Revitalisasi Sistem LAKU SUSI. Sony Heru Priyanto SetBakorluh-Ungaran, 11 April 2014

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Revitalisasi Sistem LAKU SUSI. Sony Heru Priyanto sonecid@yahoo.com 085876699835 SetBakorluh-Ungaran, 11 April 2014"

Transkripsi

1 Revitalisasi Sistem LAKU SUSI Sony Heru Priyanto SetBakorluh-Ungaran, 11 April 2014

2 Pengantar Dulu, tatkala belum banyak informasi yang bisa diakses petani, keberadaan penyuluh memegang peranan yang penting Dari sisi geografis, ada kesulitan petani untuk melakukan mobilitas diri Sekarang ini telah terjadi perubahan besar dengan semakin baiknya sarana jalan dan transportasi serta perubahan pada teknologi & sistem informasi Dulu ada sistem LAKU untuk memenuhi kebutuhan petani. Sekarang?

3 Pemaknaan Sistem kerja LAKU adalah sistem kerja penyuluh pertanian dengan cara mempersiapkan diri lebih baik untuk memberikan materi penyuluhan dan pendampingan kepada petani. Dalam sistem kerja LAKU latihan bagi penyuluh pertanian diselenggarakan di BPP atau tempat lain dengan jadw al sekali dalam 2 (dua) minggu. Latihan tersebut diselenggarakan secara teratur, terarah dan berkelanjutan. Proses latihan (belajar mengajar) difasilitasi oleh penyuluh pertanian yang menguasai materi, dan dapat juga dilakukan oleh tenaga ahli dari lembaga lainnya. Sistem LAKU diharapkan meningkatkan motivasi penyuluh pertanian dalam melaksanakan fungsinya sebagai pembimbing dan pendamping petani dalam melaksanakan kegiatan usahataninya untuk lebih baik sehingga dapat meningkatkan produktivitas serta menigkatkan pendapatan para petani.

4 Tujuan Pelatihan Diperolehnya berbagai informasi yang berkaitan dengan pembangunan pertanian perikanan dan kehutanan Meningkatkan PSK penyuluh, baik teori / praktek Meningkatkan kemampuan menganalisis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan. Meningkatkan kemampuan penyuluh dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan.

5 Prinsip-Prinsip Pelatihan Teratur, terarah dan berkelanjutan Topik pelatihan harus actual, factual dan dibutuhkan oleh pelaku utama dan pelaku usaha Pembahasan materi harus mendalam. Latihan mencakup teori dan praktek Latihan harus mampu memecahkan permasalahan teknis di lapangan yang sedang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha Pelatih / pengajar harus mengasai materi dan metode yang digunakan Pelatihan menggunakan metode partisipatif. Pelatihan dilaksanakan sesuai jadwal.

6 Sasaran Pelatihan Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan Teori yang diberikan sesuai deengan keadaan lapangan dan masalah-masalah utama daerah. Praktek dapat dilaksanakan di lapangan dan di dalam kelas. Materi praktik penyuluhan diarahkan agar peserta latihan dapat berpatisipatif aktif, berbentuk simulasi, cara-cara berbicara, cara mengajar, teknis diskusi kelompok, membuat alat peraga dan sebagainya. Meningkatnya kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat lapangan Masalah teknis, social, ekonomi pelaku utama dan pelaku usaha Kelancaran tugas sehari-hari. Meningkatnya kemampuan penyuluh menyusun rencana dan melaksanakan penyuluhan Membahas kegiatan 2 minggu yang akan datang mengacu kepada rencana kerja penyuluhan.

