FISIOLOGI TUMBUHAN 1 Transportasi pada Tumbuhan. Delayota Science Club April 2011

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FISIOLOGI TUMBUHAN 1 Transportasi pada Tumbuhan. Delayota Science Club April 2011"

Transkripsi

1 FISIOLOGI TUMBUHAN 1 Transportasi pada Tumbuhan Delayota Science Club April 2011

2 Transportasi pada Tanaman H 2 O H 2 O Minerals CO 2 O 2 Sugar O 2 CO 2 Light Transport of water and solutes by individual cells, such as root hairs Short-distance transport of substances from cell to cell at the levels of tissues and organs Long-distance transport within xylem and phloem at the level of the whole plant

3 Teori Kinetika Setiap molekul suatu larutan atau gas pada suhu > 0 K selalu bergerak sehingga memiliki energi gerak potensial kimia. Air bergerak karena adanya potensial air, zat terlarut bergerak karena adanya potensial kimia zat terlarut. Potensial kimia air dipengaruhi oleh: Konsentrasi zat terlarut Suhu Tekanan Bahan-bahan yang mudah ditempeli air (adsorptif)

4 Potensial Kimia Air Potensial kimia air menyatakan besarnya energi potensial yang dimiliki air. Potensial kimia air dirumuskan sebagai: = + + Keterangan: ψ w ψ Ψ w = potensial air (water) p ψ s ψ Ψ s = potensial zat terlarut (solute) = tekanan osmotik Ψ t = potensial tekanan (pressure) = tekanan turgor Ψ g = potensial gravitasi (gravity) Dalam sel, umumnya potensial kimia air hanya dinyatakan sebagai: = + ψ w ψ p g ψ s

5 Tekanan osmotik ψ p dapat dihitung dengan rumus Van t Hoff, sebagai: Keterangan: ψ p = π = imrt i = konstanta ionisasi yang bergantung pada jenis zat terlarut. M = molaritas (banyak mol zat terlarut per satu liter larutan). R = tetapan gas (0,0831 L.MPa/MK T = suhu mutlak (kelvin) Nilai tekanan osmotik beberapa larutan:

6 Gerakan air dari potensial air tinggi ke potensial air yang lebih rendah.

7 Applying physical pressure Negative pressure H 2 O H 2 O ψ = 0 MPa ψ P = 0.30 ψ S = 0.23 ψ w = 0.07 MPa ψ P = 0.30 ψ S = 0.23 ψ w = 0.30 MPa ψ P = 0.30 ψ S = 0.23 ψ w = 0.23 MPa

8 Difusi Difusi merupakan gerakan penyebaran molekul dari daerah yang konsentrasinya lebih tinggi menuju daerah yang konsentrasinya lebih rendah.

9 Pengangkutan Ekstravaskuler Pengangkutan Ekstravaskuler merupakan pengangkutan yang terjadi di luar jaringan pembuluh (xylem atau floem). Termasuk dalam pengangkutan ekstravaskular adalah pengangkutan air dan mineral dari daram tanah ke xylem akar. Pengangkutan air di akar dapat berlangsung dengan dua cara: Lintasan Simplas: lintasan keluar masuk sel melalui plasmodesmata masing-masing sel Lintasan Apoplas: melalui ruang-ruang antar sel

10 Casparian strip Pathway along apoplast Endodermal cell Pathway through symplast Casparian strip Apoplastic route Plasma membrane Symplastic route Root hair Vessels (xylem) Epidermis Cortex Endodermis Vascular cylinder

11 Pengangkutan air dan mineral dari tanah ke dalam akar dijelaskan oleh Adolf Fick sebagai hukum Fick I: Keterangan: J J s = D s c x c r x = laju difusi (densitas fluks) D = koefisien difusi, menyatakan tingkat kesulitan terjadinya difusi suatu zat terlarut. x c s = perbedaan jarak s = perbedaan konsentrasi zat terlarut s = s

12 Faktor yang mempengaruhi penyerapan air dan mineral dari tanah: Akar (muda/tua): penebalan dalam akar Kondisi tanah: jenis tanah, ph, suhu, pertukaran udara tanah. Daya tukar ion Ada empat macam air tanah: Air tak bebas: terikat secara kimia dengan molekul lain Air higroskopis: air yang menempel pada partikel tanah Air kapiler: air yang mengisi sela-sela (ruang antarpartikel tanah) membentuk film air Air gravitasi: air yang bebas yang terus bergerak karena pengaruh gravitasi

13 Penyerapan air dari tanah seringkali dibantu oleh mikoriza: jamur-jamur yang bersimbiosis dengan akar. Macam-macam mikoriza: Endomikoriza: dibentuk oleh jamur anggota Ascomycota Ectomikoriza: dibentuk oleh jamur anggota Basidiomycota Bacteroids within vesicle 5 m Bacteroids in a soybean root nodule. In this TEM, a cell from a root nodule of soybean is filled with bacteroids in vesicles. The cells on the left are uninfected.

