1st rei aad

16 I ke Perkayaan Konversi UFs Fabrikasi Pengolahon Operasi ulang reaktor! ARUS BAHAN TIAP kgu BAHANBAKAR UNTUK PWR, - I.' 5,9 kgu 5,88 kgu 1,003 kgu 6,96 kgu30s 3,2% enr. 15,33 IbUps 12,95 IbU 3,936 kgu SW 1,000 kgu 3,2% enr. Burn_up 31,5 MWD/kg (mass0, ,229 9 neut.) 9,92 9 Pu 6,7 9 PUf 0,933 kgu 0, 82% enr" 0,02 kgu (loss 0,4%) 4,877 kgu 0,2 % enr" 0,003 kgu 0,0362 kg 0,25 9 Pu 20 g U (loss 0,3 ~1~ ---,_f_is_s_. _p_ro_d_"_(l_oss_2_'5_0_yo_) ( 2_0A_O_IO_S_S _)---' GAMBAR 13

17 Pengetahuan mengenai daur bahanbakar di atas akan diperlukan dalam menghitung ongkos bahanbakar (fuel cost) yang untuk PLTN jenis PWR akan berjumlah kira_kira 30% saja dari seluruh ongkos produksi. Lainnya, sebesar 15% untuk ongkos-ongkos operasi dan pemel iharaan, sedang sebagian besar (55 %) adalah beaya modal (capital cost). Angka_angka generation cost dan construction cost sendiri kiranya akan di_ bicarakan dalam tulisan_tulisan lain. Di sini kami hanya ingin menambahkan bahwa kita masih harus berhati_hati dalam menerapkan dengan kondisi di Indonesia, apalagi untuk sepul uh tahun mendatang. Pada umumnya hasil_hasil perhitungan, baik menurut metode "equil ibrium" maupun "present Worth" sudah cukup tel iti kalau dipakai untuk tujuan planning. JENIS YANG PAll NG LAKU DI DUNIA Kalau kita kumpulkan PLTN-PL TN yang telah terpasang, dalam pembangunan dan pemesanan, dengan mengecual ikan yang berdaya kecil untuk experimen (daya kurang dari 20 MWe), maka akan kita peroleh gambaran reaktor_reaktor apa yang paling laku sampai saat ini [7]. Dalam gambar 2 tertera bahwa unit terpasang seluruhnya sebanyak 127, yang menghasilkan daya MWe. Biarpun jenis PWR hanya menempati nomor dua sesudah GCR, tetapi daya total yang dihasilkan menempati nomor pertama. Urutan nomor 1 PWR dan nomor 2 BWR ternyata berlaku baik dalam unit maupun daya bagi PLTN dalam pembangunan, ataupun yang sudah dalam pemesanan. Sehingga dalam jumlah total kita dapat menyimpulkan PLTN jenis PWR_lah yang merupakan jenis paling laku di dunia ini. Interpretasi selanjutnya dari tabel ini adalah bahwa jenis GCR yang sudah ada tidak akan bertambah lagi, sedang penggantinya sedang dibangun jenis AGR. Tetapi berikutnya, AGR_pun dari yang sedang dibangun tidak direncanakan lagi, dalam hal ini penggantinya adalah PHWR_CANDU yaitu jenis yang memanfaatkan uranium alam dengan pendi ngi n & moderator ai r berat. PERUSAHAAN_PERUSAHAAN YANG BERSANGKUTAN Dari 173 unit jenis PWR di atas, maka perusahaan penjual reaktor Westinghouse Electri c Corporation mencapai 81 unit, atau MWe. Baru kemudian perusahaan Combustion Enginering 23 unit, MWe dan Babcock & Wilcox 23 unit, MWe. Unit terbesar dari jenis PWR yang telah terpasang adalah dari Westinghouse, sebesar 1100 MWe untuk PLTN Zion_l milik Commonwealth Edison Company USA, dan ini pula merupakan unit daya terbesar dari semua jenis yang telah terpasang. Sebagai bandingan: unit terbesar untuk BWR adalah 800 MWe untuk PLTN Dresden-2 dengan reaktor dari General EIectri c Company. Selcnjutnya untuk PLTN yang sedang dibangun maupun dipesan, yang terbesar daya unitnya juga PWR, yaitu dari penjual_penjual reaktor Brown Boveri Kraftwerk Union AG, Babcock & Wilcox, masing_masing 1300 MWe. Mengenai generator suppl ier, maka 80 di an tara PLTN_PL TN dalam tabel 1 itu dari perusahaan Westinghouse pula, kemudian baru General Electric. Memang tidak semua reaktor Westinghouse dengan turbogenerator Westinghouse begitu pula sebaliknya, misal nya tidak semua BWR dari General EIectric memakai turbogenerator dari perusahaan tersebut. 50

18 TABEL 1 DAFTAR TARIF UNTUK DAUR BAHANBAKAR Activities Spec. pri ces 1. Natural uranium, U30S _ yellow cake _ transportation to conversion pi ant 2. Conversion U30S... UF6 _ analysis, weighting - conversion U30S... UF6 _ transportation to enri chment piant 3. Enrichment _ enrichment incl. analysis, weighting (requi rement contract) _ packaging and handling 4. Fuel el ement fabri cation _ transportation to manufacturer plant - conversion UF6... U02 _ fabri cation, 1. core BWR PWR _ fabrication, l.reload BWR PWR _ fabrication, 6.reload BWR PWR _ transportation to power station 5. Reprocessi ng _ transportation to reprocessing pi ant _ reprocessi ng - conversion UNH... UF4 - conversion UF4... UF6 _ UF _proceeds _ Pu _proceeds 0,03 $/lbu 1,20 $/lbu 0,03 $/lbu 38,50 $ /kgswu 0,07 $/kgu 1,60 $/kgu 10,00 $/kgu 10,00 $/kgu 32,00 $/kgu 3,00 $/kgu 2,60 $/kgu appro 16,00 $/kgu 3,00 $/9Pufiss. f 1,26 $/I.U $ /kgu $/kgu $/kgu $ /kgu $ /kgu $/kgu Exampl e for spec. pri ces of the nucl ear fuel cycl e. (German power station, cost basis 1973) 51

19 (.1\ N 20.1 $ ARUS BEAYA TIAP kgu UNTUK PWR 15.0 U cred. ke Konversi $ Operasi UFe Fabrikasi reaktor Pengolahan ulang Pembelian Perkayaan Pu cred 91,98 $ 108,3 $ n~424,3 $ 471,3 $ 451,2 $ 436,2 $ ,32 $ I 152,0 $ I 164,0 $ I 147,0 $ 1 GAMBAR 14

20 TABEl 2 PLTN YANG TERPASANG, DALAM PEMBANGUNAN DAN PEMESANAN (Bohon disusun dari J. Nucl ear News, September 1973) -13 Daya, Doya, MWe Unit Unit Dolam Dolam 127 pembangunan Jum1ah pemesanan Terpasong u. ~

21 KEJADIAN_KEJADIAN KEGAGALAN Sukses PWR sebagai jenis paling laku tidok luput dari kejadian-kejadian kegagalan. Beberapa contoh yang berhubungan dengan kekurangan dalam hal design, fabrikasi don pemel iharaan tahun 1968 sampai dengen 1972 dapat dil ihat pada tabel berikut. Data ini disusun dari J. Nuclear Safety dari seri Operating Experiences, di bawah editor W.R. Casto. Dalam tabel tertera, misel nya, bahwe karena kabel-kabel yang terlal u berjubel sehi ngga thermall y overload telah menyebabkan kebakaran pada kelompok kabel (1). Karena vibrasi, yang disebabkan gaya-gaya aliran, maka bolt_bolt pada core barrel don thermal shield terjadi "fatique failure" (2, 3, 11). Beberapa batang bahanbakar, yang tidak diberi tekanan_dalam sebelumnya, telah mengalami deformasi dan bocor karena uranium di dalamnya menjadi lebih padat (densification) (10), dan selanjutnya. Kekurangan_kekurangan dalam design ternyata banyak ditemui setelah PLTN ber_ operasi, sehingga tidak mengherankan jika kegagalan serupa terjadi pada PLTN lain dengan design yang sama. Sedang kekurangan dalam fabrikasi serta instalasi me_ nyangkut sambungan_sambungan Ias (12, 13) don kurang cermat (7). Beberapa kegagalan yang disebabkan kurangnya lubrikasi dan kebersihan kiranya dapat dikurangi dengan Iebih seringnya mengadakan pemeriksaan (surveillance). BEBERAPA PERTIMBANGAN Jenis PLTN yang paling laku, yang dapat dibuat oleh penjual reaktor yang paling laku pula, tidak terlepas dari kegagalan_kegagalan. Bahkan kegagalan "fuel densifi_ cation" ini tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Kejadian itu sendiri tidak membawc. korban apapun, PLTN_nya tetap beroperasi, pada design sesudahnya telah dilakukan perbaikan, namun pengaruhnya sangat jauh. Kini pada penel itian keselamatan, yang dianggap suatu kecelakaan terbesar bukan sekedar LOCA (lose of coolant accident). tetapi di tambahkan dengan keadaan di mana beberapa bahanbakar mengal ami densi fikasi Mengenai kebutuhan bahan mentah, marilah kita bandingkan PLTN dengan daya 500 MWe untuk ketiga jenis, yaitu PWR yang menggunakan uranium dengan perkayaan rata_rata 3,2%, BWR perkayaan 2,6% don HWR_CANDU yang menggunakan uranium alam, yang masing_masing bekerja penuh 300 hari tiap tahun. HWR_CA 55,6 0, ,8 PLTN BWR ,56 1, ,33 16,5 91,6NDU 500 MWe PWR 110, ,87 6,96 0,30 Di sini terlihat bahwa kebutuhan pertama untuk masing_masing jenis PLTN itu sekitar 110, 94 dan 66 ton U30S Angka produksi ini terlalu rendah bila dibandingkan dengan produksi tambang yang dianggap ekonomis. Menurut perhitungan Alfredson (9) untuk Australia sebesar 500 ton/tahun minimal bagi penggunaan domestik, 54

22 TABEL 3 BEBERAPA KEJADIAN KEGAGALAN PADA PWR Year Defi cidesignreaction Maintenance DesignDensi DesignEnvironment DesignFlow Fabri DesignReaction Installation ency Cause Thermal Overloaded Core Lubri Explosive Zirconium Internal Inadequate Heating Fuel Cab Steam Safety_valve Item 34_in Thermal Isolation Miscellaneous Fuel rods barrel Ie shield shock hydriding & forces rods trays release welding pipe generator fuel Bending sl bol (fire) shield eeve valve fuel ts pipe valve bolts & Facility Keterangan: W _ Westinghouse Electric Corporation B & W _ Babcock & Wilcox Co. C_E _ Combustion Engineering Inc. 55

23 1000 ton/tahun bagi export. Jadi kebutuhan PLTN dengan daya hanya 500 MWe masih terlalu kecil untuk memanfaatkan sumber alam sendiri secara ekonomis. Apa_ logi bilo diingat bahwa ongkos fabrikasilah yang merupakan bagian terbesar dari or'gkos_ongkos lain dalam beaya bahanbakar, jadi bukanlah beaya bahan mentahnya. Dalam hal pengolahan ulang, sebenarnya bahanbakar yang diolah ulang justru menambah beaya saja, karena beaya pengolahan dan transport kira_kira lima kali harga sisa uranium dan plutonium yang terjadi. Hanya saja harus disediakan tempat penyimponan bohanbakar, bila ki ta menahan "spent fuel" ini. Juga bagaimana perjanjian sebelumnyc, apakah ado keharusan mengembalikan don memroses_ulang otoukah tidak. Dipandang dari scmpah radioaktifnya, sebenarnya proses_ulang di luor negeri akan menguntungkan tata_lingkungan kita, karena proses_ulang akan melibatkan sampah radioaktif kira_kira seribu kali yang terdapat dalam operasi reaktor. Jadi setelah memanfcotkan, kita membuang scmpah di negeri orang. UCAPAi'1 TERIMAKASIH Kep'Jda Ir. lyas Subki yang telah menambah bahan pustaka baru, kepada Drs. Bambang Seti adj i yang tel ah membantu menggombar, juga kepada Bapak Prof. Dr. A. Baiquni ycng telah bersedia memeriksa tul isan ini kami mengucapkan banyak terimakasi h. DAFTAR PUSTAKA 1. J. Nuclear New~, August "Directory of Nuclear Reactor", Vol. VII. IAEA, STI/PUB (1968). 3. "Refp.rence Safety Analysis Report", Revision I, Vol. I Westinghouse Nuclear Energy Systems. 4. ",Vlanagement of Radioactive Wastes at Nucl ear Power Plants", IAEA Safety Series No. 28 (1968). 5. GERSTEN, G.W. _ "Fuel Cycle Cost Analysis", Bid Evaluation and Implementa_ tion of Nucl ear Power Projects (1972). 6. TlMM, M. _ "Fuel Cycle Cost Analysis", Technical and Economic Aspects of Nuclear Pawer Develapment, IAEA Survey and Briefing Course (1973). 7. J. Nucl ear News, September SCOTT, R.L. Jr. "Material Performance at Nuclear Power Plant", J. Nuclear Safety, September _ October ALFREDSON, P.G. _ Lecture on "Nuclear Fuel Technology", ASNT Nuclear Technology Course, AAEC (1973). 56

REAKTOR TEMPERATUR TINGGI (High Temperature Reactors) IR. SOlEH SOMADIREDJA *) ABSTRAK I. CRITERIA DESIGN

REAKTOR TEMPERATUR TINGGI (High Temperature Reactors) IR. SOlEH SOMADIREDJA *) ABSTRAK I. CRITERIA DESIGN REAKTOR TEMPERATUR TINGGI (High Temperature Reactors) IR. SOlEH SOMADIREDJA *) ABSTRAK Noskoh menjeloskon perkembongon Reoktor pendingin gas don moderator grafit dori permuloon jenis G.c. R. sompo; kepodo

Lebih terperinci

REAKTOR PEMBIAK CEPAT

REAKTOR PEMBIAK CEPAT REAKTOR PEMBIAK CEPAT RINGKASAN Elemen bakar yang telah digunakan pada reaktor termal masih dapat digunakan lagi di reaktor pembiak cepat, dan oleh karenanya reaktor ini dikembangkan untuk menaikkan rasio

Lebih terperinci

LlMBAH RADIOAKTIF PADAT YANG DITIMBULKAN DARI OPERASI PUSAT LlSTRIK TENAGA NUKLIR (PL TN)

LlMBAH RADIOAKTIF PADAT YANG DITIMBULKAN DARI OPERASI PUSAT LlSTRIK TENAGA NUKLIR (PL TN) Hasi! Pene!i1ian dan Kegiatan PTLR Tahun 2006 /SSN 0852-2979 LlMBAH RADIOAKTIF PADAT YANG DITIMBULKAN DARI OPERASI PUSAT LlSTRIK TENAGA NUKLIR (PL TN) Wati Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, SATAN ABSTRAK

Lebih terperinci

PERALATAN PROSES DAN UTILITAS

PERALATAN PROSES DAN UTILITAS PERALATAN PROSES DAN UTILITAS DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2013 KATA PENGANTAR Kurikulum 2013 adalah kurikulum

Lebih terperinci

Perawatan Engine dan Unit Alat Berat

Perawatan Engine dan Unit Alat Berat Direktorat Pembinaan SMK 2013 i PENULIS: Direktorat Pembinaan SMK 2013 ii Kata Pengantar Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Di dalamnya dirumuskan secara terpadu kompetensi sikap, pengetahuan

Lebih terperinci

WORLD COAL INSTITUTE SUMBER DAYA BATU BARA TINJAUAN LENGKAP MENGENAI BATU BARA

WORLD COAL INSTITUTE SUMBER DAYA BATU BARA TINJAUAN LENGKAP MENGENAI BATU BARA WORLD COAL INSTITUTE SUMBER DAYA BATU BARA TINJAUAN LENGKAP MENGENAI BATU BARA SUMBER DAYA BATU BARA DARI MANA ASAL BATU BARA? APA KEGUNAANNYA? APAKAH BATU BARA MASIH DIGUNAKAN? Batu Bara adalah salah

Lebih terperinci

1 KATA PENGANTAR Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi siswa dari sisi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh. Keutuhan tersebut menjadi dasar dalam perumusan kompetensi dasar tiap

Lebih terperinci

COVER. Teknik Pengukuran Besaran Proses

COVER. Teknik Pengukuran Besaran Proses COVER PENULIS KATA PENGANTAR Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul. Keunggulan SDM

Lebih terperinci

Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran

Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran Kembali SNI 03-6570-2001 Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran 1 Pendahuluan. 1.1 Ruang Lingkup dan Acuan. 1.1.1 Ruang Lingkup. Standar ini berhubungan dengan pemilihan dan instalasi

Lebih terperinci

PERBAIKAN SISTEM PENDINGIN DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA

PERBAIKAN SISTEM PENDINGIN DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA KODE MODUL OPKR-20-011B SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK MEKANIK OTOMOTIF PERBAIKAN SISTEM PENDINGIN DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN TA/TL/2008/0254 TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik

Lebih terperinci

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979 EVALUASI KESELAMATAN RADIASI DI KANAL HUBUNG INSTALASI PENYIMPANAN SEMENTARA BAHAN BAKAR NUKLIR BEKAS (KH-IPSB3) PASCA PENGISIAN BAHAN BAKAR NUKLIR BEKAS REAKTOR SERBA GUNA GA. SIWABESSY ABSTRAK L.Kwin

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor

BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor Alat penukar kalor adalah suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN PABRIK KELAPA SAWIT SKALA KECIL UNTUK PRODUKSI BAHAN BAKU BAHAN BAKAR NABATI (BBN)

BUKU PANDUAN PABRIK KELAPA SAWIT SKALA KECIL UNTUK PRODUKSI BAHAN BAKU BAHAN BAKAR NABATI (BBN) BUKU PANDUAN PABRIK KELAPA SAWIT SKALA KECIL UNTUK PRODUKSI BAHAN BAKU BAHAN BAKAR NABATI (BBN) SEPTEMBER 2009 This publication was produced by Development Alternatives, Inc. for the United States Agency

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) BERBASIS WEB PADA SISTEM PENDINGIN PRIMER DI REAKTOR SERBA GUNA GA.

PENERAPAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) BERBASIS WEB PADA SISTEM PENDINGIN PRIMER DI REAKTOR SERBA GUNA GA. SEMINAR NASIONAL V YOGYAKARTA, 5 NOVEMBER 2009 PENERAPAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) BERBASIS WEB PADA SISTEM PENDINGIN PRIMER DI REAKTOR SERBA GUNA GA. SIWABESSY MOHAMMAD TAHRIL AZIS

Lebih terperinci

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Program Keahlian : TEKNIK ENERGI TERBARUKAN (1.18) Paket Keahlian : TEKNIK ENERGI BIOMASSA (062) Mata Pelajaran : BAHAN BAKAR NABATI BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Disusun:

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP DENGAN

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Kembali SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 1. Ruang lingkup. 1.1. Standar ini mencakup

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI. PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI NERACA Per 31 Desember 2009 dan 2008

LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI. PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI NERACA Per 31 Desember 2009 dan 2008 LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI 1. Neraca Komparatif PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI NERACA Per 31 Desember 2009 dan 2008 URAIAN Reff 2009 2008 ASET 5.1.1 ASET LANCAR 5.1.1.a Kas di

Lebih terperinci

PRINSIP KERJA MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL DAN MESIN BANTU Kompetensi : Mesin Penggerak Utama dan Bantu. TPL - Prod/Q.01

PRINSIP KERJA MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL DAN MESIN BANTU Kompetensi : Mesin Penggerak Utama dan Bantu. TPL - Prod/Q.01 PRINSIP KERJA MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL DAN MESIN BANTU Kompetensi : Mesin Penggerak Utama dan Bantu TPL - Prod/Q.01 BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIKMENJUR DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN

Lebih terperinci

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1C03-04DBK

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1C03-04DBK MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL 04DBK KUALITAS AIR DAN KEGUNAANNYA DI BIDANG PERTANIAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

PERATURAN NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin Diesel

BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin Diesel 5 BB II DSR TEORI. Mesin Diesel Salah satu penggerak mula yang banyak dipakai adalah mesin kalor, yaitu mesin yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik atau yang mengubah energi termal

Lebih terperinci

PROSES PENGOLAHAN MIGAS DAN PETROKIMIA UNTUK KELAS XI SEMESTER 3 DAN 4

PROSES PENGOLAHAN MIGAS DAN PETROKIMIA UNTUK KELAS XI SEMESTER 3 DAN 4 PROSES PENGOLAHAN MIGAS DAN PETROKIMIA UNTUK KELAS XI SEMESTER 3 DAN 4 DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2013

Lebih terperinci

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MATA PELAJARAN : PEDOMAN CARA BERLABORATORIUM YANG BAIK BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

W A D I Y A N A S940907117

W A D I Y A N A S940907117 KAJIAN KARAKTERISTIK BATU ALAM LOKAL KABUPATEN GUNUNGKIDUL SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BATA MERAH PEJAL UNTUK PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI RUMAH SEDERHANA CHARACTERISTIC S STUDY OF NATURAL LOCAL STONE

Lebih terperinci

ANALISA SIFAT MEKANIK KOMPOSIT BAHAN KAMPAS REM DENGAN PENGUAT FLY ASH BATUBARA

ANALISA SIFAT MEKANIK KOMPOSIT BAHAN KAMPAS REM DENGAN PENGUAT FLY ASH BATUBARA i TUGAS AKHIR ANALISA SIFAT MEKANIK KOMPOSIT BAHAN KAMPAS REM DENGAN PENGUAT FLY ASH BATUBARA OLEH: PRATAMA D21105069 JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011 ii LEMBAR PENGESAHAN

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONTAMINASI DETERJEN PADA AIR MINUM ISI ULANG DI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG (DAMIU) DI KABUPATEN KENDAL TAHUN

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONTAMINASI DETERJEN PADA AIR MINUM ISI ULANG DI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG (DAMIU) DI KABUPATEN KENDAL TAHUN FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONTAMINASI DETERJEN PADA AIR MINUM ISI ULANG DI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG (DAMIU) DI KABUPATEN KENDAL TAHUN 2009 TESIS Untuk Memenuhi persyaratan Mencapai derajad

Lebih terperinci