EVALUASI KEBIJAKAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "EVALUASI KEBIJAKAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN"

Transkripsi

1 EVALUASI KEBIJAKAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN Dedy Setiyono Universitas Madura Abstract The purpose of a company is to obtain an optimal return on investment that has been invested in the company. One form of investment is fixed assets used in the normal activities of the company. To achieve its goals, it needs effective management and the need for the proper use, maintenance, selection of methods for assessing the company's fixed assets. Depreciation is to accumulate funds for the purchase of fixed assets when it needs replacement. The amount of depreciation of fixed assets affect the size of the profits made by the company. Therefore, the selection of the depreciation method should be appropriate and there should be an analysis of the depreciation method applied to the company in its fixed assets. Keywords: Method of depreciation of fixed assets, financial accounting standards PENDAHULUAN Dalam menghadapi perkembangan usaha yang semakin maju, sebuah perusahaan yang didirikan harus memiliki suatu tujuan agar dapat membuat perusahaan hidup dalam jangka panjang, artinya perusahaan harus mempertahankan kelangsungan hidupnya melalui pencapaian tujuan. Suatu tujuan akan tercapai apabila perusahaan dikelola dengan baik, sehingga sesuai dengan harapan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Tujuan suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dalam perusahaan. Salah satu bentuk investasi tersebut adalah aktiva tetap yang digunakan dalam kegiatan normal perusahaan. Aktiva tetap yaitu sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun (Jusup, 2003:23). Menurut Baridwan (2004:271) aktiva tetap terdiri dari aktiva tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud. Aktiva tetap berwujud adalah aktiva-aktiva yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. 1

2 Untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut, diperlukan pengelolaan yang efektif dan kebutuhan yang tepat dalam penggunaan, pemeliharaan, pemilihan metode untuk menilai aktiva tetap perusahaan. Umur ekonomis suatu aktiva tetap harus dapat dibebankan secara tepat dan salah satu caranya adalah dengan menentukan metode penyusutan. Penyusutan adalah pemupukan dana untuk membeli aktiva tetap apabila sudah memerlukan penggantian (Soemarso, 1996:28). Definisi aktiva tetap menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keungan (PSAK) No. 16 adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Untuk itu perlu diketahui apakah metode penyusutan yang diterapkan perusahaan telah memperhatikan perubahan nilai aktiva tetap yang menurun disebabkan karena berlalunya waktu atau menurunnya manfaat yang diberikan aktiva tetap tersebut. Perusahaan harus mampu menerapkan metode penyusutan yang tepat pada aktiva tertentu, karena metode penyusutan yang berbeda akan menghasilkan alokasi biaya penyusutan yang berbeda sehingga akan mempengaruhi harga pokok penjualan dan beban usaha yang mempengaruhi besarnya laba yang akan diperoleh perusahaan. Laba usaha adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama satu priode kecuali yang timbul dari pendapatan atau investasi oleh pemilik (Baridwan, 2004:29). Besarnya beban penyusutan aktiva tetap mempengaruhi besar kecilnya laba yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, pemilihan metode penyusutan harus tepat dan perlu diadakan analisis terhadap metode penyusutan yang diterapkan perusahaan dalam aktiva tetapnya. Pada umumnya nilai ekonomis suatu aktiva tetap akan mengalami penurunan yang disebabkan pemakaian dan kerusakan, keusangan karena faktor ekonomis dan teknis. 2

3 KAJIAN PUSTAKA Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan salah satu alat yang penting dan pokok dalam suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur atau kegiatannya melakukan proses produksi, karena pada perusahaan jenis tersebut aktiva tetap merupakan tulang punggung bagi aktivitas perusahaan sehari-hari. Aktiva tetap dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Menurut standar akuntansi keuangan (2002;16) adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang dipergunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Sedangkan Baridwan (2000; 271) mengemukakan definisi aktiva tetap adalah aktiva tetap berwujud adalah aktiva-aktiva yang berwujud yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa aktiva tetap adalah harta yang dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan yang umumnya lebih dari 1 (satu) tahun atau periode akuntansi. Klasifikasi Aktiva Tetap Aktiva tetap dapat dibagi atas 3 (tiga) kelompok besar yaitu: a. Aktiva berwujud yang dapat dibagi menjadi: 1. Aktiva yang disusutkan, seperti gedung, mesin-mesin dan peralatan kantor. 2. Aktiva yang tidak dapat disusutkan, seperti tanah. b. Aktiva tidak berwujud, seperti paten, hak cipta, merk dagang, goodwill, dan lainlain. c. Sumber daya alam, yaitu aktiva tetap yang depresi misalnya tanah-tanah pertambangan. Sementara itu, Baridwan (2000;287) menjelaskan bahwa aktiva tetap berwujud yang dimiliki oleh perusahaan dapat mempunyai macam-macam bentuk, seperti tanah, bangunan, mesin dan alat-alat, alat-alat kerja, cetakan-cetakan, perabot dan alat-alat kantor, kendaraan dan tempat barang yang dapat dikembalikan. 3

4 Perolehan Aktiva Tetap Dasar penilain aktiva tetap ini umumnya historical cost yang diukur dari harga cash (tunai) atau cash equivalent (setara kas) dalam mendapatkan ativa tersebut dan membawanya ke lokasi serta kondisi yang diperlukan sesuia dengan tujuan perolehannya. Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yang masing-masing cara perolehannya akan mempengaruhi harga perolehannya. Cara perolehan aktiva tetap tersebut: a. Pembelian tunai aktiva tetap dicatat sebesar jumlah uang yang dibayarkan termasuk seluruh pengeluaran incidental yang berhubungan dengan pembelian atau persiapan untuk penggunaannya. b. Pembelian angsuran yang dikapitalisasi dari harga tunai dalam menilai harga perolehan. c. Perolehan melalui cara pertukaran (trade in) menurut standar akuntansi keuangan (2002;16), suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. d. Perolehan dengan cara penerbitan surat berharga misalnya saham atau obligasi. Jika aktiva tetap diperoreh dengan menukarkannya dengan suratsurat berharga sendiri maka perolehan dari aktiva tetap tersebut didasarkan atas harga pasar di surat berharga tersebut. e. Perolahan dengan membuat sendiri. Menurut standar akuntansi keuangan (2002;16) jika perusahaan membuat aktiva serupa untuk dijul dalam keadaan usaha normal, biaya perolehan biasanya sama dengan biaya memproduksi aktiva untuk dijual, karenanya setiap laba internal dieleminasi dalam menetapkan biaya tersebut. f. Perolehan dengan hadiah atau sumbangan/ hibah/ donasi adalah perolehan aktiva yang biasanya tanpa ada pengeluaran dari perusahaan. g. Perolehan dengan cara sewa guna (leasing). Menurut surat keputusan bersama Menteri Keuangan, Perdagangan dan Menteri Perindustrian No. 31 M/SK/2/1974 yang dikemukakan oleh standar akuntansi keuangan (2002;31) adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayarn secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang- 4

5 barang modal yang bersangkutan untuk memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama. Metode Penilaian Aktiva Tetap Konsep penilaian aktiva tetap yang relevan adalah didasarkan pada nilai tukar (excange of convertion value). Nilai tukar ada 2 jenis yaitu: a. Nilai tukar masukan (excange input value) adalah nilai yang menggambarkan jumlah pengorbanan yang telah dikeluarkan untuk memperoleh aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan. b. Nilai tukar keluaran (excange input value) adalah dapat berupa nilai tukar pada saat lalu, nilai tukar sekarang maupun saat yang akan datang. Penilaian aktiva tetap hanya dapat didasarkan pada nilai tukar masukan saja, yang terdiri atas: a. Historical cost, nilai tukar yang dipergunakan adalah nilai pasar pada saat perolehan. b. Current input value, adalah nilai tukar yang didasarkan nilai pasar apabila aktiva tersebut diperoleh pada saat sekarang. Penilaian yang umum digunakan dalam praktik-praktik akuntansi adalah berdasarkan historical cost karena memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah penilaian yang dilakukan oleh organisasi yang independent akan mendapatkan hasil yang sama (verifiable), sama dengan yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan lain karena umum digunakan dan benar-benar menggambarkan nilai pengorbanan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Penyusutan Aktiva Tetap Definisi penyusutan menurut standar akuntansi keuangan (2002;17) adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan harus diestimasi setelah mempertimbangkan faktor berikut: a. Taksiran aus dan kerusakan fisik (physical wear dan tear). b. Keusangan. c. Pembatasan hukum atau lainnya atas penggunaan akti 5

6 Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan dalam Memilih Metode Penyusutan Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode penyusutan ialah: a. Hubungan antara penurunan nilai aktiva dengan penggunaan dan waktu yang terdiri dari nilai waktu menurun karena fungsi penggunaan dan bukan sebagai fungsi terlewatnya waktu dan manfaat mendatang yang akan menurun sebagai suatu fungsi waktu ketimbang sebagai fungsi penggunaan. b. Pengaruh keusangan, bukan merupakan faktor yang penting dalam menetapkan usia waktu. c. Pola biaya reparasi yang terdiri dari pemeliharaan yang relatif proporsional terhadap penggunaan, pemeliharaan bersifat konstan atau menurun sepanjang usia aktiva dan biaya pemeliharaan meningkat. d. Kemungkinan perubahan dalam pendapatan perusahaan terhadap penggunaan aktiva. e. Tingkat efisiensi operasi aktiva tetap yang bersangkutan. Metode Penyusutan Standar akuntansi keuangan (2002;17) menyatkan bahwa jumlah yang dapat disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang sistematis. Metode apapun yang dipilih, konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu, tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari periode ke periode. Adapun metode penyusutan yang biasanya digunakan adalah terdiri dari: a. Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang terdiri dari metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo menurun berganda. b. Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi. c. Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok, metode analisis, metode sistem persediaan. 6

7 Menurut pernyataan standar akuntansi keuangan No. 17 penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut kriteria berikut: Berdasarkan Waktu: a. Metode garis lurus (straight line method) Dalam metode garis lurus lebih melihat aspek waktu daripada aspek kegunaan. Metode ini paling banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan karena paling mudah diaplikasikan dalam akuntansi. Dalam metode penyusutan garis lurus, beban penyusutan untuk tiap tahun nilainya sama besar dan tidak dipengaruhi dengan hasil atau output yang diproduksi. Perhitungan tarif penyusutan untuk metode garis lurus adalah sebagi berikut: hp ns Penyusutan = n b. Metode jumlah angka tahun (sum of the years digit method) Metode penyusutan ini menghasilkan tarif penyusutan yang menurun dengan dasar penurunan pecahan dari nilai yang dapat disusutkan (harga perolehan dikurangi dengan nilai sisa). Setiap pecahan menggunakan jumlah tahun sebagai bilangan penyebut ( = 15) dan jumlah tahun akhir dari estimasi umur kegunaan. Penghitungannya adalah sebagai berikut: Jumlah tahun dibalik Penyusutan = x (harga perolehan-nilai Jumlah angka tahun c. Metode saldo menurun (declining balance method) Metode ini juga merupakan metode penurunan beban penyusutan yang menggunakan tingkat penyusutan (diekspresikan dalam persentase) yang merupakan perkalian dari metode garis lurus. Tingkat penyusutan metode ini selalu tetap dan diaplikasikan untuk mengurangi nilai buku pada setiap akhir tahun. Tidak seperti metode lain, dalam metode saldo menurun nilai sisa tidak dikurangkan dari harga perolehan dalam menghitung nilai yang dapat disusutkan. Rumus yang digunakan dalam menghitung adalah sebagai berikut: Penyusutan = % penyusutan (harga perolehan akumulasi penyusutan) 7

8 Berdasarkan Penggunaan a. Metode jam-jasa (service hours method) Metode ini digunakan untuk mengalokasikan beban penyusutan berdasarkan pada proporsi penggunaan aktiva yang sebenarnya. Metode penyusutan ini menggunakan jumlah jam kerja sebagai dasar pengalokasian beban penyusutan untuk tiap periode. b. Metode jumlah unit produksi (productive-output method) Metode ini digunakan untuk mengalokasikan beban penyusutan berdasarkan pada proporsi penggunaan aktiva yang sebenarnya. Metode penyusutan ini menggunakan hasil produksi sebagai dasar pengalokasian beban penyusutan untuk tiap periode. Dalam metode ini beban penyusutan diperlakukan sebagai beban variabel sesuai dengan unit produksi yang dihasilkan tiap periode akuntansi, bukan beban tetap seperti dalam metode penyusutan garis lurus (straight line method). Berdasarkan Kriteria Lainnya a. Metode berdasarkan jenis dan kelompok (group and composite method). Metode penyusutan biasanya digunakan untuk satu aktiva tetap. Dalam keadaan tertentu bagaimanapun juga ada berbagai macam aktiva yang disusutkan dengan menggunakan satu tarif penyusutan. Ada 2 metode penyusutan untuk aktiva yang beragam ini yaitu kelompok dan metode jenis. b. Metode anuitas (annuity method) Dalam metode anuitas ini beban penyusutan yang dihasilkan pada tahun/ periode awal adalah rendah dan akan meningkat jumlahnya tiap periode berikutnya. Metode ini paling banyak digunakan dalam industri real estate dan beberapa penyedia jasa, tetapi metode ini bukanlah metode penyusutan yang secara umum dapat diterima. c. Sistem persediaan (inventory method) Metode penyusutan ini biasanya digunakan untuk menilai aktiva berwujud yang nilainya kecil. Persediaan peralatan, sebagai contoh, mungkin ada pada awal dan akhir periode. 8

9 METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif yaitu yaitu penelitian terhadap fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subyek yang berupa individu, organisasional atau perspektif yang lain. Data yang diteliti hanya berupa populasi saja, yaitu laporan keuangan dan struktur financial yang bergerak dalam bidang manufaktur. Data dalam penelitian ini adalah data documenter, yaitu jenis data penelitian yang antara lain berupa faktur, jurnal, surat-surat, notulen hasil rapat, memo atau dalam bentuk laporan program (Indriantoro dan Supomo, 2002;145) Sumber data yang adalah data sekunder eksternal perusahaan, yaitu sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau melalui media perantara (diperoleh dari pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Sedangkan yang dimaksud eksternal adalah data tersebut diperoleh dari entitas selain peneliti dari organisasi yang bersangkutan. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa data dokumentasi, yaitu suatu metode pengumpulan data dengan mendokumentasikan dan mengumpulkan laporan keuangan dan struktur financial yang dimiliki. Dalam mengelola data, teknik analisa data yang digunakan adalah sebagai berikut: a. Metode penyusutan berdasarkan waktu 1. Metode garis lurus (straight line method) hp ns penyusutan= n Keterangan: hp : Harga Perolehan ns : Nilai sisa n : Umur ekonomis 2. Metode jumlah angka tahun (sum of the years digit method) penyusu tan = angka tahun dibalik jumlah angka tahun x ( h arg a perolehan nilai sisa) 9

10 3. Metode saldo menurun ganda (double declining balance method) Nilai penyusutan = % penyusutan (harga perolehan akumulasi penyusutan) b. Menghitung rata-rata laba menurut Metode Garis Lurus, Metode Jumlah Angka Tahun dan Metode Saldo Menurun Ganda X 1 = X 2 = X 3 = Keterangan: X 1 = Rata-rata laba pada saat menggunakan metode garis lurus X 2 = Rata-rata laba pada saat menggunakan metode angka tahun X 3 = Rata-rata laba pada saat menggunakan metode saldo menurun ganda c. Menghitungan Simpangan Baku S 1 = S 2 = S 3 = Keterangan: S 1 = Simpangan baku dengan menggunakan metode garis lurus S 2 = Simpangan baku dengan menggunakan metode jumlah angka tahun S 3 = Simpangan baku dengan menggunakan metode saldo menurun ganda d. Menghitung standar Deviasi gabungan dengan menggunakan rumus: Sd 1 = Sd 2 = Keterangan: Sd 1 = standar deviasi gabungan antara metode garis lurus dengan metode jumlah angka tahun 10

11 Sd 2 = standar deviasi gabungan antara metode garis lurus dengan metode saldo menurun ganda e. Menghitung nilai t hitungnya dengan menggunakan rumus: t 12 = t 13 = keterangan: t 12 =t hit antara metode garis lurus dengan metode jumlah angka tahun t 13 =t hit antara metode garis lurus dengan metode saldo menurun ganda PEMBAHASAN Analisis Metode Penyusutan Perhitungan Penyusutan Penyusutan atau depresiasi merupakan suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk mengalokasikan cost atau nilai lain suatu aktiva selama masa ekonominya dengan cara sistematis dan rasional. Di dalam melakukan perhitungan penyusutan, PT. Garam (Persero) menetapkan metode penyusutan garis lurus terhadap aktiva tetapnya dengan rumus: D = HP NS N Dalam menganalisa perhitungan metode penyusutan yang dilakukan oleh perusahaan, maka peneliti mengambil contoh perhitungan penyusutan aktiva tetap yang berupa bangunan perusahaan yang nilai perolehannya pada tahun 2005 senilai Rp. 23,784,794,000,- dengan masa manfaat adalah 10 tahun tanpa nilai residu. Biaya penyusutan pertahun adalah sebesar: Rp. 23,784,794,000 0 D = 10 = Rp. 2,378,479,

12 Perhitungan biaya penyusutan bangunan perusahaan pada PT. Garam (Persero) yang dinilai dari tahun 2005 dapat dilihat pada tabel berikut: Penyusutan Bangunan Perusahaan No Tahun Beban Benyusutan Akm. Penyusutan Nilai Buku Rp 23,784,794, Rp 2,378,479,400 Rp 2,378,479,400 Rp 21,406,314, Rp 2,378,479,400 Rp 4,756,958,800 Rp 19,027,835, Rp 2,378,479,400 Rp 7,135,438,200 Rp 16,649,355, Rp 2,378,479,400 Rp 9,513,917,600 Rp 14,270,876, Rp 2,378,479,400 Rp 11,892,397,000 Rp 11,892,397, Rp 2,378,479,400 Rp 14,270,876,400 Rp 9,513,917, Rp 2,378,479,400 Rp 16,649,355,800 Rp 7,135,438, Rp 2,378,479,400 Rp 19,027,835,200 Rp 4,756,958, Rp 2,378,479,400 Rp 21,406,314,600 Rp 2,378,479, Rp 2,378,479,400 Rp 23,784,794,000 Rp - Perhitungan penyusutan pada apabila dilakukan dengan menggunakan metode Jumlah Angkat Tahun dan metode Saldo Menurun Ganda dengan tetap menggunakan contoh di atas ialah sebagai berikut: a. Metode jumlah angka tahun D = = = x Rp 23,784,794, = Rp. 4,324,508,000.- b. Metode Saldo Menurun Ganda = 2 x (100%:10) = 20% D = 20% (Rp.23,784,794,000) = Rp.4,756,958,800.- Pencatatan Penyusutan Dalam melakukan pencatatan hasil perhitungan penyusutan mengacu pada prinsip akuntansi yang diterima umum yaitu dengan mendebit rekening biaya dan mengkredit rekening akumulasi. Sesuai contoh diatas beban penyusutan untuk tahun 2005 sebesar Rp. 23,784,794,000.-, maka jurnalnya sebagai berikut: Beban Penyusutan Bangunan Perusahaan Rp. 2,378,479,400.- Akm. Penyusutan Bangunan Perusahaan Rp. 2,378,479,

13 Pelaporan Penyusutan Nilai penyusutan aktiva tetap akan tercermin baik dalam income statement maupun balance sheet. Biaya penyusutan akan dilaporkan dalam perhitungan rugi laba yang akan mengurangi pendapatan dari operasi perusahaan sedangkan akumulasi penyusutan akan dilaporkan dalam neraca yang akan mengurangi nilai aktiva tetap. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selama penelitian, telah melakukan perhitungan yang benar di dalam menghitung biaya penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus (Straigh Line Methode) begitu juga dalam melakukan pencatatan dan pelaporannya dalam laporan keuangan perusahaan. Analisis Tingkat Laba Laba yang diperoleh oleh berdasarkan beban penyusutan Metode Garis Lurus dan perbandingan dengannya dengan menggunakan Metode Jumlah Angka Tahun dan Saldo Menurun Ganda adalah sebagai berikut: Laba Usaha Berdasarkan Metode Garis Lurus, Jumlah Angka Tahun dan Saldo Menurun Ganda LABA TAHUN Metode Garis Lurus Jumlah Angka Tahun Saldo Menurun Ganda 2005 Rp 8,652,670,000 Rp 4,896,982,000 Rp 3,682,833, Rp 12,505,585,000 Rp 8,074,904,000 Rp 6,793,427, Rp 18,398,968,000 Rp 14,605,641,450 Rp 13,293,380,000 Jumlah Rp 39,557,223,000 Rp 27,577, Rp 23,769,640,600 13

14 Untuk lebih jelasnya, maka akan diuraikan laporan Laba Rugi perusahaan berdasarkan metode Garis Lurus, Jumlah Angka Tahun, dan metode Saldo Menurun Ganda yaitu sebagai berikut: LAPORAN LABA/RUGI Per 31 Desember 2005 PENDAPATAN USAHA Garis lurus Jumlah Angka Tahun Saldo Menurun Ganda HASIL PENJUALAN Garam produksi sendiri Rp 73,353,939,000 Rp 73,353,939,000 Rp 73,353,939,000 Garam rakyat Rp 1,514,320,000 Rp 1,514,320,000 Rp 1,514,320,000 garam impor Rp 14,554,977,000 Rp 14,554,977,000 Rp 14,554,977,000 Garam kasar kemasan Rp 2,754,329,000 Rp 2,754,329,000 Rp 2,754,329,000 Garam halus Rp 6,955,396,000 Rp 6,955,396,000 Rp 6,955,396,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 2,425,343,000 Rp 2,425,343,000 Rp 2,425,343,000 Garam top Grade Maduro Rp 634,500,000 Rp 634,500,000 Rp 634,500,000 Air Bittern Rp 833,706,000 Rp 833,706,000 Rp 833,706,000 TOTAL PENDAPATAN USAHA Rp 103,026,510,000 Rp 103,026,510,000 Rp 103,026,510,000 HARGA POKOK PENJUALAN Garam produksi sendiri Rp 54,283,549,000 Rp 54,283,549,000 Rp 54,283,549,000 Garam rakyat Rp 1,265,733,000 Rp 1,265,733,000 Rp 1,265,733,000 garam impor Rp 12,987,191,000 Rp 12,987,191,000 Rp 12,987,191,000 Garam kasar kemasan Rp 2,562,928,000 Rp 2,562,928,000 Rp 2,562,928,000 Garam halus Rp 6,984,491,000 Rp 6,984,491,000 Rp 6,984,491,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 1,756,519,000 Rp 1,756,519,000 Rp 1,756,519,000 Garam top Grade Maduro Rp 620,620,000 Rp 620,620,000 Rp 620,620,000 Air Bittern Rp 317,887,000 Rp 317,887,000 Rp 317,887,000 HARGA POKOK PENJUALAN Rp 80,778,918,000 Rp 80,778,918,000 Rp 80,778,918,000 14

15 LABA (RUGI) KOTOR Garam produksi sendiri Rp 19,070,390,000 Rp 19,070,390,000 Rp 19,070,390,000 Garam rakyat Rp 248,587,000 Rp 248,587,000 Rp 248,587,000 garam impor Rp 1,567,786,000 Rp 1,567,786,000 Rp 1,567,786,000 Garam kasar kemasan Rp 191,401,000 Rp 191,401,000 Rp 191,401,000 Garam halus Rp (29,095,000) Rp (29,095,000) Rp (29,095,000) Garam low sodium LoSoSa Rp 668,824,000 Rp 668,824,000 Rp 668,824,000 Garam top Grade Maduro Rp 13,880,000 Rp 13,880,000 Rp 13,880,000 Air Bittern Rp 515,819,000 Rp 515,819,000 Rp 515,819,000 LABA (RUGI) KOTOR Rp 22,247,592,000 Rp 22,247,592,000 Rp 22,247,592,000 BIAYA USAHA Biaya penjualan Rp 2,897,724,000 Rp 2,897,724,000 Rp 2,897,724,000 Biaya penyusutan Rp 8,385,788,000 Rp 12,141,476,000 Rp 13,355,624,600 Biaya administrasi dan umum Rp 2,311,410,000 Rp 2,311,410,000 Rp 2,311,410,000 TOTAL BIAYA USAHA Rp 13,594,922,000 Rp 17,350,610,000 Rp 18,564,758,600 LABA/ RUGI USAHA Rp 8,652,670,000 Rp 4,896,982,000 Rp 3,682,833,400 15

16 Keterangan: Perhitungan biaya penyusutan berdasarkan metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun ganda adalah sebagai berikut: a. Jumlah Angka Tahun. = = = 55 x Rp. 66,778,123,000 = Rp. 12,141,476,000 b. Saldo Menurun Ganda = 20% x Rp. 66,778,123,000 = Rp. 13,355,624,600 Hasil perhitungan beban penyusutan PT. Garam (Persero) pada tahun 2005 dengan menggunakan metode jumlah angka tahun hasilnya adalah sebesar Rp 12,141,476,000, sedangkan jika menggunakan metode saldo menurun ganda hasilnya adalah sebesar Rp. 13,355,624,600. Analisis tersebut menunjukkan bahwa hasil perhitungan beban penyusutan jauh lebih besar dibandingkan dengan metode yang digunkan oleh perusahaan, yaitu metode garis lurus yang hasilnya hanya sebesar Rp 8,652,670,

17 LAPORAN LABA/RUGI Per 31 Desember 2006 PENDAPATAN USAHA Garis Lurus Jumlah Angka Tahun Saldo Menurun Ganda HASIL PENJUALAN Garam produksi sendiri Rp 99,524,619,000 Rp 99,524,619,000 Rp 99,524,619,000 Garam rakyat Rp 1,180,838,000 Rp 1,180,838,000 Rp 1,180,838,000 garam impor Rp 2,913,620,000 Rp 2,913,620,000 Rp 2,913,620,000 Garam kasar kemasan Rp 1,964,443,000 Rp 1,964,443,000 Rp 1,964,443,000 Garam halus Rp 9,236,877,000 Rp 9,236,877,000 Rp 9,236,877,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 501,120,000 Rp 501,120,000 Rp 501,120,000 Garam top Grade Maduro Rp 187,285,000 Rp 187,285,000 Rp 187,285,000 Air Bittern Rp 193,668,000 Rp 193,668,000 Rp 193,668,000 TOTAL PENDAPATAN USAHA Rp 115,702,470,000 Rp 115,702,470,000 Rp 115,702,470,000 HARGA POKOK PENJUALAN Garam produksi sendiri Rp 68,170,998,000 Rp 68,170,998,000 Rp 68,170,998,000 Garam rakyat Rp 1,152,895,000 Rp 1,152,895,000 Rp 1,152,895,000 garam impor Rp 3,782,650,000 Rp 3,782,650,000 Rp 3,782,650,000 Garam kasar kemasan Rp 1,812,601,000 Rp 1,812,601,000 Rp 1,812,601,000 Garam halus Rp 9,002,644,000 Rp 9,002,644,000 Rp 9,002,644,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 498,210,000 Rp 498,210,000 Rp 498,210,000 Garam top Grade Maduro Rp 181,292,000 Rp 181,292,000 Rp 181,292,000 Air Bittern Rp 184,967,000 Rp 184,967,000 Rp 184,967,000 HARGA POKOK PENJUALAN Rp 84,786,257,000 Rp 84,786,257,000 Rp 84,786,257,000 LABA (RUGI) KOTOR Garam produksi sendiri Rp 31,353,621,000 Rp 31,353,621,000 Rp 31,353,621,000 Garam rakyat Rp 27,943,000 Rp 27,943,000 Rp 27,943,000 17

18 garam impor Rp (869,030,000) Rp (869,030,000) Rp (869,030,000) Garam kasar kemasan Rp 151,842,000 Rp 151,842,000 Rp 151,842,000 Garam halus Rp 234,233,000 Rp 234,233,000 Rp 234,233,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 2,910,000 Rp 2,910,000 Rp 2,910,000 Garam top Grade Maduro Rp 5,993,000 Rp 5,993,000 Rp 5,993,000 Air Bittern Rp 8,701,000 Rp 8,701,000 Rp 8,701,000 LABA (RUGI) KOTOR Rp 30,916,213,000 Rp 30,916,213,000 Rp 30,916,213,000 BIAYA USAHA Biaya penjualan Rp 4,789,072,000 Rp 4,789,072,000 Rp 4,789,072,000 Biaya penyusutan Rp 8,384,087,000 Rp 12,814,768,000 Rp 14,096,244,800 Biaya administrasi dan umum Rp 5,237,469,000 Rp 5,237,469,000 Rp 5,237,469,000 TOTAL BIAYA USAHA Rp 18,410,628,000 Rp 22,841,309,000 Rp 24,122,785,800 LABA/ RUGI USAHA Rp 12,505,585,000 Rp 8,074,904,000 Rp 6,793,427,200 18

19 Keterangan: Perhitungan biaya penyusutan berdasarkan metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun ganda adalah sebagai berikut: a. Jumlah Angka Tahun. = = = 55 x Rp. 70,481,224,000 = Rp. 12,814,768,000 b. Saldo Menurun Ganda = 20% x Rp. 70,481,224,000 = Rp. 14,096,244,800 Hasil perhitungan beban penyusutan PT. Garam (Persero) pada tahun 2006 dengan menggunakan metode jumlah angka tahun hasilnya adalah sebesar Rp 12,814,768,000, sedangkan jika menggunakan metode saldo menurun ganda hasilnya adalah sebesar Rp. 14,096,244,800. Analisis tersebut menunjukkan bahwa hasil perhitungan beban penyusutan jauh lebih besar dibandingkan dengan metode yang digunkan oleh perusahaan, yaitu metode garis lurus yang hasilnya hanya sebesar Rp 8,384,087,

20 LAPORAN LABA/RUGI Per 31 Desember 2007 PENDAPATAN USAHA Garis Lurus Jumlah Angka Tahun Saldo Menurun Ganda HASIL PENJUALAN Garam produksi sendiri Rp 104,651,711,000 Rp 104,651,711,000 Rp 104,651,711,000 Garam rakyat Rp 131,027,000 Rp 131,027,000 Rp 131,027,000 garam impor Rp 156,382,000 Rp 156,382,000 Rp 156,382,000 Garam kasar kemasan Rp 2,605,924,000 Rp 2,605,924,000 Rp 2,605,924,000 Garam halus Rp 8,866,849,000 Rp 8,866,849,000 Rp 8,866,849,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 62,880,000 Rp 62,880,000 Rp 62,880,000 Garam top Grade Maduro Rp 640,735,000 Rp 640,735,000 Rp 640,735,000 Air Bittern Rp 56,700,000 Rp 56,700,000 Rp 56,700,000 TOTAL PENDAPATAN USAHA Rp 117,172,208,000 Rp 117,172,208,000 Rp 117,172,208,000 HARGA POKOK PENJUALAN Garam produksi sendiri Rp 68,143,935,000 Rp 68,143,935,000 Rp 68,143,935,000 Garam rakyat Rp 149,143,000 Rp 149,143,000 Rp 149,143,000 garam impor Rp 1,919,226,000 Rp 1,919,226,000 Rp 1,919,226,000 Garam kasar kemasan Rp 1,900,258,000 Rp 1,900,258,000 Rp 1,900,258,000 Garam halus Rp 7,930,846,000 Rp 7,930,846,000 Rp 7,930,846,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 61,553,000 Rp 61,553,000 Rp 61,553,000 Garam top Grade Maduro Rp 371,623,000 Rp 371,623,000 Rp 371,623,000 Air Bittern Rp 43,043,000 Rp 43,043,000 Rp 43,043,000 HARGA POKOK PENJUALAN Rp 80,519,627,000 Rp 80,519,627,000 Rp 80,519,627,000 LABA (RUGI) KOTOR Garam produksi sendiri Rp 36,507,776,000 Rp 36,507,776,000 Rp 36,507,776,000 Garam rakyat Rp (18,116,000) Rp (18,116,000) Rp (18,116,000) 20

21 garam impor Rp (1,762,844,000) Rp (1,762,844,000) Rp (1,762,844,000) Garam kasar kemasan Rp 705,666,000 Rp 705,666,000 Rp 705,666,000 Garam halus Rp 936,003,000 Rp 936,003,000 Rp 936,003,000 Garam low sodium LoSoSa Rp 1,327,000 Rp 1,327,000 Rp 1,327,000 Garam top Grade Maduro Rp 269,112,000 Rp 269,112,000 Rp 269,112,000 Air Bittern Rp 13,657,000 Rp 13,657,000 Rp 13,657,000 LABA (RUGI) KOTOR Rp 36,652,581,000 Rp 36,652,581,000 Rp 36,652,581,000 BIAYA USAHA Biaya penjualan Rp 3,089,928,000 Rp 3,089,928,000 Rp 3,089,928,000 Biaya penyusutan Rp 9,329,288,000 Rp 13,122,614,550 Rp 14,434,876,000 Biaya administrasi dan umum Rp 5,834,397,000 Rp 5,834,397,000 Rp 5,834,397,000 TOTAL BIAYA USAHA Rp 18,253,613,000 Rp 22,046,939,550 Rp 23,359,201,000 LABA/ RUGI USAHA Rp 18,398,968,000 Rp 14,605,641,450 Rp 13,293,380,000 21

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan bagian dari harta kekayaan perusahaan yang memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu periode akuntansi. Manfaat menunjukkan

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN KETERKAITANNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PG. TOELANGAN SIDOARJO

ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN KETERKAITANNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PG. TOELANGAN SIDOARJO ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN KETERKAITANNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PG. TOELANGAN SIDOARJO Ayu Lestari, Masthad, Arief Rahman Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi,Universitas

Lebih terperinci

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah :

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Kriteria Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan apapun jenis usahanya pasti memiliki kekayaan yang digunakan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan aset yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan aktivitas usaha dan sifatnya relatif tetap atau jangka waktu perputarannya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi keuangan Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis (bussnines language). Akuntansi menghasilkan informasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini, dunia usaha telah mengalami perubahan dengan kecepatan yang luar biasa. Selain globalisasi dan perubahan teknologi, kita juga dapat menyaksikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan kegiatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap BAB II TINJAUAN PUSTAKA Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan operasionalnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan operasionalnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktiva Tetap Setiap perusahaan menggunakan berbagai aktiva tetap, seperti peralatan, perabotan, alat-alat, mesin-mesin, bangunan, dan tanah. Aset tetap (fix asset)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori-teori a. Pengertian Akuntansi Manfaat akuntansi dalam menyediakan informasi keuangan sangat berguna untuk perencanaan dan pengelolaan keuangan serta memudahkan pengendalian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Akuntansi dan Perlakuan Akuntansi. Pengertian akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Akuntansi dan Perlakuan Akuntansi. Pengertian akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi dan Perlakuan Akuntansi 2.1.1 Pengertian Akuntansi Pengertian akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang seseorang, akan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Aset tetap (fixed assets) merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen. Aset tetap sering disebut aset berwujud (tangible assets) karena

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Definisi Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relatif permanen, seperti peralatan, tanah, bangunan, gedung, dimana merupakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap adalah suatu aktiva yang berwujud yang dipergunakan dalam operasi perusahaan sehari-hari dan merupakan aktiva tahan lama yang secara berangsur-angsur

Lebih terperinci

Perlakuan Akuntansi Penyusutan Aktiva Tetap dan Pengaruhnya Terhadap Kewajiban Pajak pada PT Synergy Indonesia

Perlakuan Akuntansi Penyusutan Aktiva Tetap dan Pengaruhnya Terhadap Kewajiban Pajak pada PT Synergy Indonesia Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis Vol. 1, No. 2, December 2013, 167-174 p-issn: 2337-7887 Article History Received October, 2013 Accepted November, 2013 Perlakuan Akuntansi Penyusutan Aktiva

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Akuntansi Keuangan Eksistensi suatu perusahaan sangat tergantung pada transaksitransaksi yang dilakukannya. Perusahaan yang dapat melakukan transaksi dengan baik berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu:

BAB II KAJIAN TEORITIS. Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu: BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Analisis Pengertian Analisis Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu: Menurut Kamus Bahasa Indonesia : Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Keuangan Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis (business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian, Pengakuan, dan Penggolongan Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva adalah sumber daya ekonomi yang diperoleh dan dikuasai oleh suatu perusahaan sebagai hasil

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Berbagai definisi aset tetap yang dikemukakan oleh para ahli, semuanya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu merumuskan pengertian aset tetap agar

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP (FIXED ASSET)

AKTIVA TETAP (FIXED ASSET) AKTIVA TETAP (FIXED ASSET) PENGERTIAN AKTIVA TETAP sebagai aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan

Lebih terperinci

Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP Pada CV. Sekonjing Ogan Ilir

Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP Pada CV. Sekonjing Ogan Ilir Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Aset Tetap Berdasarkan SAK ETAP Pada CV. Sekonjing Ogan Ilir Rizal Effendi Fakultas Ekonomi-Universitas Tridinanti Palembang rizaleffendi31@yahoo.co.id Abstract : This

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Kebijakan Akuntansi Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tercantum sebagai berikut: Kebijakan akuntansi meliputi pilihan-pilihan, dasar-dasar, konvensi peraturan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan

Lebih terperinci

Implementasi PSAK 16 Tentang Aset Tetap pada PT. SBP

Implementasi PSAK 16 Tentang Aset Tetap pada PT. SBP Implementasi PSAK 16 Tentang Aset Tetap pada PT. SBP Listian Nurbaeni Program Studi Akuntansi STIE STEMBI, listian.nurbaeni@gmail.com Abstrak Tujuan_Untuk mengetahui bagaimana implementasi PSAK 16 tentang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian akuntansi Menurut Accounting Principle Board (ABP) Statement

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian akuntansi Menurut Accounting Principle Board (ABP) Statement BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Akuntansi Pengertian akuntansi Menurut Accounting Principle Board (ABP) Statement No.4 dalam Smith Skousen (1995:3), pengertian akuntansi adalah

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pada bab ini akan dikemukakan teori-teori yang dikutip dari literatur

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pada bab ini akan dikemukakan teori-teori yang dikutip dari literatur BAB II BAHAN RUJUKAN Pada bab ini akan dikemukakan teori-teori yang dikutip dari literatur sebagai landasan untuk melakukan pembahasan dalam permasalahan yang dijadikan topik tugas akhir ini. 2.1. Kebijakan

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA PADA LAPORAN KEUANGAN PTPN X PG WATOETOELIS SIDOARJO

ANALISIS PENERAPAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA PADA LAPORAN KEUANGAN PTPN X PG WATOETOELIS SIDOARJO ANALISIS PENERAPAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA PADA LAPORAN KEUANGAN PTPN X PG WATOETOELIS SIDOARJO Sagita Santiana Dewi, Tri Lestari, Widya Susanti Progam Studi Akuntansi Fakultas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori 1. Aktiva a. Pengertian Aktiva Aktiva/harta adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, yang lebih dikenal dengan istilah asset perusahaan. Jadi, aktiva (asset)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Akuntansi Akuntansi sering disebut sebagai bahasanya dunia usaha karena akutansi akan menghasilkan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang menyelenggarakannya dan pihak

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN DAMPAKNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN PADA PT. ARTHA KINDO PERKASA PALEMBANG

ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN DAMPAKNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN PADA PT. ARTHA KINDO PERKASA PALEMBANG ANALISIS PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN DAMPAKNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN PADA PT. ARTHA KINDO PERKASA PALEMBANG Sintia Verginia (sintia.verginia@yahoo.com) Rika Lidyah (rika_msi@yahoo.com)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Pengertian dan Kriteria Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan baik perusahaan yang bergerak dibidang industri, dagang, dan jasa pasti memiliki harta kekayaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aset Aset sebagai sumber ekonomi sangat diharapkan oleh seluruh perusahaan dapat memberikan manfaat jangka panjang untuk mencapai tujuan perusahaan di kemudian hari. Hal ini

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE DEPRESIASI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PRIMA JAYA PERSADA NUSANTARA SURABAYA

PENERAPAN METODE DEPRESIASI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PRIMA JAYA PERSADA NUSANTARA SURABAYA PENERAPAN METODE DEPRESIASI AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PRIMA JAYA PERSADA NUSANTARA SURABAYA Rizkha Surya Hasanah, Kusni Hidayati, Widya Susanti Prodi Akuntansi, Fakultas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Aset Tetap Pengertian aset tetap menurut IAI, PSAK No 16 (2011 : 16.2) adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap adalah barang fisik yang dimiliki perusahaan untuk memproduksi barang atau jasa dalam operasi normalnya, memiliki unsur yang terbatas, pada

Lebih terperinci

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets)

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian aktiva tetap berwujud 2. Menerangkan penentuan harga

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Akuntansi Menurut Munawir (2004) mendefinisikan Akuntansi adalah seni dari pada pencatatan, penggolongan dan peringkasan daripada peristiwa-peristiwa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari sudut

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari sudut BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Akuntansi Akuntansi memiliki definisi yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang seseorang, akan tetapi pada dasarnya pengertian akuntansi

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap Aset tetap merupakan aset tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, serta merupakan komponen aset yang paling besar nilainya

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya

BAB III PEMBAHASAN. Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya BAB III PEMBAHASAN A. AKTIVA TETAP 1. Definisi Aktiva Tetap Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya pengertian aktiva tetap ini memiliki makna dan tujuan yang sama. Ada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entitas pada tanggal tertentu. Halim (2010:3) memberikan pengertian bahwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entitas pada tanggal tertentu. Halim (2010:3) memberikan pengertian bahwa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Akuntansi Menurut Dwi (2012:4) Akuntansi adalah informasi yang menjelaskan kinerja keuangan entitas dalam suatu periode tertentu dan kondisi keuangan entitas pada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2009:4) Akuntansi adalah sebuah sistem yang mengidentifikasi, merekam, dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi suatu

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Aktiva Tetap A. Definisi Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis dan Kebijakan 2.1.1 Pengertian Analisis dan Kebijakan Pengertian analisis menrut Kamus Akuntansi (2000;) Analisis adalah melakukan evaluasi terhadap kondisi dari pos-pos

Lebih terperinci

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION A. Pengertian Sistem Akuntansi Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagaimana menurut Grady (2000 : 12) transaksi atau kejadian dalam suatu cara tertentu dan dalam ukuran uang yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagaimana menurut Grady (2000 : 12) transaksi atau kejadian dalam suatu cara tertentu dan dalam ukuran uang yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian Akuntansi Ada banyak pengertian akuntansi yang diartikan oleh para ahli akuntansi, sehingga memberikan pengetian yang berbeda sesuai pandangan

Lebih terperinci

ANALISIS METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP TERHADAP PERHITUNGAN BIAYA POKOK PENJUALAN (COST OF GOODS SOLD) DAN LABA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN MS.

ANALISIS METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP TERHADAP PERHITUNGAN BIAYA POKOK PENJUALAN (COST OF GOODS SOLD) DAN LABA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN MS. ABSTRAK ANALISIS METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP TERHADAP PERHITUNGAN BIAYA POKOK PENJUALAN (COST OF GOODS SOLD) DAN LABA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN MS. EXCEL SUHARTONO Akademi Sekretari dan Manajemen Bina

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aktiva Tetap 2.1.1. Pengertian Aktiva Tetap Beberapa pendapat ahli dan sumber lain memberikan pengertian mengenai aktiva tetap, antara lain : Dalam Standar Akuntansi Keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Melalui proses

BAB I PENDAHULUAN. dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Melalui proses BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Akuntansi adalah suatu sarana yang menjembatani antar pihak pimpinan dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Melalui proses akuntansi akan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengertian Aktiva Aktiva adalah harta atau kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang digunakan dalam kegiatan atau operasi perusahaan yang sewaktu waktu

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Kebijakan Akuntansi Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tercantum sebagai berikut : Kebijakan akuntansi meliputi pilihan prinsip-prinsip, dasardasar, konvensi peraturan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORITIS. Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika

BAB 2 LANDASAN TEORITIS. Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika BAB 2 LANDASAN TEORITIS A. Pengertian, Penggolongan dan Perolehan Aset Tetap 1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika suatu aset digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dipercaya mengenai transaksi-transaksi yang terjadi dalam perusahaan. Akuntansi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dipercaya mengenai transaksi-transaksi yang terjadi dalam perusahaan. Akuntansi BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Pengertian Akuntansi Akuntansi merupakan seperangkat pengetahuan yang berfungsi secara sistematis sebagai proses pencatatan, penggolongan, pengolahan, peringkasan,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS 5 BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori-teori 1. Pengertian dan Karakteristik Aset Tetap Aset tetap adalah aset yang memiliki masa manfaatnya lebih dari satu tahun, digunakan dalam kegiatan perusahaan, dimiliki

Lebih terperinci

BAB 7 ASET TETAP. dilakukan agar bisa digunakan secara optimal selama umur ekonominya.

BAB 7 ASET TETAP. dilakukan agar bisa digunakan secara optimal selama umur ekonominya. BAB 7 ASET TETAP Pendahuluan Aset tetap mempunyai karakteristik: digunakan untuk operasi, berumur lebih dari satu tahun, mempunyai substansi fisik Perusahaan bisnis ingin mengelola aset yang dimilikinya

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG Etika Mela Sari Jurusan Akuntansi POLITEK PalComTech Palembang Abstrak

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD

AKTIVA TETAP BERWUJUD AKTIVA TETAP BERWUJUD A. PENGERTIAN Aktiva tetap berwujud adalah aktivaaktiva yang mempunyai wujud yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. Karakteristik utama

Lebih terperinci

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN.

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN. ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN (Skripsi) OLEH Nama : Veronica Ratna Damayanti NPM : 0641031138 No Telp :

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset tetap adalah aset berwujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktiva Tetap Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, dalam buku Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan nomer 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain paragraf 5 tahun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Menurut Reeve, Warren, dkk (2013:2) Aset tetap (fixed asset) adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara relatif memiliki sifat permanen serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Seiring dengan kemajuan zaman sekarang ini, persaingan dunia usaha semakin berkembang dengan pesat. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan termotivasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan Untuk mengetahui pengertian yang jelas mengenai aktiva tetap tanaman menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relatif permanen dan memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun atau lebih

Lebih terperinci

PENYUSUTAN (Depreciation)

PENYUSUTAN (Depreciation) PENYUSUTAN (Depreciation) A. PENYUSUTAN METODE ALOKASI BIAYA Menurut para Akuntan, penyusutan bukan merupakan masalah penilaian, namun merupakan alat untuk alokasi biaya. Penyusutan (depreciation), adalah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Aset Tetap 1. Pengertian Aset Tetap Menurut IAI, PSAK No.16 (2011:16) aset tetap merupakan aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap atau disebut juga dengan plant assets atau fixed assets merupakan sumber daya potensial perusahaan yang digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya merupakan hal yang paling penting bagi manajemen perusahaan sebagai basis data biaya untuk

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aset Tetap Definisi Aset Tetap

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aset Tetap Definisi Aset Tetap BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Aset Tetap 2.1.1. Definisi Aset Tetap Aset tetap merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen dan memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, seperti

Lebih terperinci

ANALISIS DEPRESIASI KENDARAAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA DHARMA DI SAMARINDA

ANALISIS DEPRESIASI KENDARAAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA DHARMA DI SAMARINDA ANALISIS DEPRESIASI KENDARAAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA DHARMA DI SAMARINDA Istiana, LCA. Robin Jonathan, Elfreda Aplonia Lau Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Akuntansi Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai sistem informasi yang menyediakan laporan untuk para pemangku kepentingan mengenai aktivitas

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP PADA LABA PERUSAHAAN : STUDI KASUS : PT. LABBERU TAHUN

ANALISIS EFEKTIVITAS METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP PADA LABA PERUSAHAAN : STUDI KASUS : PT. LABBERU TAHUN ANALISIS EFEKTIVITAS METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP PADA LABA PERUSAHAAN : STUDI KASUS : PT. LABBERU TAHUN 2011-2013 Jayana Salesti Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kepulauan Jalan Batu Aji Baru No.99,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PENELITIAN. 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. milik perusahaan dan dipergunakan secara terus-menerus dalam kegiatan

BAB II TINJAUAN PENELITIAN. 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. milik perusahaan dan dipergunakan secara terus-menerus dalam kegiatan BAB II TINJAUAN PENELITIAN A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva operasional yang digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasinya

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Definisi Aset Tetap Definisi aset tetap berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2011:16) paragraf 06, adalah Aset tetap adalah aset berwujud yang: (a)

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 AKUNTANSI PENYUSUTAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 AKUNTANSI PENYUSUTAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 AKUNTANSI PENYUSUTAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 17 tentang Akuntansi Penyusutan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Definisi Aset Tetap Aset tetap merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun atau lebih dari satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan tentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai. tujuan didirikannya perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan tentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai. tujuan didirikannya perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suatu perusahaan tentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai tujuan didirikannya perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar tercapainya tujuan itu, setiap perusahaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penjelasan Umum Aset Tetap Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 16 adalah Standar Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya 2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya yang akan digunakan untuk membantu menetapkan harga pokok produksi

Lebih terperinci

30/06/2010 MARKETABLE SECURITIES STOCKS BONDS NERACA SHORT-TERM INVESTMENTS STOCKS BONDS OTHER SECURITIES LONG-TERM INVESTMENTS

30/06/2010 MARKETABLE SECURITIES STOCKS BONDS NERACA SHORT-TERM INVESTMENTS STOCKS BONDS OTHER SECURITIES LONG-TERM INVESTMENTS INVESTASI & AKTIVA TETAP PERTEMUAN 4 INSTRUKTUR : HENDRO SASONGKO ARIEF TRI HARYANTO INVESTASI ( INVESTMENT ) DEFINISI Harta (aset) yang dimiliki oleh suatu perusahaan dengan tujuan untuk menambah kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan banyak faktor yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan banyak faktor yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam menjalankan operasional sebuah perusahaan banyak faktor yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasional tersebut agar dapat berjalan secara maksimal

Lebih terperinci

Salah satu bentuk investasi tersebut adalah aktiva tetap yang digunakan dalam kegiatan normal usaha yaitu aktiva yang menpunyai umur ekonomis lebih da

Salah satu bentuk investasi tersebut adalah aktiva tetap yang digunakan dalam kegiatan normal usaha yaitu aktiva yang menpunyai umur ekonomis lebih da PENGARUH EVALUASI PENILAIAN AKTIVA TETAP PADA ALOKASI PENGHASILAN UKM LINTANG DAMARINGATI (Mahasiswi Universitas Gunadarma 20208740) Abstraksi Metode penyusutan (depresiasi) merupakan suatu metode yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setiap akhir tahun perusahaan akan membuat laporan keuangan untuk memenuhi kepentingan berbagai pihak khususnya para pemakai laporan keuangan yang berguna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan informasi keuangan yang relevan

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan informasi keuangan yang relevan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam suatu perusahaan, akuntansi memegang peranan yang sangat penting karena akuntansi dapat memberikan informasi mengenai keuangan dari suatu perusahaan. Akuntansi

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD (TANGIBLE ASSETS) DAN AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSETS)

AKTIVA TETAP BERWUJUD (TANGIBLE ASSETS) DAN AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSETS) AKTIVA TETAP BERWUJUD (TANGIBLE ASSETS) DAN AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSETS) KUWAT RIYANTO, SE. M.M. 081319434370 http://kuwatriy.wordpress.com Kuwat_riyanto@yahoo.com PENGERTIAN AKTIVA TETAP

Lebih terperinci

AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT PLN (PERSERO) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN (P3B) SUMATERA UNIT PENGATUR BEBAN (UPB) SUMBAGUT

AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT PLN (PERSERO) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN (P3B) SUMATERA UNIT PENGATUR BEBAN (UPB) SUMBAGUT AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT PLN (PERSERO) PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN (P3B) SUMATERA UNIT PENGATUR BEBAN (UPB) SUMBAGUT TUGAS AKHIR Ditulis untuk Memenuhi Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. menentukan bagaimana sederhana dan kompleknya suatu badan usaha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap. menentukan bagaimana sederhana dan kompleknya suatu badan usaha BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Penggolongan Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap Peranan aktiva tetap sangat penting dalam suatu bentuk badan usaha untuk menentukan bagaimana sederhana dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Secara umum Standar Akuntansi Keuangan merupakan pedoman pokok penyusunan dan penyajian laporan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap Aset tetap merupakan Aset tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi serta tidak

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 4 BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap PSAK No. 16 (revisi 2007) menjelaskan definisi aset tetap sebagai berikut: Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan

Lebih terperinci

EVALUASI PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN

EVALUASI PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN EVALUASI PENERAPAN METODE PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN (Studi Kasus Pada ) Oleh: Eni Srihastuti ABSTRAK adalah perusahaan yang bergerak di bidang makanan ringan. Tujuan

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN ASET TETAP PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN

BAB III SISTEM PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN ASET TETAP PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN BAB III SISTEM PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN ASET TETAP PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN A. Pengertian Aset Tetap Menurut Widjajanto (2008:2), pengertian sistem adalah sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. produk/jasa yang dihasilkannya. Untuk menyampaikan produk yang ada ke tangan

BAB II DASAR TEORI. produk/jasa yang dihasilkannya. Untuk menyampaikan produk yang ada ke tangan BAB II DASAR TEORI A. Pendapatan 1. Pengertian Pendapatan Setiap perusahaan tentunya menginginkan agar usahanya berjalan dengan baik. Oleh karena itu perusahaan dapat memberi kepuasan kepada konsumen melalui

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Pada umumnya perusahaan menggunakan aktiva tetap dalam menjalankan aktivitas operasinya, sehingga dengan menggunakan aktiva tetap kinerja perusahaan akan

Lebih terperinci

PENGARUH METODE PENYUSUTAN TERHADAP BEBAN POKOK PENJUALAN

PENGARUH METODE PENYUSUTAN TERHADAP BEBAN POKOK PENJUALAN PENGARUH METODE PENYUSUTAN TERHADAP BEBAN POKOK PENJUALAN HW Darmoko 1 1 adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Madiun Abstract The company must generate financial statement, that provide information

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS)

AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS) Dosen : Christian Ramos Kurniawan AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS) INTERMEDIATE ACCOUNTING L/O/G/O Referensi : Donald E Kieso, Jerry J Weygandt, Terry D Warfield, Intermediate Accounting Definisi Aktiva

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktiva Menurut Zaki Baridwan : Aktiva atau harta adalah benda baik yang memiliki wujud maupun yang semu dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan

Lebih terperinci

AKUNTANSI AKTIVA TETAP GUNA MENDUKUNG KEWAJARAN LAPORAN KEUANGAN (STUDI KASUS PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X PG. NGADIREDJO KEDIRI)

AKUNTANSI AKTIVA TETAP GUNA MENDUKUNG KEWAJARAN LAPORAN KEUANGAN (STUDI KASUS PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X PG. NGADIREDJO KEDIRI) AKUNTANSI AKTIVA TETAP GUNA MENDUKUNG KEWAJARAN LAPORAN KEUANGAN (STUDI KASUS PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X PG. NGADIREDJO KEDIRI) Sabilla Ayu Pamungkas Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas

Lebih terperinci