BAB 1 PENDAHULUAN. memberikan pertolongan yang justru sangat dibutuhkan.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 1 PENDAHULUAN. memberikan pertolongan yang justru sangat dibutuhkan."

Transkripsi

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingkah laku menolong sering muncul dalam masyarakat, dimana perilaku ini diberikan guna meringankan penderitaan orang lain, misalnya menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan, menghibur teman yang sedang sedih, memberi, membantu, dan menyumbang. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang mau bertingkah laku menolong pada orang lain, bahkan kadang orang tidak mau memberikan pertolongan yang justru sangat dibutuhkan. Setiap manusia mengalami beberapa proses perkembangan dalam hidupnya, baik secara fisik maupun psikologis. Mulai dari masa kanak-kanak, remaja sampai pada masa dewasa dan usia tua. Pada setiap masanya, individu akan menemukan halhal baru dan pengalaman-pengalaman baru yang akan menuntunnya ke masa selanjutnya. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dimana remaja memiliki dunia tersendiri. Selain itu masa remaja juga merupakan waktu yang paling berkesan dalam kehidupan individu. Manusia sebagai makhluk sosial ditakdirkan untuk bisa hidup saling tolong menolong sesuai citra kasih, namun kenyataannya pada era modernisasi saat ini manusia sudah banyak disibukkan dengan kepentingannya masing masing. Kehidupan diperkotaan dengan mobilitas yang tinggi, menimbulkan adanya pergeseran nilai nilai pada masyarakat. Pergeseran nilai juga didukung dengan 1

2 2 masuknya budaya asing dengan bebas sebagai efek dari kemajuan teknologi dan informasi, contohnya pergeseran nilai kepedulian dan kegotongroyongan. Hal ini dapat kita lihat dari perubahan tingkahlaku dan menurunnya keikutsertaan masyarakat lingkungan sekitar pada kegiatan kebersihan pada lingkup tetangga. Keuntungan pribadi menjadi salah satu pertimbangan masyarakat perkotaan untuk membantu dan menolong orang lain. Tindakan kekerasan yang terjadi di Indonesia telah mencapai tingkat yang membahayakan. Santhoso, 1995 (dalam Pratitis, 2013, h. 1-11) menjelaskan bahwa salah satu tindakan yang membahayakan adalah agresivitas yang cenderung lebih banyak dilakukan oleh remaja justru menunjukan gejala peningkatan jika dibandingkan dengan tindakan menolong. Hal ini ditunjukan dengan adanya data data mengenai tindakan agresi seperti perkelahian, tawuran antarpelajar atau antar kelompok yang sering kali muncul dalam pemberitaan. Hal ini diduga karena kurangnya pendidikan karakter atau moral, padahal idealnya manusia sebagai makhluk sosial dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya. Beberapa remaja tidak segan memberikan pertolongan bagi teman teman mereka, mulai dari hal hal kecil seperti mengambilkan barang yang jatuh, mengantar teman pulang, mengajari teman dalam mata pelajaran tertentu, hingga teman yang tidak mampu. Tingkah laku menolong juga dipengaruhi oleh jenis hubungan antar orang, bahwa semakin dekat hubungannya maka semakin kuat harapan untuk mendapatkan bantuan. (Sears 1985,h ). Menurut Eisenberg dan Mussen (dalam Aditya Yesaya Ariady, 2011, hal.13) tingkah laku menolong mengarah pada

3 3 perilaku sukarela yang dimaksudkan untuk membantu kelompok atau individu lain.tingkah laku prososial (menolong) sebagai suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolong (Baron & Bryne, 2003, h. 92). Pada dasarnya, tingkah laku menolong merupakan perilaku yang menguntungkan orang lain. Beberapa tingkah laku menolong yang sederhana pada kehidupan sehari-hari, contohnya seperti memprioritaskan kaum manula dan ibu hamil pada kendaraan umum, membantu orang tua untuk menyeberang jalan dan sebagainya. Perilakuperilaku tersebut sudah jarang kita temukan di masyarakat perkotaan, mereka lebih mementingkan kenyamanan pribadi dan tidak mempedulikan lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan renggangnya interaksi dan orang hanya akan melihat apakah kepentingan orang lain dapat membawa manfaat bagi dirinya. Tingkah laku menolong diharapkan dapat tumbuh dalam kehidupan masyarakat agar terwujud kehidupan yang memiliki nilai positif bagi orang lain dan terjalin suatu kontak sosial. Pentingnya tingkah laku menolong dalam kehidupan siswa SMA membawa dampak positif bagi pengembangan diri, siswa SMA serta seluruh aspek didalamnya. Dampak positif tersebut terlihat pada tumbuhnya rasa kedamaian, keharmonisan, menyayangi antar sesama, menghargai antar sesama, sikap nasionalisme yang tinggi, dan idialisme yang sehat. Tingkah laku menolong sering muncul pada siswa SMA, dimana perilaku ini diberikan guna meringankan penderitaan orang lain. Misalkan seorang siswa SMA menolong temannya yang sedang kesusahan, menghibur

4 4 temannya yang sedang sedih apabila ada suatu masalah, membantu temannya yang sedang mengalami kesulitan. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang mau bertingkah laku menolong pada orang lain. Bahkan kadang orang tidak mau memberikan pertolongan yang justru sangat dibutuhkan. Para siswa SMA dituntut untuk mengikuti kegiatan kegiatan di sekolah tersebut, sehingga setiap siswa memiliki kewajiban untuk selalu dispilin, tekun, rajin, dan mandiri. Hal ini membuat para siswa mengerahkan sebagian besar waktu untuk belajar dan tidak dapat mengikuti kegiatan lain seperti bermain, ataupun mengikuti ekstrakulikuler, dimana hal tersebut mempengaruhi tingkah laku menolong para siswa, termasuk perilaku tolong menolong antar teman. Program kegiatan kegiatan yang mempengaruhi tingkah laku menolong siswa sudah dilaksanakan di beberapa SMA di Kota Semarang. SMA swasta juga memberikan perhatian pada tingkah laku menolong setiap siswa. Menurut salah seorang guru, SMA Swasta setiap tahun rutin mengadakan bakti sosial, membagikan sembako kepada masyarakat yang kurang mampu, mengadakan donor darah, anjang sana ke panti asuhan yang dilakukan oleh para siswa, selain itu sekolah juga memiliki kas khusus dimana semua siswa khususnya yang mampu dari segi finansial saling bahu membahu mengumpulkan uang untuk membantu teman mereka yang kesulitan dalam biaya sekolah maupun study tour. Selain itu, para siswa SMA Swasta Semarang, dengan inisiatif mereka sendiri, untuk membantu temannya dengan cara berentrepreneurship atau berwiraswasta.

5 5 Melihat kondisi masa sekarang ini, fenomena tingkah laku menolong antar siswa SMA dirasa kian menipis. Berkembangnya ilmu pengetahuan serta munculnya tehnologi pada era modernisasi ini mengakibatkan para remaja menjadi makhluk individual karena hampir tiap remaja memiliki fasilitas untuk melakukan segala sesuatunya dengan serba cepat dan praktis. Seorang siswa bernama RT yang duduk di bangku kelas XI di SMA menyatakan bahwa dirinya akan membantu temannya yang sedang kesusahan, bila teman sekelompoknya juga ikut membantu, apabila teman sekelompoknya tidak membantu, si RT tidak akan ikut membantu juga, sementara seorang siswa bernama GB yang duduk di bangku kelas XI di SMA mengatakan bahwa GB akan langsung memberikan bantuan ketika temannya yang bernama CN dalam kesulitan,walaupun teman sekelompoknya sangat membenci dan tidak mau membantu CN. GB tidak peduli apabila teman sekelompoknya akan menjauhi/mengucilkan. Kedua pernyataan tersebut menunjukkan berkurangnya kepedulian remaja untuk menolong temannya yang sedang membutuhkan karena pengaruh lingkungan dan kelompok. Tingkah laku menolong tentunya tidak terbentuk dengan mudah. Banyak faktor yang mendorong seseorang untuk menolong salah satunya adalah dipengaruhi oleh konformitas. Siswa yang memiliki konformitas tinggi terhadap teman sebayanya akan bersikap dan berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku pada teman sebayanya. Apabila teman sebayanya bertingkah laku menolong, maka secara otomatis siswa yang bersangkutan juga akan bertingkahlaku sama dengan temannya.

6 6 Pengaruh konformitas terhadap tingkah laku menolong pada teman-teman sebaya lebih besar daripada pengaruh keluarga. Hal ini disebabkan karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok. Sigelman dan Shaffer (dalam Rahayu Sumarlin, 2000, hal 3). Terdapat dua aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya. Pertama social cognition yaitu kemampuan yang berpengaruh kuat terhadap minatnya untuk bergaul atau membentuk persahabatan. Kedua adalah conformity yaitu motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam dengan nilai nilai, kebiasaan, kegemaran (hobi), atau budaya teman sebayanya. Konsep konformitas yang dikemukakan Evert (dalam Monks dkk, 1999) bahwa besarnya pengaruh lingkungan atau kelompok tersebut sampai pada pemberian norma tingkah laku oleh kelompok. Bagi remaja yang memiliki kecendrungan kuat untuk masuk kelompok, maka pengaruh pemberian norma oleh kelompok tersebut akan berdampak pada timbulnya konformitas yang kuat. Kondisi demikian akan membuat remaja cenderung untuk lebih menyesuaikan diri dengan norma kelompok agar mendapatkan penerimaan dan menghindari penolakan. Tiap-tiap anggota kelompok pasti ingin diterima dan diperlakukan sebagai anggota kelompok yang sama oleh anggota kelompok yang lain. Tiap anggota juga akan berusaha untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma kelompok yang berlaku. Keinginan ini berkembang menjadi mengikuti apa saja yang oleh mayoritas anggota diterima sebagai sesuatu yang benar.(rahayu Sumarlin, 2000,hal 3)

7 7 Konformitas mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan masa remaja. Konformitas umumnya terjadi karena remaja tidak ingin dipandang berbeda dengan teman temannya dan agar dapat diterima oleh kelompoknya. Menurut Palmer (Mappiare, 1999, h. 129) salah satu kebutuhan yang sangat peka bagi remaja dalam kelompok teman sebaya adalah kebutuhan untuk diterima dan menghindari ditolak oleh kelompok. Misalnya, apabila hampir seluruh anggota kelompok bermain, maka individu juga akan ikut bermain, meskipun sebenarnya individu tidak menginginkan bermain melainkan belajar. Hal ini disebabkan karena rasa khawatir dirinya akan dikucilkan oleh teman kelompoknya. Siswa SMA yang umumnya berada pada masa remaja, berada dalam fase proses pencarian identitas diri bergabung dengan kelompok tertentu, dengan tujuan belajar banyak hal termasuk mendapatkan sumber informasi penting. Seringkali remaja mengetahui sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Semakin besar kepercayaan remaja terhadap kelompok sebagai sumber informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap kelompok. (O Sears, dkk., 1991, h.239). Konformitas seringkali digeneralisasikan untuk masa remaja karena dari banyak penelitian terungkap salah satunya adalah penelitian Surya (1999, hal 1) bahwa pada masa remaja, konformitas terjadi dengan frekuensi lebih tinggi dibandingkan dengan masa pertumbuhan lainnya. Hal tersebut dapat dimengerti mengingat pada masa remaja prosses pemantapan diri sedang berlangsung sehingga remaja lebih rentan

8 8 terhadap pengaruh perubahan dan tekanan yang ada disekitarnya. Dasar utama dari konformitas adalah ketika individu melakukan aktivitas dimana terdapat tendensi yang kuat untuk melakukan sesuatu yang sama dengan yang lainnya. Remaja yang mempunyai tingkat konformitas tinggi akan lebih banyak tergantung pada aturan yang berlaku dalam kelompoknya, sehingga remaja cenderung mengatribusikan setiap aktivitasnya sebagai usaha kelompok. (Monks dkk, 2008, hal.187). Dengan memperhatikan hubungan antara tingkat konformitas dengan tingkah laku menolong merupakan sesuatu yang menarik. Tingkah laku menolong merupakan perilaku yang harus dimiliki setiap individu sebagai makhluk sosial sedangkan konformitas merupakan motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam dengan nilai nilai, kebiasaan, kegemaran (hobi), atau budaya teman sebayanya.adanya hubungan antara konformitas terhadap tingkah laku menolong pada siswa SMA, semakin tinggi konformitas semakin tinggi tingkah laku menolong siswa SMA karena siswa hidup bertingkah laku menolong karena adanya pengaruh konformitas atau kelompok yang cenderung untuk lebih menyesuaikan diri dengan kebiasaan kelompok. Bentuk harapan serupa ini tentunya sangat berhubungan dengan tingkah laku menolong yang dimiliki oleh siswa SMA. Dari uraian di atas, peneliti tertarik ingin mengetahui Apakah ada hubungan antara konformitas dengan tingkah laku menolong pada siswa SMA.

9 9 B. Tujuan Peneliti Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konformitas terhadap tingkah laku menolong pada siswa SMA. C. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis, yaitu : 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan terhadap ilmu psikologi sosial dan psikologi pendidikan. 2. Manfaat praktis Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan informasi bagi pihak sekolah tentang tingkah laku menolong pada siswa ditinjau dari konformitas.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam

BAB I PENDAHULUAN. Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada awal dan akhirnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan

Lebih terperinci

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut:

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar Akuntansi a. Pengertian Hasil Belajar Akuntansi Belajar merupakan suatu kebutuhan mutlak setiap manusia. Tanpa belajar manusia tidak dapat bertahan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 100 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 03 Singosari Malang Motivasi belajar merupakan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI Oleh: RESSA ARSITA SARI NPM : A1G009038 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua. terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua. terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di 13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua a. Pengertian Peranan Secara umum peranan adalah perilaku yang dilakukan oleh seseorang terkait oleh kedudukannya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari

Lebih terperinci

Setiap individu memiliki tingkatan usia yang berbeda-beda, usia merupakan

Setiap individu memiliki tingkatan usia yang berbeda-beda, usia merupakan 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Manusia Lanjut Usia Bekerja 1. Pengertian Manusia lanjut usia Manusia lanjut usia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Nama NIM PGPAUD

SKRIPSI. Oleh: Nama NIM PGPAUD SKRIPSI UPAYA PENINGKATANN KEMANDIRIAN ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADAA KELOMPOK A TAMAN KANAK-KANAK PERTIWI JATIROKEH SONGGOM BREBES Di ajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN UMBULHARJO YOGYAKARTA SKRIPSI

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN UMBULHARJO YOGYAKARTA SKRIPSI PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN UMBULHARJO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk

Lebih terperinci

GRIEF PADA REMAJA AKIBAT KEMATIAN ORANGTUA SECARA MENDADAK

GRIEF PADA REMAJA AKIBAT KEMATIAN ORANGTUA SECARA MENDADAK GRIEF PADA REMAJA AKIBAT KEMATIAN ORANGTUA SECARA MENDADAK SKRIPSI Disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperolah gelar Sarjana Psikologi oleh Adina Fitria S 1550408014 JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS

Lebih terperinci

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati Masa Kanak-Kanak Akhir Siti Rohmah Nurhayati MASA KANAK-KANAK AKHIR Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa ini dialami anak pada usia 6 tahun sampai

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI)

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) Oleh: Drs. Asmin, M. Pd Staf Pengajar Unimed Medan (Sedang mengikuti Program Doktor di PPS UNJ Jakarta) Abstrak. Membangun manusia pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Manusia sebagai makhluk sosial dalam bertingkah laku

Lebih terperinci

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1 Panduan Buku ini membantu Anda memahami bagaimana konsep belajar berubah ke kelas yang berpusat pada anak. Buku ini memberikan ide-ide bagaimana menangani anak di kelas Anda dengan latar belakang dan kemampuan

Lebih terperinci

MASA AWAL KANAK-KANAK

MASA AWAL KANAK-KANAK MASA AWAL KANAK-KANAK Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kirakira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah, misalnya tentang hal hal yang berkaitan dengan tugas perkembangan remaja

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah, misalnya tentang hal hal yang berkaitan dengan tugas perkembangan remaja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang pasti punya masalah. Masalah merupakan satu hal yang selalu mengiringi kehidupan setiap manusia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Kehidupan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 2006/2007

HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 2006/2007 HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 006/007 Skripsi Oleh AGUS P. ANDI W. NIM. K5103003 FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock, 2003).

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock, 2003). 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Remaja 1. Pengertian Remaja Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock, 2003). Masa remaja disebut

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang. yang sangat penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan

BAB II LANDASAN TEORI. masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang. yang sangat penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan 15 BAB II LANDASAN TEORI A. Guru dan Orang Tua 1. Pengertian Guru dan Orang Tua a. Pengertian Guru Guru atau disebut juga dengan tenaga kependidikan adalah; anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA (Untuk Kelas VIII SMP N 1 Tirtomoyo Semester Genap Pokok Bahasan Prisma) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Peran Orang Tua dalam Pengembangan Kepribadian Anak di Era Globalisasi

Peran Orang Tua dalam Pengembangan Kepribadian Anak di Era Globalisasi Peran Orang Tua dalam Pengembangan Kepribadian Anak di Era Globalisasi Evany Victoriana Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung Abstract This writing examine theoretically about parental

Lebih terperinci

Persepsi Orang Tua Terhadap Pendidikan Formal Anak OLEH: RINI ANA WATI 07081002044

Persepsi Orang Tua Terhadap Pendidikan Formal Anak OLEH: RINI ANA WATI 07081002044 Persepsi Orang Tua Terhadap Pendidikan Formal Anak ( Studi Pada Jenjang Pendidikan SD Ke SMP Di Desa Rantau Alih Kecamatan Lintang Kanan Kabupaten Empat Lawang ) SKRIPSI Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069 i SKRIPSI MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI PADA SISWA KELAS V SDN 8 DAUH PURI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ratih Pertiwi, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ratih Pertiwi, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa di mana remaja berada pada periode yang penting, periode peralihan, periode perubahan, masa mencari identitas, usia yang menimbulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi terjadi dimana-mana; di rumah, di kampus, di kantor, dan

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi terjadi dimana-mana; di rumah, di kampus, di kantor, dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi terjadi dimana-mana; di rumah, di kampus, di kantor, dan bahkan di masjid. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Sebuah penelitian

Lebih terperinci