TINGKAH LAKU ANTI PREDATOR (MOBBING) BURUNG STRATA BAWAH DI HUTAN DATARAN RENDAH SUMATERA. Liza Meini Fitri, Wilson Novarino, Rizaldi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TINGKAH LAKU ANTI PREDATOR (MOBBING) BURUNG STRATA BAWAH DI HUTAN DATARAN RENDAH SUMATERA. Liza Meini Fitri, Wilson Novarino, Rizaldi"

Transkripsi

1 TINGKAH LAKU ANTI PREDATOR (MOBBING) BURUNG STRATA BAWAH DI HUTAN DATARAN RENDAH SUMATERA Liza Meini Fitri, Wilson Novarino, Rizaldi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas Padang PENDAHULUAN Predator adalah hewan yang memangsa hewan lainnya. Hal ini merupakan bentuk simbiosis dua individu, dengan salah satunya akan menyerang atau memakan individu lainnya. Mangsa sering mengandalkan adaptasi morfologi untuk menghindari predator. Selain itu hewan mangsa juga mengembangkan strategi tingkah laku seperti mengelompok dan bersuara untuk mengurangi resiko predasi (Caro, 2005). Tekanan predator yang dihadapi menyebabkan hewan mangsa mengembangkan tingkah laku anti predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari mangsa terhadap gangguan yang ditimbulkan oleh predator (Agrawal, 2001). Burung mempertahankan diri dengan memberi peringatan berupa suara, atau dengan meningkatkan kewaspadaan. Biasanya predator tidak berburu sepanjang waktu, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat. Spesies mangsa biasanya akan berkumpul untuk mendekati dan memeriksa atau bahkan mengganggu predator yang sedang beristirahat (Pavey&Smyth, 1998; Caro, 2005). Tingkah laku ini tidak bebas dari risiko, karena mangsa dapat saja diserang oleh predator (Dugatkin &Godin, 1992). Salah satu tingkah laku anti predator yang dilakukan oleh burung adalah Mobbing. Mobbing merupakan tingkah laku dimana burung-burung mangsa akan

2 mengusik, mengejar dan menyerang atau berusaha menggangu predator sehingga meninggalkan lokasi mangsa (May, 2001). Mobbing secara luas dipahami sebagai strategi anti predator yang terjadi pada burung dan mamalia. Tingkah laku ini dapat memberikan kemampuan burung untuk menjaga sarang, keturunan, dan pelajaran kepada anaknya tentang potensi bahaya dari predator (Arnold, 2000). Selain itu Mobbing juga dapat memberikan tanda bahaya kepada spesies burung mangsa lainnya (Slogsvold, 1984). Hal ini dapat menarik spesies lain untuk terlibat dalam aktifitas Mobbing (Hurd,1996). Menurut David dan Trevor (2008). Mobbing merupakan perilaku anti predator yang sangat penting dalam komunitas burung terutama pada kelompok Passeriformes. Banyak spesies burung, seperti burung dari famili Pycnonotidae dan Nectariniidae terlibat dalam tingkah laku anti-predator. Burung strata bawah didefinisikan sebagai spesies yang menggunakan daerah understory (sampai ketinggian 3 meter dari permukaan tanah) untuk daerah mencari makan dan bersarang. Struktur komunitas burung strata bawah di daerah tropis mewakili system yang sangat baik untuk melihat perbedaan sensitifitas antar spesies terhadap variasi habitat dalam skala yang berbeda (Willson and Comet, 1996). Salah satu yang jadi predator pada burung adalah dari famili Strigiformes (burung hantu). Pada penelitian ini akan digunakan suara dan patung dari Otus lempiji sebagai model predator. Otus lempiji (celepuk reban) merupakan burung yang termasuk kedalam famili Strigidae, berukuran kecil dengan tubuh berwarna coklat pirang berbintik hitam dan kuning tua, tubuh bagian bawah kuning tua, bercoretan hitam. Burung ini tersebar di Filiphina, Kalimantan, Sumatera, Bangka Belitung, Jawa, dan Bali. Celepuk yang cukup umum sampai ketinggian mdpl. Burung ini lebih aktif pada sore hari, dengan kebiasaan pada malam hari burung ini hanya duduk pada tenggeran rendah mengeluarkan suara yang memilukan. Sewaktu-waktu berburu dari tenggeran dan menyambar mangsa yang ada di tanah (Mackinnon dkk, 2010). BAHAN DAN CARA KERJA

3 Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni dan Oktober tahun 2011, di hutan dataran rendah Sumatera dengan menggunakan metoda play back eksperiment dan observasi terhadap burung-burung yang terlibat dalam tingkah laku Mobbing. 1. Jalur Transek Garis transek dibuat untuk tiap lokasi yang telah di tentukan, setiap lokasi terdiri dari 1 plot pengamatan dengan bentuk plot 1 km dan 1,25 km tegak lurus. Pada masing-masing lokasi memiliki 5 garis transek dengan tiap transek terdiri dari 6 titik sehingga jumlah titik pengamatan dalam1 lokasi sebanyak 30 titik dengan jarak ± 250 m untuk masing-masing titik 2. Pengamatan Perilaku Mobbing Pengamatan Tingkah Laku Mobbing burung dilakukan pada titik pengamatan yang telah ditentukan. Pengamatan dimulai pada pukul WIB pada saat cuaca cerah. Suara dan patung Otus lempiji akan digunakan sebagai model predator untuk tingkah laku Mobbing. Model dipasang pada kayu setinggi 3 m dari permukaan tanah dengan keadaan model Otus lempiji berdiri tegap dan menghadap kearah kanopi yang terbuka. Untuk suara panggilan rekaman suara Otus lempiji akan dimainkan menggunakaan MP4 player merk Olympus yang disambungkan dengan pengeras suara dengan menggunakan volume suara maksimum. Pada setiap titik pengamatan akan dimainkan selama 5-10 menit pemutaran suara. Parameter pengamatan yang dilakukan oleh masing pengamat yaitu: a. Latensi (waktu) dimulainya Mobbing setelah pemutaran suara b. Berakhirnya Mobbing setelah pemutaran suara selesai, ditunggu sampai 10 menit c. Mobber 1. Spesies pertama yang merespon suara model 2. Spesies atau individu berikutnya yang merespon

4 3. Jumlah spesies dan individu Mobber 4. Tingkah laku Mobber 1. Mengamati model: Mobber mendekati dan melihat model pada kisaran jarak 3m sampai 5m. 2. Invitation: Mobber mengeluarkan suara sehingga burung lain mendekati sampai kisaran jarak minimal 15 m dari model 3. Menyerang: Mobber bergerak cepat mendekati model secara serentak (> 1 individu). Analisis data untuk tingkah laku Mobbing menggunkan Uji ANOVA HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan pemutaran suara model dilakukan di hutan terdiri dari 30 titik percobaan pemuran suara, sehingga jumlah titik pemutarn sebanyak 90 titik. Percobaan ini dilakukan pada bulan Juni 2011 dan Oktober Sebanyak 64 spesies dan 1668 individu burung menanggapi pemutaran suara burung hantu (Otus lempiji) selama penelitian. Dari data tingkat kehadiran burung yang merespon suara model didapatkan yang paling tinggi merespon sampai jarak 3m adalah Pycnonotus brunneus (30,93%) diikuti oleh Terpsiphone paradisi (5,97%), Pycnonotus simplex (5,08%) dan Criniger bres (4,86%). Untuk jarak 5 m yang paling memiliki intensitas adalah Tricholestes criniger (10,00%), diikuti oleh Pycnonotus brunneus (8,51%), Pycnonotus cyaniventris (8,51%) dan Criniger bres (6,21%). Sedangkan yang memiliki intensitas paling tinggi masuk kedalam jarak 15 m adalah Pycnonotus

5 erythropthalmos (13,75%), Pycnonotus brunneus (10,82%), Anthreptes simplex (9,54) dan Tricholestes criniger (9,17%). Burung menanggapi pemutaran suara model dengan melakukan Mobbing. Respon burung Mobbing terhadap suara model yang paling intensif (memasuki sampai radius 3 meter) adalah Pycnonotus brunneus (30,93%), diikuti oleh Terpsiphone paradisi (5,97%) hal ini mengindikasikan bahwa spesies ini responsif terhadap suara dan gangguan dari predator. Sedangkan yang rendah terdapat pada Calyptomena viridis (0,88%). Dalam 90 set percobaan, beberapa spesies diamati dalam jarak yang intens (3-5m) dari pusat pemutaran sura dan model pemutaran, namun dalam pemutaran suara selalu menarik Pycnonotus brunneus sebagai Mobber. Dari intensitas kehadiran untuk setiap jarak pengamatan dapat dilihat jenis yang sering muncul Pycnonotus brunneus, setiap jarak baik pada jarak 3m, 5m, dan 15 m spesies ini selalu ada. Pycnonotus brunneus memiliki respon yang tinggi terhadap suara model (Otus lempiji) sedangkan untuk struktur spesies burung tidak jauh berbeda antara setiap jarak. Secara rinci dapat dilihat pada masing-masing famili setiap spesies yang masuk pada jarak 3,5 dan 15m.

6 35 Frekuensi Relatif M 5M 15M 5 0 Spesies mobbing Gambar 1. Frekuensi relatif 20 spesies burung mobbing dalam merespon suara model Dari data dapat dilihat bahwa untuk intensitas bersuara yang paling tinggi dimiliki oleh Pycnonotus brunneus (18,85%) diikuti oleh Philenthoma pyrhopterum (5,90%), Pycnonotus cyaniventris (5,68%), dan Arachnothera longirostra (5,45%). Untuk intensitas mengamati model yang paling tinggi adalah Pycnonotus brunneus (17,54%), dan diikuti oleh Tricholesters criniger dan Pycnonotus cyaniventris (6,14%). Sedangkan untuk spesies burung yang merespon dengan melakuakn penyerangan yang paling tinggi responnya adalah dari spesies Pycnonotus brunneus (22, 87%) dan diikuti oleh Philenthoma pyrhoptrum (10,48%), Leptocoma sperata (8,57%), Rhinomyas umbratilis (7,62%), dan Tricholestes criniger (6,67%) (Gambar 1).

7 25 bersuara frekuensi relatif melihat menyerang 5 0 Spesies Mobbing Gambar 2. Intensitas perilaku respon burung Mobbing pada 20 spesies tertinggi Dapat dilihat bahwa P. brunneus memliki intensitas tertinggi untuk intensitas perilaku bersuara (18,05%), melihat (17,54%), dan menyerang (22, 87%). Dimana perilaku ini mencapai jarak 3-5 m dari pusat pemutaran suara.disini juga terlihat spesies ini memiliki intesitas menyerang yang tinggi. Hal ini terlihat jelas bahwa spesies ini memiliki tingkat respon yang tinggi terhadap predator, dimana mobbing merupakan suatu perilaku anti predator yang sangat penting bagi burung khususnya untuk ordo Passeriformes. Hasil dari percobaan pada penelitian ini memperlihatkan bahwa suara predator mampu mempengaruhi burung-burung yang ada di sekitar untuk bersamasama mendekati dengan menunjukan tingkah laku seolah-olah terganggu atau tidak menyenangi kehadiran predator. Spesies yang terlihat pada data yang selalu bertindak sebagai initiator yaitu Pycnonotus brunneus (25,06%) dan diikuti oleh

8 Tricholestes criniger (15,15%), Pycnonotus erythropthalmos (14,22%) dan Philenthoma pyrhopterum (8,04%). Sedangkan yang bertindak sebagai follower (pengikut) mulai dari spesies yang tertinggi dalam merespon adalah Pycnonotus brunneus (10,775), Criniger bres (6,88%), Anthreptes simplex (6,35%) dan Arachnothera longirostra (5,56%) (Gambar 3) Initiator Follower Frekuensi kehadiran Spesies mobbing Gambar 3. Intensitas respon burung Mobbing pada 20 spesies tertinggi Disini terlihat bahwa Pycnonotus brunneus bertindak sebagai spesies pertama yang merespon sekaligus juga sebagai pengikut selama Mobbing terjadi pada lokasi pemutaran suara model. Dapat terlihat bahwa spesies Pycnonotus brunneus, Philenthoma pyrhopterum, Tricholestes criniger, Arachnothera longirostra dan Pycnonotus erythropthalmos selalu intens mendekati model sampai pada jarak 3, 5,dan 15 m dengan respon melihat, bersuara sampai melakukan penyerangan terhadap parung

9 predator. Spesies ini selalu menjadi initiator (spesies yang pertama merespon suara predator) dan dapat juga dikatakan bahwa spesies ini memiliki keberanian yang tinggi dalam mengahadapi predator. Burung-burung dari kelompok Passeriformes merupakan burung yang sangat aktif bergerak. Mobbing merupakan salah satu strategi anti predator pada burung (Arnold, 200), yang berfungsi untuk mempertahankan sarang, keturunan daerah teritori (Smith dan Graver, 1978). Selain itu Mobbing juga berfungsi untuk mempertahankan diri dengan menarik burung lain untuk ikut mobbing dengan mengeluarkan suara panggilan (Hurd, 1996). Mobbing terjadi setelah pemutaran suara model dengan durasi rata-rata peristiwa mobbing dari burung yang pertama samapi burung yang terakhir berada pada titik percobaan rata-rata 12 menit. Interaksi antara selama interval waktu 12 menit rata-rata menunjukan bahwa burung-burung menanggapi predator rata-rata 51 detik setelah pemutaran suara. Ada hubungan yang erat antara jumlah burung dan perilaku mobbing. Dalam Mobbing dan durasi Mobbing menunjukan bahwa burung baru akan tertarik pada peristiwa Mobbing setelah dimulainya pemutaran suara. Selanjutnya mobbing akan menarik beberapa spesies untuk ikut terlibat dalam mobbing (Krama, 2002). Sedangkan menurut Chandler and Rose (1998), mereka menemukan bahwa 9% dari burung mobbing yang mengeremuni burung hantu setelah 10 menit pemutaran suara. KESIMPULAN Sebanyak 64 spesies burung menanggapi pemutaran suara predator selama rata-rata durasi 12 menit. Spesies tersebut memperlihatkan tingkah laku bersuara, melihat, menyerang dan hingga mendekati model sampai jarak radius 3 meter. Mobbing merupakan tingkah laku anti predator yang sangat penting bagi burung khususnya

10 untuk ordo Passeriformes. Perbedaan tingkah laku pada masing-masing spesies berpengaruh secara signifikan. DAFTAR PUSTAKA Agrawal,A. A Ecology - Phenotypic Plasticity in the Interactions and Evolution of Species. Science, 294: Arianto, E Anti Predator Pada Passer montanus. Universitas Padjadjaran. Indonesia. Arnold, K. E Group Mobbing Behaviour and Nest Defence in a Cooperatively Breeding Australian Bird. Ethology, 106: Bibby, C. Martin, M. Stuart Teknik-Teknik Ekspedisi Lapangan Survey Burung. Birdlife International Indonesia Programme. Bogor Indonesia BirdLife International Menyelamatkan Burung-Burung Asia yang Terancam Punah: Panduan untuk Pemerintah dan Masyarakat Madani. BirdLife International Indonesia Programme. Bogor-Indonesia. Boinski, S and Kauffman, L Are Vigilance, Risk From Avian Predators and Group Size Consequences of Habitat Structure? A Comparison Of Three Species Of Squirrel Monkey (Saimiri oerstedii, S. boliviensis, and S. sciureus).behaviour, 140: Caro,T. M Antipredator Defenses in Birds and Mammals.University of Chicago Press, Chicago, IL.Cresswell W, 2008, Non-lethal effects of predation in birds.ibis, 150: David, J. W. and Trevor. D. Price,2009. Reciprocal Cooperation in Avian Mobbing: Playing Nice Pays.Trends in Ecology and Evolution Vol.23 No.8

11 Dugatkin, L.A Cooperation among Animals: An Evolutionary Perspective. Oxford University Press. Forsman, J. T and Mönkkönen, M Responses by Breeding Birds to Heterospecific Song and Mobbing Call Playbacks Under Varying Predation Risk.Animal Behaviour, 62: Griesser, M Mobbing Calls Signal Predator Category in a Kin Group-Living Bird Species. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. vol. 276 no

Panduan Survei dan Pemantauan Populasi Kera Besar

Panduan Survei dan Pemantauan Populasi Kera Besar Panduan Survei dan Pemantauan Populasi Kera Besar oleh H. Kühl, F. Maisels, M. Ancrenaz & E.A. Williamson Editor Seri : E.A. Williamson Terbitan Tidak Berkala IUCN Spesies Survival Commission No. 36 International

Lebih terperinci

Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur

Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur M. Bismark Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor ABSTRACT Orang

Lebih terperinci

AKTIVITAS HARIAN ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760) REHABILITAN DI HUTAN LINDUNG PEGUNUNGAN MERATUS, KALIMANTAN TIMUR.

AKTIVITAS HARIAN ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760) REHABILITAN DI HUTAN LINDUNG PEGUNUNGAN MERATUS, KALIMANTAN TIMUR. AKTIVITAS HARIAN ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760) REHABILITAN DI HUTAN LINDUNG PEGUNUNGAN MERATUS, KALIMANTAN TIMUR Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat sarjana

Lebih terperinci

M o d u l. ZSL INDONESIA Pelatihan Pemantauan Kawasan HCV. Pengenalan Dasar HCV. DURASI PELATIHAN : 15 menit Materi Kelas

M o d u l. ZSL INDONESIA Pelatihan Pemantauan Kawasan HCV. Pengenalan Dasar HCV. DURASI PELATIHAN : 15 menit Materi Kelas M o d u l 1 ZSL INDONESIA Pelatihan Pemantauan Kawasan HCV Pengenalan Dasar HCV DURASI PELATIHAN : 15 menit Materi Kelas TUJUAN Tujuan Dari Pengenalan Dasar HCV ini adalah agar pihak manajemen dan petugas

Lebih terperinci

KONDISI DAN PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN

KONDISI DAN PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN 2 KONDISI DAN PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN doc. Togu Manurung 2.1. Tutupan Hutan dan Perubahannya Tutupan Hutan Semula: dari Jaman Prapertanian sampai tahun 1900 Berdasarkan kondisi iklim dan topografi yang

Lebih terperinci

HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN?

HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN? 1 HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN? doc. FWI Simpul Sulawesi 1.1. Hutan Tropis Seratus Juta Hektar Sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Dalam hal luasnya, hutan

Lebih terperinci

PANDUAN PEMANTAUAN TERUMBU KARANG BERBASIS-MASYARAKAT DENGAN METODA MANTA TOW

PANDUAN PEMANTAUAN TERUMBU KARANG BERBASIS-MASYARAKAT DENGAN METODA MANTA TOW PANDUAN PEMANTAUAN TERUMBU KARANG BERBASIS-MASYARAKAT DENGAN METODA MANTA TOW Asep Sukmara, Audrie J. Siahainenia, dan Christovel Rotinsulu Proyek Pesisir CRMP Indonesia September 2001 COASTAL RESOURCES

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perairan Indonesia merupakan perairan yang sangat unik karena memiliki keanekaragaman Cetacea (paus, lumba-lumba dan dugong) yang tinggi. Lebih dari sepertiga jenis paus

Lebih terperinci

4 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

4 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN 4 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN doc. FWI Simpul Sumatera 4.1. Dari Kebakaran yang Normal Sampai yang Tidak Normal Salah satu akibat yang paling nampak dari salah urus pengelolaan hutan selama 30 tahun yang

Lebih terperinci

MENGIDENTIFIKASI, MENGELOLA DAN MEMANTAU HUTAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI: SEBUAH TOOLKIT UNTUK PENGELOLA HUTAN DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA

MENGIDENTIFIKASI, MENGELOLA DAN MEMANTAU HUTAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI: SEBUAH TOOLKIT UNTUK PENGELOLA HUTAN DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA MENGIDENTIFIKASI, MENGELOLA DAN MEMANTAU HUTAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI: SEBUAH TOOLKIT UNTUK PENGELOLA HUTAN DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA Versi 1: August 2003 Disiapkan oleh Rainforest Alliance

Lebih terperinci

Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA)

Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) Bab 5 Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) 5.1 Pendahuluan 5.1.1 Apa yang dimaksud dengan Pemeliharaan Permudaan Alam? Pemeliharaan Permudaan Alam (PPA) = Assisted Natural Regeneration atau disingkat dengan

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI UNTUK KELAS X DENGAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (Studi pada Kelas X SMA Negeri 1 Kedamean Gresik

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI UNTUK KELAS X DENGAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (Studi pada Kelas X SMA Negeri 1 Kedamean Gresik EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI UNTUK KELAS X DENGAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (Studi pada Kelas X SMA Negeri Kedamean Gresik ABSTRAK Idin Yulias Prayogo Jurusan Pendidikan Olahraga

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

Kredit Foto: WWF-Canon / Paul FORSTER. WWF-Canon / André BÄRTSCHI. WWF-Canon / Mark EDWARDS. Design and Layout: Aulia Rahman

Kredit Foto: WWF-Canon / Paul FORSTER. WWF-Canon / André BÄRTSCHI. WWF-Canon / Mark EDWARDS. Design and Layout: Aulia Rahman Kredit Foto: WWF-Canon / Paul FORSTER WWF-Canon / André BÄRTSCHI WWF-Canon / Mark EDWARDS Design and Layout: Aulia Rahman Daftar Isi Daftar Isi Daftar Gambar 2 Daftar Tabel 3 BAB 1 PENDAHULUAN 4 1.1 Latar

Lebih terperinci

Metode Pemantauan Biologi Untuk Menilai Kesehatan Terumbu Karang dan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Versi 1.

Metode Pemantauan Biologi Untuk Menilai Kesehatan Terumbu Karang dan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Versi 1. Juni 2009 TNC Indonesia Marine Program Laporan No 1/09 Metode Pemantauan Biologi Untuk Menilai Kesehatan Terumbu Karang dan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Versi 1.0 Disusun

Lebih terperinci

Konsep & Rekomendasi untuk Implementasi Sistem Peringatan Dini Tsunami di Bali

Konsep & Rekomendasi untuk Implementasi Sistem Peringatan Dini Tsunami di Bali Konsep & Rekomendasi untuk Implementasi Sistem Peringatan Dini Tsunami di Bali Disampaikan oleh KESBANG,POL dan LINMAS Provinsi Bali disusun oleh GTZ Maret 2009 Konsep & Rekomendasi untuk Implementasi

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN MELALUI PENDEKATAN PARTISIPATIF

MENINGKATKAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN MELALUI PENDEKATAN PARTISIPATIF MENINGKATKAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN MELALUI PENDEKATAN PARTISIPATIF Sri Mulyani E.S.* Jurusan Pendidikan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Semarang Abstract: The objective of this research is to reveal

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU HEWAN DISUSUN OLEH:

TINGKAH LAKU HEWAN DISUSUN OLEH: PETUNJUK PRAKTIKUM TINGKAH LAKU HEWAN DISUSUN OLEH: Mujahidin Ahmad, M.Sc JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM 2013 0 Bismillahirrahmaanirrahiim

Lebih terperinci

: M. Indra Kurniawan : Naumi Kharithsah, Bida Sari, Cali, Ismail, Binur, Mustaqim, Luga

: M. Indra Kurniawan : Naumi Kharithsah, Bida Sari, Cali, Ismail, Binur, Mustaqim, Luga U.S. FISH & WILDLIFE SERVICE SUMATRAN ORANGUTAN SOCIETY - ORANGUTAN INFORMATION CENTRE ( S O S - O I C ) foto : Nick. T. Redaksi : Jl. Sei Bengawan No. 72 Medan Sumatera Utara - Indonesia Telp/Fax : +62

Lebih terperinci

ALAT BANTU LOGGING UNTUK MENGURANGI SELIP PADA JALAN YANG LICIN Oleh : Yuniawati, Dulsalam, Maman Mansyur Idris, Sukadaryati dan Sona Suhartana

ALAT BANTU LOGGING UNTUK MENGURANGI SELIP PADA JALAN YANG LICIN Oleh : Yuniawati, Dulsalam, Maman Mansyur Idris, Sukadaryati dan Sona Suhartana ALAT BANTU LOGGING UNTUK MENGURANGI SELIP PADA JALAN YANG LICIN Oleh : Yuniawati, Dulsalam, Maman Mansyur Idris, Sukadaryati dan Sona Suhartana Abstrak Kegiatan pengangkutan kayu membutuhkan kelancaran

Lebih terperinci

Pedoman Pelaksanaan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi. Sebuah petunjuk praktis bagi para praktisi dan penilai lapangan

Pedoman Pelaksanaan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi. Sebuah petunjuk praktis bagi para praktisi dan penilai lapangan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi Sebuah petunjuk praktis bagi para praktisi dan penilai lapangan Edisi 1 Mei 2008 Pedoman Pelaksanaan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi Sebuah petunjuk

Lebih terperinci

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1 Panduan Buku ini membantu Anda memahami bagaimana konsep belajar berubah ke kelas yang berpusat pada anak. Buku ini memberikan ide-ide bagaimana menangani anak di kelas Anda dengan latar belakang dan kemampuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

Analisis Vegetasi Dasar di Bawah Tegakan Jati Emas (Tectona grandis L.) dan Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) di Kampus Universitas Andalas

Analisis Vegetasi Dasar di Bawah Tegakan Jati Emas (Tectona grandis L.) dan Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) di Kampus Universitas Andalas 173 Analisis Vegetasi Dasar di Bawah Tegakan Jati Emas (Tectona grandis L.) dan Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) di Kampus Universitas Andalas The analysis of understory vegetation on Jati Emas (Tectona

Lebih terperinci

KEBISINGAN LALU LINTAS DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT KETERGANGGUAN MASYARAKAT (STUDI KASUS : JALAN BOJONGSOANG, KABUPATEN BANDUNG)

KEBISINGAN LALU LINTAS DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT KETERGANGGUAN MASYARAKAT (STUDI KASUS : JALAN BOJONGSOANG, KABUPATEN BANDUNG) KEBISINGAN LALU LINTAS DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT KETERGANGGUAN MASYARAKAT (STUDI KASUS : JALAN BOJONGSOANG, KABUPATEN BANDUNG) ROAD TRAFFIC NOISE IN RELATION TO COMMUNITY ANNOYANCE (CASE STUDY: JALAN

Lebih terperinci

Keanekaragaman Jenis Ikan di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah

Keanekaragaman Jenis Ikan di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah Keanekaragaman Jenis Ikan di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah skripsi disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Biologi Oleh Febrian Achmad Nurudin

Lebih terperinci

Standar Risiko Penerbangan Dasar Sektor Sumber Daya

Standar Risiko Penerbangan Dasar Sektor Sumber Daya Flight safety foundation Standar Risiko Penerbangan Dasar Sektor Sumber Daya Versi 3 Isi Semua 1.0: Umum 6 2.0: Menyimpang dari Landas Pacu 8 3.0: Kehabisan Bahan Bakar 9 4.0: Kontaminasi Bahan Bakar 10

Lebih terperinci

PROGRAM BACA,TULIS DAN HITUNG (BTH) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK AKULTURASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ORANG RIMBA YANG BERUBAH

PROGRAM BACA,TULIS DAN HITUNG (BTH) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK AKULTURASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ORANG RIMBA YANG BERUBAH PROGRAM BACA,TULIS DAN HITUNG (BTH) SEBAGAI SALAH SATU BENTUK AKULTURASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ORANG RIMBA YANG BERUBAH (Studi Kasus : Orang Rimba Kedundung Muda-TNBD, Jambi) SKRIPSI Oleh NORI

Lebih terperinci

KONDISI UMUM PARAMETER FISIKA PERAIRAN PULAU SEKATAP KELURAHAN DOMPAK KECAMATAN BUKIT BESTARI KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU

KONDISI UMUM PARAMETER FISIKA PERAIRAN PULAU SEKATAP KELURAHAN DOMPAK KECAMATAN BUKIT BESTARI KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU KONDISI UMUM PARAMETER FISIKA PERAIRAN PULAU SEKATAP KELURAHAN DOMPAK KECAMATAN BUKIT BESTARI KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU LAPORAN PRAKTIK LAPANG OLEH REYGIAN FREILA CHEVALDA PROGRAM STUDI

Lebih terperinci