7 Materi Pelatihan Berisi program-program pembangunan yang sedang dan akan dikembangkan untuk daerah yang bersangkutan Bersifat membantu para penyuluh dalam memecahhkan permasalahan yang dihadapi di lapangan. Dilengkapi dengan syilabus, kurikulum (termasuk tujuan instruksionil khusus)

8 Proses Pelatihan Di Balai Penyuluhan Diskusi umum antara penyuluh dengan petugas instansi terkait membahas masalah lapangan. Fasilitator menyampaikan materi yang relevan dengan kebutuhan penyuluh. Praktek dapat dilakukan di luar maupun di dalam ruangan. Tinjauan pelaksanaan program yang dilakksanakan 2 minggu yang lalu. Laporan kemajuan yang dicapainya Mengajukan perrmasalahan untuk dipecahkan bersamasama. Merencanakan program kerja untuk masa 2 minggu yang akan datang.

9 Tujuan Kunjungan Kerja Menyampaikan informasi dan teknologi baru kepada pelaku utama dan pelaku usaha Membimbing penerapan teknologi usahatani Memfasilitasi proses belajar-mengajar pelaku utama dan pelaku usaha Mendampingi dalam penyusunan RDK & RDKK Pemeriksaan lapangan bersama untuk mengetahui permasalahannya Membantu pemecahan masalah teknis, non teknis pelaku utama dan usaha Menampung permasalahan yang tidak dapat dipecahkan & dibawa ke BPP

10 Prinsip-Prinsip Kunjungan Teratur, terarah dan berkelanjutan unjungan melalui pendekatan kelompok Pertemuan dapat dilakukan di saung petani, rumah ketua kelompok, atau tempat lain yang telah disepakati oleh anggota kelompok. Pertemuan dipimpin oleh ketua kelompok, penyuluh sebagai fasilitator. Pertemuan untuk memecahkan permasalahan usaha yang dihadapi para pelaku utama dan pelaku usaha Materi disesuaikan dengan keadaan usaha pelaku utama dan pelaku usaha

11 Penetapan Waktu Penyuluhan Tergantung dari: Metode penyuluhan yang digunakan Media penyuluhan yang digunakan Materi penyuluhan yang akan disampaikan Keadaan atau kesempatan penyuluh itu sendiri Keadaan atau situasi sasaran yang dituju Jenis kegiatan usahatani setempat Ketersediaan alat dan perlengkapan (transport, komunikasi, alat peraga) Kegiatan penyuluhan bisa dilakukan mengikuti kegiatan masyarakat setempat (bulanan, pengajian, musyawarah desa )

12 Materi Kunjungan Disesuaikan dengan permasalahan di lapangan, dan dibahas bersama-sama. Bersifat meningkatkan pengetahuan,keterampilan pelaku utama & pelaku usaha Mencakup perencanaan materi 2 minggu akan datang.

13 Keuntungan sistem LAKU SUSI Penyuluh pertanian memiliki rencana kerja dalam setahun Penyuluh pertanian mengunjungi petani secara teratur,terarah dan berkelanjutan Penyuluh pertanian dapat dilakukan melalui pendekatan kelompok Penyuluh pertanian cepat mengetahui masalah yang terjadi dipetani sehingga pemecahan cepat Secara teratur mendapat tambahan pengetahuan/kecakapannnya,sikap dan keterampilan Mendapatkan supervisi dan pengawasan secara teratur

14 Kelemahan Sistem LAKU SUSI Tidak semua pelaku yang terlibat dalam sistem LAKU bekerja untuk kebutuhan sasaran penyuluhan, peneliti lebih tertarik dengan penelitian non aplikatif. Publikasi hasil penelitian cenderung pada promosi, bukan ilmu terapan yang dibutuhkan Penyuluh dianggap rendah karena bekerjasama dengan pelaku utama dan pelaku usaha. Penyusunan program cenderung dikendalikan oleh pusat. Cenderung top down dalam proses pelaksanaannya Kesulitan bagi daerah yang agroekologis dan sosioekonominya beragam Tidak efektif untuk daerah terpencil. Perlu biaya cukup tinggi untuk transportasi dan pelatihan yang teratur. Asumsi pelaku utama dan pelaku usaha bersedia menjadi agen penyuluhan secara cuma-cuma tidak sepenuhnya bisa

15 Revitalisasi Sistem LAKU SUSI Prinsipnya adalah LAKU SUSI perlu direvitalisasi karena kondisi lingkungan eksternal sudah berubah Sistem kegiatan penyuluhan perlu memanfaatkan teknologi dan sistem informasi Tidak perlu penyuluh datang secara teratur, namun bisa hadir secara on line, real time

16 Revitalisasi Sistem LAKU SUSI Asumsi 1, Jika terjadi 1 Desa-1 Penyuluh 1. Penyuluh harus berada di desa setiap hari sehingga bisa menjangkau petani secara fleksibel 2. Filosofinya adalah pemberdayaan petani sehingga biaya bisa lebih ditekan. Tidak semua masalah harus diselesaikan oleh penyuluh 3. Untuk pembekalan bagi penyuluh, penyuluh bisa menggunakan e-learning. Oleh karena itu, Bakorluh dan Bapeluh bisa menyelenggarakan pembekalan dan pembelajaran bagi penyuluh secara on-line 4. Dalam rangka itu, perlu dipersiapkan sarana dan prasarana pembelajaran e-learning bagi penyuluhan, disebut e-exten 5. Perlu dipersiapkan model bagi pembelajaran e-exten ini

17 Jika 1 desa 1 penyuluh tidak bisa dipenuhi 1. Kegiatan LAKU SUSI bisa diganti dengan pembekalan kepada penyuluh swadaya dari petani maju 2. Penyuluh swadaya ini dibekali untuk bisa mengakses e-exten 3. Penyuluh swadaya didampingi oleh penyuluh PNS 4. Bakorluh dan Bapeluh menyiapkan perangkat e-exten 5. Bakorluh dan Bapeluh perlu memberikan pelatihan bagi penyuluh PNS

18 Terima Kasih, Maju Kita Semua-Maju Sumber Informasi: Indonesia istem-kerja-latihan-dan-kunjungan-laku.html es/andersonwps3928.pdf RJA%20LAKU.doc

faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 1 12/6/2014 11:16:29 PM

faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 1 12/6/2014 11:16:29 PM faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 1 12/6/2014 11:16:29 PM faw_cover_laku_susi_ak0040.indd 2 12/6/2014 11:16:44 PM KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya

Lebih terperinci

PEDOMAN KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012

PEDOMAN KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 PEDOMAN KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 TEMA : PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA MELALUI KKN TEMATIK UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN IPM KABUPATEN TASIKMALAYA LEMBAGA

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PUSAT KAJIAN KULIAH KERJA NYATA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN

PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PUSAT KAJIAN KULIAH KERJA NYATA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PUSAT KAJIAN KULIAH KERJA NYATA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG 2014 DAFTAR

Lebih terperinci

BUKU PEDOMAN KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SEBELAS MARET. Tim Perumus KKN UP-KKN LPPM UNS

BUKU PEDOMAN KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SEBELAS MARET. Tim Perumus KKN UP-KKN LPPM UNS BUKU PEDOMAN KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SEBELAS MARET Tim Perumus KKN UP-KKN LPPM UNS LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2012 1 BUKU PEDOMAN KULIAH KERJA

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN KULIAH KERJA NYATA (KKN), PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL), TUGAS AKHIR (SKRIPSI) & TESIS

BUKU PANDUAN KULIAH KERJA NYATA (KKN), PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL), TUGAS AKHIR (SKRIPSI) & TESIS BUKU PANDUAN KULIAH KERJA NYATA (KKN), PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL), TUGAS AKHIR (SKRIPSI) & TESIS FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012 TIM PENYUSUN DAN EDITOR BUKU PANDUAN PKL,

Lebih terperinci

PANDUAN P2M STANDAR PROSES PEMBELAJARAN PENGANTAR

PANDUAN P2M STANDAR PROSES PEMBELAJARAN PENGANTAR PENGANTAR Buku panduan standar proses pembelajaran ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk mengukur pelakanaan proses pembelajaran mahasiswa di STTR Cepu. Hal ini dilaksanakan agar pelaksanaan proses

