Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]"

Transkripsi

1 Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] Yusthinus Thobias Male, Djulia Onggo, Muhamad Abdulkadir Martoprawiro, dan Ismunandar Kelompok Keilmuan Kimia Anorganik dan Fisik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Bandung Diterima 29 Juni 2009, disetujui untuk dipublikasikan 31 Juli 2009 Abstrak Metode komputasi B3LYP * /6-31G(d) telah digunakan untuk meramalkan sifat transisi spin (TS) kompleks berinti tunggal [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] isomer cis dan trans. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dalam vakum dan metanol, cis- [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] memiliki E el yang lebih sesuai untuk terjadinya TS. Dalam metanol, isomer cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] memiliki momen dipol yang lebih tinggi (21,59 D) dibanding isomer trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] dan kompleks tak tersubstitusi, [Fe(dpa) 3 ] 2+ (5,70 dan 0,03 D) sehingga metanol sebagai pelarut polar lebih menstabilkan konfigurasi cis dalam larutan. Dapat diramalkan bahwa jika dilakukan sintesis, pada suhu kamar ketiga kompleks bersifat spin tinggi tetapi hanya isomer cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] yang berpotensi menjadi kompleks TS. Analisis populasi orbital atom utama menunjukkan bahwa antara pita dasar elektronik terjadi transisi yang menunjuk pada pengalihan muatan dari ligan NCS - ke ligan utama (ligand-to-ligand charge-transfer, LLCT). Dapat disimpulkan bahwa metode komputasi B3LYP * /6-31G(d) memberikan daya ramal yang baik terhadap kompleks TS berinti tunggal. Kata kunci: B3LYP * /6-31G(d), Transisi spin, Konfigurasi, Transfer muatan Abstract The computational method B3LYP * /6-31G(d) has been used for predicting the mononuclear spin transition (ST) complexes properties, i.e. [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] with cis and trans isomers. Computational results showed that in vacuum and methanol, cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] isomer gave a reasonable value of E el for ST. In methanol, the cis isomer was more stabilized because that isomer showing more higher dipole moments (21,59 D) than the trans isomer and unsubstituted complex, [Fe(dpa) 3 ] 2+ (5,70 and 0,03 D). This results showed that if those complexes were synthesized, in the ambient temperature they have high spin properties but only cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] isomer has ST properties. Analysis of main atomic orbitals populations showed that the electronic ground bands and the next ground bands are assigned to ligand-to-ligand charge-transfer (LLCT) transitions because of the charge transfer from NCS - ligand to the main ligand. It can be concluded that computational method B3LYP * /6-31G(d) gives more predictive power to mononuclear ST complex. Keywords: B3LYP * /6-31G(d), Spin transition, Configuration, Charge transfer 1. Pendahuluan struktur untuk mengurangi kekuatan medan ligan bidentat sistem diimin. Modifikasi antara lain dilakukan Pengembangan saklar molekular yang mampu dengan mengganti salah satu ligan bidentat diimin menyimpan dan memindahkan informasi saat ini dengan ion-lawan (counterions) sebagai ligan, misalnya menjadi kajian yang menarik dalam sains molekul. NCS - atau NCSe - yang menghasilkan kompleks dengan Kompleks besi(ii) sangat potensial dijadikan saklar konfigurasi cis (Gaspar dkk., 2002). Belum diperoleh molekular karena mengalami transisi spin (TS) atau penjelasan mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan secara dapat-balik dari suatu keadaan spin kemampuan interaksi intra dan intermolekul jenis rendah (low spin, LS) diamagnetik ke keadaan spin isomer serta kontribusinya terhadap sifat spin rendahspin tinggi (LS-HS) kompleks TS. tinggi (high spin, HS) paramagnetik melalui induksi suhu, tekanan, penyinaran dan medan magnet (Kahn Dalam fasa padat, TS ditentukan oleh gaya dan Martinez, 1998). interaksi antar molekul yang menghasilkan efek Fenomena TS pada ion besi(ii) pertama kali kooperatif. Interaksi antar molekul terjadi melalui gaya ditemukan pada kompleks [Fe(phen) 2 (NCS) 2 van der Waals, ikatan-π (pi) dan ikatan hidrogen. (phen=1,10-fenantrolin) tahun 1964 oleh Baker dan Kimiawan berupaya menemukan metode yang dapat Bobonich (Gütlich dan Goodwin, 2004) dan sejak saat meramalkan potensi interaksi suatu senyawa sehingga itu banyak dilaporkan senyawa TS baru. Untuk mengurangi sifat coba-coba dari proses sintesis. menghasilkan senyawa TS, dilakukan modifikasi Dengan kajian teoretis, mekanisme efek kooperatif 81

2 Male dkk., Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks dapat dijelaskan tetapi sebagian model teori hanya menjelaskan hasil eksperimen dan tidak memiliki kemampuan peramalan terhadap potensi TS senyawa yang belum disintesis (Real dkk., 2003). Banyak fenomena yang belum dijelaskan secara eksperimen, misalnya pengaruh konfigurasi struktur, variabel termodinamika, dinamika serta jenis fasa terhadap TS. Untuk keperluan prediksi, simulasi dan identifikasi kompleks TS, dibutuhkan suatu metode yang dapat menghubungkan landasan teoretis dengan hasil eksperimen. Pada penelitian ini, aspek teoretis sistem TS dipelajari melalui kimia komputasi. Kimia komputasi sangat bermanfaat dalam pengujian metode dan peramalan reaksi. Dalam pengujian metode, sifat molekul atau sistem kimia misalnya struktur, energi dan dinamika sistem molekul yang dikaji langsung dapat dibandingkan dengan hasil eksperimen. Kimia komputasi juga bermanfaat untuk meramalkan struktur, mekanisme dan energetika reaksi yang terjadi di laboratorium sehingga kimiawan dapat mendesain struktur dan meramalkan sifat suatu senyawa sebelum melakukan sintesis (Cramer, 2004). Perhitungan komputasi untuk optimasi geometri, energi dan struktur elektron kompleks logam transisi membutuhkan metode komputasi yang melibatkan efek korelasi elektron sehingga metode Hartree-Fock tidak dapat digunakan, sedangkan pelibatan korelasi elektron melalui prosedur multikonfigurasi sangat tidak efisien sehingga metode teori fungsional rapatan (Density Functional Theory, DFT) dijadikan pilihan utama untuk menghitung struktur elektronik kompleks logam transisi. Metode DFT terdiri dari fungsi lokal atau LDA (Local Density Approximation), fungsi non-lokal dengan GGA (Generalized Gradient Approximation) yang terdiri dari metode BLYP, PW91 dan BP86 serta fungsional hibrid (Paulsen dan Trautwein, 2004). Aplikasi teori fungsional kerapatan untuk kompleks TS umumnya menggunakan pendekatan GGA dan fungsional hibrid karena metode LDA memiliki kelemahan dalam mengestimasi energi pertukaran. Telah dilaporkan penggunaan DFT untuk menghitung energi dan geometri senyawa (Chen dkk., 2000; Zcheng dkk., 2001), termokimia reaksi dan vibrasi (Baranovic dan Babić, 2002), vibrasi ulur ikatan besi-ligan (Pálfi dkk., 2005), simulasi spektra NIS (Nuclear Inelastic Scattering) (Paulsen dkk., 1999), quadrupol Mössbauer 57Fe (Zhang dan Oldfield, 2003) serta energi bebas kompleks TS (Paulsen dkk., 2001). Aplikasi metode DFT menghasilkan parameter geometri dan frekuensi vibrasi yang sesuai dengan hasil eksperimen, termasuk E vib, dan S, sedangkan perbedaan energi elektronik total antara isomer HS dan LS, ( E el ), sukar ditentukan karena energi HS dan LS berada dalam kisaran energi 107 kj/mol sedangkan selisih HS-LS hanya sekitar 10 kj/mol sehingga DFT gagal memprediksi E el. Fungsi non-lokal (BLYP, PW91) lebih menstabilkan posisi LS sehingga menghasilkan nilai E el yang sangat besar (positif); sebaliknya metode hibrid (B3LYP) menghasilkan nilai E el yang sangat negatif. Walaupun B3LYP gagal memprediksi multiplisitas spin keadaan dasar, tetapi metode ini banyak digunakan dalam komputasi kompleks TS karena menghasilkan perbedaan nilai E el yang kecil antara energi sebenarnya dan hasil perhitungan (Reiher dkk., 2001). Fungsional hibrid B3LYP (Becke Three Parameter Hybrid Functionals) dikemukakan Becke (1993) mengikuti rumus: E = (1 a) E + ae + B 3 LYP LSD HF xc x x be + ce + (1 c) E (1) B 88 LYP LSD x c c dengan a, b, dan c adalah konstanta semiempiris dengan nilai a = 0,2; b = 0,72 dan c = 0,81. Nilai konstanta a sebesar 0,2 menunjukkan bahwa Becke memasukkan sumbangan pertukaran Hartree-Fock HF ( E ex ) sebesar 20% pada fungsional hibrid B3LYP. Nilai E el ditentukan oleh jumlah sumbangsih pertukaran eksak E dalam fungsional B3LYP. HF ex Reiher dkk. (2001) melakukan reparameterisasi dengan mengusulkan pengurangan sumbangan E dari a = 0,2 menjadi a = 0,15 dan fungsional HF ex hibridnya disebut B3LYP *. Aplikasi B3LYP * pada kompleks TS menghasilkan E el yang lebih sesuai (Reiher, 2002; Paulsen dan Trautwein, 2004; Male dkk., 2008). Pada penelitian ini digunakan fungsional B3LYP * dengan himpunan basis 6-31G(d). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas metode komputasi B3LYP * /6-31G(d) dalam meramalkan kestabilan isomer cis-trans dan kontribusinya terhadap sifat LS-HS pada kompleks berinti tu006eggal [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]. Perhitungan dilakukan terhadap kompleks tanpa substituen, [Fe(dpa) 3 ] 2+ (I), isomer cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] (II) serta isomer trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] (III) dalam keadaan vakum dan dalam pelarut metanol. 2. Metode Penelitian 2.1 Perangkat keras dan lunak Perhitungan dilakukan menggunakan komputer klaster (cluster), yaitu gabungan dari sepuluh buah komputer dengan spesifikasi prosesor Xeon 3.0 GHz dan memori 2 GHz. Perhitungan komputasi menggunakan sistem operasi Linux yaitu Mandriva dan manajemen klaster Linda. Untuk perangkat lunak, digunakan Gaussian 03 Revisi E.01 (Frisch dkk., 2003), Molden 4.7 (Schaftenaar dan Noordik, 2000)

3 83 JURNAL MATEMATIKA DAN SAINS, SEPTEMBER 2009, VOL. 14 NOMOR 2 dan GaussSum Gaussian 03 digunakan untuk melakukan optimasi geometri, perhitungan frekuensi, perhitungan energi keadaan dasar serta pengaruh pelarut. Molden 4.7 digunakan untuk membuat koordinat awal struktur molekul serta melihat keluaran (viewer) sedangkan GaussSum digunakan untuk melihat spektrum IR. 2.2 Metode komputasi Metode komputasi yang digunakan adalah B3LYP * /6-31G(d). B3LYP * adalah fungsional B3LYP yang direparameterisasi dengan HF ex E = 0,15 sedangkan 6-31G(d) adalah himpunan basis yang umum digunakan (Foresman dan Frisch, 1993). Optimasi struktur dilakukan tanpa unsur simetri (grup titik C 1 ). Koordinat struktur awal dibuat dengan menggunakan format Z-matriks sesuai muatan total kompleks dan multiplisitas minimum/ls (S = 0) atau maksimum/hs (S = 2). Untuk mengetahui pengaruh pelarut terhadap struktur dan energi relatif molekul, dilakukan perhitungan energi satu titik dan frekuensi menggunakan metode CPCM yaitu COSMO dengan pelarut metanol (ε = 32). COSMO merupakan metode perhitungan untuk menentukan interaksi elektrostatik antara molekul terlarut dengan pelarut (Tomasi dkk., 2005). 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Pengaruh ion-lawan terhadap parameter struktur kompleks Hasil optimasi struktur kompleks [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] isomer cis dan trans untuk keadaan HS dalam vakum ditampilkan dalam Gambar 1. Dalam keadaan bebas, ligan dpa berbentuk planar dengan sudut dihedral antar cincin nol derajat. Tabel 1 menyajikan data pengaruh substituen terhadap paramater struktur senyawa kompleks. Fe S N C Gambar 1. Struktur hasil optimasi [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] isomer cis dan trans. Tabel 1. Perbandingan efek ion-lawan terhadap jarak ikatan (Å), sudut ikatan dan sudut dihedral ( ) Komp. a Fe-N m b Fe-N c C-N m A m D m LS HS LS HS LS HS LS HS LS HS I 2,05 2, ,38 1,39 92,9 83,5 99,1 17,9 II 2,00 2,22 1,95 2,04 1,39 1,39 90,3 79,8 16,5 11,2 Perc. * -- 2, , , III 2,04 2,22 1,93 1,99 1,38 1,40 82,0 79,5 27,0 39,7 * I = Kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ II = Kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] III = Kompleks trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] a Fe-N m menunjukkan jarak ikatan antara Fe dan N dari ligan utama A m menunjukkan sudut ikatan N-Fe-N antara ligan utama dan Fe D m menunjukkan sudut dihedral antar cincin pada ligan utama C-N m menunjukkan ikatan C-N antar cincin pada ligan utama b Fe-N c menunjukkan jarak ikatan antara Fe dan N dari ligan/ion-lawan NCS - Perc. * Data percobaan cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] dari Gaspar dkk. (2005)

4 Male dkk., Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks Kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] dilaporkan pembuatannya oleh Gaspar dkk. (2005), sedangkan trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] belum berhasil disintesis. Struktur cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] hasil perhitungan komputasi menunjukkan kesesuaian yang tinggi dengan struktur yang dilaporkan tersebut. Jarak ikatan logamligan untuk posisi HS sekitar 0,2 Å. Konfigurasi trans memiliki jarak ikatan Fe-N(NCS) dan sudut ikatan yang lebih kecil karena ligannya tertekuk (bent). 3.2 Pengaruh subsituen terhadap perbedaan energi elektronik isomer HS-LS dalam vakum dan metanol Untuk meramalkan pengaruh medium terhadap perbedaan energi elektronik HS-LS ( E el ) dan konfigurasi kompleks [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ], dilakukan perhitungan dalam medium vakum dan dalam pelarut metanol menggunakan model CPCM-COSMO (Tabel 2). Hasil optimasi struktur dalam pelarut metanol (data tidak ditampilkan) menunjukkan bahwa dalam pelarut metanol, jarak ikatan logam-ligan juga menunjukkan perbedaan jarak HS-LS sebesar 0,2 Å. Tabel 2. Pengaruh substituen terhadap E el, E vib (T), H(T), G(T) (kj mol -1 ) dan S(T) (J mol -1 K -1 ) dalam vakum dan metanol Kompleks vakum me tan ol S(T) H(T) G(T) E el E el I 169,65 15, , 164,83 86 II 39,52 3, , III 139,82 21, , 138,98 08 I = Kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ ; II = Kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] III = Kompleks trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] Dalam metanol, kompleks cis- [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] memiliki momen dipol yang lebih tinggi (21,59 D) dibanding kompleks tak tersubstitusi, [Fe(dpa) 3 ] 2+ dan trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] (0,03 dan 5,70 D) sehingga metanol sebagai pelarut polar lebih menstabilkan konfigurasi cis dalam larutan. Hasil perhitungan komputasi menunjukkan bahwa pada suhu kamar, ketiga kompleks bersifat HS tetapi dalam vakum dan metanol kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] memiliki selisih energi elektronik E el yang lebih sesuai untuk terjadinya TS. Berdasarkan teori medan ligan, ligan NCS - lebih lemah dibanding ligan dpa sehingga kombinasi kedua ligan tersebut seharusnya menghasilkan kompleks spin tinggi. Fakta menunjukkan bahwa kompleks cis- [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] mengalami transisi spin (Gaspar dkk., 2005) dengan T 1/2 = 88 K. Komputasi yang dilakukan sesuai dengan hasil percobaan sehingga dapat dikatakan bahwa metode komputasi yang digunakan memiliki daya ramal yang baik dan dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan kerja sintesis yang lebih terarah. Penelitian ini juga mengkonfirmasi hasil penelitian Sumarna (1996) yang menyatakan bahwa sampai pada suhu 27 K, kompleks [Fe(dpa) 3 ] 3+ tetap bersifat HS sehingga tidak mengalami transisi spin. Hasil yang diperoleh juga sesuai dengan penelitian Marchivie dkk. (2001) yang menyatakan bahwa jika salah satu ligan bidentat diimin (L) pada kompleks [Fe(L) 3 ] 2+ diganti ion lawan NCX - (X = S, Se), umumnya akan diperoleh konfigurasi cis. Posisi ini memudahkan terjadinya interaksi intra dan intermolekul melalui interaksi-π (pi) dan ikatan hidrogen antar unit molekul. 3.3 Pengaruh konfigurasi kompleks terhadap komponen orbital Molekul terdepan Analisis komponen orbital molekul terdepan (HOMO dan LUMO) dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan substituen dan konfigurasi cistrans terhadap sifat spektral dan keadaan tereksitasi kompleks TS (Tabel 3). Untuk memperoleh gambaran terinci dari karakteristik orbital terdepan, stereograf HOMO-LUMO dari ketiga kompleks disajikan pada Gambar 2. Tabel 3. Populasi orbital atom utama (%) dari kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ dan turunan tersubstitusinya Komp *. Fe N m C m N C S s p d s p s p s p p p I NH 0,0 0,2 8,6 2,3 27,0 0,5 61, H 0,0 0,0 60,2 2,1 22,2 2,5 10, L 0,0 1,6 0,3 0,4 28,8 0,7 68, NL 0,0 0,0 0,8 0,2 26,8 2,1 70, II NH 1,0 0,6 1,1 0,3 0,4 3,7 4,2 0,1 44,6 4,6 39,4 H 0,0 2,9 0,2 0,1 0,3 0,1 0,8 0,4 46,3 5,8 42,9 L 0,0 0,0 0,7 0,1 23,2 0,4 75,2 0,0 0,0 0,0 0,1 NL 0,0 0,0 0,2 0,0 22,6 0,6 75,1 0,0 0,0 0,0 0,1 III NH 0,3 0,0 0,5 0,6 10,6 0,9 46,2 0,0 22,1 0,2 18,0 H 0,0 0,2 0,3 0,4 21,7 0,5 7,1 0,0 5,9 0,4 63,3 L 0,0 0,0 2,7 0,2 18,1 0,3 21,1 0,0 14,4 0,5 42,7 NL 0,0 0,5 0,4 0,4 19,8 0,6 66,7 0,0 0,2 0,5 0,3 * I = Kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+,, II = Kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ], III = Kompleks trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]

5 85 JURNAL MATEMATIKA DAN SAINS, SEPTEMBER 2009, VOL. 14 NOMOR 2 I II III Gambar 2. Stereograf HOMO (kiri) dan LUMO (kanan) kompleks (I-III). (I). Kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ ; (II). Kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]; (III). Kompleks trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]

6 Male dkk., Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks Dari populasi orbital-orbital atom yang membentuk orbital molekul terdepan (Tabel 3 dan Gambar 2), dapat dilihat bahwa: i) Komponen utama HOMO dari kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ berasal dari orbital d ion logam pusat sedangkan komponen utama LUMO dan NLUMO berasal dari orbital-orbital p z atom C dan N pada ligan utama. Dengan demikian, antara pita dasar elektronik terjadi transisi yang menunjuk pada pengalihan (transfer) muatan dari logam ke ligan (metal-to-ligand charge-transfer, MLCT); ii) Komponen utama NHOMO dan HOMO dari kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] dan trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] berasal dari orbital-orbital p z atom N dan S pada ligan NCS - sedangkan komponen utama dan NLUMO dan LUMO berasal dari orbital p z atom-atom C pada ligan utama. Dengan demikian, antara pita dasar elektronik terjadi transisi yang menunjuk pada pengalihan muatan dari ligan NCS - ke ligan utama (ligand-to-ligand charge-transfer, LLCT). 3.4 Pengaruh konfigurasi terhadap energi orbital terdepan dan spektra karakteristik kompleks Energi dan selisih energi dari beberapa orbital molekul terdepan (Tabel 4) menunjukkan kecenderungan yang berhubungan dengan perubahan konfigurasi kompleks akibat penambahan subtituen NCS - yaitu: i) Energi orbital molekul terdepan kompleks ε i (II) > ε i (I) > ε i (III) sesuai dengan penurunan kontribusi orbital p dari atom N ligan NCS -, (II (0,0) dan III (14,4); ii) Urutan selisih energi ( ε L-H) antara LUMO dan HOMO untuk ketiga kompleks adalah ε L-H (II) < ε L-H (III) < ε L-H (I). Karena selisih energi orbital terluar berhubungan dengan spektrum ultra-violet (UV), kita dapat meramalkan urutan panjang gelombang (λ) pita-pita dasar elektronik ketiga kompleks, yaitu: λ(ii) > λ(iii) > λ(i). Jadi dapat dikatakan bahwa penambahan subtituen NCS - pada posisi cis menyebabkan pergeseran panjang gelombang (red shift) spektra UV menuju daerah tampak. 3.5 Populasi muatan atomik senyawa kompleks Muatan atomik berdasarkan analisis populasi Mulliken pada kerangka utama ligan disajikan pada Tabel 5. Hasil perhitungan menunjukkan beberapa karakteristik dari populasi muatan atomik dalam hubungannya dengan konfigurasi kompleks: i) Muatan paling negatif berada pada atom N1 dari setiap kompleks, di mana atom N1 pada kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ paling negatif (-0,6401); ii) Di antara atom-atom C dari ligan utama, muatan paling negatif terletak pada atom C4 dari kompleks cis- [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] (-0,2005); iii) Di antara atom-atom C dari ligan utama, muatan paling positif terletak pada atom C5 dari kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ]; dan iv) Atom hidrogen yang paling positif terikat pada atom atom Nitrogen di antara cincin ligan, diikuti atom hidrogen pada atom C3. Pada konfigurasi cis, interaksi interaksi intra dan intermolekul juga dapat terjadi melalui atom S. 3.6 Peramalan spektrum vibrasi inframerah Spektrum inframerah (infrared, IR) dari sistem besi(ii) dapat memberikan informasi penting mengenai keadaan spin dari atom logam, khususnya dalam rentang frekuensi ulur logam-nitrogen. Spektrum ulur (stretching) Fe-N untuk keadan LS dan HS dapat dibedakan karena HS memiliki frekuensi ulur yang lebih rendah. Pada Gambar 3, disajikan spektrum IR kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] pada keadaan HS. Spektrum IR di atas menunjukkan dua puncak utama dan satu daerah dengan pita serapan lebar. Puncak pertama dengan intensitas tertinggi, 2022 cm -1, adalah vibrasi ulur Fe-N(NCS) sedangkan puncak kedua, 1433 cm -1, adalah vibrasi ulur tak-simetris untuk ikatan C-H dalam sistem cincin ligan utama. Daerah dengan pita lebar, ~ 500 cm -1, merupakan frekuensi karakteristik untuk vibrasi ulur Fe-N(ligan). Hasil yang diperoleh sesuai dengan eksperimen Nakamoto (1997), bahwa vibrasi ulur Fe-N(NCS) berada di bawah 2050 cm -1. Tabel 4. Energi (ε/a.u) dari beberapa orbital molekul [Fe(dpa) 3 ] 2+ dan turunan tersubstitusinya L -1 NH H L NL Vir ε L-H ε NL-H I -0,4079-0,4054-0,4035-0,2470-0,2452-0,2420 0,1565 0,1583 II -0,1458-0,1429-0,1390-0,0691-0,0624-0,0566 0,0699 0,0766 III -0,4417-0,4392-0,4298-0,4148-0,2842-0,2752 0,1306 0,1456

7 87 JURNAL MATEMATIKA DAN SAINS, SEPTEMBER 2009, VOL. 14 NOMOR 2 Tabel 5. Populasi muatan pada cincin pertama ligan kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ dan turunan tersubstitusinya (satuan: e ) C4 C5 N1 Fe N2 * H-(C3) H-(N2) S I -0,1916 0,5633-0,6401 1,2553-0,7369 0,2004 0, II -0,2005 0,6574-0,5943 1,1006-0,7822 0,1516 0,3379-0,2508 III -0,1662 0,5601-0,6173 1,4530-0,6748 0,2157 0,3729 0,0829 N *) Menunjukan atom N pada ligan NCS -. * I = Kompleks [Fe(dpa) 3 ] 2+ II = Kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] III = Kompleks trans-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] Gambar 3. Spektrum IR hasil perhitungan untuk kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] 4. Kesimpulan Metode komputasi B3LYP*/6-31G(d) telah digunakan untuk meramalkan sifat TS kompleks berinti tunggal [Fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] konfigurasi cis dan trans. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dalam vakum dan metanol, kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] memiliki E el yang lebih sesuai untuk terjadinya TS. Dapat diramalkan bahwa jika dilakukan sintesis, hanya kompleks cis-[fe(dpa) 2 (NCS) 2 ] yang berpotensi menjadi kompleks TS. Antara pita dasar elektronik terjadi transisi yang menunjuk pada pengalihan muatan dari ligan NCS - ke ligan utama (ligand-to-ligand charge-transfer, LLCT). Hasil komputasi dapat dikonfirmasikan dengan beberapa hasil percobaan sehingga dapat dikatakan bahwa metode komputasi yang digunakan memiliki daya ramal yang baik dan dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan kerja sintesis yang lebih terarah Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional RI atas dukungan pembiayaan riset ini melalui BPPS. Daftar Pustaka Baranović, G. and D. Babić, 2004, Vibrational Study of the Fe(phen) 2 (NCS) 2 Spin-Crosover Complex by Density-Functional Calculations, Spectrochim. Acta Part A, 60, Becke, A. D., 1993, Density Functional Thermochemistry-III; The Role of Exact Exchange, J. Chem.Phys., 98, Chen, G., G. E. Perez, A. Z. Dehesa, I. S. Dumitrescu, and F. L. Ochoa, 2000, (Tetrakis(2- pyridylmethyl)ethylenediamine)iron(ii)perchl orate: Study Density Functional Methods, Inorg. Chem., 39, Cramer, C. J., 2004, Essentials of Computational Chemistry, John Wiley and Sons, Chicester. Foresman, J. B., and A. E. Frisch, 1993, Exploring Chemistry with Electronic Structure Method, 2 nd, Gaussian, Inc., Pittsburg. Gaspar, A. B., M. C. Muňoz, N. Moliner, V. Ksenofontov, G. Levchenko, P. Gütlich, and J. A. Real, 2002, Polymorphism and Pressure Driven Thermal Spin Crossover Phenomenon in [Fe(abpt) 2 (NCX) 2 ] (X = S and Se) :

8 Male dkk., Studi Teoretis Struktur Elektronik dan Sifat Transisi Spin Kompleks Sysnthesis, Structure and Magnetic Properties, Monaschefte für Chemie, 134, Gaspar, A. B., G. Agusti, V. Martǐnes, M. C. Muńoz, G. Levchenko, and J. A. Real, 2005, Spin Crossover Behavior in the Iron(II)-2,2- dipyridilamine System: Synthesis, X-ray Structure and Magnetic Studies, Inorg. Chim. Acta, 358, Frisch, M. J., G. W. Trucks, H. B. Schlegel, G. E. Scuseria, M. A. Robb, J. R. Cheeseman, V. G. Zakrewski, J. A. Montgomery, Jr., R. E. Startmann, J. C. Buratn, S. Dapprich, J. M. Millam, A. D. Daniels, K. N. Kudin, M. C. Strain, O. Farkas, J. Tomasi, V. Barone, M.Cossi, R. Cammi, B. Menucci, C. Pomelli, C. Adamo, S. Clifford, J. Ochterski, G. A. Petersson, P. Y. Ayala, Q. Cui, K. Morokuma, D. K. Malick, A. D. Rabuck, K. Raghavachari, J. B. Foresman, J. Cioslowski, J. V. Ortis, A. G. Baboul, B. B. Stefanov, G. Liu, A. Liashenko, P. Piskorz, I. Komaromi, R. Gomperts, R. L. Martin, D. J. Fox, T. Keith, M. Al-Laham, C. Y. Peng, A. Nayakkara, C. Gonzales, M. Challacombe, P. M. W. Gill, B. Johnson, W. Chen, M. W. Wong, J. L. Andreas, C. Gonzales, M. Head-Gordon, E. S. Reploge and J. A. Pople, 1998, Gausian 03 Rev. E.01., Gausian, Inc., Pittsburgh. Gütlich, P. and H.A. Goodwin, 2004, Spin Crossover in Transition Metal Compounds, Top. Curr. Chem., , Springer, Heildelberg. Kahn, O. and J. Martinez, 1998, Spin-Transition Polymers: From Molecular Materials Toward Memory Devices, Sci. 279, Male, Y. T., D. Onggo, Ismunandar and M. A. Martoprawiro, 2008, Quantum Chemical Study of Fe(en) 2 (NCS) 2 cis-trans Geometry in Vacuum and in Methanol with Reparameterized Density Functionals, Proceedings of the International Seminar on Chemistry, UNPAD, Bandung, Palfi, V. K., T. Guillon, H. Paulsen, G. Molnar, and A. Bousseksou, 2005, Isotope Effects on the Vibrational Spectra of the Fe(phen) 2 (NCS) 2 Spin-crossover Complex Studied by Density Functional Calculations, C.R. Chimie, 1-8. Paulsen, H. and A. X. Trautwein, 2004, Calculation of the Electronic Energy Differences of Spin Crossover Complexes, J. Phys. Chem. Sol., 65, Paulsen, H., L. Duelund, H. Winkler, H. Toftlund, and A.X. Trautwein, 2001, Free Energy of Spin- Crossover Complexes Calculated with Density Functionals Methods, Inorg. Chem., 40, Paulsen, H., H. Winkler, A. X. Trautwein, H. Grünsteudel, V. Rusanov, and H. Toftlund, 1999, Measurement and Simulation of Nuclear Inelastic-Scatering Spectra of Molecular Crystals, PRB, 59:2, Real, J. A., A.B. Gaspar, V. Niel, and M.C. Muňoz, 2003, Communication Between Iron(II) Building Blocks in Cooperative Spin Transition Phenomena, Coord. Chem. Rev., 236, Reiher, M., 2002, Theoretical Study of the Fe(phen) 2 (NCS) 2 Spin-Crossover Complex with Reparameterized Density Functional, Inorg. Chem., 41, Schaftenaar, G. and J. H. Noordik, 2000, Molden: a pre-and post-processing program for molecular and electronic structures, J. Comput.-Aided Mol. Design, 14, Sumarna, O., 1996, Sintesis and Karakterisasi Senyawa Kompleks Fe(II), Co(II), and Ni(II) Menggunakan Ligan-Ligan Turunan 2,2 - bipiridin, Thesis S2 ITB. Tomasi J., B. Menucci, and R. Cammi, 2005, Quantum Mechanical Continuum Solvation Models, Chem. Rev., 105, Zhang, Y. and E. Oldfield, 2003, 57 Fe Mössbauer Quadrupole Splittings and Isomer Shifts in Spin-Crossover Complexes: A Density Functional Theory Investigation, J. Phys. Chem, A, 107, Zheng, K. C., J. P. Wang, X. W. Liu, W. L. Peng, and F. C. Yun, 2002, Studies of Substituent Effects on the Electronic Structure and Related Properties of [Ru(L) 3 ] 2+ (L = bpy, bpm, bpz) with DFT Method, J. Mol. Struct.,(Theochem), 582, 1-9.

BENTUK MOLEKUL. Rumus VSEPR AX 2 AX 3 AX 4 AX 3 E AX 3 E 2 AX 5 AX 6 AX 4 E 2

BENTUK MOLEKUL. Rumus VSEPR AX 2 AX 3 AX 4 AX 3 E AX 3 E 2 AX 5 AX 6 AX 4 E 2 BENTUK MOLEKUL KOMPETENSI DASAR 1. Menjelaskan teori tolakan pasangan elektron di sekitar inti atom dan teori hibridisasi untuk meramalkan bentuk molekul. Menurut teori tolakan pasangan elektron kulit

Lebih terperinci

Sintesis dengan Metode Hidrotermal dan Karakterisasi Senyawa Berstruktur Aurivillius Bi 4 Ti 3 O 12

Sintesis dengan Metode Hidrotermal dan Karakterisasi Senyawa Berstruktur Aurivillius Bi 4 Ti 3 O 12 Sintesis dengan Metode Hidrotermal dan Karakterisasi Senyawa Berstruktur Aurivillius Bi 4 Ti 3 O 12 Muhammad Rizal dan Ismunandar Kelompok Keahlian Kimia Anorganik dan Fisik, Fakultas Matematika dan Ilmu

Lebih terperinci

BAB 10. Bentuk-Bentuk Molekul

BAB 10. Bentuk-Bentuk Molekul BAB 10. Bentuk-Bentuk Molekul 10. 1. Menggambarkan ion dan molekul menggunakan struktur Lewis Struktur Lewis ialah struktur dua dimensi yang isinya berupa titik-titik (dots) yang menggambarkan electron-electron.

Lebih terperinci

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. DIAGRAM FASA WUJUD ZAT: GAS CAIRAN PADATAN PERMEN (sukrosa) C 12

Lebih terperinci

STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR

STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR 1. Partikel dasar : partikel-partikel pembentuk atom yang terdiri dari elektron, proton den neutron. 1. Proton : partikel pembentuk atom yang mempunyai massa sama dengan

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL

IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL Sebagian besar unsur di alam tidak pernah dijumpai dalam atom bebas (kecuali gas mulia), namun dalam bentuk berikatan dengan atom yang sejenis maupun atom-atom yang lain.

Lebih terperinci

MEKANIKA KUANTUM DALAM TIGA DIMENSI

MEKANIKA KUANTUM DALAM TIGA DIMENSI MEKANIKA KUANTUM DALAM TIGA DIMENSI Sebelumnya telah dibahas mengenai penerapan Persamaan Schrödinger dalam meninjau sistem kuantum satu dimensi untuk memperoleh fungsi gelombang serta energi dari sistem.

Lebih terperinci

Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2.

Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2. SENYAWA ORGANIK A. Sifat khas atom karbon Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2. Atom karbon mempunyai 4 elektron valensi,

Lebih terperinci

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik V. Medan Magnet Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik Di tempat tersebut ada batu-batu yang saling tarik menarik. Magnet besar Bumi [sudah dari dahulu dimanfaatkan

Lebih terperinci

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PENDAHULUAN Dahulu bangsa Indonesia telah memiliki pengetahuan yang luas di bidang obat-obatan tradisional yang berasal

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. Oleh : RHOBI ROZIEANSHAH NIM : 13203054

PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. Oleh : RHOBI ROZIEANSHAH NIM : 13203054 PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET LAPORAN TUGAS AKHIR Dibuat sebagai Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Teknik Elektro dari Institut Teknologi

Lebih terperinci

Alkena. KO 1 pertemuan III. Indah Solihah

Alkena. KO 1 pertemuan III. Indah Solihah Alkena KO 1 pertemuan III Indah Solihah Pengertian Alkena Merupakan senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap karbon-karbon. Terdapat dalam jumlah berlebih di alam Etena (etilena) merupakan ssalah

Lebih terperinci

ALKENA & ALKUNA. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc.

ALKENA & ALKUNA. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. ALKENA & ALKUNA Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. Alkena, C n H 2n ; n = 3 C 3 H 6 CH 3 -CH=CH 2 } Hidrokarbon Alkuna, C n H 2n-2 ; n = 3 C 3 H 4 CH 3 -C=CH Tak Jenuh Ikatan rangkap Lebih

Lebih terperinci

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si Fasa (P) Fasa (phase) dalam terminology/istilah dalam mikrostrukturnya adalah suatu daerah (region) yang berbeda struktur atau komposisinya dari daerah lain. Nurun Nayiroh, M.Si Fasa juga dapat didefinisikan

Lebih terperinci

PENENTUAN AnPLITUDO DAN FASA FUNGSI PINDAH DAYA NOL SECARA UJl BATANG KENDALl JATUH DARI TRIGA nark II BANDUNG. paan Id. DdoeJI. .A,rJ.i.uA Xuu.

PENENTUAN AnPLITUDO DAN FASA FUNGSI PINDAH DAYA NOL SECARA UJl BATANG KENDALl JATUH DARI TRIGA nark II BANDUNG. paan Id. DdoeJI. .A,rJ.i.uA Xuu. PENENTUAN AnPLITUDO DAN FASA FUNGSI PINDAH DAYA NOL SECARA UJl BATANG KENDALl JATUH DARI TRIGA nark II BANDUNG paan Id. DdoeJI..A,rJ.i.uA Xuu.owo Pusst Panelitian Teknik Nuklir ABSTRAK Penentuan Amplitudo

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK Senyawa Fenolik pada Sayuran Indigenous III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK A. Kerangka Fenolik Senyawa fenolik, seperti telah dijelaskan pada Bab I, memiliki sekurang kurangnya satu gugus fenol. Gugus fenol

Lebih terperinci

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp)

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp) KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp) Kelarutan (s) Kelarutan (solubilit) adalah suatu zat dalam suatu pelarut menatakan jumlah maksimum suatu zat ang dapat larut dalam suatu pelarut. Satuan kelarutan

Lebih terperinci

METODE ITERASI BEBAS TURUNAN BERDASARKAN KOMBINASI KOEFISIEN TAK TENTU DAN FORWARD DIFFERENCE UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR ABSTRACT

METODE ITERASI BEBAS TURUNAN BERDASARKAN KOMBINASI KOEFISIEN TAK TENTU DAN FORWARD DIFFERENCE UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR ABSTRACT METODE ITERASI BEBAS TURUNAN BERDASARKAN KOMBINASI KOEFISIEN TAK TENTU DAN FORWARD DIFFERENCE UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR Mahrani 1, M. Imran, Agusni 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematika

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Beberapa tahun terakhir ini kurs tukar IDR/USD terus mengalami fluktuasi yang tidak dapat diprediksi. Akibatnya para pelaku pasar sulit untuk menentukan pada saat kapan mereka harus melakukan ekspor

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dikemukakan oleh Ehrenberg (dalam Pakaya, 2008: 3) bahwa konsep merupakan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dikemukakan oleh Ehrenberg (dalam Pakaya, 2008: 3) bahwa konsep merupakan 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. 1 Konsep dan Pemahaman Konsep Kimia Banyak definisi konsep yang dikemukakan oleh para ahli, seperti yang dikemukakan oleh Ehrenberg (dalam Pakaya, 2008: 3) bahwa konsep merupakan

Lebih terperinci

Perang di Luar Angkasa

Perang di Luar Angkasa Perang di Luar Angkasa Ini bukan seperti perang bintang yang digambarkan dalam film legendaris Star Wars. Perang ini terjadi di luar angkasa dalam upaya mencegah terjadinya perang di bumi ini. Bagaimana

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010 UJIN NSIONL THUN 00 Pilihlah satu jawaban yang paling benar. Seorang anak berjalan lurus 0 meter ke barat, kemudian belok ke selatan sejauh meter, dan belok lagi ke timur sejauh meter. Perpindahan yang

Lebih terperinci

e-mail : arsal_hmi@yahoo.com

e-mail : arsal_hmi@yahoo.com STUDI AWAL PROSES PEMOLINGAN DAN KARAKTERISASI SIFAT LISTRIK BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN (0,95-x) Bi 0,5 Na 0,5 TiO 3-0,05Ba 0,5 TiO 3 - xbi 0,5 K 0,5 TiO 3 (BNT-BT-BKT) Arsal Chayri Iby 1, Alimin

Lebih terperinci

10/14/2012. Gas Nyata. Faktor pemampatan (kompresi), Z. Faktor Kompresi, Z. TERMODINAMIKA KIMIA (KIMIA FISIK 1 ) Sistem Gas Nyata

10/14/2012. Gas Nyata. Faktor pemampatan (kompresi), Z. Faktor Kompresi, Z. TERMODINAMIKA KIMIA (KIMIA FISIK 1 ) Sistem Gas Nyata 10/14/01 Jurusan Kimia - FMIA Universitas Gadjah Mada (UGM) ERMODINAMIKA KIMIA (KIMIA FISIK 1 ) Sistem Gas Nyata Gas Nyata engamatan bahwa gas-gas nyata menyimpang dari hukum gas ideal terutama sangat

Lebih terperinci

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor Bab 5 Sumber: www.in.gr Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi komposisi dalam pemecahan masalah; menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi invers

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD Yefri Hendrizon, Wildian Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi,

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab17 Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Larutan buffer adalah larutan yg terdiri dari: 1. asam lemah/basa

Lebih terperinci

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati //Paradigma, Vol. 16 No.1, April 2012, hlm. 31-38 SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati 1) 1) Jurusan Matematika FMIPA Unhalu, Kendari, Sulawesi Tenggara

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

ANALISIS DISTRIBUSI SUHU PADA PELAT DUA DIMENSI DENGAN MENGGUNAKAN METODA BEDA HINGGA

ANALISIS DISTRIBUSI SUHU PADA PELAT DUA DIMENSI DENGAN MENGGUNAKAN METODA BEDA HINGGA Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA) Vol No., esember 0 ISSN: 087-9946 ANALISIS ISTRIBUSI SUHU PAA PELAT UA IMENSI ENGAN MENGGUNAKAN METOA BEA HINGGA Supardiyono Jurusan Fisika FMIPA UNESA Kampus

Lebih terperinci

MODUL PERCOBAAN TERMOKIMIA

MODUL PERCOBAAN TERMOKIMIA MODUL PERCOBAAN TERMOKIMIA Tujuan Percobaan Mempelajari bahwa setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi Mempelajari bahwa perubahan kalor dapt diukur atau dipelajari dengan percobaan

Lebih terperinci

D. E. 3. Bila kedua unsur tersebut berikatan, maka rumus senyawa yang dihasilkan adalah... A. XY 2

D. E. 3. Bila kedua unsur tersebut berikatan, maka rumus senyawa yang dihasilkan adalah... A. XY 2 Dua buah unsur memiliki notasi dan 1. Diagram orbital yang paling tepat untuk elektron terakhir dari unsur X adalah... A. B. C. X nomor atom 13 Konfigurasi elektron terakhirnya ada pada nomor 13. [Ne]

Lebih terperinci

HUBUNGAN STRUKTUR, SIFAT KIMIA FISIKA DENGAN PROSES ABSORPSI, DISTRIBUSI DAN EKSKRESI OBAT

HUBUNGAN STRUKTUR, SIFAT KIMIA FISIKA DENGAN PROSES ABSORPSI, DISTRIBUSI DAN EKSKRESI OBAT HUBUNGAN STRUKTUR, SIFAT KIMIA FISIKA DENGAN PROSES ABSORPSI, DISTRIBUSI DAN EKSKRESI OBAT Oleh: Siswandono Laboratorium Kimia Medisinal Proses absorpsi dan distribusi obat Absorpsi Distribusi m.b. m.b.

Lebih terperinci

Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer

Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer Oegik Soegihardjo Dosen Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,

Lebih terperinci

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN ARTIKEL ILMIAH Oleh Ikalia Nurfitasari NIM 061810401008 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012 ARTIKEL ILMIAH diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PETA KONSEP PADA MATA KULIAH KIMIA PADATAN

PENGEMBANGAN PETA KONSEP PADA MATA KULIAH KIMIA PADATAN PENGEMBANGAN PETA KONSEP PADA MATA KULIAH KIMIA PADATAN Toeti Koestiari FMIPA UNESA Abstrak Tujuan dari pembuatan Pengembangan Peta Konsep untuk mata kuliah Kimia Padatan adalah untuk membantu dosen menyiapkan

Lebih terperinci

SPMB/Fisika/UMPTN Tahun 1992

SPMB/Fisika/UMPTN Tahun 1992 1. Akibat rotasi bumi, keadaan Ida yang bermassa a dan ada di Bandung, dan David yang bermassa a dan ada di London, akan sama dalam hal... A. laju linearnya B. kecepatan linearnya C. gaya gravitasi buminya

Lebih terperinci

BAB 2. Universitas Sumatera Utara

BAB 2. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kitin Nama kitin berasal dari bahas Yunani yaitu chiton, pertama kali diberikan oleh Odier pada tahun 1923, yang artinya sampul atau baju. Kitin merupakan polisakarida linear

Lebih terperinci

BAB I PENDAH ULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAH ULUAN 1.1.Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Polimer secara umum merupakan bahan dengan kemampuan menghantarkan listrik yang rendah dan tidak memiliki respon terhadap adanya medan magnet dari luar. Tetapi melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Selama mengamati beberapa reaksi dalam NOP, dapat diidentifikasi adanya beberapa kelemahan. Kelemahan ini terutama berpengaruh

Lebih terperinci

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAVONOID PADA DAUN KATU (Sauropus androgynus (L.) Merr)

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAVONOID PADA DAUN KATU (Sauropus androgynus (L.) Merr) ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAVONOID PADA DAUN KATU (Sauropus androgynus (L.) Merr) Sri Harsodjo Wijono S. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta 10560, Indonesia; Jurusan Farmasi,

Lebih terperinci

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH Dian Erviantari dan Muh. Sarkowi Program Studi Teknik Geofisika

Lebih terperinci

DASAR KOMPUTER DAN PEMROGRAMAN

DASAR KOMPUTER DAN PEMROGRAMAN BUKU AJAR DASAR KOMPUTER DAN PEMROGRAMAN oleh : RINTA KRIDALUKMANA, S.Kom, M.T. Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik Universitas Diponegoro 2009 Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kepada

Lebih terperinci

MENGGALI PEMAHAMAN SISWA SMA PADA KONSEP KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN DENGAN MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER

MENGGALI PEMAHAMAN SISWA SMA PADA KONSEP KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN DENGAN MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER MENGGALI PEMAHAMAN SISWA SMA PADA KONSEP KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN DENGAN MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER Tri Yunita Maharani, Prayitno, Yahmin Universitas Negeri Malang E-mail: menik.chant@yahoo.com

Lebih terperinci

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80 1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). Apabila koefisien kondutivitas Q, logam P kali koefisien konduktivitas logam Q, serta AC = 2 CB, maka suhu di C

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis Komponen Utama (AKU, Principal Componen Analysis) bermula dari

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis Komponen Utama (AKU, Principal Componen Analysis) bermula dari BAB 2 LANDASAN TEORI 21 Analisis Komponen Utama 211 Pengantar Analisis Komponen Utama (AKU, Principal Componen Analysis) bermula dari tulisan Karl Pearson pada tahun 1901 untuk peubah non-stokastik Analisis

Lebih terperinci

BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia

BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL. Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia BAB VI. PENGGUNAAN INTEGRAL Luas Daerah di Bidang Volume Benda Pejal di Ruang: Metode Cincin Metode Cakram Metode Kulit Tabung

Lebih terperinci

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls 1. TURBIN AIR Dalam suatu sistim PLTA, turbin air merupakan salah satu peralatan utama selain generator. Turbin air adalah alat untuk mengubah energi air menjadi energi puntir. Energi puntir ini kemudian

Lebih terperinci

TEKNIK PRODUK (TK 7362)

TEKNIK PRODUK (TK 7362) TEKNIK PRODUK (TK 7362) Dr. Eng. Agus Purwanto Chemical Engineering Department Faculty of Engineering Sebelas Maret University Kisi-Kisi 1. Peranan sarjana teknik kimia dalam inovasi produk. 2. Eksplorasi

Lebih terperinci

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI Disusun Oleh: NANDANG FAHMI JALALUDIN MALIK NIM. J2E 009

Lebih terperinci

MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR UNTUK MAKSUD KERJA. Karnawan Joko Setyono. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang

MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR UNTUK MAKSUD KERJA. Karnawan Joko Setyono. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR UNTUK MAKSUD KERJA Abstract Karnawan Joko Setyono Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang The objectives of this research are to calibrate

Lebih terperinci

Seluk Beluk Frequency Response sebuah Loudspeaker Part3 Frequency Response yang terdengar

Seluk Beluk Frequency Response sebuah Loudspeaker Part3 Frequency Response yang terdengar Dalam artikel ini, kita akan membandingkan seperti apakah Frequency Response (selanjutnya disingkat FR) yang terdengar oleh penonton berdasarkan penyebaran direct sound pressure level. Pengaruh ruangan

Lebih terperinci

METALURGI FISIK. Sifat Mekanik dan Struktur Mikro. 10/24/2010 Anrinal - ITP

METALURGI FISIK. Sifat Mekanik dan Struktur Mikro. 10/24/2010 Anrinal - ITP METALURGI FISIK Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Sifat Sifat Material Sifat Fisik : (berat jenis, daya hantar panas dan listrik, dll.) Sifat Mekanik : (Kekuatan, Kekerasan, Keuletan, Ketegaran, Kekakuan,

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN PEMBANGUNAN INDEKS KERENTANAN PANTAI

MODUL PELATIHAN PEMBANGUNAN INDEKS KERENTANAN PANTAI MODUL PELATIHAN PEMBANGUNAN INDEKS KERENTANAN PANTAI Modul Pengolahan Data Tinggi Gelombang Signifikan Disusun oleh : Erwin Maulana M. Tri Hartanto 2010 Pendahuluan Tinggi gelombang signifikan (significant

Lebih terperinci

KAJIAN REAKSI OKSIDASI SENYAWA 2,6,6-TRIMETIL BISIKLO[3.1.1]HEPT-2-ENA MENGGUNAKAN ALIRAN GAS OKSIGEN DAN ZEOLIT NAX ) Oleh : Nohong **)

KAJIAN REAKSI OKSIDASI SENYAWA 2,6,6-TRIMETIL BISIKLO[3.1.1]HEPT-2-ENA MENGGUNAKAN ALIRAN GAS OKSIGEN DAN ZEOLIT NAX ) Oleh : Nohong **) KAJIAN REAKSI KSIDASI SENYAWA 2,6,6-TRIMETIL BISIKL[3.1.1]HEPT-2-ENA MENGGUNAKAN ALIRAN GAS KSIGEN DAN ZELIT NAX ) leh : Nohong **) Telah dilakukan reaksi oksidasi terhadap senyawa α-pinena (2,6,6-trimetil

Lebih terperinci

Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas

Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas Ahmad Dien Warits 1206240101 Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok Abstrak : Selama ini kita melakukan analisis kecepatan benda

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh panca indera manusia oleh karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi

Lebih terperinci

OLEH: Nama : DAYANG NRP : 4209 105 014

OLEH: Nama : DAYANG NRP : 4209 105 014 SKRIPSI (ME 1336) PENGARUH PERUBAHAN COMPRESSION RATIO PADA UNJUK KERJA MOTOR DIESEL DENGAN BAHAN BAKAR GAS OLEH: Nama : DAYANG NRP : 4209 105 014 JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN

Lebih terperinci

KAJIAN TENTANG RANCANGAN MOTOR ROKET RX100 MENGGUNAKAN PENDEKATAN GAYA DORONG OPTIMAL

KAJIAN TENTANG RANCANGAN MOTOR ROKET RX100 MENGGUNAKAN PENDEKATAN GAYA DORONG OPTIMAL KAJIAN TENTANG RANCANGAN MOTOR ROKET RX100 MENGGUNAKAN PENDEKATAN GAYA DORONG OPTIMAL Errya Satrya 1 ; Holder Simorangkir 2 1 Staf peneliti Pusat Roket LAPAN, Rumpin Serpong 2 Universitas IndoNusa Esa

Lebih terperinci

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol 4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol OH SOCl 2 Cl + HCl + SO 2 C 11 H 22 O C 11 H 21 Cl (170.3) (119.0) (188.7) (36.5) (64.1) Klasifikasi Tipe reaksi and penggolongan bahan Substitusi

Lebih terperinci

Kategori unsur paduan baja. Tabel periodik unsur PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY

Kategori unsur paduan baja. Tabel periodik unsur PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY Dr.-Ing. Bambang Suharno Dr. Ir. Sri Harjanto PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY 1. DASAR BAJA 2. UNSUR PADUAN 3. STRENGTHENING

Lebih terperinci

Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar

Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar JURNAL TEKNIK MESIN Vol., No. 1, April : 68-7 Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar Terhadap Ekadewi Anggraini Handoyo Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C)

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) : NMR Merk : JEOL JNMECA 500 Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) Attached Proton Test (APT) Correlation Spectroscopy (COSY, NOESY) Distortionless Enhancement by Polarization Transfer 9DEPT) 45 o Distortionless

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF LATAR BELAKANG Penyebab gerakan adalah gaya. Gaya merupakan pembangkit gerakan. Objek bergerak karena adanya gaya yang bekerja padanya.