14 Pengangkutan Air Pada Pembuluh Kayu Pengangkutan air dilakukan melalui sel-sel trakea dengan ciri-ciri: Bagian ujung terbuka (perforasi) Merupakan sel-sel mati (tanpa sitoplasma) Pengangkutan air melalui pembuluh kayu dipengaruhi faktor: Daya kapilaritas Tekanan akar Daya hisap daun

15 Potensial air di bagian-bagian tubuh tumbuhan

16 Tekanan akar memompa ion-ion dan air ke atas pada malam hari. Besarnya tekanan akar tiap tumbuhan berbeda-beda. Tekanan akar nampak jelas dalam peristiwa gutasi, yakni pengeluaran air sebagai tetes-tetes melalui hidatoda / gutatoda / emisarium.

17 Daya kapilaritas batang timbul karena adanya daya dorong, hidrasi pada dinding xilem, dan daya kohesi air. Daya isap daun timbul dari peristiwa transpirasi, yakni proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan melalui stomata, lubang kutikula, dan lentisel. Transpirasi berperan dalam pengangkutan air/zat hara, membuang kelebihan air, dan menjaga suhu daun. Transpirasi ditentukan oleh beberapa faktor: Lingkungan: suhu, kelembaban, cahaya, kecepatan angin, tekanan udara, debu, dll. Stomata: bentuk, jumlah tiap satuan luas, letak, waktu bukaan. Tanaman: berbulu/tidak, warna dan ukuran daun, posisi daun, jumlah daun.

18 Stomata berperan besar dalam mempengaruhi laju transpirasi suatu tumbuhan. Membuka- menutupnya stomata dijelaskan oleh beberapa teori: Teori perubahan pati menjadi gula Teori pengangkutan proton

19 Cells turgid/stoma open Cells flaccid/stoma closed H 2 O H 2 O H 2 O H 2 O K + H 2 O H 2 O H 2 O H 2 O H 2 O H 2 O Role of potassium in stomatal opening and closing

20 Transportasi Lewat Pembuluh Tapis Beberapa teori tentang pengangkutan zat hasil fotosintesis: Teori aliran massa Teori pemompaan sitoplasma Teori elektro-osmosis Teori difusi teraktivasi Menurut teori aliran massa (hipotesis Ernst Munch): Peningkatan kadar gula dalam pembuluh tapis meningkatkan tekanan osmotik daun larutan mengalir dari daun menuju akar.

21 Sugar must be loaded into sieve-tube members before being exposed to sinks In many plant species, sugar moves by symplastic and apoplastic pathways

22 High sugar concentration Phloem Xylem High water pressure Sugar source Sugar Water Source cell Sieve plate Sugar sink Sink cell Sugar Water Low sugar concentration Low water pressure

23 Transportasi hasil fotosintesis dilakukan dari tempat fotosintesis (daun) ke seluruh tubuh tumbuhan dan tempat penyimpanan hasil fotosintesis

KONSEP DASAR MODEL SIMULASI

KONSEP DASAR MODEL SIMULASI Bahan Ajar 3 KONSEP DASAR MODEL SIMULASI S.M. Sitompul TUJUAN Untuk menegaskan pengertian dasar dari model sebagai suatu pendekatan dalam studi sistem Untuk mengenal model lebih dalam seperti berbagai

Lebih terperinci

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA KADAR NH KADAR 3 DAN NH CH 3 4 DAN SERTA CH 4 CO SERTA 2 DARI COPETERNAKAN 2 DARI PETERNAKAN BROILER PADA KONDISI BROILER LINGKUNGAN PADA KONDISI DAN LINGKUNGAN MANAJEMEN YANG PETERNAKAN BERBEDA YANG DI

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Tentang Air 2.1.1 Sifat kimia dan fisika air Nama Sistematis Nama Alternatif Rumus Molekul Massa Molar Densitas dan Fase Titik Lebur Titik Didih : air : aqua, dihidrogenmonoksida,

Lebih terperinci

A. LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. LAPORAN HASIL PENELITIAN A. LAPORAN HASIL PENELITIAN 0 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi

Lebih terperinci

Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu Pengetahuan Alam Heri Sulistyanto Edy Wiyono Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SD/MI Kelas IV Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-Undang Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

ALAT BANTU LOGGING UNTUK MENGURANGI SELIP PADA JALAN YANG LICIN Oleh : Yuniawati, Dulsalam, Maman Mansyur Idris, Sukadaryati dan Sona Suhartana

ALAT BANTU LOGGING UNTUK MENGURANGI SELIP PADA JALAN YANG LICIN Oleh : Yuniawati, Dulsalam, Maman Mansyur Idris, Sukadaryati dan Sona Suhartana ALAT BANTU LOGGING UNTUK MENGURANGI SELIP PADA JALAN YANG LICIN Oleh : Yuniawati, Dulsalam, Maman Mansyur Idris, Sukadaryati dan Sona Suhartana Abstrak Kegiatan pengangkutan kayu membutuhkan kelancaran

Lebih terperinci

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA SUPLEMEN UNIT 1 KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA Mintohari Suryanti Wahono Widodo PENDAHULUAN Dalam modul Pembelajaran IPA Unit 1, Anda telah mempelajari hakikat IPA dan pembelajarannya. Hakikat IPA terdiri

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin Diesel

BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin Diesel 5 BB II DSR TEORI. Mesin Diesel Salah satu penggerak mula yang banyak dipakai adalah mesin kalor, yaitu mesin yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik atau yang mengubah energi termal

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. putih kecil) berupa tumbuhan berbatang lunak. Masyarakat di Indonesia menyebut

II. TINJAUAN PUSTAKA. putih kecil) berupa tumbuhan berbatang lunak. Masyarakat di Indonesia menyebut 4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kubis Bunga Putih (Kembang Kol) 1. Taksonomi Tanaman Kembang Kol Kembang kol merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga putih kecil) berupa tumbuhan berbatang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor

BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor Alat penukar kalor adalah suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas

Lebih terperinci

INDRAYANI G 621 07 054

INDRAYANI G 621 07 054 MODEL PENGERINGAN LAPISAN TIPIS TEMU PUTIH (Curcuma Zedoaria Berg. Rosc) SKRIPSI Oleh INDRAYANI G 621 07 054 PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN TA/TL/2008/0254 TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik

Lebih terperinci

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1 TUJUAN 1. Mahasiswa mengenal alat-alat sederhana yang umum dipergunakan dalam laboratorium kimia. 2. Mahasiswa memahami kegunaan serta cara menggunakan secara benar alat-alat laboratorium kimia. Beberapa

Lebih terperinci

2. PETUNJUK PENGAMBILAN CONTOH TANAH

2. PETUNJUK PENGAMBILAN CONTOH TANAH Petunjuk Pengambilan Contoh Tanah 3 1. PENDAHULUAN 2. PETUNJUK PENGAMBILAN CONTOH TANAH Husein Suganda, Achmad Rachman, dan Sutono Tanah mempunyai sifat sangat kompleks, terdiri atas komponen padatan yang

Lebih terperinci

KEMAMPUAN BERBAGAI jenis T ANAMAN MENYERAP GAS PENCEMAR UDARA (NOz) ABSTRAK

KEMAMPUAN BERBAGAI jenis T ANAMAN MENYERAP GAS PENCEMAR UDARA (NOz) ABSTRAK Risalah Seminar Ilmiah Peneli/ian dad Pengembangan Aplikasi Is%p dad Radiasi, 2004 KEMAMPUAN BERBAGAI jenis T ANAMAN MENYERAP GAS PENCEMAR UDARA (NOz) Dwi Pat~~~I, ~iza~ Nasrullahll, dan Elsie L. Sisworo2)

Lebih terperinci

K 100 060 123 FAKULTAS

K 100 060 123 FAKULTAS FORMULASI TABLET HISAP EKSTRAK ETANOL DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus) DENGANN AMILUM MANIHOT SEBAGAI BAHAN PENGIKAT SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus SKRIPSI Oleh: AWALIAA

Lebih terperinci

RESPON ANATOMIS Acacia mangium Willd. TERHADAP KONDISI CEKAMAN GARAM : OBSERVASI AWAL UNTUK PROGRAM PEMULIAAN TANAMAN ABSTRACT ABSTRAK

RESPON ANATOMIS Acacia mangium Willd. TERHADAP KONDISI CEKAMAN GARAM : OBSERVASI AWAL UNTUK PROGRAM PEMULIAAN TANAMAN ABSTRACT ABSTRAK RESPON ANATOMIS Acacia mangium Willd. TERHADAP KONDISI CEKAMAN GARAM : OBSERVASI AWAL UNTUK PROGRAM PEMULIAAN TANAMAN Anatomical Response of Acacia mangium Willd. in Salt Stress : A Preliminary Observation

Lebih terperinci

Pengaruh Tinggi Tempat dan Tipe Tanaman Padi terhadap Keparahan Penyakit Hawar Pelepah

Pengaruh Tinggi Tempat dan Tipe Tanaman Padi terhadap Keparahan Penyakit Hawar Pelepah NURYANTO ET AL.: TINGGI TEMPAT, TIPE TANAMAN PADI, DAN PENYAKIT HAWAR PELEPAH Pengaruh Tinggi Tempat dan Tipe Tanaman Padi terhadap Keparahan Penyakit Hawar Pelepah B. Nuryanto 1, A. Priyatmojo 2, dan

Lebih terperinci

Keywords : quail, micro mineral, vitamin, total erythrocyte, hemoglobin level

Keywords : quail, micro mineral, vitamin, total erythrocyte, hemoglobin level Kadar Hemoglobin dan Jumlah Eritrosit Dimas A.P., Koen P., Silvana Tana 26 35 Kadar Hemoglobin dan Jumlah Eritrosit Puyuh (Coturnix coturnix japonica Linn.) Setelah Pemberian Larutan Kombinasi Mikromineral

Lebih terperinci

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM OLEH : KELOMPOK I Oleh : Kelompok 1 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MATARAN MATARAM 2012 2 3 KATA

Lebih terperinci

Kongres Ilmu Pengetahuan Wilayah Indonesia Bagian Barat Palembang, 3-5 Juni 2007

Kongres Ilmu Pengetahuan Wilayah Indonesia Bagian Barat Palembang, 3-5 Juni 2007 KETAHANAN TANANAM PADI TERHADAP KONDISI TERENDAM: PEMAHAMAN TERHADAP KARAKTER FISIOLOGIS UNTUK MENDAPATKAN KULTIVAR PADI YANG TOLERAN DI LAHAN RAWA LEBAK Rujito Agus Suwignyo Jurusan Budidaya Pertanian,

Lebih terperinci

RANGKUMAN IPA KELAS 6 (I)

RANGKUMAN IPA KELAS 6 (I) RANGKUMAN IPA KELAS 6 (I) CIRI KHUSUS Mahluk Hidup Untuk dikatakan sebagai benda hidup, makhluk hidup atau organisme bernyawa diperlukan pemenuhan ciri-ciri sebagai berikut di bawah ini: 1. Terdapat Protoplasma

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh panca indera manusia oleh karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi

Lebih terperinci

Peningkatan Produktivitas Tanah Pasir untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai dengan Inokulasi Mikorhiza dan Rhizobium

Peningkatan Produktivitas Tanah Pasir untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai dengan Inokulasi Mikorhiza dan Rhizobium BIOMA, Desember 2007 ISSN: 1410-8801 Vol. 9, No. 2, Hal. 58-61 Peningkatan Produktivitas Tanah Pasir untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai dengan Inokulasi Mikorhiza dan Rhizobium Endang Saptiningsih* Laboratorium

Lebih terperinci

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 Disusun oleh FERIA TIA AGUSTINA M0301024 SKRIPSI Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan

Lebih terperinci

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PEMBUATAN ADSORBEN DARI ZEOLIT ALAM MALANG UNTUK PEMURNIAN BIOETANOL MENJADI FUEL GRADE ETHANOL (FGE) BIDANG KEGIATAN PKM AI Diusulkan oleh: Diesta Noer

Lebih terperinci

Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung

Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung Nuning Argo Subekti, Syafruddin, Roy Efendi, dan Sri Sunarti Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros PENDAHULUAN Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI SECARA BASAH

TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI SECARA BASAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI SECARA BASAH YUSRON SUGIARTO, STP, MP, MSc. Disampaikan pada: Pertemuan Gelar Teknologi Sarana dan Prasarana Pengolahan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Pujon, 7 Mei 2013

Lebih terperinci