Lebih terperinci

4. Sasaran. a. Mahasiswa

4. Sasaran. a. Mahasiswa BAB I KONSEPSI KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA (KKNM) 1.1. Latar Belakang, Falsafah, Arti dan Tujuan KKNM 1. Latar Belakang Pelaksanaan kegiatan kuliah kerja nyata mahasiswa Universitas Padjadjaran bertitik

Lebih terperinci

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan Pengembangan Sumber Daya Sekolah Oleh: Ruswandi Hermawan Abstrak Sekolah memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuantujuan pendidikan. Sumber daya pendidikan di sekolah dapat dikelompokkan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Secara umum penelitian ini telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu mengembangkan sebuah model pelatihan yang mampu memberdayakan masyarakat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Pedoman Pelibatan Masyarakat dan Swasta dalam Pemanfaatan Ruang Perkotaan

Pedoman Pelibatan Masyarakat dan Swasta dalam Pemanfaatan Ruang Perkotaan Pedoman Pelibatan Masyarakat dan Swasta dalam Pemanfaatan Ruang Perkotaan DRAFT KEEMPAT JANUARI 2003 Subdit Peran Masyarakat Direktorat Penataan Ruang Nasional Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA Oleh : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan DIPA BA-29 TAHUN 2008 SATKER

Lebih terperinci

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA 1 SAMBUTAN Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan SDM seutuhnya dimana untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas harus dimulai sejak usia dini. Berbagai studi menunjukkan bahwa periode

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian Sejak terjadinya krisis ekonomi pada bulan Juli 1977 yang berlanjut menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS GURU DAN PENGAWAS

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS GURU DAN PENGAWAS - 0 - PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS GURU DAN PENGAWAS DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009 KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Peraturan Menteri Pendidikan

Lebih terperinci

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN Oleh : Drs. Wiyoto, MT Tatang Rahmat, S.Pd Mengelola program pelatihan, secara sepintas tampaknya sesuatu hal yang sederhana. Namun bila dicermati, membutuhkan suatu penanganan

Lebih terperinci

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi.

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. Disampaikan Pada: DIKLAT KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Bagian

Lebih terperinci

Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar

Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar Dr Angus Cameron Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar Angus Cameron 2011, Uni Afrika, Biro Inter-Afrika untuk Sumber Daya Hewan ISBN 1 00000 000

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2 DI SMK NEGERI 1 KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN

LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2 DI SMK NEGERI 1 KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 2 DI SMK NEGERI 1 KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN Disusun oleh : Nama : Khoirul Mukmin NIM : 5201409068 Program studi : Pend. Teknik Mesin, S1 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SECARA PARTISIPATIF

TEKNIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SECARA PARTISIPATIF 1 TEKNIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SECARA PARTISIPATIF Disampaikan pada : Pelatihan Program Pengembangan Desa Binaan Bogor, 26 29 September 2002 Konsep Pemberdayaan Dekade 1970-an adalah awal kemunculan

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang STANDAR Proses UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Badan Standar Nasional Pendidikan Tahun 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM SEKOLAH

EVALUASI PROGRAM SEKOLAH KOMPETENSI EVALUASI PENDIDIKAN PENGAWAS SEKOLAH PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH EVALUASI PROGRAM SEKOLAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2009 KATA PENGANTAR Peraturan Menteri

Lebih terperinci

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

Disusun oleh: Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (DAMANDIRI) Bersama Mitra LPM Berbagai PT Di Indonesia, 2009

Disusun oleh: Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (DAMANDIRI) Bersama Mitra LPM Berbagai PT Di Indonesia, 2009 Konsep: PETUNJUK TEKNIS KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK PEMBENTUKAN, PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN POS PEMBERDAYAAN KELUARGA (POSDAYA) Disusun oleh: Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (DAMANDIRI) Bersama Mitra

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Pedoman Akreditasi final 06/dir.pedoman dan bodang akred 07 1

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Pedoman Akreditasi final 06/dir.pedoman dan bodang akred 07 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang -undang No.20 tahun 2003 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci