BAB.I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Framework), penganggaran terpadu (Unified Budget), dan penganggaran

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB.I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Framework), penganggaran terpadu (Unified Budget), dan penganggaran"

Transkripsi

1 1 BAB.I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pusat Kerja Sama Luar Negeri merupakan unsur pendukung Kementerian Pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian melalui Sekretaris Jenderal. Secara keseluruhan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian memiliki 5 (lima) Biro dan 3 (tiga) Pusat. Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian melaksanakan fungsi manajemen pendukung dan pelaksanaan tugas teknis lainnya. Pusat Kerja Sama Luar Negeri melaksanakan fungsi manajemen mendukung pelaksanaan kegiatan Kementerian Pertanian, khususnya pada aspek manajemen kerja sama luar negeri di bidang pertanian. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan berbagai perubahan mendasar terkait pendekatan penyusunan anggaran. Perubahan mendasar tersebut mencakup penerapan kerangka penganggaran jangka menengah (Medium-Term Expenditure Framework), penganggaran terpadu (Unified Budget), dan penganggaran berdasarkan kinerja (Performance Budget). Dalam rangka melaksanakan amanah Undang-Undang Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara tersebut, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas bersama dengan Menteri Keuangan menandatangani Surat Edaran Bersama (SEB) Nomor 0142/M.PPN/06/2009 tanggal 19 Juni 2009 yang menetapkan pelaksanaan Reformasi Perencanaan dan Penganggaran (RPP) untuk periode pembangunan jangka menengah periode kedua,

2 2 Reformasi perencanaan dan penganggaran mensyaratkan adanya keterkaitan antara perencanaan dan pendanaan program dan kegiatan dengan kinerja program dan kegiatan, serta capaian kinerja dengan akuntabilitas organisasi. Program disusun secara hierarkis agar dapat menjelaskan hubungan logis antar prioritas perencanaan organisasi, program, kegiatan, indikator kinerja dan pendanaan. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, pasal 15 ayat (1) dan Pasal 19 ayat (2), menetapkan bahwa setiap Kementerian/Lembaga wajib menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L) untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan serta menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan. Di samping itu, Instruksi Presiden No. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, pada Diktum Kedua menyebutkan bahwa setiap instansi Pemerintah sampai tingkat Eselon II wajib menyusun Rencana Strategis untuk melaksanakan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai wujud pertanggungjawaban kinerja instansi pemerintah. Fungsi Renstra K/L sangat penting karena merupakan pedoman bagi penyusunan dokumen perencanaan jangka pendek (1 tahun) yang meliputi Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja K/L) dan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga/Negara (RKA-KL). Renja K/L dan RKA-KL ini merupakan lampiran Nota Keuangan untuk mengantarkan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disampaikan oleh Presiden RI dalam pidato Kenegaraan di depan DPR-RI pada tanggal 16 Agustus setiap tahunnya.

3 3 Sebagai turunan dari Renstra K/L, maka Renstra Pusat Kerja Sama Luar Negeri (pada tingkat Eselon II) juga memiliki peran dan fungsi yang tak kalah penting. Melaksanakan amanat RPP, Renstra Pusat Kerja Sama Luar negeri memuat Program dan Kegiatan yang dilengkapi dengan output, target, alokasi pendanaan, dan indikator kinerja. Dengan demikian, Renstra Pusat Kerja Sama Luar Negeri ini akan menjadi pedoman bagi penyusunan Renja, RKA-KL, dan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan Pusat Kerja Sama Luar Negeri setiap tahunnya selama periode tahun STRUKTUR OGANISASI PUSAT KERJASAMA LUAR NEGERI Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 61/Kpts/OT.140/10/2010 Bab XVII, disebutkan Pusat Kerjasama Luar Negeri merupakan satu unsur pendukung Kementerian Pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Pusat Kerjasama Luar Negeri mempunyai tugas melaksanakan melaksanakan penyelenggaraan kerja sama luar negeri di bidang pertanian. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Pusat Kerjasama Luar Negeri menyelenggarakan fungsi: 1. Penelaahan, penyusunan program, dan penyiapan pelaksanaan kerja sama bilateral di bidang pertanian; 2. Penelaahan, penyusunan program, dan penyiapan pelaksanaan kerja sama regional di bidang pertanian; 3. Penelaahan, penyusunan program, dan penyiapan pelaksanaan kerja sama multilateral di bidang pertanian; 4. Pelaksanaan urusan atase pertanian; dan 5. Pelaksanaan urusan tata usaha Pusat Kerja sama Luar Negeri.

4 4 Dalam menjalankan tugas tersebut, Susunan organisasi Pusat Kerjasama Luar Negeri terdiri dari: 1. Bidang Bilateral 2. Bidang Regional 3. Bidang Multilateral 4. Sub Bidang Tata Usaha dan Atase Pertanian 1.3 KONDISI UMUM Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 341/Kpts/OT.140/9/2005, tanggal 9 September 2005 tentang Kelengkapan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian, Biro Kerjasama Luar Negeri mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan dan penelaahan, dan pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian. (tidak perlu) Pada periode tahun , Biro Kerjasama Luar Negeri melaksanakan program kerja yaitu : 1) Penyiapan perumusan kebijakan kerjasama luar negeri di bidang pertanian; 2) Penelaahan dan perumusan program kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara bilateral, regional, dan multilateral, serta dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bidang pangan dan pertanian; 3) Pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian; 4) Pembinaan Atase Pertanian; dan 5) Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Biro. Sebagai penjabaran program kerja tersebut, kelompok kegiatan yang dilaksanakan meliputi :1) menyusun kebijakan kerjasama bidang pertanian secara bilateral dengan negara-negara di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika, Afrika dan Pasifik; 2) menyusun program kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara bilateral dengan negara-negara di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika, Afrika dan Pasifik; 3) menyusun bahan pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara bilateral dengan negara-negara di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah,

5 5 Amerika, Afrika dan Pasifik; 4) Menyiapkan bahan pembinaan Atase Pertanian; 5) Menyusun kebijakan kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara regional dengan lembaga ASEAN dan non ASEAN; 6) Menyusun program kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara regional dengan lembaga ASEAn dan non ASEAN; 7) Menyusun bahan pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara regional dengan lembaga ASEAN dan non ASEAN; 8) Melaksanakan administrasi urusan kepegawaian, keuangan, rumah tangga, perlengkapan, surat menyurat serta kearsipan Biro; 9) Menyusun kebijakan kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara multilateral dengan lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah; 10) Menyusun program kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara multilateral dengan lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah; 11) Menyiapkan bahan pembinaan pelaksanaan program kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara multilateral dengan lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah; 12) Melaksanakan administrasi perjalanan dinas luar negeri dan penyebaran informasi pendidikan dan pelatihan di luar negeri; 13) Menyusun kebijakan, program serta pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bidang pangan dan pertanian; 14) Menyusun kebijakan, program dan telaahan pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian dalam rangka kerjasama teknik dan bantuan hibah dengan pihak donor; 15) Menyusun kebijakan, telaahan, program serta pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian dalam rangka kerjasama program dan proyek dengan organisasi internasional. Dari hasil pelaksanaan program kerja dan kegiatan selama periode , Pusat Kerjasama Luar Negeri menunjukkan hasil yang terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun terakhir 2009, Pusat Kerjasama Luar Negeri berhasil membukukan realiasi anggaran sebesar Rp ,- atau mencapai 74,43 %, dari total pagu yang dialokasikan sebesar Rp ,-, realisasi anggaran tiap bidang pada Tabel 1.

6 6 Tabel 1. Alokasi Anggaran dan Realisasi di Pusat Kerjasama Luar Negeri Tahun 2009 NO BIDANG/SUB BIDANG ANGGARAN REALISASI RUPIAH % RUPIAH % 1 BILATERAL 5,657,725, ,347,471, REGIONAL 994,700, ,808, MULTILATERAL 3,517,329, ,364,742, TATA USAHA DAN ATASE 3,395,282, ,672,642, PERTANIAN 13,565,036, ,096,664, Kegiatan pokok di Pusat Kerjasama Luar Negeri secara rinci yang telah dilaksanakan berdasarkan program kerja pada tahun 2009 mencakup: Kerjasama Bidang Bilateral Pada tahun 2009, dari alokasi anggaran sebesar Rp ,-, realisasi anggaran yang terserap sebesar Rp atau 76,84 %. Kegiatan pokok yang dilaksanakan tahun 2009 meliputi: Sidang Joint Agriculture Working Group (JAWG) Indonesia Thailand ke-4 di Makassar, Sidang Consultatiive Committee on Agriculture (CCA) ke-3 Indonesia Brazil di Mataram, Sidang Working Group on Agriculture, Fisheries and Forestry (WGAFF) Indonesia Belanda ke-13 di Belanda, Peningkatan kerjasama internasional dalam kerangka bilateral, Operasional Sekretariat Tim Nasional Program Second Kennedy Round (SKR), dan Bantuan Teknis untuk negara mitra, dengan keluaran antara lain: 1). MOU bidang Pertanian dengan Turki 2). MOU Bidang Pertanian dengan Slovakia 3). Bahan dan Hasil Sidang JAWG Indonesia Thailand ke-4 4). Bahan dan Hasil Sidang CCA Indonesia Brazil ke-3 5). Bahan dan Hasil Sidang WGAFF Indonesia Belanda ke-13 6). Bahan dan Hasil SOM Bilateral Indonesia - Malaysia

7 7 7). Bahan Sidang Komisi Bersama/Forum Konsultasi Bilateral (SKB/FKB) dengan Yaman, Namibia, Ukraina, Peru, Uni Eropa, New Zealand, Mexico, Brazil, Rusia, Suriname, Belarus, Bulgaria, 8). Bahan dan Hasil Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Jerman, Slovakia dan Turki 9). Bahan dan Hasil Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Malaysia 10). Bahan dan Hasil Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Timor Leste 11). Bahan dan Hasil Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja 12). Bahan dan Hasil Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Brunei 13). Bahan dan Hasil Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Maroko, Tunisia dan Yordania 14). Bahan dan Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Polandia dan Rusia. 15). Laporan Kunjungan Kerja pejabat Kementerian Pertanian ke Vanuatu dan Abu Dhabi. 16). Bahan dan Hasil Pertemuan Expert Group Indonesia Thailand 17). Bahan dan Hasil Magang Petani dari Madagaskar, Myanmar dan Kamboja. 18). Laporan Bantuan Peralatan untuk Kamboja, Myanmar dan Papua New Guinea. 19). Bahan dan Laporan Kegiatan Second Kennedy Round (SKR). 20). Nota Kesepahaman dan Perkembangan Tindak Lanjut Kesepakatan Kerjasama Luar Negeri Bidang Bilateral Kerjasama Bidang Regional Untuk kerjasama bidang regional tahun 2009 tercatat bahwa realiasi anggaran sebesar Rp atau 71,56 % dari total alokasi anggaran bidang regional yang sebesar Rp ,-. Selama tahun 2009, kegiatan pokok yang dilaksanakan mencakup untuk bidang regional adalah: Sidang Government Council ke-5 UN-CAPSA, Pertemuan ke-6 ASEAN GMF Network,

8 8 Working Group on Livestock, Peningkatan kerjasama internasional dalam kerangka regional, Pengembangan kerjasama dalam kerangka non-asean, pengembangan kerjasama dalam kerangka ASEAN dan Mitra Dialog, Fasilitasi Workshop APO on Fruit Crops Production.. Keluaran dari pelaksanaan kegiatan tersebut seperti: 1). Bahan dan Hasil Sidang ke-17 ASEAN Sectoral Working Gropu on Livestock (ASWGL) di Yogyakarta 2). Bahan dan Hasil Pertemuan ke-6 ASEAN Genetically Modified Food Testing Network (ASEAN GMF Net) di Jakarta 3). Bahan dan Hasil Pertemuan ke-1 D8 Working Group on Animal Feed di Surabaya. 4). Bahan dan Hasil Sidang Governing Council ke-5 UNESCAP CAPSA di Thailand 5). Bahan dan Hasil Pertemuan Tingkat Menteri ke-14 dan SOM ke-18 BIMP-EAGA di Brunei 6). Bahan dan Hasil Pertemuan ke-30 Special SOM of the ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (Special SOM AMAF) di Ho Chi Minh City, Vietnam 7). Bahan dan Hasil Pertemuan ke-2 ASEAN+3 Forum on Biomass Energy, di Chongqing PR China 8). Bahan dan Hasil Pertemuan the 50 th Workshop Meeting (WSM) of Head of National Productivity Organization (NPO s) di Manila Philipina. 9). Bahan dan Hasil Pertemuan AMAF ke-31 dan AMAF+3 ke-9, di Brunei 10). Bahan dan Hasil Pertemuan ke-1 Prime Mover of D-8 Working Group di Mataram. 11). Bahan dan Hasil Pelaksanaan Fasilitasi APO Internasional Workshop on Planing and Management of Rural Based Agroprocessing Enterprise di Balai. 12). Bahan dan Hasil Pelaksanaan Fasilitasi Seminar on Good Agricultural Practices and Safety for Fruit Crops and Vegetables: Managing Food Quality di Yogyakarta.

9 9 13). Bahan dan Hasil Pertemuan ke-3 Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Working Group on Agriculture, Agro-Based Industry and Environment (WGAAE) di Sumatera Barat. 14). Bahan dan Hasil Fasilitasi Pelaksanaan APO International Workshop on Productivity Improvement Tools for Agribusiness SMEs: Managing Food Safety in the Dairy Industry di Yogyakarta. 15). Bahan dan Hasil Pertemuan APEC Agricultural Technical Working Group di Bali. 16). Bahan Persiapan Pertemuan ASEAN Cooperation on Climate Change di Bogor Kerjasama Bidang Multilateral Pada tahun 2009, alokasi anggaran untuk kerjasama bidang multilateral sebesar Rp ,- dan terealisasi sebesar Rp ,- atau sebesar 67,23%. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi: Penyelenggaraan Pertemuan World Islamic Economic Forum (WIEF), Sidang Indonesia Malaysia on Commodities (Papper, cacao and palm oil), Hari Pangan Sedunia ke-29, Seminar Kebijakan dan Peraturan PHLN, Peningkatan Kerjasama Internasional dalam kerangka Multilateral, Peningkatan kerjasama internasional melalaui kerangka PBB, Asistensi dan Diseminasi Pemanfaatan bantuan luar negeri ke daerah, koordinasi dan pembinaan dalam rangka peningkatan PDLN, Koordinasi kerjasama non government organization, pemberdayaan perdesaan dan pembangunan pertanian (READ). Hasil keluaran dari kerjasama Bidang Multilateral tahun 2010 sebagai berikut : 1) MOU antara Kementerian Pertanian RI c.q. Sekretariat Jenderal dengan Mercy-USA For AID and Development, Inc.

10 10 2) MOU antara Kementerian Pertanian RI c.q. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dengan Agency for Technical Cooperation and Development (ACTED) 3) Perpanjangan MOU antara Kementerian Pertanian RI c.q. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian dengan Heifer Internasional Indonesia 4) Perpanjangan MOU antara Indonesia dengan International Potato Center. 5) Laporan Sosialisasi Manfaat NGO Internasional dalam rangka mendukung pembangunan pertanian di Indonesia 6) Laporan Sidang Indonesia Malaysia on Commodities (Papper, cacao and palm oil) 7) Laporan Fasilitasi Perundingan di WTO dan Cairns Group 8) Laporan Kerjasama dengan Common Fund for Commodity (CFC), Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Forum G8 dan G20, European Free Trade Assosiation (EFTA) 9) Bahan dan laporan Sidang FAORegional Conference for Asia and the Pacific ke-29 10) Bahan dan Laporan FAO COUNCIL ke-136, ke ) Laporan Hari Pangan Sedunia ke-29 tahun ) Bahan dan laporan Konferensi Tingkat Tinggi Ketahanan Pangan/ World Summit on Food Security (WSFS) di Italia 13) Bahan dan Laporan Sidang Codex 14) Laporan Seminar Kebijakan dan Peraturan PHLN 15) Pengusulan Kegiatan PHLN Kementerian Pertanian 16) Buku Pedoman PHLN 17) Laporan Pemantauan Perkembangan Proyek PHLN 18) Buku Pemanfaatan Kerangka Program Kerjasama dengan IFAD Periode ) Buku National Medium Term Priority Framework /NMTPF) Periode

11 11 20) Laporan Pengelolaan Hibah IFAD untuk kajian kebijakan 21) Laporan Workshop Strategi Pengembangan Gandum Nasional 22) Laporan Workshop optimalisasi peran dan strategi Indonesia dalam keanggotaan pada organisasi pangan PBB (FAO, IFAD dan WFP) 23) Bahan dan Laporan Sidang Governing Council IFAD ke-34 24) Bahan dan Laporan Sidang Executive Board IFAD ke-99, ke-100 dan ke ) Laporan Sinkronisasi Program dengan Lembaga Donor 1) Buku Hasil Kebijakan IFAD Assisted Prospect and Their Impact on the Community 2) Roadmap of Study 3) Terms of Reference 4) General Guidance of the Recommended and Advocation For Vary Stakeholders Sub Bidang Ketatausahaan dan Atase Pertanian Dari anggaran Sub Bidang Ketatausahaan dan Atase Pertanian tahun 2009 yang dialokasikan sebesar Rp ,-, realisasi penyerapan dana sebesar Rp atau sebesar 78,72%. Kegiatan yang dilaksanakan untuk tahun 2009 meliputi : pengelolaan gaji, honorarium dan tunjangan; penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran; Administrasi kegiatan Program; Penyusunan/pengumpulan/pengolahan updating/analisa data dan statistik; Evaluasi/Laporan kegiatan; fasilitasi Sidang-Sidang Internasional; Kesekretariatan Pusat kerjasama Luar Negeri; Pelayanan penyelenggaraan penerimaan kunjungan tamu asing badan internasional; Pelaksanaan tugas penghubung ke daerah Biro KLN; Pengadaan Alat pengolah data; serta Penyusuanan Program dan Rencana Kerja (RKA-KL). Keluaran untuk sub bidang tata usaha dan atase pertanian meliputi : 1) Penyelenggaraan pengelolaan gaji, honorarium dan tunjangan serta operasional dan pemeliharaan perkantoran

12 12 2) Penyelenggaraan administrasi kegiatan dan kepegawaian 3) Laporan updating data analisa dan statistic 4) Laporan Evaluasi kegiatan 5) Laporan Mingguan, Bulanan, Triwulan, dan Tahunan, 6) Buku LAKIP 7) Buku TOR dan RAB. 8) Penyelengaraan fasilitasi sidang-sidang internasional 9) Laporan Pelayanan penyelenggaraan penerimaan kunjungan tamu asing dan badan internasional 10) Laporan pelaksanaan tugas penghubung ke daerah Biro KLN 11) Penyelenggaraan pengadaan alat pengolah data 12) Buku Program dan Rencana Kerja (RKA-KL) 13) Buku Laporan Keuangan 14) Penyelenggaraan administrasi dan pencalonan pelatihan/pendidikan ke luar negeri 15) Penyelenggaraan administrasi untuk petugas dan pejabat Kementerian Pertanian yang akan bertugas ke luar negeri. 16) Penyelenggaraan administrasi keuangan untuk 4 Atase Pertanian (Brussel, Roma, Washington DC, dan Jepang) 1.4. SUMBERDAYA MANUSIA Perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, namun dari segi kuantitas cenderung mengalami penurunan bila dibanding pada tahun Ini diakibatkan adanya pegawai yang telah memasuki masa pensiun, akan tetapi dari segi kualitas mengalami peningkatan, ini dapat dilihat dari peningkatan kapasitas SDM yang dilakukan melalui pelatihan-pelatihan maupun pendidikan lanjutan. Untuk tahun 2009 jumlah SDM di Pusat Kerjasama Luar Negeri sebanyak 74 pegawai. Sumber Daya Manusia tersebut terdiri dari staf teknis dan non teknis. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada table-tabel berikut ini :

13 13 Tabel 1: No. Jumlah Pegawai Menurut Pendidikan Terakhir Lingkup Pusat Kerjasama Luar Negeri Tahun 2009 Pendidikan Terakhir Jenis Kelamin L P Jumlah 1 S S S SM/D-III SLTA SLTP Jumlah Kalau dilihat dari kelompok umur pegawai Pusat Kerjasama Luar Negeri adalah seperti pada Tabel 2 berikut : TABEL 2: Jumlah Pegawai Menurut Kelompok Umur Lingkup Pusat Kerjasama Luar Negeri Tahun 2009 Jenis Kelamin No. Pendidikan Terakhir L P Jumlah 1 < Jumlah Kalau dilihat dari golongan (data tahun 2009) pegawai Pusat Kerjasama Luar Negeri adalah seperti pada Tabel 3 berikut :

14 14 TABEL 3: Jumlah Pegawai Menurut Golongan Lingkup Pusat Kerjasama Luar Negeri Tahun 2009 Jns.Kelamin No. RUANG GOLONGAN L P JUMLAH 1 GOLONGAN IV-E GOLONGAN IV-D GOLONGAN IV-C GOLONGAN IV-B GOLONGAN IV-A Jumlah GOLONGAN III-D GOLONGAN III-C GOLONGAN III-B GOLONGAN III-A Jumlah GOLONGAN II-D GOLONGAN II-C GOLONGAN II-B GOLONGAN II-A Jumlah GOLONGAN I-C Jumlah TOTAL Kalau dilihat dari jenis kelamin (data tahun 2009) pegawai Pusat Kerjasama Luar Negeri adalah seperti pada Tabel 4 berikut : TABEL 4: Jumlah Pegawai Menurut Jenis Kelamin Lingkup Pusat Kerjasama Luar Negeri Tahun 2009 No. Jenis Kelamin Jumlah 1 Pria 43 2 Wanita 31 Jumlah KERJASAMA DENGAN INSTANSI LAIN Dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya Pusat Kerja Sama Luar Negeri juga bekerjasama dengan instansi eksternal antara lain :

15 15 1) Kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri merupakan salah satu mitra utama Pusat Kerja Sama Luar Negeri dalam pelaksanaan kerja sama luar negeri bidang pertanian baik dalam kerangka kerja sama bilateral, regional maupun multilateral. Dalam setiap pelaksanaan kerja sama bidang pertanian dengan pihak asing baik dalam kerangka bilateral, regional maupun multilateral harus melalui satu pintu yaitu Kementerian Luar Negeri terutama untuk pihak asing yang belum mempunyai payung kerja sama. 2) Kerjasama dengan Kementerian Negara Sekretariat Negara, Pusat Kerja Sama Luar Negeri selalu berkoordinasi dengan kementerian Negara Sekretariat Negara terutama yang terkait dengan pengusulan dan perpanjangan tenaga ahli, pelatihan dan pendidikan di luar negeri, penugasan pegawai dan pejabat Kementerian Pertanian ke luar negeri serta bantuan-bantuan peralatan dari luar negeri yang terkait dengan perpajakan. 3) Kerjasama dengan Badan Perencana Pembangunan Nasional (BAPPENAS), secara reguler Pusat Kerjasama Luar Negeri mengadakan konsultasi dan koordinasi, khususnya terkait dengan perencanaan kegiatan-kegiatan yang di biayai dari Pinjaman/ Hibah Luar Negeri (PHLN), baik pendanaan bilateral, regional dan multilateral untuk pelaksanaan, evaluasi dan perpanjangan kegiatan PHLN. 4) Kerjasama dengan Kementerian Keuangan, berkenaan dengan RAPBN (Rencana Anggaran dan Belanja Negara) yang selajutnya disahkan dengan DPR, Sesuai amanat pasal 14 ayat (1) Undangundang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan bahwa dalam rangka penyusunan rancangan APBN, Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. Selanjutnya pada ayat

16 16 (2) pasal yang sama disebutkan bahwa rencana kerja dan anggaran yang disusun harus berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. Sedangkan dasar penyusunan RKA-KL adalah Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan RKA-KL. Selain itu juga untuk kepentingan kerja sama bantuan anggaran dengan mitra luar negeri dalam hal registrasi dan perpanjangan PHLN. 5) Kerjasama dengan Perguruan Tinggi, berkaitan dengan kerja sama luar negeri bidang pertanian baik secara bilateral, regional maupun multilateral banyak dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi terutama terkait dengan teknologi dan usaha bidang pertanian, serta tenaga ahlinya ataupun magang bagi mahasiswa dari perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang pernah bekerjasama diantaranya adalah Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjadjaran dll. 6) Kerjasama dengan Kedutaan Besar negara mitra yang ada di Jakarta, Pusat Kerja Sama Luar Negeri selalu berkoordinasi dengan semua Kedutaan Besar negara mitra yang ada di Jakarta, terutama terkait dengan kerja sama bidang pertanian. Beberapa Kedutaan Besar di Jakarta yang secara periodik selalu berkoordinasi diantaranya adalah Kedutaan Besar Australia, New Zealand, Amerika Serikat, Brazil, Belanda, Mexico, Jepang, China, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, India, Saudi Arabia, Sudan dll. 7) Kerjasama dengan Badan-Badan Internasional dan Lembaga Swadaya Masyakarat Internasional, berkaitan dengan penggalangan dukungan pendanaan dan kerjasama bidang pertanian Pusat Kerja Sama Luar Negeri juga berkoordinasi dengan badan-badan internasional dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional diantaranya IFAD, ADB, WB, IDB, WFP, FAO, Sekretariat ASEAN, UN ESCAP, Mercy, Acted, Heifer Internasional, ACIAR, USAID, JICA, KOICA CIMMYT, dll.

17 17 8) Kerjasama dengan Instansi Lingkup Kementerian Pertanian, berkaitan dengan Tupoksi Biro Kerja Sama Luar Negeri (PERMEN Pertanian No. 299/Kpts/OT.140/7/2005) yaitu melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan dan penelaahan, serta pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian, untuk itu kerjasama dengan Instansi di lingkup Kementerian Pertanian sangat intens dilakukan. 9) Kerjasama dengan Kementerian lain yang tergabung dalam Kabinet Bersatu Jilid II JUDUL BUKU YANG DIPUBLIKASIKAN Sesuai dengan tugas pokok Pusat Kerja Sama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian yaitu Penyiapan perumusan kebijakan kerjasama luar negeri di bidang pertanian, Penelaahan dan perumusan program kerjasama luar negeri di bidang pertanian secara bilateral, regional, dan multilateral, serta dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bidang pangan dan pertanian, Pembinaan pelaksanaan kerjasama luar negeri di bidang pertanian, Pembinaan Atase Pertanian, dan Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Pusat. Berkaitan dengan hal tersebut Pusat Kerja Sama Luar Negeri telah menerbitkan output berupa buku yang dipublikasikan selama tahun sebagai berikut : TABEL 7: Judul Publikasi Lingkup Biro Kerja Sama Luar Negeri No. Unit Kerja Judul Publikasi 1. Bagian Bilateral - Leaflet Second Kennedy Round (SKR) : Japan's Grant Assistance for underprivileged Farmers - Guidelines Second Kennedy Round 2. Bagian Regional - - Rencana Kerja Biro Kerja Sama Luar Negeri Bulletin Pusat Kerjasama Luar Negeri Volume 1

18 18 3. Bagian Multilateral Bulletin Pusat Kerjasama Luar Negeri Volume II Bulletin Pusat Kerjasama Luar Negeri Volume III Profil Bantuan FAO dan IFAD pada Kementerian Pertanian RI Buku Pedoman Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) 1.7. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN Berdasarkan evaluasi pelaksanaan tugas pada periode pembangunan sebelumnya, maka selama lima tahun ke depan ( ) secara umum permasalahan yang dihadapi Pusat Kerja Sama Luar Negeri antara lain: 1. Kerjasama luar negeri belum memberikan kontribusi optimal dalam menunjang pelaksanaan pembangunan pertanian; 2. Penyebaran informasi kerjasama luar negeri belum optimal; 3. Perubahan lingkungan strategis internasional yang menandai keterbukaan perekonomian dan perdagangan global perlu disikapi dengan pengembangan kerjasama bilateral, regional dan multilateral yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan; 4. Kelembagaan pertanian (Atase Pertanian) di luar negeri belum berperan secara optimal. Adapun pada periode waktu tersebut secara rinci Pusat Kerjasama Luar Negeri diperkirakan akan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang diidentifikasi sebagai berikut : Bilateral

19 19 1. Banyak sekali kegiatan-kegiatan kerjasama luar negeri di Lingkup Kementerian Pertanian yang tidak diketahui oleh Pusat Kerjasama Luar Negeri baik dalam kerangka bilateral, regional, maupun multilateral. 2. Mekanisme kerja antara Wakil Menteri Pertanian, Sekretaris Jenderal, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Kerjasama Internasional dan Pusat Kerjasama Luar negeri belum terstruktur dengan baik dan belum optimal 3. Dalam menyusun matrik posisi dengan negara mitra terkadang posisi antar instansi lingkup Kementerian Pertanian saling bertentangan 4. Banyak area kerjasama yang diinginkan baik oleh negara mitra maupun instansi di lingkup Kementerian Pertanian, sehingga perlu dilakukan prioritas area kerjasama yang saling menguntungkan 5. Banyak sekali kegiatan-kegiatan kerjasama dengan negara mitra yang dilakukan belum diketahui keefektifannya dalam menunjang pembangunan pertanian 6. Untuk realisasi investasi dari negara mitra masih banyak mengalami kendala terutama terkait dengan peraturan dan regulasi mengenai investasi dan kesiapan lokasi dan infrastruktur penunjang. 7. Ada beberapa MOU yang masih pending karena kedua belah pihak belum ada kesepakatan, umumnya mengenai Intelectual Property Rights (IPR) dan Genetic Resources Traditional and Knowledge (GRTK). 8. Produk ekspor pertanian Indonesia banyak yang mengalami permasalahan antara lain : kelapa sawit dianggap merusak lingkungan, menggunakan tenaga anak-anak, mengganggu kesehatan dll; Coklat Indonesia berjamur dan banyak kotorannya seperti kerikil, batang kayu dll; 9. Kegiatan tindak lanjut kerjasama dengan negara mitra yang sudah disepakati banyak yang tidak dapat dilaksanakan mengingat anggaran yang tidak tersedia baik di Pusat Kerjasama Luar Negeri maupun instansi Eselon I lingkup Kementerian Pertanian

20 Kerjasama bilateral sangat tergantung kesiapan dari negara mitra, sehingga terkadang karena negara mitra kurang siap akhirnya pertemuan ditunda yang mengakibatkan dana yang telah dianggarkan tidak terserap Regional Permasalahan Administratif : 1. Belum baiknya koordinasi 1.1. Mekanisme koordinasi antara Pusat KLN dengan instansi teknis terkait baik intra kementerian maupun dengan kementerian terkait lainnya dirasakan belum optimal 1.2. Koordinasi yang baik antara Pusat KLN dengan instansi teknis menjadi syarat mutlak dalam pencapaian tujuan kerjasama luar negeri yang optimal. Kurangnya koordinasi dapat berakibat pada ketidakjelasan instruksi pekerjaan 2. Kesimpangsiuran persuratan Surat menyurat adalah kegiatan yang paling mendasar dalam kerjasama luar negeri. Berbagai jenis perihal surat terkait dengan kerjasama luar negeri terkadang dilayangkan tanpa alur yang jelas (langsung dari Unit Eselon I ke pihak 3. Terbatasnya dukungan pendanaan Permasalahan substantive : 4. Belum adanya pedoman posisi Delri secara nasional Pada setiap perundingan regional, Delegasi RI yang hadir acapkali hanya dibekali dengan posisi Delri yang dipersiapkan dalam waktu singkat, sehingga tidak cukup mengakomodasi seluruh kepentingan RI. 5. Belum adanya database KLN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF KEMENTERIAN PARIWISATA DAN

Lebih terperinci

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DUTA BESAR LUAR BIASA DAN BERKUASA PENUH REPUBLIK INDONESIA UNTUK FEDERASI RUSIA MERANGKAP REPUBLIK BELARUS

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DUTA BESAR LUAR BIASA DAN BERKUASA PENUH REPUBLIK INDONESIA UNTUK FEDERASI RUSIA MERANGKAP REPUBLIK BELARUS DAFTAR RIWAYAT HIDUP DUTA BESAR LUAR BIASA DAN BERKUASA PENUH REPUBLIK INDONESIA UNTUK FEDERASI RUSIA MERANGKAP REPUBLIK BELARUS Nama Drs. Djauhari Oratmangun Tempat dan Tanggal Lahir Beo - Sulawesi Utara,

Lebih terperinci

ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 08/PRT/M/2010 TANGGAL 8 JULI 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI

PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : TANGGAL : PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam era globalisasi ekonomi

Lebih terperinci

-1-1. NAMA JABATAN : Direktur Anggaran II

-1-1. NAMA JABATAN : Direktur Anggaran II LAMPIRAN II.4 PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 706/PM.1/2008 TENTANG URAIAN JABATAN DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN DEPARTEMEN KEUANGAN -1-1. NAMA JABATAN : Direktur Anggaran II 2. IKHTISAR

Lebih terperinci

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/K/I-XIII.2/7/2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAKSANA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/K/I-XIII.2/7/2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAKSANA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/K/I-X.2/7/2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAKSANA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 18 /MenLHK-II/2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 12/MEN/VIII/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN TENAGA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 20 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 43 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KERJA (TERM OF REFERENCE) PENYUSUNAN STANDAR BIAYA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA UNIT ESELON PROGRAM : : :

KERANGKA ACUAN KERJA (TERM OF REFERENCE) PENYUSUNAN STANDAR BIAYA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA UNIT ESELON PROGRAM : : : KERANGKA ACUAN KERJA (TERM OF REFERENCE) PENYUSUNAN STANDAR BIAYA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA UNIT ESELON PROGRAM : : : Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran Pengelolaan Anggaran Negara HASIL

Lebih terperinci

I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK...

I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK... ii DAFTAR ISI DAFTAR ISTILAH... iii BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK... 2 2.1 Mekanisme Pelaksanaan Pertemuan Tiga Pihak... 2 2.2 Institusi Peserta Pertemuan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013 KESEMPATAN KERJA MENGHADAPI LIBERALISASI PERDAGANGAN Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Jakarta, 5 Juli 2013 1 MATERI PEMAPARAN Sekilas mengenai Liberalisasi Perdagangan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015 SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN ANGGARAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011

ARAH KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN ANGGARAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011 ARAH KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN ANGGARAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011 A. PENDAHULUAN Kebijakan Pengelolaan Anggaran DPR RI memiliki arti yang sangat penting dan strategis

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA NOMOR 193 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA NOMOR 193 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA PERATURAN MENTERI NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA NOMOR 193 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL, PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR: PER. 005/M.PPN/06/2006 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN DAN PENGAJUAN USULAN SERTA PENILAIAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

TENTANG HASIL REKOMENDASI SIDANG KOMISI KONGRES PPI DUNIA TAHUN 2012

TENTANG HASIL REKOMENDASI SIDANG KOMISI KONGRES PPI DUNIA TAHUN 2012 SURAT KEPUTUSAN KONGRES ALIANSI PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA INTERNASIONAL (PPI DUNIA)/ OVERSEAS INDONESIAN STUDENTS ASSOCIATION ALLIANCE (OISAA)TAHUN 2012 Nomor : 04/OISAA/KR/II/2012 TENTANG HASIL REKOMENDASI

Lebih terperinci

Kebijakan dan Pedoman Penyusunan SOP di Kementerian PPN/Bappenas. Biro Perencanaan, Organisasi dan Tatalaksana

Kebijakan dan Pedoman Penyusunan SOP di Kementerian PPN/Bappenas. Biro Perencanaan, Organisasi dan Tatalaksana Kebijakan dan Pedoman Penyusunan SOP di Kementerian PPN/Bappenas Biro Perencanaan, Organisasi dan Tatalaksana OUTLINE GRAND DESIGN DAN ROAD MAP REFORMASI REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS ASESMEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

4. URAIAN TUGAS DAN KEGIATAN :

4. URAIAN TUGAS DAN KEGIATAN : - 807-1. NAMA JABATAN : Kepala Subdirektorat Anggaran IIIE 2. IKHTISAR JABATAN : Menyiapkan penyusunan laporan keuangan, memberikan bimbingan teknis penyusunan laporan keuangan, melakukan monitoring dan

Lebih terperinci

A. Tugas Pokok dan Fungsi / Tupoksi

A. Tugas Pokok dan Fungsi / Tupoksi A. Tugas Pokok dan Fungsi / Tupoksi Dinas Komunikasi dan Informatika merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah, yang dipimpin oleh Kepala Dinas dan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN. KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR : 05 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN. KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR : 05 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR 05 TAHUN 2014 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN JAKSA AGUNG MUDA PEMBINAAN KEJAKSAAN AGUNG RI --------------------------------------------------- (BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG JABATAN

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 9 - Melaksanakan pengelolaan urusan organisasi, ketatalaksanaan, dan pelaporan direktorat jenderal.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 9 - Melaksanakan pengelolaan urusan organisasi, ketatalaksanaan, dan pelaporan direktorat jenderal. 1. NAMA JABATAN : Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana 2. lkhtisar JABATAN : - 9 - Melaksanakan pengelolaan urusan organisasi, ketatalaksanaan, dan pelaporan direktorat jenderal. 3. TUJUAN JABATAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan untuk mencapai

Lebih terperinci

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA - 1097 -

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA - 1097 - - 1097 - c. Standar Pelayanan Penanganan Administrasi Pemberian Fasilitas Kerja Sama Teknik Bidang Perpajakan kepada Mitra Kerja Sama Asing STANDAR PELAYANAN PENANGANAN ADMINISTRASI PEMBERIAN FASILITAS

Lebih terperinci

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA - 1122 -

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA - 1122 - - 1122 - e. Standar Pelayanan Penanganan Administrasi Penugasan Dinas ke Luar Negeri bagi Pejabat/Pegawai/Tenaga Indonesia untuk Tugas Belajar dan Tugas Dinas Lainnya STANDAR PELAYANAN PENANGANAN ADMINISTRASI

Lebih terperinci

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Pengembangan ekspor tidak hanya dilihat sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi nasional. Perkembangan

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 20152010 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 20152010 TENTANG SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 20152010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG JABATAN

Lebih terperinci

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 LAMPIRAN I : PERATURAN BNPP NOMOR : 3 TAHUN 2011 TANGGAL : 7 JANUARI 2011 RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 A. LATAR BELAKANG Penyusunan Rencana Aksi (Renaksi)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH (JFP2UPD) DAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR (JFA)

JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH (JFP2UPD) DAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR (JFA) JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DI DAERAH (JFP2UPD) DAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR (JFA) Muhadi Prabowo (muhadi.prabowo@gmail.com) Widyaiswara Madya Sekolah Tinggi Akuntansi

Lebih terperinci

Indonesia Terpilih Kembali Sebagai Anggota ITU Council

Indonesia Terpilih Kembali Sebagai Anggota ITU Council Indonesia Terpilih Kembali Sebagai Anggota ITU Council Indonesia berhasil terpilih kembali sebagai anggota ITU Council periode 2014-2018 pada sidang ITU Plenipotentiary Conference 2014 (PP-14) yang diselenggarakan

Lebih terperinci

Monev Kegiatan Iptek dengan Open Method Of Coordination/OMC (Metode. Koordinasi Terbuka/MKT)

Monev Kegiatan Iptek dengan Open Method Of Coordination/OMC (Metode. Koordinasi Terbuka/MKT) Monev Kegiatan Iptek dengan Open Method Of Coordination/OMC (Metode Koordinasi Terbuka/MKT) 2008 ALUR PAPARAN OMC (Open Method of Coordination) Isu Koordinasi Pengertian, Contoh, Manfaat Mekanisme, elemen

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 21/PRT/M/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 21/PRT/M/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 21/PRT/M/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUMBAWA.

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUMBAWA. PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUMBAWA. BUPATI SUMBAWA Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR 4

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 168/PMK.01/2012 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 168/PMK.01/2012 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 168/PMK.01/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTANSI VERTIKAL DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DENGAN

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 DINAS CIPTA KARYA KABUPATEN BADUNG Mangupura, 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG DINAS CIPTA KARYA PUSAT PEMERINTAHAN MANGUPRAJA MANDALA JALAN RAYA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKP DAN RENJA K/L TAHUN 2014

DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKP DAN RENJA K/L TAHUN 2014 Lampiran Surat Bersama PAGU INDIKATIF TAHUN 2014 PETUNJUK PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKP DAN RENJA K/L TAHUN 2014 A DANA RAK GAR CA NA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk memberikan pedoman

Lebih terperinci

Kep. MENPAN No. 7/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS RADIASI

Kep. MENPAN No. 7/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS RADIASI Kep. MENPAN No. 7/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS RADIASI DISAMPAIKAN OLEH: KEDEPUTIAN BIDANG SDM APARATUR, KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REPORMASI BIROKRASI

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.741, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Organisasi. Tata Kerja. Perubahan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

Lebih terperinci

PEDOMAN MEKANISME DAN PROSEDUR PENGELOLAAN DANA DAN KEGIATAN FASILITAS PENDUKUNG PNPM MANDIRI (PSF)

PEDOMAN MEKANISME DAN PROSEDUR PENGELOLAAN DANA DAN KEGIATAN FASILITAS PENDUKUNG PNPM MANDIRI (PSF) PEDOMAN MEKANISME DAN PROSEDUR PENGELOLAAN DANA DAN KEGIATAN FASILITAS PENDUKUNG PNPM MANDIRI (PSF) Joint Management Committee Fasilitas Pendukung PNPM Mandiri 2009 1 SAMBUTAN Kemiskinan di Indonesia merupakan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, WEWENANG, DAN TATA KERJA SEKRETARIAT JENDERAL BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM, SEKRETARIAT BADAN PENGAWAS PEMILIHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN Pertemuan Tingkat Tinggi Tentang Kewirausahaan akan menyoroti peran penting yang dapat dimainkan kewirausahaan dalam memperluas kesempatan

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU

TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU Disampaikan Dalam Acara Kick Off Meeting Penyusunan RKP 2012 DEPUTI BIDANG PENDANAAN

Lebih terperinci

Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negri Kemdikbud 2012

Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negri Kemdikbud 2012 Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negri Kemdikbud 2012 PrinsipUmum Setiap PNS yang melakukan perjalanan luar negeri untuk kepentingan dinas perlu ijin dari Pemerintah RI (SP=Surat Persetujuan) Ijin

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, - 1 - PERATURAN PRESIDEN NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 Undang-Undang

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PEDOMAN UMUM MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

a. bahwa pelaksanaan penyusunan penetapan kinerja dan pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perlu dilakukan penyempurnaan;

a. bahwa pelaksanaan penyusunan penetapan kinerja dan pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perlu dilakukan penyempurnaan; MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 29 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN

Lebih terperinci

Asumsi : Satker Ditetapkan pada Tahun 2010

Asumsi : Satker Ditetapkan pada Tahun 2010 LANGKAH-LANGKAH SETELAH DITETAPKAN MENJADI SATUAN KERJA PK BLU SETELAH DITETAPKAN MENJADI SATKER BLU APA YANG HARUS DILAKUKAN Asumsi : Satker Ditetapkan pada Tahun 2010 Menyetorkan seluruh PNBP TA 2010

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : 19 TAHUN 2OL4 TANGGAL : 17 JVLI 2OL4 BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA PERATURAN KEPALA

Lebih terperinci

- 361-11. Standar Pelayanan Penyusunan Permohonan Anggaran Biaya Tambahan (ABT)

- 361-11. Standar Pelayanan Penyusunan Permohonan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) - 361-11. Standar Pelayanan Penyusunan Permohonan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) STANDAR PELAYANAN PENYUSUNAN PERMOHONAN ANGGARAN BIAYA TAMBAHAN (ABT) BAGIAN KESATU PENDAHULUAN A. Dasar Hukum 1. Peraturan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, DAN FUNGSI ESELON I KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGELOLAAN DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN

KEBIJAKAN PENGELOLAAN DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Kalimantan Tengah Kementerian Keuangan KEBIJAKAN PENGELOLAAN DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN L u d i r o Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Propinsi Kalimantan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014

RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014 RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014 BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA BIDANG RISET TAHUN 2011-2015 TAHUN

PROGRAM KERJA BIDANG RISET TAHUN 2011-2015 TAHUN BIDANG RISET 2011-2015 1 PT dengan kondisi riset Kelas C (paling lemah) 2 1. Membutuhkan riset untuk melengkapi fungsi Tridharma PT 2. Kebutuhan Akreditasi 3. Keperluan penaikan Kum untuk kepangkatan 4.

Lebih terperinci

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL INDONESIA DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL (SERI 1) 24 JULI 2003 PROF. DAVID K. LINNAN UNIVERSITY OF

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PERMEN-KP/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PERMEN-KP/2013 TENTANG Menimbang PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PERMEN-KP/2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI BESAR PENGUJIAN PENERAPAN HASIL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Direktorat Perencanaan Pembangunan Daerah KEMENTERIAN DALAM NEGERI DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2014 DASAR HUKUM EVALUASI HASIL RENCANA

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pengelolaan keuangan negara digunakan

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN Pangkal Pinang 16-17 April 2014 BAGIAN DATA DAN INFORMASI BIRO PERENCANAAN KEMENHUT email: datin_rocan@dephut.go.id PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menserasikan

Lebih terperinci

PEDOMAN 3 POLA KERJASAMA DENGAN PIHAK LUAR. Oleh : Tim LPM UNJ

PEDOMAN 3 POLA KERJASAMA DENGAN PIHAK LUAR. Oleh : Tim LPM UNJ PEDOMAN 3 POLA KERJASAMA DENGAN PIHAK LUAR Oleh : Tim LPM UNJ LEMBAGA PENGABDIAN MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2014 LEMBAR PENGESAHAN Tim Penyusun Ketua Anggota : Dr. Etin Solihatin, M.Pd : Drs.

Lebih terperinci