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

Model-model Variogram

Model-model Variogram Model-model Variogram Sebuah model matematika harus disesuaikan pada variogram, sebelum variogram dapat dipakai dalam estimasi. Variogram yang dipilih harus memenuhi suatu kondisi tertentu. Kekeliruan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR TIGA BELITAN SEBAGAI GENERATOR STEP-UP TRANSFORMER

ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR TIGA BELITAN SEBAGAI GENERATOR STEP-UP TRANSFORMER Harrij Mukti K, Analisis Kinerja Transformator, Hal 71-82 ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR TIGA BELITAN SEBAGAI GENERATOR STEP-UP TRANSFORMER Harrij Mukti K 6 Pada pusat pembangkit tenaga listrik, generator

Lebih terperinci

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR Untuk memenuhi persyaratan mencapai pendidikan Diploma III (D III) Program Studi Instrumentasi dan Elektronika

Lebih terperinci

Materi #2 TIN107 Material Teknik 2013 SIFAT MATERIAL

Materi #2 TIN107 Material Teknik 2013 SIFAT MATERIAL #2 SIFAT MATERIAL Material yang digunakan dalam industri sangat banyak. Masing-masing material memiki ciri-ciri yang berbeda, yang sering disebut dengan sifat material. Pemilihan dan penggunaan material

Lebih terperinci

GEMPA RENCANA UNTUK ANALISA RIWAYAT WAKTU

GEMPA RENCANA UNTUK ANALISA RIWAYAT WAKTU GEMPA RENCANA UNTUK ANALISA RIWAYAT WAKTU Benjamin Lumantarna Guru Besar Madya, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen Petra Kurniawan Sutanto, Andri Zacharia Alumni, Fakultas Teknik

Lebih terperinci

PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C

PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C MAKARA, TEKLOGI, VOL. 7,. 1, APRIL 23 PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C Dedi Priadi 1, Iwan Setyadi 2 dan Eddy S. Siradj 1 1. Departemen Metalurgi dan Material,

Lebih terperinci

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT Mata Pelajaran : Kimia Kelas : X (Sepuluh) Nomor Modul : Kim.X.07 Penulis : Drs. Asep Jamal Nur Arifin Penyunting Materi : Drs. Ucu Cahyana, M.Si Penyunting Media

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN A. HASIL PENGAMATAN 1. Penentuan Kesadahan Total dalam Air Kelompok Vol. Sampel Vol. EDTA 0.01 M 7 50 ml 6 ml 9 50 ml 14.6 ml 11 50 ml 5.8 ml Kelompok Vol. Sampel

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini di seluruh dunia termasuk Indonesia kecenderungan penyakit mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya globalisasi dan

Lebih terperinci

Evaluasi Desain Antar Muka (Interface) dengan Menggunakan Pendekatan Kemudahan Penggunaan (Studi Kasus Portal Mahasiswa Universitas X)

Evaluasi Desain Antar Muka (Interface) dengan Menggunakan Pendekatan Kemudahan Penggunaan (Studi Kasus Portal Mahasiswa Universitas X) Evaluasi Desain Antar Muka (Interface) dengan Menggunakan Pendekatan Kemudahan Penggunaan (Studi Kasus Portal Mahasiswa Universitas X) Dino Caesaron 1, Andrian, Cyndy Chandra Program Studi Teknik Industri,

Lebih terperinci

ILMU ALAMIAH DASAR. Dosen Pengampu: DR. TIEN AMINATUN, S.Si., M.Si.

ILMU ALAMIAH DASAR. Dosen Pengampu: DR. TIEN AMINATUN, S.Si., M.Si. ILMU ALAMIAH DASAR Dosen Pengampu: DR. TIEN AMINATUN, S.Si., M.Si. PENDAHULUAN: HAKEKAT SCIENCE Karakteristik ilmu pengetahuan; meliputi kejelasan; 1. Obyek 2. Permasalahan (kajian) 3. Cara memperoleh

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER Yeni Arsih Sriani, Mokhamad Nur Cahyadi Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih terperinci

MAKARA, SAINS, VOL. 6, NO. 1, APRIL 2002

MAKARA, SAINS, VOL. 6, NO. 1, APRIL 2002 REAKSI PENATAAN ULANG SIGMATROPIK HIDROGEN [1,3] SECARA TERMAL DAN REAKSI PENATAAN ULANG PROTOTROPIK [1,3] YANG DIKATALISIS OLEH KATALIS TRANSFER FASE (PTC), [18]-CROWN ETHER-6: SEMI-SINTESIS VANILI DARI

Lebih terperinci

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi Telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion dan Surat Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Kimia Pada Ekstrak Petroleum Eter Kulit Batang Sidaguri (Sida retusa Linn) Oleh: Nohong

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Kimia Pada Ekstrak Petroleum Eter Kulit Batang Sidaguri (Sida retusa Linn) Oleh: Nohong Isolasi dan Identifikasi Senyawa Kimia Pada Ekstrak Petroleum Eter Kulit Batang Sidaguri (Sida retusa Linn) A. Pendahuluan Oleh: Nohong Intisari Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa pada ekstrak

Lebih terperinci

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI AKIBAT KETIDAKEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARU NETRAL DAN LOE PADA TRANFORMATOR DITRIBUI Moh. Dahlan 1 email : dahlan_kds@yahoo.com surat_dahlan@yahoo.com IN : 1979-6870 ABTRAK Ketidakseimbangan beban pada

Lebih terperinci

Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap

Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap BAMBANG RUDIANTO, RINALDY, M ROBBY AFANDI Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Lebih terperinci

Identifikasi Jenis Cairan Dengan Metode Serapan Panjang Gelombang Dan JST- RBF

Identifikasi Jenis Cairan Dengan Metode Serapan Panjang Gelombang Dan JST- RBF Seminar on Intelligent Technology and Its Applications 008 ISBN 978-979-8897-4-5 Identifikasi Jenis Cairan Dengan Metode Serapan Panjang Gelombang Dan JST- RBF Riny Sulistyowati.), Muhammad Rivai ) ) Jurusan

Lebih terperinci

Epilog & Daftar Pustaka

Epilog & Daftar Pustaka Epilog & Daftar Pustaka Bila aplikasi deret dan transformasi Fourier telah cukup banyak dibahas, maka berikut ini disajikan ilustrasi bagaimana wavelet Haar digunakan dalam analisis dan pemrosesan signal,

Lebih terperinci

Jurnal Kimia Indonesia

Jurnal Kimia Indonesia Jurnal Kimia Indonesia Vol. 5 (1), 2010, h. 17-21 Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan Pengaruhnya terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa molekul Kitosan L..A.N. Ramadhan, 1,2 C. L. Radiman, 1 D.Wahyuningrum,

Lebih terperinci

BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA

BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA ;3-' I Prosiding Seminar Nasional Bahan Magnet I Serpong, 11 Oktober 2000 ISSN1411-7630 BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA R. Dadan Rumdan, Rio Seto Y.

Lebih terperinci

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA DALAM EKSTRAK n-heksan DARI BUAH TANAMAN KAYU ULES (Helicteres isora L.)

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA DALAM EKSTRAK n-heksan DARI BUAH TANAMAN KAYU ULES (Helicteres isora L.) ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA DALAM EKSTRAK n-heksan DARI BUAH TANAMAN KAYU ULES (Helicteres isora L.) Diah Widowati, Yunahara Farida, Titiek Martati ABSTRAK Telah dilakukan penelitian kandungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI FILM POLIVINILYDENE FLUORDE UNTUK APLIKASI SENSOR PIEZOELEKTRIK. Menurut Kawai, Polyvinylidene Fluoride atau PVDF merupakan

BAB II LANDASAN TEORI FILM POLIVINILYDENE FLUORDE UNTUK APLIKASI SENSOR PIEZOELEKTRIK. Menurut Kawai, Polyvinylidene Fluoride atau PVDF merupakan BAB II LANDASAN TEORI FILM POLIVINILYDENE FLUORDE UNTUK APLIKASI SENSOR PIEZOELEKTRIK 2.1 Polivinilydene Fluoride Menurut Kawai, Polyvinylidene Fluoride atau PVDF merupakan fluoropolimer termoplastik murni

Lebih terperinci

APLIKASI PROSES OKSIDASI UNTUK MENENTUKAN POTENSI DAUR ULANG LIMBAH KACA (CULT)

APLIKASI PROSES OKSIDASI UNTUK MENENTUKAN POTENSI DAUR ULANG LIMBAH KACA (CULT) Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 61 hal. 61-66 APLIKASI PROSES OKSIDASI UNTUK MENENTUKAN POTENSI DAUR ULANG LIMBAH KACA (CULT) Sulhadi, Khumaedi, Agus Yulianto Jurusan

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci